Category Archives: One Shot

Panjangnya gak lebih dari satu bagian. Pendek tapi lebih dari 3000 kata, dan tidak ada pemotongan adegan/bagian yang mana berarti bersambung. Konflik biasanya hanya satu dan selesai pada bagian itu juga

Romeo + Juliette = Love…. or Pain?

Title : Romeo + Juliet = Love… or Pain?

Author : shineeisland

Casts : Shin Minho, Shin Jesun

Author’s note : Shin Minho maksudnya Choi Minho SHINee, tapi aku ganti marganya untuk keperluan cerita.

****

Sudah lama tak kulihat tatapan mata itu lagi…

Tatapan yang menatap tajam ke arahku…

Namun dapat kulihat di balik bola matanya…

Tersimpan sejuta kesedihan…

Dan juga kerinduan…

****

Hari ini aku kembali bekerja sebagai tukang kebun di sebuah rumah mewah milik bangsawan ternama. Dan sialnya, aku bertemu dengan gadis itu lagi…

Gadis itu adalah gadis yang telah banyak meracuni otakku, mencabik-cabik hatiku, hingga hatiku amat sangat sakit sampai ulu hati yang terdalam…

Gadis itu, yang telah membawaku ke jurang kematian, ke pondok kesialan, dan membawaku hingga menjadi seperti sekarang ini…

Aku yang menyedihkan, penuh dengan aura kesedihan, mata yang selalu sembab dan merah, badan yang lunglai, penyebab semua itu adalah dia.

Gadis itu, pada awalnya, ia sangat menyebalkan. Namun lambat laun, tumbuh cinta di antara kami. Cinta terlarang…

Entah mengapa aku bisa nekat mengajaknya kabur waktu itu. Dan bodohnya, ia mengiyakan. Alhasil, begitu kami tertangkap oleh orang istana, aku diusir dan dipenjarakan selama lima tahun di penjara bawah tanah istana.

Namun, entah ini sudah takdir Tuhan atau bukan, kini aku bertemu lagi dengannya, dan berhadapan dengannya. Entah ini kebetulan atau apa.

Perasaan senang tentu saja melanda hatiku, namun perasaan sedih lebih mendominasi. Pertemuan dengannya berarti cinta yang menyakitkan di antara kami akan segera dimulai lagi. Dari nol.

Aku berharap aku tak pernah lagi bertemu dengan gadis itu, namun aku tak kuasa melawan takdirku…

Gadis itu, gadis dengan hanbok biru muda bermotif bunga-bunga yang kini berada di hadapanku itu, tak lain adalah Shin Jesun, putri bangsawan terkaya di Korea Selatan.

****

Sonyeoga sonyeoneul manna apeun sarangi ije sijak dwae…

Girl meets boy and a painful love starts now…

Malhal su eomnun sarangun meariga dwae sarangi tto sijak dwae..

An unspeakable love becomes an echo and love starts again…

Aku membanting pintu kamar baruku saat ini. Aku tak menyangka bisa bertemu dengan gadis itu lagi. Gadis yang telah melukai hatiku…

Aku mulai berpikir negatif mengenai ini. Bagaimana kalau ibu Jesun, atau pelayan Jesun menyadari hal ini? Bagaimana kalau mereka mulai mengenali mukaku? Aku yakin aku pasti akan dipenjarakan lagi di penjara bawah tanah.

Aku sendiri pun tak tahu mengapa aku bisa bekerja kepada orang yang sama lagi seperti lima tahun yang lalu. Tetanggaku yang baik memberitahukan kepadaku kalau rumah bangsawan Korea sedang butuh seorang tukang kebun yang ahli untuk menangani bunga-bunga di taman mereka. Dan tanpa ragu, aku melamar pekerjaan itu dan diterima.

Entah ini takdir atau kebetulan atau apa, aku bisa bekerja di sini lagi. Awalnya aku tak mengenali rumah mereka, karena dulunya mereka tak tinggal di sini. Namun begitu aku melihat gadis itu lagi, aku mulai sadar perlahan, bahwa tak sepantasnya aku berada di sini.

Aku ingin sekali berhenti bekerja kepada tuan rumah ini. Namun, mustahil! Ini baru hari kedua sejak aku bekerja di sini. Lagipula, aku tak memiliki tempat tinggal. Jika bukan dari pekerjaanku, aku takkan bisa makan ataupun tinggal dengan layak seperti sekarang ini.

Segelas air dari atas meja kuteguk perlahan. Semoga hal ini bisa menenangkanku. Namun aku tak cukup tenang dengan hanya meneguk segelas air saja. Hal yang bisa menenangkanku hanyalah berkebun, merawat bunga-bunga di taman. Itu adalah hobiku sekaligus keahlianku satu-satunya.

Aku melangkah keluar dan berjalan menuju taman. Kuambil sekarung besar pupuk dan kubawa ke bagian bunga-bunga. Taman istana ini begitu mewah, dengan berbagai macam bunga, mulai dari lily, mawar, anggrek, cosmos, rhododendron, tulip, daisy, fuchsia, bunga matahari, dan masih banyak lagi. Kurasa aku tak bisa menghitung semuanya satu persatu.

Kudatangi padang bunga matahari dan kuelus batangnya yang kini hampir setinggi badanku.

“Bagaikan matahari dan bunga matahari. Saling menatap setiap hari namun tak bisa saling memiliki…”

Aku menatap matahari yang kini sedang menyinari diriku dan bunga matahari di sebelahku.

“Kurasa akulah bunga mataharinya. Bunga matahari yang rapuh dan tak sanggup hidup bila tidak ada matahari. Bunga matahari terkadang hanya membuat matahari susah…” gumamku pelan sambil tersenyum simpul. Aku ingin segera melangkah ke depan ketika tiba-tiba kudengar sebuah suara dari belakangku.

“Kau salah. Akulah bunga mataharinya.”

Saat mendengar itu, aku kaget. Sontak aku langsung saja berbalik untuk melihat siapa yang mengatakan hal semacam itu. Dan orang yang memang sudah kuduga-duga, yang berkata itu adalah Jesun…

“Aku lebih cocok jadi bunga mataharinya. Bunga matahari yang rapuh saat matahari pergi meninggalkan dirinya…” kata Jesun. Matanya berkaca-kaca, seperti ingin menangis.

Aku terdiam, tak bisa berkata apa-apa.

“Tahukah kau sudah lima tahun aku menunggumu? Dan sekarang kau malah menghindariku. Tak tahukah kau betapa sakitnya hatiku?” kata Jesun lagi, dan kini sambil menangis. Aku ingin berkata padanya bahwa hatiku lebih sakit daripada hatinya, namun entah mengapa aku seakan bisu, tak bisa berbicara.

Aku melangkah pelan menuju Jesun yang masih menangis terisak dengan tangan menutupi wajahnya. Dengan canggung kupeluk dirinya.

“Maafkan aku, Jesun… Maafkan aku karena telah membuatmu menunggu…”

“Oppa…” kata Jesun, masih sambil menangis. “Mengapa oppa lama sekali?” Tangis Jesun semakin keras. Namun kini bukan hanya Jesun saja yang menangis, tapi aku juga ikut-ikutan menitikkan air mata.

“Maaf, maafkan aku…” Aku mengeratkan pelukanku pada Jesun. Aku tahu semua ini terlarang, namun aku tak kuasa membendung perasaanku padanya.

Aku memeluknya semakin erat dan semakin erat, seakan berharap tubuh kami akan saling melekat, sehingga takkan ada yang sanggup memisahkan cinta yang tumbuh di antara kami berdua…

****

“Jesun, ayo pulang sekarang…”

“Aniyo, aku masih ingin bersama oppa…” Jesun menggelayutkan tangannya di lenganku. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah kanak-kanaknya itu.

“Tapi ini sudah sore. Aku juga sudah capek terus berjalan di hutan ini. Kalau kita tidak pulang sekarang, kita bisa tersesat…”

“Ani, aku masih ingin ke sana…”

“Ke mana lagi, hah?”

“Oppa sudah lupa ya?” Jesun mendongakkan kepalanya padaku. “Oppa sudah lupa kepada tempat rahasia kita dulu?”

Aku berpikir keras, mencoba mengingat-ingat. Sejurus kemudian aku kembali teringat.

“Ah, aku tahu… tempat kunang-kunang itu ya?”

“Betul sekali, oppa! Ayo kita ke sana! Ayo!” Jesun menarik-narik lengan bajuku dengan kukunya yang panjang dan lentik. Aku takut kuku-kuku itu akan patah karenaku.

Akhirnya setelah sekian lama berjalan, akhirnya kami sampai di tempat rahasia kami itu, tempat rahasia kami lima tahun yang lalu…

“Aish, belum ada kunang-kunangnya! Ottoke?” keluh Jesun begitu kami sampai di padang rumput luas di pinggir sungai itu.

“Kita tunggu saja dulu…” jawabku santai sambil merebahkan diri di padang rumput yang hijau dan lembut itu.

“Tapi, sekarang masih jam 7 malam, sementara kunang-kunangnya baru akan muncul sekitar jam 9 malam…” Jesun mengerucutkan bibirnya.

“Aish, sudahlah, berbaringlah di sini dan tunggu saja kunang-kunangnya datang!”

Akhirnya Jesun menyerah dan ikut membaringkan dirinya di atas padang rumput sambil menunggu kunang-kunang dengan sabar. Namun, sepertinya ada keajaiban di antara kami. Kunang-kunang itu tiba sebelum waktunya.

“Sepertinya mereka tahu bahwa kita kembali setelah lima tahun tidak bermain di sini lagi…” ujar Jesun sambil matanya terus menatap ke langit, tempat di mana kunang-kunang itu beterbangan di mana-mana.

Aku hanya tersenyum kecil padanya, lalu kembali memandang langit malam itu. Indah sekali… dengan bintang bertaburan dan kunang-kunang yang beterbangan. Malam ini seakan sempurna untukku dan Jesun…

Kami terus saja berbaring dengan hening sambil terus menatap kunang-kunang itu tanpa bosan. Tanpa sadar, waktu telah menunjukkan pukul 10.

“Omona! Sudah jam 10 malam! Umma pasti marah!” Jesun segera bangkit dari tidurnya dan berdiri tegak. Aku juga ikut bangkit dengan santai.

“Ayo pulang sekarang…” ajakku sambil menggenggam tangan Jesun. Tangannya dingin sekali, sepertinya ia merasa sedikit ketakutan.

Aku terus menggenggam tangannya erat selama kami berjalan pulang. Namun, sepertinya kami tidak bergerak sedikit pun dari tempat semula? Sepertinya kami hanya berputar-putar di sini saja sedari tadi…

Jesun semakin menggenggam erat tanganku. Nampak jelas ia ketakutan. Tangannya dingin dan berkeringat.

Kami berjalan dan terus berjalan, namun tak juga menemukan jalan pulang. Sementara Jesun sudah terlihat capek sekali. Dan jujur saja, aku juga merasa capek.

“Oppa, sudahlah… Kita menginap di hutan saja untuk semalam ini…” kata Jesun dengan gemetar. Sepertinya ia sudah menggigil kedinginan.

“Baiklah…” Akhirnya aku mengiyakan permintaannya setelah berpikir lama. Kami duduk di bawah sebuah pohon yang rimbun itu. Jesun menyandarkan kepalanya ke bahuku.

“Ini, pakailah…” Aku melepas jaket tebalku dan menyelimutinya ke badan Jesun. Namun sepertinya Jesun tidak mendengar, ia sudah tidur.

Perlahan-lahan mataku pun mulai terasa berat. Kepalaku mulai tak bisa kutahan. Akhirnya aku pun turut tertidur dalam mimpi kami yang indah…

****

“Lihat itu! Lihat! Putri bangsawan tidur dengan tukang kebun istana yang baru!”

Sayup-sayup kudengar suara orang-orang. Rasanya suara mereka dekat sekali, seakan-akan mereka sedang berbicara di telingaku.

Aku pun membuka mata perlahan dan mulai mengumpulkan kesadaranku pelan-pelan. Jesun tampaknya juga sudah mulai terbangun, walau masih setengah sadar.

Saat aku sudah benar-benar terjaga, aku melihat banyak orang mengelilingi kami. Tunggu… ada apa ini?

“Dasar laki-laki keji! Apa yang kau lakukan dengan tuan putri semalam?” Seorang ibu-ibu yang sudah tua meneriakiku sambil menebas-nebaskan sapunya ke arahku. Beruntung aku bisa menghindari tebasan sapunya.

“Apa yang ter-“ Kata-kataku terputus ketika orang-orang yang lain mulai angkat bicara juga.

“Tukang kebun tak tahu diri! Kau tak tahu siapa orang yang tidur bersamamu semalam?”

“Tidur? Aku memang tidur di sini! Tapi aku tak melakukan apa-apa terhadapnya! Aku berani bersumpah!” Aku segera bangkit dari dudukku dan berdiri tegak. Keringat mengalir di pipiku.

“Bohong! Dasar pembohong!” Orang-orang mulai meneriakiku pembohong. Sementara aku hanya diam, tak tahu harus berkata apa di saat seperti ini.

Tiba-tiba Jesun bangkit dan bicara.

“Kalian semua salah paham! Ia tidak melakukan apa-apa terhadapku! Ia… dia… dia adalah kakakku!”

Semua orang di sana terperangah. Sementara Jesun sudah pecah dalam tangisan. Dan aku hanya bisa menenangkannya.

Tiba-tiba terdengar suara terompet, dan secara otomatis orang-orang yang berkumpul di situ minggir ke sisi-sisi, seakan memberi jalan kepada seseorang. Namun, siapa ya? Orang itu pastilah orang terhormat.

Dan benar saja, ternyata orang itu tak lain adalah ibu Jesun, atau bisa juga kusebut sebagai ibuku.

“Ternyata kau lagi!” Ibu Jesun menunjukku dengan mata garang. “Sekarang kalian berdua ikut aku ke rumah! Ayo!” Ibu Jesun menarik Jesun dari pelukanku walaupun Jesun masih meronta-ronta. Sementara aku digiring oleh pengawal istana. Tanganku digenggam sangat erat, sampai-sampai tercetak lingkaran bekas genggaman di pergelangan tanganku.

Setelah kami sampai di rumah, ibu Jesun segera memintaku dan Jesun untuk masuk ke ruangannya. Sepertinya omongan kali ini akan lebih serius jika dibandingkan dengan lima tahun lalu, di mana hukumanku adalah dipenjara selama lima tahun.

“SHIN MINHO!” Ibu menggebrak meja yang berada di depannya sehingga benda-benda di atasnya terlonjak. “Ternyata kau kembali lagi ke sini… apa kau belum kapok dengan hukuman yang telah kuberikan?” Ibu menatapku tajam, dan aku membalas tatapannya. Aku tak boleh takut, aku harus berani untuk mempertahankan perasaanku. Walau aku tahu perasaan ini salah dan menyimpang…

“Saya juga tidak tahu kalau saya bisa bertemu dengan Jesun lagi, nyonya…” jawabku mantap, walau suaraku menjadi lebih kecil dari biasanya.

“Kalau kau tahu bahwa kau bertemu dengannya lagi, mengapa tak kau jauhi saja ia? Mengapa kau malah mencari masalah lebih dalam lagi? Tidakkah kau sadar, Shin Minho? Dan kau juga, Shin Jesun! Tidakkah kalian sadar kalau kalian itu SAUDARA KANDUNG!” Ibu menekankan kata-kata ‘saudara kandung’ itu. Aku tahu kami ini saudara kandung, dan cinta di antara kami memang terlarang…

“Tapi aku mencintainya, umma! Aku mencintainya bukan sebagai kakak kandungku!” Tiba-tiba Jesun melangkah maju ke arah Ibu. Betapa kagetnya aku ketika tiba-tiba Ibu menampar pipi Jesun dengan sangat keras. Bunyinya sama saja seperti saat kita menjatuhkan keramik ke lantai.

Jesun memegangi pipinya yang memerah. Ia menangis.

“Nyonya! Saya peringatkan tolong jangan sakiti Jesun! Ia tidak bersalah!” kataku kepada Ibu yang masih menatap tajam ke arah kami. Aku mengelus kepala Jesun untuk menenangkannya.

“Kau bilang kau ingin Jesun bahagia! Kau bilang kau tak ingin aku memukul Jesun! Namun mengapa kau tak juga pergi? Mengapa kau malah bertahan di sini? Keberadaanmu di sini tak bisa diterima!” Ibu kembali menggebrak meja dengan keras.

“Tak tahukah kalian kalau cinta kalian ini TERLARANG. Tidak ada saudara yang boleh jatuh cinta kepada saudara sendiri! Lebih-lebih kalian memiliki appa dan umma yang sama! Hal itu sangat konyol dan memalukan!”

Tidak ada saudara yang boleh jatuh cinta kepada saudara sendiri!

Kata-kata itu terus menerus terngiang di telingaku seakan alarm otakku.

Ya, memang tidak ada saudara yang boleh jatuh cinta kepada saudara sendiri…

Aku memang salah telah jatuh cinta kepada adik kandungku sendiri…

Aku salah…

Aku tahu cinta kami terlarang…

Namun aku tak bisa jauh dari Jesun…

Aku merasa aku adalah sebagian dari hatinya…

Yang akan terbelah dua jika kami dipisahkan…

Itu sama saja berarti aku bisa mati jika tak melihat Jesun barang sehari pun…

Sonyeoga sonyeoneul manna apeun sarangi ije sijak dwae…

Girl meets boy and a painful love starts now…

Malhal su eomnun sarangun meariga dwae sarangi tto sijak dwae..

An unspeakable love becomes an echo and love starts again…

Dewa-dewi seakan membisikkan lagu-laguan kepadaku saat ini. Lagu-lagu yang menggambarkan kisah cintaku dan Jesun…

Jesun masih menangis di dekapanku. Dan ibu masih menatap kami sangar. Aku melepaskan genggaman Jesun di tanganku lalu melangkah maju ke arah ibu.

“Baiklah, nyonya. Saya memang hanyalah seorang pembuat onar di kerajaan bangsawan ini. Sejak saya lahir, saya memang tak diinginkan. Hingga saya besar pun, saya masih tak berguna. Saya tahu saya hanyalah benalu di sini. Dan hari ini saya akan pergi meninggalkan istana ini sekarang juga. Dan saya akan meninggalkan Korea Selatan juga.” Aku berkata mantap sambil melangkah meninggalkan ruangan. Ibu menatapku dengan senyum senang, sementara Jesun mencoba mengejarku, namun ibu menahannya.

Aku melangkah di sepanjang koridor rumah sambil terus berpikir.

Cinta tidak selamanya menyenangkan…

Bagiku, cinta hanya bisa menimbulkan sakit…

Sakit yang teramat sangat hingga rasanya seperti ingin mati saja…

Jesun, Jesun, dan Jesun.

Mengapa aku kembali bertemu dengannya?

Mengapa?

Apakah Tuhan dengan sengaja mempertemukanku dengannya agar aku merasakan kesakitan yang sama seperti lima tahun yang lalu lagi?

Jesun, Jesun, dan Jesun.

Gadis ini…

Gadis yang kucintai, namun juga yang kubenci…

Seandainya dia tak lahir di dunia…

Jesun, Jesun, dan Jesun.

Gadis ini hanya membuat susah hidupku saja!

****

Hari ini aku akan pergi meninggalkan Korea Selatan dan merantau ke Eropa. Sungguh jauh bukan? Ya, ini memang benua yang diusulkan ibu untukku, agar aku berada jauh dari Jesun.

Ibu sudah membiayai semua tiket-tiketku ke sana. Ibu juga menjamin kehidupanku di sana. Di sana, aku akan diperlakukan seperti pangeran.

Namun apa artinya seorang pangeran jika tidak ada putrinya?

Aku turun dari mobil milik ibu dan melangkah memasuki pintu masuk bandara. Namun sejurus kemudian kudengar teriakan seseorang yang sudah tak asing lagi di telingaku.

“Andwae!!! Oppa!!! Jangan pergi!!!” teriak orang itu. Aku berbalik, dan lagi-lagi yang kulihat adalah Jesun. Hah! Untuk apa Jesun mengejarku. Yang ada dia akan merasakan kerugiannya nanti. Namun ternyata hatiku berkata lain dengan otakku. Hati kecilku malah menyuruh tubuhku untuk berjalan mendekati dirinya yang masih berada di seberang jalan dan mendekapnya.

“Oppa…” Jesun menangis di dekapanku. “Oppa, jangan pergi…” Jesun masih menangis terisak-isak. Aku hanya bisa menatapnya nanar.

“Tidak apa, Jesun-ah… Biarkan aku pergi untuk sementara. Suatu saat nanti, aku akan kembali… Namun bukan sebagai orang yang kau cintai, aku akan datang sebagai kakak kandungmu… Kakak kandungmu yang mencintai dan menyayangimu sepenuh hati…” Perlahan-lahan air mataku menetes juga, membasahi rambut hitam Jesun.

Tiba-tiba seseorang menarikku dengan paksa dari dekapan Jesun. Jesun hanya bisa meraung-raung.

“Oppa! Andwae!! Andwae!!” Jesun mengejarku menyebrangi jalan itu. Namun, mungkin Dewi Fortuna tidak sedang berada di sampingku saat itu, sebuah bus bandara yang berukuran besar melaju kencang ke arah Jesun.

Tanpa ragu, aku segera melepas genggaman para pengawal-pengawal yang ditugaskan untuk mengantarku ke bandara. Aku segera lari dari sana dan mendekap Jesun erat di pelukanku.

Setelah itu aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

****

(Jesun’s P.O.V)

Aku menyadari diriku berada di atas kasur putih di ruangan serba putih. Apa yang terjadi pada diriku? Dan… mana Minho oppa?

Aku segera terduduk di ranjang dan menyadari bahwa di sana hanya ada ummaku.

“Umma! Mana Minho oppa?” tanyaku panik. Perasaanku saat itu benar-benar buruk. Aku merasa sesuatu yang buruk telah terjadi.

“Maafkan umma, nak…” Tiba-tiba ibu mendekapku erat. “Maafkan umma karena selama ini umma tak pernah menganggap kau dan oppamu sebagai anak kandung umma…” Umma memelukku sambil menangis. Aku membalas pelukan umma.

“Sudahlah, tidak apa-apa umma. Itu memang salah kami karena menjalin cinta terlarang…” kataku. Namun sejurus kemudian mataku mulai jelalatan lagi mencari-cari Minho.

“Mana Minho oppa?”

“Minho? Dia… dia baik-baik saja…” kata umma seraya menghapus air matanya dengan lengan bajunya.

Aku terdiam. Apa Minho sudah… tiada? Ah, tidak. Tidak mungkin… Kalau Minho sudah tiada, aku pasti juga sudah meninggal sekarang, karena aku yakin betul kami punya ikatan batin yang kuat.

Umma masih memelukku erat. Namun saat itu pikiranku melayang kemana-mana, hanya memikirkan Minho seorang.

****

(setting waktu : 6 tahun kemudian)

Kini aku sudah bekerja di salah satu perusahaan milik pemerintah. Hingga sekarang, aku masih mengingat tragedi enam tahun lalu. Tragedi tragis yang menimpaku dan kakak kandungku sendiri…

Aku sedang membersihkan mejaku dari debu ketika seorang lelaki tinggi jangkung menghampiriku.

“Maaf, apakah saya mengenal anda?” tanyaku sopan padanya. Orang itu hanya tersenyum kecil. Lama aku memperhatikan wajahnya.Ternyata aku memang benar mengenalnya. Orang itu tak lain adalah Shin Minho, kakak kandungku sekaligus cinta pertamaku.

“Oppa…” Aku langsung memeluknya begitu aku sadar. “Kenapa lama sekali?”

“Maafkan aku, dongsaengku tersayang…” Minho membelai rambutku. Kini oppaku itu sudah tinggi sekali, jauh lebih tinggi daripada yang kuduga.

“Waktu itu… mengapa oppa bisa selamat?” tanyaku ragu-ragu. Minho tersenyum.

“Waktu itu aku hanya luka ringan, kau menderita luka yang lebih berat. Namun saat itu aku sengaja meminta umma untuk segera membawaku ke Eropa secepatnya sebelum kau sadar…”

“Tapi, kenapa oppa melakukan itu? Apa oppa ingin menghindariku?”

“Bukan, dongsaengku yang cantik. Oppa hanya ingin menepati janji oppa sesaat sebelum oppa akan berangkat ke Eropa. Oppa ingin kembali ke dekapanmu, sebagai seorang kakak… bukan sebagai seorang yang kau cintai…” Minho mengeratkan pelukannya padaku, aku pun membalasnya.

Kini kami bisa hidup bahagia sebagai seorang kakak dan adik yang akur.

Dan aku yakin aku takkan pernah merasakan sakit itu lagi.

Aku juga yakin aku takkan mendengar lagu itu lagi.

Lagu menyedihkan yang menggambarkan cintaku dengan Minho oppa dulu…

Sonyeoga sonyeoneul manna apeun sarangi ije sijak dwae…

Girl meets boy and a painful love starts now…

Malhal su eomnun sarangun meariga dwae sarangi tto sijak dwae..

An unspeakable love becomes an echo and love starts again…

~Fin~

Signature

This FF is ours. Please keep read our blog and keep support us.

{Shounen-Ai} The Lingery Misery

Title: The Lingering Misery
Author: F
Length: Around 1000 words
Status: One-shot
Genre: Angst What would I write beside angst anyway?
Rating: PG For the concept of love, I guess
Pairing: Broken MinKey, crossed by Taemin
Warning: None
Author’s Note: So I wrote ten (seemingly quite) random drabbles for the iTunes Drabble Meme the other day. You can read it here if you want. A few readers wanted me to continue the 2MinKey drabbles, and here is the result. I’ve written their story in a thousand-word fic. I hope you can enjoy this. I put quite a lot of myself in it. Love does nothing but breaking my heart. And why the hell did I suddenly go emo in this blog?
To those who requested the 2MinKey, this is for you :)

“I hate it, Minho. I hate it,” Key exploded in the bedroom.

“I know, Kibum. I know. Will you please sit down?” Minho told Key soothingly. However, Key kept ranting, as though he wasn’t listening to Minho. Suddenly, a pair of strong arms pulled Key to Minho’s bed. He wrapped an arm around Key’s shoulders.

“How about this?” Minho whispered in Key’s ears. “Everytime you’re doing those girl groups’ dance, think about me. Think about how you’re only doing it for me. Can you do it?”

Key pouted.

“I guess I can,” Key said before Minho enveloped his lips in a kiss.

Right then, Taemin chose to step into SHINee’s shared bedroom. He stopped in his step once he saw the couple in front of him.

“Oh, I’m sorry,” he said. He was about to turn away when Key stopped him.

“It’s okay, Taeminnie. I have to make dinner anyway,” chimed Key. Then, he turned again to Minho. “We’ll continue this tonight,” he promised.

————————–

“Hyung,” Taemin started in the middle of cooking dinner with Key.

“Yes, Taemin?”

“Do you love, Minho hyung?”

Key laughed.

“Of course I do, silly.”

Taemin could see stars in Key’s eyes when he said those words.

“Why the sudden question?” Key asked Taemin in return. The magnae shrugged.

“Curiosity, I guess. I was just wondering how it felt.”

“How what felt? Love?”

Taemin gave Key another shrug.

“It feels wonderful. You’ll know when you fall in love.”

“How do you know that you’re in love?”

Key thought about the question for a while.

“I guess you’ll know when you can’t stop smiling like an idiot everytime you think about that loved one of yours. Now get away from the kitchen, you’re ruining my dinner.”

“Thank God! I thought you’re gonna make me stay here for hours!”

Key slapped Taemin’s back playfully before the younger left the kitchen only to join Minho in the living room.

“Where’s Jinki and Jonghyun hyung?” Taemin asked the tallest member of SHINee who was watching the TV.

“Schedule,” Minho answered shortly. Taemin sat down beside him, trying to gain his attention, but he didn’t look at him once. Not even a glance.

“What are you watching?” Taemin tried again.

“Nothing interesting.”

Silence.

“I’m gonna help Kibum in the kitchen.”

Then, Minho left Taemin without saying another word. From where he was sitting, Taemin could see Minho circled his arms around Key’s waist. Taemin felt like screaming in anger, but he knew he couldn’t. So he crushed the cushions instead.

————————–

That night, when everyone was already asleep, Taemin got out of his bed and walked towards Minho’s bed. He just stood there, staring at the flawlessness of Minho’s features. His closed eyes, his nose, his lips, Taemin wanted to touch them all. He wanted to touch everything that was Minho. He wanted to hug him. But he never dared. He could just look at Minho from afar with longing, desire, and lust building up in his chest. He didn’t know when it began. He only knew that he loved Minho at this exact moment. He loved him yesterday, he loved him now, and he would still love him tomorrow. If only his hyung knew how Taemin held back the ache in his heart everytime he saw him liplocking with Key. Even a single eye-communication between Minho and Key could already make Taemin felt like being stabbed right through the heart. How he longed for Minho to be his. But that would mean Key being furious out of his wits.

With the dawning realization that he would never be with Minho, Taemin sat on the edge of his hyung’s bed. Right that moment, Minho turned in his sleep and found Taemin’s fingers.

“Kibum…” Minho said deliriously.

And Taemin cried.

————————–

“Taeminnie, are you okay?” Key asked his beloved son in a worrisome tone. Taemin was sitting alone in the computer room. He was staring at something outside the window, but then again, he could be staring into nothing at all.

“Fine,” Taemin answered lifelessly.

“You know you can confide in me.”

Key pulled another chair to accompany Taemin who was still staring at velvet sky. Silence built up between them, for Key didn’t want to push Taemin even further if the boy really didn’t want to talk. But the magnae talked eventually.

“I think I have to disagree with you, hyung.”

The older of the two didn’t answer, waiting for the lead dancer to continue his sentence.

“Feeling wonderful when thinking about your loved ones doesn’t necessarily mean that you’re in love. You could just be happy over the idea of being in love.”

Taemin’s ‘umma’ laughed softly.

“What do you know about love, Taemin? You’re still too young.”

Taemin turned his head and looked straight into Key’s eyes.

“I know enough that most of the time, the pain of being unable to be with someone is the sole indicator that tells you that you’re in love with that someone.”

Then both of them could hear the leader calling for a band meeting. They both left the computer room with Key patting Taemin’s back softly.

“You know, Taemin, if you really love someone, then go for it.”

————————–

“What is it, Minho?” Key asked Minho accusingly.

“Nothing.”

“I don’t believe it. You’ve been avoiding me for weeks!”

“So what? I’m busy.”

“No way. You got no schedule at all!”

“I’ve been busy with my personal life, okay?”

Key’s lips quivered.

“Am I not a part of your personal life anymore?”

Minho couldn’t say anything.

“There’s someone else, isn’t it?”

Minho could hear Key choked as he held back his tears.

“I’m sorry, Kibum.”

That was all Minho could say. That was all Key needed to leave the room with tears streaming down his face.

————————–

It was a quiet day in SHINee’s dorm. Everyone was on their schedule, except for Minho and Taemin. They used the best of their stolen minutes, considering Key hadn’t known about their newly-made relationship yet.

The TV was on. Minho laughed everytime he heard the jokes the gagmen were throwing. Taemin was on his side, staring at him lovingly. He was finally his. Minho was finally his to hug, to kiss, to love.

Taemin nudged closer to his gangly lover, pouting, asking for a hug, which Minho gave the boy ever so willingly. Taemin rested his chest on Minho’s well-built chest, watching the TV along with him.

Seconds later, Taemin’s thoughts were up in the clouds. He could still feel Minho’s warm chest. He could still see the pictures moving on the TV. But he could no longer hear anything, except one thing. The sound of Key silently crying since the night Minho left him for Taemin.

fin

SNAPSHOTS

Title: Snapshots
Status:
One-shot
Length:
Around 2.200 words
Author:
F
Pairing:
Onew/Reader (‘I’ means ‘YOU’)
Other characters:
SHINee’s managers
Genre:
Romance (?)
Rating:
G. No male-male relationships. No sexual explicit content. Not even a single swear word.
Summary:
Onew had a new hobby: taking pictures of you.
Note and Disclaimer:
Characters are not mine, except the make up artist. The rest belong to their rightful selves.

This fic was inspired by the scene in SHINee’s Night Photobook DVD. The one where Onew played with a polaroid, then Key and Jonghyun kept praising him, saying that he was a good photographer. I’m certain you’ve all watched it.

This fic might be weird. I hope it doesn’t fail. Sorry. I was feeling lonely the moment I wrote it. I just had to share that loneliness with these characters…

 

I knocked on the coordinator’s door. It was my first day as a temporary make up staff in SME. The real make up artist was away for some reason that I didn’t really know. Whatever. I was glad I could make some extra money. Life had been hard recently, especially when you were still in school. I needed the money so badly. I considered the make up artist’s call was a call from the heavens when she asked me to temp for her. So here was I, reporting myself to the artist coordinator’s office. He greeted me and immediately rushed me to SBS studio. I was to hurry to Inkigayo’s backstage, SHINee was waiting to be made up.

I walked fast to SHINee’s waiting room. I passed many idols along the way. My friends would kill me if they knew where I was at the moment. But I wasn’t really the fangirl type. I knew none of these idols. I only knew those who were famous enough to be in TV everyday. I was familiar with SHINee, but not really. I wasn’t making sense. Hell, whatever. I was here for work.

In the waiting room were five boys and two older men, whom I believed to be SHINee’s managers. Three of the boys were arguing about whether or not the blonde one amongst them was the one who farted. The blonde’s name was Jonghyun if I was not mistaken. That quiet one on the corner reading a book most probably would be Minho. And I believed this dorky one was Onew. He was playing around with a mini digital camera on his hands.

“Who are you?” One of the manager asked me.

“I’m temping for the make up artist.”

“Well, hurry! SHINee’s up in an hour!”

Aish, this was what I hate about showbiz. They always rushed things and treated other people as though no one mattered except their artists. I went with Minho’s first, because he seemed to be the most cooperative one. I thanked God that I made up boys. They took less time in being made up. Next, I applied some make up for the cheeky one, whom later I found out was ‘magnae Taemin’. The ones called Jonghyun and Key were the most annoying. They kept telling me to ‘cover these zits’ or ‘hide this scar’ or whatever. I was a make up artist. I knew how to do my job. I wished they would shut up.

“Key, Jonghyun, the lady knows how to make your face up. Stop nagging her.”

Thank you, Onew, I thought silently.

After I was done with the brats, I moved to Onew. He was as cooperative as Minho. I loved cooperative people. They made my job easier. As I was applying foundation on his face, he showed me a picture on his digital camera.

“I’m sorry, but I took a picture of you. Is that okay? I just got this camera and I’m still learning how to use it,” he said.

I glanced at my picture on his camera. He snapped me when I was making Taemin up. I was surprised. My picture was good. And I had never been the photogenic one.

“It’s good. Thank you,” I told him.

“I’ll delete it if you don’t like me taking pictures of you,” Onew said again.

“No, it’s fine.”

How could I think about Onew taking pictures of me when these people kept nagging me to hurry. Finally, I was done in time. SHINee was to be ready behind the stage. Before he went out of the waiting room, Onew spoke to me.

“Remind me to give you a copy of the picture.”

Yeah, yeah, as if he would remember me.

To tell you the truth, this wasn’t my first time as a make up artist, but maybe different artists needed to have different attentions. Or maybe the artists I used to work with were not as famous as SHINee. SHINee was as busy as a bee. I was expected to be at their management’s demand every freaking day. Today I was going with Minho for Dream Team shooting. Next, I was with Key and Taemin for Sukira recording. I meant, that was a freaking radio show! What would you need make up for? Aish, I had to stop whining. The pay was beyond good. I’d better shut up and do my job.

Weekend probably was the busiest time of all, with three continuous stages from Friday to Sunday. Poor kids. They never seemed to be resting. I spent most of my time making up the heavy bags under their eyes.

“Why are you frowning?” Onew asked me when I hid his eye bags with concealer.

“Your eye bags are the heaviest and darkest. Have you slept?”

He grinned. I liked the way his eyes disappeared everytime he smiled.

“Can you keep a secret?” I only looked at him, still busy with powdering his face. Then he whispered, “I didn’t sleep because I was busy taking pictures of the others sleeping. Do you want to see the pictures?”

He didn’t wait for my reply. He took his digital camera from his bag and turned it on. I sighed and turned my attention towards his camera for the sake of humoring him. The pictures were good.

“You’re good,” I told him honestly.

“I am? Everyone also says so. But I’m just doing this for fun.”

“Be serious. Maybe you can be a great photographer someday,” I told him absent-mindedly.

I was finally back in my flat around midnight. I had to be around for SHINee’s late night shooting. I threw my bag on the couch, the contents were spilt because I forgot to zip it. Out came a case of CD, something I was sure I had never put in my bag before. I went down to grab it. There was a writing on the case, ‘sorry I took your pictures.’ I figured this must be from Onew.

I turned on my laptop and put the CD in. I expected to find only one picture, since he only showed a picture of me he took once. Instead, I found a folder full of my pictures in the CD. I frowned and scanned all of my faces in confusion. When did he ever take my pictures? But I guessed that was the point of a ‘candid camera’. There were pictures of me applying make up, me listening to my iPod, me reading in the waiting room, and more. I was certain I had never realized that Onew took many pictures of me.

What amazed me more was how I looked in Onew’s perspective. I looked… good. Not meaning to sound narcissistic or what, but I had never been a camera-face. That was why I chose to be a make up artist instead, so people would end up beautiful at the end of the camera. These Onew-taken pictures of me were at least… bearable to see. In fact, I liked them a lot. I made a mental note to thank him in the morning when I met him.

Onew just smiled when I thanked him for the pictures.

“I hope you’re not mad at me for taking your pictures. I didn’t mean to stalk you or something,” he apologized. I laughed.

“If those pictures were creepy, I would absolutely go ballistic. But they are good. I like them. So, I guess it’s alright.”

He smiled again. Eyes disappeared amazingly.

To my surprise, it wasn’t the last CD I received. The next day, Onew gave me another CD of my pictures. They were even better than the last ones he gave me.

“Why do you always snap me?” I asked him. Surprisingly, he blushed.

“Because… I think you have the most perfect existence to be captured in my camera.”

I laughed.

“Excuse me?” I asked him again.

“No, seriously. It’s just my finger is clicking on its own everytime you’re in the room. Look at these.” He showed me one of my picture. “A picture is worth a thousand words. In your case, it’s worth an encyclopedia. I just have these many images in my head on how great your pictures will look. Are you okay?”

Onew finally realized that I was looking at him intently.

“I’m… I’m flattered.”

No, I was beyond flattered. No one had ever really paid much attention to me, moreover taken pictures of me. I was… dazed. Onew knew my existence. He saw me.

It seemed like that was the beginning of endless candid photo shoots. I became more relaxed whenever we were in the same room, knowing that he was busy taking pictures of me. I got to admit, he was getting better. I never thought I could look that good in pictures. Me, the make up artist who rarely put on make up on herself.

“You should have a more serious camera, Jinki,” I told him. Now that we had become friends, he preferred to be called by his real name. “This new found hidden talent of yours would be wasted away in that limited digital camera.”

The next day, he showed me his new DSLR, smiling from ear to ear. He began clicking away.

“Hyung, decide! You want to be a singer or a photographer?” Key demanded.

“Can’t I be both? Siwon hyung is,” he answered.

“But, please, would you stop snapping our pictures in most disastrous of times?” Jonghyun begged, making Onew grinned.

“On the contrary, that’s exactly the point of me taking pictures of you.”

“We have to hide that camera from him,” Taemin whispered to his hyungs.

I was alone in the waiting room, reading magazine and listeing to my iPod. I looked up when I heard someone came. It was Onew. I turned my attention to the magazine again. I saw a shadow passing left and right on my magazine. I looked up again. Onew was pacing back and forth with his camera in his hand. He stopped when he realized that I was looking at him. I raised my eyebrows, encouraging him to say whatever things he had on his mind. He sat beside me, eyes wandering around the room, cheeks slightly getting redder.

“I… I just realized that… That we never took a picture…” he stuttered. I was trying to understand what he wanted to say. I smiled, amused, when it finally hit me.

“You want us to take a picture together?”

Onew smiled and nodded excitedly.

“Sure!”

He took his mini digital camera and we both smiled to the camera.

“Thank you,” he said.

I waved a hand, meaning he didn’t need to make a fuss about it.

When Onew wasn’t around, the magnae sat beside me.

“Noona, do you know that Onew hyung takes your pictures a lot?” he asked.

“Yes. Why?”

“I was just wondering. He has so many pictures of you, I’m afraid he’s stalking you. I just want to make sure you’re alright.”

Oh my… Wasn’t this boy adorable?

“Nah, it’s fine, Taemin. I bet he’s gonna burn them anyway.”

“I don’t think so, noona. You’re the only one he takes pictures of recently. The number of your pictures is just increasing in our shared computer.”

I couldn’t believe this, but I blushed.

My temping period was finally over. The real make up artist would be back to work tomorrow. And I had just gotten used to the way Onew always tried to engage me in conversations everytime I was applying his make up.

“Do you realize that you look extra pretty today? I took lots of pictures of you. I’ll give you the files tomorrow,” he told me.

I blushed violently. My heart was beating extra fast because of his words.

“Keep it. I won’t be able to get them tomorrow.”

“Why not?” He looked confused.

“Your make up artist will be back tomorrow. I’m just a substitute, remember?”

“Oh.”

Was it just me or did he really look disappointed?

“So… this would be the last time we’ll ever meet?” he asked me.

“Who knows, Jinki? I might just be called by SME again.”

“I could still call you, right? I mean, I could email you the pictures,” he stuttered nervously.

I put down my brush and stared at him. I thought about it for a while. Even though I didn’t think it was such a good idea for me and him to keep in touch, I had to admit that I wanted him to contact me.

“Yeah… You can call me – email me – whatever.”

Why was I suddenly nervous? I continued applying make up to distract me from the sudden nervousness. My heart was beating like crazy. I blew away the bit of loose powder on his forehead, and I finally realized that we were so close to each other. He stared at me. I was so nervous, I didn’t know what to do. It seemed like his face was moving towards me when Minho suddenly appeared in the doorway.

“Hyung, why are you still here? Hurry up! We’re next!”

Minho left. Onew looked uncertainly at the doorway, then he looked at me. Maybe he was trying to say something, I could only look at him, waiting. Job was calling. He left. Recording continued until late. The artist coordinator told me to go home, for there was no need for me to be around anymore. I reluctantly gathered all my things and put them in my bag. My chest felt heavy. As I walked towards the exit door, I felt like I was leaving destiny behind.

What I didn’t know was the minute I stepped out of the building, Onew was running only to find an empty waiting room.

Fin

 

It’s Not SMTown, It’s SMKompleks

~Di Teater..~
Narator : *keluar backstage di iringi spot light* Ehem.. Ehem.. *ngecek mic*

~diam sejenak~

Narator : APA KABAR SEMUANYA?? SIAP DIGOYANG?? *siap pose inul geje*

PRANGG !!!

DZIGG!!

BRUGG!!

– n.b : bunyi di atas adalah lemparan benda tumpul dari penonton ke arah narrator-

Author : kayaknya gue udah salah pilih narrator ya?? *geleng kepala bingung karena ketololan sendiri*

Narator : STOPP!! *ngacungin pasak skaligus bawang putih untuk menghentikan aksi anarkis penonton*

Penonton : LO KIRA KITA TUH DRAKULA??!!

– p.s : adegan di atas Cuma OOT’nya author yang lagi kambuh penyakitnya. Jadi jangan terlalu di anggep serius tuh adegan di atas –

Ok, get the real….

***

Alkisah, di suatu bagian di Kota FanFic terdapatlah sebuah kompleks perumahan bernama SM kompleks.

Awalnya, kehidupan di kompleks itu masih sangat normal atau itu berarti masih terdiri atas kaum hawa dan adam. Tapi karena banyak kejadian aneh yang terjadi karena tingkah ‘gila’ para kaum adam, maka lama-kelamaan para warga wanita memutuskan untuk pindah dari Kompleks tersebut.

Narator : ~Entah muncul dari mana~ Penonton.. SIAPA dan APA saja yang mengakibatkan para wanita pindah dari SM kompleks?? ~wajah serius~

Penonton : ~mulai tegang dan antusias~

Author : Wahh, ni’ narrator bisa serius juga ya?? ~ikut antusias~

Narator : MARI.. KITA KUPAS KEJADIAN INI SECARA TAJAM… SETAJAM… ~wajah makin menunjukkan kesan misterius~

~penonton makin deg-degan~

Narator : PENITI ~ngacungin peniti sambil pasang wajah jijay~

GUBRAKK !!!

Narator : Lho kok kalian pingsan sih?? ~bingung ngeliat penonton yang udah pada pingsan di kursi masing-masing~

***

Mreka memiliki tugas dan tanggung jawab masing- masing dalam menjalani kehidupan di kompleks tersebut.

Sebagai Ketua Rukun Tetangga (RT) adalah Leeteuk. Ia memiliki seorang adik perempuan yang hidup terpisah darinya karena sang adik masih harus kuliah di universitas di luar negeri. Leeteuk adalah sarjana kedokteran + ahli gizi. Tapi karena ijazah kedokterannya hanyut oleh arus banjir saat sedang musim hujan, maka sampai sekarang ia belum bisa membuka praktek umum. Selain itu, ia juga sangat memperhatikan pertumbuhan warganya. Bahkan, ia selalu mengelilingi kompleks sebanyak 3 kali dalam sehari hanya untuk mengecek kondisi warganya.

~example~

Leeteuk : Hallo, mbak.. ~wajah sumringah~

warga 1 : Hmmm.. ~wajah bosan karena sudah mengetahui apa yang akan dilakukan Leeteuk~

~Leeteuk langsung membentangkan tali meteran yang biasa digunakan untuk mengukur baju ke arah warga 1~

Leeteuk : ~ngangguk- ngangguk~ Bagus!! Tinggi anda sudah bertambah 0,001 cm semenjak saya datang tadi siang. Nanti saya akan datang lagi jam 9 malam. Jangan lupa makan makanan berprotein ya… ~melambaikan tangan sambil keluar ruangan~

~warga 1 langsung berencana pindah dari kompleks itu sebelum jam 9 malam~

***

Berikutnya adalah Onew. Dia adalah warga yang paling kaya di kompleks. Selain memiliki sebuah warung, ia juga memiliki sebuah tempat kost yang cukup laris dihuni oleh para mahasiswa. Istri Onew adalah seorang arkeolog yang gemar mencari dan mengumpulkan fosil tulang apapun jenisnya.

Kini istri Kangin sedang berada di tempat- yang- tidak- diketahui-namanya untuk mencari fosil tulang dari plankton. Tapi sampai sekarang, istrinya masih belum kembali juga. Hal itulah yang membuat Onew sering bengong dan mengigau aneh apabila ada wanita di sekitarnya.

~example~

…di warung milik Onew..

Warga 1 : Bang, beli gula sekilo

Onew : *masih bengong mikirin istri yang belum pulang biarpun udah 3 kali puasa 3 kali lebaran*

~Narator dijtak oleh Onew~

Onew : Lo kira istri gue si Thoyyib?? *nggak terima istrinya disamain kayak si thoyyib*

Narator : Lho? Kok protes ke gue? Gue kan Cuma disuruh baca ni teks aja. Kalau mau protes, ke author dong!! Kan dia yang bikin cerita.

~Onew memandang tajam kea rah author~

~author sembunyi di belakang Junho~

Warga 1 : Ehem, ehem… *ngerasa bete karna dicuekin* Mau dilanjutin nggak?

Narator : *dorong Onew ke stage*

Author : Ulangi lagi ya.. Ready.. Action!!!

~ TAKE 2 ~
Warga 1 : Bang, beli gula sekilo..

Onew : *Bengong*

Warga 1 : Bang.. beli gula!!! *agak berteriak*

Onew : Hah?? *nengok bentar kea rah si warga 1* Beli gula?? *muka sedih* HUWAAAA.. si eneng juga sering minta gula kalo the’nya kurang manis!!! *nangis tersedu-sedu*

Warga 1 : Ooh, maaf.. maaf.. kalo gitu saya beli susu aja. *mulai panic gara-gara liat ibu-ibu nangis*

Onew : HUWAAA!!! Saya juga sering minta susu tiap malemm ke si eneng!!! *nangis makin kenceng*

Warga 1 : HAH?? Minta susu tiap malem?? *senyum mesum*

~dijitak ama Onew~

Onew : maksudnya tuh saya sering minta dibikinin susu coklat kalo lagi insomnia. Mesum aja sih pikiran situ!!

Warga 1 : ~nyengir garing~

Onew : Eh, tapi situ cucok juga ya?? Mau nggak ngegantiin istri saya buat sementara?? *ngedeketin si warga 1*

Warga 1 : ~kabur sebelum dikurung dalam karung~

***

Berikutnya adalah Taemin. Ia adalah anak Onew yang masih bersekolah di SMP GEJETAKJELAS. Sama seperti remaja kebanyakan, Taemin tak bisa dipisahkan dari yang namanya HANDPHONE, PULSA, dan SMS. Ia akan melakukan banyak cara untuk mendapatkan uang beli pulsa.

~example~
…di warung Onew..

Taemin : Pah, minta duit!! *menengadahkan tangan kea rah Onew*

Onew : Ehhh, ini anak.. *geleng-geleng kepala ngeliat kelakuan anaknya* mau berangkat sekolah tuh harusnya cium tangan orang tua!!! Bukannya malah langsung minta duit!!!

Taemin : cium tangannya nanti aja kalo udah dapet duit!! *masih di posisi semula*

Onew : Nggak ada duit!!

Taemin : Aaah, papah bohong!! *mulai merengek*

Onew : ~nggak peduli~

Taemin : kalau aku nggak dikasih duit, aku bakal kasih tau seluruh warga bahwa PAPAH PERNAH TIDUR BARENG CEWEK LAIN!!!

Onew : HAH?? Gossip dari mana tuh??

Taemin : Itu bukan gossip, Pah !! That’s real. *wajah penuh kemenangan* Mana duitnya?? *makin menyodorkan tangannya*

Onew : ~terpaksa ngasih duit gara-gara takut gossip itu bakal menghancurkan nama baiknya~

Taemin : ASYIKK!!! *langsung cium tangan Onew dan beranjak berangkat sekolah*

Onew : Ehh, tunggu dulu!! Kasih tau Papah, kapan kamu pernah liat Papah tidur bareng cewek lain??

Taemin : Di Bus Kopaja

Onew : Bus??

Taemin : Iya, ‘kan papah pernah ketiduran di bus kopaja, trus di sebelah papah tuh mahasiswa cewek yang juga lagi tidur. Sama aja kan kayak papah tidur bareng cewek itu??

Onew : ANAK KURANG AJARR!! *nyambit Taemin pake sandal jepit swallow yang ada di warungnya*

***

Warga berikutnya adalah Yoochun, Key, Jonghyun, dan Heechul.
Banyak warga yang sudah jadi korban ‘keganasan’ mereka berempat. Tapi mereka berempat sering ribut karena hal yang sepele.
Mereka berempat adalah mahasiswa yang nge’kost di tempat kost milik Onew. Mereka berempat memiliki hobby yang sama yaitu NGECENG!!!

~example~
..di loteng tempat kost…

Yoochun : Ehh, tau nggak? ada warga baru di blok C, loh!!

Key : cewe?

Jonghyun : cowok?

Heechul : ~ngejitak Key dan Jonghyun~ Ya cewek dong!! Mana mungkin Yoochun semangat promosiin warga cowok??

Key : Lho? Gue kan jawab cewek!! Kok masih dijitak juga?

Heechul : ~salting~ tangan gue kepleset. Nggak sengaja!!

Jonghyun : Trus, seksi nggak cewek’nya??

Yoochun : Beeeuhhh… *changcuters style* T.O.P B.G.T S.K.L G.T.L

Jonghyun, Key, Heechul : Apaan tuh??

Yoochun : Top banget sekali gitu lohh!!

Yoochun : Ehh, Itu orangnya!! *nunjuk kea rah jalan*

~Key, Jonghyun dan Heechul nengok kea rah jalan~

Jonghyun, Key, Heechul, Yoochun : Ceweeek!! Godain kita dong… ~nada tante girang~

cewekyangkatanyaseksibanget : Ini kompleks perumahan atau tempat prostitusi?? *merinding ketakutan*

***

Selanjutnya ada Kyuhyun, dan Junsu. Mereka adalah mahasiswa sebuah Universitas Pendidikan Swasta yang sedang menjalani PKL di Jaya Wijaya Regency. Selama di sana, mereka tinggal di rumah Leeteuk yang juga merupakan saudara dari Kyuhyun
Kyuhyun dan Junsu sangat peduli dengan yang namanya Membaca dan Menulis. Bahkan mereka pernah menjalani PKL di Irian Jaya untuk mengajar para warganya yang buta huruf.
Inilah sepenggalan kisah mereka selama di Irian Jaya..

Kyuhyun : Junsu, kok ibu-ibu di sini badannya gede semua ya?? *heran*

Junsu : Iya, ya. Jangan-jangan kalau mereka nulis huruf tuh pake kekuatan superman!!

Kyuhyun : *jitak Junsu* Pikiran lo tuh yang lebay!!

Ibuibuyangbadannyagede : Mas, kapan kita mulai belajar?? *mulai nggak sabar*

Kyuhyun : Oh, iya.. *inget ke tujuan semula* Nah, nanti ibu-ibu nulis di buku ini ya?? *membagikan sebuah buku dan sebatang pensil*

Junsu : Ibu-Ibu, coba sekarang tulis huruf A..

~KREEETT~

~Saking semangatnya, tuh Ibu-Ibu jadi nulis sambil ditekannn banget~

Kyuhyun :Buset!! Tuh kertas ampe robek!! *takjub*

Junsu :sekarang , huruf B..

~BREEEKK~

Kyuhyun : *geleng-geleng kepala*

Junsu : ~mulai ketakutan~ Uhhmph, C??

~KRIEETT~

Kyu : ~mulai ragu dengan teori bahwa manusia purba tuh udah punah~

Junsu : ~makin parno~ Sekarang, D..

Ibuibuyangbadannyagede: Mass, kertas saya udah habis!!

Eeteuk yg prihatin dengan kondisi Kyu yang makin frustasi gara-gara uangnya terus-terusan dipakai untuk membeli buku, menyarankan Kyu utk PKL di Jaya Wijaya Regency saja. Kyu dan Junsu menyetujui saran Eeteuk
Tapi bagaikan buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya, Kyu dan Junsu juga bagaikan malapetaka bagi warga pria lainnya.

~example~
..di rumah Leeteuk..

Kyu : Mbak,Mbak,sini deh!!

cewekygdipanggilmbak:*menghampiri Kyu* Ada apa, mass??

Kyu dan Junsu : Mba, coba eja huruf Alpabhet 10 kali..

cewekyangdipanggilmba: HAH??

Junsu : Iya, mba. Ini bertujuan supaya mbak jadi fasih dalam membaca huruf alphabet.

cewekyangdipanggilmba: ~bengong~

***

Berikutnya ada Sungmin. Ia adalah siswa SMA yang sangat mahir merebut hati para ‘bule’. Tidak terhitung sudah berapa banyak pacarnya yang bukan warga Indonesia. Kabar terakhir, kini ia sedang menjalin hubungan dengan salah seorang personil girlband terkenal yang ada di luar negeri. Tapi sampai sekarang ia dan pacarnya hanya menjalin hubungan lewat dunia maya saja.

Narator : Beeuhh, keren banget nihh si Sungmin!!

Sungmin : ~senyum penuh kharisma~ Makasih, makasih..

Narator : Apa sih rahasianya, mass?? *penasaran*

Sungmin : Waahh, rahasia perusahaan tuh mbak. Nggak boleh dikasih tau ke orang lain.

Narator : Yaah, kok gitu sih?? Pliss dong.. Kasih tau apa rahasianya..

Sungmin : *menimbang sejenak* Ya udah deh, saya kasih tau rahasianya.

Narator : ~loncat kegirangan~ Apa rahasianya?? *siap-siap buku jurnal buat nyatet kata-kata Sungmin*

Sungmin : Rahasianya…..

Narator : ~antusias~

Sungmin : NGGAK ADA.

Narator : HAH?? *bingung*

Sungmin : Iya, nggak ada rahasia apapun. Semua itu sih terjadi karena saya memang sudah ganteng dari sananya, pintar, lucu, baik, lugu, waaahh..lengkap deh pokoknya!!!

BRUUUAAAKK!!!

~Sungmin ditendang sampe ke antartika oleh narator~

***

Berikutnya adalah Donghae. Ia adalah wartawan sebuah majalah ibukota yang cukup terkenal. Ia dikenal sangat profesional dalam pekerjaannya. Ia juga sangat mahir dalam mengemudikan mobil,jadi apabila sedang tidak ada tugas untuk meliput berita, biasanya ia berpindah profesi sementara sebagai supir angkot. Donghae memiliki seorang adik sepupu yang tinggal bersamanya.

~example~
..di pos ronda..

Hansip : Lho? Mass donghae, kok jam segini masih jalan-jalan aja? Sekarang kan udah jam 2 pagi..

Donghae : Iya, pak. Tadi habis meliput berita Ceuceu Piramida yang habis ditabrak sama suaminya itu, Al-amin Nasution. *muka lelah*

Hansip : Hooo… *dalam hati mikir : “Al-amin nasution tuh kan suaminya Kristina, ya?”* Pasti capek banget ya, mass??

Donghae : ~ngangguk-ngangguk nggak jelas~

SepupuDonghaeyangmasihdira

hasiakan : ~nelfon ke HP Donghae~Donghae : Hallo? Ada apa Minho ?? (ohh, ternyata sepupu donghae ntu Minho!!) Minho : Bang, mau pulang jam berapa? Aku ngantuk nih. Mau tidur.

Donghae : Tidur aja, abang udah ada di pos ronda kok.

Minho : ohh, ya udah..

~Gantian HP hansip yang berdering~

Hansip : Hallo? *diam sejenak* HAH? ISTRI SAYA MELAHIRKAN?? WAHHH, IYA..IYA..SAYA KE SANA SEKARANG JUGA!!

Donghae : Istri Bapak melahirkan??

Donghae : Iya, mass. Aduuhh, saya mesti gimana, nih?? Rumah saya kan jauh..

Donghae : Ya udah, saya antar aja pake mobil saya.

Hansip : Emangnya mass Donghae punya mobil?

Donghae : punya dong. Mobil angkot!!! *wajah bangga*

~Donghae mulai menstarter mobilnya~

Hansip : ~heran~ “Kok ada sih orang yang bangga karna punya mobil angkot?”

Donghae : Ayo, naik, Pak!!!

Hansip : Ok!!

~Backsound 2 fast 2 furious~

Donghae : BERANGGKATT!!! *tancap gas*

Hansip : WUAAAAA!!! *keburu jatoh duluan gara-gara belum siap sedia*

Donghae : BAAAPPPPAAKK!!!!!

~keesokannya, bendera kuning sudah berkibar di depan rumah pak Hansip~

***

Berikutnya, ada Changmin, Kibum, dan Yesung. Mereka bertiga dulunya adalah guru SD di SM kompleks.
Tapi karena rasio kelahiran warga di SM kompleks tidak pernah berkembang semenjak para warga wanita mulai menghilang dari kompleks, otomatis SD tersebut ditutup. Tapi insting ‘guru SD’ yang dimiliki mereka, menjadikan Taemin dan Minho (yang kebetulan masih imut dan polos dan juga merupakan alumnus dari SD tersebut) menjadi sasaran ‘naluri’ guru SD Changmin, Kibum dan Yesung. Kini mereka tinggal di rumah yang sama.

~Example~
..di sekitar kompleks..

Changmin : Ehh, Taemin, Minho!! Mau berangkat sekolah, ya?? *melambai kea rah Taemin & Minho yang lagi sibuk SMS’an*

Taemin : Hmmm.. *tanpa menoleh k arah Changmin, & masih sibuk SMS’an*

Kibum : Lho, Taemin, Minho.. Kalau Pak Guru kasih salam tuh dibales, dong.

Minho : Hmmmm.. *tetep sibuk SMS’an*

Yesung : Minho, Taemin, udah bawa bekal??

Taemin & Minho : Hmmmm.. *sekarang sibuk foto-foto pake kamera HP*

Changmin : TAEMIN, MINHO!!! perhatikan kalau Pak guru sedang bicara!!

Taemin & Minho : Lho? Emangnya bapak masih jadi guru?? *innocent face*

~DUAAARRRR!!!~
*Petir menyambar*

~Kibum, Changmin dan Yesung langsung mojok sambil noel-noel lantai~

Kibum : Apa kita sudah tidak dibutuhkan??

Changmin : Apa gunanya kita hidup di dunia ini??

Yesung : Apa jadinya jika surga dan neraka tak pernah ada?? *Ahmad Dhani + Chrisye song*

Kibum dan Changmin : *jitak Yesung* NGGAK NYAMBUNG, TAU!!!

***

Berikutnya, ada Eunhyuk. Ia adalah seorang instruktur senam yang handal. Setiap minggu, ia selalu mengajak warga di SM kompleks untuk senam bersama. Ia adalah teman dekat Vicky Burik yang notabene adalah seorang artis ternama sekaligus instruktur senam pula. Baginya sehat adalah nomor 1. Hal ini pula yang membuat Eunhyuk dan Leeteuk berteman akrab. Eunhyuk sering memberikan imbalan bagi siapapun yang ikut menjalani senam, hal itu didukung dengan fasilitas dari Ayahnya yang merupakan Kepala Pulau Penulis (atau bisa dibilang Gubernur).

~example~
..di kompleks, jam 03.45 am..

NGGGIIIINNGGG!!!
~suara megaphone yang mulai soak~

Eunhyuk : WARGA SM kompleks YANG SAYA CINTAI, MARI KITA SENAM BERSAMA!!!!

~teee..no..net..not..no..net.. no..ne..not~ *musik senam AYO BANGKIT*
___________________________________________________________________________

Leeteuk : *bangun dari tempat tidur biarpun malas-malasan*

_____________________________________________________________________________

Onew : BERISSIIKK!! *nutupin kuping pakai bantal*

Taemin : ~dengerin MP3 sambil SMS’an~

_____________________________________________________________________________

Kyuhyun : *ngigau* ABCDEFGHIJKLMN..

Junsu : *ngelanjutin ngigau’nya Kyuhyun* OPQRSTUVWY..

Kyuhyun dan Junsu : ~kompak~ Z… ZZZZ..ZZZZ..

_____________________________________________________________________________

Key : Aaaahh!!! Musik apa’an sih ini??

Heechul : Kenapa nggak musiknya diganti jadi Lagu SUJU yang “SORRY SORRY”??

Yoochun : Ehh, nggak!!! Mendingan diganti jadi DBSK yang “MIROTIC”.. kan enak bgt tuh buat senam.. I’ve got you~~ under my skin.. *naro tangan di dagu sambil goyang geje*

Jonghyun : Ehh, harusnya tuh pake lagu SHINee yang “Juliette”.. wuuih, keren banget kan tuh lagu.. Juliette~~~ oooohh… *bikin S line*

Key : Sallaaahh!! Kalau buat senam tuh paling asyik pake lagu SNSD yang “GENIE”.. sowoneul malhebwa~~

Heechul : SUJU !!!

Key : SNSD!!

Yoochun : DBSK!!

Jonghyun : SHINee!!

~dan perdebatan tersebut masih terus berlanjut~

___________________________________________________________________________________

Donghae : Huuuuhhh!!! Berisik banget sihh??!!

~tiba-tiba~

=TRINGG!!= *muncul ide*

~Donghae berjalan ke garasi dan mulai menyalakan mesin mobil angkotnya~

BRUUMMM… BRUUUMMM… BRRUUMMM…

Donghae : HAHAHA!! Berisik dilawan Berisik!! 1 sama, Eunhyuk!!! *gaya pahlawan bertopeng*

Minho : Bang!!! Berisik, tau!!! Hari Minggu mah waktunya tidur, bukannya malah nyalain mesin mobil!!! Udah tau kalo mobil kita teh udah butut, soak kayak gitu. Kumaha deui si abang, teh?? *ngomel geje*

Donghae : Aaahhh, udahh!! Tidur lagi aja sana!!

Minho : ~manyun~

_______________________________________________________________________

Changmin : *bangun dengan semangat* Suara apa ini?? Apakah ini suara dari surga??

Kibum : Iya, suara’nya benar-benar mendamaikan jiwa!!

Yesung : Ahhh, aku teringat masa-masa yang telah lalu!! Saat kita bertiga senam bersama anak murid kita.

Changmin : Hiks.. Memoriii… * dewi yull song*

Kibum dan Yesung : ~saling berpelukan~ Kemesraan iniii… janganlahh cepatt berlaluu.. Kemesraan iniii.. ingin ku kenang selaluuu…

______________________________________________________________________

Sungmin : ~asyik telpon-telponan ama pacarnya~ noreul saranghae, chagiyaa~~!!

PacarSungminyangmasihdirahasiakan : Oppa genit!! Eh, dari tadi ada suara berisik deh di belakang oppa. Ada acara apaan sih??

Sungmin : Ohh, jangan dipikirin, chagiya. Orang sarap lagi pada kambuh tuh penyakit gilanya!!

PacarSungminyangmasihdirahasiakan : Mwo?? Orang sarap?? *dalam hati mikir : kalo di sana tuh banyak orang gila, berarti pacar gue ini juga gila dong??*

_________________________________________________________________________

~Back to Eunhyuk~

Eunhyuk : WARGA SEKALIAN!!! APABILA ANDA IKUT SENAM KALI INI, MAKA SAYA AKAN MEMBERIKAN SEBUAH HANDPHONE BAGI MASING-MASING WARGA!!!!

GEDUBRAKK..
BRAKKK..
PLENTANGG..
DUAAAKKK…

~dalam waktu kurang dari 10 detik, semua warga sudah berkumpul di depan Eunhyuk~

Eunhyuk : *dalam hati mikir : DASAR WARGA MATA DUITAN*

_______________________________________________________________
_______________________________________________________________

Narator : Lho? Kok Cast’nya masih kurang 1??

Author : Iya, aku tau.. *panadol cf sound*

Narator : Trus? Kenapa belum diceritain?

Author : Kan 1 cast yang belum diceritain tuh aku.. *wajah super duper sangat imut banget*

Narator : Gue ogah ceritain karakter lo!!! *pergi ninggalin teater*

~penonton juga ikut ninggalin teater~

Author : Lhoo?? Hooiii, kok pada pergiiii?? (gii.. gii.. gii..) *dengan echo yang dibuat-buat*

Kyuhyun :sabar, cha Masih ada aku yang setia menemanimu… *gaya heroic*

Author : Ohhh, honey.. ternyata memang kamu yang paling mengerti aku!! Maafkan aku yang telah menduakan cintamu… Onew ternyata tidak lebih baik dibandingkan kamu!!

Kyuhyun : ~SHOCK~ Ternyata benar kalau kamu selingkuh dengan Onew?? TIDAAAKK!! *pergi dgn adegan slow motion*

~Kyuhyun prgi dengan kehampaan~

Author : Jadi gue sendirian lagi nihh?? *noel-noel lantai di pojok ruangan teater*

*************************************************

Anda tidak menemukan pujaan anda di sini?

jangan khawtir!!  Dont worry, be happy..XD

karena semua artis SM, pasti bkal jd artis disini, cumaaa~~  yg gg kebagian peran disini, brarti dia jadi cameo di eps slanjutnya.. :)

contohnya : hankyung, siwon, shindong, bla..bla..bla..  bakal tampil  kok, :)

gomawo~~

by : Icha_On.U aka LeaderLover

(Shounen-AI) Let Me Show You How

Warning buat yang masih di bawah umur!!! Ini salah satu alasan kenapa pake english.. lumayan aman! Jangan bandel yah yang masih di bawah umur!!! >.<

Title: Let Me Show You How
Author: F
Pairing: Onew/Key
Genre: Fluff
Rating: PG
Warning: Guy kissing a guy
Disclaimer: NO! THESE BOYS AREN’T MINE! HOW MANY TIMES DO I HAVE TO TELL YOU THIS?? *CRIES*

Summary: Key wanted to help Onew practice his kissing scene.
Author’s Note: This fic is an expression of my frustration upon Onew’s kissing scene in his upcoming musical. Yes, I’m a desperately jealous and heart-broken fangirl. I’d rather you kiss Key all your life, Dubu! >.<
This is my first attempt at fluff and male-male relationship fic. IT FAILS! IT FAILS! I KNOW IT FAILS!
And why the hell did I write an OnKey anyway? They’re not even my OTP! But they’re just too sweet to resist! Noo I’m turning into an OnKey-shipper!

Onew was whacking his head with his script when Key appeared in the room.

“What are you doing? Trying to make yourself sane?” Key asked. Onew stared at him helplessly.

“Why did I say yes? Why, Kibum, Why?”

Onew looked like he was about to cry.

“Say yes to what? What’s that you’ve been hitting your head with?”

Key took the script from Onew’s hand without bothering for his reply. He read the writing on the cover of the script, “Brothers Were Brave”.

“Ya! This is your musical script! How come you didn’t show me this earlier?” Key shouted excitedly.

“Forget it. I’m gonna resign. I can’t do this musical,” Onew chickened out, but Key didn’t listen, because he was too engrossed in quick-scanning Onew’s script.

“What? There’s a kissing scene? Hyung, are you seriously gonna kiss a girl?” Key questioned joyfully, there were sparkles in his eyes. Onew groaned and his face turned red.

“I was really hoping you wouldn’t bring that up,” Onew said as Key laughed hard in his face.

“Hyung! The only thing you’ve ever kissed is a lamb! How in the world are you gonna kiss a real living and breathing girl?

“That’s exactly why I’m gonna fail this musical. Oh, Kibum, what am I supposed to do?” Onew buried his head in his hands.

“Aw, Jinki hyung, don’t be so upset. I’ll help you practice your lines,” Key said brightly.

“You can’t by any chance help me in the kissing department, can you?” Onew asked rhetorically.

“Oh, yes, definitely!”

Silence.

“What did you just say?” Onew asked in disbelief.

“Kissing practice, right? No problem.”

Onew nervously laughed.

“You’re not serious, are you?”

“Ya! Are you doubting my kissing skill?”

Onew’s face violently blushed again.

“No, no, it’s not that, but – but – you’re a.. guy?” Onew said uncertainly.

“So what? It’s acting, right? If you kiss me, then you’ll get a double combo: kissing and acting practice. Sounds fair, right?”

He didn’t know why, but Onew’s heartbeat just increased ten folds.

“I gotta go to the musical rehearsal,” Onew told Kibum hastily and left the room.

———————————-

In the rehearsal room, waiting for the rehearsal to start, Onew unconsciously thought about Key’s offer. Well, for one thing, it would be a shame for SME, SHINee, and himself if his kissing scene failed. To tell you the truth, he really needed that kissing practice. But not with Key, surely? But which girl in her right mind would want to practice kissing with him anyway? But then again, how would it feel it to kiss Key’s lips? Those thin, perfect lips. Those bitchy lips that always said sassy things and…

Onew shook his head. Why was he thinking about Key’s lips anyway?

————————————

“So? How did the practice go?” Key asked Onew when he was back in the dorm.

“Fail,” Onew sighed only to make Key laughed his ass off.

“I knew it!”

“But I managed to kiss the floor,” Onew tried to joke.

“That’s probably because you tripped.”

“Aw, Kibum, why do you always have to be so bitchy?”

Wae? That’s how I am, take it or leave it,” Key said much to his chagrin.

“Come on, I was just kidding. Why aren’t you asleep like the others anyway?”

“Who’s gonna cook you dinner if I were asleep? Here.”

Key shoved a plate of warm dinner to Onew’s lap. Onew ate it eagerly. He was hungry, especially after all those failure in kissing scenes. Onew was too lost in eating dinner, he didn’t realize it when Key nudged closer to him.

“So… Have you reconsidered my offer this afternoon?”

Onew coughed as a spoonful of food got stuck in his throat. Key slapped Onew’s back and hurriedly gave him a glass of water, which Onew drank completely in one go.

“Are you okay?”

Onew was still too shocked to answer Key’s question.

“Gosh, Jinki hyung, relax, it’s just kissing.”

Onew looked at Key in wide eyes.

“Just kissing for you, you kissing expert!”

Key laughed hearing Onew’s reaction everytime he mentioned the word ‘kissing’. Onew couldn’t help thinking how Key’s laugh sounded like a ring of bells.

But then, Key moved forward to him slowly.. slowly.. slowly.. and the next thing he knew, they were face to face. Onew could feel cold sweat was starting to collect on his palms.

“It’s not hard, hyung,” Key whispered.

“Kibum-ah, what are you doing?”

Onew wanted to push Key away, but his hands weren’t listening to him. He was trapped at the corner of the living room couch, desperately looking for somewhere to run to, but his eyes were locked onto Key’s cat-like ones.

“Relax” was the last thing Onew heard when Key put his lips on his. Onew felt a sudden jolt of electricity flowed through his body as Key pushed his lips to his. He felt so helpless, giving in to Key’s rhythm as he nibbled and kissed Onew’s lips softly. Key went to his full lips, then moved to his upper lip, before finally settling down on his lower lip.

For something so soft, Key’s lips were amazingly leading Onew’s ones. Onew could feel his jaw moving in harmony to complete Key’s lips. So this is how it felt like. It was true when people said that kissing was a natural born skill, because even a kissing virgin like Onew could do it in five seconds. Or had it been a minute already?

Onew gasped when Key suddenly opened his mouth and darted his tongue across Onew’s tongue. Key’s tongue kept pushing and pushing, brushing Onew’s lips teasingly and all of it just blew Onew’s mind away. Onew gave in, and now he wanted more.

Key was now the one who gasped as he felt Onew grabbed his cheek and pulled him closer to himself. Onew’s tongue moved hungrily for his tongue and soon their tongues were fighting and clashing passionately. At that second, both of them just lost their minds and they wanted nothing more than to kiss each other all night. But that would mean dying from out of breath. So they eventually stopped and stared at each other while gasping for air. The only sound they could hear was that of them panting and breathing.

“You’re right,” Onew said. “That wasn’t hard. Thank you, expert.”

Key smiled.

“I lied. That was my first kiss too.”

It was Onew’s turn to smile.

“Even better. We can practice kissing together.”

Key was about to reply when Onew sealed his lips again. And they both kissed the night away.

——————————

And now tell me how much I failed!

P.S: This is the first PG FF that published in this blog. Please don’t misunderstand. Onew and Key.. both of them is not a gay. It’s just a fiction story, just for fun. We using English cause of SHINee image.. you know it’s just… aghh.. just read and comment please..

We are shared this, someone send it to us.

Ata Seonsang-nim Is Mine !!

Author : Ashyta

Main Cast : Lee Taemin

“Eomma! Apa-apaan ini? Kenapa eomma yang menentukan siapa istriku?” Taemin menjatuhkan tubuhnya di atas kursi. “Sudahlah! Menurut saja apa kata eomma. Kamu itu udah SMA sekarang… tapi kamu masih belum dewasa juga! Makanya itu eomma carikan kamu seorang gadis yang sangat luar biasa. Masih muda tapi sangat pintar dan dewasa! Beda umurnya juga tidak jauh dengan umurmu!”

“Ah eomma… tetap saja!”

“Sudah lah Taemin-ni… turuti saja ibumu itu.”

“Hyung! Harusnya hyung bela aku… aku masih SMA tapi sudah di pasangkan dengan wanita!” Taemin menekuk wajahnya. “Hey.. Taemin, pilihan ibumu ini tidak pernah salah! Lihat noona mu itu, dia adalah wanita luar biasa yang pernah aku kenal!” Taesun membanggakan tunangannya. Continue reading Ata Seonsang-nim Is Mine !!

Love Sonata

“Kalian berlima! Harus saya beritahu berapa kali baru kalian kapok?! Berkelahi! Berkeliaran di waktu sekolah! Berandalan kalian! Mana julukan 5 bintang sekolah? 5 cowok paling bersinar di Dameun High School ternyata cuma sekedar gossip!” kepala sekolah menggebrak meja.

“Kepala sekolah.. anda tenang dulu, bicara baik-baik.” Wakil kepala sekolah berusaha menenangkan. “Saya sudah mencoba untuk bersabar.. tapi tetap saja seperti ini! Mau jadi apa kalian nanti? Hah?! Jinki! Apa-apaan kamu ini? Kamu selalu meraih prestasi tertinggi kedua dalam semua mata pelajaran di satu angkatan kamu, tapi ternyata kamu juga selalu meraih prestasi tertinggi kedua dalam bidang berkelahi! Dalam 1 bulan kalian bisa berkelahi lebih dari 10 kali! Gila apa! Kalian ini mau sekolah atau mau berkelahi sih?! Kalau kalian memang tidak mau sekolah, bilang sama orangtua kalian!”

“Sebentar lagi akan ada ujian, tolong berhenti jadi berandalan.”

“Sudah! Percuma saja, mereka tidak akan berubah! Sekarang kalian keluar!” kelima cowok berandalan itu bangkit dari duduknya membungkuk dan pergi begitu saja. Continue reading Love Sonata

Ki Bum.. Stay Strong!

Title : Ki Bum… Stay Strong!
Genre : Drama
Author : Lian D’Kiss2
Cast : Ki Bum (Key SHINee), Lee Jinki (Onew SHINee), dan member SHINee lainnya
Intro : Januari lalu ada kabar duka dari key oppa yang kehilangan neneknya.Mendengar berita itu, langsung muncul inspirasi untuk menulis.
Ini postingan pertama Lian di blog ini. Sebenernya ini ff lama yang lian buat dalam kurun waktu 2 jam untuk Key oppa… Sebenernya ff ini juga sudah pernah saya posting d fb dan blog saya. Tapi pasti belum banyak yang baca. So, have a nice read ^^ Continue reading Ki Bum.. Stay Strong!

ADLIB DAY

~Ira Pov~

Ya ampun akhirnya impianku tercapai juga!!! Berkat orang dalam aku berhasil satu pesawat dengan SHINee dan apa kalian tahu? Kursiku tepat di belakang kursi Onew oppa! Tapi sayangnya aku tidak bisa dengan bebas bergerak, maksudku.. aku tidak sendiri. Liburan ini orang tuaku pergi berlibur dengan tanteku, dan mereka meninggalkan anak-anak mereka ini. Ya tuhann apa kau tahu? Adikku saja ada 3 orang, di tambah 2 orang adik sepupuku yang umurnya masih di bawah 3 tahun. Aku bisa gila! Adik pertamaku umurnya baru 5 tahun, kedua 4 tahun, ketiga, 2 tahun. Dan adik sepupuku yang pertama 3 tahun dan yang kedua… apa kau tahu??? Masih 1 tahun. Betapa repotnya aku menjaga anak yang umurnya saja berhitung. Lengkap dari umur 1 tahun sampai 5 tahun, bayangkan!!!

Padahal aku sudah menyusun rencana dengan matang, aku ingin sekali merekan SHINee selama perjalanan dari Singapore ke Korea ini. Pasti banyak tingkah-tingkah gila yang mereka lakukan, tapi karena anak-anak kecil yang aku bawa ini aku dengan sangat terpaksa dan kerepotan meladeni mereka. Bahkan 2 orang pramugari membantuku menjaga mereka. Continue reading ADLIB DAY