Tag Archives: Changmin

LOVE’S WAY – LISTEN TO YOU [2.2]

LISTEN TO YOU [2.2]

Author : Novi

Main Cast : Lee Taemin, Choi Hye Jin, Shin Hyo Jin

Support Cast : SHINee and Super Junior

Length :Sequel

Genre :Romance, Friendship

Rating : General

©2010 SF3SI, Novi. Continue reading LOVE’S WAY – LISTEN TO YOU [2.2]

Advertisements

LOVE’S WAY – LISTEN TO YOU [1.2]

LISTEN TO YOU [1.2]

Author : Novi

Main Cast : Lee Taemin, Choi Hye Jin, Shin Hyo Jin

Support Cast : SHINee and Super Junior

Length :Sequel

Genre :Romance, Friendship

Rating : General

©2010 SF3SI, Novi. Continue reading LOVE’S WAY – LISTEN TO YOU [1.2]

LOVE’S WAY – DO YOU KNOW

Do You Know

Main Cast : SHINee, Choi Hye Jin, Shin Hyo Jin
Support Cast : Super Junior

 

Semoga hari ini Key sudah tidak marah padaku dan sudah menyapaku seperti biasa lagi. Aku pun berjalan masuk menuju gedung sekolahku di musim gugur ini. Sekarang setiap hari aku harus selalu membawa syal atau sweaterku karena udara sudah mulai dingin. Daun-daunpun sudah mulai berguguran. Itu yang tampak di sekolahku. Sekolahku yang biasanya hijau kini daun-daunnya sudah berubah warna menjadi coklat dan sudah mulai berguguran dan menyebabkan banyaknya tummpukan daun itu dimana-mana.

”Hye Jin-ah…”seru seseorang menghampiriku.

”Taemin-ah…”seruku padanya.

Seperti biasa dia akan selalu tersenyum seperti itu. Senangnya melihat dia tersenyum.

”Pagi sekali…”seruku padanya.

”Ne…ada latihan basket dulu…akan ada pertandingan minggu besok…”serunya.

”Ya ampun sibuk sekali dirimu…baru selesai pentas drama sekarang sudah mau ikut basket lagi…”kataku sambil menatapnya.

Dia balas menatapku dan tersenyum. Aigoo, kenapa aku harus selalu terjebak dengan tatapan matanya yang hangat dan lembut itu.

Key POV

Semoga hari ini Hye Jin sudah tidak marah padaku. Seruku dalam hati. Aku pun berjalan dari lapangan parkir menuju kelasku. Namun tiba-tiba aku melihat Hye Jin dan Taemin berjalan bersama. Kenapa sih dia bisa begitu dekat dengan Hye Jin? Dan Hye Jin pun terlihat selalu tersenyum jika bersamanya. Aishh! Aku mengacak-acak rambutku sendiri.

”Key..kau kenapa?” tanya Jonghyun yang entah dari kapan sudah berada di sampingku yang masih melihat dua orang itu tertawa bersama.

”Jonghyun-ah…”Seruku padanya.

”Ara…kau cemburu melihatnya ya?”tanya Jonghyun padaku dengan senyuman.

”Andwe..untuk apa aku cemburu pada mereka…”seruku sambil berjalan meninggalkan Jonghyun yang masih bingung kenapa aku menatap mereka dengan seksama.

Yah, aku memang cemburu pada mereka. Setiap melihat mereka berdua pasti hatiku akan sakit. Hye Jin-ah apa kau lebih menyukainya dibanding aku?

Hye Jin POV

Aku masuk ke kelasku perlahan-lahan. Aku melihat Key sedang asyik membaca buku. Kenapa suasanya seperti waktu itu. Saat aku sedang tidak bicara  juga dengannya dan aku juga harus berjalan perlahan-lahan seperti ini. Kejadian itu seperti terulang kembali seperti saat itu. Tapi saat itu aku kepentok meja dan menyebabkan kakiku luka namun kali ini aku tidak mau seperti itu. Aku berjalan sangat hati-hati menuju mejaku. Dia menegokan kepalanya dan menatapku sekilas dengan tatapan dingin dan kembali membaca bukunya. Ternyata dia masih marah padaku. Huh. Tak sengaja aku malah menendang salah satu bangku dan itu malah membuat kakiku sakit.

”Aduh!”teriakku.

Namun dia tetap dengan bacaannya. Kenapa dia tidak merespon sama sekali, padahal waktu dulu, dia langsung menghampiriku. Sepertinya dia benar-benar sangat marah padaku. Bagaimana ini?

Aku menaruh tasku dengan kasar ke atas meja sengaja agar dia menoleh. Ternyata dia tetap asyik dengan bacaannya. Menyebalkan sekali dia. Aku sengaja menghela nafas dengan kencang agar dia menoleh dan tetap saja dia asyik dengan bacaannya. Kenapa dengan anak ini? Apa dia benar-benar kesal denganku? Harusnyakan aku yang lebih kesal padanya kenapa dia harus tiba-tiba marah padaku hanya karena adegan itu. Seruku dalam hati sudah mulai kesal dengan orang ini.

Baiklah aku yang salah aku akan minta maaf. Aku pun berdiri dan beranjak menuju  mejanya.

”Key..”seruku padanya.

Dia masih diam saja, aku masih menunggu dnegan tetap berdiri di depan mejanya. Tak lama kemudian dia menutup bukunya dan berdiri dan berjalan keluar kelas.

Apa! Dasar keras kepala sekali anak ini!

Aku pun segera berjalan mengejarnya dan mendapatinya berdiri di depan pohon di taman sekolah. Aku berusaha menghampirinya namun sebuah tangan menarikku.

”Aku sudah bilang…jangan dekat-dekat dengan Key…dia milikku….”seru suara yang sudah aku kenal. Aku pikir cewek ini tidak akan kembali lagi dari pekerjaannya sebagai model di Jepang.

Aku pun hanya memandang Yu Ri sinis.

”Kau telah menjadikan Key-ku jadi seperti itu…”serunya lagi.

Aku malas berdebat dengannya dan berusaha melewatinya karena aku ingin bicara dengan Key dan ingin menyelesaikan masalah kami, itu saja. Aku tidak akan mengambil Key dari dia.

Namun Yu Ri terus menghalangiku dan itu membuatku semakin kesal padanya.

”Aku hanya ingin bicara dengan Key”seruku dengan setengah berteriak.

Aku kesal sekali pada cewek ini. Mau apa sih dia? Aku hanya ingin bicara saja sulit sekali. Key juga, kaupikir ini semua salahku. Aku sudah baik-baik ingin meminta maaf padamu kau malah mengacuhkanku.gerutuku dalam hati.

Aku melihat Key berbalik dan berjalan menghmapiri kami, dia menatapku sekilas dan langsung menarik tangan Yu Ri.

”Jangn buat masalah…ayo pergi…”Serunya pada Yu Ri lalu menatapku dingin.

Kenapa Key jadi seperti itu?kenapa dia membela Yu Ri. Aku kan hanya ingin bicara padanya. Key kau jahat sekali. Aku menatpanya yang berjalan sambil menarik Yu Ri. Dan itu mengigatkanku pada kebiasaanya untuk menarikku juga. Apa dia sudah tidak mau berteman denganku lagi. Aku berjalan kembali ke kelas dengan perasaan sangat sedih, aku pun berhenti di depan lokerku dan membukanya. Disana ada boneka beruang yang Key berikan padaku. Aku jadi mengingat saat dia memberikannya padaku. Aku mengelus boneka itu lalu memukulnya.

”Memangnya aku yang salah…kau bodoh Key…kenapa aku harus minta maaf padamu…baiklah aku tidak akan bicara lagi denganmu…”Seruku pada boneka itu.

”Hye Jin-ah…kau sudah gila ya…”seru sebuah suara.

Aku segera menutup lokerku dan berbalik melihat orang itu.

”Yesung-ah…”seruku padanya yang berdiri tepat di depanku sambil menatapku dengan tatapn bingung.

”Kau berbicara dengan lokermu sendiri?”tanyanya dengan tatapn bingung.

”Babo kau! Mana mungkin aku bicara dengan lokerku sendiri…”jawabku.

”Syukurlah….kau masih waras….”serunya dengan wajah penuh kelegaan.

Dasar Yesung aneh, mana mungkin aku bicara dengan lokerku sendiri, aku masih waras tahu. Seruku dalam hati.

”Mana Kyu?”tanyaku begitu melihat dia hanya sendiri biasanya dia selalu bersama Kyu kemana-mana.

”Dia sedang dirawat di rumah sakit….gara-gara sakit di perutnya itu…”jawab Yesung dengan wajah agak sedih.

Tentu saja Kyu adalah teman baiknya pasti dia sedih melihat Kyu terbaring di rumah sakit. Aku malah ingin tertawa mendengar Kyu di rawat di rumah sakit. Anak itu memang ngeyel sudah aku bilang suruh ke rumah sakit dia malah bilang akan baik kalau sudah main game. Dasar babo mana ada game yang bisa menyembuhkan, baru tahu rasa kau sekarang. Seruku dalam hati. Aku jadi ingin melihat wajahnya di rumah sakit. Pasti sangat menyedihkan.

”Aku jadi ingin mengunjunginya…”seruku pada Yesung.

”Besok saja…aku besok mau kesana..”seru Yesung riang, sepertinya dia senang sekali aku mau menjenguk Kyu.

”Bagaimana ya…nanti aku kabarin lagi deh…”seruku padanya.

”Hye Jin-ah…”teriak Wookie dari depan pintu kelasku yang tidak jauh dari lokerku.

”Ne…”jawabku.

Huh pasti anak itu ingin meminjam bukuku. Kebiasaan selalu menyamakan PR nya dengan PR ku.

”OK…kalau besok kau mau ikut…sms aku saja…arasso?”seru Yesung padaku.

”Ne…”jawabku

Dia pun segera berlalu menuju kelasnya dan aku pun berjalan menghampiri Wookie yang dari tadi sudah cerewet sekali menyuruhku masuk. Seperti cewek saja dia mana suaranya cempreng sekali.

”Lama sekali kau…mana…aku pinjam…”serunya padaku.

”Aku kan sudah sering bilang ambil saja di tasku…”jawabku sambil berjalan ke mejaku.

”Tidak…nanti dikira aku mau mencuri lagi…”serunya.

Aku pun tertawa mendengarnya. Lagian apa yang mau dicuri dari dalam tasku. Aku pun mengambil bukuku dan menyerahkannya pada Wookie.

”Hye Jin-ah…..jebal…”seru Rae Na memohon padaku.

Daritadi dia terus saja berdiri di depanku sambil memohon agar aku ikut menemaninya menonton pertandingan basket besok. Apalagi yang ingin dia lihat kalau bukan Minho. Dasar anak itu.

”Besok pertandingan pertama Minho sebagai ketua klub basket…jebal…temani aku…”serunya lagi masih sambil memohon.

Aku menimbang permintaan itu, kalau aku ikut tentu aku bisa melihat Taemin tapi pasti disitu ada Key juga, aku kan sedang bertengkar dengannya dan menjauhinya adalah hal yang baik sekarang tapi aku juga tidak enak pada Rae Na, besok juga aku ingin pergi menjenguk Kyu, aishh, aku bingung!

”Hye Jin-ah..”seru Rae Na lagi dengan semakin memohon.

Aku menghela nafas.

”Ne..aku ikut…”seruku padanya dengan wajah yang agak sedikit kupaksakan.

”Memangnya kau begitu sukanya pada Minho..kenapa tidak bilang padanya?”tanyaku padanya.

Aku sudah tahu Rae Na sangat menyukain Minho sejak mereka masih SMP tapi sepertinya Minho sama sekali tidak tahu, tentu saja bagaimana dia bisa tahu sedangkan dia hanya sibuk dengan kegiatan basketnya itu terlebih lagi dia adalah orang yang sangat dingin meskipun denganku dia tidak seperti itu malah lebih mirip tukang gosip, aku masih kesal dengan dia yang selalu mengira aku adalah yeohachingunya Taemin dan menyebarkan itu keseluruh anak basket.

Aku melihat Key masuk ke kelas dengan gayanya yang biasa dia menatapku sekilas dengan tatapan yang sangat sinis. Membuatku merinding. Aku jadi ingat dia juga pertma kali seperti itu padaku. Kenapa jadi seperti deja vu begini? Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

”Kenapa Hye Jin-ah?” tanya Rae Na.

”Ah andwe…”seruku dan masih terus memikirkan kenapa bisa sampai jadi seperti ini.

Makan sendiri memang tidak enak sekali. Kenapa sih Rae Na bela-belaiin melihat Minho berlatih dibanding menemaniku makan siang. Hyo Jin juga tidak ada. Siwon Oppa, Donghae Oppa kemana mereka semua. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling dan tidak melihat wajah orang-orang itu. Aku terus saja melanjutkan makan siangku dalam diam.

”Hye Jin-ah…kau sendirian?”tanyanya seseorang yang langsung meletakkan nampannya di mejaku.

Aku mendongak untuk melihat dan ternyata itu Taemin. Aku pun mengangguk dan tersenyum padanya.

”Bukannya kau sedang latihan?”tanyaku begitu aku meminum susuku.

”Sudah selesai…jadi aku langsung buru-buru kesini…aku sangat lapar…minho hyung itu selalu saja seperti itu…menyuruh kami latihan meski di jam istirahat…”terang Taemin dan langsung menyendok nasinya. Sepertinya dia sangat kelaparan karena dia makan sangat terburu-buru. Aku hanya memperhatikannya makan sementara makananku sudah habis.

”Kau sudah selesai ya?” tanya Taemin begitu melihatku sudah tidak makan lagi dan menjauhkan nampan dari hadapanku.

”Ne..aku kan sudah daritadi…”jawabku.

”Oh ya…besok kau datang?” tanyanya padaku.

”Ne…Rae Na memintaku menemaninya…”seruku padanya.

”Padahal tadinya aku mau mengajakmu tapi ternyata kau sudah di ajak oleh Rae Na duluan…..tidak apalah…aku senang kau mau datang…”katanya.

Ternyata dia mengharapkanku untuk datang. Aigoo!

Aku melihat segerombolan anak basket masuk ke kantin. Semua mata langsung tertuju pada mereka. Yah tentu saja siapa yang tidak tahu kalau mereka itu adalah kumpulan orang-orang keren. Aku akui itu. Mereka semua keren. Disana ada Minho, Yesung, Sungmin, Siwon Oppa, dan Changmin sunbae. Jadi Siwon Oppa juga ikut melatih hobae-hobaenya pantas daritadi aku tidak melihatnya. Siwon Oppa melihat ke arahku sekilas namun langsung memalingkan wajahnya padahal aku baru saja akan tersenyum padanya. Kenapa dengan dia? Mereka duduk dalam satu meja dan langsung asyik mengobrol. Tak lama kemudian Key masuk ke kantin dan melihat ke arahku sekilas kembali dengan pandangan sangat menakutkan.

”Kalian masih bertengkar?” tanya Taemin begitu melihatku terus memperhatikan Key.

”Ne…sudahlah…aku tidak peduli…”seruku.

Minho kemudian berjalan ke arah kami.

”Ya! Taemin-ah kau malah makan duluan…”serunya pada Taemin.

”Mian hyung….aku sangat lapar…”seru Taemin dengan wajah meminta maaf.

Ternyata dia kabur dari latihan. Kemudian Minho mengalihkan pandangannya padaku lalu tersenyum. Aiggo, dimulai lagi.

”Arasso…kau mau makan dengan Hye Jin ya…romantis sekali…”serunya sambil menatapku dan mengedipkan sebelah matanya.

”Andwe…”seru kami bersamaan.

Aku langsung mengalihkan padanganku darinya karena aku merasakan mukaku sudah merah, Taemin pun begitu bisa kulihat wajahnya juga memerah. Aku malu sekali. Bagaiamana ini. Minho malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah kami.

”Ya sudah dilanjutkan saja makannya…”seru Minho.

”Andwe…aku pindah hyung…” seru Taemin sambil membawa nampannya dan berdiri.

”Ne…aku juga sudah selesai mau ke kelas…”seruku dengan terburu-buru dan langsung berjalan meninggalkan mereka. Aku bisa melihat begitu Taemin sampai di meja mereka. Anak-anak itu langsung tertawa terbahak-bahak. Dasar Minho! Tapi ada satu orang yang aku lihat. Itu Key. Dia tetap makan tanpa mempedulikan yang lain. Apakah dia membenci Taemin karena hal itu?

Pulang sekolah aku masih duduk di bangku melihat anak-anak sudah mulai keluar kelas. Aku ingin sekali bicara dengan Key untuk meluruskan masalah ini. Habisnya aku jadi tidak enak jika seperti ini terus. Aku menunggu hingga semua orang keluar kelas.

”Hye Jin-ah…kau tidak pulang?”seru Rae Na sambil menepuk bahuku.

”Ne….aku kan kerja dulu…”jawabku.

”Arasso…aku duluan ya..hati-hati…”serunya sambil tersenyum dan berlalu pergi.

Aku masih menunggu hingga semua orang benar-benar sudah pulang semua. Setelah kelas menjadi sepi aku melihat Key juga sudah berdiri dari tempat duduknya dan hendak berjalan keluar. Aku berusaha mengejarnya dan memanggilnya.

”Key!”teriakku.

Aku melihat dia berhenti berjalan namun tanpa menoleh sedikitpun maka aku pun berjalan menghampirinya.

”Jangan bicara denganku lagi!”serunya dengan tetap membelakangiku.

Apa maksudnya jangan bicara lagi dengannya? Apa dia sebegitu marahnya? Memang aku sangat bersalah atas kejadian itu?

Dia berjalan pergi meninggalkanku. Aku menarik tangannya dan dia pun menoleh melihatku tapi dengan tatapan yang sangat menyeramkan. Dia mentapku sangat tajam.

”Key..”lirihku karena takut melihat matanya maka aku pun menunduk.

”Sudah kubilang jangan pernah bicara denganku lagi!”serunya sambil menyentakkan tanganku dan langsung berjalan pergi.

Aku hanya bisa menatapnya semakin menjauh, kenapa dia begitu jahat. Aku merasakan mataku mulai memanas, sudah kuduga pasti aku akan menangis, aku memang tidak bisa mengontrol emosiku jika sedang kesal atau marah pasti menangis. Aku berbalik dan berjalan keluar sekolah berusaha menahan tangisanku. Aku berjalan menuju tempat aku bekerja. Di jalan aku masih terus berusaha menahan tangisanku. Baru beberapa meter dari gerbang sekolah, sebuah motor berhenti di depanku.

”Hye Jin-ah…ayo aku antar…”seru Taemin.

Aku menatap Taemin dan tanpa terasa air mataku sudah mulai mengalir.

”Hye Jin-ah… gwenchanayo?”tanyanya khawatir.

”Ne…gwenchana…”seruku sambil berusaha tersenyum namun ternyata air mataku malah terus turun.

Taemin langsung merengkuhku ke dalam pelukannya.

”Sudah baikan….”seru Taemin sambil memberikan es krim padaku dan aku pun mengambilnya.

”Mianhe…kau pasti mengira aku cengeng sekali…hanya karena masalah seperti itu menangis…aku sendiri heran dengan diriku kenapa aku begitu mudah untuk menangis…”seruku sambil menjilat es krim yang dia berikan.

Kami sedang duduk di taman dekat sekolahku gara-gara tadi aku menangis, ya ampun sudah berapa kali aku memangis di depannya.

Dia hanya tersenyum menanggapi perkataanku dan malah mengacak-acak rambutku lembut.

”Lebih baik daripada tidak bisa menangis….”serunya.

”Aku benci sekali dengan makhluk yang bernama Key itu…”seruku.

Kulihat Taemin hanya terkekeh pelan, ya aku sudah menceritakan semuanya pada Taemin tentu dengan beberapa bagian yang tidak aku ceritakan secara detail seperti pertanyaa Key padaku kenapa aku mau melakukan adegan itu dengan Taemin.

”Ne…mungkin dia butuh waktu…tapi sebaiknya kau minta maaf saja padanya…jangan jadi malah membencinya…”serunya lagi.

Aku pun tersenyum menanggapinya. Yah mungkin aku harus langsung minta maaf saja padanya, tidak peduli sebenarnya siapa yang salah. Tidak ada salahnya aku minta maaf duluan.

Aku baru ingat aku harus pergi bekerja. Jam berapa sekarang? Aigoo, bisa telat aku.

”Taemin-ah..jam berapa sekarang? Aku lupa harus pergi kerja..”seruku padanya dan langsung berdiri.

”Sudah jam 3 kurang 10 menit…memangnya kau masuk jam berapa?”tanyanya.

Aigoo, 10 menit lagi.

”Jam 3..aissh..bagaimana ini…”seruku.

”Ayo aku antar…”serunya sambil menarik tanganku.

”Gamsahamnida ahjumma…annyeong…”seruku dengan melambai lalu berjalan keluar toko itu. Untunglah tadi diantar Taemin jadi aku tidak telat. Jam sudah menunjukan pukul 8 malam. Aku mengatupkan kedua tanganku dan meniupnya untuk memberikan kehangatan pada kedua tanganku yang sangat dingin. Oh ya sebentar lagi akan masuk musim dingin. Musim dingin pertamaku di Korea. Apakah akan berbeda? Dulu aku sering pergi snowboarding jika musim dingin tiba. Aku berpikir apakah disini juga ada tempat seperti itu ya? Aku kangen Amerika. Seruku dalam hati. Aku mengedarkan pandangan kesekeliling jalan di depan toko jajangmyeon itu dan menagkap sebuah pandangan yang tidak asing lagi. Bukankah itu Taemin. Dia melambaikan tangannya dan menyuruhku mendekat. Aku pun berjalan menuju ke arahnya.

”Ayo pulang…”serunya sambil memberikan helmnya padaku.

Aku hanya terpaku di tempatku bertanya-tanya kenapa dia ada disini? apa dia sengaja menjemputku?aisshh kau narsis sekali Hye Jin, mungkin dia hanya sedang lewat saja.

”Ayo pulang…sudah dingin…”serunya lagi.

Aku tersentak dari lamunanku dan langsung mengambil helm yang dia sodorkan padaku.

Setiap hari dia seperti ini malah membuatku semakin menyukainya. Aigoo.

”Hye Jin-ah….ayo cepat…”seru Rae Na sambil terus menarik tanganku.

”Ya! Rae Na pertandingannya tuh masih satu jam lagi…”seruku sambil berusaha melepaskan tarikan tangannya.

”Ne…arasso…tapi aku mau melihat mereka dulu…”serunya dengan wajah memohonnya yang khas.

Sungguh aku sangat tidak suka melihatnya memohon seperti itu. Akhirnya aku pun luluh juga dan segera berjalan keluar kelas menemaninya menuju lapangan basket. Hari ini pertandingannya diadakan di sekolah kami. Di lapangan hanya tampak beberapa anak basket sekolah kami yang sedang bersiap-siap dan saat aku melihat di kursi penonton. Wow, hanya satu kata itu saja yang terucap dari mulutku. Ramai sekali padahal baru satu jam lagi pertandingannya di mulai tapi para penonton sudah ramai disini. Saat aku hendak duduk salah satu tempat duduk Rae Na malah menarik tangaku menuju ke pinggir lapangan yang ramai dengan anak basket yang sedang bersiap-siap.

”Ya! Aku tidak mau kesitu….”seruku namun tanganku terus ditarik sampai ke pinggir lapangan dan disana sudah ada Minho, Yesung, Sungmin, Key, Siwon Oppa juga Changmin sunbae yang sepertinya ingin memberi semangat pada hobae-hobaenya ini dan sisanya ada hobae kami yang aku tidak tahu siapa mereka. Salah satu dari mereka matanya sangat sipit kurasa dia bukan orang Korea kalau dilihat dari wajahnya.

”Hye Jin..Rae Na…”Seru Yesung dengan senyumnya yang seperti biasa begitu melihat kami menuju ke arah mereka.

Aku menaggapinya dengan membalas senyumnya namun begitu aku sampai di depan mereka kulihat Key pergi menjauh dengan tatapannya yang sangat tajam itu. Hufft, dia sangat membenciku sepertinya.

”Yeojachingu Taemin..annyeong…”seru Changmin sunbae dengan senyumnya yang khas itu.

Dasar Changmin sunbae, aku punya nama tahu, kenapa dia selalu memanggilku dengan nama-nama yang aneh kalau bukan Choi pasti yeojachingu Taemin. Dasar sunbae yang aneh!

Aku pura-pura tidak mendengarnya dan beralih menatap Siwon Oppa dan tersenyum namun Siwon Oppa hanya tersenyum tipis. Ada apa dengan dia akhir-akhir ini? Dia sangat aneh padaku. Aku pun jarang sekali bertemu dengannya di sekolah, kalaupun aku melakukan kegiatanku yang biasa dengan Donghae Oppa pasti dia tidak ada dan setiap aku bertanya Donghae Oppa, dia selalu bilang Siwon Oppa sekarang sedang sibuk dan dia baik-baik saja tapi aku penasaran ada apa?

”Minho-ya…hwaiting!” seru Rae Na sambil tersenyum pada Minho dan Minho hanya mengangguk dengan wajah tetap datar.

Aishh, apa-apaan anak ini? Ada yang memberinya semangat malah seperti itu tanggapannya. Oh ya tumben sekali anak ini diam saja. Apa dia gugup?bisa juga si jago basket ini gugup.

”Rae Na-ah….masa Cuma Minho saja yang kau beri semangat…”seru Yesung dengan wajah cemberut.

”Yesung-ah hwaiting!”seruku.

Yah aku kan juga bisa memberinya semangat.

”Aishh…bukan kau Hye Jin…”Serunya lagi masih dengan wajah cemberut sedangkan yang lain hanya tertawa melihat tingkah Yesung sementara Minho tetap diam. Sebegitu gugupkah dia. Oh ya aku tidak melihat Taemin, kemana dia?

”Dia masih di ruang ganti…”seru Changmin sunbae sambil tersenyum jahil.

”Siapa yang di ruang ganti?”tanyaku pura-pura tidak tahu walaupun sebenarnya aku tahu siapa yang dia maksud.

”Ya..kau pura-pura…”serunya dan kini dia tertawa.

Aku hanya menanggapinya dengan memanyunkan bibirku. Aku melihat Rae Na terus saja berbicara pada Minho menanyakan apa saja walaupun hanya ditanggapi dengan anggukan atau senyum tipis tapi sepertinya Rae Na begitu senang. Dia benar-benar sudah jatuh cinta pada Minho. Tumben sekali Minho tidak ikut-ikutan meledekku seperti Changmin sunbae. Aku melihat Yesung yang sepertinya sangat tidak suka melihat Rae Na dekat dengan Minho, jangan-jangan Yesung menyukai Rae Na. Aigoo.

”Nah itu dia…”teriak Changmin sunbae sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.

Taemin berjalan menghampiri kami dan tersenyum.

”Ya! Hye Jin-ah kau tidak mau memberi semangat pada dia…”seru Changmin sunbae lagi.

Taemin langsung tersentak kaget begitu mendengar perkataan Changmin sunbae dan kulihat dia hanya menunduk. Begitu pun aku. Apa-apaan sih Changmin sunbae ini.

”Ne…Hye Jin-ah masa Cuma Yesung saja…”seru Sungmin yang dari tadi diam kini angkat suara juga. Sudah tidak orang yang beres di klub basket ini, semuanya tukang gosip. Aku hanya melirik ke arahnya tajan dan dia bersembunyi di balik tubuh Yesung seperti anak kecil.

Entah kenapa mata Taemin dan mataku saling bertatapan dan itu membuat kami salah tingkah. Aku yakin mukaku pasti sudah sangat merah sekarang. Semuanya tertawa melihat tingkahku bahkan Minho yang sedang gugup ikut menyunggingkan senyum di bibirnya.

”Rae Na…ayo kembali ke tempat duduk…”seruku sambil menarik tangan.

”Ya! Kau harus memberi semangat dulu pada Taemin…”seru Rae Ne melepaskan tangaku.

Semua orang kini menatapku menungguku mengucapkan kata-kata itu.

”Ne…sudahlah hyung….”seru Taemin membantuku.

Semua orang masih saja menatapku tanpa mempedulikan Taemin. Baiklah kalau itu memang membuat kalian puas.

”Taemin-ah…hwaiting!”seruku padanya.

Dan bisa kulihat dia sangat terkejut dan hanya bisa mengangguk dan mengalihkan padangannya dari tatapanku. Semua orang malah tertawa melihat kami.

”Ayo…”seruku dengan menarik tangan Rae Na, tentu saja kini dia tidak menolak karena aku sudah mengabulkan keinginannya.

Pertandingan berjalan sangat sengit tapi untunglah ada Minho. Ternyata dia memang sangat jago. Sebenarnya aku sedikit tidak konsentrasi melihat pertandingan itu karena Rae Na disampingku terus saja berteriak memanggil nama Minho, membuatku pusing saja.

”Ya!kenapa kau tidak meneriakkan nama Taemin!”seru Rae Na di sela-sela teriakkannya memanggil nama Minho.

”Untuk apa?jawabku enteng.

Dan kulihat Rae Na hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu melanjutkan meneriakkan nama Minho.

Aku bukan tipe cewek seperti itu yang histeris, aku lebih suka menonton pertandingan dengan diam. Aku lebih melihat teknik dibanding pemainnya mungkin gara-gara aku pernah ikut tim basket waktu di Amerika dulu jadi mau setampan apa orang yang bermain aku sudah biasa. Yah bagaimana aku tidak biasa, basket merupakan olahraga favorit di Amerika dan melihat pemain keren-keren sudah menjadi hal yang selalu aku lihat. Tapi jujur sebenarnya aku tetap tidak bisa mengalihkan pandangku dari Taemin. OMO dia sangat keren saat bermain basket. Aku belum pernah melihatnya bermain basket seperti ini sebelumnya yang benar-benar pertandingan. Aku memperhatikan dia saat mendribble bola atau saat dia melakukan Lay Up.

Akhirnya Tim basket kami pun menang meski dengan skor yang tipis 56-58.

”Minho memang sangat keren…”serunya begitu pertandingan selesai.

Yah kuakui Minho sangat keren 30 angka berhasil dia cetak.

”Ayo pulang…”seruku padanya.

”Nanti dulu aku mau bertemu mereka dulu…”seru Rae Na sambil menarik tanganku.

”Ya..nanti saja diluar…kita tunggu diluar saja ya…”seruku padanya.

Rae Na pun akhirnya menurut dan berjalan mengikuti keluar lapangan basket dan berjalan menuju gerbang sekolah dan menunggu anak-anak klub basket keluar. Tak lama kemudian aku melihat Key berjalan menuju lapangan parkir sendiri. Tumben sekali biasanya dengan Minho. Aku pun berinisiatif mungkin saat yang tepat untukku meminta maaf padanya. Aku menghela nafas.

”Rae Na…aku kesana dulu ya…sebentar saja…”seruku padanya.

Dia pun hanya mengangguk dan terus menatap pintu masuk. Aku berjalan mengejar Key.

”Key!”teriakku.

Dia berhenti beberapa meter dariku, aku pun berjalan menghmapirinya.

”Sudah kubilang berapa kali!jangan pernah bicara denganku lagi!”serunya dan langsung berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang. Kenapa dia tidak pernah memeberikanku kesempatan untuk berbicara sedikit saja, hanya untuk bilang maaf, dasar pria egois!gerutuku dalam hati.

Aku masih berdiri di lapangan parkir yang sudah sangat sepi dan kulihat Key pulang dengan mobilnya. Dasar pria egois!ok kalau kau tidak mau bicara denganku lagi, aku juga tidak akan pernah bicara denganmu lagi!seruku dalam hati kesal dengan kelakuaannya. Aku masih berdiri mematung di lapangan parkir itu sampai sesorang menyentuh pundakku. Aku langsung menoleh dan ternyata itu Taemin.

”Hye Jin-ah…kenapa kau disini?”tanyanya.

”Ah…andwe…kau belum pulang?”tanyaku.

”Ne…ini aku baru mau pulang..”jawabnya sambil tersenyum.

Kenapa suasananya jadi seperti ini? Hey untuk apa juga aku masih disini…oh ya pasti Rae Na sudah kesal menungguku, aku harus segera menemuinya.

”Taemin-ah…aku harus bertemu Rae Na…annyeong…”seruku padanya dan berjalan meningglakannya.

”Hye Jin-ah…”seru Taemin memanggilku, aku pun berhenti berjalan dan berbalik.

”Ne…ada apa?”seruku.

Dia berjalan menghampiriku dan menatapku dalam-dalam. Aigoo, kenapa dia menatapku seperti itu? Jantungku berdetak sangat kencang melihatnya terus menatapku tepat di mataku. Aishh, kenapa aku ini?

Dia terus menatapku dan menggenggam tanganku. Aigoo, pasti mukaku sudah sangat merah sekarang.

”Gumawo Hye Jin-ah…sudah memberiku semangat…”serunya.

Aku hanya bisa mengangguk dan terus menatap matanya. Aishh!!

”Hye Jin-ah…”serunya lagi.

”Taemin-ah!”teriak seseorang memanggil namanya dan dia pun langsung melepaskan genggaman tangannya begitu melihat Minho cs datang menghampiri kami bersama Rae Na.

”Ya! Taemin ayo ikut kami merayakan kemenangan kita hari ini!”seru Changmin sunbae sambil merangkul Taemin.

Aku pun segera menarik tangan Rae Na untuk pulang.

”Annyeong…”seruku pada semua orang disitu.

Aku harus segera pergi darisini sebelum mereka semua bertanya yang macam-macam kenapa aku dan Taemin bisa ada disini bersama dan kuharap mereka tidak melihat Taemin menggenggam tanganku. Bisa gawat!

TBC

2010 SF3SI ©Novi

This post/FF has written by Novi, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

About Love part 1 of 2

About Love part 1 of 2

Author: Park Young Mincha a.k.a Annisa Mira

Casts:

–          Park Young Mincha

–          Lee Jinki

–          Kim Jonghyun

–          Cho Kyuhyun

–          Park Yoochun

Rating: PG15

Length: 2S

Ni ff terinspirasi dari komik Luna Lunatic… Tapi nggak sama-sama banget kok ceritanya.. Cha ubah sana-sini… Mian kalo garing banget.. Ini bikinnya pz lagi bener-bener boring.. kkk…

Happy reading, chingu…. N jangan lupa comment ya… Saran dari kalian sangat dibutuhkan!!

Let’s start it…

~~~

“Aaaah, aku lapar! Tapi aku nggak bisa menghisap selain darah gadis itu! Aissh, kenapa aku harus dibebaskan oleh gadis beringas seperti dia?” keluh seorang vampire bernama Lee Jinki di sebuah gereja sekolah, menunggu makan yang diantar oleh majikannya, manusia yang telah membebaskannya dari tidur panjangnya. Tapi akibatnya, dia hanya bisa meminum darah gadis itu untuk bertahan hidup.

“Siapa yang kau bilang beringas, hahh??” bentak seorang gadis yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut.

“Aaaah, Mincha! Aku lapar! Berikan aku darahmu!” ujar Jinki pada Mincha, gadis yang baru masuk tadi.

“Duduk!” perintah Mincha dan dengan segera Jinki duduk mengikuti perintah Mincha. “Anak pintar!” ucap Mincha sambil mengacak rambut Jinki.

“Aku lapar, Cha!” desak Onew lagi. Kemudian Mincha memberikannya sebungkus roti coklat.

“Yaaa…. Kalo ini aja sih nggak cukup! Aku mau darah,” rengeknya lagi.

“Mau darahku? Nih! Tapi, aku mati kamu juga mati!” ancam gadis itu.

“Dikiiiiit aja!” paksanya. Tapi Mincha tetap menggeleng tegas. “Sehari setetes!” tegas Mincha lagi.

“Wah,, Wah…. Pangeran vampire merengek pada seorang manusia? Lebih baik serahkan saja jabatanmu itu padaku,” ucap seorang lelaki memutus perdebatan antara Mincha dan Jinki. “Boleh juga gadis itu, darahnya boleh untukku?” lanjutnya lagi menggoda Jinki.

Mincha tampak ketakutan mendengar ucapan lelaki itu. Tapi dia berusaha tegar.

“Siapa kamu?!” teriak Mincha memberanikan diri. Tiba-tiba saja ia merasa tubuhnya terhempas ke dinding di belakangnya. Begitu tersadar, ia sudah berada dalam himpitan lelaki tersebut. “Lepas! Lepaskan aku!” jerit Mincha dengan panik saat wajah pria itu mulai mendekati lehernya.

“Jonghyun! Berhenti! Candaanmu tidak lucu!” perintah Jinki dengan tegas.

“Aissh, hyung! Aku ingin lihat wajah nona manis ini menangis. Hyung juga ingin lihat kan?” keluh Jonghyun pada pangerannya di dunia vampire sana.

PLETAKK!!

“Enak saja! Aku tidak mau tidak diberi darahnya sama sekali!” ucap Jinki lalu menarik tangan Mincha yang terduduk lemas di lantai agar berdiri.

“Kenalkan, dia Kim Jonghyun, dongsaengku. Jjong, ini Park Young Mincha,” ucap Jinki memperkenalkan kedua makhluk tersebut.

“Kim?” tanya Mincha sambil menatap Jinki meminta jawaban.

“Dia dongsaeng tiriku. Sudah biasa, kan, raja mempunyai banyak istri. Kalo dia,” ucap Jinki sambil menunjuk ke arah Jonghyun,”Ibunya saat menikah dengan raja saat dia masih kecil. Ayahnya dia sudah mati. Jadi marga kami berbeda.”

“Ah, maaf! Aku nggak tau,” pinta Mincha pada Jonghyun yang tertunduk lesu saat Mincha menanyakan tentang marga mereka yang berbeda.

“Oh,ya! Jinki! Malam ini aku menginap di sini. Jangan macem-macem, ya!” perintah Mincha.

“Iyaaaa….,” jawab Jinki lemas.

“Kamu kenapa?” tanya Mincha panik, melihat Jinki tampak lemas.

“Laper,” jawabnya singkat.

“Ya udah! Nih! Darahku,” ucap Mincha seraya menyodorkan jari telunjuknya yang telah dia sayat kecil agar mengeluarkan darah, “tapi jangan banyak-banyak. Nanti kau tak bisa minum darah lagi,” lanjutnya.

“Nggak apa nih? Beneran?” tanya Jinki ragu. Yang di jawab Mincha dengan tatapan mau-nggak-sebelum-aku-berubah-pikiran.

Akhirnya, Jinki pun mulai menghisap jari Mincha yang berdarah. Niatnya sih, hanya sedikit. Tapi begitu merasakan darah itu, dia seperti ketagihan. Kalau saja gadis itu tidak terduduk lemas dari posisi awalnya yang berdiri, Jinki akan terus menghisapnya. Dia melihat wajah gadis itu tampak pucat seperti kehilangan rona cerah pada kulitnya. Dia segera menahan tubuh Mincha dengan kakinya. (maksudnya dipangku gitu lah)

“Kaa..u… bu..kan..kah… su..da..ah.. kuka..ta…….kan se..di…kit… sa..ja.. Kau.. ingin maa…,” belum sempat Mincha menyelesaikan kalimatnya, dia sudah terkulai tak berdaya dalam pelukan vampire itu.

“Cha… Mincha… Bangun dong! Jangan mati dulu! Ntar aku makan apa, dong?? CHA!” teriak Jinki berusaha membangunkan Mincha.

“Hyung, sih! Dibilang jangan banyak-banyak,” keluh Jonghyun.

“Aku lepas control. Aku bener-bener lapar. Terus sekarang gimana, dong?” tanyanya panik.

“Dia masih hidup. Lihat saja. Dia masih bernapas. Tapi sudah sangat lemah,” ucap Jonghyun lalu menoleh ke arah pangerannya itu,”Hyung, tampaknya gadis ini mencintaimu.”

Jinki menoleh kaget mendengar pernyataan Jonghyun. Mustahil, Mincha mencintainya.

“Kau tak percaya? Buktinya dia mau memberikan darahnya padamu, walaupun setetes setiap hari. Itu agar kau tetap hidup. Kalau dia tidak suka padamu, dia pasti bisa menyegelmu kembali dengan cara tidak memberimu darah sama sekali. Tidak akan mengunjungimu setiap hari di sini,” jelas Jonghyun panjang lebar. Jinki tertunduk tak percaya dengan penjelasan dongsaeng tirinya itu.

“Meski begitu, dia selalu galak padaku. Mana mungkin dia menyukaiku?! Mungkin karena dia hanya kasihan padaku. Aku sering melihatnya membawa hewan-hewan yang terluka kemari untuk mengobatinya. Dia tampak merawat hewan tersebut dengan sayang. Sepertinya, dia tak ingin melihat makhluk hidup mati sia-sia,” sangkal pangeran vampire itu.

“Dia sendiri belum menyadarinya, bahwa dia mencintaimu. Dia melindungimu, tak seperti dia melindungi makhluk hidup yang lain. Dia tau kalo membantumu, sama saja dengan membunuh dirinya sendiri pelan-pelan. Gadis itu rela kehilangan nyawanya hanya untuk membuatmu hidup sedikit lebih lama darinya. Itu tidak mungkin dilakukan hanya karena kasihan. Sebaiknya hyung pikirkan baik-baik perkataanku ini,” Jonghyun tetap pada pendapatnya. “Sekarang kita harus merebahkannya di bangku panjang itu. Tidak mungkinkan kau tega melihatnya kedinginan di lantai seperti itu,” lanjutnya.

Setelah merebahkan Mincha di bangku, Jinki duduk bersimpuh di depan bangku tersebut. Kedua lengannya digunakan untuk menopang kepalanya. Dia memandangi wajah penolongnya itu dengan perasaan bersalah. ‘Kalau saja, dia tidak melepaskan segel itu, dia tidak akan menderita seperti ini karena aku,’ pikir Jinki.

“Hyung, kutinggal ya! Sudah saatnya mencari mangsa. Jaga dia baik-baik. Jangan melakukan hal yang aneh-aneh.” Jinki tidak mendengar perkataan dongsaengnya itu, karena dia terlalu larut dalam perasaan bersalahnya.

Beberapa saat dalam keheningan, tiba-tiba saja Mincha mengeluarkan suara. Gadis itu mengigau. Jinki segera tersadar dari lamunannya. Dia menyentuh kening Mincha. Panas. Jinki bingung. Bagaimana caranya menurunkan suhu tubuh manusia.

“Oppa.. Yoochun oppa..,” rintih Mincha berulang kali menyebutkan satu nama.

Entah mengapa, hati Jinki terasa perih saat mendengar Mincha menyebut nama pria lain. Apakah dia mulai menyukai gadis itu? Jinki menggelengkan kepalanya berulang kali. Menepis pikiran tersebut.

Karena Jinki tidak mengerti cara menurunkan panas Mincha, dia lalu menggenggam tangan Mincha dengan erat. Seolah memberi kekuatan pada Mincha agar segera sadar.

Sedangkan Mincha, dia merasa kedinginan. Mincha bermimpi berada dalam kegelapan yang sangat pekat. Lalu perlahan sebuah cahaya terlihat mendekat ke arahnya. Dia melihat sesosok pria berbaju putih memeluknya, kemudian melepaskannya dan berkata, “Belum waktunya Oppa menjemputmu. Temuilah calon pendampingmu. Dia berada sangat dekat denganmu. Dia masih membutuhkanmu. Oppa pergi dulu.” Perlahan sosok tersebut menjauh meninggalkan Mincha. Mincha berusaha mengejarnya dan terus memanggil nama pria tersebut. “Oppa.. Yoochun oppa..”

Perlahan kegelapan yang tadi menyelimutinya mulai berubah menjadi tempat yang sangat terang. Tubuhnya menggigil hebat. Dia mulai takut dengan kejadian itu. Tiba-tiba saja Mincha merasa tubuhnya terhempas ke suatu tempat. Dia membuka kedua matanya dengan pelan.

Jinki yang melihat gadisnya *?* telah sadar, semakin menguatkan genggamannya.

“Aku di mana?” tanya Mincha sambil memegang kepalanya dengan satu tangan dan berusaha bangkit dari tidurnya.

“Kamu di gereja sekolah, Cha! Kamu udah nggak apa-apa?”tanya Jinki khawatir tanpa melepaskan tangan Mincha dari dalam genggamannya.

“Hah?? Kamu?! Nungguin aku ampe sadar? Baik bener?! Bukannya kamu pengen aku mati?” ucap Mincha kaget melihat Jinki ada di sebelahnya. Dia juga segera menarik tangannya begitu menyadari tangannya dipegang erat oleh vampire itu.

“Aku beneran khawatir tau. Bukan cuma kalo kamu mati aku juga bakalan mati. Aku bener-bener takut kalo kamu mati duluan sebelum aku,” ucap Jinki cepat.

“Cih, kalo aku mati duluan kan berarti kamu nggak bakal bertahan hidup,” kata Mincha pedas. *lomboknya pake berapa emank?*

“Cha? Lebih baik aku mati kelaparan daripada aku ngelihat kamu mati kehabisan darah gara-gara aku. Kamu kan tau kalo kamu ngasih aku darahmu, lama-lama kamu bakal mati. Tapi kenapa kamu tetep mau ngelakuin itu? Mendingan kamu nggak usah sering ke sini. Nggak apa aku mati kelaparan. Aku nggak mau ngelihat orang yang mencintaiku mati gara-gara harus memberikan darahnya padaku,”ucap Jinki sendu membuat Mincha membelalakkan kedua matanya karena kaget.

“Emank aku suka ama kamu?” tanya gadis itu bingung. “Emanknya kalo aku mau memberikan darahku walau resiko aku akan mati, itu karena aku suka orang itu y?”

“Menurut Jonghyun sih begitu,” jawab Jinki singkat lalu beranjak berdiri dan berjalan menuju bangku di belakang bangku yang ditempati Mincha dan duduk di situ.

“Oh,ya! Yoochun itu siapa, ya? Tadi kudengar kau menyebutkan nama itu terus,” tanya Jinki berbisik tepat di kuping kanan Mincha, membuat gadis itu bergidik geli. Tapi begitu menyadari pertanyaan Jinki, dia terdiam dan mulai menahan air matanya yang hampir tumpah. Dia berusaha agar Jinki tidak tau bahwa dia ingin menangis. Tapi, badannya bergetar, sehingga cowok itu pun akhirnya tau. Jinki segera duduk di sebelah Mincha dan merengkuh gadis itu dalam pelukannya.

“Ah, maafkan aku sudah bertanya seperti itu. Sssshh, sudahlah jangan menangis,” ucap Jinki yang merasa bahwa Mincha menangis karena pertanyaannya tadi.

“Dia… dia… hikz… Yoochun adalah oppaku. Dialah yang selalu ada saat aku sedih, saat aku senang, saat orang tua kami meninggal pun dia tetap ada di sisiku. Tapi, beberapa bulan yang lalu dia meninggal dalam kecelakaan. Hikz… aku tidak punya lagi seseorang sebagai tempatku bersandar. Apa memang aku ditakdirkan untuk sendirian di dunia ini?” kata Mincha sambil tetap menangis sesenggukan dalam pelukan Jinki.

“Bahkan, kau pun memintaku menjauhimu. Aku hanya ingin memberikan darahku. Karena aku rasa hanya itu yang dapat kulakukan di sisa hidupku. Teman-temanku menjauhiku, karena aku tak punya orang tua. Aku ingin punya teman. Meski vampire, itu tak masalah. Bahkan jika aku harus mati demi temanku, aku juga nggak masalah, karena memang aku sudah tak berarti lagi di dunia ini,” lanjut gadis itu lagi.

“Maaf, aku nggak tau kalo di balik sikap ceria, pemberani, dan beringasmu itu, kamu menyimpan beban seberat itu. Maafkan aku, bicara seenaknya saja seperti itu tadi,” pinta Jinki memohon maaf.

“Tak apa. Bukan salahmu. Kamu memang nggak tau apa-apa tentangku,” desah Mincha sedikit kecewa. Benarkah tak ada yang mau berteman dengannya.

“Hyung! Aissh, kau apakan Mincha? Masa ampe nangis gitu?” tanya Jonghyun yang tiba-tiba saja sudah hadir di hadapan mereka.

“Apaan sih? Aku nggak ngapa-ngapain tauk!” bantah Jinki.

“Tadi aku dimarah-marahin pengen lihat wajahnya pas nangis, eh kutinggal malah hyung lihat sendirian. Curang,” Jonghyun bersungut-sungut. Bletak.

“Sembarangan! Kalo kamu tadi itu kan sengaja, kalo aku ini tadi nggak ada niatan kayak gitu,” kata Jinki emosi.

Melihat keakraban antara Jinki dan Jonghyun, Mincha mulai menangis lagi.

“Cha, sudah doooong…. Jangan nangis lagi! Kami mau kok berteman sama kamu,” ucap Jinki yang membuat Mincha mendongakkan kepalanya. Menatap mata Jinki dalam, berusaha mencari kebenaran dalam ucapannya tadi.

“Oh, iya hyung. Sebenarnya ada cara agar kau bisa kembali ke dunia vampire. Aku tadi diberitahu oleh Raja,” ucap Jonghyun pada Jinki.

“Apa itu berarti, kalian akan meninggalkanku sendiri lagi?” Mincha menatap Jonghyun dan Jinki bergantian dengan cemas.

“Mmmh, sebenarnya sih untuk melepaskan kutukan itu, hyung harus menghisap darah gadis yang sudah menolongnya dengan cara menggigit leher gadis itu. Ya, tahulah gimana… Seperti yang akan kulakukan padamu tadi,” jelas Jonghyun sambil menunjuk Mincha dengan dagunya.

“Berarti aku akan mati? Tak apalah. Daripada aku harus sendiri di sini tanpa kalian. Aku rela. Mungkin memang sudah takdirku,” ucap Mincha merelakan dirinya menjadi santapan sang pangeran vampire. Sedangkan Jinki hanya berdiri pada posisinya semula tanpa ekspresi di wajahnya.

“Jinki? Bukankah kamu ingin bebas dari kutukan itu? Lakukanlah!” ujar Mincha sambil menyodorkan lehernya yang jenjang pada Jinki.

“Jonghyun! Apakah tidak ada cara lain? Kalo aku melakukan itu, Mincha akan menjadi vampire juga. Aku nggak mungkin membunuhnya seperti kita membunuh mangsa kita yang dulu,” akhirnya Jinki mengeluarkan suaranya.

“Kenapa? Bukankah gadis itu sudah rela mati?” tanya Jonghyun.

“Entahlah! Rasanya aku tidak rela melihatnya mati dengan cara seperti itu. Aku ingin dia mati dengan wajar,” jawab Jinki dengan lesu.

“Jadi vampire?” tanya Mincha tak mengerti.

“Hyung? Apakah kau mencintainya?” tanya Jonghyun membuat Jinki tersentak.

“Entahlah! Hanya saja aku merasa nyaman berada di dekatnya. Hatiku sakit melihatnya menangis. Dan aku nggak mau melihatnya terluka,” ungkap Jinki dengan kalut.

“Itu artinya kau mencintainya, hyung!” ucap Jonghyun kesal membuat wajah Jinki memerah.

“Kalian ini! Ngobrol sendiri! Kalian pikir aku apa?” tanya Mincha kesal sambil berkacak pinggang di hadapan 2J.

“Kamu? Manusia kan?” jawab Jonghyun dan Jinki bersamaan dengan polos. Membuat Mincha semakin kesal.

“Ah, terserah kalian lah! Aku mau tidur saja! Nanti kalau sudah dapat keputusan, bangunkan aku!” kata gadis itu, lalu merebahkan tubuhnya di bangku panjang gereja tersebut.

“Hyung! Ngambek tuh!” ucap Jonghyun sambil menoel-noel lengan Jinki.

“Sudahlah! Biarkan saja! Sudah biasa!” kata Jinki. “Lalu, bagaimana? Ada cara lain atau tidak?”

“Kata Raja, kalau kau memang mencintainya, dan dia juga mencintaimu, setelah dia menjadi vampire dan kau sudah terbebas, kalian akan dinikahkan. Raja merestui,” jawab Jonghyun.

“A…a..apaan sih? Nikah… Nikah… Dia hanya mengharapkanku untuk jadi temannya,” sangkal Jinki.

“Kyaaaaaaa………….,” tiba-tiba terdengar jeritan Mincha. Jinki segera menoleh panik mendapati gadis yang dicintainya berada dalam genggaman Kyuhyun, musuhnya.

“Kyu! Lepaskan gadis itu! Dia nggak ada hubungannya dalam permasalahan kita!” ucap Jinki berusaha tenang sambil melangkahkan kakinya ke arah Kyuhyun.

“Tentu ada! Gadis ini adalah sumber kekuatanmu kan? Tanpa gadis ini, apakah kau bisa melawanku?” tantang Kyu, sombong. Lalu mendorong Jinki hingga terpental menggunakan kekuatannya. Jonghyun yang saat itu berada di tempat itu segera berlari mendekati Jinki untuk menolongnya. Tapi, belum sampai dia tiba di sisi Jinki, dia terpental hingga menabrak dinding. Mincha yang melihat hal itu, tiba-tiba saja mempunyai kekuatan untuk melepaskan diri dari genggaman Kyuhyun lalu segera menghampiri Jinki yang terhempas di tengah aula gereja.

“Kau? Bagaimana bisa?” tanya Kyuhyun tak percaya.

“Jinki! Kau tak apa?” tanya Mincha khawatir. Jinki menggeleng lemah.

“Hehh! Kamu tuh, siapa sih? Datang-datang mengacau seenaknya saja!” bentak Mincha. “Menyakiti Jinki dan Jonghyun, berarti berhadapan denganku!”

“Cih, kau bocah ingusan! Kau hanya manusia! Mana bisa mengalahkanku?” ucap Kyuhyun meremehkan.

“Kau belum tahukan siapa sebenarnya aku?” tanya Mincha pada makhluk angkuh di hadapannya.

“Jinki, apakah dia ini vampire sepertimu?” tanya Mincha tanpa menoleh pada yang ditanya. Jinki yang tidak menaruh kecurigaan apapun pada Mincha hanya mengiyakan.

“Jonghyun, bawa hyungmu keluar dari ruangan ini. Pokoknya, berlindunglah! Biar aku yang urus makhluk ini,” perintah Mincha dengan nada serius. Belum pernah Jinki mendengar nada bicara Mincha yang seperti itu. Dia hanya terus memandang khawatir ke arah gadis itu sampai dirinya berada di ruangan sebelah aula. Jinki melihat Mincha dan Kyuhyun dari kaca pembatas ruangan.

“Kau tidak tahukan kalo aku adalah pembasmi vampire?” tanya Mincha tajam lalu mengeluarkan sebuah benda dari dalam tubuhnya setelah mengucapkan sebuah mantra.

Kyuhyun membelalakkan kedua matanya melihat benda tersebut. Terutama Jinki dan Jonghyun. Mereka tidak menyangka, seorang pembasmi vampire ingin menolong seorang panngeran vampire. Apakah itu hanya tipuannya saja?

Mincha terus berdoa dalam hati sambil mengangkat benda itu tinggi-tinggi, kemudian menatap Kyuhyun dengan tajam dan bibir kecilnya mulai berkomat-kamit membaca mantra. Sebuah sinar yang menyilaukan tampak keluar dari benda tersebut. Makin lama semakin meluas dan akhirnya menghancurkan tubuh Kyuhyun yang berteriak kesakitan hingga tubuhnya hancur menjadi serpihan-serpihan kecil begitu sinar tersebut mengenai dirinya. Setelah mengeluarkan kekuatan yang begitu besar, Mincha ambruk ke lantai dan tak sadarkan diri. Sementara napasnya tersengal putus-putus.

Jinki yang melihat itu langsung menghampiri Mincha dan mengangkat tubuh gadis itu lalu membawanya ke rumah Mincha. Setelah meletakkan gadis itu di sofa, Jinki terus menggenggam tangannya.

“Cha, jangan tinggalkan aku! Jangan mati dulu!” ucap Jinki sambil terisak.

“Hyung, sudahlah! Berada bersamanya, kau juga bisa dalam bahaya!” kata Jonghyun.

“Jauh darinya lebih berbahaya lagi. Kau ingat, aku masih terikat dengannya,” teriak Jinki.

“Oppa.. Apakah sudah waktunya?” perdebatan mereka terputus oleh igauan Mincha.

“Kenapa? Aku sudah tidak ada gunanya lagi hidup! Orang yang paling ingin aku lindungi pun sekarang pasti membenciku begitu mengetahui bahwa aku salah satu pembasmi,” Mincha terus mengigau. Jinki memandang gadis itu dengan pandangan kalut. Dia tidak ingin kehilangan gadis itu.

“Kumohon! Bawa aku bersamamu, oppa!” Mincha terus merintih, memohon dalam alam bawah sadarnya.

“Andwae,” bisik Jinki lirih.

“Siapa yang akan menangisi kepergianku, oppa? Takkan ada! Karena itu, biarlah aku ikut bersama kalian,” tangis Mincha.

Saat air mata Jinki jatuh menetes di tangan Mincha, gadis itu perlahan membuka kedua matanya. Dia memandang ke sekitarnya dan menyadari bahwa dirinya berada di rumah. Ketika dia menoleh ke arah kanan, dia mendapati Jinki sedang menangis sambil menggenggam tangannya dan Jonghyun yang berdiri menatapnya.

“Ka… Kalian… sedang apa di sini?” tanya Mincha kaget.

“Sy… Syukurlaaaah…. Syukurlah,, kau sadar!” ucap Jinki yang kemudian langsung menarik Mincha dalam pelukannya. Mincha menatap Jonghyun menanti penjelasan. Tapi Jonghyun hanya mengedikkan bahunya lalu beranjak keluar dari rumah.

“Jinki? Kamu nih apa-apaan sih? Lepasin!” Mincha berusaha mendorong bahu Jinki agar menjauh. Tapi tenaganya tak sebanding dengan Jinki. Apalagi kondisinya yang masih lemah setelah mengeluarkan tenaga yang sebegitu bsarnya. Dia pun pasrah saja dalam dekapan Jinki.

“Kamu kenapa nangis?” tanya Mincha pelan saat merasakan tubuh Jinki bergetar.

“Kamu jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, Cha! Setelah membuatku jatuh cinta padamu lalu kamu akan meninggalkanku? Nggak, Cha! Nggak akan kubiarkan,” ucap Jinki menahan tangis.

“Ha? Jatuh cinta? Siapa?” tanya Mincha linglung. *perasaan peran gw kok daritadi bloon mulu’ ya!?*

“Cha! Sekarang jawab aku!” ucap Jinki sambil menjauhkan bahu Mincha dari pelukannya dan menatap matanya dalam-dalam.

“Kenapa kamu mau nolong aku yang notabene vampire juga seperti Kyuhyun, padahal kamu itu pembasmi vampire? Dan juga, kamu tau, pembasmi vampire kalo bekerja sendiri akan mengerahkan seluruh tenaganya, bahkan mungkin bisa mati setelah mengeluarkannya! Kenapa kamu nekat ngelakuin itu? Padahal aku juga VAMPIRE, Cha! VAMPIRE!” lanjut Jinki lagi dengan suara keras.

“Aku nggak tau! Aku ngerasa aku harus ngelindungin kamu! Dari pertama kali lihat kamu, aku udah ngerasa gitu! Karena itu, aku nggak mau lihat kamu dibanting-banting kayak tadi sama Kyuhyun itu! Aku ikut sakit!” jawab gadis itu tak kalah kerasnya dengan air mata yang mulai mendesak keluar.

“Cha! Kamu mau nggak, jadi vampire sepertiku dan mendampingiku selamanya, sebagai istriku?! Aku suka sama kamu! Jika aku sudah terbebas dari kutukan ini, aku yang akan melindungimu,” ujar Jinki tiba-tiba dengan pandangan serius. Mata Mincha membulat mendengar pernyataan dan permintaan Jinki tersebut.

“Nggak mau, ah! Kamu kan pangeran vampire, ntar pasti bakal gantiin raja! Aku nggak mau nikah sama kamu!” tolak Mincha pura-pura serius.

“Hah? Emang kenapa? Aku janji nggak bakal nelantarin kamu!” ucap Jinki terkejut atas penolakan Mincha.

“Abisnya, aku nggak sanggup kalo ntar kamu nikah sama cewek lain selain aku! Pangeran ama raja kan boleh punya istri lebih dari satu. Aku nggak mau,” jawab Mincha lalu mengerucutkan bibirnya.

“Ah, masa nggak boleh sih? Masa istriku cuma kamu doang? Nggak asyik,” kata Jinki malah menggoda Mincha begitu mendengar alasan gadis itu.

“Ya, udah! Aku kan udah bilang aku nggak mau jadi istrimu! Lagian, mana ada vampire nikah sama pembasmi bangsanya sendiri?” kali ini Mincha berkata sambil menopang dagu.

“Aku percaya, kamu bukan pembasmi yang asal menghancurkan bangsaku! Dan lagi, setelah kau menikah denganku, kekuatanmu itu tidak akan ada gunanya lagi, kan? Mau ya Cha?” ucap Jinki sambil memasang wajah memelas.

“Aku masih tidak bisa membayangkan kalo nanti aku bakal diduakan, ditigakan, diempatkan dilimakan,dienam….,” perkataan Mincha terputus saat sesuatu yang basah dan hangat menempel di bibirnya.

TBC

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

He’s Still My Boyfriend – Part 4

He Still My BoyFriend

^part 4^

Cast : Shin Eun Kyo (You ), Choi Min Ho, Choi Jin Ri (Sulli)

Other Cast : Lee Jin Ki, Kim Jong Hyun

Support Cast : Lee Tae Min , Kim Ki Bum (Key

Length : Chaptered

Genre : Romantic

Author : Minki

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA”

Omo,apa yang sedang aku liat? Umma,maafkan anakmu ini karena melihat pertunjukkan yadong. Aku langsung berbalik dan memutar kenop pintu dan berlari keluar. Tidak peduli dengan pandangan dan pikiran orang itu. Aku harus mencari Jin Ri,coba tadi aku minta ditemani pasti nasibku tidak akan memalukan seperti ini.

”Jin Ri-ah………………..” aku langsung berteriak senang dan berlari ke arahnya dan langsung memeluknya.

”Kyo-ah ada apa? Kenapa kau berlari seperti itu? Apa kau bertemu dengan Max Chang Min?” tanya Jin Ki oppa. Jika benar ada Max Changmin disini aku tidak akan memeluk Jin Ri malah langsung memeluk Max Changmin.

”Oppa,Jin Ri antarkan aku ke toilet nanti aku akan ceritakan”

”Ok” jawab mereka berdua bersamaan. Huh,kurasa mereka memang cocok selain dari nama mereka berdua yang mirip. Saat sudah sampai toilet Jin Ri juga ikut masuk tapi Jin Ki oppa menunggu kami berdua di luar.

”sudah selesai?” tanya Jin Ki oppa saat kami berdua keluar dari toilet. Kami hanya mengangguk seperti anak anjing.

”sekarang kita ke kantin dan kamu Eun Kyo ceritakan pada kami berdua kau tadi kenapa” perintah Jin Ki oppa. Dia memang sangat tegas dalam mengambil keputusan.

Saat kami sudah sampai kami mencari tempat yang kosong,hampir semua kursi disini penuh. Akhirnya kami menemukan tempat yang terletak di pojok kanan ruangan. Kami langsung saja duduk di kursi yang tersedia.

”Kau mau pesan apa Jin Ri ?” tanya Jin Ki oppa.

”Aku mau gimbab saja sunbae” jawab Jin Ri dengan malu-malu. Aku yakin mereka berdua sedang berada diatas angin .

”Tidak usah panggil sunbae,panggil saja aku oppa” kata Jin Ki oppa dengan muka yang sok manis*emang manis si*. Huh,ternyata oppaku bisa gombal juga ya. Waktu OSPEK saja saat aku memanggil dirinya dengan sebutan ’oppa’ dia langsung menjitak kepalaku dan malah minta dipanggil ’sunbae’.

”kok aku nggak ditanyain sunbae” kataku dengan penekanan pada kata ’sunbae’.

”kalau kau pasti jajangmyeon dan strawberry juice kan?”

Oppa memesan pesanan kami dan setelah selesai memesan oppa langsung kembali ke tempat kami.

”nah,sekarang ceritakan kenapa” kata Jin Ki oppa menagih ’hutang’

”kenapa kau berlari-lari dan langsung memeluk diriku?” sekarang Jin Ri ikutan bersuara. Apakah aku harus menceritakan hal yang memalukan tadi?

”tadi aku melihat orang shritless” akupun menceritakan semuanya dari A-Z dan apa reaksi mereka? Mereka hanya tertawa seakan habis melihat pertnjukkan ’ludruk’.

Huuh,harusnya tadi aku tidak usah bercerita kalau akhirnya mereka berdua makin membuatku malu.

”bisakah kalian berhenti tertawa? Aku jadi menyesal telah bercerita pada kalian” kataku ketus.

”mianhae” kata mereka bersamaan*lagi*. Mereka benar-benar sangat kompak. Aiissshhh,sekarang mereka berdua sibuk lirik-lirikan.

”aku lupa Kyo-ah kalau kau buta arah” Jin Ki oppa malah meledekku. Bukannya menenangkanku.

”Kenapa kau tidak minta antar aku saja tadi?” sekarang Jin Ri yang ikut-ikutan.

’bagaimana aku bisa minta padamu mengantark kalau kau sedang sibuk bertatapan mata dengan Jin Ki oppa?’ rasanya aku ingin menjawab seperti itu.

”apa kau tau siapa orangnya?” tanya Jin Ki oppa meninterogasiku.

”Molla”

”apa kau tau ciri-ciri orangnya?” Jin Ri juga ikut menginterogasiku.

”Badannya six pack,memiliki wajah tampan,punya rahang yang keras dan rambutnya seperti landak” jawabku seadanya. Aku memang tidak tau orangnya tapi aku bisa liat jelas siapa orang itu.

Aigooo,nasib baik belum berpihak padaku. Aku melihat orang itu ada disini. Dia sepertinya sedang kebingungan mencari tempat.

”Jin Ri-ya sembunyikan aku”

”Wae?”

”Orang itu ada disini,aku takut dia melihatku”

Jin Ki POV

Haaahaaa,lucu sekali dongsaengku ini. Hanya melihat orang shirtless dia bisa histeris seperti itu? Padahal waktu kami kecil dia sering melihat aku shirtless. Aku kira yang bisa membuat dia histeris hanya Changmin DBSK, MinHo Shinee dan KyuHyun Super Junior.

”Orang itu ada disini dia yang ada disana” kata Eun Kyo sambil menunjuk seseorang. Aku pun mengikuti arah yang ia tunjuk. Aigoo ternyata temanku bisa membuat Eun Kyo histeris seperti ini?

”Ya,Kim Jong Hyun .. Kemari”

Jong Hyun POV

Rasanya aku lapar sekali setelah bermain basket. Kalau ingat kejadian di kamar ganti tadi rasanya aku ingin menjitak kepala yoja tadi. Seenaknya saja masuk ke kamar ganti dan teriak sangat keras. Perutku tidak mau kompromi akhirnya aku ke kantin dan memesan beberapa makanan. Tapi kantin sangat ramai semua kursi penuh.

”Ya,Kim Jong Hyun kemari” saat sedang bingung mencari kursi. Aku mendengar ada orang yang memanggilku. Ternyata Jin Ki yang memanggilku. Wuah,hebat sekali Jin Ki dikelilingi dua yoja. Tapi ada satu yang mukanya sangat familiar seperti pernah aku liat.

”neo..”

Eun Kyo POV

Aiiiisssshhh,,Jin Ki oppa benar-benar mau membuatku mati secara perlahan. Masa dia manggil namja yang tadi aku liat secara tidak sengaja sedang shirtless?

”Neo..”kata namja itu sambil menunjuk mukaku. Kalau tidak salah nama namanya Kim Jong Hyun.

”Ne,sunbae”

”Kau yang tadi sengaja masuk kamar ganti saat aku sedang ganti baju kan?” huwa..pertanyaan yang menohok.

”ralat sunbae aku tidak sengaja masuk bukan sengaja” kataku meralat pertanyaannya.

Akhirnya dia mengerti juga setelah Jin Ki oppa jelaskan. Ternyata Jong Hyun sunbae orangnya sangat ramah dan baik ya. Dia sangat lucu mampu membuat aku dan Jin Ri tertawa terbahak-bahak.

”Jin Ri-ah aku mau ke toilet lagi” kataku

”Perlu kuantar?”

”anni,aku sudah hapal jalannya”

”Oppa,sunbae aku tinggal dulu ya aku mau ke toilet. Jangan macam-macam dengan Jin Ri”

”jangan salah masuk kamar ganti ya lagi ya.” Kata Jong Hyun sunbae meledekku.

”Kapok aku melihat orang shirtless” jawabku seadanya dan langsung melesat ke toilet.

Jin Ri POV

Min Ho oppa mana ya? Lama sekali sih?

Flash Back

”sunbae,Eun Kyo selalu bercerita padamu ya?”

”ye,dia bercerita padaku tentang apa saja. Tapi sekarang dia sering bercerita tentang namja yang bernama Choi Min Ho”

”apa kau tau sunbae kalau aku yodongsaeng Choi Min Ho?”

”Jinjja? Eun Kyo tidak bercerita tentang itu”

”ne aku adik dari Choi Min Ho. Kau tau sunbae? Aku ingin mempertemukan mereka berdua. Tapi aku sudah janji pada Eun Kyo tidak akan memberitahu Min Ho oppa.”

”Kau SMS saja oppamu,suruh dia kesini. Nanti selebihnya biar aku yang urus.” kata Jin Ki sunbae dengan bijaknya.

Akupun menuruti kata Jin Ki sunbae.

To : Oppa

Oppa,bisakah kau datang ke kampusku? Aku tunggu dikantin ya.

END OF FLASHBACK

Min Ho POV

Huuuhhh,,hari ini pekerjaan dikantor tidak ada yang beres. Aku masih penasaran dengan yoja itu yang kata Jin Ri mirip dengan Eun Kyo. Aiiissshhh,,Kyo-ah kau ada dimana? Tidak taukah kau aku sangat merindukanmu? Kenapa kau tidak pernah menghubungiku? Apa kau malu mempunyai namja chingu yang pengecut seperti diriku? Karena aku tidak menunjukkan diriku dihadapanmu?

Saat sedang sibuk memikirkan Eun Kyo ada sms masuk dari Jin Ri. Dia minta aku dantang ke kampusnya. Ada apa ya? Tidak seperti biasanya Jin Ri memintaku datang ke kampusnya.

Setelah dipikir-pikir sepertinya tidak apa-apa aku kesana. Aku juga ingin sekalian bernostalgia saat aku kuliah dulu. Aku langsung melesat ke mantan kampusku itu.

Akh,aku baru ingat yoja yang bernama Eun Mi kalau tidak salah satu kampus dengan Jin Ri. Apa aku akan bertemu dengannya nanti?

Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama satu jam akhirnya aku sampai di SYAINI UNIVERSITY. Kampus ku tercinta,dulu aku juga kuliah disini tapi aku sudah lulus. Dan sekarang giliran Jin Ri yang kuliah disini.

Saat mau menuju kantin aku melihat yoja yang baru keluar dari toilet itu seperti……..

TBC

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

BYEOL : My Confusion – Part 1

Title: Byeol: My Confusion

Main Cast : Choi minho – Shinee

Byeol

Other Cast: Shim Changmin – DBSK

Shinee

Genre: Romance

Author : Suci

ok mian kalo ffnya makin gaje, tapi ya beginilah apa jadinya..

makasih banget nih buat si asa yang dah bantuin me refisi ff saya GOMAWO ASA..

oh iya GOMAWO juga buat readers n comment nya yang di ff sebelumnya. itu semangat buat aku bikin lanjutanya..

GOMAWO juga buat admin yang udah ngepostin!! ^^

udah ah jadi banyak bacot gini.. HAPPY READING ALL!!!!

~ ~ ~

Padahal sudah hampir 1 minggu aku pulang dari mokpo. Hampir semua yang kulakukan disana samar-samar hilang dari ingatanku. Tapi hanya satu memori yang masih bertengger *apa coba bahasanya-___-* di kepalaku, apa lagi kalo bukan byeol. Dia benar-benar menyita pikiranku.

ah!bahkan gara-gara memikirkan byeol juga, hari ini aku lupa kalau ada janji dengan changmin hyung! dia yang mengajakku duluan sih, pasti dia minta oleh-oleh. Aku pun langsung pergi menggunakan masker dan kacamata ke cafe tempat aku dan Changmin hyung biasa berkumpul.

“Ya! Minho!! Di sini!“ teriak Changmin hyung saat aku memasuki cafe, aku pun langsung menghampirinya. Entah kenapa walau pun sedang bersama orang lain pikiranku tetap terfokus padanya. Ya pada siapa lagi kalau bukan byeol.

Flash Back

“kenapa kalau malam-malam kau selalu ke sini?” tanya ku pada byeol, ya kami berdua sudah ada di tempat pertemuan pertama kami. “hmm.. karena di tempat ini oppaku akan datang menjemputku.” Jawabnya datar. “tapi kan bahaya gadis sepertimu selalu keluar malam-malam, apa kau tidak takut?” tanyaku padanya dan hanya di jawab dengan menggelengkan kepalanya. “aku takut kalau aku tidak datang kesini nanti oppaku akan susah menemukanku” jawabnya sedih.

“terserah kau lah.. apa kau sudah ingat namamu?” tanyaku hati-hati, ‘’hmm.. sudah lah panggil aku byeol“ ucapnya “ara,ara… apa yang kau sukai?“ tanyaku antusias “ne? Maksudmu apa?“ jawabnya bingung  “hal yang paling kamu sukai apa?“ “melihat orang-orang di sekelilingku bahagia“ jawbnya mantap, aku sedikit bergidik ketika ia bicara seperti itu.

“minho-sshi.. boleh aku bertanya?“ “boleh, mau bertanya apa?“ jawabku sambil tersenyum manis kearahnya “kenapa kau mengidekan nama kaettong ?” tanyanya antusias dengan wajah kebingungan. Lucu sekali ekspresinya itu. ‘’mau jawaban jujur atau bohong ?” tanyaku dengan nada sedikit bercanda “Jujur, aku mau kau jujur” jawabnya serius  “kaettong yang ku maksud bukan kotoran anjing tapi robin.“ jawabku mantap “robin? Tapi aku kan yeoja” tanyanya lagi semakin membuat wajahnya lucu di pandanganku. “ya, karena kau seperti robin. Aku selalu bertemu denganmu malam hari, dan kau telah mencuri sesuatu dariku” good. Kata-kataku berhasil membuatnya tambah penasaran “maksudmu? Aku semakin tidak mengerti” akupun mengambil tangannya dan meletakannya didadaku “kau telah mengambil ‘ini’” ucapku diiringi senyuman khasku.

“jangan bercanda, kita baru bertemu 2 kali. Tidak mungkin kau langsung menyukaiku” jawabnya sambil tersipu malu dan melepaskan genggaman tanganku. ternyata daya tangkapnya bagus juga hahaha.“love at first sight ku rasa, dan asal kau tahu aku sudah melihatmu 3 kali bukan 2 kali.” Ucapku sambil tersenyum lembut padanya “gomawo, tapi aku..“ “tak perlu jawab sekarang, aku tahu ini terlalu mendadak, tapi satu hal yang ku yakini, ini bukan cinta sesaat“ aku sengaja memotong ucapannya sebelum dia mengatakan hal yang tidak kuinginkan.

End of Flash back

“minho-ya ada apa denganmu? Kenapa dari tadi melamun?” tegur changmin hyung sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah ku. “Ah hyung, ani.. tidak ada apa-apa kok.” Jawabku sedikit gugup “benar tidak ada apa-apa? Sepertinya ada sesuatu. Kata managermu kau berubah semenjak pulang dari mokpo. Ceritakan padaku” paksa changmin hyung. Ah, ternyata hyungku yang satu ini tidak bisa ku bohongi. Aku pun menceritakan semua tetang byeol.

“hmm.. kurasa dia itu hantu” tanggap changmin hyung “aigoo hyung, kau terlalu banyak nonton film” ujarku tak percaya dengan kata-katanya “mungkin saja kan? Lagian kau bilang kau bertemu dengannya hanya malam hari dan dia selalu memakai baju yang sama, lalu bertemunya di belakang kuil lagi” ucap changmin hyung mempertahankan argumennya “ tapi kalau dia hantu aku tidak mungkin bisa menyentuhnya kan?” ucapku masih tidak percaya dengan argumen hyung ku ini.

“kau menyentuhnya?” tanya changmin hyung antusias “aisshh.. jangan berpikiran yang macam-macam hyung“ ucap ku yang sepertinya bisa membaca pikiran changmin hyung. ‘’aigoo… aku tidak berpikiran mesum tau..’’ sanggah changmin hyung. ‘’siapa juga yang bilang mesum hyung ? aku hanya bilang jangan berpikiran macam-macam’’ ucapku tak mau kalah. Untuk beberapa menit aku dan changmin hyung adu mulut tentang byeol. Tapi tebakanku benar, changmin hyung menagih oleh-oleh. Dasar hyungku yang satu ini.

Untung aku tidak ada jadwal apapun hari ini, jadi bisa ngobrol lama dengan changmin hyung.

Drrtt…drtt

From :Taemin

Message : Hyung ! susuku habis… tolong belikan ya. Pakai uangmu dulu nanti aku ganti.. gomawo hyungku tercinta ^^

Dasar bocah, kenapa dia tidak beli sendiri sih? Aku hanya dapat mencibir membaca sms dari Taemin. Terpaksa aku harus membeli susu dulu.

Susu untuk Taemin sudah ditangan. Baiklah, sekarang saatnya pulang, besok jadwalku padat, karena sekarang aku free.

The Next day

Author POV

Hari ini Shinee di sibukan dengan berbagai macam kegiatannya, terutama Minho. Karena dia kemarin jadwalnya kosong terpaksa jadwalnya di padatkan di hari ini, “Minho, 5 menit lagi giliranmu bersiaplah” seseorang memanggil Minho. “Fighting!!” seru anggota shinee lainnya menyemangati minho.

Tiba-tiba saat minho sedang reahershal. “Minho, AWAS!!” teriak seorang kru. Seketika ruangan jadi panik.

@ Hospital

“Minho-ya gwaenchanayo?” tanya onew sang leader cemas “Gwaenchan hyung, kurasa aku tidak bisa perform lagi untuk beberapa hari kedepan hehehe” jawab Minho dengan senyuman pahit “kasian nian kau hyung, baru sembuh dari kecelakaan dream team sekarang kau ditimpa musibah lagi. Hyung, sepertinya kau sedang dikutuk” ucap taemin tanpa dosa. “aishh.. jangan berkata seperti itu… bagaimana kalau nanti di kutuk beneran?” tegur key sambil menjitak kepala taemin “aww.. sakit hyung.. ya kalo beneran di kutuk tidak ada lagi minho flaming charisma susah amat sih” ucap taemin lebih tanpa dosa yang mengakibatkan kepalanya dijitak sama semua hyungnya.

“kurasa ini gara-gara kau kerasukan setan mokpo”ujar jjonghyung ngelantur “ah, benar itu hyung, mana lagi minho hyung suka keluyuran malem-malem waktu di mokpo” timpal taemin “mwo? Keluyuran malem-malem? Ini penyebab kamu suka bengong kalo latihan?”  onew angkat bicara, Minho hanya diam sambil menunduk. “kayanya kamu di gentayangin hantu cewek deh” ucap key asal “yang benar hyung? Ceweknya cantik ga?” tanya taemin pake tampang polos kelewat batas. Yang lain hanya mendecak kesal dengan kelakuan taemin dari tadi.

“huuh, sudah jam 2, kami harus bersiap-siap… Minho kurasa kau istirahat di rumah sakit dulu saja, kalau di dorm pasti tidak ada yang mengurusmu ara? Kami pamit dulu” ucap onew pamit sambil meninggalkan ruang rawat Minho dan diikuti member shinee lainnya, yang pasti kecuali minho.

1 menit…

5 menit…

20 menit…

1 jam…

“BOSAN!!!!” pekik Minho, dia pun berinisiatif untuk jalan-jalan keliling rumah sakit.

‘Rumah sakit payah, masa tidak menyediakan fasilitas bermain untuk pasiennya sih…’ gerutu Minho sambil berjalan-jalan diatas kursi roda. Saat melewati taman rumah sakit ia berhenti. Minho melihat seorang yeoja yang sedang menatap langit sambil mengangkat tangannya keatas seolah-olah ingin menggapai sesuatu.

Minho pun mencoba mendekatinya, sontak minho kaget saat melihat dengan jelas wajah yeoja itu “byeol..” ucap minho lirih.

“annyeong” ucap minho mencoba ramah padahal emosinya sedang tidak karuan karena bertemu dengan byeol lagi. Yeoja itu pun menengok kearah minho, menatap minho lama “neo? Ani.. ini mimpikan?” ucap byeol tiba-tiba.

“kau ingat padaku?” tanya minho hati-hati “kau yang ada di mimpiku kan?” byeol malah balik bertanya “jadi kau benar adalah byeol?” tanya minho lagi “kalau kau nyata berarti..” byeol menggantungkan kata-katanya, otaknya berpikir keras. Sampai-sampai “Akhhhh…” byeol memegangi kepalanya dan tiba-tiba cairan kental berwarna merah keluar dari hidungnya.

Minho POV

“ya byeol Gwaenchanayo?” tanyaku panik, bagaimana tidak dari tadi ia merintih kesakitan dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kenapa aku harus bertemu dengannya dengan kondisiku yang seperti ini? “SUSTER!! SIAPA SAJA TOLONG!!“ teriakku frustasi, akhirnya beberapa suster datang dan membopong byeol menuju ruang ICU, aku hanya mengikuti mereka dengan kursi rodaku.

Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa ia mengira aku hanya mimpi baginya? Ada apa ini aku tidak mengerti sama sekali!!

TBC

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

LOVE’S WAY – I THINK I [3]

I THINK I 2

Main Cast : Choi Hye Jin, Shin Hyo Jin, SHINee

Support Cast : Super Junior

Pagi ini aku bangun lebih awal, pertengahan minggu. Menyebalkan, aku ingin buru-buru akhir pekan lagi. Aku turun dari tempat tidurku dan menuju kamar mandi, melihat sekilas wajahku di cermin dan mencuci mukaku lalu menggosok gigi. Aku menghela nafas. Menatap wajahku sekali lagi di cermin dan tersenyum. Aku senang sekali minggu kemarin. Aku jadi ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Waktu pulang dari mengintai Hyo Jin kencan, aku menangis di bahu Taemin karena ingat ayah dan besoknya dia bertanya padaku kenapa, akhirnya aku cerita padanya tentang masalahku dan aku menangis di depannya, sebenarnya memalukan sekali tapi aku tidak bisa menahan tangisanku kalau bercerita masalah itu dan dia langsung memelukku, pelukannya begitu hangat.

”Hye Jin…lama sekali!”teriak Hyo Jin dari luar kamar mandi.

”Ne…aku sudah selesai…”jawabku dan berjalan keluar kamar mandi.

Hyo Jin sudah menungguku di depan kamar mandi sambil berkacak pinggang.

”Makanya jangan mikirin Taemin terus…”serunya sambil masuk ke dalam kamar mandi.

Dasar Hyo Jin selalu saja seperti itu. Aku berlalu menuju kamar untuk ganti baju tanpa mempedulikan ledekkan Hyo Jin. Aku mengambil seragam dan mengenakannya. Aku melihat diriku di cermin sebentar lalu keluar kamar menuju dapur untuk sarapan tapi sebelum sampai dapur aku mendengar ibu sedang berbicara dengan nenek. Kukira ibu sudah berangkat ternyata belum. Aku memelankan langkahku dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

”Kami akan pindah..mungkin 2 bulan lagi…”kata ibu.

Aku sungguh kaget mendengar bahwa aku akan pindah. Aku tidak mau pindah. Aku betah disini. Aku mendengarkan mereka berbicara tapi sepertinya ibu telah pergi. Pindah?kemana? aku sudah betah disini, aku tidak mau pindah lagi. Seseorang menepuk bahuku dan membuatku terlonjak kaget dan ternyata itu Hyo Jin.

”Ayo makan…kenapa bengong disini?”tanyanya.

”Andwe…ayo makan…”jawabku langsung kemudian berjalan menuju dapur.

Aku berjalan menuju ruang teater. Pagi ini ada PR yang belum aku kerjakan dan aku sudah bilang pada Donghae Oppa untuk membantuku. Hari ini aku juga membawa bekal untuk aku berikan pada Donghae Oppa karena biasanya dia belum sarapan jika datang sepagi ini. Aku membuka pintu perlahan mencarinya.

”Oppa…:”seruku.

”Disini Hye Jin-ah…”katanya.

Aku melihatnya sudah berada di tengah ruangan dan disana sudah ada meja dan 2 buah kursi yang selalu dia siapkan jika kami mau belajar. Aku mendekatinya dan tersenyum padanya.

”Duduk…mana PR nya?”serunya menyuruhku duduk.

Aku duduk dan mengeluarkan buku dari tas ku dan menunjukan PR ku padanya. Dia mengamati sebentar lalu mengambil tasnya dan mengeluarkan sebuah buku dan mulai mencoret-coret disana.

”Nah…begini…”serunya sambil menunjukan coret-coretannya tadi.

”Jadi pertama kau faktorkan dulu…setelah itu baru…”jelasnya.

Aku mendengarkan dia terus menjelaskan. Aku suka sekali jika dia mengajariku karena aku lebih mudah menangkap dibandingkan jika diajarkan olehnya. Dia membuat matematika lebih mudah dimengerti. Dia terus saja menjelaskannya padaku. Oh jadi seperti itu, aku baru tahu. Babonya aku.

”Arasso?”tanyanya begitu dia selesai menjelaskan.

”Ne…”jawabku semangat, sekarang aku bisa mengerjakannya.

Aku mulai menulis jawabanku di buku PR-ku, oh jadi begitu, sekarang aku paham. Ternyata tidak sulit mungkin aku saja yang Babo.

”Selesai…”seruku sambil tersenyum.

Donghae Oppa tersenyum melihatku.

”Gampangkan?” katanya.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Senangnya PR-ku sudah selesai. Aku memasukan bukuku ke dalam tas dan mengambil bekal yang tadi aku siapkan dan menaruhnya di atas meja.

”Aku bawa bekal…”seruku pada Donghae Oppa.

”Aku tahu pasti tidak seenak makanan Oppa tapi cobalah…”lanjutku sambil memberikannya sumpit. Dia tersenyum dan mengambil sumpit itu lalu mecoba telur gulungnya.

”Enak..”serunya sambil terus mengunyah makanan.

”Cobalah…”katanya. Dia menyumpit telur gulung itu lagi dan menyodorkannya padaku. Aku mengunyah perlahan ternyata enak juga. Kukira masakanku akan tidak enak.

Aku tersenyum padanya.

”Enak..”kataku.

Tiba-tiba seseorang masuk dan mengagetkan kami, ternyata itu Eunhyuk sunbae. Tumben sekali dia kemari. Dia juga sepertinya sangat terkejut melihat kami dan langsung menghampiri kami.

”Kalian sedang apa?”tanyanya begitu sampai di depan kami.

”Belajar…”jawabku.

Dia terlihat bingung dan menatapku dan Donghae Oppa bergantian.

”Sunbae mau makan tidak?aku buat bekal loh…cobalah…”seruku mengalihkan pembicaraan agar dia tidak bertanya yang aneh-aneh.

Dia langsung melihat ke arah bekalku dan tersenyum.

”Wah kelihtannya enak..”serunya sambil mengambil sumpit dari tangan Donghae Oppa dan langsung menyumpit telur gulungnya.

Aku melihat keluar jendela sudah banyak anak-anak yang datang. Lebih baik aku ke kelas sekarang sebelum Rae Na mencariku.

”Aku duluan ya Oppa…sunbae…”seruku sambil berjalan meninggalkan mereka.

”Ne..”jawab Donghae Oppa.

Aku melongok ke dalam kelasku dan ternyata masih banyak yang belum datang, hanya ada Key, seperti biasa dia selalu datang sangat pagi. Entahlah jam berapa tapi hari ini dia terlihat berbeda, ada apa dengannya ya? Tidak biasanya dia diam saja, biasanya dia selalu meledekku setiap aku masuk kelas sekarang dia hanya membaca bukunya. Aku berjalan menghampirinya perlahan dan mengiba-ibaskan tanganku di depan wajahnya.

”Ya!Hye Jin!”serunya marah. Ah kukira dia jadi aneh ternyata masih sama.

Aku tertawa dan berjalan menuju mejaku. Dia menengok kearahku dan ikut menuju mejaku, lalu duduk di kursi di depanku. Mau apa dia?

”Mwo?”tanyaku padanya sambil mengeuarkan buku PR-ku untuk memastikan bahwa aku sudah mengerjakan semua PR-ku.

Dia tersenyum sebentar lalu duduk menghadapku.

”Apa yang kau suka?”tanyanya.

Apa maksudnya bertanya itu?apa yang aku suka?untuk apa, perasaan ulang tahunku masih jauh. Kenapa dia?aneh sekali.

”Aku suka bernafas, aku suka makan, aku suka tidur”jawabku asal.

Habisnya dia aneh sekali bertanya seperti itu.

Dia memukul kepalaku.

”Aww!sakit tau!”teriakku.

”Aku kan tanya serius!jawabnya seperti itu!”serunya.

Dasar Key!selalu saja seperti itu. Serius! kapan dia pernah serius?

Aku mengusap-usap kepalaku yang di pukul oleh Key, Dasar cowok kasar!gerutuku dalam hati.

”Habisnya pertanyaanmu aneh sekali….”jawabku.

Dia memanyunkan bibirnya dan beranjak pergi.

”Susah bicara denganmu…”katanya lagi sambil berjalan kembali menuju mejanya.

Dasar aneh, kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu dan bereaksi seperti itu. Apa dia mimpi buruk semalam? Huh dasar aneh! Kulihat dia duduk kembali di tempatnya dan kembali membaca buku. Ih, Key jadi menakutkan!

Tak lama kemudian Rae Na datang dan langsung menghampiriku menanyakan PR. Sudah kuduga pasti dia akan lupa mengerjakan PR-nya. Aku segera memberikan buku ku padanya dan dia sibuk mencatatnya. Rae Na…Rae Na…kapan dia berubah?. Aku termenung di mejaku.

”Bengong aja…”seru Rae Na dari belakang sambil menyodorkan bukuku.

Aku mengambilnya dan menaruhnya di meja.

”Taemin mulu sih yang dipikirin…”serunya lagi.

”Mwo?kalian ini selalu saja…kau sama saja kayak Hyo Jin…senang sekali meledekku…”jawabku.

Kenapa sih teman-temanku ini sering sekali meledekku dengan Taemin padahal kami hanya berteman, sebenarnya aku sendiri bingung aku menyukainya atau tidak tapi mungkin aku menyukainya karena dia baik dan juga tampan tapi hanya sebatas kagum mungkin tidak lebih dan aku tidak pernah berharap dia juga menyukaiku. Walaupun terkadang jantungku selalu berdegup kencang jika di dekatnya tapi itu mungkin karena aku mengaguminya saja. Tidak lebih. Dia juga tidak kelihatan seperti menyukaiku, dia baik pada semua orang. Kenyataa yang kadang-kadang membuatku kecewa. Aigoo, kenapa aku ini?

Tak lama kemudian bel masuk berbunyi dan seorang guru masuk dan itu adalah guru baru yang aku temui di festival. OMO, apa dia masih mengenalku ya?aku malu sekali mengingat kejadian itu, waktu aku memarahinya. Semoga dia sudah lupa. Saat dia masuk seluruh kelas langsung ramai terutama yang perempuan. Aku yakin mereka pasti terkesima dengan wajah tampannya. Kuakui guru seni yang baru ini cukup tampan tapi tetap saja mengingat kejadian kemarin dimana dia begitu kasar, tidak deh. Key melirikku sekilas dan tersenyum mengejek. Pasti dia ingin bilang ’matilah kau bertemu guru ini lagi’ yah kurasa benar 2 tahun bersamanya. Guru seni yang tampan tapi kasar. Sungguh penderitaan. Dia maju ke depan kelas dan melihat kesekeliling dan mendapati mataku menatapnya. Dia tetap diam dan dingin, huh ada yah orang yang lebih dingin dari Minho. Aku buru-buru mengalihkan pandanganku takut dia ingat wajahku. Dia kemudian memperkenalkan dirinya.

”Namaku Jang Geun Suk dan aku adalah guru seni kalian mulai saat ini…” katanya. Sangat tegas.

Aku tersenyum sendiri dalam hati melihat teman-temanku yang terpesona, sebentar lagi kalian pasti tidak akan suka melihatnya karena dia sangat kasar. Aku mendengar bisik-bisik disamping kursiku aku menegok ke arah mereka.

”Ya ampun Jang seosangnim sangat tampan…”seru Lee Hyun Ji yang sedang berbisik dengan Park Tae Hee yang duduk disampingnya.

TOKK

Aduh aku memegang kepalaku yang dipukul saat aku mendongak untuk melihat siapa yang memukul kepalaku, aku kaget ternyata Jang sessongnim yang memukulku dengan bukuku.

”Tolong perhatikan saat aku bicara!”serunya.

”Jeongmal mianhe seosangnim…”seruku buru-buru. Dan bisa kulihat Key tertawa ke arahku, aku pun menjulurkan lidahku membalasnya.

Pelajaran pun dimulai.

Akhirnya keluar juga guru itu. Benar-benar deh dia membuat suasana pelajaran seni menjadi mencekam. Untung saja dia bukan mengajar matematika. Kebayang deh orang seperti dia mengajar matematika bisa-bisa aku minta les dengan Donghae Oppa setiap hari. Syukurlah hanya pelajaran seni tapi Masa dia menyuruh kami bernyanyi di depan kelas satu persatu. Aigoo, aku tidak bisa menyanyi untung saja namaku belum disebut olehnya jadi aku aman untuk minggu ini tapi entahlah untuk minggu depan. Apa dia akan menyuruh menyanyi lagi. Aigoo!

”Dia sangat tampan…”seru Rae Na di belakangku.

Dia termasuk salah satu korban juga ternyata.

”Gantengan mana?Siwon sunbae apa Jang seosangnim?”tanyaku padanya.

”Dua-duanya…”serunya.

Aigoo, dasar Rae Na, dulu dia bilang dia suka Siwon sunbae dan hanya dia orang yang paling tampan di sekolah ini ternyata dia sekarang juga suka dengan Jang seosangnim. Apa sih hebatnya dia?hanya tampan saja selebihnya dia kasar dan aku tidak suka. Setelah ini adalah pelajaran matematika. Dulu aku pikir guru yang paling galak disekolah ini adalah guru matematika ku Park seosangnim tapi setelah bertemu guru seni itu, kurasa yang paling galak bukan Park seosangnim tapi dia. Hari ini seperti biasa Park seosangnim meminta kami maju satu persatu untuk mengerjakan PR ke depan dan kebetulan yang sangat bagus hari ini aku tidak dipanggil biasanya hampir setiap ada PR aku pasti maju ke depan.

Bel makan siang berbunyi. Pusingnya kepalaku. Matematika membuat perutku lapar. Aku ingin segera pergi ke kantin tapi tiba-tiba Key datang menghampiriku dan duduk di meja depan menghadap kearahku. Mau apa dia?

”Kau suka apa?”tanyanya. Lagi. Pertanyaan yang sama seperti kemarin.

”Key, aku mau makan…sana..”seruku mengusirnya.

”Ya!jawab saja..susah sekali…cepat serius nih…”serunya lagi.

Aku berpikir sebentar, kenapa orang ini?daritadi pagi sudah aneh, bertanya yang aneh lagi. Apa dia ada niat mengerjaiku tapi wajahnya kelihatan serius. Aku menghela nafas.

”Aku suka es krim, coklat, beruang, jalan-jalan, makan…banyak deh…”jawabku.

”Apa warna favoritmu?”dia bertanya lagi.

Apa-apaan sih dia bertanya seperti itu.

”Cepat jawab!”serunya.

”Merah dan kuning…”jawabku.

”Apa hobimu?”tanyanya lagi.

”Makan”jawabku langsung.

”Ya!pantas kau gendut…”katanya lagi.

”Ya!enak saja kau!sudah lah aku mau makan!”aku beranjak dari bangkuku ingin keluar kemudian dia menahanku.

”Tunggu..satu pertanyaan lagi”serunya.

Aku berbalik dan menatapnya.

”Apa?”tanyaku.

Dia diam beberapa saat lalu berkata.

”Sekarang kau ingin apa?”tanyanya.

Pertanyaan yang sangat lucu, apa maksudnya bertanya seperti itu. Apa yang kuinginkan sekarang?tidak ada. Tiba-tiba muncul seseorang dan masuk ke dalam menghampiri Key. Itu Jonghyun.

”Hye Jin-ah…”seru Jonghyun padaku.

”Kenapa kau memanggilnya Hye Jin-ah?”tanya Key begitu Jonghyun menghampiri kami.

”She’s my girl..”seru Jonghyun sambil mengedipkan matanya padaku.

Aku tidak bisa tidak tertawa melihatnya. Lucu sekali dia. Key hanya cemberut mendengar jawaban Jonghyun.

”Kau mau jadi gadisnya?”tanya Key padaku dengan tatapan penasaran.

”He’s my boy…”seruku padanya.

Jonghyun tersenyum mendengarnya tapi Key malah memanyunkan bibirnya. Aneh sekali kau Key!

”Aku duluan ya…”seruku pada mereka berdua dan berjalan keluar kelas.

”Annyeong Hye Jin-ah..”seru Jonghyun.

Aku membawa makananku mencari meja yang kosong. Hari ini aku makan sendiri. Habisnya Hyo Jin makan dengan Jin Ki Oppa, kurasa hubungan mereka semakin dekat. Aku melihat mereka duduk di meja dekat pintu keluar. Sedangkan Rae Na, kemana anak itu tadi dia langsung menghilang begitu bel berbunyi. Tidak enak sekali makan sendiri seperti ini. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling mencari meja yang kosong tapi ternyata tidak ada yang kosong. Mau numpang makan bersama anak yang lain?rasanya tidak enak. Maksduku, aku sudah banyak kenal dengan mereka tapi tetap saja aku masih cangggung dengan mereka karena jika bertemu hanya menyapa selebihnya aku jarang berbicara dengan mereka. Namun ada sesorang yang melambai kearahku dari sebuah meja dan itu adalah Siwon sunbae, dia tersenyum padaku dan menyuruhku menghampirinya.

Datang?tidak?datang?tidak? sudah tidak ada tempat kosong lagi hanya disitu dan paling tidak aku sudah mengenalnya tapi resikonya seluruh sekolah akan menanyakanku, apa aku ada hubungan dengan Siwon sunbae? Dan itu sangat mengerikan, bisa-bisa kau di musuhi oleh mereka. Begitu cerita Rae Na waktu itu. Ah sudahlah aku kan Cuma mau makan saja lagipula disana juga ada Kibum sunbae. Maka kuputuskan untuk makan bersama mereka.

”Annyeong sunbae…”seruku sambil menaruh makananku di meja.

Siwon sunbae dan Kibum sunbae tersenyum padaku.

”Tidak bersama Donghae?”tanya Siwon sunbae padaku.

”Anni..”jawabku.

Kenapa dia bertanya tentang Donghae Oppa, wah jangan-jangan dia mengira aku ada hubungan sesuatu dengan Donghae Oppa tapi waktu itu kan aku sudah bilang aku hanya menganggapnya kakak, mungkin dia tidak percaya.

”Donghae orangnya baik kok..”seru Kibum sunbae tiba-tiba.

Kibum sunbae, apa maksdunya. Aneh sekali dia!Tuh kan benar pasti mereka mengira aku punya hubungan dengan Donghae Oppa.

Siwon sunbae malah tertawa mendegarnya.

”Mian Hye Jin..Kibum memang seperti itu…”serunya.

Wakil ketua yang aneh, Kibum sunbae…tapi aku suka dia, dia salah satu sunbae favoritku.

”Gwenchanna…Donghae Oppa memang baik kok..”aku tersenyum pada Kibum sunbae.

Aku lupa mengambil minumku. Aigoo, kenapa bisa lupa ya.

”Ini…belum aku minum…”kata Siwon sunbae sambil menyodorkan minuman kepadaku.

Apakah wajahku menunjukan bahwa aku ingin minum?benar-benar aku adalah Open Book, semua orang bisa tahu tentangku.

”Gumawo sunbae..”jawabku. Dan dia pun tersenyum.

Perasaan itu kembali muncul. Kenapa aku selalu merasa nyaman di dekatnya. Dia begitu perhatian padaku. Aku melihat kesekeliling dan mendapati hampir seluruh isi kantin melihat ke arahku, aku baru sadar ternyata mereka mengamatiku. Aigoo, tentu saja mereka melihat ke arahku bagaimana tidak, aku duduk dengan dua orang paling penting disekolah ini. Siwon sunbae dan Kibum sunbae. Pantas mereka melihatku terus, aku sendiri juga aneh kenapa aku bisa dekat dengan orang-orang terkenal disini.

Hari ini aku harus kumpul klub drama. Malas sebenarnya, aku ingin pulang tapi mau bagaimana lagi kalau aku pulang aku tidak enak dengan Donghae Oppa. Aku sedang memasukkan bukuku ke loker saat Hyo Jin menghampiriku.

”Hye Jin-ah!”teriaknya padaku.

Kenapa dia?aneh sekali, karena sering dekat-dekat dengan Jin Ki Oppa dia jadi seperti itu.CkckcK mengkhawatirkan,

”Tadi aku lihat guru baru itu…kau tahu ternyata dia akan menjadi pelatih paduan suara baruku…ya ampun dia sangat tampan…aku senang sekali…”serunya padaku.

What!Hyo Jin juga menjadi korban guru baru itu. Aigoo, Jang seosangnim, benar-benar deh. Aku Cuma tersenyum menanggapinya, senyum yang dipaksakan lebih tepatnya.

”Hye Jin-ah kenapa Cuma kayak gitu tanggapannya…”kata Hyo Jin.

”Harus gimana?ikut senang?Ok selamat ya..”seruku tersenyum namun dipaksakan.

”Kau ini…aku semangat sekali hari ini latihan…pokoknya nanti aku ceritakan pas kita pulang…kau ada latihan drama dulu kan…eh tapi kau diantar Taemin ya…aku lupa…ya sudah nanti di rumah saja…”seru Hyo Jin.

”Andwe aku pulang sendiri…”jawabku langsung. Aku tidak mau dia terus meledekku dengan Taemin mengantarku pulang lagipula hanya waktu itu saja kenapa Hyo Jin selalu menganggapnya sebuah rutinitas memangnya aku pacarnya.

”Ok…annyeong…”seru Hyo Jin sambil berlalu pergi.

Aku menutup pintu lokerku dan berjalan menuju ruang teater, berhubung ruang teater itu melewati lapangan basket, aku jadi menengok ke lapangan, aku tahu hari ini dia latihan basket. Aduh! Kenapa sih aku ini! Yah hanya melihat saja, seharian ini aku belum melihatnya. Aku melogok ke dalam dan tidak menemukannya, aku hanya melihat Minho dan kembarannya Key, Siwon sunbae, Changmin sunbae, Leeteuk sunbae, Khuyhyun, dan Yesung. Kemana dia? Apa tidak latihan?

”Hye Jin-ah…”seru seseorang di belakangku. Begitu aku menengok aku melihat Taemin berdiri di depanku.

”Ah…annyeong…”jawabku buru-buru.

”Taemin-ah…”seru Leeteuk sunbae dari lapangan.

”Ne hyung…”jawab Taemin.

”Aku duluan ya…”serunya padaku dan berlari masuk lapangan.

Fuihh, untung saja Leeteuk sunbae memanggilnya, kalaun tidak pasti dia sudah bertanya sedang apa aku disini dan tidak mungkin kan aku menjawab, aku kesini mencarinya. Aku segera pergi menuju ruang teater tapi sebelum pergi aku sempat melihat Key menatapku dengan tatapan aneh. Kenapa lagi dia? Seharian ini dia begitu aneh.

”Kita akan membuat pementasan bulan depan!”seru Heechul sunbae.

What!pementasan lagi. Semua orang sepertinya terlihat antusias kecuali aku. Mereka sudah mulai mengajukan judul-judul yang mereka inginkan sementara aku hanya diam. Aissh!aku takut mereka akan menyuruhku ikutan pementasan kali ini. Karena waktu festival itu mereka sempat memintaku untuk ikut tapi waktu itu aku menolak dengan alasan aku kebagian menjaga stand tapi kalau kali ini mereka memintaku ikut lagi, apa alasanku. Aku menatap setiap orang diruangan itu, aku merasa tidak melihat seseorang. Ya Yu Ri tidak ada, tumben sekali dia tidak ada biasanya dia selalu eksis, apalagi akan ada pementasan ini pasti dia akan mengajukan diri menjadi peran utama.

”Hye Jin kau jadi peran utama ya…”seru Heechul sunbae.

Mengagetkanku yang dari tadi sedang termenung.

”Mwo?Mworago?”tanyaku.

Apa aku tidak salah dengar?peran utama. Aku tidak mau menjadi peran utama.

”Ya!kau harus mau!”Heechul sunbae melotot padaku.

”Ne..”jawabku.

Mau gimana lagi habis dia sudah melotot padaku, Heechul sunbae kalau marah sangat menyeramkan, aku jadi ingat waktu dia marah pada Euhnyuk sunbae. Sangat menyeramkan. Aku bergidik mengingat kejadiaan itu.

”Donghae kau jadi peran utama prianya ya…”seru Heechul sunbae.

”Anni…jangan Donghae..”seru Eunhyuk sunbae.

Donghae Oppa hanya tersenyum. Tidak apa-apa kalau Donghae Oppa yang jadi peran utama prianya, daripada calon-calon aneh yang diajukan Heechul sunbae. Dasar Eunhyuk sunbae, dia pasti cemburu.

”Terus siapa dong?”tanya Heechul lebih kepada diri sendiri tepatnya.

”Ah ya…ya…aku tahu…serahkan padaku…aku tahu siapa…”serunya kemudian.

Semoga bukan yang aneh-aneh, aku berdoa dalam hati.

”Ok..kita isi peran selanjutnya….”serunya lagi.

Aku mengambil tas ku dan berjalan keluar ruang teater dan berpapasan dengan Donghae Oppa.

”Mau pulang….hati-hati…”serunya sambil mengusap kepalaku.

Aku tersenyum dan melambai padanya sambil berjalan pergi. Dia benar-benar seperti kakak bagiku, dia sangat baik padaku. Aku berjalan melewati lapangan lagi dan menengok ke dalam. Belum pulang ternyata disana masih ada Siwon sunbae, Leeteuk sunbae dan Yesung tapi tidak ada Taemin. Apa dia sudah pulang?aishh, kenapa aku harus peduli, pulang Hye Jin. Cepat! Aku langsung berbalik dan mendapati Minho berdiri di depanku.

”Nyari Taemin..”serunya.

Pernyataan lagi.

”Andwe…”jawabku langsung.

Dia tersenyum. Tumben sekali dia tersenyum.

”Dia di lapangan parkir, sudah mau pulang…”katanya lagi.

Perasaan aku bilang aku tidak mencarinya kenapa dia malah menjawab. Dasar Minho aneh!

”Minho-ah…”teriak seseorang pada Minho kemudian mengahmpiri kami.

Orang itu tersenyum padaku, kalau tidak salah namanya Choi Kang Changmin, dia juga salah satu anggota klub basket, dia yang terhebat di jamannya, dulu dia adalah ketua klub basket yang sekarang dipegang oleh Minho. Bisa dibilang Minho adalah juniornya, mereka kelihatan akrab sekali, kemana-mana selalu bersama. Changmin sunbae sekelas dengan Hyo Jin jadi Hyo Jin sering sekali bercerita tentangnya. Aku mengamatinya dari atas sampai bawah. Benar kata Hyo Jin, pantas dia sangat digilai oleh gadis-gadis sama seperti Siwon sunbae, mungkin di urutan kedua setelah Siwon sunbae. Dia bisa dibilang keren khas anak basket, tubuh tinggi, badan berotot.

Dia tersenyum padaku.

”Ah….hyung…ini Choi Hye Jin…yeojachingu Taemin…”kata Minho.

Apa? Siapa yang yeojachingu Taemin. Minho! Aku menatap Minho dengan bingung tapi dia malah tersenyum. Apa maksudnya.

”Oh…yeojachingu Taemin…joneun Choi Kang Changmin…kita punya nama keluarga yang sama…”katanya sambil tersenyum dan membungkuk.

Aku pun tersenyum dan membungkuk juga.

Apa-apaan Minho, aku bukan pacar Taemin. Kenapa sih dia!

Kemudian Taemin datang menghampiri kami dan tersenyum, aduh!bagaimana ini. Bagaimana kalau dia tanya aku sedang apa. Aku harus menjawab apa.

”Mencarimu..”seru Minho pada Taemin.

Minho!kau sungguh menyebalkan!kau sama seperti kakakmu Key yang senang sekali mengangguku. Lihat saja kau Minho!aku menatap Minho dengan pandangan marah. Taemin hanya menatapku bingung.

”Aku duluan…”seruku pada mereka. Berusaha untuk kabur dari suasana ini. Minho lihat saja nanti.

”Tunggu…aku antar…”seru Taemin padaku.

Kulihat Minho seperti menahan tawanya dan Changmin sunbae hanya tersenyum disampingnya. Mereka memang menyebalkan.

Aku berjalan bersamanya menuju lapangan parkir, kemudian dia memberikan helmnya padaku. Sebuah sms masuk ke HP ku dan itu dari Hyo Jin.

Pulang dengan Taemin ya??? :p ya sudah aku pulang dengan Jin Ki ya…aku mau cerita padamu…annyeong J

Dimana dia?pasti dia ada disekitar sini dan melihatku. Hmmphh dasar Hyo Jin.

Taemin mengantarku sampai rumah.

”Gumawo…terus merepotkanmu…”kataku begitu sampai di depan rumahku.

Dia tersenyum.

”Sudah tidak sedih lagi?”tanyanya.

”Ne…”jawabku sambil mengangguk.

Tiba-tiba dia menarikku dan mendekapku dalam pelukannya. OMO jantungku berdegup sangat kencang.

”Kau gadis yang kuat..jangan menangis lagi…”serunya padaku sambil melepaskan pelukannya.

Dia mengacak-acak rambutku dan tersenyum.

Aku benar-benar terpaku di tempatku, dia sudah pergi tapi aku masih berdiri di tempatku. Aku benar-benar kaget, dia memelukku untuk yang kedua kalinya memang sih semua pelukan itu hanya pelukan seorang teman tapi tetap saja itu membuat jantungku berdegup dengan kencang. Aigoo, apa yang terjadi padaku?apa aku jatuh cinta padanya? Jangan aku tidak mau jatuh cinta padanya, aku takut akan kecewa karenya. Belum tentu dia juga menyukaiku.

Taemin POV

Aku berhenti di sebuah toko, toko boneka waktu itu. Aku ingat Hye Jin melihat ke arah toko ini dan terpaku pada sebuah boneka beruang. Dia juga bercerita boneka itulah yang mengingatkannya pada ayahnya. Aku masuk ke dalam toko itu dan langsung mengambil boneka beruang yang kemarin dilihat Hye Jin.

”Ini saja?mau dibungkus?”tanya pelayan disitu.

”Andwe…”jawabku.

Aku membayarnya dan berjalan keluar menuju motorku. Namun aku melihat Key hyung juga masuk ke toko itu, mau apa dia? Ah sudahlah. Sebentar lagi hujan aku harus segera sampai rumah. Hye Jin pasti senang, pikirku dalam hati. Ini akan mengobati rasa rindunya pada ayahnya.

Hye Jin POV

”Dia memuji suaraku!” teriak Hyo Jin begitu dia sampai dirumah.

Dia langsung menghampiriku yang baru selesai mandi dan hendak mengerjakan PR. Dia langsung memelukku.

”Ya! Hyo Jin!lepaskan aku!”teriakku.

”Mian…aku senang sekali!’teriaknya lagi.

Ya ampun dia sudah gila!kenapa sih dia begitu senang hanya gara-gara itu. Pasti otaknya sudah tidak beres.

”Kau tahu tadi dia menyuruhku menyanyi…dan dia memuji suaraku lalu kami bernyanyi bersama dan Jang seosangnim bermain piano…wah dia keren sekali…”ceritanya.

Ckckck benar dia sudah tidak waras. Apa sih hebatnya Jang seosangnim, pintar main piano begitu hebatkah?

”Jin Ki Oppa mau dikemanain?”tanyaku padanya.

Padahal ada Jin Ki Oppa, dia masih saja seperti itu. Kasihan Jin Ki Oppa.

”Gantengan Jang seosangnim…”jawabnya.

Ya ampun, Hyo Jin…aku kembali berkutat dengan PR-ku sementara dia mandi dan setelah mandi dimulailah penderitaanku karena harus mendengarkannya bercerita. Aku sama sekali tidak mendengarkannya, pikiranku sedang melayang kemana, memikirkan Taemin lebih tepatnya. Sepertinya aku juga sama gilanya dengan Hyo Jin. Dia terus saja bercerita tentang Jang seosangnim dan aku hanya menanggapinya dengan ’Oh ya’, ’Hmm’, ’baiklah’ sementara pikiranku sibuk memikirkan hal lain.

Key POV

Aku mengamati boneka beruang yang baru aku beli. Kira-kira Hye Jin suka tidak ya? Dia bilang dia suka beruang, pasti dia suka. Aku menaruh boneka itu di atas meja belajarku.

”Untuk siapa itu?” tanya Minho yang langsung masuk ke kamarku. Kebiasaanya masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

”Kau tidak perlu tahu…”jawabku langsung.

”Ah…kibum…siapa lagi sekarang?” tanyanya sambil tersenyum mengejek.

Kulempar dia dengan bantalku. Dia menghindar dan menutup pintu kamar. Dasar dia selalu seperti.

”Makan malam dulu!bonekanya tidak akan hilang”teriak Minho dari bawah.

Hah!aku punya adik yang sungguh sangat menyebalkan. Hye Jin kuharap kau suka boneka ini.

TBC

PS “akhirnya bisa nyelesain part ini juga…mianhe kalo makin ga jelas…hehehe and gumawo for reading and comment…happy reading ^^”

P.S: NOVIIII !!!! HWUAAAA ~ LAGI-LAGI MAAAAAFFFF… SIG NY ABELOM SELESEEEE….. Tampar aku juga gak apa-apa koookkk.. hwuueeeee….. maaaafff aku lagi sibuk2 nya niiihhh T.T ….. maaaaafff *bow 600 derajat*

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

Just You

JUZT YOU

Author: Park Young Mincha a.k.a Annisa Mira

Main casts:

–          Park Young Mincha

–          Lee Jinki

–          Shim Changmin

Hari ini adalah hari pertama UAN. Rasanya aku masih belum siap menghadapi ujian ini. Fyuuuh, siap gag siap aku harus tetap berusaha. Mincha, hwaiting!!

~ ~ ~

Hai perkenalkan. Aku Park Young Mincha. Kalian bisa memanggilku Mincha. Saat ini aku duduk di kelas XII dan akan mengikuti ujian kelulusan. Nah, simak kisahku ini, ya..

~ ~ ~

Wah, untung saja bangkuku bukan yang barisan terdepan, bisa grogi kuadrat aku kalo dapat bangku di deret itu. Batinku setelah mengetahui bahwa aku akan menempati bangku ke tiga dari depan selama ujian berlangsung.

“Cha… Mincha…,” terdengar seseorang menyapaku. Aku pun menoleh ke arah si pemilik suara dan mendapati sahabatku telah berdiri di sampingku.

“Hmmm…. Ada apa?” tanyaku menjawab sapaannya.

“Kamu dicariin ama Jinki,” ujarnya sambil menunjuk ke arah pintu ruang kelas ujian kami. Aku menengok ke arah yang dia tunjuk dan memang benar, di sana Jinki berdiri sambil menatapku. Aku menghela napas sejenak. Dengan malas aku melangkahkan kakiku menuju dirinya setelah mengucapkan terima kasih pada Rieka, sahabatku.

“Ya! Jinki~ah! Ada perlu apa denganku?” tanyaku dengan sebal karena seharusnya aku mengulang-ulang pelajaran sebelum bel masuk berbunyi.

“Cha, kamu mau nggak jadi pacarku?” tanyanya setelah menarikku menjauh dari kelasku. Aku menatapnya dengan tampang heran. Nih bocah apa-apaan, sih? Mau ujian gini masih ngelawak juga.

“Kamu nggak usah bercanda deh. Ini tuh mau ujian. Jangan bikin konsentrasiku buyar. Oke?” ucapku sambil beranjak meninggalkannya karena sebentar lagi ujian akan dimulai. Tapi baru selangkah, dia memegang lenganku, menahanku sejenak. “Aku serius, Cha!” tegasnya.

“Hmmm…. Akan kupikirkan. Kumohon sampai UAN dan UAS selesai, jangan hubungi aku. Jangan ganggu aku dulu,” ucapku sambil melepas tangannya dari lenganku dan beranjak menuju kelas.

“Gimana, Cha? Kamu terima apa, nggak?” tanya cowok yang duduk tepat di bangku sebelah bangkuku, yang tak lain dan tak bukan adalah Changmin, mantan pacarku yang kuputus satu bulan yang lalu. Aku menatapnya dengan tatapan menyelidik.

“Kalian sekongkol ya?” tuduhku. Baru saja Changmin akan menjawab, pengawas ujian memasuki ruangan. Kami segera mempersiapkan alat tulis.

***

Ah, laparnyaaa…. Untung saja tadi sempat membawa bekal. Kayak anak TK ya? Tapi ini kulakukan karena hari pertama ada 2 ujian. Jadi, daripada aku desak-desakan di kantin, lebih baik aku bawa bekal dong. Hehe… *curhat*

“Cha,” panggil Changmin yang tahu-tahu sudah duduk di bangku depanku dengan tubuh dihadapkan ke arahku. “Hmmm,” jawabku dengan mulut penuh makanan. Tiba-tiba, tangannya menyentuh daguku dan jarinya mengusap sudut kiri bibirku. Aku sedikit tersentak. Aku merasa seperti dialiri arus listrik.

“Kamu ini nggak berubah ya, selalu aja celemotan,” ujarnya sambil tertawa membuatku terpana. Aku jadi sedikit menyesal sudah memutuskannya. Tapi itu kan salahnya. Dia sudah selingkuh di belakangku.

“Oh, iya! Gimana? Kamu terima, nggak si Jinki itu?” tanyanya lagi.

“Masih kupikirkan,” jawabku malas. Jujur saja aku tidak suka topik ini.

“Sebaiknya kamu terima aja, Cha! Dia itu suka ma kamu udah mulai setahun yang lalu, loh,” sarannya. Aku cukup kaget mendengar kenyataan itu, tapi aku masih ingin fokus pada ujian dulu, tidak mau memikirkan hal-hal lain di luar itu.

“Hehh, kamu itu nggak waras ya?!” teriak Rieka yang tiba-tiba saja sudah ada di dekat kami,”mana ada cowok yang nyaranin mantannya buat jadian ama cowok lain?! Gila kamu,” lanjutnya lagi.

“Terus maunya gimana? Aku tahu kalo aku tuh udah salah ama Mincha, karena itu, aku ingin dia mendapatkan cowok yang lebih baik dariku, dan kupikir Jinki tidak buruk,” ungkap Changmin.

“Ah, sudahlah jangan bahas ini lagi. Aku mau fokus ke ujian dulu,” sentakku menghentikan pertikaian mereka berdua.

***

Tanpa terasa dua minggu berlalu dengan tenang. Semua ujian sudah berakhir. Hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Tiba-tiba dering ponsel mengagetkanku.

From: Lee Jinki

Cha, aku menagih jawaban atas pernyataanku 2 minggu yang lalu. Maukah kamu jadi pacarku?

To: Lee Jinki

Hmmm…. Baiklah. Aku mau jadi pacarmu. >,<

From: Lee Jinki

Kamu sekarang di rumah, kan?! Aku ke sana sekarang. Aku pengen ketemu.

To: Lee Jinki

Ya.

Sambil menunggu kedatangannya, aku pun berganti pakaian. Kukenakan celana jeans ketatku dipadukan dengan lengan pendek hijauku, kemudian kututupi dengan jaket bermotif keroppi kesukaanku. Rambutku kukuncir satu di satu sisi. Kepoles wajahku dengan bedak. Kutatap diriku di cermin. Sudah lama aku tidak berdandan seperti ini sejak aku putus dengan Changmin. Hhh, semoga pilihanku kali ini tepat. Tapi mengapa bayangan wajah Changmin terus menggema di pikiranku. Segera kutepis hal itu.

Aku segera berlari keluar saat mendengar klakson mobil yang menandakan bahwa Jinki, cowok yang telah resmi menjadi pacarku itu, telah datang. Tak lupa kuambil tasku yang berisi dompet beserta ponsel kemudian segera menemuinya.

“Wow, Cha! You’re very beautifull, today,” pujinya sambil menunjukkan senyumnya yang membuatnya semakin tampan. Kenapa aku nggak pernah memperhatikannya ya, ternyata dia setampan ini.

“Emank biasanya nggak ya?” tanyaku sambil merajuk.

“Di mataku kamu selalu cantik kok,” ujarnya merayu. Wah, sudah berani ngegombal dia.

“Ayo, akan kutunjukkan padamu tempat yang bagus,” ajaknya sambil memasangkan sabuk pengaman pada kursiku.

Sepanjangan perjalanan aku hanya diam, bingung akan membicarakan apa. Kulirik cowok di sampingku ini. Dia tampak serius memperhatikan jalan di depan.

Setelah beberapa menit, akhirnya Jinki menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan, yang menurutku indah sekali eksteriornya. Dia menggandengku, mengajakku memasuki bangunan itu yang ternyata adalah sebuah toko yang di dalamnya menjual berbagai macam boneka lucu serta ada café kecilnya juga. Wah, aku memandangi isi toko itu dengan takjub. Kudengar Jinki tertawa kecil melihatku seperti itu.

“Ayo, duduk di situ,” ucapnya sambil menunjuk ke salah satu sudut di café itu, kemudian melingkarkan tangannya di pinggangku. Dapat kurasakan pipiku memanas.

Setelah memesan pada pelayan café tersebut, Jinki menggenggam tanganku sambil menatap wajahku lembut. Aku berusaha menghindari tatapannya saking gugupnya.

“Aku sangat senang kamu mau menerimaku sebagai kekasihmu, Cha! Beberapa bulan yang lalu, saat aku tahu kamu jadian dengan Changmin, hatiku serasa tercabik-cabik. Tapi sekarang kamu sudah menjadi milikku. Hal itu membuatku sangat senang,” ucapnya lirih. Mendengar nama Changmin disebut, aku seperti tersengat.

Apakah keputusanku ini benar? Apa aku benar-benar menyukai Jinki? Aku seperti merasa hanya menjadikannya sebagai pelarianku saja. Sejenak aku bimbang. Namun akhirnya kuputuskan untuk menjalani status ini dahulu. Kalo emank nanti tidak cocok, ya lihat saja nanti. Kupasang senyum termanisku untuk memikatnya.

Setelah seharian kami menghabiskan waktu bersama, Jinki mengantarku pulang ke rumah. Ketika mobilnya sudah tak terlihat lagi, kulangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah. Setelah mandi dan mengganti pakaianku dengan baby doll bergambar keroppi, aku beranjak naik ke ranjangku. Kupejamkan kedua mataku dan dalam sekejap aku sudah berlayar di alam mimpi.

***

Tanpa terasa hubunganku dengan Jinki sudah berusia seminggu. Kulihat kalender di dinding kamarku. Seminggu lagi adalah perpisahan sekolah. Dan kami akan berpisah karena kami memilih universitas yang berbeda. Kuputuskan untuk mengakhiri hubungan kami setelah perpisahan.

Malam ini, kami akan pergi berdua. Entah ke mana. Kutunggu Jinki di teras rumahku sambil mendengarkan lagu-lagu dari MP4 ku. Aku ikut bersenandung mengikuti irama yang terdengar sambil memejamkan mata mencoba meresapi makna lagu tersebut. Tiba-tiba kurasakan seseorang menepuk punggung tanganku. Kubuka mataku dan aku terperanjat melihat sosok yang berdiri di depanku ini.

“Changmin,” desisku.

“Cha, ternyata memang tidak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku,” ucapnya lirih,”aku menyesal telah menyakitimu dulu. Aku ingin kau kembali padaku.”

Entah mengapa aku merasa emosi mendengar kata-katanya.

“Kau… Semudah itukah kau memintaku kembali? Setelah sekian lama aku berusaha menerima kau sudah memilihnya daripada aku, agar kita bisa berbicara santai tanpa ada jarak walaupun sebenarnya kaulah yang membuat jarak itu sendiri!!” ucapku penuh tekanan di setiap kata, “dan sekarang, di saat aku menuruti saranmu untuk menerima cinta Jinki, kau malah memintaku memilihmu kembali? Kau pikir aku ini apa? Memangnya aku tidak punya perasaan?” lanjutku setengah menangis.

Kutepis tangannya yang berusaha memegang tanganku. Tepat pada saat itu, Jinki datang dan segera menarikku menjauh dari Changmin.

“Kamu mau nyakitin Mincha lagi, hahh?!” bentak Jinki pada Changmin.

“Aku nyesel pernah nyakitin dia. Aku bener-bener sayang sama dia,” jawabnya sambil melihatku yang tengah menunduk.

“Jangan cuma ngomong aja kamu.. Buktikan!” Jinki semakin emosi. Kusentuh lengannya.

“Ayo, kita berangkat aja sekarang. Ntar kemaleman. Percuma kamu ngeladenin dia,” ajakku. Jinki menggenggam tanganku, kemudian menarikku menuju mobilnya meninggalkan Changmin yang terpaku menatap kepergian kami.

***

Akhirnya perpisahan sekolah pun tiba. Aku sudah mengeriting rambutku yang lurus ini dihiasi dengan bando hijau kesukaanku. Aku mengenakan kemeja lengan pendek warna hijau dipadu dengan rok selutut berwarna senada. Tidak lupa aku mengenakan high heels-ku. Menambah pesonaku. Semua mata memandang ke arahku saat aku maju sebagai perwakilan siswi kelas XII untuk berpidato.

Setelah acara perpisahan usai, aku dan Jinki pergi ke sebuah bukit. Di sana, kami menikmati hari terakhir kami sebagai siswa SMA. Mulai besok kami sudah harus mempersiapkan diri menjadi mahasiswa.

Ketika senja tiba, kami pun pulang. Sebelum dia pulang, dia memelukku eraaaaat sekali. Setelah itu, dia melajukan kendaraannya menuju rumahnya. Satu jam kemudian, aku mengirim sebuah pesan untuk Jinki.

To: Lee Jinki

Maaf, bukan maksudku membuatmu sebagai pelarian. Aku benar-benar mencoba untuk mencintaimu. Tapi ternyata, itu tidak semudah yang kupikirkan. Aku tidak bisa dengan hubungan jarak jauh. Lebih baik hubungan kita sampai di sini saja. Aku tidak ingin melihatmu terluka lebih dalam lagi karenaku. Maaf….

Setelah kutekan send, aku membenamkan kepalaku di bantal. Diam-diam air mataku mulai membasahi bantalku. Aku tidak tahan terus menyakiti hatinya. Selama bersamanya, yang ada di pikiranku hanyalah Changmin. Aku tahu aku jahat. Hanya mempermainkan perasaan Jinki. Tapi bukan inginku begitu. Aku sangat nyaman berada di sisinya, tapi bukan sebagai kekasih. Mungkin lebih tepat seperti seorang sahabat. Aku tidak mau terus memanfaatkannya untuk membantuku melupakan Changmin. Aku tidak tega dia terus tersakiti dengan tingkahku.

***

Sore ini, kuputuskan untuk berjakan-jalan di taman seorang diri, merenungi diri. Lelah berkeliling, aku pun duduk di salah satu kursi taman yang menghadap ke arah air mancur. Kutopang daguku dengan kedua tangan sambil menatap air mancur di depanku dengan tatapan kosong. Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipiku. Aku segera tersadar dari lamunanku dan menemukan seorang cowok yang telah kulukai perasaannya telah duduk di sampingku.

“Nih, minum,” tawarnya sambil menyerahkan sekaleng orange juice dingin.

“Terima kasih,” jawabku kikuk mengambil minuman yang dia tawarkan padaku.

“Aku tidak pernah menganggapmu memperalatku,” ucapnya membuka pembicaraan,”aku tahu kamu masih belum bisa menghilangkan rasa sakit yang telah ditimbulkan olehnya. Aku terima kalo kamu emank ingin putus denganku. Aku tahu perasaan tak bisa dipaksakan.”

Tanpa sadar, air mataku mengalir mendengar perkataannya. Dia merengkuhku ke dalam pelukannya. Aku menangis sesenggukan di dadanya.

“Maafkan aku. Aku nggak bermaksud menyakitimu.  Tapi…..,” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Jinki meletakkan jari telunjuknya di bibirku.

“Sssstt,, sudahlah…. Aku tidak apa-apa. Aku tahu, kamu yang lebih tertekan atas kejadian ini,” katanya menenangkan sambil mengusap pipiku, menghapus air mata yang membasahi pipiku. *huwaaaah, seandainya beneraaaan!!!*

Kemudian, tiba-tiba saja wajah Jinki sudah berada sangat dekat di depan wajahku. Aku terkejut hingga tak sanggup memikirkan apa-apa lagi. Dalam hitungan detik kurasakan sesuatu yang lembut telah menyentuh bibirku, yang kusadari kemudian bahwa itu adalah bibir Jinki. Dia melumat bibirku dengan lembut. Setelah beberapa saat, dia menghentikan ciumannya dan memelukku dengan erat.

“Maaf, aku telah menciummu tanpa izin. Aku tidak akan pernah melupakanmu,” ucapnya kemudian melepas pelukannya,”baiklah. Sampai jumpa. Semoga lain waktu kita bisa bertemu tanpa ada rasa bersalah!”

Jinki pun beranjak meninggalkanku. Aku menatap punggungnya hingga dia hilang dari pandanganku. Setelah dia berkata begitu, justru aku semakin merasa bersalah. Hhh…. Aduh, kepalaku berat sekali. Apa karena kebanyakan menangis ya? Lebih baik aku segera pulang dan istirahat. Tapi, baru beberapa langkah aku meninggakan taman tersebut, aku merasa pandanganku gelap. Aku pun ambruk tak sadarkan diri.

***

Kucoba membuka kedua mataku tapi entah mengapa rasanya berat sekali.setelah berhasil, aku mengerjapkan kelopak mataku berkali-kali, kemudian kuedarkan pandangan ke sekeliling. Mmmh, ini kamarku. Tapi siapa yang membawaku ke sini? Aduh, kepalaku nyeri sekali. Kuangkat tanganku untuk memijit keningku, tapi seperti ada yang menahan. Aku segera mengarahkan pandangan ke arah tanganku dan menemukan seorang cowok dengan kepala bersandar di sisi ranjangku, tertidur sambil menggenggam tanganku. Kucoba melepaskan genggamannya dari tanganku dan itu membuatnya terbangun.

Betapa terkejutnya aku, saat mengetahui bahwa cowok itu adalah….

“Changmin?” desisku tak percaya.

“Cha, kamu sudah sadar? Syukurlah! Tadi aku kaget ngelihat kamu pingsan di jalan. Langsung aja kubawa kamu ke rumahmu. Aku khawatir banget,” cerocosnya dengan tampang cemas.

“Oh, makasih!” jawabku singkat tanpa menatapnya.

“Cha, kumohon maafin aku! Aku benar-benar menyesal sudah menduakanmu,” ucapnya sambil menggenggam tanganku.

“Aku sudah maafin kamu dari dulu,” jawabku dingin.

“Ayolah, Cha! Aku yakin kamu masih mencintaiku. Jadi pacarku lagi, ya?” pintanya dengan PeDe tingkat tinggi.

“Buat apa? Untuk disakiti lagi? Nggak Min, cukup sekali itu kamu melukai hatiku,” tolakku dengan perasaan sesak. Sepertinya aku akan menangis lagi kali ini.

“Sudahlah, Cha! Beri dia satu kesempatan. Aku ikhlas kalo emank kamu mau kembali padanya. Lagipula kita sudah putus kan? Tidak usah merasa sungkan padaku,” ucap Jinki yang tiba-tiba saja sudah ada di dalam kamarku.

Aku menundukkan kepalaku dan tetes demi tetes air jatuh membasahi pakaian yang kukenakan. “Kalian berdua tidak mengerti posisiku. Jangan memaksakan kehendak kalian. Jangan memojokkanku. Aku tidak akan kembali pada Changmin dan itu bukan karena aku merasa bersalah padamu, Jinki. Sekarang, bisa kalian tinggalkan aku sendiri? Aku ingin mendinginkan pikiranku,” ucapku pada mereka berdua. Mereka pun keluar dari kamarku dengan lesu.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……………….,” jeritku histeris sambil membuang barang-barang yang ada di ranjangku. Kemudian kudengar derap langkah orang berlari menuju kamarku dan  membuka pintu kamarku dengan kasar. BRAAAK… Tampak wajah Changmin dan Jinki yang terlihat sangat cemas. Mereka terkejut melihat kamarku berantakan.

“Cha? Ada apa ini?” tanya Changmin sambil melangkah mendekatiku.

“huuu…huuu…huu… Aku bener-bener sakiiiit di sini…. Aku udah nyakitin perasaanku sendiri. Aku udah nyakitin kalian berdua yang sangat berarti buatku. Huwaaa…..” ucapku sambil terus menangis.

“Ssssshh, jangan menangis lagi…. Hatiku perih melihatmu menangis seperti ini. Aku yang salah. Sudahlah jangan kamu pikirkan lagi,” ujarnya sambil mengusap lembut punggungku seraya menarikku ke dalam pelukannya. Aku benar-benar merindukan hangat tubuhnya yang memelukku seperti ini. Aku pun balas memeluknya dan terus menangis.

“Changmin, baringkan Mincha di sini. Ranjangnya sudah kubereskan,” suruh Jinki.

Changmin pun mengangkatku, lalu membaringkanku di ranjangku. Tiba-tiba aku merasa lelah sekali, seolah semua beban yang menghimpitku telah lepas.

“Kalian selesaikan masalah kalian. Aku mau pulang,” pamit Jinki pada kami.

“Cha, aku mau bilang. Kita diterima di satu universitas yang sama, hanya beda jurusan. Aku ada rumah dekat universitas itu, kalo kamu mau, kita bisa tinggal bersama di rumah itu,” tawarnya. Aku melotot mendengar ajakannya. Emank dia kira aku cewek apaan.

“Aissh, Cha. Bukan gitu maksudku. Kita tinggal bersama tapi di kamar yang berbeda tentunya. Daripada kamu bingung-bingung cari kontrakan,” ralatnya seolah mengerti yang ada di pikiranku. Aku hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Hmmm, baiklah akan kupikirkan,” jawabku lemah.

“Oh, iya Cha! Aku butuh kepastian darimu saat ini juga,” ujarnya tiba-tiba dengan wajah serius. “Kamu mau ya, jadi pacarku lagi? Aku janji nggak akan selingkuh lagi,” pintanya membuat wajahku memanas. Baru saja aku akan menjawab, ponselku berbunyi. Segera saja kuangkat telpon itu.

‘Cha, kamu harus balikan sama Changmin. Kalo nggak, aku bakalan marah sama kamu. Aku hanya merelakanmu padanya. Aku nggak mau denger berita kamu jadian sama cowok lain.’

Dan sambungan langsung dimatikan oleh si penelpon yang ternyata itu Jinki.

Aku menoleh kepada Changmin.

“Maaf, Min, aku belum bisa,” ucapku.

“Ternyata begitu. Baiklah, aku tahu kamu memang belum bisa memaafkanku. Aku pulang dulu, ya. Kutunggu persetujuanmu untuk tinggal bersamaku besok,” ujarnya pelan sambil beranjak meninggalkan ranjangku.

Saat dia akan membuka pintu kamarku, aku segera turun dari ranjangku dan memeluknya dari belakang.

“Aku belum selesai ngomong tau’. Aku belum bisa melepaskanmu. Aku belum sanggup kehilangan dirimu lagi. Maaf aku belum bisa. Maaf aku egois,” cerocosku langsung.

Mendengar kata-kataku, dia segera membalikkan badan dan menatapku tajam.

“Kamu serius, Cha?” kuanggukkan kepalaku. “Jadi.. kita?? Balikan? Beneran? Yippie… Aku janji bakal jagain kamu, Cha! Aku nggak bakal bikin kamu nangis lagi,” seru Changmin senang sambil mencubit kedua pipiku.

“Aaaa, Changmin! Sakit tauuuu’….,” jeritku sambil mencoba melepas kedua tangannya dari pipiku yang sudah memerah akibat cubitannya.

Kemudian dia mengusap pipiku yang sudah bengkak ini sambil cengar-cengir gaje.

“Aku pulang dulu, ya! Sekarang kamu istirahat aja. Besok aku ke sini lagi. Anterin ampe depan dong!” ujarnya sambil menggandeng tanganku.

Sesampainya di teras rumahku, dia mencium puncak kepalaku serta pipiku kemudian mengecup bibirku sekilas. Setelah itu dia berlari pulang.

***

“Hyaaaa… Changmin! Itu jatah makanan buat sebulan tauuuu’,” teriakku histeris melihatnya memasak untuk yang ke 20 kalinya dalam satu hari ini.

“Tapi aku masih lapaaaar,” jawabnya dengan wajah memelas.

“Tapi kan, besok mau makan apa kita, kalo bahan-bahannya kamu habisin untuk makan hari ini? Perutmu terbuat dari karet, ya?!” gerutuku sebal.

“Ya, nanti malam kita belanja. Uangnya ada, kok!” jawabnya santai semakin membuatku gondok.

Beginilah hari-hariku dengannya sekarang. Penuh dengan keributan-keributan kecil. Kami kadang masih bertemu denggan Jinki. Dia sudah menemukan tambatan hatinya. Gadis yang menarik, cocok untuk Jinki.

~ ~ ~ ~ ~ ~

THE END

Miaaaan, ni ff rada gaje.. oneshoot pertamaku…

Comment yaaaa………