Category Archives: Sad

Last Gift

Title: Last Gift
Writer: Rafika Khansha
Cast: Choi Minho, Park Chanseung (OC), SHINee, SNSD, f(x)
Genre: Romance, Sad
Type: One shoot


I hated opening my eyes. Honestly, I didn’t believe it .

23.50.. waktunya hampir tiba. Aku menarik nafasku dalam-dalam dan menghembuskannya rileks. Berkata dalam hatiku “Aku bisa melakukannya!” Perlahan aku berjalan memasuki taman dihadapanku. Suasana sunyi serta udara malam yang dingin semakin terasa menusuk jantungku. Aku mendekap sebuah kotak yang kubawa, bukan sebuah kotak kecil namun tidak juga berukuran besar. Bisa dibilang ini sebuah ‘kado’, kado untuk seseorang yang..

“Chan-seung!” seseorang memanggilku ketika akhirnya kakiku sampai ditempat yang ku tuju. Waktunya semakin dekat.. aku mengangkat wajahku dan melihat seorang lelaki tersenyum kearahku. Aku menarik nafasku dalam-dalam lagi lalu membalas senyumannya. “Aku pikir kau akan telat beberapa jam..”

“Tidaklah Minho-sshi, mana mungkin aku terlambat dihari yang special ini..” aku mencoba mempertahankan senyumanku, sebuah senyuman munafik.

“Dasar kau..” kata Minho sambil mengacak-acak rambutku, aku melihat senyumannya semakin merekah. Mungkin ini terakhir kalinya aku bisa membuatmu dan melihatmu tersenyum, tersenyumlah selebar mungkin untukku sekarang Minho..

Ting Tong Ting Tong Ting Tong.. 00.00..

Jam besar dibelakang kami berbunyi, menandakan hari telah berganti. Kali ini senyumku benar-benar terpaksa, tapi aku melihat senyumannya benar-benar bahagia. Tidak bisa kupungkiri, badanku terasa lemas, Ok sedikit lagi..

“Saengil chukhae hamnida.. Saengil chukhae hamnida.. Saranghaneun naye Minho.. Saengil chukhae hamnida.” Aku melantunkan lagu itu pelan, Minho tampak terkejut dan senang. Ia mendekatkan dirinya padaku dan memelukku. Oh Tuhan, aku harus bisa menahan air mataku. Tubuhnya yang hangat seakan menyelimuti hatiku yang kedinginan.

“Gomawoh..” katanya berbisik ditelingaku, mengeratkan pelukannya. Aku terus berusaha menahan air mataku yang hampir tumpah.

Drrt… Drrrt.. Drrrt.. aku merasakan sebuah getaran dari tubuhnya.

“Tunggu sebentar ya.” katanya sambil melepaskan pelukannya, masih tersenyum. Aku mengangguk pelan, mempertahankan senyumanku. Ia mengambil handphone dari saku celananya.  Lalu menekan tombol hijau.

“MINHO!!!” koor teriakan beberapa orang ketika Minho mengangkat panggilan video itu. 4 orang lelaki tampak berebut menampakkan wajahnya kelayar, aku tersenyum geli melihatnya. “Saengil chukhae hamnida.. Saengil chukhae hamnida.. Saranghaneun oori Minho.. Saengil chukhae hamnida.”

“Aish.. kalian.. Bisa tidak santai sedikit?” dengus Minho bercanda.

“Tidaaaaaak..” koor keempat lelaki itu lagi, Minho tersenyum simpul-geli. “Hey, cepatlah kemari! Ajaklah Chan-seung juga, lihat apa yang sudah kami persiapkan untukmu!” ucap seseorang yang paling sipit diantara keempat lelaki tadi, men-close up wajahnya ke kamera.

Minho melirik kearahku, mimik wajahnya membentuk sebuah pertanyaan. Aku hanya mengangkat bahu sambil terus tersenyum. Hatiku rasanya miris, Minho menatap layar HP nya lagi. Sekarang benar-benar tampak keramaian disana.

“Ok.. Kami melaporkan kepada anda Choi Minho.. disini kami telah mempersiapkan sebuah pesta untuk anda.” Jonghyun, salah seorang dari keempat lelaki tadi berlagak layaknya seorang reporter. Aku tersenyum geli melihatnya, ya dia memang ssalah seorang yang selalu bisa membuatku tertawa dengan tingkah konyolnya. “Apa yang sedang kau lakukan Mrs. Hyun?”

Kini tampak empat orang gadis dilayar, Seohyun, Yuri, Jessica, dan Krystal. Mereka tampak sedang sibuk oleh sesuatu. Aku melihat Minho tertawa senang, mendadak hatiku sakit.. Perih sekali rasanya.

“Kami sedang menghias kue ini..” jawab Seohyun, seperti biasa manis. “Minho, Chanseung.. kemarilah .. kue ini khusus untuk kalian..” katanya lagi sambil melambai kearah kami berdua. Aku mencoba tersenyum manis sekali padanya, semanis senyumannya padaku. Walaupun aku dalam hantiku terasa robek.

“Gomawoh, Seohyun sshi..” kata Minho seraya tersenyum manis sekali. Tuhaaan jangan biarkan aku menangis sekarang. Aku mohon..

“Kalian Mrs. Jung?” tanya Jonghyun berpaling kearah Jessica dan Krystal.

“Merapihkan ini..” jawab Krystal sambil menunjuk tumpukan kado didekatnya. “Oppa.. banyak kado untukmu, tetapi mungkin kado yang ada ditangan Chan-seung yang paling spesial hehe..” sambungnya, Minho melirik kearah kado yang aku bawa lalu tersenyum.

“Tentu saja hehe.. Kau ini..” kata Minho pada Krystal, tertawa. Sekali lagi, hatiku sakit. Rasanya aku ingin berteriak sekarang juga. Tetapi aku harus menahannya sampai waktunya tiba. Aku mencoba tersenyum lagi, senyuman yang benar-benar terpaksa.

“Minho Chanseung! Cepat kemari!!!” teriak Krystal dan Jessica kompak.

“Sudah.. sudah kita tinggalkan saja Jung bersaudara ini.” Jonghyun memenuhi layar sekarang. “Ok, kalau kau noona Kwon?”

“Sudah sekitar 15 balon aku tiup. Lihat saja bibirku membengkak begini..” jawab Yuri menunjuk arah bibirnya. Aku mendengar Minho tertawa lagi, Tuhan bolehkah aku menangis sekarang? “Tapi aku tidak keberatan untuk kalian..” Yuri menunjukku dan Minho, aku masih mempertahankan senyuman dan menahan air mataku.

“Dan sekian dulu laporan saya Kim Jonhyun dari TKP. Saya mohon pamit diri..” lawak Jonghyun lagi senyum tulus ku berkembang lagi.

“MINHO CHANSEUNG! KEMARI SECEPATNYAAAAA!” kini benar-benar tampak banyak orang dilayar sekitar 20 mungkin. Mereka melambai-lambai kearahku dan Minho. KLIK. Panggilan terputus.

Minho tersenyum lagi lalu memasukkan Hpnya kedalam saku celananya. Ia berpaling kearahku dan menarik tanganku. “Ayo.. Kita sudah ditunggu..”

“Sebentar..” kataku melepaskan genggamannya. Ia mengerenyitkan alisnya melihat sikapku, aku tersenyum simpul. “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, sebentar saja..” aku berjalan kearah bangku taman yang tidak jauh dari tempat kami berdiri, Minho mengikutiku. Inilah saatnya..

“Kenapa?” tanya Minho ragu, ia tampak benar-benar heran melihat sikapku. Aku duduk dikursi panjang berwarna putih, ia mengikuti gerakanku.

Are these only my memories? Meeting you it was like a scene from a movie..

“Kau ingat kan? Tepat setahun yang lalu.. disini..” kataku, memulai akhir dari semua ini. Aku menatap mata Minho, mata yang sedari dulu aku kagumi. Mata besar yang indah, mata yang selalu membuatku meleleh ketika melihatnya.

“Ne..” Minho mengangguk pelan.

“Itu adalah malam terindah dalam hidupku..” lanjutku, tersenyum. “Awalnya aku hanya berniat mengucapkan dan memberi hadiah ulang tahun untuk seseorang yang aku suka dan kagumi, tetapi suatu keajaiban terjadi kepadaku..”

Minho menyimak perkataanku, tersirat kebahagiaan diwajahnya. “Apa yang selalu kumimpikan, benar-benar terjadi dalam hidupku.. Aku tidak bisa melukiskan apa yang kurasakan saat itu. Seakan-akan seluruh kebahagiaan di dunia ini adalah milikku.”

“Semakin lama aku semakin terlena akan kebahagiaan ini. Andai saja kau tau bagaimana perasaanku setiap hari setelah malam itu..” aku menarik nafasku dalam sebelum meneruskan kata-kataku. “Tetapi lama kelamaan bukan hanya kebahagiaan yang aku rasakan…”

“Minho sshi.. aku mungkin tidak padai berbohong, kau tau itu.. Satu tahun kita menjalani hubungan, awalnya aku selalu bahagia.. Namun belakangan ini aku sadar, bahwa ternyata aku benar-benar tidak pantas untuk seorang Choi Minho..” ucapku, tidak membiarkan Minho berbicara satu kata pun. “Kau begitu sempurna, banyak wanita memujamu, menginginkanmu menjadi miliknya. Dan aku merasa sangat beruntung mendapatkan apa yang mereka mau.”

“Kau ini bicara apa sih?” tanya Minho sambil tersenyum, aku rasa ia sudah tidak ingin berbasa-basi lagi.

“Aku cemburu.. aku merasa bagai seorang kerdil diantara kumpulan orang-orang hebat. Yuri onnie, Seohyun onnie, Krystal mereka lebih cantik, berbakat. Aku tidak ada apa-apanya bila dibandingkan mereka.Tapi kau memilihku, itu suatu yang lucu..” lanjutku, mengalihkan tatapanku dari matanya. Aku sudah tidak sanggup menatap matanya.

“Banyak yang mengatakan.. ‘Minho menyukai Yuri.. oh bukan ia menyukai Seohyun.. tetapi Krystal cocok bila dipasangkan dengannya.. aku dengar mereka pernah berpacaran ya? Kira-kira siapa yang akan dipilihnya ya diantara mereka bertiga’ dan segalanya. Rasanya aku ingin menutup telinga ketika mendengarnya, ingin aku teriakkan kepada merea bahwa Choi Minho adalah milikku! Tetapi aku tahu itu tidak bisa..” aku mencoba menahan air mataku yang hampir menetes.

“Park Chan-seung, kau..”  Minho tampak terkejut dengan kata-kataku.

“Minho sshi.. Aku sangat menyayangimu..  Kau menyayangiku juga bukan?” tanyaku memotong kata-katanya, saat ini aku benar-benar tidak mau membiarkannya berbicara. Minho mengangguk. “Kalau begitu kita sudahi saja hubungan ini..”

Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutku. Kata-kata yang sebenarnya tidak ingin aku ucapkan. Kata-kata yang membuatku gila beberapa waktu belakangan. Aku melihatnya terkejut. “Mwo?” tanya Minho tak percaya, mimik wajah gembiranya berubah menjadi mimik sendu.

“Aku ingin kau menemukan seseorang yang lebih pantas untukmu.. Bukan orang biasa sepertiku ini..” aku mengangkat wajahku, mencoba menatapnya sekali lagi. “Maaf.. aku hanya ingin yang terbaik untuk mu dan untuk kita..”

“Ini..” aku menyodorkan kado yang sedari tadi aku bawa, “Anggaplah itu pemberian terakhirku. Kado terakhir dipertemuan yang terakhir. Simpan atau buanglah, itu terserah kau..” aku meletakkan kotak itu dipangkuan Minho karna ia tidak bergeming sama sekali.

“Kau sedang tidak bercanda kan? Jangan mentang-mentang ini hari ulang tahunku kau bisa mengerjaiku seperti ini.. Sama sekali tidak lucu Park Chanseung..” katanya sambil tersenyum kecut, seakan menangkal semua yang terjadi.

“Tidak pernah aku seserius ini, Choi Minho..” aku mencoba tersenyum, “Ok, hanya itu yang ingin ku katakan.. Sekali lagi selamat ulang tahun Choi Minho, semoga kau mendapatkan segalanya yang terbaik untukmu..” aku berdiri dari dudukku, menggenggam tangan dingin Minho.  “Bye.. Minho.. oppa..”

I don’t know why, I can’t move on. I still can’t leave from this spot.

Ia masih tidak bergeming dari tempatnya, hanya menatapku tanpa kata-kata. Minho seakan tidak tahu harus melakukan apa. Aku melihat matanya berkaca-kaca, membuat hatiku semakin miris, “Sunnguh?” ucapnya pelan dan bergetar, aku mengangguk sambil terus tersenyum.

“Sekali lagi maaf..” ucapku lirih, melepaskan tangan Minho yang bergetar. Berbalik badan dan meninggalkannya yang hanya terdiam. Maafkan aku Minho, aku sebenarnya juga tidak ingin seperti ini. Tapi ini adalah keputusan terbaik.. Aku menyayangimu, lebih daripada yang kau tau. Aku hanya ingin kau bahagia..

“Haengbookhasaeyeo oppa! Hwaiting!” aku membalikkan badan seraya meneriakkan kata-kata itu. Minho terkejut. Air mata yang sedaritadi kutahan akhirnya tumpah juga seraya tawa palsuku. “Pilihlah yang terbaik untukmu! Yuri, Seohyun, atau Krystal.. ” kataku lagi lalu berbalik dan berlari meninggalkannya dengan airmataku.

——

The ring that I placed on your finger has coldly returned to my hand.
Along with my heart.. The last gift.. is heartbreak

Minho membuka kotak ditangannya, airmata tergenang mata indahnya. Ia menemukan sepucuk kertas dan barang-barang yang tidak asing baginya, foto-foto, kalung, sebuah cincin mutiara perak dan lainnya tersusun rapih didalam otak itu. Perlahan ia membaca kertas itu..

My heart really won’t let you go.. is this really the end? The thing called goodbye.

“Saengil chukhae hamnida.. Izinkan aku menitipkan segala kenangan dan kisah kita, dan biarkan aku menyimpan salah satu darinya..  Selamat tinggal Choi Minho, aku akan selalu menyayangimu dihatiku.. Kau adalah keajaiban dalam kehidupanku. Saranghamnida..”

-THE END-

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For Namja Shawol.. Don’t be shy or lazy to write a comment please


Another Side of Key

Author             : dhy

Cast

Key

You

Shinee

And another cast

Hope you like it ……..

You POV

Seperti biasa aku harus berjalan menuju sekolahkku. Tapi tiba-tiba sebuah kertas yang sudah diremas dan menyerupai bola dibuang oleh seseorang dari mobil yang melintas dan kertas itu menimpa kepalaku. Jujur aku kesal apalagi tadi pagi umma sudah memarahiku. Aku pun iseng membacanya sambil berjalan menuju sekolah.

Apa kau mengenalku?????? Aku kim kibum.

Seorang lelaki malang, heran kenapa?????????????

Kalau begitu aku akan menceritakannya padamu, siapapun dirimu, tapi aku mohon tolong rahasiakan ceritaku, karena aku menceritakan ini hanya padamu.

Kala itu aku hanya seorang pelajar biasa, kehidupanku juga biasa saja, sampai akhirnya aku mengikuti sebuah audisi, dan aku sendiri heran kenapa aku bisa memasuki dunia yang sekarang kugeluti.

Aku mempunyai seorang pacar, aku tau kau bertanya siapa.

Bolehkah aku tidak menyebutkannya siapa………….

Aku dan dia saling mencintai, dia gadis yang sangat baik, setiap jam istirahat datang dia pasti datang ke kelasku dan memberiku makan siang yang sengaja ia siapkan. Dia juga pemaaf, setiap kali aku terlambat datang saat kami berjanji untuk bertemu dia hanya berkata “oppa kau terlambat lagi, dan aku sudah menunggumu hampir 1 jam” dan kau tau dia mengatakannya masih dengan senyum dibibirnya.

Dia juga gadis yang polos, saat kami berkencan untuk pertama kalinya dia selalu tersipu malu saat aku memegang tangannya. Dan saat pertama kali aku menciumnya, dia tidak bereaksi apa-apa, tidak membalas dan tidak menolaknya, setelah itu dia hanya berkata “oppa kau mencuri ciuman pertamaku” dan sekarang aku baru sadar bahwa aku mencuri ciuman pertama dan ciuman terakhirnya.

Kau berpikir aku putus dengannya?????? Kalau itu yang ada dipikiranmu aku akan berkata tidak, karena sampai saat ini dia masih pacarku dan aku juga masih menjadi pacarnya.

Hari itu, tanggal 25 mei, hari dimana aku memulai hal baru dihidupku, hari itu aku sangat tegang, tapi gadisku selalu memberiku semangat, setiap menit dia akan mengsmsku.

“oppa, kau pasti bisa”

“oppa aku akan datang”

“oppa tunggu aku ya, aku pasti melihat aksimu sebagai seorang penyanyi”

“oppa jangan gugup, fighting”

Sampai sebuh sms yang membuatku sangat sakit ku terima, kau tau isinya apa???

“kibum, dia tidak datang untuk melihatmu secara langsung, tapi dia akan melihatmu dari surga”

Gadisku pergi saat aku memulai hal baru, gadisku pergi dan aku tidak ada disampingnya.

Panggung megah, dentuman musik, teriakan penonton, dan tangisan hatiku yang ada pada malam itu, ya tangisan hatiku, karena aku tidak mungkin menangis didepan orang-orang yang mencintai aku, aku tidak mungkin menangis dan menghancurkan malam yang aku dan teman-temanku tunggu sejak lama

Aku bingung dengan apa yang kubaca. Tanpa terasa aku sudah melangkahkan kakiku di sekolah. Akupun segera mamasukan kertas lusuh itu kedalam tasku.

Saat istirahat, aku lebih memilih pergi keperpustakaan dari pada makan siang dengan teman-temanku.

Hari itu terjadi dua tahun yang lalu, tapi dia sama sekali tak pernah terhapus dari ingatanku, senyumnya, candanya, sorot matanya. Setiap malam aku akan terbangun dan melangkahkan kakiku keluar kamar. Aku menangis, tangisan yang mungkin tidak akan pernah terhenti dihatiku. Kadang aku tersenyum dalam tangisku, karena aku tau dia tidak mau melihatkku menangis, karena aku tau dia selalu melihatku dari surga. Dia sedang menungguku, menungguku menghampirinya suatu saat nanti.

Kim kibum yang menyedihkan

Aku semakin penasaran dengan apa yang kubaca, Kim kimbum yang menyedihkan siapa dia, itu yang  ada dipikiranku, lalu aku membalik kertas lusuh itu.

Apa kau mengenal ku??????? Aku Key Shinee

Seorang lelaki populer, ceria, jail, supel, paling tidak itu yang dikatakan orang lain.

Setiap hari-hariku indah, dipenuhi dengan tawa.

Banyak orang yang mencintaiku, terutama SHINee………..

Aku sangat mencintai mereka…………

Kau belum menjawab pertanyaanku, kau mengenalku???????

Pasti jawabannya ya……..

Siapa yang tidak mengenal seorang Key. Benarkan hehehe.

Kalau kau belum mengenalku mulai hari ini kau harus mencari tau tentangku. Dan kau harus mendukung aku dan juga member SHINee lainnya…..

Aku tidak bisa bercerita lebih banyak managerku sedang melihat kearahku…

Ow ya aku mengundangmu datang di konser shinee malam ini, kau harus datang aku mohon, pasti kau bingung harus mencari tiket dimana. Kau hanya perlu katakana “oppa sekarang aku menepati janjiku karena aku datang”

Katakana itu pada security yang menjaga gedung, jangan tertawa, percayalah padaku, datanglah aku mohon…….

Key Shinee

25 mei 2010

Yang aku pikirkan adalah kesedihan key, dia sangat berbeda dengan apa yang aku dan orang lain kira.

End of YOU POV

KEY POV

Hari ini tepat 2 tahun kelahiran shinee, dan hari ini tepat 2 tahun meninggalnya gadis yang ku cintai. Aku mencurahkan semua isi hatiku pada sebuah kertas, mencoba untuk berbagi semua yang kurasakan.

“hyung apa yang kau tulis?????”

“bukan apa-apa taemin”

“taemin, kau kan tau kalau key selalu menulis sesuatu di diarynya”

“betul apa kata onew hyung”

Aku tidak memperdulikan apa yang mereka bicarakan. Tidak terasa aku sudah menulis cukup lama saat aku meliahat kearah lain semua member sudah tertidur pulas, inikan mobil kenapa mereka bisa sepulas itu pikirku. Aku sadar bahwa managerku memperhatikan aku dengan tatapan “ key cepat tidur, karena setelah sampai kau tidak punya waktu untuk tidur” aku hanya tersenyum membalas tatapannya dan sekarang dia sudah tersenyum evil, aku tau dia akan mengambil kertas yang sedari tadi menjadi pusat perhatianku.

Secepat kilat aku meremasnya dan melemparnya keluar jendela mobil.

Gadisku aku mohon izinkan orang yang menemukan kertas ini sebagai wakilmu untuk melihatkku secara langsung dan aku membiarkanmu dan angin yang menentukan siapa orangnya.

END of KEY POV

“oppa sekarang aku menepati janjiku karena aku datang” ucapmu pada security, security itu tersenyum dan mempersilahkanmu untuk masuk.

“aku datang untuk Key, tidak aku datang untuk Kim kibum” ucapmu pelan.

Saat Shinee mulai tampil semua penonton mulai bersorak.

“KIBUM AKU DATANG” teriakmu

“OPPA SEKARANG AKU MENEPATI JANJIKU KARENA AKU DATANG”

KEY POV

“Apa orang yang kumaksud datang????” tanyaku penasaran pada seorang security.

“dia datang” ucapnya

Gadisku kau mengizinkannya datang, terimakasih……………..

Kini aku sudah bisa tersenyum bahagia.

THE END

Signature

This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For Namja Shawol.. Don’t be shy or lazy to write a comment please
  • BUAT YANG PUNYA WORDPRESS… LIHAT DI PALING ATAS ADA BUTTON LIKE SAMA LAMBANG BINTANG… TOLONG DI KLIK KALAU KALIAN SUKA SAMA FF NYA ^.^.. SUPAYA AUTHORNYA TAHU SEBERAPA BANYAK YANG SUKA FF MEREKA.. GOMAWO

IT’S YOU

It’s U

Writer by Dhikae

ONEW a.k.a Lee Jin Ki POV

Ini bermula dari kisahku sebulan yang lalu…

Sebelumnya, Apa kalian tahu dibalik sisi lain hidupku??

……..

Kurasa tidak!!

Jika kalian tidak tertarik dengan kisahku yang lalu lebih baik jangan lanjutkan membaca kisahku ini.

Karena mungkin akan terlihat membosankan bagi kalian yang sama sekali tak mengenalku dan hanya mengetahui namaku sebagai Onew yang kalian kenal.

Biklah jika kalian siap, mari kita lanjutkan pembicaraan kita yang barusan…

Ceritaku berawal dari bulan lalu ketika aku harus masuk rumah sakit disebabkan kesehatanku drop yang dikarenakan jadwal Shinee begitu padat.

Aku sekarang hanya bersandar di ranjang pasien di ruang 203, tidak ditemani satupun kecuali manajer yang menyempatkan diri mampir menjengukku sesekali.

Siang ini terasa sepi dan sunyi. Aku hanya bisa mendengar hembusan angin dibalik ventilasi jendela yang berada di ruangku kini.

Aku memandang luar dengan tatapan kosong. Entah mengapa dunia ini teramat sepi bagiku. Jauh berbeda saat aku berada diluar sana.

Nampak kerumunan orang yang selalu ada untuk hanya sekedar melihat kami…. Shinee

Berteriak semampu mereka untuk menarik perhatian dari kami, Namun sekarang keadaan telah berbeda.

Aku berada dirumah sakit yang isinya orang-orang yang akan hanya memikirkan dirinya sendiri, emm.. maksudku memikirkan kondisi mereka masing-masing.

Tiba-tiba seorang suster masuk keruanganku untuk melihat kondisiku sekarang.

Dia memeriksa beberapa bagian tubuhku seperti infus yang ada di tangan kananku, mengecek demam yang belum turun sejak kemarin malam saat pertama kali aku dilarikan kerumah sakit.

Lalu dia tersenyum kearahku dan berkata sesuatu..

“apa kau bosan tidur terus Jin Ki-ssi? Lebih baik kau jalan-jalan sebentar disekitar taman rumah sakit ini!!” seru suster yang sepertinya bisa membaca pikiranku.

“jinja?? Khamsahamnida!!” kagetku yang diperbolehkan keluar ruangan pasien.

Aku pun keluar kamar melangkahkan kakiku yang masih sedikit lemas menuju taman belakang rumah sakit ini.

Dikoridor aku melihat seorang perempuan sedang duduk di kursi rodanya sambil menangis tersedu-sedu. Rambutnya terurai hingga sebahunya, wajahnya terlihat pucat pasih diimbangi dengan bibirnya nampak merah muda kebiruan. dia memakai pakaian pasien yang sama dengan yang dikenakan olehku. Sepertinya dia juga pasien yang dirawat disini.

Aku menghampirinya karena dia terlihat sangat shock waktu itu..

Aku memberikannya sapu tangan yang kuambil dari saku celanaku.

“ini.. hapuslah air matamu” seru aku yang memperlihatkan sapu tangan di depan wajahnya.

Dia mendongak keatas melihat seseorang yang memberikan sapu tangan untuknya diwaktu yang tepat.

“kau.. kau siapa?” Tanya gadis itu dengan suara yang parau.

“perkenalan nunna, aku Lee Jin Ki. Apa kau tak mengenalku?” tanyaku yang tak percaya seorang gadis seperti seumuranku tidak mungkin tak mengenal Onew dari Shinee.

“aku tidak mengenalmu. Apa kau sahabat lamaku? Atau kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanya dia yang masih bingung.

“kita belum pernah ketemu sebelumnya. Aish, sudahlah lupakan saja kata-kataku tadi. Ini ambilah!!” ujarku yang tersenyum miris karena dia memang benar tak mengenalku.

“sepertinya Shinee masih belum tenar” ucapku dalam hati.

Dia akhirnya mengambil sapu tangan yang kuberikan padanya, lalu dia menghapus air mata yang masih tersisa dipipi dan di sekitar matanya.

“apa kau sudah baikkan setelah menghapus semua kesedihanmu itu?” tanyaku sambil memasang wajah penuh senyuman.

“gweanchana.. aku sudah baikkan sekarang berkatmu. Gomawo Jin ki-ssi!!”ucapnya seraya memanggutkan kepalanya.

“sukurlah kalau begitu. Ohh.. kau belum memperkenalkan namamu dari tadi??” sahutku penasaran dengan namanya.

“hehehe.. aku lupa!! Joneun Eun Hye imnida.” jawabnya sembari tawa kecilnya yang ditutup satu tangannya.

“Eun hye-ah, aku ingin pergi ke taman belakang sana. Apa kau mau ikut?” ajakku tak ingin sendirian.

“Oh,, Ye!!” angguknya disela senyumnya.

Aku pun berjalan dibelakangnya sambil mendorong kursi rodanya menuju taman.

Inilah awal pertemuanku dengannya saat di koridor rumah sakit..

Mungkin terlalu biasa bagi kalian tapi menurutku itu sebuah takdir baik bagiku bisa mengenal gadis seperti dia.

Apakah kalian masih tertarik dengan ceritaku??

Jika tidak lebih baik kalian tak melanjutkan membacanya karena akan terasa membosankan bagi kalian semua. Namun jika kalian tertarik dengan kelanjutannya.. mari kita lanjutkan kisah ini….^^

—————————————–End Of PoV——————————————–

Ditaman Onew dan Eun Hye sedang memandang langit yang terlihat biru muda diselimuti segumpal awan putih dan matahari yang hampir nampak di pertengahan hari.

Onew duduk di kursi panjang berwana cokelat sedangkan Eun Hye masih duduk di kursi rodanya. Mereka memandang langit hari ini dengan penuh senyuman.

Seketika Onew mencairkan suasana hening yang terasa kini baginya,

“Eun Hye, sejak kapan kau dirawat disini?” Tanya Onew pelan takut menyinggungnya.

“aku disini sudah hampir dua bulan karena penyakitku ini.” Jawabnya enteng yang tak dikira oleh Onew.

“jika aku boleh tahu kau sakit apa?” Tanya lagi Onew masih dengan wajah penasarannya.

“jantungku sangatlah lemah. Setiap hari harus bolak-balik masuk rumah sakit karena aku serig terkena serangan jantung namun tenang saja, Aku terlihat baikkan bukan Jin Ki-ssi!!” katanya panjang lebar seraya meraih tangan Onew dan meletakkannya tepat diarah jantungnya yang berdetak lamban.

Onew hanya tersenyum simpul menanggapinya dan mengiyakan ucapan Eun Hye barusan. Dia merasakan detak jantung Eun Hye sangat pelan dan sedikit lamban. Mungkin itu menandakan jantungnya memang lemah tapi Onew sangat kagum padanya karena dia bisa tampil ceria dihadapan orang lain tanpa memperdulikan penyakitnya.

Setelah beberapa lama mereka berbicara selayaknya seorang sahabat karib, akhirnya mereka kembali keruangan mereka masing-masing. Onew mengantarkan Eun Hye terlebih dulu masuk keruangannya barulah dia kembali ke kekamarnya tersebut.

“Eun Hye-ah aku tinggal dulu yah!! Cha!!!” pamit Onew yang meninggalkan Eun Hye didepan ruangan sambil melambaikan tangannya itu.

“Cha Jin Ki-sshi!!” balas Eun Hye dengan senyuman manis dan lambaian tangannya.

——————————————————————————————————–

Keesokannya masih dikamar 203 tempat Onew dirawat inap.

Onew sedang menelepon seseorang dengan wajah yang cukup memiriskan hati bagi semua shawol.

“Hyung, bisakah kau menjengukku hari ini?” pinta Onew dengan wajah memelas.

“aneyo!! Aku tidak bisa hari ini. Jadwal yang lain sedang padat. Ayolah jangan memikirkan dirimu sendiri.. yang lain sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Jadi aku harus mempersiapkan semuanya.. aku janji setelah selesai aku bersama yang lainnya akan menjengukmu!” ujar managernya panjang lebar mmbuat Onew mencemberutkan bibirnya seraya mengembungkan pipinya yang chubby itu.

“oh.. arasseo Hyung!! Sampaikan salamku juga pada yang lainnya. Aku merindukan kalian semua” ucap Onew sambil mengelus alis dengan satu tangannya.

TEUT…TEUT…TEUTTT…

Handphnenya pun ia matikan dan Onew memulai kebosanannya lagi sendirian diruagan.

“HUHFFTT” hela nafas yang terdengar dari mulutnya terasa sangat lelah dengan hari-hari tanpa rutinitas seperti biasanya.

Tiba-tiba seseorang terdengar membuka pintu kamar Onew.

CEKLEK…

Sesosok gadis yang tak asing terlihat dari arah pintu..

“annyeong Jin ki-ssi!!” sapa gadis itu dengan ramah.

“ternyata kau Eun Hye!! Ku kira siapa” balas Onew yang terkejut dengan kedatangan Eun Hye ke kamarnya.

“memangnya wei?? Apa aku menganggumu?? Kenapa disini terlihat sepi sekali?” Tanya Eun Hye bertubi-tubi membuat Onew membulatkan kedua matanya yang bingung mesti menjawab yang mana terlebih dahulu.

“Aigoo.. aku memang selalu sendirian disini. Sahabat-sahabatku sedang sibuk jadi belum bisa menjengukku.” Jawabku sembari menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal.

“tak apa Jin Ki-ssi jika kau sendiri. Masih ada aku disini yang sekarang menemanimu. Kau sudah makan?” tanyanya untuk yang kesekian kali.

“hehehe.. aku belum makan siang, makanan disini sangat membosankan.” Ucap Onew dengan tampang polosnya.

“hehhee.. Yah, kau benar!! Aku bawakan ini untukmu”ujar Eun Hye mengiyakannya sambil menunjukan sekotak makanan dihadapan Onew.

“apa ini Hye-yah??” Tanya Onew antusias.

“ini fried chicken dari umma untukmu. Dia senang sekali aku punya sahabat baru disini” jawabnya tak kalah antusias dengan Onew.

Onew langsung terbelalak matanya melihat makanan kesukaannya ada didepan mata.

Tanpa basa-basi Onew membuka kotak makan itu dan lidahnya bermain di sekitar bibirnya.

“EMMM.. pasti lezat..” girang Onew yang tahan dengan godaan makanan dihadapannya.

“Jin Ki-ssi mau kusuapi??” usul Eun Hye yang bersiap memegang sendok yang berada ditangan kanannya.

Onew wajahnya berubah memerah seperti apel saat Eun Hye mengusulkan hal itu.

“Mau tidak?” Eun Hye mengulangi lagi usulan darinya dengan menekankan nada bicaranya.

“EERR.. YE!!” angguk Onew mengiyakannya.

“Hidup memang indah jika ada seseorang selalu ada disisi kita” batin Onew yang serasa bahagia.

Eun Hye pun menyuapi Onew dengan manisnya. Onew seperti anak kecil yang sedang disuapi ibunya sendiri. Eun Hye begitu telaten menyuapi Onew sekarang. Sedangkan, Eun Hye hanya tersenyum simpul saat melihat tingkah Onew seperti anak kecil.

“Gomawo telah memerhatikanku. Aku ini memang malang sekali nasibnya” melas Onew dihadapan Eun Hye mencari perhatian.

“gweanchana Jin Ki-ssi. Aku senang punya sahabat sepertimu. Entah berapa lama aku tak pernah merasakan hangatnya bersahabat dengan orang lain. Mungkin karena aku terlalu memikirkan keegoisanku saja hingga aku lupa masih ada banyak orang disekitarku yang lebih parah dariku” ujarnya merubah wajahnya sedikit muram.

“tenang saja. Mulai sekarang aku adalah chingu-mu Eun Hye dan sampai kapanpun kita adalah sepasang sahabat..” sahut Onew meletakkan kepala Eun Hye yang duduk disebelahnya ke pundaknya kini.

“Gomawo chingu…” kata Eun Hye singkat.

Kini Eun Hye menjatuhkan air matanya di pundak Onew seakan dia sedang bersandar untuk beristirahat sejenak dari masalah yang dihadapinya.

“Gweanchana Eun Hye… kau boleh menangis semampumu dipundakku. Mungkin itu akan membuatmu lebih tenang” kata Onew yang melihat tangisan jatuh di pipi Eun Hye.

Eun hye seperti menyembunyikan sesuatu di lubuk hatinya yang membuat Onew makin penasaran dengan keseharian Eun Hye..

———————————————————————————————————

Sudah hampir seminggu Onew dirumah sakit dan dia belum diperbolehkan pulang karena kondisinya belum membaik. Sedangkan Eun Hye harus terus menjalani pemeriksaan setiap hari di rumah sakit sampai dia benar-benar dinyatakan membaik.

Onew yang bosan karena sampai sekarang tak ada dari salah satu dongsaengnya yang menjenguknya memutuskan menelepon mereka.

Dimulai dari Jong Hyun.

“TEUT… TEUTT… Nomor yang anda tuju sedang sibuk menelepon seorang nunna” sahut Operator telepon.

“HEUHH???” bingung Onew, iapun melanjutkan menelepon Taemin.

“TEUTTT.. TEUTT… Nomor yang anda tuju sedang sibuk menelepon ibunya” sahut Operator yang sama.

“YAKKK…operator gilaaaa” Kesal Onew yang langsung mematikan handaphonenya.

Dia menghembuskan nafas sedalam-dalamnya untuk tetap relax. Iapun kembali menelepon Minho.

“Neut..Neutt.. yoboseyo Hyung?” sahut suara dibalik handphone Onew.

“akh. Akhirnya.. annyeong Minho-ssi.” Jawab Onew lega karena bukan operator gila itu lagi yang menjawab.

“wae yo Hyung?” Tanya Minho bingung.

“aku.. bogoshipo” sahut Onew sejujurnya.

“na do.. Hyung gwenchanayo?” Tanya balik Minho yang masih khawatir dengan keadaan sang leader.

“gweancahana.. untungnya disini aku punya sahabat yang selalu memperhatikanku jadi aku tidak pernah kesepian” jawab Onew memberitahukan Minho sesungguhnya.

“Hyung kesepian?? Geurom, Aku berjanji jika semua kegiatan telah terselesaikan kami akan menjenguk Hyung segera.Yasokhae!!!!” janji Minho pada Hyungnya sendiri.

“gomawo Minho-ssi” ucap Onew singkat.

Setelah perbincangan lama lewat handphone akhirnya Onew menutup pembicaraannya dengan Minho.

Setelah itu, ia bergegas pergi ke ruang pasien 198 tak lain adalah kamar Eun Hye yang hanya beda dua blok dari kamarnya.

——————————————————————————————————–

Onew memasuki kamar Eun Hye seperti biasa. Mereka sering mampir ke kamar satu sama lain saat waktu makan siang. Kini giliran Onew yang bertandang ke kamar Eun Hye.

“annyeong Eun Hye-ah!!”sapa Onew yang baru masuk.

“Annyeong” jawab Eun Hye singkat.

Dia sedang sibuk merajut sebuah boneka teddy bear yang terbuat dari benang wol.

“kau sedang sibuk Eun Hye-ah?” tanya Onew yang hanya memerhatikan kelincahan tangan Eun hye dalam merajut.

“seperti yang kau lihat Jin Ki-ssi!” ucapnya singkat.

“kau buat itu untuk siapa?” Tanya Onew penasaran.

“untuk seseorang yang ku kagumi” jawabnya sambil meletakkan hasil rajutannya yang belum terselesaikan diatas meja.

“siapa orang itu? Kekasihmu?” Tanya balik Onew antusias.

“kau matu tahu..??” ujarnya membuat Onew tambah penasaran.

“Ne!” angguk Onew

“sini.. biar kubisiki!!” seru Eun Hye yang menyuruh telinga Onew mendekat ke wajahnya.

Onew dengan polosnya menyodorkan telinganya mendekat kewajah Eun Hye..

Eun Hye membisiki Onew sesuatu dengan suaranya yang sangat perlahan..

“secret” katanya pelan kearah telinga Onew.

“HYAKKK.. kau ini mencoba mengerjaiku yah.. dasar Eun Hye..” jerit Onew yang sekarang mengelitiki pinggang Eun Hye.

“AAHAHAHA.. ara.. ara..!! nanti akan ku beritahu siapa orang itu” jawab Eun Hye yang mengalah.

Onew pun menghentikan aksinya dan masih penasaran dengan jawaban Eun Hye.

“tapi kau akan kuberitahu setelah boneka ini telah kuselesaikan. Mungkin besok saat aku mampir keruanganmu!!” tambahnya memasang wajah manis pada Onew.

“Yashok??” peringati Onew yang memperlihatkan jari kelingkingnya sebagai tanda perjanjian.

Eun Hye membalasnya dengan melingkarkan jari kelingkingnya juga di jari Onew.

Tiba-tiba Onew merasakan sakit didaerah dadanya. Dia merasakan sesak yang tak terduga. Dia meremas hatinya yang sangat nyeri menjalar ketubuhnya.

“Jin Ki-ssi gweanchanayo?” panik Eun Hye yang memegangi pundak Onew.

“Gweanchana.. sstttt.. aku sudah terbiasa merasakan seperti ini saat masuk rumah sakit” jawab Onew dengan senyum palsunya yang membuat Eun Hye mempercayainya.

Onew menahan sakit yang tak kunjung hilang disekitar hatinya. Entah penyakit apa yang tumbuh di tubuh Onew kai ini. Dia masih menunggu pemeriksaan  dari Dokter sejak awal masuk rumah sakit ini.

———————————————————————————————–

Sudah seminggu lebih Onew dirawat di rumah sakit, dan hari ini keputusan pemeriksaan telah dikeluarkan oleh dokter. Bersama dengan Managernya dia mendengar hasil pemeriksaan di ruang kamarnya.

“bagaimana seonsangnim keadaaan Jin Ki-ssi?” ucap manager Onew tak sabar menunggu jawaban sang dokter.

“setelah hasil pemeriksaan yang berlangsung beberapa hari ini. Ternyata Jin Ki-sshi mengidap penyakit hati yang telah stadium lanjut.” Ujar Dokter memasang wajah naas.

“OMO??” kaget managernya.

Onew yang mendengar itu tak bisa menutupi kesedihannya, aimatanya pun tumpah ruah di balik wajahnya yang semakin pucat.

“lalu apa yang mesti kita lakukan??” khawatir manager Onew bingung harus melakukan apa lagi untuk kesembuhan leader Shinee itu.

“secepatnya kita harus melakukan donor hati atau bisa dibilang cangkok hati padanya sebelum penyakit itu lebih parah dan akibatnya nyawa Jin Ki-ssi tak bisa tertolong lagi” ucap Dokter itu panjang lebar.

Onew hanya menundukkan kepalanya karena tak kuat mendengar kenyataan yang dihadapinya sekarang. Semua terasa berakhir bagi Onew. Hidupnya kini hancur seketika. Impiannya sebagai seorang penyayi bersama Shinee pun hanya tinggal serpihan kenangan baginya. Hidupnya hanya tinggal menunggu waktu dan tak ada yang bisa dilakukan Onew selain menyelimuti tubuhnya dengan selimut sambil menangis menahan pedih dan sakit yang menjala.

Eun Hye yang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka saat ingin memasuki kamar Onew, hanya bisa menangis dibalik pintu luar. Dia seperti akan kehilangan yang sangat berharga dihatinya. Dia pergi keluar dan terdiam di taman.

Iapun menagis sejadi-jadiya di taman itu. Dia menantap langit yang sedang mendung seakan mengetahui kesedihannya juga.

“Tuhan, kenapa kau selalu mengambil kebahagiaan dalam hidupku? Pertama kau ambil ayahku yang meninggal setahun lalu. Kemudian kau memberikan penyakit ini padaku. Kau buat ibuku menangis dan menderita setiap malam karenaku. Sekarag kau buat sahabatku putus asa karena kau memberinya penyakit tak kalah menyedihkannya denganku. Apa semua itu tak cukup untukmu?? Aku hanya seorang gadis tak berguna. Mohon izinkanku menjadi seseorang yang lebih berharga untuknya. Aku ingin membuat sesuatu yang berarti sekali saja dalam hidupku. Kumohon tuhan…

Aku sudah tak sanggup lagi dengan penderitaan yang kualami… sekali saja biarkan aku memberikan hal yang terindah untuk sahabatku ini…” ucapnya sambil menangis sesenggukan.

—————————————————————————————————–

Onew a.k.a Jin Ki POV

Hari ini Eun Hye menemuiku untuk terakhir alinya, karena mugkin akan ada kabar baik ataupun buruk yang datang dariku esok. Mungkin esok kita akan ada di dunia berbeda atau aku bisa kembali ke sampingnya menemani harinya yang kelabu itu..

“Jin Ki-ssi semoga operasimu lancar. Aku akan mendoakanmu” ucap Eun Hye sambil tersenyum simpul dihdapanku yang sedang berbaring di ranjagku.

“gomawo Eun Hye-ssi.. mungkin ini terakhir kalinya kita bisa bertemu.. pasti aku akan sangat merindukanmu nanti disana” jawabku yang terlihat sudah putus asa.

“susst.. jangan bicara seperti itu.. kau akan baik-baik saja. Kau harus yakin itu!! Tuhan pasti punya rencana lain untukmu Jin Ki-ssi” ujar Eun Hye menutup mulutku dengan jari telunjuknya.

“maukah kau memelukku untuk pertama dan terakhir kalinya? Mungkin aku tidak akan bisa merasakan kehangatan dari dalam dirimu Eun Hye-ah!!” pintaku yang telah matanya memerah.

“Jin Ki-ssi saranghae” ucap Eun Hye pelan saat memelukku dengan erat.

Tubuhku terasa bergetar dengan pelukan serta ucapannya padaku detik ini..

Semua terasa hening dan hampa…

Aku tak merasakan sakit yang kuderita saat ia memelukku dengan tetesan air mata.

“saranghae” balasku pelan di dekat telinganya.

Kami merasakan persabahatan yang kami rajut telah tumbuh menjadi rasa cinta..

Entah kapan aku memulai merasakan perasaan ini.. hingga Eun Hye juga ikut merasakannya… ia seakan membalas cinta dan kasih dari seorang sahabat sepertiku..

———————————————————————————————————-

Hari ini tepat dimana aku di operasi. Aku tidak tahu siapa orang yang berbaik hati mau mencangkokan hatiya untukku. Setelah pemeriksaan yang teramat panjang.. akhirya aku mendapatkan donor hati dari orang dermawan itu..

Apa mungkin dia seorang Shawol??

Kurasa bukan…

Karena tak ada satupun orang yang mengetahui penyakitku kecuali sang manager dan anggota Shinee yang menunggu jalannya operasi ini..

Semua ini terasa menegangkan bagiku dan lainnya..

Mungkin ini ujung dari hidupku atau awal yang indah bagi hidupku..

Saat berjalan operasi..

Semua terasa gelap saat aku di bius..

Operasi berlangsug selama hampir empat jam..

Pandanganku samar-samar saat aku melihat seseorang disebelahku yang sedang dibius sepertiku..

Aku hanya melihat senyumnya kearahku kini..

Seandainya saat itu aku masih mampu berkata-kata padanya..

Ingin sekali kuucapkan terima kasih atas kebaikannya pada orang yang hanya sepertiku..

Mungkin aku tak pantas menerima kebaikan dari orang yang tak kukenal, tapi aku akan berusaha takkan menyia-nyiakan usahanya yang membuatku kembali pulih..

Saat berlangsung semua terasa hitam dan tiba-tiba ada cahaya putih diujung perjalananku dalam mimpi yang panjang.

Aku menuju ke cahaya putih itu..

Aku melihat sesosok wanita berpakaian dress putih dengan cahaya terang disekitarnya.

Seperti malaikat bersayap sedang menghampiriku..

Dia berbicara sesuatu padaku..

“pergilah keasalmu.. waktumu masih tersisa panjang.. Kau belum saatnya untuk kesini” ucapnya yang membuatku bergidik gemetaran.

Aku kembali ke kegelapan dan ada cahaya lain hampir menyilaukan kedua mataku kini..

“arghh” ucapku yang terkena silauan cahaya aneh itu..

Jantungku kembali berdetak lagi.. dan semua seakan terang menderang.. aku masih terlelap dalam tidur panjang.

—————————————————————-

Operasi selesai..

Anggota Shinee yang lain bersama Managerku sedang menunggu dengan wajah diselimuti kekhawatiran pada diriku yang sehabis menjalani operasi..

Ternyata operasi ini berjalan dengan lancar..

Aku bisa kembali ke hidupku yang dulu bersama SHINEE..

Benar kata Eun Hye..

Keajaiban pasti selalu ada..

Buktinya aku masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk kembali hidup ke dunia ini..

setelah beberapa hari baru aku sadarkan diri..

dan ternyata hampir sebulan aku dirawat dirumah sakit ini.

Aku membuaka mataku perlahan..

Aku melihat beberapa orang yang kukenal mengitari sekeliling penglihatanku..

Ada sang Manager, Minho, Taemin, Jonghyun dan Key tersenyum kearahku seakan ikut berbahagia atas kepulihanku.

Aku merasakan sesuatu yang lembut berada di samping pipiku.

Yah.. ada sebuah boneka teddy bear berada di sebelahku..

Mungkin boneka ini yang menemani tidur panjagku untuk beberapa hari ini.

“Hyung, dimana Eun Hye?” tanyaku saat pertama kali aku baru sadar.

“Eun Hye?? Siapa dia?” Tanya Key yang bingung dengan ucapanku.

“OH.. mungkin gadis yang memberikanmu boneka itu” unjuk Minho kearah boneka disebelahku.

“MWO?? Dia memberikanku ini?” kagetku yang hampir tak percaya boneka yang seharusnya diberikan pada orang yang dikaguminya malah diberikan kepadaku.

“aku harus menemuinya sekarang” ucapku menekankan nada bicaraku kali ini.

Semua hanya terhenyak diam..

Tak ada satupun yang bicara….

Hening serasa dalam ruangan itu…

Tiba-tiba Minho angkat bicara tak sanggup lagi menutupinya.


”Hyung, dia telah pergi” ucap Minho perlahan tapi membuatky tambah bingung.

“pergi?? Kemana? Apa dia telah kembali pulang kerumahnya?” ucapku bertubi-tubi.

“dia telah pergi ke surga… dia telah tiada hyung” sahut Key membantu berbicara.

“MWO?? Apa maksudmu?” kagetku yang masih tak percaya dengan perkataan yang lain.

Taemin dan Jonghyun hanya dapat menitihkan air mata di sampingku.. mereka mencoba tegar agar aku juga bisa tegar mengahadapi kenyataan sesungguhnya.

Ibunya Eun Hye pun datang untuk menjengukku dan menjelaskan semua..

Dia tersenyum kearahku dengan wajah yang pucat dan mata tampak sembab.

Dia akhirnya menceritakan semuanya padaku..

“OMO??” kejutku saat mendengar ucapannya barusan…

Secarik kertas diberikan ibunya untukku..

*Jin Ki-ssi mungkin setelah kau membaca tulisanku kini, aku sudah tiada. Aku tak sanggup berkata-kata lagi. namun aku bahagia bisa mengenalmu, awalnya aku tak mengenal Shinee. Setelah ku lihat diberbagai media, aku baru mengenalnya dan aku melihat sesosok wajah manis berada diantaranya. itu adalah kau Jin Kin-ssi a.k.a Onew. Aku membuat boneka itu untuk kuberikan pada seseorang yang kukagumi untuk pertama kalinya. aku memang bukan shawol namun hatiku telah terpaut sebagai seorang shawol..walau hanya sebentar mengenalmu, tapi aku telah berubah menjadi shawol.  Dan hadiah terbesar yang kuberikan padamu hanyalah hatiku saja.. karena hanya itu yang tersisa dalam hidupku.. semoga kau bisa kembali kehidupmu semula seperti sedia kala bersama anggota lain. Tak apa kau melupakanku untuk selamanya, namun setidaknya jagalah hatiku hingga sepanjang masa.. karena terdapat cinta didalamnya. Cinta tulus yang hanya untukmu Jin Ki-ssi.. untuk yang terakhir kalinya ku hanya bisa ucapkan selamat tinggal Jin Ki-ssi *

Ternyata Eun Hye memang telah tiada. Penyakit jantungnya membuat dia makin lemah.. maka dia memutuskan pergi dengan sebuah pemberian untukku…

sebuah hati yang telah disatukan kedalam tubuhku..

Sungguh tak kupercayai satupun perkataan ibuya, tapi takdir telah berkata..

Semua telah terjadi..

Jadi seseorang yang berada disebelahku saat itu adalah Eun Hye.. dia berkaca-kaca saat berhadapan denganku di ruang operasi..

Sebelum memasuki ruang operasi, dia memberikan boneka ini pada Minho untuk menemaniku sebagai penggantinya..

Agar aku tak kesepian lagi.. aku merasa akan selalu ada Eun Hye di sisiku..

Aku takkan pernah bisa menerima kenyataan seperti ini..

Tubuhku terasa remuk seketika saat mendengar kepergiannya..

Hidupku bahkan terasa tak bergerak lagi tanpanya..

Walaupun pertemuan kita hanya sebentar tapi semua yang ia lakukan hanya untukku membuat hatiku tergugah..

Dia memberikan sebuah kebahagiaan saat pertama kali menemuinya.

Dia menemaniku saat aku merasa sendirian hidup di dunia ini..

Dia penghibur lara disaat penderitaan menghampiriku seketika..

Dia memperhatikanku selayaknya seorang ibu yang penuh curahan kasih sayang..

Dia adalah kamu Eun Hye…

Seseorang yang takkan pernah kulupakan sepanjang hidupku..

Yang memberikan sebuah harapan lewat hati yang kau berikan..

Eun Hye gomawo.. Na do saranghae…

Kan kubawa boneka ini sebagai penggantimu disisiku kini…

Eun Hye..

————–

Apa kalian tertarik dengan kisahku??

Mungkin akan ada kisah-kisah lain dibalik hidupku kelak..

Hanya tinggalah dan nantikanlah kisah selanjutya dari aku dan yang lainnya..

“THE END”

Tag: Shinee

Semoga semua terhibur dengan fanfiction ini.

Gomawo buat Lana yang men-supportku untuk membuat ff one shot ini..

*hug founder qta*

Please comment…

Don’t be silent readers…!!!

Signature

This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^ (SHINee Toplist)
  • Open page Talk Talk Talk if you want to talk out of topic

Silence With Love – Part 1

Ff ini berinspirasi dari drama taiwan yang berjudul Silence tapi banyak perubahan di ff ini. Gomawo buat Neul Rin eonni yang udah ngenalin aku ama SILENCE bagi yang udah nonton pasti tau kan ceritanya?tapi beda banget ama yang ada di drama

SILENCE WITH LOVE

Author: Nyda Han a.k.a Han Ri Chan

Cast:Lee Taemin

Han Ri Chan

Ahn Neul Rin

Other Cast

Benarkah masa lalu dapat mengubah masa depan?apakah cinta pertama adalah segalanya?apakah tidak ada kesempatan untuk cinta lain?

Flash back 10 tahun yang lalu

SEOUL HOSPITAL

Seorang gadis kecil berusia 7 tahun sibuk bermain-main dengan boneka doranya dia tidak menyadari adanya anak kecil yang seusianya menatapnya dengan penuh rasa kagum.

“annyeong!!”sapa anak lelaki itu. Gadis kecil itu tidak menjawab dia malah asik memainkan boneka doranya

“hupht kamu sombong sekali”ucap anak lelaki itu dia menatap gadis kecil itu dengan tatapan sebal. Gadis kecil itu meraba sakunya dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil beserta bolpoin berukuran kecil dan menuliskan sesuatu di atas kertas kecil itu

Annyeong mianhaeyo aku sedang tidak bisa berbicara denganmu senang sekali dapat berjumpa denganmu

Anak lelaki itu menatap gadis kecil itu dengan tatapan tak percaya ‘ apa mungkin dia bisu ‘ fikirnya. Anak lelaki itu kemudian mengambil kertas yang tadi dipakai oleh gadis kecil itu kemudian menulis sesuatu

Annyeong kamu suka boneka dora?kalau begitu mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan sebutan Dora dan kau boleh memanggilku dengan sebutan Diego arraseo?

Gadis kecil itu tersenyum sejenak kemudian mengangguk dan tersenyum dan kembali menulis di kertas itu

Kamu sakit apa?

Anak lelaki itu tersenyum kemudian menunjuk kearah kakinya,kemudian kembali menulis di kertas itu

Kakiku keseleo saat latihan dance kalau kamu kenapa ada di rumah sakit ini?

Gadis kecil itu meraba tenggorokannya dan anak lelaki itu mengangguk paham ‘ mungkin dia benar-benar tidak bisa berbicara ‘ fikirnya. Gadis kecil itu kembali menulis di buku kecilnya

Kamu bisa berbicara tapi kenapa kamu malah ikut-ikutan menulis di memo ini?

Anak lelaki itu kembali merebut memo milik gadis kecil itu

Tidak adil kalau kamu menulis sedangkan aku terus-terusan berbicara sendiri.

Gadis kecil itu tersenyum, senyum paling manis yang baru pertama kali dilihat oleh anak lelaki itu. Anak lelaki itu melanjutkan kembali tulisannya

Johahae!

Gadis kecil itu tampaknya sedikit kaget tapi kemudian gadis kecil itu menulis di kertas yang sama

Nado!

Anak lelaki itu tersenyum, kemudian dia kembali menulis di memo itu

Gomawo besok aku akan kembali lagi kesini!

Tapi sayang setelah kejadian itu anak lelaki itu harus menjalani terapi dan anak lelaki itu tidak pernah bertemu dengan gadis kecil itu sampai sekarang.

Flash back end

“wow so sweet?”kibum mengelus kepala dongsaengnya itu dengan sentuhan penuh kasih

“tapi aku bingung katanya kamu akan setia dengan gadis kecil itu tapi kenapa sekarang malah pacaran sama Ri Chan?terus kenapa tiba-tiba mau putus?”tanya Jin Ki dia tidak menyangka bahwa magnaenya itu ternyata punya bakat menjadi playboy

“karena dia mirip dengan dora gadis kecil itu”jawab Taemin

“mirip apanya?dia itu bisa bicara malah kupingku bisa panas kalau ada didekatnya dalam jarak kurang dari 10 meter”ujar Min Ho member yang dikenal paling dingin dan pendiam.

“dia juga suka dora tapi sekarang aku bertemu dengan gadis bisu yang agak mirip dengan Dora tapi entah kenapa kalau dari sikapnya Ri Chan lebih mirip dengan Doraku”lanjutnya

“Yasuda dimana kamu bertemu dengan gadis bisu itu?”tanya Jong Hyun yang sedari tadi asik mendengar cerita Taemin

FLASH BACK 1 Minggu yang lalu

Taemin dan Ri Chan berkencan di dekat sungai Han saat itu tidak sengaja Taemin menangkap sosok gadis sedang melamun di pinggir sungai Han dan kemudian bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa isyarat. Saat itu juga Taemin langsung teringat pada Dora yang sudah 10 tahun tidak dia temui.

“taemin gwenchanayo?”tanya Ri Chan. Taemin menoleh dia baru sadar bahwa dia kesini bersama Ri Chan.

“anniyo gwenchana, jagi sudah 3 jam kita disini lebih baik pulang aku ada latihan dance khajja”ajak Taemin. Ri Chan pun mengikuti langkah Taemin

Flash back end

“terus kapan kenalannya?”tanya Jong Hyun

“kemarin tapi dia tidak menggunakan catatan kecil saat berbicara denganku dia malah menggunakan bahasa isyarat makanya aku kebingungan setengah mati tapi anehnya Ri Chan bisa mengerti semua yang Neul Rin ucapkan”ujar Taemin panjang lebar

“mwo?Ri Chan tau?”tanya mereka berbarengan

“ne dia melabrak Neul Rin makanya sampai sekarang aku tidak berbica padanya.

Flas Back

“Chan… Taemin Chan Taemin!!!”Min Gi mencoba mengatur napasnya

“waeyo?ada apa dengan Taemin?”tanya Ri Chan khawatir

“Dia ada di taman sama cewek”tambah Sun Yi

Belum selesai unni – unninya memberi informasi Ri Chan buru-buru meninggalkan kelas dan pergi kearah taman diikuti unni-unninya yang lain.

^^

“kamu?aku harap jangan dekati pacarku”ujar Ri Chan sembari menahan air matanya dia tidak mau terlihat lemah dihadapkan Taemin.

PPPLLLAAAKKK!!!

TBC

KALAU PENGEN CERITANYA DILANJUTIN KOMEN YANG BANYAK YAH

The Name I Love – Part 1

Dua tangan yang bergetar mengingatkan aku tentang cinta yang sudah mendingin

Sekarang cinta itu menjadi mengerikan, aku tidak ingin menolakmu, tetapi aku baru menyadarinya sekarang

Tidak tahu bagaimana caranya mengahiri ini semua, Aku tahu bahwa aku tak akan bisa mencintaimu selamanya

Tuhan…… mungkin jika bukan karena kekejamanmu.. seseorang itu masih ada disini ..di sampingku.. tersenyum melihat aku yang sedang bercerita tentang aku dan dia… sekarang.. aku tidak tahu apakah dia di atas sana melihat aku dengan tersenyum atau menangis…

dulu.. inilah kisahku….

***

Anyeoong hasseyyoooo. .! Joneun Sun Yi imnida.Menurutku, aku adalah salah satu perempuan yang paling beruntung didunia, mempunyai sahabat sebaik Onew, kami memang sahabat tapi aku tidak pernah tahu dengan kehidupannya diluar sekolah, apalagi tentang kehidupan keluarganya, yang aku tahu ummanya telah meninggal satu tahun yang lalu, saat kita masih duduk di kelas sepuluh. Kadang kami memang tidak akur, tapi aku tahu dia sangat sayang padaku. Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa hatiku selalu berdegup kencang  jika sedang menemaninya makan kotak bekal yang dibawanya sendiri dari rumah. Itulah salah satu keanehan dari seorang Onew, sahabatku itu. Setiap istirahat dia lebih memilih pergi mendatangi suatu tempat di belakang kelas kami dan memakan kotak bekalnya daripada datang ke kantin seperti para murid lainnya. Dan kadang aku selalu menemaninya makan jika aku sedang bertengkar dengan Minho Oppa. Minho adalah pacarku, baru satu bulan kita pacaran. Tapi aku sudah menyukainya diam-diam sejak aku masih duduk dikelas sepuluh. Sampai sekarang aku masih bingung, siapa seseorang yang telah memberikan nomerku pada Minho dan memberitahunya kalau aku diam-diam menyukainya. Mungkin dulu aku akan sangat berterimakasih pada orang itu karena dia, akhirnya aku bisa mendapatkan Minho . Tapi sekarang, aku merasa tidak lagi memilikinya.

“KKkyyaaa.. Naege… ngapain disini?”. Onew menoleh dan terkaget-kaget mendapatiku cengar-cengir menatap wajahnya.

“dasar Pabo!”Sun Yi menjitak Onew. “Kau sudah tahu kan  aku selalu datang kesini kalau lagi ada masalah sama Minho ”Lanjutku. Onew mengusap-usap kepalanya.

Untuk kesekian kalinya aku ke belakang kelas, aku kabur dari Minho yang sibuk ngobrol ma temannya, sifat cueknya malah lebih parah dari sebelum kita jadian. Buktinya aku udah disini aja, dia gak nyariin juga.

Diam-diam aku melirik isi kotak bekal Onew.

“masih hobby makan makanan kayak gitu?”.Kataku sambil nunjuk kotak bekal yang isinya lima lembar roti tawar yang bener-bener tawar tanpa ada sepolespun selai yang menempel.

“Wae? Sehat tau!”

“Sehat apaan? Kalo tu makanan emang sehat kenapa kamu sering ijin sakit?” tanyaku menatapnya.

“Makanya aku makan ini biar gak sakit! Kamu bertengkar lagi dengan Minho si playboy itu ?”. Tanya Onew tanpa menoleh padaku.

“Onew dubu! Sudah berapa kali ku bilang. Kau harus memanggilnya seperti itu ! Gak soppan!!”. Onew masih sibuk mengunyah rotinya. Dia memang seperti itu, selalu pura-pura gak peduli dengan setiap curhatanku. “Nee. .kenapa aku gak pernah nyambung kalau ngomong sama Minho ya..?”.Lanjutku sambil menerawang langit yang biru bersih

“Mungkin. .kamu kelewat Pabo! Jadi gak pernah nyambung kalau lagi ngomong sama Minho!”. Onew tertawa dan itu membuatku tersinggung.

“Dassar Dubu!”celetukku sambil mengembungkan pipiku yang udah tembem. ‘Plettaakk’. Onew menjitak kepalaku.

“Oneww. . .”. panggilku pellan. Perlahan aku meletakkan kepalaku diatas pundaknya “mmhhmm. .”. Jawab Onew seadanya.Dia menatap lurus kedepan.

“Apa Minho benar-benar menyukaiku?”.

“kalo emang dicuekkin ma Minho, kenapa larinya kesini lagi sih? kamu kan bisa curhat ma Ri rin…!”

“aku tidak menemukannya di kantin, lagi pula aku gak mau nyusahin dia terus!”

“Emang gak nyadar kamu nyusahin aku?”

“Nyusahin apa? selama ini kau selalu diam jika aku sedang curhat tentang Minho!”tanyaku masih menyender di pundak Onew.

“Tapi aku selalu mendengarkannya kan. .?”.

Sesaat keheningan terjadi. .

“Onew. .  . .kenapa selalu begini.?”. aku bangun dan menatapnya.

“maksudmu?”. Onew membalas menatapku.

“Minho yang selalu membuatku sedih tapi pundakmu yang selalu kubutuhkan.”

Onew tersenyum mendengarnya. “Kau jangan terlalu membutuhkanku. .!”.

“Waeyoo. .?”

“Aku tidak akan selamanya untukmu Sun Yi. .”.

“Apa kau sudah mempunyai pacar. .?”. tanyaku khawatir dia akan meninggalkanku.

“Waeyoo. .? kenapa kau begitu takut aku tinggalkan? Apa jangan-jangan selama ini kau menyukaiku?’.Goda Onew. Dia mengerlip-ngerlipkan matanya.

Aku tersenyum dan serta merta menjitak kepala Onew. Satu kali! Dua kali! Tiga kali! Empat kal… .

“Kkyyaaaaaa.. sakit tahu! kamu tuh apaan sih? Aku kan cuman nanya!”

“Kalau nanya tuh yang normal dong!”

“Aaaiisssshh. .kau. . . .rasakan inni. . .!”. Onew merangkul leherku dan menariknya, lalu dia mencubit pipiku keras. Aku membalasanya dengan menjambak rambut Onew.

“Aaaaaiiggooo. . Dubu Pabo! Jangan mencubit pipiku. . .!”. Teriakku. Tapi Onew tidak peduli dengan ucapanku..

#######################

Aku tidak bisa merindukanmu, menunggumu membuat diriku lelah

Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi, dan Aku tidak dapat menyadari ini semua

Nama yang aku cinta hanya satu dalam hidup ini

Telah menjauh dan menjauh dariku.

Kebahagiaan itu takkan ada yang abadi. Aku juga harus merasakan apa itu rasa sakit hati.

Panasnya terik matahari mendorong aku untuk cepat pulang. Aku dan Onew berjalan santai di koridor kelas.

“Yakin Minho nunggu di parkiran?”

“Emang biasanya kayak gitu kan?

“Tapi kan kata kamu tadi, di kantin kamu sempet ninggalin dia gitu aja. Tambah parahnya lagi dia gak sms kamu sama sekali.”

“Au ah! Makanya aku barengan ma kamu ke parkiran, biar kalo Minho emang marah sama aku, aku bisa nebeng sama kamu lagi!.”

Cengir aku yang lebih indah daripada cengir killernya Kibum Suju nongol *ngarepp*.Aku menggandeng tangan Onew yang manyun menambah babyface, kalo diliat dari atas menara namsan.

“tuh Minho..!”

Dari gerbang Onew nunjuk pake tangannya kearah Minho yang lagi berdua dengan Ri rin di parkiran, aku sedikitpun tidak curiga dengan mereka. Karena Ri rin adalah teman dekatku selain Onew.

“Oh iya.. yuk…!” kataku sambil narik tangan Onew.

“Aku tunggu disini aja!”

“O, ya udah! Beneran ya tunggu disini.”

Akupun meninggalkan Onew di gerbang. Tapi tidak jauh dari mereka berdiri langkahku berhenti saat Minho menarik kedua tangan Ri rin!. Ada rasa sakit disini. Aku menahan kakiku untuk melangkah dan mendengarkan apa yang akan Minho katakan.

“Ri rin. .saranghaeyo. .”. tangan kanan Minho mengusap rambut Ri Rin lembut.

“Mora guyo? kamu kan pacar Sun Yi. Kenapa kamu mengatakan seperti itu?”

Mataku membesar. Ri Rin terlihat bingung dan Minho memberikan senyuman termanisnya. Sekuat tenaga aku menahan untuk tidak menghampiri mereka,

“Anniiyo Ri Rin. .. Sebenarnya. .Aku tidak mencintai Sun Yi. aku hanya dibayar untuk menjadi pacarnya. .”

“Mwwoo. .?”. Ri Rin terkejut mendengarnya.

Dan aku? Bagaikan ada palu besar yang menghantamku dari belakang. Seketika mataku basah. Aku bergerak cepat mendekati Minho.

TBC

By : Ahn Neul Rin

Signature

This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^ (SHINee Toplist)
  • Open page Talk Talk Talk if you want to talk out of topic

Saranghae, Nae Chagiya

Saranghae, Nae Chagiya

Author: Alya

Seoul, 3 May 2010

Diary,

Aku takut menyampaikan perasaanku padanya..

Ia terlalu sulit kugapai,

Tetapi jika aku tak mengatakannya,

Hatiku akan sakit

Aku takut ia menolakku..

Aku tak ingin ia nanti malah menjauh dariku..

Aku harus bagaimana?

Seoul, 5 May 2010

Diary,

Kau tahu?

Aku bahagia sekarang..

Tanpa menyatakan perasaaku pun ia sudah terlebih dahulu mengatakannya padaku,

Tahukah engkau diary?

Aku sangat mencintainya…

Seoul, 4 July 2010

Diary,

Basok adalah hari jadi kami yang kedua bulan,

Key mengajakku pergi ke taman bermain,

Aku sangat senang..

Aku menutup buku diaryku. Aku harus tidur karena besok namja chinguku akan mengajakku ke taman bermain. Aku tidak boleh telat bangun.

Namaku Han Min Mi. Aku tinggal di  Seoul tanpa kedua orang tuaku. Mereka berdua sudah meninggal karena dibunuh 9 tahun yang lalu. Kabarnya, mereka dibunuh oleh pesuruh dari pesaing bisnis appa yang tidak mau kalah. Entahlah, aku juga tidak tahu.

Sudahlah, hari ini aku harus tidur…

Keesokan harinya…

”Minmi!”, teriak suara yang tidak asing lagi bagiku. Aku segera berlari kearah suara tersebut.

”Key! Mianhae sudah membuatmu menunggu.”, kataku.

“Gwechana, aku juga baru datang kok. Ayo kita jalan-jalan. Kkaja!”, katanya. Ia segera menarik tanganku.

”Kau naik apa kesini? Mianhae, aku tidak bisa menjemput”, tanya Key.

”Gwechana, aku naik mobil sendiri kesini”, jawabku. Key hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu ia menarikku lagi untuk menaiki berbagai wahana di taman bermain ini.

Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Kami sudah bermain selama 9 jam disini. Lelah sekali, tapi rasa senangku akan hari mengalahkan rasa lelahku. Lalu kami berjalan menuju parkiran.

”Key!”, panggil sebuah suara yang tidak kukenal. Suara yeoja, sepertinya. Key lalu menoleh kearah suara. Bisa kulihat ekspresi senang tersirat dari wajahnya.

”Hyunji!”, panggil Key. Ia lalu mendekati yeoja yang bernama Hyunji, lalu memeluknya.

Tahukah kau. Key? Aku sakit melihatnya… Dan, yeoja itu mencium pipi kanan dan pipi kiri Key. Bodohnya, Key membalasnya. Di depan mataku..

”Key, apa kabarmu? Kau semakin tampan. Aku jadi menyesal memutuskanmu.”, kata yeoja itu. Mwo? Putus?

”Ahaha, sudah kubilang kan. Kau pasti akan menyesal karena memutuskanku”, kata Key. Argh, aku ingin sekali pergi dari sini. Apa mereka tidak sadar kalau aku ada disini?

”Bagaimana… Kalau kita kembali lagi seperti dulu?”, tanya yeoja itu lagi.

PLAK!

Spontan, aku menampar yeoja ini. Bagaimana aku bisa tidak tahan untuk menamparnya? Ia benar-benar keterlaluan!

“MINMI!”, bentak Key.

”Waeyo? Aku salah karena telah menamparnya? Iya?”, tanyaku pada Key dengan tatapan sinis.

PLAK!

”Key? Kau..”

Key? Apakah yang ada dihadapanku ini benar-benar Key? Barusan… Barusan Key menamparku?

”Jangan pernah kau berani menamparnya! Ia tidak bersalah!”, bentak Key.

Aku tidak tahu kenapa, hatiku sakit. Lebih sakit daripada tamparannya Key. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari dan masuk kedalam mobilku. Meninggalkan mereka berdua di parkiran. Aku butuh waktu untuk sendiri..

Key’s POV

Kenapa? Kenapa tanganku ini harus menampar pipinya? Kenapa?

”Key, sebaiknya kau kejar dia. Katakan padanya, ini semua hanya salah paham. Aku hanya bercanda tadi. Mianhae”, ujar Hyunjin.

”Gwechana Hyunjin. Baiklah, aku pergi dulu”, ujarku padanya. Aku bergegas masuk kedalam mobil. Sepintas kulihat Hyunjin yang hanya tersenyum dan melambaikan tangannya. Aku membalas lambaian tangannya lalu bergegas menyusul Minmi.

”Kuharap kau tidak marah padaku, Minmi”, batiku.

Minmi’s POV

Aku memutuskan untuk pulang ke villaku di atas puncak. Kurasa aku benar-benar butuh kesunyian, jauh dari Seoul.

“Key babo! Key benar-benar babo!”, umpatku. Aku benar-benar tidak percaya bahwa Key baru saja menamparku. Rasa sakit itu masih terasa, bahkan masih memerah. Tapi hatiku jauh lebih sakit! Tanpa terasa, air mataku jatuh membasahi pipiku.

”Aduh, kenapa harus hujan sih? Mana hujannya deras lagi.”, ujarku. Malam ini hujan turun dengan sangat derasnya. Bahkan aku hampir tidak melihat sekelilingku. Jalan tanjakan dan berkelok seperti ini sangat berbahaya. Apalagi dibawahnya terdapat jurang. Walaupun mungkin hanya sekitar 200 meter, tapi tetap saja sangat menyeramkan.

Aku mengemudikan mobilku pelan. Samar-samar, ada sorot lampu dari arah depan. Truk! Ada truk dihadapanku. Aku terus mengklakson truk tersebut agar ia minggir dari hadapanku, karena jika tidak, kami akan bertabrakan. Saat kulihat, ternyata sopir truk itu tertidur. Bagaimana ini? Berhenti? Tak mungkin. Tepat disamping belakangku ada jurang. Saat aku panik didalam mobilku, truk tersebut menabrak mobilku hingga mobilku jatuh terguling ke dasar jurang.

Key’s POV

DEG!

Perasaan apa ini?

Kenapa aku tiba-tiba berpikiran buruk?

Dan kenapa tiba-tiba aku mengarahkan mobilku menuju villanya Minmi?

Ada apa?

Kenapa perasaanku mengatakan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Minmi?

Minmi’s POV

Aku berusaha keluar dari mobilku. Susah sekali. Bagaimana tidak susah? Tubuhku penuh dengan luka dan darah. Bahkan tubuhku terhimpit oleh airbag. Aku harus mencari pecahan kaca untuk meledakkan airbag ini. Sesak sekali rasanya. Aku menggedor-gedor kaca mobilku agar kacanya pecah. Tapi sayangnya, aku memasang kaca anti peluru untuk mobilku. Aku benar-benar babo! Sekarang apa yang harus kulakukan?

Tuhan…

Bila memang hari ini adalah hari terakhirku..

Hari terakhirku bernafas,

Hari terakhirku melihat,

Maka ambillah nyawaku…

Tapi tolong,

Sampaikan pada seseorang yang aku cintai,

Seseorang yang aku sayangi,

Seseorang yang merupakan belahan jiwaku,

Bahwa aku mencintainya…

Aku hanya ingin ia tahu,

Bahwa aku mencintainya,

Bahwa aku menyayanginya.

Bahwa hanya dia,

Hanya dia yang bisa mengerti aku…

Tuhan,

Izinkan aku,

Izinkan aku untuk bertemu dengannya,

Sekali saja…

Bahkan mungkin untuk yang terakhir kalinya…

Tuhan,

Bila waktuku memang akan berakhir sekarang,

Pertemukan aku dengannya,

Kumohon,

Sebentar saja…

Tuhan,

Kau pasti mendengarku kan?

Kau pasti mengetahuiku kan?

Kau pasti mengabulkan permintaanku kan?

Karena aku tahu, Engkau selalu ada…

Engkau selalu melihat dan mendengarku,

Engkau selalu mengerti aku,

Engkau selalu menyayangiku,

Maka kumohon,

Kabulkanlah permintaanku…

Mungkin inilah permintaan terkahirku…

Aku meneteskan air mataku… Aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit. Apa aku akan mati sekarang? Entahlah, aku juga tidak tahu. Sepertinya, aku akan mati sekarang. Bagaimana tidak? Aku mulai kekurangan oksigen, tubuhku juga penuh luka. Bahkan aku mencium bau asap yang kuyakini bau itu berasal dari mesin mobilku. Mungkin mobilku akan meledak sekarang…

Tiba-tiba, semua terasa ringan, bahkan aku seperti tidak merasakan tubuhku lagi… Pandanganku mendadak menjadi gelap gulita…

Key’s POV

Saat aku sedang mengemudi, tiba-tiba aku melihat sebuah truk yang terguling. Untung saja truk itu tidak masuk ke jurang. Banyak orang yang berdatangan, tapi banyak juga yang melihat ke dasar jurang.

DEG!

Kenapa perasaanku tidak enak?

Dengan segera, aku turun dari mobilku, mencari tahu apa yang telah terjadi. Rupanya truk tersebut menabrak sebuah mobil karena sopir truk tersebut mengantuk. Mobil itu masuk ke jurang. Sudah ada orang yang menelpon ambulance dan polisi. Aku melihat ke dasar jurang. Mobil itu? Mobil itu mobilnya Minmi! Omona~ Minmi?

Aku melihat Minmi tidak bergerak. Aku takut, takut terjadi sesuatu padanya. Kuberanikan diriku untuk turun ke dasar jurang dan menolongnya tanpa menghiraukan teriakan orang lain. Yang aku inginkan sekarang ini adalah Minmi berada dalam dekapanku!

”MINMI!”, teriakku sambil menggedor kaca mobilnya. Mobilnya dalam keadaan terbalik, tubuhnya terhimpit oleh airbag. Dan mesin mobilnya mulai berasap. Cepat atau lambat, mobil ini akan meledak! Aku mencari batu besar untuk memecahkan kaca mobilnya. Setelah kacanya pecah, aku menggendong Minmi keluar dari mobilnya. Sepintas kulihat ia menangis. Waeyo? Ah sudahlah. Aku harus cepat keluar.

Bersamaan dengan keluarnya kami dari mobilnya, mobil tersebut meledak. Saat kami kembali ke atas, kulihat sudah ada mobil ambulance dan polisi. Aku langsung menaikkan Minmi kedalam mobil ambulance, sedangkan aku mengikuti mobil ambulance tersebut. Jujur, aku khawatir dengannya…

Minmi’s POV

Aku mengumpulkan kesadaranku walau mataku masih terpejam. Aku merasa ada orang yang meneriaki namaku dan menggedor kaca mobilku. Key? Kenapa ia harus ada disini? Haha, babo. Aku benar-benar babo! Bukannya tadi aku yang minta bahwa aku ingin bertemu dengannya? Tiba-tiba saja air mataku menetes lagi. Aigooo~ Kenapa sih aku harus menangis lagi?

Sebenarnya,

Aku ingin sekali bilang padanya bahwa aku baik-baik saja,

Tak usah mengkhawatirkanku Key,

Aku baik-baik saja,

Aku kuat, aku tidak lemah kok…

Aku tak ingin kau khawatir seperti ini…

Key’s POV

Sesampainya di rumah sakit, Minmi langsung dilarikan ke UGD. Sementara aku hanya menunggu diluar. Selama menunggu, aku selalu berjalan mondar-mandir. Aku tidak bisa tenang. Bagaimana bisa tenang? Yeojachinguku ada didalam ruang UGD berjuang mempertaruhkan nyawanya…

Tuhan,

Selamatkan dia,

Jangan ambil dia dariku,

Jangan pisahkan kami,

Jangan buat aku menangisinya…

Tuhan,

Kumohon,

Kumohon jangan ambil dia dariku,

Selamatkan dia Tuhan,

Selamatkan dia…

Selamatkan dia untukku…

KRIET~

”Dokter? Bagaimana keadaannya?”,tanyaku pada pria berbaju serba putih yang berdiri dihadapanku ini. Tampak dari wajahnya menyiratkan kesedihan.

”Mianhae, kami sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tapi Tuhan berkehendak lain…”, jelas sang dokter.

JEDEEER!

Apa?

Minmi-ku?

Minmi-ku sudah pergi meninggalkanku?

Waeyo?

Ini semua bohong kan?

”Dokter, katakan padaku, ini semua bohong kan, BOHONG KAN?!”, bentakku pada dokter ini.

”Terimalah dengan lapang dada. Bersabarlah. Saya tahu ini semua sangat berat.”, jelas sang dokter. Lalu ia pergi meninggalkanku yang masih terpuruk sendiri…

Disinilah aku sekarang, duduk di depan gundukan tanah. Gundukan tanah yang berisi tubuh yeojachinguku, gundukan tanah yang penuh dengan taburan bunga, gundukan tanah yang mempunyai sebuah batu nisan yang bertuliskan :

Han Min Mi

Lahir : 26 Juli 1992

Wafat : 5 Juli 2010

Kenapa?

Kenapa kau harus meninggalkanku disaat hari yang sangat membahagiakan untuk kita?

Kenapa? Kenapa kau harus pergi?

Andai saja waktu bisa berputar kembali,

Aku akan lebih cepat mengejarmu..

Maafkan aku yang tidak pernah bisa menjagamu,

Maafkan aku yang tidak pernah bisa membahagiakanmu,

Maafkan aku yang selalu membuatmu menderita,

Dan maaf,

Aku tidak bisa menemanimu di sana..

Tenang saja,

Aku pasti akan menyusulmu kesana,

Cepat atau lambat.

Yeongwonhi saranghae, nae chagiya…

Author’s POV

Key tersenyum menatap gundukan tanah dihadapannya. Ia menghapus air matanya lalu bangkit dari tempat duduknya dan bergegas menuju mobilnya. Meninggalkan kekasihnya sendirian. Samar-samar, dari kejauhan terdapat sosok gadis cantik yang berpakaian serba putih. Ia tersenyum menatap Key yang pergi meninggalkan tempat peristirahatan terakhirnya.

Na do saranghae, nae chagiya…

—-END—-


signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF

I LOVE YOU

Author: Lana

Cast : Kim Jonghyun

Aku terus memandangi koran yang berada di tanganku, membaca headline berulang-ulang. Sudah satu minggu aku terus membaca headline surat kabar tersebut, dengan dipenuhi rasa bersalah yang luar biasa. Dia… laki-laki yang berada di headline surat kabar nasional ini telah menghancurkan hidupku dengan mempertahankan hidupku.

Hubungan yang kami jalin selama 1 tahun berakhir begitu saja. Pernikahan terindah kami batal begitu saja, hanya sehari sebelum kami akan menikah dia pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal. Kalaupun ia mengucapkan selamat tinggal aku tidak akan pernah mau melepaskannya. Laki-laki yang satu tahun lebih tua dariku, aku mencintainya luar dan dalam. Berteman 5 tahun, pacaran setahun dan setelah itu semestinya kami bisa menghabiskan sisa hidup kami bersama anak-anak kami.

Kim Jonghyun, laki-laki yang selalu melindungiku kapanpun di manapun. Seberapa sulit pun keadaannya, selama aku membutuhkannya ia akan datang. Tidak pernah aku berfikir bahwa ia akan meninggalkanku dengan cara seperti ini. menyakitkan… gadis mana yang tidak sakit jika kekasihnya pergi sehari sebelum hari pernikahan mereka. Aku benar-benar tidak bisa berhenti mengucapkan itu… pergi sehari sebelum hari pernikahan.

Sekarang yang bisa ku lakukan hanya menangis, menangis dan menangis. Menangisis kepergian kekasihku, laki-laki nomor satu dalam hatiku. Ingin rasanya aku bunuh diri, tapi aku masih terikat janji dengannya bahwa aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh itu.

~FLASHBACK~

-Yuna Pov-

“Yuna!!!” suara itu… sudah satu minggu aku tidak mendengar suara itu, aku benar-benar merindukannya. Mempersiapkan pesta pernikahan membuatku benar-benar sibuk, kami bahkan sampai tidak bisa bertemu.

“Ya Kim Jonghyun! Bukannya siap-siap! Besok kita kan menikah, apa yang kau lakukan di sini?!” aku memukul lengan Jonghyun. “Aww… sudah satu minggu tidak bertemu, kau tidak merindukanku?” ia merangkulku dengan genit. “Tidak akan! Untuk apa merindukanmu?!” aku menoyor kepalanya. “Sebentar lagi kau akan menjadi istriku, kau tidak bisa berbuat seenaknya lagi!”

“Kalau begitu kita batal.”

“Hey! Ya ampun.. kenapa calon istriku seperti ini sih?! Sepertinya aku salah pilih gadis.” Aku mengerucutkan bibirku dan mengerutkan alis. “Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan di sini?!”

“Oh iya.. bahkan aku jadi lupa apa yang sebenarnya ingin aku lakukan begitu melihat wajahmu. Kau tahu, wajahmu mengalihkan otakku… ahahahaha…”

“Stop gombal warming! Enekkkhhhh…!”

“Kalau begitu kembali ke tujuan awal. Kemarin aku jalan-jalan dan aku mendapatkan sebuah pondok kecil yang sangat bagus.. aku sudah bertanya-tanya dan kita bisa tinggal di sana. Tempatnya sangat asri, jadi sekarang aku ingin mengajakmu ke sana untuk melihat pondok tersebut.”

“Sincayo?” tanyaku dengan wajah sumringah, maklum.. kami sudah mencari kesana kemari tapi masih belum mendapatkan pondok kecil yang indah untuk kami tinggal nanti. “Ayo!” Jonghyun menarikku keluar toko. “Kenapa naik mobil? Itu hanya akan buang-buang waktu, lebih baik naik motor saja.”

“Baiklah, berarti ke rumahku dulu untuk mengambil motor.” Jujur sebenarnya alasanku memintanya naik motor adalah untuk mengenang masa kami bersahabat dulu. Kemana-mana ia selalu mengantar jemputku dengan motor sport nya yang besar itu. Terakhir kali kami naik motor saat kami sedang jalan-jalan ke taman, kami memarkir motor tidak di tempatnya karena sudah penuh. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang sepertinya tidak melihat kalau ada motor terparkir, dia parkir begitu saja. Alhasil motor Jonghyun jatuh dan helm ku rusak, Jonghyun menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk memperbaiki motornya.

Karena tidak sempat membeli helm baru untukku Jonghyun selalu melarangku untuk ikut dengannya naik motor, karena takut berbahaya. Tapi kali ini sepertinya kami berdua sama-sama merindukan masa-masa itu, dengan kecepatan tinggi melawan angin.

“Ya! Jonghyun-ni.. apa kita harus melalui jalan yang seperti ini untuk sampai ke pondok tersebut?” tanyaku setengah berteriak karena aku yakin sulit baginya mendengar suaraku. “Ne. karena itu aku suka pondok itu, kita akan merasa segar jika setiap hari melalui jalanan yang di penuhi pepohonan seperti ini.”

“Tapi menyeramkan, terlebih lagi ada jalaan menanjak yang cukup tinggi.. aku takut saat melalui turunannya.”

“Tidak… justru akan mengasyik kan! Seperti yang biasa kita lakukan dulu!” Jonghyun malah mempercepat laju motor, angin menerpa wajahku dengan kasar sehingga makin lama mataku terasa perih.

“Jonghyun! Pelankan laju motornya!!!” teriakku karena kini kami sudah menuruni jalanan. “Menyeramkan!!” teriakku lagi. “Tidak! Ini asik!”

“Jonghyun!! Pelan-pelan atau kau akan kubunuh!”

“Baiklah.. tapi katakana bahwa kau mencintaiku!”

“Agh!! Kau gila! Salanghaeyo!!! Sekarang pelankan laju motornya!”

“Panggil aku oppa! Seumur hidupku kau belum pernah memanggilku oppa!” aku memutar bola mataku. “Jonghyun-ni oppa! Salanghaeyo yeongwonhi! Pelankan laju motor atau kau benar-benar akan kubunuh!!!!”

“Dua lagi.. lepas helm ku dan pakai di kepalamu, lalu peluk aku se erat mungkin!”

“Untuk apa melepas helm mu?”

“Aku ingin merasakan angin sepertimu.. cepat lepas dan pakai saja!” Aku menurut, aku melepaskan helm Jonghyun, mengenakannya di kepalaku lalu memeluknya dengan erat. Sudah lama sekali aku tidak melakukan ini, aku merindukan saat-saat seperti ini. aku berharap nanti saat kami sudah menjadi suami istri kami bisa naik motor bertiga.

***

Aku berusaha membuka mataku, hanya mimpi? Menyedihkan sekali… tapi kenapa terasa begitu nyata? Aku ingin bisa naik motor dengan Jonghyun.. ah tidak.. Jonghyun-ni oppa. Aku akan memanggilnya begitu jika ia memintaku lagi.

Tunggu! Ini bukan kamar ku! Ini juga bukan kamar Jonghyun!

Infus? Aku di rumah sakit? Sejak kapan?! “UMMMAAAA!!!” jeritku memanggil umma. “Oh.. Yuna, kau sudah sadar. Untung lah kau baik-baik saja nak.”

“Waeire umma?! Sejak kapan aku masuk rumah sakit? Memang aku sakit apa?”

“Sejak kemarin.”

“Ya tuhan! Ini tanggal berapa?!”

“Tanggal 24.”

“Hari ini kan harusnya aku menikah umma?!!! Kenapa aku malah ada di sini?! Umma kenapa malah menangis?! Aku harus telepon Jonghyun sekarang.” Aku berusaha mencari ponselku, tapi aku tidak tahu harus mencari di mana. “Yuna tenang! Tenang dulu!” aku mengerutkan alis, ada apa dengan ibuku ini?

“Kau tdak akan menikah dengan Jonghyun.” MWO?! Yang benar saja! Sudah tidak jama bercanda seperti ini! “Umma ini kenapa sih?!”

“Dengarkan aku! JONGHYUN SUDAH MATI!! DAN DIA HAMPIR SAJA MEMBAWAMU MATI BERSAMANYA!” apa… apa-apaan ini? aku tidak bisa bergerak. “Baca ini!” aku meraih surat kabar dari tangan ibuku, dan terlihat jelas di headline terdapat foto motor Jonghyun yang berwarna merah hancur menabrak dinding tebing.

TEWASNYA ARTIS MUDA KIM JONGHYUN KARENA MELINDUNGI KEKASIHNYA KIM YUNA

Kakiku terasa sangat lemas.. bagaimana bisa? Bagaimana bisa itu terakhir kali bagi ku memeluk Jonghyun, mengatakan padanya bahwa aku mencintainya. Bagaimana bisa itu menjadi yang pertama dan terakhir kali bagiku memanggil Jonghyun dengan sebutan oppa?

“AAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!! JONGHYUN-NI OPPPAAA!!!!”

&&&

-Jonghyun Pov-

Aku tidak menyangka bahwa ternyata aku merindukan saat-saat seperti ini, mengendarai motor dengan memboncengi Yuna di belakangku. Aku tidak akan pernah melepaskannya sampai kapanpun, aku sudah berjanji pada diriku sendiri sejak pertama kali bertemu dengannya bahwa aku akan selalu menjaganya, melindunginya.

“Ya! Jonghyun-ni.. apa kita harus melalui jalan yang seperti ini untuk sampai ke pondok tersebut?” tanya-nya setengah berteriak karena aku yakin ia tahu bahwa sulit bagiku mendengar suaranya. “Ne. karena itu aku suka pondok itu, kita akan merasa segar jika setiap hari melalui jalanan yang di penuhi pepohonan seperti ini.”

“Tapi menyeramkan, terlebih lagi ada jalaan menanjak yang cukup tinggi.. aku takut saat melalui turunannya.”

“Tidak… justru akan mengasyik kan! Seperti yang biasa kita lakukan dulu!” Aku mempercepat laju motor menaiki jalanan yang menanjak. Pasti sangat mengasyikan saat melalui jalanan yang menurun.

“Jonghyun! Pelankan laju motornya!!!” teriak Yuna karena kini kami sudah menuruni jalanan. “Menyeramkan!!” teriaknya lagi. Ok, aku akan memperlambat laju motor. Aku menarik rem… hey! Apa-apaan ini?! Ya tuhan… aku menginjak rem kaki, tapi juga tidak berfungsi. Oh tuhan! Aku berusaha tetap santai, bahkan menikmati. “Tidak! Ini asik!”

“Jonghyun!! Pelan-pelan atau kau akan kubunuh!”

“Baiklah.. tapi katakan bahwa kau mencintaiku!”

“Agh!! Kau gila! Salanghaeyo!!! Sekarang pelankan laju motornya!”

“Panggil aku oppa! Seumur hidupku kau belum pernah memanggilku oppa!”

“Jonghyun-ni oppa! Salanghaeyo! Pelankan laju motor atau kau benar-benar akan kubunuh!!!!” kali ini air mataku mengalir begitu saja… apa yang harus aku lakukan? Kenapa ini harus jadi terakhir kalinya aku mendengar Yuna memanggilku oppa? Ini baru pertama kali aku mendengarnya. Apa aku harus memberitahunya kalau rem ini tidak berfungsi? Kalau motor ini menabrak maka Yuna yang akan tewas karena ia tidak mengenakan pengaman.

“Dua lagi.. lepas helm ku dan pakai di kepalamu, lalu peluk aku se erat mungkin!”

“Untuk apa melepas helm mu?”

“Aku ingin merasakan angin sepertimu.. cepat lepas dan pakai saja!” ia melepaskan hel yang ku kenakan, aku memastikan bahwa ia menggunakannya dengan benar dan kini dapat aku rasakan ia memelukku dengan erat. Tuhan… beri aku kekuatan untuk menghadapi ini, biarkan Yuna tetap hidup seperti gadis-gadis seumurannya. Biarkan ia melanjutkan karirnya sebagai seorang model. Biarkan gadis yang kucintai ini mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari ku.

Kini aku benar-benar tidak dapat mengendalikan motorku, berat sekali… tangan kananku menggenggam erat tangan Yuna, lalu aku memejamkan mata.

DUAR!

Agghh… menyakitkan… jelas sekali aku merasakan kepalaku membentur tembok kasar.

“Yuna! Yuna… kincanayo?” aku berusaha membangunkan Yuna, tapi sepertinya ia hanya pingsan. Aku harus mencari bantuan! Aku berusaha berjalan mencari rumah penduduk di sekitar sini, kepalaku terasa sangat pusing.

“Tuan.. tuan tunggu sebentar!” aku berusaha berlari. “Omo! Ada apa denganmu nak?” aku berusaha berdiri tegap. “Tolong panggilkan ambulans sekarang juga, kekasihku ada di sana… tolong aku.”

“Baiklah, aku akan berlari ke tempat telepon umum. Bertahanlah nak!” penduduk itu langsung berlari, sedangkan aku kembali ke tempat kami bertabrakan dengan tembok. “Yuna.. kau harus bertahan, untukku. Cintailah laki-laki yang lebih baik dariku!” aku berusaha mencari note kecil yang selalu Yuna bawa di dalam tasnya.

Hal terakhir yang bisa kulihat dan kudengar hanya suara ambulans dari kejauhan dan Yuna yang terbaring tidak sadarkan diri. “Meskipun kita tidak menjadi suami istri aku akan tetap memakaikanmu cincin ini.” percaya atau tidak tapi mataku sudah tidak bisa melihat apapun. Aku membaringkan tubuhku di sebelah Yuna dan menunggu sampai ajal benar-benar mencabut nyawaku.

“Yuna… I love you forever.”

&&&

~End Of Flashback~

Aku menggenggam erat secarik kertas di tanganku, kertas ini di temukan dalam genggaman tangan Jonghyun yang berlumuran darah. Apakah bisa aku mencintai orang yang lebih baik darimu? Karena bagiku tidak ada yang lebih baik darimu. Laki-laki penuh perhatian dan selalu melindungiku. Apakah bisa aku hidup sebagai gadis normal seperti dulu? Karena hanya kau yang bisa membuat hidupku terasa begitu normal. Apakah bisa aku kuat menghadapi hidup? Karena hanya kau yang bisa membuatku kuat.

Sampai sekarang aku masih belum bisa membuka kertas tersebut, ingin aku membaca isinya tapi aku tidak kuat. Tapi aku berusaha kuat dan membuka kertas tersebut perlahan, dan setets demi setetes air mataku mengalir. Aku tidak kuat membaca surat tersebut, jadi aku hanya membaca beberapa kata saja karena aku mengerti apa yang akan ia ucapkan.

Jika memang kau ingin aku bisa membuka lembaran hidup yang baru, Baiklah! Aku akan melupakanmu. Aku membuang kertas tersebut ke dalam tempat sampah dan berjalan keluar rumah, mencoba untuk memulai hidupku dari awal lagi.

***

Yuna,

Maafkan aku. Aku tidak menyangka bahwa pernikahan kita akan berakhir begitu saja. Bukan rencanaku mengendarai motor yang sudah rusak, aku juga sangat terkejut. Tapi aku berharap kau bisa menjalani hidupmu seperti dulu, dan mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dariku. Bukalah lembaran baru…

Tapi kumohon… jangan lupakan aku….

P.S: I Love You

~FIN~

Mian geje… kekekeke…