The Silent Touch of Marriage – Part 9

The Silent Touch of Marriage – Part 9

The Silent Touch of Marriage copy

Author: Chanchan a.k.a Chandra Shinoda (@CahyaChandranita on Wattpad)

Main Cast:

  • Kim Hyora (covered by Jessica (SNSD))
  • Kim Jonghyun
  • Kim Kibum (Key)
  • Kim Yong Sang

Beta reader: Tulasi Krisna Maharani

Support cast:

  • Other SHINee members
  • Kim Hyunri

Special guest: Victoria Song (F(x))

Length: Sequel

Genre: Family, friendship, life, romance, sad

Rating: PG-16

Disclaimer: I don’t own all SHINee members, they are God’s. They belong to themselves and SM Entertainment. I’m just the owner of the story.

***

Annyeong, readers!

Hm, ada yang masih inget FF ini? Sudah 2 tahun aku tunggak. Maaf, ya.. baru sekarang sempet dilanjutin. Dan selama vakum ternyata di wattpad ada yang plagiat FF ini atas nama newjongkimin.

Iiiihhh… sumpah, aku kesel banget. FF yang udah susah-susah aku kerjain, pikirin alurnya sampai kemana, seenak jidat diplagiat dan cuma diganti nama cast aja. Semoga deh orang itu cepet kena karma. -_-

Segitu dulu deh, ya?

Happy reading!
***

Bulatan-bulatan cahaya mulai menembus sela jendela. Pendarannya menyinari kulit putih pucat Hyora yang duduk mematung di pinggir tempat tidur. Tak sedikit pun mulutnya terbuka sejak Hyunri menyeretnya masuk ke apartemennya. Pikirannya kacau, benar-benar kacau. Tak kalah dengannya, Hyunri juga merasakan hal yang sama. Yeoja berkaki jenjang itu duduk berselang 1 meter di samping Hyora. Tubuhnya beringsut dengan kedua lutut ditekuk. Jari-jari tangan kanannya mengusap pelipisnya yang berkedut sejak tadi. Apa yang ia rasakan sekarang? Cemburu? Tentu. Marah? Sudah pasti.

“Kau.., kenapa menolongku?” Hyora membuka mulut. Suaranya sedikit bergetar saat menanyakan itu.

Hyunri mendesah pelan. Pertanyaan macam apa itu? Bukankah harusnya wanita ini berterima kasih karena telah ia tolong? Benar-benar tidak tahu terima kasih.

“Entahlah, aku benci saja melihatmu dilecehkan olehnya.” Terdapat penekanan pada nada bicara Hyunri saat mengucapkan kata ‘nya’.

“Kau cemburu?” Sekali lagi Hyora melontarkan pertanyaan tanpa melihat Hyunri. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.

Hyunri mendecak kesal. Ia bangkit dan menuju ke arah dapur. Diambilnya sebuah minuman kaleng di dalam kulkas. Bola matanya beberapa kali memutar, enggan menanggapi pertanyaan Hyora.

“Kenapa malah bertanya begitu? Bisa tidak ucapkan terima kasih terlebih dahulu?” Tanya Hyunri sembari meneguk minuman kalengnya. Sejujurnya ia tak haus sama sekali, hanya saja kepalanya membutuhkan pendingin saat ini.

“Maaf,” Hyora menunduk. Hyunri benar, seharusnya ia berterima kasih sejak tadi. Jangankan mengucapkannya, terpikir pun tidak. Sejak tadi otaknya dipenuhi dengan pelecehan Kibum terhadapnya. Ia benci, benar-benar benci namja itu. “Terima kasih.”

Hyunri menghela nafas sambil menggeleng kecil. Ia mengambil sekaleng lagi minuman dingin untuk Hyora.

“Lupakan saja. Ini, minumlah.” Hyunri meletakkan minuman itu di samping Hyora sambil menghenyakkan tubuhnya di samping yeoja itu.

Hyora tak memberi jawaban apa pun. Ia melempar senyum masam pada Hyunri sebelum meneguk minumannya.

“Kau terlihat sangat kacau sekarang. Aku memang tak dekat denganmu, tapi jika kau ingin bercerita-berceritalah. Barangkali aku bisa membantu.” Ucap Hyunri pelan. Perkataannya jujur dan terdengar tulus. Ia harus melupakan sejenak cintanya pada Kibum saat ini, ia juga harus siap dengan sakit hati yang akan ia terima setelah mendengar penuturan Hyora.

“Sebaiknya tidak usah. Aku tidak tahu harus bercerita dari mana.” Hyora mendesah lemas. Lututnya semakit erat menekuk, hampir menempel dengan dadanya, sementara tangan kanannya meremas kaleng minumanya yang tersisa setengah.

“Kemarin Jonghyun menelfonku. Dia benar-benar khawatir padamu.” Aku Hyunri. Kontan Hyora menatapnya dengan kedua alis mengernyit.

“Kenapa di menelfonmu?”

“Kau yang lebih tahu. Ia menanyakan keberadaanmu. Sepertinya dia begadang menunggu kau pulang.”

Ya, itu benar. Ada sesuatu yang tak enak terjadi semalam. Namja sialan bernama Kim Kibum itulah yang menjadi penyebabnya. Sebegitu khawatirkah Jonghyun padanya?

“Baiklah jika kau tak ingin bercerita. Aku akan memberi saran padamu, temuilah orang yang dekat denganmu, siapa pun itu. Saat ini kau memerlukan sebuah solusi. Banyak yang akan dipertaruhkan di sini, harga dirimu, keluargamu, dan juga pekerjaanmu. Anggap saja ini klimaks dari segala permasalahan yang ada. Aku tak memihak kau, Key, atau Jonghyun, namun dalam penyelesaian masalah ini, akan ada yang dikorbankan.” Hyunri menyudahi ceramah panjang lebarnya, lebih tepatnya ia menghentikannya, sebab matanya menangkap bulir-bulir bening mulai mengalir dari kelopak mata Hyora.

Keduanya kembali terdiam. Entah, Hyunri merasa menangis telah membuat Hyora menangis. Ia mungkin tak mengerti urusan rumah tangga, tapi ia paham ketakutan yang dirasakan Hyora sekarang. Tekanan batin yang menyiksa dan benar-benar menakutkan.

“Terima kasih telah memberi saran,” ucap Hyora dengan suara serak. Perlahan ia mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Sakit, benar-benar sakit.

Perlahan Hyora bangkit dari posisinya. Sendi-sendinya terasa ngilu, pun dadanya terasa sangat nyeri dan sesak. Mungkin perkataan Hyunri ada benarnya. Sekarang semua telah mencapai puncaknya, dan ia tak sanggup lagi menahan semuanya sendirian. Ia butuh saran, setidaknya dari seseorang yang benar-benar dekat dengannya.

“Kau mau pergi sekarang? Apa tak apa?”

“Iya, masalah ini harus segera kuselesaikan. Terima kasih sekali lagi.”

Hyunri hanya membalas ucapan Hyora dengan senyum tipis. Apa lagi yang bisa ia berikan untuk makhluk rapuh seperti itu? Bahkan saat punggung Hyora hampir tak terlihat lagi dari apartementnya Hyunri juga tetap mengunci mulutnya.

Sekarang apa? Hyora melangkahkan kakinya keluar, teramat lesu. Diraihnya gagang pintu mobilnya. Ia harus menemui orang itu sekarang. Ya, orang itu. Lalu jangan Tanya apa yang ada dalam pikiran Hyora sekarang. Lelah, ia benar-benar sudah lelah. Persetan dengan segalanya. Mari akhiri sekarang, akhiri sampai tak tersisa.

***

“Aku tak mau pergi ke sekolah hari ini,” ucap Yong Sang lirih.

“Maksudmu?” Taeyeon tak mengerti dengan ucapan Yong Sang.

“Ini,” Yong Sang menyerahkan buku catatan Hyora yang berisi alamat rekan kerjanya, tepatnya di halaman ke-9. “Aku ingin pergi ke alamat itu.”

“Kim Kibum?” Taeyeon terperanjat.

Yong Sang mengangguk. Kedua manik coklatnya menatap Taeyeon penuh harap.

“Oh, tidak, Yong Sang-ah,” Taeyeon mendesah, “Jangan mencari masalah dengan pergi ke tempat orang itu.” Yeoja yang merupakan calon bibinya itu mendekap kedua pundaknya.

Yong Sang terdiam. Ia sudah menduga, Taeyeon pasti tak akan menyetujui tindakannya. Orangtua bodoh mana yang mengijinkan anaknya pergi ke tempat musuhnya? Ya, meski Taeyeon bukan ibunya, namun di sini ia adalah walinya.

“Aku punya rencana, Ahjumma,” ucap Yongsang lagi. Meski samar, Taeyeon dapat melihat ujung bibir bocah itu menyunggingkan senyum. “Aku janji akan kembali sebelum appa pulang,” suaranya terdengar mantap, pun dengan tatapannya.

Kedua alis Taeyeon bertaut. Tatapan anak ini, biarpun masih kanak-kanak, namun benar-benar tajam. Bahkan terkesan lebih mengerikan dibandingkan manik yang dimiliki Jonghyun. Lalu, barusan dia bilang memiliki rencana? Rencana macam apa? Oh Tuhan, dia bahkan masih berusia 5 tahun.

“Memangnya bagaimana rencanamu?” Tanya Taeyeon akhirnya.

Kedua ujung bibir Yong Sang terangkat lagi. Ia mendekat, kedua tangannya meraih daun telinga kanan Taeyeon, membisikkan sesuatu yang ia sebut ‘rencana’ tadi. Di tengah pemberitahuan rahasia tersebut terlihat beberapa kali Taeyeon mengerjap dan mengangguk, begitu serius mendengar bisikan Yong Sang yang satu per satu masuk ke dalam rumah siputnya.

“Boleh ya, Ahjumma. Aku yakin ini akan dapat menghentikan Kibum Ahjussi,” rengek Yong Sang begitu selesai dengan membisikkan rencananya di telinga Taeyeon.

Lagi-lagi Taeyeon mendesah. Memang dia yang bertanggujawab atas Yong Sang saat ini. Namun apa yang dibisikkan bocah kecil ini barusan terdengar hebat dan bisa dilaksanakan. Benar, tak ada pilihan lain selain mencoba. Ini memang ide gila, jika sedikit saja meleset atau seandainya Yong Sang belum kembali saat Jonghyun datang, maka selesai sudah semuanya.

“Baiklah, aku akan bekerjasama denganmu,” ucap Taeyeon akhirnya. Ada sedikit nada terpaksa dalam suara nyaringnya. Tampak beberapa kali ia merapatkan kedua bibirnya, menimang-nimang persetejuan yang baru saja ia lontarkan. Semoga saja ia tak salah langkah.

“Terima kasih, Ahjumma!” Yong Sang berseru riang.

“Baiklah, kalau begitu ayo kita mulai.” Taeyeon menimpali sambil turut tersenyum. Ia melepaskan kedua tangannya dari pundak Yong Sang kemudian melangkah menuju kamarnya.

Untuk melaksanakan rencana ini otomatis Yong Sang akan absen dari sekolah. Jadi Taeyeon harus memberi guru Yong Sang, Victoria, sebuah alasan. Alasan terlogis yang ada di pikirannya saat ini adalah sakit. Yeoja manis dengan bibir tipis itu mengambil sesuatu dari lemari buku yang terletak di samping tempat tidurnya.

Surat keterangan sakit. Benda itu yang kini ada dalam genggaman Taeyeon. Beruntung ia menyimpan beberapa lembaran kertas itu di apartementnya, jadi ia tak perlu repot-repot ke rumah sakit untuk mengambilnya.

Dengan cekatan Taeyeon melengkapi lembaran tersebut. Ya, dalam profesinya sebenarnya bisa dikatakan ini salah. Namun di balik itu toh dia tidak berbohong. Yong Sang memang masih sakit untuk saat ini.

“Sudah selesai, Ahjumma? Ayo berangkat.” Yong Sang menghampiri Taeyeon ke kamarnya. Gadis mungil itu terlihat berdiri di samping si dokter anak dengan kedua telapak tangan bertumpu pada meja tempat yeoja itu menulis. Sesekali ia menggoyangkan tubuhnya.

“Nah, sudah. Ayo berangkat!” Ucap Taeyeon begitu menandatangani surat tersebut. Ia bergegas mengambil jas putihnya di sudut ruangan. Yong Sang membantunya dengan mematikan lampu kamar, tak lupa mengambil kunci mobil Taeyeon kemudian bergegas keluar.

***

Hyora membuka pintu dengan malas. Dilansirnya saat ini kedua orangtuanya sedang tak ada di rumah. Kedua kakinya melangkah dengan malas masuk ke dalam. Tampak tubuhnya begitu lunglai, senada dengan wajahnya yang sembrawut. Ia menghenyakkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Dengan kasar tangannya mengusap wajahnya, kemudian menengadahkan kepalanya ke atas, bersandar pada puncak sofa. Dadanya terlihat naik turun dengan teratur, jauh lebih stabil dibandingkan saat berada di apartement Hyunri.

Berselang beberapa menit terdengar langkah kaki dari arah tangga. Seseorang tengah menuruni keramik berjenjang tersebut. Ya, itu Jinki. Penampilannya tampak rapi pagi ini. Ia mengenakan jas berwarna krem senada dengan celana kainnya. Kakinya dibalut sepatu pantofel terdengar nyaring saat bersentuhan dengan lantai. Ditambah dasi warna coklat tua bergaris serta rambut yang disisir rapi ke samping menambah wibawa di wajah polosnya.

“Oppa, kau kah itu?” Suara serak Hyora yang masih setia duduk di sofa mengagetkan Jinki. Langkahnya yang semula mantap mendadak terhenti di anak tangga ke-3 dari bawah. Maniknya yang beradu dengan Hyora seketika membulat, seolah memberikan bahasa non verbal ‘sedang apa kau di sini?’

“Hyora?” Jinki buru-buru menuruni anak tangga yang tersisa. Raut wajahnya yang semula terkejut berubah cemas.

“Ne, ini aku,” sekali lagi terdengar bisikan serak dari Hyora. Kepalanya setengah memutar mengikuti Jinki yang berjalan menuju ke arahnya.

Jinki menangkap sinyal buruk dengan kedatangan Hyora kali ini. Ia mengambil posisi duduk di sofa yang sama dengan yeodongsaengnya. “Ada apa pagi-pagi begini?” Kedua alisnya kini bertaut.

“Aku pergi,” ucap Hyora lirih. Ia meringis. Hatinya benar-benar terasa perih. Sangat  berat baginya untuk mengucapkan 2 kata itu.

Jinki menghela nafas. Dua kata tadi membuatnya paham dengan apa yang terjadi. Sejurus kemudian lengannya melingkar di punggung Hyora, membiarkan kepala yeoja itu terbenam di pundaknya. Jinki dapat merasakan tubuh Hyora bergetar meski agak samar. Dilansirnya adik perempuannya itu pasti berusaha keras menahan tangisnya agar jangan sampai terdengar. Ia tak mengatakan apa pun, hanya mengusap helai rambut Hyora. Wanita itu begitu rapuh saat ini, dan ia tak akan bisa membedakan mana yang benar dan salah.

Selang 15 menit Hyora tampak lebih tenang. Ia mengangkat kepalanya yang sedari tadi terbenam dalam pelukan Jinki. Sesekali pundaknya terangkat, mengesankan ia berusaha mengatur nafasnya  setelah puas menangis.

“Ada apa kali ini, Hyora-ya?” Akhirnya Jinki memberanikan diri untuk bertanya.

Hyora memejamkan matanya. Setetes cairan bening luruh lagi dari tempat serupa lautan itu. Baik, ia harus menceritakannya sekarang. Bukankah ia sendiri yang memilih untuk kemari dan berniat menceritakan semuanya pada Jinki? Meski laki-laki itu belum pernah berumah tangga, namun setidaknya dia pendengar yang baik dan merupakan satu-satunya orang yang dapat dipercaya Hyora saat ini.

“Aku pergi dari rumah,” ucap Hyora lirih lalu meneruskan, “Saat pesta ulang tahun pernikahan kemarin aku mengantar Key yang sedang mabuk ke apartementnya. Saat itu dalam keadaan tidak sadar ia menciumku, dan bekas ciumannya menyisakan kissmark. Ketika pulang ternyata Jonghyun Oppa tengah menungguku. Dia melihat bekas kissmark ini dan marah besar.”

Jinki masih memperhatikan dengan seksama. Ia menarik napas sebentar lalu berkata, “Baik, aku tak ingin memihak siapa pun di sini. Saat itu kurasa kau sedang lelah, Jonghyun pun begitu. Sudah pasti kalian mudah terbawa emosi masing-maning.” Papar Jinki bijak lalu meneruskan, “Tapi bisa dikatakan Jonghyun telah kehabisan kesabarannya kali ini. Kau tahu, bukan? Selama ini dia selalu menahan kekesalannya jika melihatmu bersama Kibum?”

“Ne, aku tahu. Tapi, setidaknya biarkan aku menjelaskan. Dia bahkan tak memberiku kesempatan bicara semalam.” Hyora mendesah frustasi sekali lagi. Kedua jemarinya terkepal, menahan rasa kesal yang benar-benar sulit ia ungkapkan secara verbal.

“Mungkin ada kesalahan yang kau lakukan saat itu, Hyora-ya. Kau sadar selama ini kau masih sering bersifat tidak tegas bahkan kepada dirimu sendiri? Bisa jadi itu yang membuat Jonghyun habis kesabaran.” Jinki merendahkan suaranya. Telinga Hyora begitu sensitif saat ini. Sedikit saja ia melakukan kesalahan bisa menambah sakit hati yeoja itu.

Kembali Hyora menunduk. Airmatanya menetes lagi. Memang sifatnya tidak tegas. Lalu salahkah jika seseorang begitu sulit untuk merubah sifat dasarnya?

Mengetahui Hyora tak merespon Jinki menghelas nafasnya, lagi. Sejenak alisnya berkerut sampai akhirnya ia kembali menemukan hal untuk ditanyakan. “Lalu, apa yang kau inginkan sekarang? Coba kau pikirkan Yong Sang.”

“Ne?” Hyora menatap Jinki. Matanya terlihat sembab, hidungnya memerah, sementara wajahnya masih basah oleh airmata.

“Jangan sampai pertengkaran kali ini menyebabkan trauma untuknya. Ia sudah cukup tersiksa selama ini gara-gara kau dan Jonghyun. Lalu selain itu, aku ingin menyarankan satu hal padamu, coba kau berjuang untuk Jonghyun.”

“Maksudmu?”

Jinki menghembuskan napas panjang. Ia menggaruk kepala belakangnya yang sama sekali tak gatal. “Selama ini kau tahu bukan bagaimana kesabaran dan perjuangan Jonghyun untuk mempertahankanmu? Setiap laki-laki itu memiliki batas kekuatan mereka masing-masing. Bagaimana jika sekarang kau yang giliran meluluhkannya? Atau bisa dikatakan mengembalikan kepercayaannya.”

Benar yang dikatakan Jinki. Segala kata-kata yang diucapkannya memiliki makna tersendiri. Ya, selama ini Jonghyun telah berjuang banyak untuknya. Namja itu telah banyak bersabar, juga menjadi ayah yang baik untuk Yong Sang.

“Akan kupikirkan,” ucap Hyora pada akhirnya. Ia mengusap wajahnya sekali lagi. “Oppa, boleh aku menginap di sini hari ini? Aku tak ingin pulang dan menemui Jonghyun Oppa dulu.”

“Tentu saja. Sekarang kau istirahatlah di kamarmu. Umma dan Appa sedang pergi ke luar kota dan baru kembali besok sore. Kau bisa tinggal di sini sebelum mereka pulang. Jika kau lapar, di kulkas masih ada sup ayam. Tinggal kau hangatkan saja.” Terang Jinki sembari berdiri. Ia harus memberikan waktu bagi Hyora untuk menyendiri dan merenungkan segalanya.

“Baiklah. Terima kasih, Oppa.” Hyora turut bangkit. Ia menuju ke arah tangga dengan langkah yang sama malasnya sejak ia datang kemari.

Di tangga terlihat satu orang lagi tengah berjalan turun. Lee Taemin. Tak kalah rapi dengan Jinki ia mengenakan kemeja kotak-kotak lengan panjang berserta celana kain hitam dan sepatu kets coklat. Ekspresi terkejutnya pun tak kalah dengan saat Jinki menuruni anak tangga tadi dan menyadari Hyora telah duduk di sofa.

“N.. Noona,” dengan polosnya Taemin terperangah dengan kedua alis mengerut dan mulut membentuk huruf ‘o’.

“Aku menginap di sini hari ini,” Hyora memaksakan senyum tipis saat menatap Taemin lalu meneruskan langkahnya. Ia tak berminat lagi menceritakan masalahnhya. Ia juga tak berani menceritakan seluruhnya pada Jinki terutama untuk kejadian tadi pagi di apartement Kibum. Tidak, namja itu bisa saja langsung mencari Kibum dan membunuhnya.

***

Taeyeon memarkir mobilnya di pinggir gerbang sekolah Yong Sang. Ia meraih tas tangannya yang diletakkan di kursi belakang. Jari-jari lentiknya mengambil sisir kecil warna coklat dari benda berbahan dasar kulit itu. Sebelum bertemu guru Yong Sang, ia harus merapikan dandanannya terlebih dahulu.

“Taeyeon Ahjumma, bisa tolong kau panggilkan Minho?” Ucap Yong Sang dengan telunjuk tangan kanan menunjuk ke arah seorang bocah laki-laki yang berjalan tak jauh dari tempat mereka. Terlihat ia menggendong ransel yang berukuran setengah dari badannya sambil sedikit tertatih. “Aku ingin bicara dengannya,”

“Ne, tunggu sebenar, ya? Nanti kupanggilkan dia.” Taeyeon keluar dari mobil membawa tas tangannya. Langkahnya tampak anggun dengan perpaduan wedges pada kedua kaki jenjangnya. Dari balik kaca mobil Yong Sang terus memperhatikan yeoja itu. Style anggunnya bahkan membuatnya tak menghabiskan waktu lama untuk berkomunikasi dengan Minho. Hanya berselang beberapa menit hingga bocah laki-laki itu menuju ke arah mobilnya.

Minho membuka pintu mobil depan, tempat pengemudi. Sedikit tertatih ia melepas ransel gelapnya sembari menginjakkan kaki kanannya terlebih dahulu ke dalam mobil. Diletakkannya ransel tersebut pada kursi penumpang di belakang lalu menutup pintu mobil dengan rapat.

Yong Sang menyambut kedatangan Minho dengan sederet gigi susunya. Sementara yang disapa membalas dengan tatapan aneh dengan kedua alis mengernyit.

‘Merah,’ Minho membatin, “sepertinya ia sedang menyembunyikan kemarahannya.”

“Ada ada, Yong Sang-ah?” Tanya Minho antusias, terdengar penasaran.

Kini ekspresi Yong Sang berubah. Senyuman yang diberikannya pada Minho tadi seketika memudar. Ia menghela nafas kemudian berkata, “Ibuku pergi, ayahku juga,”

“Kenapa bisa begitu? Mereka bertengkar lagi?” Sekali lagi Minho menunjukkan ekspresi penasaran. Ia memutar tubuhnya agar bisa menatap Yong Sang lebih lekat.

Yong Sang mengangguk. Meski samar, Minho bisa menangkap genangan airmata di kedua kelopak matanya. “Aku mau absen dulu 3 hari,”

“Mengapa begitu?” Tanya Minho tak mengerti.

“Aku akan menemui Kim Kibum, orang yang menyebabkan Umma dan Appa bertengkar,” Lirih Yong Sang pahit. Raut wajahnya mengeras, sementara tangannya yang sedari tadi ia posisikan rapi di atas roknya kini meremas kain itu kasar.

“Kau yakin?”

Yong Sang menangguk. “Rahasiakan dari teman-teman dan Victoria Seonsaengnim. Jika ada yang bertanya, bilang aku sedang sakit.” Ia balas menatap Minho lekat. Terdapat keyakinan di dalam kedua sorot matanya. Ia mengatupnya kedua bibirnya erat, berusaha membangun keberanian di dalam dirinya.

Warna merah yang sedari tadi mengitari tubuh Yong Sang berubah makin gelap. Minho menelan ludahnya. Aura itu bentuk dari amarah dan kebencian yang selama ini terpendam di dalam hatinya. Benar-benar panas, hingga bocah berambut ikal itu bahkan sulit menghela napas.

“Semoga berhasil!” Ucap Minho pada akhirnya. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya dari Yong Sang, tak tahan lagi melihat warna kemarahan gadis cilik itu. Beruntung Taeyeon telah kembali, jadi ia tak perlu berlama-lama merasakan penderitaan yang dimengerti anak indingo sepertinya.

Minho bergegas keluar begitu Taeyeon membuka pintu mobil. Sekilas ia menampakkan senyum manisnya pada dokter anak tersebut kemudian bergegas menuju ke kelasnya.

“Sudah siap?” Tanya Taeyeon sembari memasang sit belt menyilang di tubuhnya.

“Ayo berangkat, Ahjumma!”

***

Apartemen Kim Kibum. Yong Sang meminta Taeyeon memarkir mobilnya berselang 50 meter dari sana. Alasannya maniknya menangkap seorang satpam tengah berjaga di depan bangunan yang terbilang megah tersebut. Jika mobil Taeyeon terlihat oleh indera penglihatan laki-laki setengah baya itu pasti akan terkesan aneh jika hanya anak kecil saja yang keluar dari dalamnya. Tak logis saja kesannya.

“Kau yakin akan pergi?

Yong Sang mengangguk. Meski sejak berangkat dari sekolah tadi kepalanya terasa mulai pening, namun semangatnya mengalahkan semua itu. Berbekal beberapa pakaian serta obat yang diberikan Taeyeon di tas punggungnya ia harus bisa menjalankan semua rencananya.

“Aku akan menjemputmu tiga hari lagi. Jika ada apa-apa minta Kibum menghubungi nomor hp-ku. Sudah kutuliskan pada selembar kertas di dalam tasmu.” Jelas Taeyeon sembari bersiap membelokkan mobilnya.

“Baiklah, Ahjumma.”

Berbekal keyakinan yang dimilikinya, Yong Sang menatap mobil Taeyeon yang pergi menjauh. Kini hanya menyisakan angin yang menerpa rambut tipisnya. Ia pun berbalik. Kaki kecilnya melangkah selaras di atas semen berdebu menuju ke tempat satpam penjaga apartemen. Berkali-kali ia menghela nafasnya. Di samping kepalanya yang pusing, dadanya juga terasa berdebar-debar.

Sesampainya di depan post satpam Yong Sang berdeham kecil. Dehaman itu rupanya berhasil dengan baik membangunkan si pria setengah baya yang sejak tadi tampak setengah tertidur sambil menyenderkan punggungnya pada kursi kayu.

“Permisi, Ahjussi,” Yongsang menyapa pria setengah baya tersebut. Ia sedikit membungkukkan kepalanya sebagai tanda hormat.

Satpam itu tersenyum. Ia memutar serta mencondongkan tubuhnya ke arah Yong Sang. “Ada apa, Nak?” Tanyanya ramah.

Yong Sang memutar bola matanya, mengingat-ingat siapa nama pena Kibum. “Err, Apa benar Key Ahjussi tinggal di sini?”

“Key? Maksudmu Kim Kibum?” Satpam tadi memiringkan kepalanya. Jika tidak salah ingat panggilan itu yang biasanya diserukan oleh teman-teman Kim Kibum.

“Iya!” Seru Yong Sang sembari memamerkan sederet gigi susunya. Kelopak matanya menyempit, turut merespon reaksi kegembiraan itu. Sayang hanya beberapa detik, ketika berjingkrak entah mengapa ada warna kuning menyelimuti pandangannya. Kepalanya terasa makin pusing.

“Kau siapanya Kim Kibum, Nak?”

Pertanyaan itu sukses membuat Yong Sang kaget. Sejenak ia terdiam. Benar, jika ingin menemui seseorang di tempat seperti ini dia harus mengatakan identitasnya dan tujuannya datang kemari.

“A.. aku keponakannya.” Jawab Yong Sang cepat. Hanya itu alibi yang sempat dipikirannya. Ia kembali tersenyum, memamerkan gigi susunya sembari menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.

“Kau sendirian?”

“I.. Iya, tadi aku ikut bersama mobil temanku.”

“Baiklah, mari kuantar.” Satpam itu bangkit dari tempat duduknya. Terlihat sedikit kesulitan, sebab perutnya yang buncit terkesan memberikan beban lebih pada kedua kakinya. “Kamar Kibum ada di lantai 1 paling pojok.” Ucapnya lagi sembari berdiri di samping Yong Sang.

Baru hendak melangkah, warna kuning di pandangan Yong Sang bertambah banyak, lebih cenderung seperti semut atau partikel hitam. Entah apa itu. Yang pasti keadaan ini membuat tubuhnya oleng.

“Hai, Nak, kau kenapa?” Satpam tadi menyadari gerak-gerik Yong Sang yang tak wajar.

Yong Sang tak memberi jawaban. Jari-jari tangannya sibuk memegangi kepalanya. Dadanya terasa sesak, pun suaranya sulit untuk keluar. Sejurus kemudian ia pun ambruk ke tanah, tak lagi menunjukkan tanda-tanda kesadaran.

Si satpam buru-buru berjongkok. Sepintas ia berpikir anak ini bercanda. Namun setelah tangannya bersentuhan dengan kening anak itu barulah ia tahu anak ini tak berpura-pura.

“Astaga, panas sekali badanmu!” Seru laki-laki dengan kemeja biru itu seraya mengangkat tubuh Yong Sang. Dengan tergopoh-gopoh ia melangkah ke dalam apartement tempatnya bekerja. Saking cepatnya ia berjalan, beberapa penghuni apartemen yang berpapasan dengannya memberikan tatapan aneh, bahkan ada pula yang mencibir tak jelas.

Sesampainya di depan kamar apartement Kibum ia segera menekan bel yang terletak di sebelah kiri pintu. Harap-harap cemas ia melirik wajah Yong Sang dan beberapa kali menghela napas. Sayangnya bocah itu belum juga menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Hanya bibir pucat dan keringat dingin yang luruh dari pelipisnya.

Pintu terbuka perlahan. Terlihat sosok Kibum keluar dengan mengenakan celana selutut serta baju kaos coklat tanpa motif. Rambutnya acak-acakan tak disisir, sementara di sudut bibir bagian kirinya terlihat warna membiru. Ya, itu bekas tamparan Hyunri.

“Ahjussi, ada apa?” Tanya Kibum seraya mengernyitkan kedua alisnya. Bibir bagian bawahnya sedikit dimajukan, terkesan berpikir untuk apa membawa anak itu kemari?

“Kenapa bertanya seolah tak ada apa-apa begitu?!” Si Satpam mendelik. “Ini keponakanmu datang kemari dalam keadaan begini untuk menemuimu.”

“Mwo? Keponakan?” Giliran Kibum yang mendelik. Kini ia meremas dinding pintu yang sedari tadi digenggamnya. Cukup dengan persoalan Hyora tadi pagi. Apa lagi sekarang? Keponakan? Oh, hell!

“Ya, keponakanmu, Kim Yong Sang.” Ulang satpam itu lagi lalu melanjutkan, “Paman macam apa kau. Keponakan sendiri saja tidak ingat.”

“Ne?”

“Aish, dia sedang sakit. Cepat kau bawa masuk ke dalam!” Umpat satpam tersebut sembari menyerahkan tubuh mungil Yong Sang pada Kibum.

Kibum terdiam. Lengannya terpaksa menerima bocah itu dari si satpam. Kini bocah itu berada dalam gendongannya. Wajahnya pucat pasi dengan kedua mata terpejam rapat serta keringat dingin memenuhi pelipisnya. Entah, wajahnya terlihat familiar. Tapi, keponakan? Tunggu dulu. Dalam sejarah keluarganya bahkan belum ada saudaranya yang menikah. Lalu bagaimana anak ini bisa datang dan mengaku sebagai keponakannya? Apa mungkin yang anak ini maksud adalah Kim kibum yang lain?

Begitu yakin Yong Sang aman bersama Kibum si satpam membalikkan badannya. Ia tak boleh berlama-lama di sini jika tak ingin dipecat oleh atasannya. Sebelum pergi ia menatap Kibum dan berpesan, “Jangan lupa kompres kepalanya. Maaf tak bisa menemani. Aku harus kembali bekerja. Kalau tidak, nanti bos bisa marah padaku.”

“Ya, Ahjussi!”

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

11 thoughts on “The Silent Touch of Marriage – Part 9

  1. kyaaaa… seneng bgt akhirnya publish jg chapter 9 thanks chan^^
    next chap jgn bertahun tahun lagi pliss.. hehee ..

  2. iseng iseng buka wordpress ini, udh bertahun tahun, semenjak masuk kuliah nggak buka, akhirnya muncul juga ff ini. deabak. tapi menurut aku kurang panjang, padahal part terakhir kmren udah klimaks banget dan skrang rasanya emosi klimaks ny menurun. di tunggu next chapter

  3. demi apa sih ff ini dilanjut…… udah lama banget ga buka sf3si tau2 ada ff ini diupload *-* tapi karena kelamaan aku udah lupa ceritanya T_T brb baca ulang dulu ah

  4. Annyeong, aku reader baru dan jujur aja aku gak tau klo cerita ini ternyata udah dijiplak di wattpat dengan cast yang diganti dengan member BTS, awalnya aku baca cerita ini di wattpat, makanya aku cukup terkejut saat iseng nyari di google dan nemuin cerita ini di blog dengan cast yang beda..
    Sabar yaa buat author, semangaat lanjutin cerita ini sampai end.
    Ff ini bener² daebak dan sarat makna, keren dan juga jadi bahan pembelajaran…

  5. sumpah kangen author2 yg ada disini.

    ttg plagiat diatas..dia jg plagiat MBA punyanya Yuyu..
    ikut jengkel rasanya seenaknya ngaku2in karya org..

  6. Wahh keknya ff ini bagus.. Aku baca dari chapter 1 yaaa tapi komen nya disini aja hhehehe.. Author semangat ya nulis nya meskipun di plagiat

  7. aaahh seneng banget ff ini update lagi :”)))
    sebenernya aku udah baca ff ini dari 2011, tapi baru bisa comment sekarang (maapin akuuu hehe)
    semangat terus Author-nim! yg original tetap yang terbaik, biarin aja yang plagiatin semoga cepet dapet karma wkwk pokonya lanjut lanjutt

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s