BEAUTIFUL STRANGER [CHAPTER FIFTEEN]

  SENA DUA hari berlalu. Hatiku masih sangat hancur, setiap pemberitaan skandal Jinki-Jungah baik di situs website maupun di televisi muncul, duniaku seperti dijungkirbalikkan. Tak adanya konfirmasi langsung dari Jinki membuat perasaanku teriris menyakitkan. Hingga saat ini pun hubungan kami masih belum membaik. Dia seakan-akan menjauh setelah menemukan cintanya. Aku masih saja seperti ini, menerka-nerka … Continue reading BEAUTIFUL STRANGER [CHAPTER FIFTEEN]

Beautiful Stranger [Chapter Fourteen]

  SENA TEMBOK yang kupakai untuk bersandar terasa semakin dingin hingga menusuk tulang belakang ketika angin yang bertiup menelusup ke tengkuk. Aku menunggu Kris datang, dia yang memintaku kemari dan meninggalkan Jinki di tempat kencan kami―kencan pertama yang takkan pernah kulupakan seumur hidup. Mengingatnya saja cukup membuatku tersenyum sendiri seperti orang tidak waras. Tapi memang … Continue reading Beautiful Stranger [Chapter Fourteen]

Beautiful Stranger [Chapter Thirteen]

SENA AKU kembali ke ruang tv setelah mengisi setengah mangkuk air hangat dan duduk di samping Appa yang masih terbaring lemah di atas sofa. Perlahan-lahan ia membuka matanya, bersusah payah melawan rasa sakit karena bengkak di sekitar mata. Entah kenapa tiba-tiba aku mulai menangis, tidak dapat dicegah meski sebenarnya hatiku menolak keras untuk menangis, tapi … Continue reading Beautiful Stranger [Chapter Thirteen]

Beautiful Stranger [Chapter Twelve]

JINKI Good evening everybody. Good fcking evening. Lee Jinki yang ini, yang kata orang selalu tersenyum manis bak malaikat tak peduli apapun yang terjadi, pada kenyataannya tengah meringkuk di atas kasur dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan terakhir. Menarik diri dari keramaian dan menenggelamkan jiwa dalam kesendirian. Secara teknis aku berhenti menjadi artis, tidak … Continue reading Beautiful Stranger [Chapter Twelve]

Beautiful Stranger [Chapter Eleven]

SENA Oktober. November. Desember. Tiga bulan dilewati seperti ini, kusebut sebagai “Tanpa Kehidupan”. Setiap hari menjalani aktivitas seperti biasa seperti ‘mengasuh’ anak-anak EXO-K, mendesain banyak pakaian, belajar menata rambut dan make up, juga tak henti melakukan pendekatan dengan ayahku sendiri. Semuanya dilakukan dengan baik, sangat baik malah. Namun, ada sesuatu yang mengganjal hati, aku tahu … Continue reading Beautiful Stranger [Chapter Eleven]

Beautiful Stranger [Chapter Ten]

SENA AKU berlari menaiki tangga sesampainya di rumah. Membanting pintu kamar, bersandar di baliknya dan menangis keras. Aku marah pada diri sendiri juga pada situasi. Mengingat kembali bagaimana Kris membopongku paksa untuk pergi dari Lotte World tadi sangat memalukan! Bukan malu dilihat banyak orang, tapi aku malu pada Kris. Aku menangis bukan karena rencanaku hampir … Continue reading Beautiful Stranger [Chapter Ten]

Beautiful Stranger [Chapter Nine]

MATAKU terpaku pada tumpukan daging dalam wadah plastik bulat berukuran besar yang letaknya tak jauh dari kami. Jinki berdiri di sampingku masih mengawasi, kedua tangannya terlipat, air muka dinginnya yang sangat familier selalu terpasang monoton di wajahnya. Ia tidak beranjak sedikitpun dari sisiku selama aku bergeming di hadapan daging-daging sapi mentah yang entah harus kuapakan … Continue reading Beautiful Stranger [Chapter Nine]

Beautiful Stranger [Chapter Eight]

KAKI melangkah jauh meninggalkan gedung SM ketika jam makan siang tiba. Aku memutuskan untuk mencari tempat makan yang jauh dari jangkauan orang-orang di perusahaan. Aku tidak bisa bertemu Jinki. Entah kenapa lidahku kelu meski melihatnya dalam berjarak seratus meter. Tindakannya di ballroom hotel minggu lalu di Jeju membuatku menghindar darinya akhir-akhir ini. Beruntungnya, jadwal SHINee … Continue reading Beautiful Stranger [Chapter Eight]

Beautiful Stranger [Chapter Seven]

KAKIKU gemetar hebat, usahaku untuk menutupinya terlihat sia-sia, mereka tidak mau berhenti. Kerongkongan pun tercekat seperti ada bulatan besar yang membendung jalannya udara dan cairan dalam mulut. Kelopak mata juga seperti macet hingga sulit untuk berkedip. Aku sudah tidak tahu lagi apa artinya pedih ketika angin menyerbu memasuki mata. Trauma-trauma di masa lalu bermunculan layaknya … Continue reading Beautiful Stranger [Chapter Seven]

Beautiful Stranger [Chapter Six]

AKU menguap lebar.       Pagi-pagi sekali sudah ‘berteleportasi’ ke perusahaan. Mata berat, lingkaran hitam juga menghiasi kantung mata. Belum kering bibir ini mengatakan kalau kejadian kemarin ketika Jinki menciumku paksa di kotak telepon adalah kejadian biasa―aku sudah pernah melakukannya dengan Kris dulu. Tapi pada kenyataannya aku tidak bisa tidur. Bayangan wajah Jinki berputar di kepala … Continue reading Beautiful Stranger [Chapter Six]