Hari Tanpa Duga

Hari Tanpa Duga

By Bella Jo

 

 

Hari ini sangat aneh bagiku.

Bagaimana tidak? Orang tuaku pergi pagi-pagi sekali dan mereka hanya meninggalkan memo dengan uang puluhan ribu won di atas meja, mengatakan mereka tak akan kembali hingga akhir minggu nanti. Padahal mereka berdua tak pernah seperti itu. Saat hendak melepas penat dengan berbelanja bersama sahabatku di pusat perbelanjaan, ia malah harus segera pergi karena ada keperluan penting.

Dan ini yang paling aneh. Saat aku sedang menendang kesal kaleng yang tergeletak begitu saja di lantai pusat perbelanjaan, kaleng sialan itu malah mengenai dia. DIA!! Demi Tuhan, itu DIA.

Dia cinta pertamaku, Kim Jonghyun.

Dan entah bagaimana aku sudah menemaninya makan siang sekarang.

“Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini, Lee Hana,” ucapnya ceria, ia menyantap ramen di hadapannya dengan lahap namun tidak menjijikkan.

“Aku lebih tidak menyangka kau akan mengajakku makan seperti ini, Kim Jonghyun,” sahutku. Aku mengaduk pelan penuh dendam minuman berwarna kehijauan di hadapanku. Mana mungkin aku bisa menyangka korban tendangan kalengku malah mengenaliku, lalu menarik tanganku saat aku mau kabur dan mengajakku makan siang begitu saja. Terlebih lagi, itu dia!

Jonghyun terkekeh kecil, “Panggilanmu kaku sekali. Seperti biasa saja.”

“Katakan pada dirimu sendiri,” sahutku. Jonghyun menghentikan kegiatan makannya, menyunggingkan senyum seribu pesonanya dan berkata, “Tentu, Na-ya.”

“Berengsek.”

“Kau tahu, aku suka reaksimu.”

Reaksi kasarku tadi? Kadang kupikir dia gila. Atau mungkin ada reaksi lain dari diriku yang bahkan tidak kusadari? Sial.

“Kupikir kau tidak suka pusat perbelanjaan, walau aku tidak heran melihatmu berjalan sendiri,” ucapnya lagi, kali ini dilanjut dengan aksi menyeruput mie dengan suara berisik yang agak menjijikkan.

“Kau hanya menemukanku dalam waktu dan tempat yang tidak tepat, Jjong.”

Ia tertawa kecil. Aku memperhatikan tangannya yang kidal menggenggam sumpit dengan lihai. Rambutnya sudah lebih panjang dari waktu sekolah dulu, membuatnya seakan melantunkan mantra pada tiap gadis di sekitarnya hanya dengan berada di sana. Ah, atau karena feromonnya? Aku tidak tahu.

“Kupikir kau sudah mulai kegiatan praktekmu semester ini,” ucapku. Kali ini kusentuh juga isi obentou yang kupesan. Rasa karage yang renyah dan enak, kesukaanku.

“Ya, dimulai minggu depan. Makanya aku ingin bersantai sejenak sebelum memulai semua.”

Aku mendengus kecil, “Enjoying your ‘me-time’?”

Kind of.

Ia kembali tersenyum kecil. Senyum yang kusuka. Senyum yang dulu selalu kuharapkan walau memancing reaksi kebalikan dariku tiap melihat senyumnya. It’s frustating.

Aku menyentuh makananku tanpa selera. Mungkin ia memperhatikan, mungkin juga tidak. Terserahlah, aku tidak peduli apa yang ia pikirkan tentangku sejak empat tahun lalu. Sejak ia menyampaikan dengan tidak tegas bahwa ia tidak bisa membalas perasaanku. Kenapa tidak tegas? Karena aku tahu dia tidak memiliki perasaan yang sama namun dia tidak pernah berkata ‘maaf, aku tidak bisa membalas perasaanmu’ atau ‘maaf, tapi aku tidak menyukaimu”. Padahal hanya kata-kata sesederhana itu yang kuinginkan, tapi sulit sekali keluar darinya.

“Na-ya?”

“Oh, ya? Maaf, aku tidak memperhatikan.”

Ia diam memperhatikanku sesaat dengan tatapan aneh yang tak tertebak. Otomatis keningku berkerut dan aku balas memandangnya dengan tatapan sengit. Maaf saja, tapi itu adalah reaksi alamiku saat berhadapan dengannya. Belum sempat aku bersuara lagi, ia kembali terkikik kecil.

“Apa yang lucu?” ucapku kesal. Anak ini mungkin memang sudah gila. Apalagi saat ia tertawa hampir menyemburkan kuah ramen-nya padaku. Ia menggeleng pelan lalu meredakan tawanya. Berdeham sekali ia berkata, “Hey, wanna have a date with me today?”

“What the…?!

***

“Menurutmu lebih bagus yang mana?”

“Yang warna hitam dengan model boots itu.”

“Hmmm… tapi aku tidak pernah memakai yang model begini.”

“Terserahmu saja.”

“Oke, aku beli yang ini saja.”

Mungkin semakin siang hari semakin aneh. Aku berada di toko sepatu mahal yang jarang kudatangi sambil memilih-milih di bagian sepatu pria. Padahal berbelanja sepatu sendiri saja aku jarang. Aku mendengus kesal, laki-laki ini memang senang berbuat sesukanya.

“Jangan pilih yang itu,” potongku, “Kau akan praktek sebagai dokter magang. Bagaimana kau bisa menciptakan kesan yang baik dengan tampilan yang terlalu trendi?”

“Oh, benar juga. Aku lupa tujuan awal.”

Bodoh.

Aku tidak tahu apa ini bisa disebut kencan -memasuki toko-toko sepatu dan pakaian pria maksudku- karena aku tidak pernah berkencan sebelumnya. Namun biarlah. Toh, aku sudah lama tak bertemu dengannya. Kuperhatikan lagi tampilannya. Dia tidak terlalu tambah tinggi, masih sama seperti dulu. Pakaiannya lebih formal, tidak kekanakan lagi. Namun jaket hoodie mungkin tak pernah lepas dari image-nya. Sama seperti waktu sekolah dulu.

“Aku membaca tulisan-tulisanmu,” ujarnya saat kami keluar dari toko barusan. Aku yang masih menyeruput minuman hampir tersedak mendengarnya. Sambil menahan batuk aku bertanya, “You did? Don’t you kidding me.”

“Please, Na. You know that I’ve never to you.

“Mungkin kau salah orang.”

“Nama RozaJ sudah dikenal dibagai dirimu sejak kita sekolah dulu. Aku menemukan blog yang memuat tulisanmu. Aku juga sudah memastikannya pada Heera.”

Sial, sahabatku tidak bilang kalau lelaki ini menanyakan itu padanya.

“Jadi, ada kesan khusus?” tanyaku acuh tak acuh, harap-harap cemas di dalam hati. Ia tersenyum tipis padaku lalu berkata, “Sangat.” Entah kenapa aku merasakan hal lain dalam senyumnya. Hal yang mungkin tak kuduga kedatangannya bertahun-tahun ini. Cepat-cepat kuseruput minumanku untuk menghalau pikiran itu.

“Kau masih memuat tentang kita dalam tulisanmu.”

“UHUKK!!”

Sial, cola masuk ke tenggorokanku. Ia menepuk-nepuk pundakku sementara aku masih terbatuk heboh. Ia tampak menahan senyum melihat air yang muncul di sudut mataku. Cih, laki-laki ini…

“Kau baca Memory?” tebakku. Seingatku cerita itu memuat tentang reuni antar dua orang yang membahas pernyataan cinta si gadis pada si lelaki saat masih sekolah dulu. Cerita yang diakhiri dengan penyesalan si lelaki karena si gadis menikahi orang lain.

“Yup. Cukup mengena,” ujarnya geli. Aku mendengus sebal. Ia melanjutkan, “Apa itu yang kau harapkan? Pada hubungan kita?”

“Kind of.”

“Then I’d be the broken hearted one.”

“Jangan mengucapkan kalimat bermakna ganda.”

“Kupikir kau sudah terbiasa.”

“Kau menyebalkan.”

Ia hanya tersenyum. Kami kembali lanjut berjalan. Aku menangkap sebuah toko boneka tak jauh dari kami. Di sana terpajang berbagai boneka lucu dengan berbagai ukuran. Aku tersenyum kecil, berpikir mungkin adikku akan senang jika kubelikan satu.

Mungkin Jonghyun menatap senyumku karena setelahnya ia berkata, “Pemberianku bukan jadi satu-satunya yang kau miliki lagi, Na?” Aku mengerti maksudnya, boneka.

“Tentu, aku mendapatkan satu setidaknya di tiap ulang tahunku.”

“Dari laki-laki?”

“Perempuan jarang saling memberikan boneka sebagai hadiah.”

Mungkin perasaanku saja tapi aku mendengar desah nafasnya. Aku hampir terlonjak saat sebelah tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Ia menatapku lalu tersenyum, “We’re on date, remember?”

“You disgust me.”

“Nope. I’ll just remind you.”

“Of what?”

Dia tak menjawab, hanya tersenyum kecil. Aku benci senyumnya di saat seperti ini. Ya, lagi-lagi senyum bermakna ganda. Aku hanya mengalihkan pandanganku ke arah lain tanpa melepas tautan jari-jarinya. Kami berjalan beriringan dalam diam.

“Kau menyukai orang lain.”

“HAH?”

Apa lagi ini? Aku jadi serasa tersangka yang diintrogasi dan diserang dengan tuduhan bertubi-tubi. Ia tak memandangku, mungkin pajangan toko aksesoris tak jauh dari sini mendapatkan perhatiannya. Ia berkata, “Aku membaca tulisanmu, ingat? Dan dari yang kubaca, kau seakan mengangkat kenyataan di tiap tulisanmu.”

Aku terdiam sejenak, mencoba membaca pikirannya. Namun ia hanya mengeratkan tautan jarinya. Sambil menghela nafas aku menjawab, “Kau terlalu banyak menduga.”

“Uh-huh! Aku bisa bertanya pada Ahra tentang senior yang kau suka. Kalian masih sekelas bukan?”

“Sial. Sudah sejauh mana kau membaca ceritaku?”

Ia mengalihkan tatapannya padaku dan berkata sendu, “Semuanya.”

“A..aku tidak menyukainya…”

“Kau mungkin tidak ingin menciumnya seperti yang tertulis di ceritamu, tapi kau menyukainya.”

“Bisa kita bicarakan hal lain?”

“Kau terdengar seperti laki-laki.”

“Dan kau seperti gadis yang tengah merajuk dan menyerbu pacarnya dengan bertubi pertanyaan.”

“Can’t help that.”

“Fuck you.

“Mouth, please.”

“Cih.”

Please, Na. Apa kita tidak bisa bicara seperti orang normal? Kau terdengar sangat ketus tiap menjawab kalimatku.”

“Can’t help that.”

“Shit.”

“Mouth, please.

Kata-katanya memancing tawaku. Sungguh, mungkin orang akan berpikir kami gila jika mendengarkan isi pembicaraan kami sementara jemari kami masih saling bertaut erat seperti ini. Ia ikut tertawa, tawa malu-malunya yang kusuka. Aku sadari bahwa aku menyukai setiap bagian dirinya, bahkan tanpa alasan yang pasti.

“Tapi, kau benar menyukai senior berkaca matamu itu?” Jonghyun kembali membahas hal itu. Aku memutar bola mata dan menjawab dengan malas, “Aku menghormati Kibum sunbae, tidak lebih. Yang kau baca hanyalah momen-momen konyol antara kami berdua yang kupikir bisa terlihat manis jika diceritakan dengan cara yang berbeda.”

“Oh, jadi namanya Kibum.”

“Kim Jonghyun!”

“Baik-baik. Aku takkan menanyakan hal itu lagi.”

Aku menatap penuh selidik ke arahnya dan ia mengangkat tangan tanda menyerah. Dia lucu juga. Aku tersenyum sebal melihatnya. Kenapa ia tidak berperilaku sesantai ini dulu? Kenapa ia tidak berlaku senyaman ini padaku dulu? Dan mungkin aku bisa menebak alasannya, walau menyakitkan.

“Katakan, Jjong. Apa menurutmu kisah dalam Memory bisa menjadi kenyataan?”

Ia tercenung mendengarku. Langkah kami terhenti, kutatap serius dirinya tepat di mata sementara tatapannya tampak kosong. Beberapa detik kami diam seperti itu, membiarkan orang lalu lalang di sekitar kami sementara waktu di antara kami berdua seakan terhenti. Apa yang ada dalam pikirannya? Aku sungguh tidak mengerti.

“Akhirnya cukup tragis untukku,” ucapnya pelan. Aku tersenyum kecil. “Dan aku tidak mau mendapat kalimat cinta dalam bentuk past tense seperti dalam cerita itu,” lanjutnya.

“Well, it depends on you.”

Ia terdiam. Sesaat ia menarikku mendekat dan menatapku tepat di mata. Dalam jarak beberapa sentimenter itu ia bertanya dengan suara serak, “Kalau begitu jawab pertanyaanku sekarang. You like me or love me?”

“Kau bisa menebak jawabanku, Jjong.”

“Aku bisa menyangka hatimu sudah direbut Kibum-entah-siapa itu.”

“Jadi menurutmu?”

“Aku cinta pertamamu, bukan? Aku tidak pernah menolakmu bukan? Dan kau tahu alasannya bukan?” Ia meracau dengan suara ditekan.

Ya, aku tahu. Karena kau takut pada kemungkinan suatu saat nanti kau yang akan menyukaiku.

“Kalau kau bertanya padaku bagaimana menurutku, maka aku hanya punya satu jawaban.” Jonghyun kembali mendekatkan wajahnya padaku, membuatku merasakan tiap deru nafasnya, “You have to love me, Lee Hana. No other choice.

Dan tarikannya menghilangkan jarak antara kami.

“Dan aku tahu kau bersikap kasar dan ketus seperti ini hanya pada orang yang lebih dari sekedar kau sukai, Lee Hana. Bukankah begitu? Aku selalu memahamimu,” bisiknya pelan.

“Sudah kubilang jangan mengatakan hal bermakna ganda.”

***

Aku mengulang kembali setiap hal yang terjadi hari ini. Ingatan kejadian siang tadi membuat wajahku memanas dan aku segera membenamkannya dalam bantal. Tapi mungkin hari ini takkan terulang lagi. Kejadian manis dengan cinta pertama biasanya berulang dalam fiksi bukan dalam realita. Ugh, bahkan aku tidak tahu nomor Kim Jonghyun. Ya, hari ini takkan berulang lagi.

Sebuah pesan masuk ke chat Line milikku. Tepat sekali aku sedang membuka komputer, akunku hanya aktif di sana. Aku membukanya dengan malas namun terkejut saat melihat si pengirim dan isi pesannya.

It was really a lovely date. Wanna have another one?

06xxxxxxxxxxxxx

Call me if you do

 

P,s: aku tidak mau Memory jadi kenyataan, jadi aku akan mengubah masa depan

From: Jamong29

 

Yah, mungkin keanehan di hari ini akan berlanjut untuk beberapa hari ke depan. Mungkin.

-FIN-

July 04 2015

09.49 pm

a.n: Maybe you guys need reading Memorabilia, but it’s okay if you don’t. just imagine that story as Memory here.

©2011 SF3SI, Bella Jo

                                                            bella-jo-signature

Officially written by Bella Jo, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

7 thoughts on “Hari Tanpa Duga

  1. Aahhh… author favorit ku muncul lagi kekeke..
    Seneng pagi-pagi baca ff di SF3SI..
    Hadeuh si jamong itu.. ngebingungin banget.. eh apa aku doang yg bingung.. ah sudahlah~
    Seperti biasa ff nya selalu kerenn..

  2. That’s Bella Jo. I love every story from you.. ^^
    Aku pikir Kisah Kim Jonghyun dan Lee Hana hanya akan sampai pada wkt mereka bertemu di bar? Club? Apa lah itu tempatnya.. Lee Hana, You don’t have to love Jonghyun but you MUST love Jonghyun. Hahahaha
    Great FF. Hwaiting ^^

  3. Hi Bella!
    Lama sekali ga blogwalking dan membaca karyamu!
    Dan walla! Kali pertama kembali ke dunia blog, baca tulisanmu ini.
    How sweet! Tapi ga cheesy. Ini yang aku selalu suka dari tulisanmu.

    ia menyantap ramen di hadapannya dengan lahap namun tidak menjijikkan. <– LOL

    Aku baru baca di akhir, harus baca memorabilia, pantes aja di tengah2 baca semacam semothing lost gitu. Cuss… segera baca memorabilia.heheh.

    oKEY, nothing to say but good job as usual, Bella. Aku tunggu karya2mu yang lainnya ^^

    1. Hi juga, kk~ udah lama juga sih nggak aktif lagi d dunia blog dan tulis menulis gini… maacih, y, kk… bella juga masih nunggu lanjutan dari excuse me miss nih… kapan mau kk lanjutinny?

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s