The Happiest Thing

the happiest thing

Author: dyzhetta

Twitter: @dyzhetta_reina

Main Cast: Lee Taemin, Kim Shun Nae

Support Cast: Find by yourself.😀

Length: VIGNETTE

Genre: Friendship

Rating: General

Summary: Hal yang paling membahagiakan adalah ketika kita melihat orang lain bahagia karena kita tapi mereka tidak tahu.

A.N: Whoaa… senang sekali selesai malam ini. Ini titipan temen aku yang ngebet banget dibuatin ff. Maaf yya munculnya cuma dikit*deep bow*. Silakan dinikmati ffnya..walau gak semanis coklat. Hihi… happy reading ya… semoga suka.. *bow*

***

THE HAPPIEST THING

Hal paling membahagiakan bagi setiap orang pasti berbeda. Tidak satu pun yang mempunyai hal paling membahagiakan yang sama. Tapi ada satu orang yang sangat menarik perhatianku tentang hal paling membahagiakan baginya.

Orang itu Kim Shun Nae. Seorang dengan paras cantik tapi natural, tidak terlalu ber-make up seperti Kim Hyun Zae atau Park Rin Byul. Dia tidak biasa bergaul dengan orang yang banyak bicara—bisa aku sebut geng gosip—seperti Lee Hyun Li dan gengnya itu. Juga bukan anak kutu buku seperti Lim Hyun Chan. Dia cukup pintar dalam hal pelajaran juga aktif dalam ekstrakulikuler sekolah. Ya, singkatnya dia cemerlang tapi kurang dilihat oleh teman-temannya. Dia selalu datang paling pagi tapi pulang paling sore. Dia rajin dan supel, tapi tidak terbilang supel di kelasku yang sebagian besar karakter siswanya sejenis dengan Lee Hyun Li. Sepertinya dia tidak suka dengan orang-orang tipe Lee Hyun Li itu.

Kalian pasti heran kenapa aku bisa tahu banyak. Tentu saja, itu karena aku hampir setahun duduk di sampingnya. Menjadi teman sebangkunya. Sehingga aku bisa setiap hari memperhatikannya. Bisa dibilang aku hampir tahu segalanya tentang dia karena dia akrab denganku dan dia sering bercerita kepadaku. Oh ya, namaku Lee Taemin.

Kembali ke topik.

Hal paling membahagiakannya tidak terlalu berlebihan seperti ketika Kim Hyun Jae ditembak oleh kakak kelas kami, Choi Minho.

Hal yang Hyun Zae lakukan ketika kembali ke kelas adalah berteriak sekencang-kencangnya sampai menggetarkan jendela kelas (Aku yakin jika dia menaikkan suaranya satu oktaf lagi pasti kaca-kaca akan pecah), “Kyaa! Minho-sunbae menyatakan cinta kepadaku!”

Dan anak-anak di kelasku hanya bisa menutup kuping. Aku yakin dia tidak akan bertingkah seperti ini di depan Minho-sunbae.

“Ini hal paling membahagiakan bagiku!” teriaknya lagi, memicu geng gosip yang diketuai Lee Hyun Li untuk mendekat dan mendesaknya untuk bercerita sedetail-detailnya. Lalu geng gosip itu akan menyebarkannya ke seluruh sudut kelas dengan penambahan yang berlebihan, pastinya.

Beda lagi dengan Park Rin Byul. Hal paling membahagiakannya adalah ketika satu set make-up keluaran terbaru dari Perancis sampai ke rumahnya.

“Kim Hyun Zae, kau tahu tidak hari ini aku mendapatkan hal yang paling membahagiakan.” Aku tidak paham Park Rin Byul berniat bercerita hanya kepada Kim Hyun Zae atau kepada seisi kelas karena suaranya saja sampai ke bangkuku yang berada paling depan, padahal dia duduk di barisan paling belakang.

“Apa?”

“Set make-up keluaran terbaru dari Perancis sudah sampai ke rumahku! jeritnya kegirangan.

“Kenapa bisa?” Kim Hyun Zae sepertinya sebal karena tidak memilikinya. Dua orang itu sangat bersaing dalam hal yang berbau make-up.

“Aku memenangkan make-up itu dari undian,” kata Park Rin Byul, tersenyum penuh kemenangan dan ditanggapi decakan kesal dari Kim Hyun Jae.

Atau tidak berlebihan seperti Kim Kibum, si fashionista di kelas.

“Ssstt. Lee Taemin.” Seseorang mencolekku ketika aku baru akan duduk. Jelas teman sebangkuku, Kim Shun Nae, sudah datang.

“Ne?” aku menoleh ke arahnya.

“Lihat ini!” Dia menunjukkan hoodie berwarna pink yang sangat keren—kuakui selera berpakaiannya sangat bagus—dengan wajah berseri-seri yang membuat ingin muntah saat itu juga.

“Lalu?” aku hanya mengangkat sebelah alisku.

“Aku berhasil mendapatkannya setelah berdesak-desakkan di midnight sale. Ini hal paling membahagiakan bagiku.” Dia memeluk hoodie-nya erat-erat dengan penuh ekspresi girang.

Aku hanya bisa bengong. Tadi apa katanya? Midnight sale? Bukankah itu biasanya dipenuhi para yeoja tukang belanja? Dan Kibum? Dia bertarung dengan mereka untuk mendapatkan hoodie itu? Aku benar-benar tak habis pikir.

Ketika aku bertanya pada Kim Jonghyun tentang hal paling membahagiakan baginya, dia hanya garuk-garuk kepala.

“Nggg…”

“Apa? Cepat jawab!”

“Aku sedang berpikir.” Dia menerawang ke atas. Aku hanya bisa mendengus pelan.

“Ah, aku tahu!” dia mengacungkan jari telunjuknya.

“Apa?” tanyaku antusias.

“Mendapat video xxx terbaru gratis,” ujarnya dengan senyum sumringah.

Aku menepuk dahiku. Seharusnya aku tidak bertanya kepadanya. Pasti seorang maniak xxx seperti Jonghyun akan menjawab seperti itu.

Jauh berbeda dengan Park Sung Young.

“Hal paling membahagiakanku?” dia tampak berpikir.

Aku baru sadar kalau dia akan lama berpikir. Dia ‘kan sama seperti Jonghyun, sedikit bergeser otaknya.

“Apa ya? Sepertinya tidak ada,” katanya ragu.

Aku melongok. ”Kenapa bisa tidak ada?”

“Entahlah.” Dia mengangkat bahu.

“Apa hidupmu terlalu buruk sehingga tidak ada hal yang bisa membahagiakanmu?” tanyaku masih dengan tampang heran.

“Tidak juga.”

“Kalau gitu pasti ada.”

“Hmm, mungkin ketika aku jatuh dari tangga.” Dia tampak ragu.

“Jatuh dari tangga? Bagian mana yang paling membahagiakanmu?” aku mengernyitkan dahi.

“Karena aku ditolong oleh Jinki, Sunbae yang aku sukai. Waktu itu ‘kan aku jatuh dari tangga. Lalu ada Jinki-sunbae. Dia langsung mengulurkan tangannya. Ketika dia mau membantuku bangun, dia malah ikut terjatuh menimpa badanku. Mungkin karena badanku terlalu berat.” ceritanya sambil senyam-senyum.

Aku menepuk dahiku. Sepertinya otaknya benar-benar bergeser.

Begitulah hasil survey-ku terhadap anak-anak kelasku. Jawaban mereka aneh-aneh, bukan? Kalau aku, hal paling membahagiakanku adalah diberi banana milk oleh semua orang seperti saat ulang tahunku kemarin, jadi aku tak perlu kehabisan stok. Namun itu hanya terjadi sekali seumur hidup. Entah kapan lagi aku bisa mendapat banyak banana milk seperti kemarin.

Sedangkan Shun Nae hal yang paling membahagiakannya seperti yang terjadi pagi ini.

“Wah, siapa yang memberiku bolu coklat?” jerit Lee Hyun Li.

Aku yang baru masuk kelas langsung menoleh ke arah Hyun Li.

“Aku juga dapat,” kata Jonghyun.

Aku memperhatikan seluruh meja kelas. Semuanya mendapat bolu coklat, begitu juga mejaku dan Shun Nae. Aku tersenyum simpul. Aku tentu tahu siapa dalang dari semua ini.

“Kira-kira siapa ya yang memberi cake coklat ini?” kata Kim Bum sang ketua kelas.

“Semua meja dapat. Ini sudah kelima kalinya bulan ini dan selalu berbeda rasa. Siapa ya koki yang membuatnya? Ini enak sekali,” kata Sung Young.

“Ada apa?” tanya Shun Nae yang baru datang.

“Ini, Shun Nae-ya, ada yang memberi bolu lagi,” jawab Kim Bum.

“Oh.” Dia mengangguk-angguk.

Dia pun segera duduk di sampingku. Aku menyikutnya. Dia menoleh.

“Kenapa kau tidak katakan saja pada mereka?” tanyaku.

“Untuk apa?” dia memandangi anak-anak kelasku yang sedang asyik memakan bolu buatannya.

“Ya… untuk menjawab rasa penasaran mereka.”

“Ahaha, nanti tidak asyik lagi!” Dia tertawa renyah. “Nanti tidak akan kutemukan ekspresi senang mereka seperti ini lagi. Apalagi Kim Bum. Tampangnya sangat bahagia.” Dia memandangi Kim Bum yang asyik makan bolu hingga tanpa sadar coklatnya menempel di sekeliling bibirnya. Shun Nae terkikik melihat itu.

“Akan berbeda rasanya Taemin-ah. Saat mereka tahu, semuanya tidak akan seindah ini lagi.” Dia tersenyum manis. “Hal yang paling membahagiakan adalah ketika kita melihat orang lain bahagia karena kita tapi mereka tidak tahu.”

Aku hanya mengangguk. “Kau benar.”

“Itu hal paling membahagiakan tidak ada yang mengalahkannya.” Dia tersenyum kemudian beranjak dari kursinya.

 “Ya! Kim Bum-ah, mulutmu belepotan tuh!” dia menghampiri Kim Bum dan memberikan tisu.

“Oh ya? Ya ampun!” Kim Bum langsung mengelap pinggiran mulutnya dengan tisu yang diberikan Shun Nae.

“Hahaha.” Teman-temanku menertawakannya. Termasuk Shun Nae yang ikut memakan bolu di samping Kim Bum.

Shun Nae memang berbeda. Dia sangat bahagia melihat orang lain bahagia, bahkan dia mengutamakan kebahagiaan orang lain daripada dia harus bahagia sendirian, karena itu akan membuatnya bahagia.

Aku tersenyum memperhatikan Shun Nae yang sedang tertawa lepas bersama Kim Bum dan yang lainnya. Aku berjanji dalam hati akan mengikuti sifat Shun Nae.

Fin

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

One thought on “The Happiest Thing

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s