Never Ever After – Part 3

Never Ever After

Author : Bella Jo

Main Cast : Key SHINee as Keyx | Liana Jo (OC)

Support Cast : Onew SHINee as Lucifer | Vera Zoldieck (OC) | Henry SJ as Henry | etc…(find it by yourself^^)

Length : sequel

Genre : romance, action, fantasy, tragedy, supernatural, adventure

Rating : PG-15

A.n: maaf kelamaan ngepost cerita ini… udh lebih dari setahun kali ya. semoga ga pada bosan menunggu ataupun pada ga lupa ceritanya. kekeke… check it out~

“Key, kita mau ke mana?”

Aku tidak langsung menjawab tanyanya. Kepalaku terlalu penuh akan dirinya.

“Key, kau ingin membawaku ke mana?”

Masih diam. Yang kupikirkan sekarang hanyalah membawanya ke ruang pribadiku di kastil dan waktu yang akan menjawab apa lagi yang akan terjadi nantinya.

“Key?”

Ia meraih wajahku dengan kedua telapak tangannya yang dingin. Mata coklatnya yang kelam bertemu pandang dengan mata merahku yang menyala-nyala. Sorotnya tampak sedih dan khawatir. Akhirnya aku berhenti dan menurunkannya dari pelukku, namun aku masih belum melepaskannya. Di kedua matanya tergenang cairan bening yang siap tumpah dan hal itu membangkitkan kesadaranku bahwa gadis itu pastinya amat ketakutan, seperti normalnya manusia bertemu begitu banyak serigala buas. Namun aku sendiri masih memiliki berbagai pertanyaan yang ingin kulontarkan.

“Key, manusia punya berbagai rahasia dalam hidup, terutama tentang masa lalu,” ia berbisik pelan. Ekspresiku kaku mendengar ucapannya. Ia benar dan aku mulai menangkap maksud ucapannya. “Anggap saja aku salah satunya. Apa kau akan menyalahkan masa laluku?” lanjutnya.

“Tidak.”

Anehnya begitu sinar bulan terarah langsung padanya, bisa kulihat cahaya violet dari matanya. Tunggu, itu kan cahaya… Ah, tidak. Tidak mungkin.

Aku harus menepis pikiran burukku tentang Liana.

***

Kuturunkan tubuh ringan Liana begitu kami sampai di depan gerbang desa. Tempat itu tampak sunyi. Mungkin mereka tahu mulai malam ini serigala aktif berburu. Tidak heran gadisku tak tahu, ia tinggal sendirian. Mana sahabatnya di saat seperti ini?

“Terima kasih karena sudah mengantarku, Keyx.”

“Tidak, perjalanan kita masih belum berakhir,” ujarku. Dalam sekejap mata, aku sudah tampil dalam sosok manusia yang pernah kugunakan sebelumnya. Gadisku sempat membulatkan mata namun segera disambung tawa kecilnya.

“Untuk memastikan aku tidak terluka?” godanya.

“Untuk memastikan kau benar-benar pulang dengan selamat, baby boo.”

Kami berjalan beriringan dengan langkah perlahan. Savouring the moment of our quantity time. Kulihat ia agak menggigil. Kusampirkan di bahunya coat hitam tebal yang tengah kupakai. Ia tersenyum, senyum yang kucinta seperti biasa. Sungguh ia membuatku menghela nafas. Liana Jo, kau menyiksaku dengan diammu.

“Jangan terlalu hyperprotective terhadapku, Key. Aku sudah cukup terbiasa hidup sendiri,” ungkapnya sambil menatap kerikil yang terlontar karena langkah kami, “sayang sekali jika kau menghabiskan waktumu yang berharga untuk mengawasiku tiap hari.”

Damn, ternyata dia tahu. Walau kau biasa hidup sendiri, aku tak bisa hidup tanpamu, baby boo.

“Tidak masalah. Aku sudah hidup terlalu lama,” sahutku.

“Tapi hidup kita cuma sekali. Makhluk hidup manapun pasti akan mati, dan akan sangat buruk jika saat kau mati suatu saat nanti kau menyesal karena sudah membagi waktu untukku.”

“Apa kau selalu menolak para pria yang ingin mendekatimu dengan cara seperti ini?”

Dia tersenyum kecil, “Tak kusangka kau dapat menebaknya dengan benar.”

“Tak heran semua menjauh perlahan darimu.”

“Tak heran kau tahu hal itu. Kau benar-benar memperhatikanku tiap hari rupanya.”

Dasar gadis ini. Dia membuatku terdiam sekaligus tersipu. Kualihkan pandanganku darinya namun ia malah tertawa kecil. Sial, ternyata selama ini dia bena-benar tahu.

“Tak apa, Key. Aku senang. Kau bertingkah layaknya angin yang kunanti sejak lama.”

Aku masih diam. Mungkin ia ingin membujukku dengan kalimatnya tapi aku masih terlalu malu bahkan untuk bertatapan langsung. Tak kusangka ia meraih telapak tanganku dan meremasnya pelan. Saat tanpa sadar bertemu pandang dengannya, ia menyunggingkan senyum manis yang selalu kusuka. Bibirnya membisikkan kata terima kasih dengan cara yang imut dan itu membuatku tentram. Kami kembali berjalan perlahan, kali ini sambil bergandeng tangan.

“Masih tidak ingin berbagi rahasia masa lalumu padaku?” tanyaku.

Ia menggeleng pasti, “Tidak. Semua terlalu rumit untuk dijelaskan.”

“Aku akan mendengarnya dengan senang hati.”

“Tetap tidak. Biarlah hanya waktu yang mengenangnya.”

Baby boo…”

“Yang penting bukanlah masa lalu, Key. Tapi masa depan yang akan segera datang menghampiri. Dan aku siap menghadapi apapun itu.” Liana menguatkan genggaman tangannya padaku dan mengayunnya pelan. Ia telihat kekanakan namun juga damai. Gadis ini senang sekali menyiksaku dengan keimutannya.

“Tapi jangan salahkan aku jika aku berhasil mengetahuinya dari orang lain,” ujiku. Ia tersenyum dan membalas, “Dan jangan benci aku setelah tahu apapun yang ingin kau ketahui itu.”

“Na, aku ingin tahu langsung darimu sendiri.”

“Maaf, Key. Tapi kupikir akan lebih baik jika kau tidak tahu sama sekali.”

Dan kami pun sampai di depan pintu rumahnya. Setelah melambai dan mengucapkan kalimat perpisahan, ia menutup pintu. Aku beranjak dari sana setelah yakin semua lampu mati dan ia pergi tidur.

***

TIK

Waktu berlalu. Aku hanya memandang langit yang terhampar luas membungkus Bumi sambil melayang tak jelas di udara. Ada yang mengganggu pikiranku namun aku bahkan tak yakin apa itu. Saat tenggelam dalam warna biru langit malah terbayang olehku warna violet. Dulu aku sangat menyukai warna itu serta para pemiliknya, sekarang aku ragu.

Rasanya tidak seperti dulu. Dan hanya lenguh nafas yang mampu kuhembus.

“Apa yang kau lakukan?”

Onew si Lucifer muncul tiba-tiba di depan mata. Kebiasaan buruknya yang bahkan tak lagi bisa diprotes karena terlalu biasa. Dia mengedikkan bahu saat aku hanya menunjukkan pandangan datar.

“Sepertinya kau tahu tapi tidak mau mengakuinya,” ujarnya pedas sambil ikut melayang tak jelas.

“Tentang apa?” tanyaku malas.

“Warna violet.”

Aku hanya diam walau mengerti apa yang ia maksud. Dengan sedikit tersenyum ia berkata, “Sudah lama sekali sejak terakhir aku melihat warna violet yang unik itu di daerah ini. Bukankah hanya ada satu klan yang memilikinya? Kalau tidak salah…”

“Xanville,” potongku. Senyum dinginnya semakin lebar saat aku menambahkan, “Keluarga Xanville.”

“Para bunga yang ditebas dengan tragis.”

“Analogi yang bagus. Aku takkan membantahnya.”

“Tidak kusangka masih ada benih yang tertinggal. Jangan sampai benih ini mati ditebas angin.”

Lucifer berlalu pergi meninggalkan aku yang jengkel karena mendengar analoginya. Namun ia memang benar, aku pun lelah membantah. Yang butuh kulakukan hanyalah melekatkan hal itu kuat-kuat dalam pikiran.

“Benih terakhir tak boleh lenyap ditebas angin.”

Aku mengerjap, tak sadar bahwa tubuhku sudah kembali menapaki Bumi. Dan suara itu membuatku langsung menoleh ke belakang. Di dekat pohon tengah berdiri Henry. Kehadirannya membuatku terpaksa menelan ludah. Apa ia dengar pembicaraan kami tadi?

“Kalian bicara tentang Xanville?” Henry menatapku dingin sambil bersandar pada pohon. Tangannya menggenggam biola kesayangannya, biola yang iramanya dapat membuat pendengarnya merasakan kesakitan hebat. Ia tertawa saat kembali berkata, “Keyx, kau harus melihat wajahmu saat ini. Aku ingin tertawa melihatnya.”

“Kau sudah tahu jawabannya, kawan,” ucapku datar, merespon pertanyaannya tadi.

“Mau berbagi cerita padaku?”

“Kupikir kau sudah tahu, Henry. Terlihat dari ekspresimu.”

“Keyx, sejak kapan kau pelit begini?”

Aku bingung melihat tingkah Henry yang cenderung datar dan…sedih? Ia tidak tampak berapi-api seperti saat terakhir ia bercerita tentang soulmate kapan lalu, sama sekali berbeda dengan kebencian yang amat ia tampakkan saat itu.

“Kalau begitu, kau tahu tentang ceritaku?” Suaranya terdengar bersamaan dengan gesekan nada pertama biolanya. Tunggu, lagu ini… Requiem D minor K, 626?

“Sesuatu terjadi padamu?” heranku. Angin mulai mengajak dedaunan menari menciptakan gesekan yang harmoni. Namun melodi yang keluar bukanlah lagu ceria yang biasa ia bawakan. Untuk apa Henry memainkan lagu kematian?

“Ya, kawan. Dan aku akan mulai bercerita begitu aku selesai bermain nanti.”

Dan di sanalah kami, tenggelam dalam bisu diiringi irama menyayat dari requiem yang dimainkan iblis berkulit putih susu itu.

***

“Sepertinya aku pernah melihatmu.”

“Tentu. Aku yakin kita pernah bertemu tahun lalu.”

Aku menebar senyum di depan Vera Zoldieck yang tampak bingung di hadapanku. Sulit sekali untuk tersenyum sebenarnya, namun aku terpaksa harus melakukan ini sekarang. Gadis berambut panjang itu menurunkan busur dan panahnya sekilas dan memandangku, namun ia segera mengarahkan kembali panahnya pada sasaran yang ada puluhan meter di depan sana.

“Cara memegangmu salah.”

Tubuhnya sempat kaku saat aku meraih tangannya dan membimbingnya agar dapat menembakkan panahnya tepat sasaran. Kukalungi lengan dari belakang tubuhnya dan tenagaku membantunya untuk dapat menarik panah di tali busur dengan sempurna. Kalau saja Onew melihat posisi kami ini, ia akan membunuhku. Tapi aku harus dapat memanipulasi gadis ini untuk mendapatkan informasi yang kubutuhkan.

“A..aku belum benar-benar mengenalmu…”

Aku hampir terbahak saat mendengar suara Vera yang bergetar gugup. Sambil tersenyum kubisikkan di telinganya, “Dibanding aku, ada seseorang yang setengah mati ingin kau mengenalnya.”

Nafasnya mulai berat. Terlalu gugup sepertinya. Dengan posisi tubuh kami yang sedekat ini tentu aku tak heran. Masih tetap berbisik, kukatakan padanya, “Rileks. Fokus. Rasakan panahnya, kekuatannya. Rasakan tiap tarikan nafas yang dapat kau ambil saat hendak membidik lawan. Bayangkan itu musuh yang amat kau benci, rasakan tiap titik amarah dan kebenciannya.”

Ia mulai dapat bernafas teratur, menarik dan menghembus udara dengan semakin berat. Dapat kulihat pandangannya menajam dan saat itulah kulepas rengkuhanku darinya. Dalam beberapa detik ia melepas panahnya dan benda tajam itu melesat cepat menembus sasaran.

“WOW!!” Vera memekik riang. Mungkin hal ini tak pernah sengaja terjadi sebelumnya. Aku bertepuk tangan sebagai bentuk apresiasi dan gadis muda itu semakin bertingkah kekanakan. Aku mulai berpikir apakah Bells pernah selugu dia sebelum menjadi hunter kejam yang beringas. Hal itu segera kutepis saat senyum Vera mengembang lebar dan ia tampak sangat puas. Ini saat yang tepat.

“Kuharap ini bukan untuk yang pertama kalinya,” candaku. Ia terkikik malu-malu sambil menggaruk-garuk kepala yang aku yakin tidak gatal, “Se…sebenarnya ini memang pertama kali bagiku dapat membidik tepat tengah sasaran.”

“Berarti ini karenaku?”

Vera tertawa mendengar nadaku yang penuh goda. Akhirnya ia berkata, “Baiklah, aku berhutang padamu. Apa yang kira-kira bisa kulakukan?”

Aku tersenyum kecil dan mendekatinya. Saat bibirku tepat di samping telinganya, hanya kalimat singkat yang keluar.

“Beritahu aku tentang Liana.”

***

Gadis itu melangkah ringan ke samping rumah mungilnya dan meraih penyiram tanaman yang sudah tampak tua dan usang. Setelah mengisikan air ke dalam alat yang tampaknya bocor halus tersebut, ia melangkah ke arah pekarangan depannya yang ditumbuhi beberapa batang bebungaan. Ah, ada mawar hitam favoritku di sana. Tapi yang lebih menarik perhatianku adalah punggungnya yang tampak kesepian.

“Ah!”

Hey, baby boo.”

Gadisku tampak terkejut saat tiba- tiba saja aku sudah melingkarkan lengan di pinggangnya dari belakang. Wajahnya yang mendongak kaget tampak amat lucu dan aku hampir tertawa melihatnya.

“Ke…kenapa kau. bisa ada di sini?” Ia mengalihkan tatapannya dariku lalu menoleh ke sana sini untuk memastikan tak ada seorang pun yang melihat kami di sana. Semburat merah muda di pipinya membuatku gemas dan kuputuskan untuk melupakan sesaat semua beban pikiran yang menumpuk di kepalaku.

“Aku merindukanmu,” sahutku, mengeratkan rengkuhan padanya.

“I…ini sangat tidak biasa, Key…”

“Biarlah kita tetap diam di posisi ini, baby boo. Aku sedang butuh energi darimu.”

Ia dan tubuhnya memang diam, namun tidak dengan detak jantungnya. Aku sangat suka tiap debarannya yang berpacu semakin cepat di tiap detiknya. Aku juga suka panas tubuhnya yang bertemu langsung dengan dingin kulitku. Dan dalam wujud manusiaku ini, kurasakan jantungku juga berdebar kencang.

“K..Key… Nanti ada yang melihat kita…,” cicitnya dengan nafas tertahan. Aku hanya tersenyum, “Biar saja. Biar mereka tahu bahwa Liana yang tak pernah membiarkan laki-laki mendekatinya telah menjadi milikku.”

“Mereka bahkan tak tahu siapa kau…”

“Tapi mereka akan tahu bahwa kau sudah ada yang punya, baby boo.”

Ia kembali diam, namun sesuatu langsung mengusik pikiranku, pembicaraanku dengan Vera. Dan seperti biasa aku langsung menyuarakan isi pikiranku, “Aku tidak pernah tahu bahwa kau tidak menghabiskan masa kecilmu di desa ini.”

Liana berubah kaku, ekspresinya mengeras. Aku tahu pembicaraan ini akan begitu serius tapi aku takkan mundur. Aku hanya berkata, “Apa masih banyak tentang dirimu yang belum kuketahui?”

“Apa jawaban yang kau harapkan?” Liana malah balas bertanya, ia sangat pandai mengambil alih situasi. Dan pertanyaannya itu sangat tepat dijawab dengan kalimat serupa, “Kau yang paling tahu apa yang kuharapkan.”

“Aneh sekali hari ini kau tidak memantau gerakanku seperti biasa. Ada hal yang kau sembunyikan dariku?” Liana membalik badan dan menatapku lekat-lekat. Ia tengah menggodaku, aku tahu. Namun itu malah membuatku hanya diam. Dari mana ia tahu kalau aku selalu memantaunya tiap hari? Jari telunjuknya menyentuh pelan daguku, “Apa masih banyak tentang dirimu yang belum kuketahui, Key?

“Kau lucu, Liana.”

“Kau juga, Key.”

Lagi-lagi aku menemukan kilatan violet di matanya yang masih berwarna coklat gelap. Seakan-akan kilatan itu muncul hanya di saat-saat tertentu, seperti sekarang misalnya. Aku begitu penasaran hingga langsung kuangkat tubuhnya dan melesat cepat menuju hutan.

“Sedikit terburu-buru?” Liana kembali bertanya setengah menggoda. Aku menggeleng pelan, “Tidak, hanya sedikit penasaran.”

“Apa yang kau temukan tentang aku hari ini, Key?”

“Oh, jauh lebih banyak dari yang ingin kau ketahui, baby boo.”

“Misalnya?”

“Kau anak yang dibawa pasangan Jo ke desa tersebut setelah keduanya hilang dalam waktu yang cukup lama, anak yang tiba-tiba saja sudah besar. Bukan begitu, baby boo?

Dia kembali membeku. Aku mendesah pelan, sebenarnya aku lebih suka jika ia membantah. Hal ini membuat dugaanku semakin kuat. Namun kemudian bibirnya berbisik, “Lalu?”

“Pasangan Jo menghilang sejak pertempuran besar antara kaum hunters dengan para pemuja iblis yang dulu tinggal di daerah ini. Dan saat mereka datang dengan membawamu, kau bahkan tidak mau bicara.”

“Lalu?”

“Pasangan Jo meninggal setahun setelahnya dan kau tinggal sebatang kara. Kau sempat menjadi hunter dengan kemampuan yang tak tertandingi hunter manapun di desa ini namun kau tak pernah mau membunuh satu iblis pun.”

“Lalu?”

“Kau juga sempat disebut pembawa kutukan karena meninggalnya keluarga Jo.”

“Lalu?”

Aku berhenti di bawah pohon maple rindang tempat aku dan Liana pertama kali saling bicara. Kutatap wajahnya, nyaris tanpa ekspresi. Hanya helaan nafas yang mampu kukeluarkan saat sadar ia kembali menyembunyikan sesuatu dariku. Kubimbing tubuhnya baring di atas hamparan daun maple kering dan ekspresinya mulai melembut. Kutangkup wajahnya dan perlahan ia menutup mata.

“Kenapa kau tak membantah satupun ucapanku?” aku berbisik lirih, jariku menyentuh tiap lekuk wajahnya.

“Karena aku tahu kau hanya mempercayai apa yang ingin kau percaya, Key,” balasnya.

Aku tersenyum pahit, “Benar,” jawabku. Aku pun ikut berbaring di sebelahnya, di atas hamparan daun maple kering yang sudah berwarna kecoklatan. Angin berhembus lembut ke arah kami. Bisa kurasakan Liana tersenyum ringan walau matanya masih tertutup rapat. Ini saat-saat tenang yang amat disukainya. Dan untuk sesaat aku kembali ingin waktu terhenti.

“Key…”

“Hmmm…?”

“Aku ingin waktu berhenti sekarang. Bisakah kau mengabulkannya?”

Aku tersenyum kecil lalu kuraih tangannya yang terkesan amat rapuh. Sambil menautkan kelima jari kami, kukatakan padanya, “Waktu tak pernah berhenti, Na. Walau kematian datang menjemput dan nyawa terengut, tiap detiknya tetap berjalan hingga dunia ini hancur.”

“Tapi, Key…”

“Hmmm..?”

“Aku ingin sekali mati di saat paling bahagia bagiku.”

Aku juga, baby boo. Aku juga. Dan untuk saat ini kunikmati hening dalam dekap hembusan angin yang hangat sambil menggenggam tanganmu.

***

Entah kenapa sejak saat itu aku tak lagi mau mencari tahu hal-hal yang berhubungan dengan Liana. Gadis itu…biarlah ia begitu misterius dengan caranya. Mungkin aku memang akan menyesal jika tahu apa masa lalunya. Biarlah begini, toh aku cukup bahagia bisa melihat dan bertemu dengannya.

Di sisi lain Onew mulai tak tenang. Ia ingin menyusun rencana untuk dapat bertemu dengan soulmatenya. Benar-benar bertemu dan berkomunikasi maksudku. Tapi sepertinya ia cukup kesulitan karena dirantai gengsi. Yah, tidak heran juga mengingat ia merupakan salah satu iblis yang paling sering menertawakan perihal ‘soulmate‘ itu. Layaknya karma dunia.

Dan karma itu juga berlaku padaku.

Selepas pertemuan itu, aku sering mendatangi Liana di rumahnya. Tentu saja saat tidak ada orang di sekitarnya. Entah kenapa aku berpikir akan menjadi hal yang buruk jika aku muncul di samping Liana saat Vera juga ada di sana, mengingat ia adalah seorang hunter. Namun tak masalah. Toh, Vera juga terlalu disibukkan oleh latihannya sementara Liana terlalu disibukkan olehku.

Seperti saat ini.

“Kau tidak bosan bersama denganku, Key?” Liana bergumam pelan saat kami lagi-lagi berbaring di bawah pohon maple sambil menikmati gemerisik angin dan suara alam yang lembut. Aku menoleh ke arahnya, mendapati gadis yang rambutnya semakin panjang itu tengah memejam mata. Keningku mengernyit saat kubalas bergumam, “Kau mengatakannya seakan-akan kau bosan bersamaku, Na.”

“Bukan begitu, hanya saja…”

“Hmmm?”

“Aku penasaran.”

“Berikan saja tanganmu untuk kugenggam dan kau tahu jawabannya.”

Dan hening kembali membalut kebersamaan kami yang damai. Hal ini mengingatkanku pada pertanyaan yang kutujukan pada Liana tentang hal lain yang ia sukai namun ia hanya menjawab dengan senyum. Apa maksudnya aku harus mencari tahu sendiri, ya?

“Kau iblis, kan?” Liana kembali bertanya tiba-tiba. Tentu keningku kembali berkerut. Mungkin lama-lama aku akan kehilangan tampilan mudaku karena terlalu banyak mengerutkan wajah. Pertanyaannya terlalu aneh untuk dijawab.

“Seperti ucapanku tahun lalu,” jawabku sekenanya. Ia membuka mata perlahan dan menatapku dengan mata beriris coklat gelapnya. Kulanjut ucapanku dengan, “Ada hal yang membuatmu penasaran?”

“Ya,” jawabnya, “Kenapa kau tidak bersikap seperti iblis?”

“Seperti iblis? Misalnya?”

“Emm… Bagaimana mengatakannya, ya?” Liana tampak gugup, semburat merah muda muncul di pipinya. Tingkahnya membuatku gemas.

“Misalnya?” ulangku. Seakan menggodanya, aku malah semakin ingin bertanya. Yang semakin lucu ialah semakin piasnya wajah Liana.

“Kau tidak pernah memaksaku. Bukankah biasanya iblis berbuat jahat? Tidak senonoh misalnya…,” kalimatnya terhenti sesaat, “namun kau hanya mengucapkan kalimat yang lembut dan menggenggam tanganku, melindungiku seakan aku akan hancur jika kau lepaskan…”

“Jadi kau ingin aku bersikap tidak senonoh?”

Ia membelalakkan alisnya dengan wajah merah padam. Setelah menyangkal keras ia langsung membalik badan dan membenamkan diri di balik daun-daun mapel kering yang berwarna coklat kekuningan. Aku terkikik kecil dan ia semakin meringkuk seperti bola daging.

“Hey, Na…”

DEG!!

Tunggu, perasaan ini… Tidak!!

“Na, cepat pergi dari sini!” tanpa banyak bicara lagi aku langsung menarik Liana menjauh dari tempat itu. Bisa kulihat ia kesulitan bangkit, apalagi menyamakan langkah denganku. Namun tak ada waktu. Instingku tak mungkin salah.

DEG!!

Sial! Waktunya tak cukup. Dengan gerak agak kasar kulempar cepat tubuh mungil Liana ke balik pepohonan yang tampak gelap dan aku pun melompat cepat.

Dash! Dash! Dash!

Tak! Tak! Tak!

Benar dugaanku. Itu dia. Tanganku mencengkram kuat dahan pepohonan saat tiga panah hampir menghujam ke arahku. Itu bukan panah biasa. Hanya satu orang yang memiliki anak panah merah menyala dengan simbol ‘B’ hitam tertera jelas di sana. Dan pemiliknya itu tengah melempar senyum liciknya padaku saat kami bertemu pandang.

Baby, it’s been a long time. I miss you crazily…,” sebut bibir merah menyala itu dengan senyum menggoda. Namun aku yang dulu sempat menyukai tiap bait tantangan yang terucap darinya kini malah mengernyit dahi karenanya. Cih, kedatangannya tidak tepat.

“Bells, kau agak berubah. Aku puji rambut panjang bergelombangmu. Jauh lebih indah dari yang dulu,” sahutku dengan tawa kecil yang dibuat-buat. Lucunya gadis itu tampak sedikit merona karena ucapanku. Sungguh, dia memang menyukaiku atau apa?

“Aku tidak menyangka kau akan memujiku, Keyx. Kita sudah lama tidak bertemu,” ucapnya riang dengan gaya kekanakan. Baiklah, jika bertingkah seperti itu dia jadi sangat berbeda. Agak lebih menakutkan malah karena aku terbiasa dengan pribadinya yang keras. Namun sikap manis Bells langsung berubah bengis saat ia berkata, “Kupikir gadismu pun pasti berambut panjang makanya aku datang dengan maksud mencukur habis helaian rambut dari kepalanya.”

“Seindah apapun rambutmu, takkan bisa menandingi keindahan gadisku, sweetheart,” sahutku tanpa gentar. Bells hanya menyeringai kecil, “We’ll see it, baby.”

Suara dentingan pedang mengiringi tiap gerak dan sentuhan yang kami hunuskan. Tak ada yang lebih kupikirkan selain keselamatan Liana dan gadis itu tampaknya cukup pandai bersembunyi. Sialnya insting Bells terbilang tajam. Sepertinya ia tahu ada yang kusembunyikan di dekat sini, hal yang tidak ingin kulukai ataupun terluka karenaku.

Bells menyeringai tipis. Ia menghujami penuh daerah radius lima meter dari tempat kami bertarung dengan ratusan batang besi tajamnya. Aku meringis ngeri saat mengingat jelas Liana pasti ada di sana, menjadi korban.

“LIANAA!!!”

Aku langsung menyeruak ke arah semak-semak dengan panik. Namun tak ada apapun di sana, taka da tetesan darah. Hanya aromanya yang tertinggal. Aku berusaha mencari di sekitar namun tak ada siapapun.

ZRAAKK

“Oh, jadi namanya Liana, baby?”

Pedang Bells hampir menembusku kalau saja aku tak langsung mengelak cepat. Mata gadis itu dipenuhi bara kebencian walau senyum terpatri jelas di wajahnya. Ia menarik pedangnya yang tertancap di pohon lalu kembali menyerangku, “Aku tidak menyukainya, Keyx. Sama sekali tidak!!”

“Bells…”

“KAU MILIKKU!!!”

Energi negatif menguar pekat dari tubuhnya. Sungguh sangat menggoda, namun kecemasanku akan keberadaan Liana menghalau rasa haus yang membakar. Bells tidak menyerangku, ia menyebar besi panjang setajam jarum ke sekeliling kami. Sambil terus melakukannya ia tertawa keras, gila. Nafasnya terengah, lalu berteriak keras, “DIMANA KAU GADIS BODOH?? KELUARLAH! KELUAR DAN MATI!! KAU DENGAR?! KEYX MILIKKU!!!”

“Bells, kau gila!”

“Aku hanya mengatakan kebenaran, Keyx. Kebenaran!” Bells menatapku lekat, aku tak menemukan kewarasan dalam tatap matanya, “Kalau saja gadis itu mati, kau tak akan lagi menyebut ‘soulmate-soulmate’ sialan itu. You’ll have no excuses, Keyx. You are mine and be mine forever.”

Tawa sintingnya yang membahana membakar amarahku. Kutarik pedangku dan kuarahkan ke arahnya dalam gerak cepat penuh emosi. Liana tak boleh mati di tangannya, tidak di tangan gadis dengan obsesi berengsek ini. Kulemparkan pedang pekatku ke arahnya. Dia menatap pedang itu dengan mata membelalak lebar. Ya, jika memang mengenainya, takkan ada lagi yang mengancam kehidupan Liana.

TRIING!!!

Apa?

Apa yang terjadi?

“Mundur, Key. Ini urusan antar wanita.”

Aku tak mampu menahan rasa terkejutku saat tiba-tiba saja seorang gadis yang kukenal sudah berdiri di antara kami berdua. Pedangku sudah melenting ke arah berbeda, melepas jalur sasarannya. Di tangan gadis itu tergenggam sebuah pisau perak dengan warna mengilat. Hanya aromanya yang menyadarkan aku bahwa itu memang benar Liana Jo.

“Oh, Keyx. Jadi ini gadis yang kau sebut-sebut itu?”

Bells menatap kosong ke arah Liana dengan ekspresi penuh keterkejutan. Wajahnya berubah lugu, seakan melupakan kebrutalan yang baru saja dilakukannya. Aku menggenggam tangan Liana cepat. Jika kami tidak segera pergi dari sini, Bells akan segera membunuhnya. Dan itu adalah hal terakhir yang kuinginkan selama menjadi iblis di dunia.

Baby boo, menyingkirlah. Kita harus segera menyingkir dari sini!” erangku. Namun Liana tak berkutik, seakan kakinya merekat pada tanah yang ia pijak. Mata Bells semakin melebar, kali ini tertuju padaku. “’Baby boo’?” ulangnya, “Kau bahkan punya panggilan khusus untuknya, Keyx? Padahal selama ini hanya aku yang memilikinya…”

“LIANA! MENYINGKIR DARI SINI!!”

“Tidak, Key.”

“Ya, dia benar, Keyx,” cahaya dalam mata Bells berubah menjadi tatapan ceria yang mengerikan. Ia terkikik geli seperti gadis remaja yang kegirangan lalu meraih besi-besi tajamnya dari balik pakaian, “ini urusan antar wanita.”

Liana menggenggam tanganku dan melompat mundur dengan cepat. Bells melemparkan senjata dalam genggamannya ke arah kami. Aku siap menangkis serangannya namun…

TRANG!! TRANG!! TRANG!! TRANG!!

Apa?

Apa tadi itu?

Besi-besi itu berjatuhan ke tanah setelah ditangkis dengan gerakan yang luar biasa cepat. Serangan kedua datang, namun yang terjadi adalah hal yang sama. Liana kembali menarikku mundur, kali ini ia meraih entah apa dari balik lipatan bajunya dan melemparkannya ke arah Bells.

TRING! TRING! TRING!

Apa yang baru saja terlempar itu? Darts?

“Hihihihihi…. Hahahahaha!! Kau punya gadis yang menarik, Keyx. Dan coba lihat matanya, kukira ia hanya ada dalam kabar burung.”

Liana melepas genggamannya dari tanganku dan kami menapaki dahan pohon yang berbeda. Bells masih tertawa parau di bawah sana. Saat kulirik ke arah Liana, aku sadar apa yang dibicarakan hunter sinting itu. Ternyata violet jelas memenuhi warna bola mata Liana. Warna violet yang hanya menandakan satu hal.

“Benih yang tertinggal dari para bunga yang ditebas dengan tragis,” Liana berkata dengan tenang, tanpa sedikit pun gejolak emosi. Kalimat itu membuatku terkejut. Hanya tinggal kaum iblis dan hunters tertentu yang mengetahui kalimat itu. Kalimat itu berdampak buruk pada Bells Everrose. Di bawah sana Bells menggeram garang dengan mata membara.

“XANVILLE!! Kau tak seharusnya mengkhianati kami!!”

__Tbc__

©2013 SF3SI, Bella Jo

bella-jo-signature

Officially written by Bella Jo, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

One thought on “Never Ever After – Part 3

  1. Hallo, salam kenal, authornim..🙂
    Err…, mantan silent reader disini.. *sungkem*
    Saya kira ff ini udah gak bakalan dilanjutin lagi, tapi ternyata authornim masih berbaik hati ngelanjutin ff’nya, makasih banyak ya, saya seneng banget..
    Cerita tambah seru, ditunggu part selanjutnya..🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s