Ex-

Ex-

By Bella Jo

a.n: for you who can’t move on from your last love, just move on please

Langit terlihat tak bersahabat, menampakkan warna kelabu ditambah deburan angin yang membuat tulang ngilu. Aku menatap ke luar perpustakaan tempatku bekerja dengan resah. Satu jam lagi saatnya pulang namun aku sama sekali tidak punya payung. Hujan telah menetes di luar sana dan aku semakin bingung.

Rrrr… Rrrr…

Yeoboseyo?”

Yeoboseyo, Na?”

Suara cemas Kim Jonghyun terdengar dari seberang sana. Aku tersenyum kecil membayangkan wajahnya. “Ada apa, Jjong?”

“Di luar langit gelap sekali. Apa kau tidak apa-apa?”

“Menurutmu?”

“Ngg… Kupikir kau gadis yang kuat.”

Bisa kubayangkan Kim Jonghyun yang kebingungan menjawab pertanyaanku tadi sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Aku mengerti maksudnya, jadi hal ini tak perlu diperpanjang lagi. Seraya tersenyum aku berkata, “Aku baik-baik saja, Jjong. Aku akan pulang tepat waktu dan hadir di acara reuni kawanan kita. Kau tak perlu cemas.”

Bisa kurasakan ia menghembus nafas lega. “Syukurlah kalau begitu. Aku akan menjumpaimu di acara itu nanti. Hati-hati di jalan.”

“Ya, kau juga.”

Hubungan terputus, ponsel milikku kembali kuletak di sudut meja. Beberapa pengunjung perpustakaan tampak ikut melihat keadaan langit di luar dan mempercepat aktivitas mereka. Aku melayani mereka dengan penuh senyum seperti biasa.

Kenanganku kembali pada hari-hari lalu. Ini bukan pertama kalinya langit tak bersahabat dan aku tidak membawa payung. Ini juga bukan pertama kalinya Jonghyun menelpon dan mengatakan bahwa aku gadis yang kuat. Jujur saja, aku cukup tersanjung dengan kata-katanya. Aku senang dianggap kuat oleh orang-orang di sekitarku.

Saat pengunjung perpustakaan tak lagi bersisa, ternyata satu jam sudah berlalu. Hujan di luar sangat deras dan aku hanya bisa menghela nafas lemas. Mungkin sekita dua jam lagi hujan ini akan reda. Aku tak punya banyak waktu untuk kembali ke rumah dan bersiap-siap menghadiri acara malam nanti.

Yah, mungkin aku batal datang saja dan menunggu hujan berhenti.

Rrrr… Rrrr…

Yeoboseyo?”

“Hmm… Kau di mana, Na?”

Bukan Jonghyun yang menelpon kali ini, tapi Kibum. Suara berat diiringi deras hujan terdengar dari seberang sana. Bisa kutebak ia sedang berada di luar. Mungkin tidak di jalan, di tempat semacam kafe misalnya.

“Oh, Bum. Aku masih berada di perpustakaan,” jawabku.

“Bukannya ini sudah lewat jam kerjamu?”

Bisa kubayangkan alisnya yang bertaut dan keningnya yang berkerut saat menanyaiku. Sontak aku tertawa kecil. “Ah, hujan menahanku. Mungkin sebentar lagi aku akan pulang.”

“Kau yakin tidak apa-apa?”

“Menurutmu?”

Pertanyaan yang sama kulontarkan pada Kibum. Mungkin ia akan membalasnya persis dengan kata-kata Jonghyun. Tak heran, keduanya memang sudah bersahabat sejak lama. Kadang ada perilaku mereka yang sangat serupa, seperti di-copy-paste.

“Aku tahu kau gadis yang kuat,” jawabnya. Tuh kan, pikiranku benar. Ia melanjutkan, “Kuharap kau baik-baik saja.”

“Yakinlah, aku akan baik-baik saja.”

“Hmmm…” ia terdengar berpikir. “Yah, jaga dirimu.”

“Kau juga, Bum.”

Dan hubungan terputus. Kali ini kumasukkan ponsel ke dalam tas lalu melangkah ke arah kursi yang ada di dekat jendela. Memerhatikan titik-titik hujan yang jatuh ke permukaan kaca jendela merupakan kegiatan yang kusukai. Titik-titik air itu mengingatkanku pada hari-hari lalu, masa sekolah dan kuliah yang begitu kurindukan. Warna kaca jendela yang buram diguyur air mengingatkan pada perasaan yang pernah ada dan tumbuh, pada perasaan yang ada sekarang dan mungkin yang ada nanti.

Kling Kling…

Terdengar suara bel pintu masuk. Ada yang datang. Aneh, padahal aku sudah membalik tanda ‘BUKA’ menjadi ‘TUTUP’. Cepat-cepat aku kembali ke belakang meja untuk menghadapi pengunjung. Pikiranku sibuk merangkai kata halus yang mungkin dapat kuutarakan untuk memintanya pergi.

“Maaf, kami sudah tu—”

“Aku tahu. Aku datang menjemputmu.”

Aku terbelalak melihat siapa yang datang. Ia tersenyum jenaka, mungkin ekspresi wajahku cukup berlebihan menanggapi kedatangannya. Ia mendekati mejaku dan meletakkan sekaleng kopi hangat di atasnya. Aku masih bungkam saat ia melebarkan senyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi dan mengacak rambutku gemas.

“Sepertinya kau sama sekali tidak menyangka kehadiranku, bisa kutebak dari ekspresi wajahmu,” ucapnya geli.

“Bum…”

“Kudengar dari Jjong kalian ada acara penting hari ini. Bagaimana bisa kau berkata baik-baik saja saat hujan sederas ini?”

“A—aku… Apa Jjong memintamu untuk menjemputku?”

“Mana mungkin si dino punya pemikiran sekreatif itu,” omelnya. Ia menarik tas tangan yang sudah kukemas dari atas meja lalu berkata, “Ayo.”

Melihat senyum di wajahnya memancing senyumku pula. Aku berjalan mendekatinya sambil menggenggam kaleng kopi yang ia berikan. Hangat. Kibum menatap hujan di luar lalu beralih menatapku. Pada jaket hitam tebal yang ia gunakan terlihat tetes-tetes air. Aku bahkan baru sadar bahwa rambut dan wajahnya juga agak basah.

“Kau kedinginan, Na?”

Ia menatap kedua tanganku yang menggenggam kaleng kopi pemberiannya. Aku tidak bisa menjawab karena kata-kataku akan terdengar seperti kebohongan. Ia menggeleng gemas lalu meraih tangan kananku.

“Ck! Aku tahu kau gadis yang kuat, tapi bukan berarti kau harus menyembunyikan semua kesulitanmu dari orang lain,” tegasnya. Mataku membulat menatapnya. “Ah, tanganmu benar-benar dingin. Apa pemanas ruangannya tidak berfungsi?” Kibum bertanya pada dirinya sendiri.

“A—aku harus mengunci pintu lain dulu sebelum kita keluar…,” ucapku setengah tergagap. Aku tak tahu kenapa aku jadi gugup begini, mungkin karena dia terlalu mengenalku.

“Biar aku saja,” sambarnya. Ia melepaskan syal dan melilitkannya padaku. “Tempat kunci seperti biasa?”

“Ng.”

“Tunggu di sini dan minum kopimu.” Ia kembali mengacak rambutku dengan gemas. Kali ini aku tersenyum menanggapinya. Selalu begitu, aku sangat menyukai perhatian Kibum yang hangat walau disertai omelannya. Ia segera berlari kecil ke balik meja dan meraih kunci. Dengan cekatan ia menyelesaikan aksi kunci-mengunci pintu perpustakaan ini, bahkan mematikan lampu.

Aku memakai mantelku lalu menyirup kopi hangat yang diberikannya. Cukup membantu untuk menghilangkan rasa dingin yang membungkusku.

“Nah, ayo kita berangkat!”

Aku hampir terlonjak kaget saat ia kembali meraih tanganku, menautkan kesepuluh jari kami dan menggiringku keluar. Ia tersenyum lebar padaku, kembali menambahkan rasa hangat yang kubutuhkan. Namun ada yang terlupakan saat kami baru saja keluar pintu: kami tidak punya payung!

“Bum, mobilmu kau parkir di mana?”

“Eumm… Di sudut jalan..,” jawabnya setengah nyengir. Aku menepuk kening. Ia memang ceroboh seperti biasa. Hujan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Apa artinya kami harus menunggu lagi?

“Jangan cemas. Kemarilah, Na.”

Kibum melepas tautan tangannya dan menarikku rapat. Sejak kapan ia tak lagi memakai jaket tebalnya? Jaket itu ia kembangkan menutup kami berdua. Aku masih terbelalak menatapnya.

“Bum, kau bisa basah. Sama seperti…”

“Ssst. Tenang saja.”

Saat ia mulai berlari, sontak aku mengikutinya. Ia tertawa-tawa seperti anak kecil saat hujan mengguyur jaketnya. Cipratan air yang menggenang di antara kedua kaki kami terlihat lambat saat aku bersamanya dan tawanya selalu berhasil memancing tawaku. Ya, ini saat yang terbaik bagi waktu untuk berhenti.

***

“Hei semua!”

“Hana!!”

Teman-temanku menyambut riuh kedatanganku. Kibum tengah tersenyum saat aku melirik ke arahnya. Ia tos dengan Jonghyun yang tampak heran melihat kedatangan kami berdua.

“Aku pikir kau tidak jadi datang!” cerocos Minho saat aku sudah duduk bersama teman-teman perempuanku. Aku tersenyum kecil. “Hujan sempat menghentikan langkahku.”

“Tapi kulihat kau sempat berdandan,” heran Shin Ahra yang masih merangkul tanganku. Matanya memandang wajahku yang memang sudah terpoles riasan.

“Aah… Aku dibantu seseorang untuk bersiap-siap…,” jawabku sekenanya. Aku meraih gelas berisi minuman lalu meneguknya perlahan. Sekejap kemudian aku memesan Americano pada pelayan.

“Kupikir kau bersama Jonghyun,” celetuk Jinki, “Siapa yang bersamamu tadi? Your boyfriend, Na?”

Pandangan Jinki tertuju pada Kibum yang masih tengah mengobrol dengan Jonghyun. Sontak yang lain juga mengalihkan pandang ke arah yang sama. Aku salah satunya. Keduanya masih tengah bercanda saat tiba-tiba pandangan mata Kibum dan aku bertemu. Ia tersenyum manis.

Seperti biasa, senyumnya selalu mampu memancing senyumku. Aku melambai padanya sekilas dan kembali mengalihkan perhatian pada teman-temanku yang masih tampak heran. Jinki mengangguk-angguk penuh arti lalu berkata, “Well, it was a lucky guess, I think.”

Nope, Jing. It’s wrong,” sergahku. Aku kembali melirik Kibum dan tersenyum, “He’s my ex.”

Then, you…,” Jinki masih tampak bingung.

I’m Jjong’s woman.”

Teman-temanku tertawa saat Jinki memperlihatkan ekspresi bingung yang berlebihan. Selebihnya gelas-gelas berdenting saat semua berkata ‘Cheers’, termasuk Jonghyun. Suara tawa dan riuh canda memenuhi ruangan. Kulihat Kibum bercengkrama dengan bartender sambil tertawa-tawa. Entah apa yang lucu dalam pembicaraan mereka.

I really thought he was your boyfriend. No wonder Jinki said so…,” Minho berkata pelan kepadaku sambil ikut menatap Kibum. Aku menghela nafas pelan, “Yah, banyak yang berpikir begitu. Tapi tidak hanya rasa suka yang dibutuhkan saat kita menjalin hubungan dengan seseorang.”

“Dan hubunganmu bersama Jonghyun memiliki kualitas itu?”

Aku tersenyum pada Minho lalu mendentingkan gelasku padanya, “I think so. Even when Jjong is not the best boyfriend ever, he’s still the best I have.”

“And… Your ex?”

Aku kembali melempar pandang pada Kibum. Ternyata ia juga tengah memandang ke arahku. Ia mengangkat gelasnya sambil tersenyum tenang, senyum yang selalu kusuka. Aku ikut mengangkat gelas. Kami seakan mendentingkan gelas kami bersama.

Yah, he’s my ex-boyfriend…

Kenangan saat aku dan Kibum bersama kembali berputar dalam memori. Tiap panas, salju, guguran daun, dan hujan yang kami lewati bersama. Aku masih bisa merasakan hangat genggam tangannya. Tawa dan senyumnya juga masih menjadi favoritku. Tapi hidup di dunia ini bukan berarti harus memiliki semua yang kita sukai, bukan?

Aku kembali tersenyum pada Minho yang masih menatap ke arahku. Ia masih terlihat heran.

“Well, and he’s my best guyfriend.”

-FIN-

June 6th 2015

05.29 pm

©2011 SF3SI, Bella Jo

                                                            bella-jo-signature

Officially written by Bella Jo, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

11 thoughts on “Ex-

  1. Ohok ohok batuk dulu.. hehehe biasanya author bella jo kan ff.a horor gmanaa gtu aku harus bersyukur dulu gak ada arwah atau mayat yg muncul disini. Hahaha dooooh mantan???? Apa mantan???? Ya ampun mana ada mantan di dunia ini yang sepengertian itu???? Masih deg degan nih/? Kibum nikahin hayatiii dehhhh

    Thor makasih sudah menipu saya.
    Kenapa putus hana kibum :”) klo masih sling cinta eyaaa
    keren ya thor suka deh.

    1. hahaha… kesannya aku gitu banget ya? well… kayaknya memang hampir selalu berakhir menyedihkan sih setiap ceritaku. seneng deh diperhatiin. kekekeke
      mantan. itu satu kata yang bikin terlalu banyak orang gagal move on. kalo ada mantan semanis kibum di dunia ini aku juga mau macarin lagi. hahaha… #authornafsu

      kekeke… sama2… emang sengaja kok mau nipuin.
      makasih udah mampir~

  2. berasa gagal move on…

    duh ini yang pacaran siapa, yang romantis siapa xD
    beneran ketipu nih sama ceritanya. Kalo jadi cast yeojanya udh bingung milih antara dua kim itu :3

    ceritanya daebakk, well done author nim kkk
    /kasih banyak jempol/ ^^

    1. berarti aku ga sendiri dong *lho?*
      hihihi… kan inyi minyi gitu kalo bisa punya hubungan manis sama mantan, ga kayak kebanyakan orang sekarang yang jadi benci2an..^^

      hihihi… makasih udah mampir~

  3. Ngg… kenapa Jjong gak peka banget ya -_- Ceweknya kehujanan mbok ya dijemput kek, nyehehehe masa kalah sama mantan😄
    Tapi aku dapet intinya. Semacam tipikal hubungan sehat yang saling menghargai dan komitmen yang bisa dipercaya. Aih aku kalo jadi Hana maunya sama Minho aja #aihhh
    Like like like!!😄

  4. Ternyata… Kibum itu Ex nya Hana. tapi keliatan romantis banget ih. Jjong jadi BF gak bener. masa Kibum lebih peka daripada Jjong. hahaha

    kak Bella Jo!!! Aku jatuh cinta sama FF mu >-<

    Keep Writing

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s