Tag Archives: Kim Yuna

My Past Future – Part 5

My Past Future

Part 5

 

 

Author : Lana

Main Cast : Lee Donghae, Kim Yuna, Lee Jinki

Support Cast: Jun & Gaeul

Rating : General

Genre: Romance, Friendship, Action

Length : Sequel (Chapter 2)

N.A : Lupa bilang =.=a, nama akademi Gallagher yang ada di part ini dari sebuah buku karya Ally Carter, judulnya Spy Girl ^^ (it’s a sequel btw.. ekeke)

Oktober 2010 ©SF3SI Continue reading My Past Future – Part 5

My Past Future – Part 4

My Past Future

Part 4

 

 

Author : Lana

Main Cast : Lee Donghae, Kim Yuna, Lee Jinki

Support Cast: Jun & Gaeul

Rating : General

Genre: Romance, Friendship, Action

Length : Sequel (Chapter 2)

 

©2010 SF3SI, Lana.

~ ~ ~

 

Sesuai janji, Jun dan Yuna datang tepat pukul 6. Keduanya langsung masuk dan naik ke lantai dua, lebih tepatnya ke kamar Gaeul. Butuh waktu setengah jam untuk memaksa Gaeul ikut keduanya datang ke pesta kakaknya, untungnya ada Rae yang dengan senang hati membantu. Untuk pesta kali ini, tidak di adakan di rumah mereka karena ada beberapa masalah. Jadi Chun Li menyewa sebuah gedung pertemuan yang sangat mewah, kondisinya hampir sama dengan satu tahun yang lalu. Bartender yang unjuk gigi, DJ yang memainkan musik, dan murid-murid dari angkatan Chun Li tapi ada beberapa hal yang berubah.

Ya, mereka yang tahun lalu datang dengan status single kini datang dengan kekasihnya untuk merayakan hari jadi yang ke satu tahun mereka. Dan tema kali ini bukan lagi pesta topeng, tapi ini pesta kostum temanya agak aneh memang. Tapi ini untuk menunjukkan kekompakan antara sepasang kekasih yang datang. Ada yang menggunakan kostum dari film Hollywood, tokoh animasi dan ada juga yang hanya menggunakan tuxedo atau gaun biasa tapi senada dengan pakaian sang kekasih.

Sebuah kebetulan yang sengaja di rancang oleh Yuna berhasil membuat Jun dan Gaeul mengira mereka tidak sengaja berpakaian dengan warna sama, yaitu soft green. Sebuah hiburan tersendiri bagi Yuna melihat pasangan-pasangan di pesta Chun Li yang terlihat benar-benar serasi.

Pikirannya benar-benar terfokus kepada pasangan-pasangan tersebut, mulai dari pakaian mereka yang unik, senada dan serasi. Hingga sosok seseorang membuatnya ingin muntah, dan membuat pikirannya kacau hanya dalam waktu sepersekian detik.

Yuna menerobos kerumunan berusaha mencari tempat yang bisa di jadikan tempat persembunyiannya untuk sementara waktu. Dan kini ia menyesal datang ke pesta ini.

“Yuna.” Kaki Yuna langsung terasa sangat lemas saat suara itu -suara yang sempat membuatnya hancur tapi juga suara yang benar-benar ia rindukan- memanggil namanya. Memang belum lama orang tersebut pergi.. hanyaaa sekitar 6 bulan tapi tetap saja, Yuna sudah berhasil menempuh separuh jalan menuju kesuksesan melupakan sosok itu.

“Menjauh!” ucap Yuna dengan intonasi normal tapi bernada tajam. “Kamu dengerin penjelasan aku dulu.”

“Gak butuh dan gak mau!” sahut Yuna cepat, rahangnya mengatup rapat. “Oke, tapi setidaknya aku mau minta maaf. Aku jauh-jauh..-“

“Gak perduli!” potong Yuna dengan nada dingin. Ya.. dia tidak perduli lagi cowok itu mau ngelakuin apa, toh dengan kepergian cowok itu membuktikan kalau memang mereka bukan lagi sepasang kekasih. Yuna tahu dirinya tidak membutuhkan seseorang seperti Donghae… ya, Lee Donghae.

“Yuna…” panggil Donghae lirih, tapi Yuna enggan melirik sedikitpun apalagi menoleh. “Maaf.. bener-bener cuma kata itu yang bisa aku ucapin sekarang. Tapi..-“

“Apa gunanya polisi kalau dengan maaf masalah selesai? Surga pasti penuh kalau semua dosa bisa terampuni cuma dengan kata maaf.”

“Tapi aku bersedia ngelakuin apapun untuk ngebuktiin bahwa aku bener-bener menyesal.”

“Terserah, itu bukan urusanku.”

“Tapi kita masih ada relationship Yun…”

“Oke.. kita putus SEKARANG!” Yuna berbalik, dan dengan penuh emosi di ambilnya langkah-langkah panjang meninggalkan Donghae yang masih terpaku di tempat. Yuna yang dulu bagaikan matahari baginya, kini Yuna seperti sebongkah es di kutub utara. Sepanas apapun suhu yang membakar es tersebut, tetap akan kembali membeku seiring suhu yang terus turun.

 

&&&

 

Gaeul menghampiri Jun yang sedang duduk menyendiri di dekat kolam air mancur kecil yang terletak di belakang gedung. Dengan ragu Gaeul memanggil Jun, tapi ia tidak menoleh. Di tengoknya Jun, ternyata telinganya di tutupi earphone dan matanya sedang serius membaca buku.

Perlahan Gaeul duduk di sebelah Jun dengan jarak yang agak barjauhan, Jun menoleh sedetik lalu kembali focus pada bukunya. “Kenapa sih Jun selalu mengutamakan Yuna? Jun naksir sama Yuna yah?” Gaeul mulai bicara sendiri, walaupun seolah bicara dengan tembok tapi ia berharap setidaknya setelah bicara sendiri seperti ini ia bisa lega.

“Aku… engh.. kalau Jun emang gak mau ngelanjutin hubungan palsu ini harusnya Jun bilang aja. Kalau aja Jun tahu… sebenernya aku udah capek. Bukan.. bukan karena pura-pura jadi pacar Jun. Tapi karena sikap Jun yang kadang dingin kadang enggak, detik pertama Jun bikin aku berharap tapi di detik kedua Jun langsung matahin harapanku. Sebenernya Jun itu maunya apa? Kenapa Jun selalu diem? Jarang jawab pertanyaan aku, dan selalu nurut sama Yuna. Kalau aku yang minta Jun pasti diem, tapi kalau Yuna yang minta Jun pasti langsung mau. Satu tahun itu gak sebentar, dan kalau aja Jun tahu… huuffftt… aku gak suka sama sikap Jun ke aku selama ini. Soalnya… itu bikin aku suka sama Jun, aku berharap perasaan ini gak berkembang tapi ternyata begitu kita jadi anak kelas 8 aku malah semakin naruh hati sama Jun. Bertepuk sebelah tangan itu gak enak… sakit… dan setiap kali Jun mandang aku dengan mata Jun yang dingin dan tajem, aku selalu kepingin nangis. Bukan karena takut, tapi karena aku ngiri sama Yuna. Gak pernah sekalipun aku ngeliat kamu mandangin Yuna dengan dingin kayak gitu, aku gak tahu aku pernah bikin kesalahan apa sama Jun yang bikin Jun gak bisa terima aku sampe sekarang. Aku cuma berharap Jun mau buka mulut buat aku, aku butuh jawaban Jun. Aku gak mau terus-terusan naro harapan ke Jun kalau ujungnya sia-sia… kamu cowok pertama yang aku suka. Dan aku gak mau berakhir dengan tangisan karena ternyata aku bertepuk sebelah tangan. Kapan aku bisa ngelepas beban ini? Kapan kamu pada akhirnya mau ngomong sama aku dengan lebih terbuka? Apa iya aku harus jujur sama Yuna soal ini? Aku mau kamu tahu ini, tapi aku belum siap sama reaksi Jun nanti. Aku pengecut, emang. Aku… gak berharap kamu bales perasaan aku, tapi… aku berharap sikap kamu ke aku bisa berubah, walaupun cuma sedikit. Senyum kamu setipis apapun itu, bagi aku punya arti yang besar. Dan selalu berhasil bikin aku ngerasa hari ini jauh lebih baik dari sebelumnya.”

Gaeul menarik nafas dalam-dalam, sambil menahan bulir air di matanya yang mulai bergetar. Walaupun dia tahu Jun tidak mendengar ucapannya, tapi tetap saja terasa sakit. Kenapa Jun sama sekali tidak merespons nya? Setidaknya mengajaknya ngobrol atau apalah.

“Jun… kamu itu gak peka atau gak mau peka? Kamu itu kenapa sih?” kalimat terakhir Gaeul sebelum akhirnya bangkit, hendak berjalan masuk dan menangis sepuasnya di pelukan Rae.

“Aku cuma takut cinta aku bertepuk sebelah tangan.” Gaeul tergelak. Kakinya langsung lemas mendengar kalimat tersebut, air matanya tidak lagi terbendung. Entah air mata haru atau tidak percaya, tapi yang pasti kini jantungnya dan semua organ tubuhnya berkerja tidak beraturan. Jantungnya berdegub sangat cepat, kepalanya pusing, perutnya tiba-tiba saja sakit, kakinya gemetar.

Hanya satu… satu kalimat yang keluar dari mulut Jun tapi menjelaskan semuanya, sekaligus menambah pertanyaan baru di otaknya. ‘Takut cintanya ke aku atau Yuna yang bertepuk sebelah tangan?’ Gaeul membatin. Jun mengangkat wajahnya dari buku yang sedari tadi ia pandangi tapi tidak ada satu katapun pada buku itu yang ia baca. Dengan tenang Jun menutup bukunya, berdiri lalu mendekati Gaeul dan memutar tubuhnya berbalik menghadapnya.

Gaeul yang hanya setinggi dagu Jun memandangi leher jenjang Jun dengan tatapan kosong. “Dan sekarang aku dapet jawabannya tanpa perlu bertanya, aku berharap kamu mau perasaan dan hubungan ini berkembang.” Perlahan dan sedikit canggung Jun melingkarkan kedua lengannya di pundak Gaeul dan menariknya perlahan kedalam pelukannya.

Dan kini Gaeul pun mendapatkan jawaban yang ia cari, setelah sadar betul bahwa yang Jun maksud adalah dirinya kini tangisnya meledak sejadi-jadinya. Gaeul memendam wajahnya di tuxedo Jun menghindari suara tangisnya terdengar orang lain.

 

&&&

 

Yuna berjalan gontai keluar dari gedung pesta tersebut, mood nya benar-benar hancur, perutnya terasa sangat mual, kepalanya pening.

“Yuna!!” bayang-bayang Donghae yang tiba-tiba muncul membuatnya tidak mendengar panggilan itu dan tetap berjalan tanpa arah, pandangannya kosong, setengah sadar. Bahkan ia tidak sadar kalau sedari tadi ada yang mengikutinya dari belakang, Yuna sedang tidak menginginkan apapun kecuali ketenangan saat ini.

Kakinya berhenti melangkah saat ia tiba di sebuah lapangan di pinggir sungai tidak jauh dari rel kereta di atas sungai. Butiran-butiran bening mengalir begitu saja, tidak.. dia tidak menangis hanya saja air mata itu sudah tidak bisa lagi di bendung. Tubuh Yuna hampir saja terhuyung ke belakang, tapi cowok yang sedari tadi mengikutinya berhasil menahan dan sebagai gantinya ia yang terjatuh ke tanah.

Perlahan di tuntunnya Yuna menuju kursi terdekat, keduanya terdiam selama beberapa menit. Setelah Yuna terlihat sudah agak ‘sadar’ cowok tersebut mulai angkat bicara.

“Yuna butuh temen cerita?” temen sebangkunya yang sering banget di kerasin sama Yuna ini tetap bersikap baik karena di matanya Yuna tetap gadis baik-baik, hanya saja dia gadis baik-baik yang desperate. Jinki memandangi Yuna yang dari tadi menahan nafas.. dan 3 menit kemudian Yuna menghela nafas berat dan panjang.

“Tadi dia tiba-tiba muncul.” Tanpa perlu di perjelas, Jinki sudah sangat mengerti “dia” di sini itu tertuju pada siapa. “Pasti minta maaf.” Tebak Jinki, Yuna menunduk sebelum akhirnya mulai bercerita panjang lebar. Mulai dari awal pertemuan, awal terjalinnya hubungan mereka, sampe setiap masalah yang mereka hadapi dan terakhir masa-masa sewaktu Yuna benar-benar di landa depresi. Ya… saat Donghae pergi meninggalkannya begitu saja, dan sekrang tiba-tiba kembali.

Jinki menyimak cerita Yuna dengan serius dan sesekali menyahuti dengan kata “Ne”, “hem”, atau “wow?”. Di akhir cerita Yuna menanyakan pendapat Jinki, bagimana pandangan cowok tentang masalah ini.

“Engh… berhubung gak semua cowok sama, aku cuma bisa bilang dia tulus minta maaf dari hati. Ada beberapa cowok di dunia yang ada di posisi kayak dia, dan mayoritas adalah cowok-cowok yang balik lagi setelah di lempar. Tapi dari gelagat dia, aku tahu dia tulus karena tetep aja beda. Apalagi dari cara kamu cerita tentang dia, gimana kalian jalin hubungan dan sebagaiannya. Aku yakin bukan cuma kamu yang masih ada rasa, tapi dia juga. Semua balik ke diri kamu, mau percaya atau enggak. Tapi kamu gak harus lari juga kali. Yang punya salah kan dia bukan kamu, kenapa jadi kamu yang kabur? Toh dia aja berani ngejar kamu untuk minta maaf, kenapa kamu gak berani hadapin dia bicara baik-baik dan maafin dia? Dan kamu juga harus denger penjelasan dia dulu.”

Keduanya lagi-lagi terdiam, tapi tiba-tiba saja tatapan mata Jinki berubah serius. “Ehem, oke. Mungkin kita baru jadi temen sebangku beberapa minggu, tapi.. aku tahu perasaan ini gak sembarangan.” Yuna menautkan alisnya mendengar kalimat Jinki yang terdengar janggal di telinganya.

“Aku bener-bener… berharap… kamu..” Jinki terdiam lagi, tangannya mengepal. Yuna semakin bingung dengan kelakuan Jinki. “Apaan sih?!” tanya Yuna geregetan.

“Kamu… mau kan… jadi… engh…”

“Jangan bikin orang penasaran!” potong Yuna gemas, tapi sebenernya Yuna lagi siap-siap buat nerima kenyataan Jinki bakal ngeluarin sebuah kata yang bakalan langsung bikin Yuna makin depresi. Diem-diem jantung Yuna berdegub lebih cepet dari biasanya.

“Aku mau kamu mau.. engh.. kamu aku mau.. ehh.. aduuhh…aku kamu mau… hhhhhfffttt… aku… berharap.. kamu… mau… jadi… hhhhh… pengasuh anjingku…??”

 

1 menit…

2 menit…

3 menit kemudian…

 

“YA! LEE JINKI !!!!!!”

“BWUAHAHAHAHAHA~!”

PLAK

“AW! YUNA SAKIT!!!”

 

***

 

Dan semenjak malam itu, hubungan Jinki dan Yuna membaik. Yuna jadi lebih lunak meskipun terkadang kebiasaannya yang cepat emosi keluar, tapi Jinki memaklumi. Baginya Yuna yang sekarang sudah mau bicara banyak padanya lebih dari cukup, dan untuk saat ini Jinki belum mengharap yang lebih jauh seperti menjadi sahabat Yuna yang benar-benar dekat misalkan.

Dewi fortuna tidak hanya berpihak pada keduanya malam itu, tapi juga pada Gaeul dan Jun yang kini telah meresmikan hubungan mereka secara pribadi. Karena di mata orang-orang keduanya memang benar-benar menjalin hubungan, padahal kenyataannya hubungan mereka selama satu tahun kemarin hanyalah palsu.

Walaupun Jun tetap bersikap sama, jarang bicara, jarang menjawab pertanyaannya, jarang mengiyakan permintaannya Gaeul akan tetap menerima Jun. Karena ia memaklumi, yang terpenting saat ini jiwanya sudah tenang karena seluruh pertanyaan telah terjawab. Sama halnya dengan Jun.

Di saat keempatnya mendapatkan perubahan menuju jalan positif, tidak demikian dengan Donghae yang kini menjadi jauh lebih depresi dari sebelumnya. Bayangan Yuna muncul lebih rutin di banding sebelumnya, rasa bersalah dan tatapan mata Yuna yang dingin membuat harinya hancur. Keputusannya sudah bulat sekarang, ia akan menetap di Korea sendirian hingga Yuna menerima permintaan maafnya. Tidak perduli dengan segudang ocehan kedua orang tuanya atau bahkan beban yang ia tanggung sekarang. Baginya Yuna tetap nomor satu, dan mendapatkan maaf dari Yuna baginya sama saja mendapatkan sebuah permata paling berharga di dunia.

Jika Yuna memang menginginkannya pergi ia akan menurut, tapi tidak sebelum Yuna memaafkannya. Dan itulah satu tekad yang kini membuatnya lebih kuat berdiri dan melangkahkan kaki menuju SMA milik sahabatnya, Chun Li.

 

***

TBC

P.S: Gimana gimana? Pasangan Jun-Eul memuaskan?? Hohohoho…

Silahkan kalian tergila-gila sama Jun sekarang karena entah di part selanjutnya atau 2 part lagi Jun akan menghilang dari peradaban.. hahahha… cuma buat sementara sih.. ekekeke~

 

©2010 SF3SI, Lana.

This FF/post has made by Lana and has claim by her signature.

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

Sweet Disposition – Part 1

Tittle                           : Sweet Disposition (Part 1)

Author                        : Lia aka Liaegyo

Cast                            : Kim Jonghyun, Kim Yuna

Another Cast             : Choi Minho, Kim Heechul, Park Nada, Lee Jinki

Genre                         : Romance, Action

Rating                         : PG – 15

Yuna POV

“aisssh sudah jam berapa ini Nada belum juga datang??” gerutuku dalam hati. Sudah 1 jam lebih dari waktu kami janjian aku menunggunya. Nada adalah salah satu sahabatku yang memang terkenal dengan ketidak-on time-an nya. Sambil menyeruput ice green tea aku mencoba menghubungi handphone nya. Sudah lima kali aku mencoba menghubunginya tapi tidak diangkat.

“baiklah last call” aku mencoba menelepon untuk yang terakir kalinya.

Tuuuut..

“yeobseyo” yess akhirnya diangkat. Tapi tunggu?? Sejak kapan suara Nada jadi seperti lelaki.

“yeobseyo? Yaa Nada dimana kau?? Aku sudah ada di kafe ini sejak satu jam yang lalu? Apa kau lupa kalau kau ada janji denganku??” aku mengomel tanpa henti.

“mianhe.. ini Jinki. Nada sedang di kamar mandi sekarang. Akan aku suruh nada mengubungimu ya?” kata Jinki. Dia adalah lelaki yang sudah dipacari Nada selama setahun ini.

“ne, araseo. Gomawo oppa” kututup telepon ku.

“aisssh jinca perempuan itu! Dia melupakan janji nya dengan ku demi lelaki itu?? Benar – benar menyebalkan!! Kuhabisi dia kalau bertemu denganku nanti” aku meracau sendiri sambil menghabiskan sisa green tea ku dan bersiap untuk pulang.

Ketika aku akan berdiri dan berbalik kebelakang tiba – tiba..

“Braak..”. seorang namja dengan nampan berisi minuman menabrakku.

“heey! Apa kau tidak punya mata hah?? Aiisssh sial sekali aku hari ini!!” aku sibuk mengelap baju dan rambutku yang terkena tumpahan Black Coffee milik namja itu dengan tangan. Noda hitam nya sangat terlihat di baju kaos putihku. “oow mianhe.. jeongmal mianhe..”

Jonghyun POV

“ne, hyung akan aku laksanakan. Ne, baiklah tunggu kabar dariku saja!” aku berbicara di telepon sambil membawa secangkir Black Coffee yang aku pesan. Tanpa aku sadari ada seorang yeoja yang berdiri tiba – tiba dan Black Coffee yang aku pesan tadi tumpah diatas kepala yeoja itu.

“yaaa panaaass!!  Hey kemana matamu hah?? Apa kau tidak melihat ada orang disini?? Aiish hari ini benar – benar sial!!” Yeoja itu menunduk membersihkan baju dan rambut nya yang terkena minumanku.

“hyung, nanti aku telepon lagi ya? Ne, araseo!” aku mematikan telepon dan segera membantu yeoja itu

“mianhe, aku benar – benar tidak melihat.. Apakah ada yang sakit? Minuman itu panas kan??” aku mencoba membantu membersihkan rambutnya dengan sapu tanganku.

“yaa kau bilang ada yang sakit atau tidak??? Apa kau gilaaa?? Minumanmu itu bisa melepuhkan kulitku tahu??” yeoja itu menatapku dengan mata yang merah sepertinya dia sangat marah kepadaku. Othoke??? Aku tidak terbiasa mengahadapi wanita. Apalagi yang sedang marah seperti ini. Tapi tunggu dulu, sepertinya aku pernah melihat yeoja ini? Tapi dimana? Aku mencoba mengingat nya dan..

“yaa!! Apa yang kau lamunkan hah?? Apa kau tidak merasa bersalah? Aiiishh jinca..” suara yeoja itu membuyarkan lamunanku. Aah mungkin aku hanya pernah berpapasan dengannya.

“mianhe, aku benar – benar tidak sengaja percayalah?”

“bagaimana ini masa aku harus pulang dengan rambut lengket seperti ini?? Sini berikan saputanganmu!!” yeoja itu mengambil paksa saputangan yang ada tanganku tanpa sengaja tangan nya menyentuh tanganku. Hey perasaan apa ini? Kenapa tangan nya seperti ada aliran listrik? Dan kenapa jantungku berdegup kencang? Padahal hanya skinship biasa?? Ah, sudahlah yang paling penting sekarang bagaimana membuat yeoja ini tidak marah lagi.

“emm tunggu sebentar” aku keluar café menuju supermarket yang ada didepan café ini. Aku membeli sebuah handuk dan shampoo dan kembali ke café tadi. Aku berbicara dengan manajer café dan mendekati yeoja itu.

“kkaja.. ikut aku!” aku menarik tangan yeoja itu.

“mau kemana kita? Jangan – jangan kau mau menculikku??” aku hanya diam saja dan tetap menarik tangannya.

“hey kita mau kemana??” aissh ternyata yeoja ini benar – benar  tidak bisa diam.

Yuna POV

Namja ini menarik tanganku menuju ke belakang café. Kenapa namja ini kasar sekali menarik tanganku seperti aku ini namja sama sepertinya saja. Ternyata dia membawaku ke ruang ganti pegawai.

“pakai ini! Kau bisa memakai kamar mandi disana aku sudah meminta izin dengan manajer nya! Aku tunggu diluar!” dia memberikan ku handuk, kaos putih, dan shampoo. Ternyata dia lumayan bertanggung jawab juga. Aku masuk kamar mandi dan mencuci rambut dan bajuku yang terkena minumannya. Setelah selesai aku keluar dan melihat namja itu sedang sibuk menelepon.

“ne, Araseo.. aku sekarang sedang ada pekerjaan mendadak. Ne, aku sedang menunggu instruksi dari bos heechul. Nanti aku hubungi lagi!” aku mendengar percakapan namja itu tapi aku tidak mengerti apa.

“ooh kau sudah selesai!” namja itu berdiri dan menghampiriku.

“maaf aku tadi marah – marah kepadamu. Aku benar – benar kesal tadi! Temanku membatalkan janjinya. Ditambah kau menumpahkan minumanmu..”

“aku yang seharusnya meminta maaf tidak melihat mu berdiri.. dan..”

“sudah tidak apa – apa. Jangan dipikirkan, aku sudah tidak marah lagi”

“sebentar..” namja itu menjauh dariku untuk mengangkat telepon. Dan tak lama kemudian ia menghampiriku.

“maaf aku harus pergi, ada yang harus aku kerjakan. Maaf atas perbuatanku tadi. Siapa namamu?”

“Yuna imnida”

“Jonghyun imnida. Baiklah aku harus pergi sekarang” kami berjabat tangan dan dia pun pergi dengan terburu –buru.

“tunggu sebentar jonghyun ssi..” aku mencoba memanggilnya tapi sepertinya dia tidak mendengarku dan aku hanya bisa melihatnya pergi menjauh.

***

Kubuka pintu rumahku. Gelap. Pasti Appa belum pulang. Aku melihat sudah jam 11 malam sekarang. Appaku adalah seorang wartawan sebuah majalah politik terkenal di korea. Beritanya sering menjadi kontroversi. Bisa dibilang appaku adalah musuh para pejabat yang melakukan korupsi. Karena appa ku tidak segan – segan memberitakan yang sebenarnya tanpa takut adanya ancaman. Ya, ANCAMAN. Sudah sangat sering Appaku menerima terror karena berita yang diterbitkannya. Surat kaleng, bom Molotov, dan ancaman akan membunuh sudah jadi makanan sehari – hari appaku. Itu juga yang membuat umma ku lari dari appa dengan membawa serta adik laki – laki kesayanganku karena tidak tahan dengan pekerjaan appa yang sangat membahayakan nyawa nya maupun keluarga. Alasanku tidak mengikuti umma Karena aku sangat menyanyangi appaku. Dan sepertinya aku juga akan mengikuti jejak appa sebagai wartawan.

Aku menuju kamar tidurku di lantai atas. Kurebahkan  badanku diatas tempat tidur sambil mengingat kejadian sore tadi. Jonghyun ssi, kenapa wajahnya selalu terbayang di kepalaku? Dia sangat misterius. Memakai jas hitam di cuaca sepanas tadi. Dan ia sibuk sekali menerima telepon. Heechul? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu? Tapi dimana? Ah, tapi nama hee chul kan banyak? Mungkin aku salah?

Drrrtt.. drrrttt.. drrrt.. telepon dari appa, tumben sekali appa meneleponku.

“Yuna ah kau harus berhati – hati jangan lupa kunci pintu, appa baru saja menerima surat ancaman lagi. Jangan pergi sendiri! Appa sangat menghawatirkanmu. Appa tidak pulang hari ini, appa harus memimpin rapat redaksi. jaga dirimu, apabila ada sesuatu yang aneh segera telepon appa. Araseo??”

“ne appa, araseo.. jaga dirimu baik – baik juga appa. Aku sayang appa”. tut tut tut. Telepon terputus.

Aku bisa mendengar nada khawatir yang teramat sangat dari cara bicara appa. apa yang barusan appa katakan membuat jantungku berdegup dengan kencang seperti ada sesuatu hal besar yang akan terjadi padaku. Perasaanku tidak tenang.

Aku mencoba menghubungi Nada.

“Nada, kau bisa menemaniku dirumah malam ini? Appa ku tidak pulang..”

“mian yuna ah aku tidak bisa, aku menjaga umma ku yang sedang sakit, mianhe.. kalau ada apa – apa telepon aku ya?”

“ne, araseo.. byee” fiuuuhh.. terpaksa aku harus tidur sendiri malam ini.

Kumainkan handphone ku dengan memutar – mutarnya di meja. Lalu aku kembali teringat dengan Jonghyun ssi. “aah pabo sekali, aku lupa mengucapkan terimakasih padanya? Kapan aku bisa bertemu lagi denganya??”

“sreeek.. sreek” aku mendengar suara aneh diluar.

Aku kebawah untuk memastikan apakah pintu dan jendela sudah terkunci dengan rapat, dan sembari mengecek asal suara tadi.

“Tok.. tok.. tok..” Siapa yang bertamu malam –malam begini?? Aku mengintip dari jendela, tapi tidak ada orang di luar.

“tok.. tok.. tok”

“nuguseyo?”  tak ada jawaban dari luar.

“nuguseyo??” panggilku sekali lagi. Tapi tetap tudak ada jawaban. aku penasaran dan membuka pintu sedikit untuk melihat siapa yang iseng mempemainkanku. Belum aku sempat melihat siapa diluar tiba – tiba sebuah tangan langsung menutup mataku secara tiba – tiba.

“kyaaaaaaaaaaaa..” aku mencoba berteriak dan memberontak. Tapi tangan itu tetap tak lepas dari mataku. Aku sangat ketakutan. Aku merasakan keringat dingin .

“lepaskan!! Tolong jangan bercanda!” sepertinya air mataku sudah mulai keluar.

“appaa tolooong!!”

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.. Ini aku dan jinki Yuna ya!!! miaan membuatmu takuuut.. aku hanya ingin mengerjaimu saja! Hahahahahahaha” ternyata Nada dan Jinki yang mengerjaiku!!! Sialan mereka!!

“hahahahahahaahahaha!!” Nada dan jinki memegangi perutnya dan tidak berhenti tertawa.

“hahhahaha gomawo jagi” Nada mengecup pipi jinki manja dan kembali tertawa.

“ne, aku pamit dulu ya? Kalau ada apa – apa hubungi aku” jinki mengedipkan matanya kepada Nada dan meninggalkan kami berdua tanpa rasa bersalah karena membuatku hampir pingsan.

“kau tahu kau membuatku hampir jantungan hah?? Kau benar – benar mebuatku kesal hari ini Nada! Siang tadi kau membatalkan janjimu? Sekarang kau dan namja chingu mu sukses mempermainkan aku!” aku memasang tampang sejutek mungkin.

“miaaann Yuna sayaang?? Aku benar – benar minta maaf.. yah yah yah? Appamu tadi menelepon ku sebelum kau meneleponku! Yaah aku kan hanya ingin mengerjaimu sedikit hehehe” ucap nada manja sambil menggelayut di tanganku.

“yasudahlah, sebagai tanda permintaan maaf mu masakan aku ramyun! Aku lapar sekalii!!”

“mwo? Eeehmm baiklah yuna sayang aku juga sudah lapar lagi!” aku dan nada menuju ke dapur. Saat Nada sibuk memasak ramyun aku bercerita tentang pertemuanku dengan Jonghyun ssi. Hingga tengah malam kami bercerita sampai akhirnya kami tertidur.

Author POV

kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinggg!!!

“eeehmm.. ah menggangu saja” Yuna mematikan weker yang ia letakkan di meja kecil disamping tempat tidurnya dan memutuskan untuk melanjutkan tidurnya.

10 menit kemudian..

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinggg..

“aaaah apaaa siih? Mengganggu saja!!” Yuna melihat jam wekernya.

“hwaaaaaaaaaaaa! aku kesiangan!! Nada bangun! Nada!! Ya Nada!! Kita terlambat sekolah Nada!!”

“hmmmm apa Yuna? Makan? Aku masih ngantuk Yuna” jawab Nada malas.

“KITA TERLAMBAT SEKOLAH PABO!!” teriak Yuna

“MWORAGO???? Oh my god! bisa dicincang siwon songsaengnim kita!” Nada segera masuk ke kamar mandi dengan terburu – buru dan segera mencuci muka dan gosok gigi.

Yuna sudah didepan pintu dengan mulut yang dipenuhi roti dan sibuk memasang kaos kaki.

“Nada ppali!!” Teriak yuna dari bawah.

“sebentar aku masih memasukkan buku! Sebentaaaar!!” Nada turun dengan tergesa – gesa dan mengambil selembar roti tanpa isi di atas meja.

“kkaja, kita benar – benar terlambat hari ini”

Yuna dan Nada berlari menuju halte bus jurusan sekolah mereka. Tapi yuna merasa ada yang aneh. Daritadi sebuah BMW hitam yang sama mengikuti mereka dari rumah sampai ke sekolahan. Tapi perasaan itu Yuna simpan tanpa memberitahukannya ke Nada. Yuna hanya memikirkan bagaimana caranya bisa masuk gerbang sekolah karena gerbang sudah ditutup dan Sungmin songsaengnim sudah berdiri didalam gerbang dengan mistar besi andalannya.

“songsaemgnim, jebal izinkan aku masuk! Aku janji tidak akan telat lagi!” Yuna memasang muka sememelas mungkin, mungkin saja dengan begitu ia bisa masuk walaupun agak telat. Terlihat beberapa anak lain yang terlambat melakukan hal yang sama seperti Yuna.

“tidak. Ini sudah sangat terlambat! Dimana rumah kalian sampai – sampai terlambat sekolah? Gangwondo? Jeju? Tidak ada alasan lagi, lebih baik kalian pulang saja” Sungmin songsaengnim beranjak masuk kedalam sekolah.

“fiiuuhh yasudahlah Nada kita kembali kerumah saja?”

“mian Yuna aku dijemput Jinki oppa dia minta ditemani siaran hari ini”

“baiklah aku pulang saja kalau begitu? Aku kurang tidur semalam”

“nah itu dia jinki oppa! Yuna aku duluan ya? mmuachh” Nada mencium pipi Yuna sebelum naik ke mobil Jinki.

“bye..” Yuna melambaikan tangan kearah sahabatnya yang mulai berlalu.

Yuna mengambil handphone nya di dalam tas dan mencoba menghubungi appanya tapi tidak ada nada panggil. Akhirnya Yuna memutuskan untuk berjalan sendiri.

Jalanan di dekat sekolah mereka memang lumayan sepi karena letak sekolah nya yang agak memisah dengan rumah warga dan butuh 5 menit untuk sampai ke halte bus. Yuna berjalan sendiri dan bernyanyi kecil mengikuti nyayian yang ia dengar di Ipodnya sambil menendang kerikil – kerikil kecil yang ada di jalan. Tanpa disadarinya ada sebuah mobil BMW yang sedari tadi mengawasinya. Semakin lama mobil itu semakin mendekat kearah Yuna. Dua orang namja berpakaian hitam turun dari mobil itu dan menghampiri Yuna. Mereka mengeluarkan saputangan dan membekap mulut Yuna dari belakang.

“hhhmp lepaskaan!! Hmmp jjong…” Yuna mencoba memberontak namun ia tidak sadarkan diri karena pengaruh bius di saputangan itu.

“bos, kami sudah menangkap anaknya. Ne, akan kami bawa kesana” salah satu namja berbicara di telepon dan namja satu nya membopong Yuna masuk ke dalam mobil. Mobil pun bergerak menuju suatu tempat.

Jonghyun POV

Aku memasukkannya kedalam mobil dan mendudukkannya disebelahku. Aku menyibakkan rambut kecil yang menutupi mukanya.

“Deg!” jantungku berdegup cepat Ternyata yeoja ini begitu cantik ketika tertidur. bibirnya yang mungil dan hidung nya yang mancung membuat ku tidak bisa berpaling dari wajahnya.

Mobil terus melaju dengan cepat meninggalkan kota Seoul.

***

Aku adalah agen penculik bayaran. baru dua tahun aku menjalani profesi ini.  Kali ini klien kami adalah seorang anggota parlemen yang sedang terkena kasus korupsi, Kim Hee Chul. Aku tidak menyangka bahwa yeoja yang mejadi target penculikan yang sedang aku bopong ini adalah Yuna. Pantas saja aku tidak asing dengan mukanya saat pertama kali kami bertemu. Yang aku tahu Yuna adalah anak dari seorang wartawan yang mengungkap kejahatan Kim hee Chul tersebut. Ia menyuruh kami menculik Yuna karena ingin balas dendam atas perbuatan Appanya. Aku berpikir sudah berapa banyak orang yang aku culik dari awal bekerja sampai dengan sekarang.

*flashback*

karena kondisi keuangan keluargaku aku harus melakukan pekerjaan ini. aku merupakan anak tertua, appa dan umma ku sudah sudah lama meninggal dan meninggalkan 2 adik laki-laki dan 1 adik perempuan yang harus aku tanggung biaya kehidupannya. Dari kecil aku sudah biasa bekerja keras, segala pekerjaan pernah aku jalani. Pegawai restoran, pengantar pizza, guru les menyanyi, instruktur taekwondo sampai pengantar Koran sudah aku jalani. Dan pada suatu hari Minho, teman sesama instruktur taekwondo menawariku pekerjaan dengan gaji sangat besar tetapi agak sedikit beresiko. Karena pada saat itu, selain adikku Dongho akan masuk SMA, aku juga harus membiayai pengobatan adik perempuanku yang hingga sekarang msh dirawat oleh nenekku, aku menerima tawaran Minho tersebut. Aku dan minho memasuki gedung yang besar namun terkesan dingin persis seperti yang dituliskan di kertas yang dipegang minho.

“sepertinya ini alamat yang ada di kertas ini??” minho memegang selembar kertas yang udah agak kusut sambil melihat sekitar gedung yang sangat sepi.

“kkaja kita masuk mungkin kita bisa bertanya saja didalam” kataku.

Tidak ada seseorang pun yang berada di gedung tersebut. Tiba – tiba dua Lelaki besar berbaju dan berkacamata hitam mendekati kami.

“apakah kalian Kim Jonghyun dan Choi Minho?”

“ne” jawabku dan minho berbarengan.

“ikut kami” kedua lelaki tersebut berjalan didepan kami menuju sebuah ruangan yang berada di lantai 3.

“tok tok tok.. bos mereka sudah datang”

“ne, masuklah” seorang lelaki yang tidak terlalu tua dengan kacamata dan cerutu di tangannya duduk santai di kursi. Dimejanya terdapat beberapa macam botol minuman yang aku tidak tahu persis apa namanya. Aku memerhatikan sekeliling terdapat banyak sekali foto orang yang berbeda. Sebagian dari foto tersebut diberi tanda silang merah. Aku tidak tahu pekerjaan apa yang akan aku jalani ini? dan aku mempunyai firasat yang tidak terlalu enak tentang pekerjaan baruku.

“duduk” pria tua itu tadi mempersilahkan kami duduk di sofa yang terletak memisah dengan meja kerjanya dan ia duduk santai memebelakangi kami di meja kerjanya.

“aku sudah melihat profile kalian. Kalian pintar bela diri kan? Dan apa kalian tau pekerjaan apa yang akan kalian jalani sekarang??” pria itu berdiri dan menghadap jendela.

“eobseoyo” jawab minho singkat.

“bisa kalian lihat foto – foto yang ada di dinding. Tugas kalian menculik dan menghilangkan nyawa mereka”

“Deg..” aliran darahku seperti terpusat dijantung sekarang. Tebakanku benar, ternyata pekerjaanku bakal membuat hidupku berubah, entahlah berubah menjadi lebih baik atau sebaliknya. Aku melihat wajah minho sekilas. Kulihat keringat mengucur di keningnya padahal ruangan tersebut bisa dibilang dingin. Aku bisa merasakan aura tegang disekeliling minho.

“Bagaimana? Kalian akan melakukannya bukan? Kalian telah mengetahui kelompok kami. Kalian tahu konsekuensinya apabila menolak.”

Kemudian aku mengingat ketiga adikku yang sedang berada dirumah. Aku berikir lama sebelum aku mengambil keputusan.

“baiklah, aku siap” jawabku mantap.

*flashback end*

Setelah 8 jam perjalanan akhirnya kami sampai di villa diatas bukit tempat persembunyian kami kali ini. aku menggendongnya turun dari mobil dan menaikkannya ke lantai atas. Kurebahkan badannya diatas tempat tidur berukuran besar yang tersedia di kamar itu. Sesuai perintah kuikat tangannya dengan seutas tali dan menutup mulutnya dengan kain agar ia tidak bersuara. walaupun lokasi villa disekitar kami sangat jauh dengan rumah warga kami berjaga – jaga dari kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Setelah ia aku ikat, aku mengunci kamarnya dan turun kebawah menemui partnerku minho.

“hyung, ini tas yeoja itu.mau kita apakan?” minho memberikan tas sekolah hitam milik Yuna.

“sini, berikan kepadaku. Aku akan menyimpannya!” kuambil tas nya dan kembali keatas. aku masuk kamar disebelahnya dan duduk di sofa yang menghadap keluar jendela. Aku penasaran melihat isi didalam tas nya. Ku buka tasnya, dan mencoba mengeluarkan satu per satu isinya. Tidak ada yang menarik. Aku hanya menemukan buku, Ipod, dan saputangan. Tidak ada yang menarik. Dan pada akhirnya aku menemukan dompet berwarna biru muda. Didalamnya aku menemukan sebuah foto keluarga yang sudah agak usang. Sepasang suami istri menggendong seorang bayi dan seorang anak kecil dengan kucir kuda tampak tersenyum manis. Aku bisa menebak kalau itu adalah yuna. Ternyata wajahnya tidak berubah saat ia masih kecil hingga sekarang. Aku simpan dompetnya kedalam saku jas ku. Dan mengembalikan buku dan Ipod nya kedalam tas lagi. Aku kembali mengecek kamar Yuna. Ternyata ia belum juga sadar dari obat bius. Mungkin obat bius yang baru ini bisa tahan hingga besok pagi. aku bersandar di sofa yang berada dikamarnya dan memejamkan mata sebentar tapi tanpa sadar aku tertidur.

***

“hhhmmp hhhmmmpp hmmppphh”

Aku terbangun karena seseorang menendang sofa yang menjadi tempatku tidur.

“hhhhhmmmppp hhhmmpppp!” ternyata Yuna sudah berada didepanku. Matanya terlihat merah mungkin karena menangis. Ia tidak bisa bicara karena mulutnya aku ikat dengan kain.

“hhhhmmmpp hhhhmmpp” Ada yang ingin ia katakaa tapi terhalang oleh kain itu.

“mungkin ia lapar” pikirku. Kemudian aku keluar untuk mengambilkan sedikit makanan.

Yuna POV

“hey lepaskan ikatanku bodoh!! Aku ingin ke kamar kecil!” aku mencoba berteriak. tapi sekencang apapun aku berteriak ia tidak akan mengerti karena mulutku ditutup dengan kain. Dia hanya melihatku dengan tatapan kosong lalu keluar dan mengunci pintu kamar. Rasanya aku ingin menangis menahan derita ini. Aku sungguh tidak tahan ingin ke kamar kecil.

Aku meringkuk di bawah tempat tidur sambil membayangkan awal pertama aku dan Jonghyun ssi bertemu. Aku tidak menyangka bahwa ia adalah suruhan musuh appaku. Padahal awalnya aku kira ia adalah orang yang baik, walaupun orangnya agak sedikit kaku.

Aku berdiri melihat keluar jendela. Dan aku sangat terkejut melihat di luar hanya terlihat pepohonan rindang.

“ini bakal buruk, sepertinya tempat ini jauh dari pemukiman! Othoke?”

Ckreeek.. pintu terbuka. Ternyata Jonghyun ssi membawa sarapan pagi.

“kau lapar bukan?” Jonghyun ssi meletakkan makanan itu diatas tempat tidur.

Ia mendekat ke arahku dengan tatapan dingin. Aku ketakutan dan mencoba menjauh darinya. Aku takut ia akan berbuat hal yang tidak aku inginkan. Ia terus mendekatiku. Kemana aku berlari dia terus mengikutiku. Aku seperti bermain kucing – kucingan dengannya. Namun akhirnya dia berhenti.

“hey kau tidak akan bisa makan dengan kondisi seperti itu”

Rasanya mukaku memerah menahan malu. aku kira ia akan melakukan hal yang tidak – tidak. Akhirnya akupun mendekatinya. Tapi ternyata ia hanya membuka ikatan mulutku saja.

“tolong bawa aku ke kamar kecil! Aku sudah tidak tahan?” hanya itu yang ingin aku ucapkan padanya.

“tapi aku tidak bisa begitu saja mempercayaimu”

“jebal Jonghyun ssi” aku mengeluarkan jurus aegyo ku

“baiklah tapi aku tunggu diluar”

“ne, kkaja! Dimana kamar kecilnya?”

Aku mengikutinya dari belakang. Aku baru menyadari bahwa ia tampak berbeda. Aku melihatnya dari atas ke bawah. Ia tidak memakai jas hitam – hitam seperti awal aku bertemu dengannya. Sekarang ia hanya memakai kaos putih tipis dan jeans biru dengan beberapa gelang ditangannya.

“kenapa kau melihatku seperti itu? Cepat masuk!” jonghyun ssi membuyarkan lamunanku. Ia melepaskan tali di tanganku.

Saat aku dikamar kecil aku mendengar seperti banyak orang yang datang.

“hey kau bisa cepat tidak!” nada bicara Jonghyun berubah cemas.

“sebentar lagi”

Aku membuka pintu kamar mandi dan kulihat Jonghyun berdiri di depan ku. Ia memegang tanganku dan kembali mengikatnya dengan tali. Ia menuntunku naik kembali kekamar.

Ia berdiri didepanku yang duduk diatas tempat tidur.

“kau pasti lapar. Makanlah!”

“bagaimana aku bisa makan dengan tangan terikat seperti ini?”

Ia mengambil sandwich dan menyuapinya ke mulutku.

“aku bukan anak kecil tahu!! Lepaskan ikatanku babo!!” aku sudah sangat kesal dengannya padahal ia tadi mengizinkanku melepas ikatanku.

“kalau tidak mau kau bisa makan dengan caramu sendiri kalau bisa”

Aarrrrghh.. Namja ini sungguh menyebalkan!

“baiklah” aku menurutinya karena jujur aku snagat lapar sekali.

Ia perlahan – lahan menyuapi sandwich yang rasanya lumayan enak. Belum habis sarapanku tiba- tiba seseorang mengetok dari luar.

Tok tok tok..

“Jonghyun bos heechul memanggil kita” seorang namja tinggi dan tampan muncul dari balik pintu.

“baiklah minho” tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya ia berdiri dan mengunciku sendiri didalam kamar. Aku penasaran apa yang mereka bicarakan diluar. Aku berdiri didepan pintu dan menempelkan telingaku. Aku samar – samar mendengar suara serak pria yang sedang berbicara.

“Aku akan meninggalkan 5 suruhan ku untuk membuang gadis itu ke jurang besok malam. Tugas kalian berdua hanya mengawasi saja! Apabila gagal lihat saja apa yang akan terjadi pada kalian! Araseo?”

“DEG” jantungku berdetak dengan cepat, bulu kudukku meremang dan keringat dingin membasahi bajuku.

“Apa yang harus aku lakukan?? Appa aku takut”

To be continued…

ini FF pertama yang aku publish. Sorry banget kalo jelek dan rada gak jelas. Jangan ragu – ragu buat komen dan kritik. Thanks buat Wiga & Fresa yang jadi editor dadakan (saranghae!) and thanks buat reader yang udah baca! Komen dan kritiknya yaaaaaaaaaa!! Mmuach..

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

My Past Future 2 – Part 2

My Past Future – Chapter 2

Part 2

Author: Lana Carter *yang paling cantik istri Onew selamanya mwuahahaha* *PLAK* #gakpenting

Main Cast: Yuna, Jinki, Donghae

Support Cast: Gaeul, Jun

Length : Sequel

Rating : General/PG 12

Genre: Friendship, Humor, Romance, Family, Action(?).

N.A: Lama gak nunggunye?? *Reader: Emang ada yang nungguin?* *CRIES* mangap-mangap.. ngantrinya panjang booo.. FF yang old harus saia dahulukan. eheeh. Maaf yow kalau part ini mengecewakan T.T saia sudah berjuang hidup-hidupan (?)

Continue reading My Past Future 2 – Part 2

My Past Future – Part 10

Part 10

Main Cast : Lee Donghae, Kim Yuna, Lee Jinki (Onew)

Support Cast : Jun, Gaeul

Author: Lana

~Yuna Pov~

Tidak terasa hubunganku dan Donghae oppa sudah berjalan hampir satu tahun, ujian kenaikkan kelasku berjalan dengan sangat baik berkat dorongan dari Donghae oppa. Prestasiku semakin meningkat dan aku berhasil terpilih sebagai kepala dari Bid. Kesiswaan membantu Tae Gun seonsangnim…. Aku selalu ada di nomor urut 2 sebagai 3 besar nilai terbaik di satu angkatan, sedangkan Gaeul selalu menempati peringkat 3. Jun? Dialah yang selalu menduduki peringkat pertama, dan tidak akan tergantikan. Aku salut dengannya, selarut apapun dia pulang, dia pasti menyempatkan diri untuk membaca buku pelajaran besok.

Sampai saat ini aku masih sangat bingung dengan hubungan Gaeul juga Jun. keduanya tidak pernah bertengkar tapi tidak pernah akur. Maksudku, mereka berdua tidak pernah pergi kencan kecuali aku yang mengajak atau Chun Li oppa. Karena itu kami sering melakukan triple date, agak aneh memang melihat keduanya. Tapi yah… begitu lah. Jun memang memperlakukan semua orang sama rata, kecuali aku tentunya.

Kalau kau tidak begitu mengenal Jun, maka saat melihat wajahnya yang terlintas di pikiranmu adalah… Jun seorang pendiam yang tidak perduli pada wanita dan sangat dingin. Jika Jun tidak mengenalmu, maka kata paling banyak yang ia keluarkan kurang lebih 5 kata dalam satu kalimat. Itu kau sudah termasuk orang-orang yang beruntung, kalau dia hanya mmengangguk atau menggeleng maka kau belum beruntung. Tapi kalau kau mengenalnya, kalimat paling banyak dalam satu kali bicara kira-kira 5 kalimat. Mendengarnya bicara lima kalimat saja rasanya sama seperti mendapat uang 1 milyar!

Seolah Jun membangun tiga tembok di hadapannya untuk membatasi orang-orang. Tembok pertama untuk orang-orang yang tidak ia tahu dan tidak ia kenal, tembok kedua untuk orang yang ia tahu tapi tidak ia kenal, dan tembok ketiga adalah untuk orang yang ia kenal tapi tidak dekat dengannya. Aku ada di tembok mana? Dia tidak memberi tembok untukku, kami bicara selayaknya aku bicara dengan Gaeul, Donghae oppa dan Chun Li oppa.. ah juga Haeya unnie. Walaupun awalnya aku merasakan hal yang sama seperti orang-orang dengan tembok tersebut, tapi kini aku tahu kalau Jun itu memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap sesuatu. Mudah tertarik dengan sesuatu yang unik, kreatif, lembut, penyayang, pendengar yang baik, pemberi solusi yang hebat dan romantis!

Aku menjulukinya Softy Ice. Walaupun sangat dingin, hatinya begitu mudah di sentuh dan sangat lembut. Satu lagi yang aku kagumi darinya, matanya! Untuk orang di tembok pertama, saat bicara matanya terlihat kosong… tidak akan terbaca apa yang ia pikirkan, rasakan atau inginkan. Untuk orang di tembok kedua, saat bicara matanya terlihat dingin dan tajam… membuat orang sering lebih memilih untuk tidak menatapnya atau menyingkir karena takut. Untuk orang di tembok ketiga, saat bicara matanya akan terlihat dingin, tapi kau bisa melihat kehangatan dan keperdulian terpancar di matanya. Dan untuk orang di tanpa tembok sepertiku dan orang tuanya… matanya terlihat begitu membara! Matanya akan memikat orang untuk terus menatap matanya, dalam-dalam… karena rasanya sangat nyaman. Di matanya kau akan melihat bahwa dia perduli padamu, itu yang selalu di inginkan orang-orang dan Jun memilikinya.

Ah.. tunggu! Apa tadi aku sedang memujinya?! Gaeul~~~ maaf… aku tidak bermaksud memujinya!

&&&

Seseorang melempar Gaeul dengan gumpalan kertas. “Tolong buang ke tong sampah!” Gaeul menoleh ke belakang, rupanya Yuna yang melempar kertas tersebut. “Cepat buang!” ucap Yuna sambil memasukan kertas berwarna biru ke kantongnya. Gaeul melirik ke bawah, ada dua gumpalan kertas.. warna biru dan merah. “Ah! Dasar kau ini!” Gaeul mengambil kedua kertas tersebut, memasukkan gumpalan biru ke dalam laci dan membuang yang berwarna merah. Diam-diam Gaeul membuka gumpalan kertas yang berwarna biru, di dalamnya tertulis jawaban dari seluruh soal.. dengan pesan di bagian bawah :

P.S: Lain kali belajar ya!

Gaeul tersenyum lalu menyalin jawaban-jawaban tersebut. 15 menit kemudian bel tanda istirahat berbunyi, murid mengumpulkan lembar jawaban mereka.

“Yuna~ kamsahamnida~” Gaeul merangkul sahabatnya. “Ada apa?” Yuna mendesah. “Sudah dua minggu aku tidak melihatnya bermain basket di lapangan. Sudah dua minggu juga dia tidak menghubungiku.” Yuna menatap kosong ke lapangan. “Mungkin gurunya sedang banyak memberi tugas, jadi dia sedang sangat sibuk.”

“Hhh.. tapi biasanya dia menyempatkan untuk mengirim pesan walaupun hanya bilang ‘Bagaimana hari ini? Maaf aku sibuk.’ Tapi sekarang tidak ada sama sekali, ponselku jadi kosong.” Gaeul menyandarkan kepalanya pada kepala Yuna. “Tenanglah, aku yakin dia sedang memiliki sebuah masalah pribadi yang tidak bisa di beri tahukan padamu.” Tutur Gaeul lalu menunjukkan gigi-giginya yang putih dan rata. “Hah.. dasar! Sempat-sempatnya pamer gigi!” Yuna menjitak pelan kepala Gaeul.

“YUNA!” keduanya menoleh serempak. “Yun Hae wae?” Yuna menghampiri teman satu kelasnya itu yang berusaha mengatur nafas. “Donghae-ssi… engh.. Donghae sunbae..hhh.. sedang berkelahi..engh.. di belakang gedung SMA.” Yuna langsung berlari secepat mungkin, Gaeul dan Jun menyusul di belakang. ‘Ada apa? Masalah apa yang membuat sunbae oppa berandal begini?’

Dari kejauhan Yuna melihat beberapa anak mencoba memisahkan, tapi keduanya terlalu emosi. Yuna menerobos kerumunan, seluruh murid yang berteriak-teriak langsung berhenti begitu melihat Yuna. Donghae melepaskan cengkramannya begitu melihat Yuna yang memandanginya dalam diam dan matanya berkaca-kaca.

“Yuna.. dengar.. ini…” Donghae perlahan berjalan mendekati Yuna yang air matanya hampir menetes. “Yuna..-“ Donghae menatap balik Yuna yang menatapnya lekat-lekat, akhirnya air mata Yuna mentes juga. “Oh.. maafkan aku.” Donghae memeluk erat Yuna yang akhirnya melepaskan tangisnya. “Sunbae itu kenapa? Apa yang sunbae lakukan?!” tanya Yuna di sela tangisnya sambil memukul-mukul punggung Donghae.

“Maafkan aku Yuna.. berhenti panggil aku seperti itu.”

“Sunbae jahat!”

“Yuna aku benar-benar minta maaf. Aku akan menjelaskan ini.”

***

“Yuna.” Akhirnya Donghae angkat bicara setelah keduanya duduk dalam diam selama 30 menit. “Aku… hhh… kau percaya denganku kan? Ini… tidak seperti yang kau bayangkan. Belakangan ini aku memiliki beberapa masalah, aku tidak bisa menghubungimu.” Yuna masih terdiam sambil memandangi tanah dengan tatapan kosong. “Harusnya sunbae..-“

“Aku mohon jangan marah, aku minta maaf.” Yuna mendesah lalu melanjutkan kalimatnya. “Aku akan dengan senang hati mendengarkan masalah sunbae oppa. Aku akan berusaha membantu sebisa mungkin, kalaupun tidak bisa membantu setidaknya aku senang jika sunbae oppa merasa lebih lega.” Apakah ini akan menjadi masalah baru? Masalah di keluarganya saja sudah membuat Donghae tertekan bukan main, apalagi kalau Yuna sampai jauh darinya. Satu tetes air mata yang keluar dari mata Yuna menambah satu beban yang menimpa dadanya. Jika ia mengingat masalah yang kini menimpanya ingin sekali ia berteriak sekeras mungkin, berharap masalahnya bisa keluar bersama teriakannya.

“Seberat apapun masalahnya jangan berkelahi.” Lagi-lagi Yuna menangis. “Yuna jangan menangis… aku tidak akan mati begitu saja hanya dengan berkelahi.” Donghae memeluk Yuna, berharap dirinya bisa lebih tenang. “Aku tidak akan memaksa untuk bercerita, tapi jangan tanggung bebanmu sendiri.”

“Yuna… dengar. Aku… aku benar-benar tidak ingin berpisah denganmu, aku bersumpah aku ingin tetap berada di sini bersamamu. Tidak perduli apa kata orang tapi aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun, dan percayalah sampai kapanpun itu cintamu akan tetap ku kunci dalam hatiku. Percaya padaku apapun yang terjadi aku akan terus merindukanmu, mencintaimu dan tetap menunggumu. Jika ada pertemuan maka ada perpisahan, walaupun itu terjadi kau akan tetap jadi cinta pertamaku.” Yuna mempererat pelukannya. “Aku percaya. Tapi aku tidak mau berpisah sekarang, kau tidak bermaksud meninggalkan ku kan?”

“Tidak.. tidak sekarang dan tidak akan pernah aku berniat meninggalkan mu. Kumohon berhentilah menangis, aku tidak bisa membiarkan air matamu itu terbuang begitu saja. Jangan pernah menangis untukku.”

“Yuna~” Donghae melepaskan pelukannya perlahan. “Apakah kau akan memanggilku dengan Donghae oppa? Sekali saja… aku mau mendengarnya.”

“Tidak mau… nanti sunbae oppa pergi!”

“Tidak.. aku ingin sekali mendengar itu, walaupun hanya sekali. Aku ingin mendengarmu memanggil namaku tanpa embel-embel senior. Memangnya ada orang pacaran yang memanggil pacarnya dengan sebutan senior dan junior?” Yuna tersenyum, masih keukuh menolak permintaan Donghae.

***

“Kenapa hari ini hujan deras?” Yuna menyandarkan kepalanya di jendela sambil memandangi keluar jendela. “Seharusnya hari minggu semua orang bisa menikmati liburan bersama pacar dan keluarga.” Yuna mengendus, hari ini ia tidak bisa pergi keluar karena punya jadwal untuk melihat perusahaan ayahnya. “Donghae oppa… apa kau mau mendengarku memanggilmu Donghae oppa?” Yuna menurunkan kakinya dari kursi, lalu menutupi wajahnya dengan bantal.

“Nona.. ada telepon dari Gaeul.” Yuna mengambil ponselnya yang berada di tangan Jun. “Yeoboseoyo. Ada apa Gaeul?”

“Kau ada di mana sekarang?!”

“Di jalan menuju kantor appa. Kenapa?”

“Kau tidak ke rumah pacarmu?”

“Untuk apa?”

“Kau ini kenapa sih?!”

“Apa? Maksudmu itu apa sih?”

“Kau tidak mau mengucapkan selamat tinggal pada pacarmu? Setengah jam lagi dia akan berangkat ke Incheon, lalu terbang ke Amerika.” Mata Yuna langsung berkaca-kaca. “Pak! Ke rumah Donghae! CEPAT!”

Sementara itu…

“Apa kau yakin akan ikut pindah bersama orang tuamu?” tanya Chun Li sambil membantu mengangkat koper Donghae. “Apa yang bisa kulakukan? Kalau boleh jujur aku sama sekali tidak ingin pergi. Bagaimana nasib Yuna?”

“Donghae oppa… kau tidak memberitahu Yuna yah kalau kau mau pindah?” tanya Gaeul polos. “Tidak. Dia lebih baik tidak tahu… aku tidak mungkin melihatnya memandangi kepergianku, aku yakin reaksinya tidak akan biasa. Kalau sampai aku melihat airmatanya aku tidak akan kuat pergi.” ‘Ya tuhan… jadi.. aku salah!’ batin Gaeul.

“Kenapa?” Donghae balik bertanya. “Wah.. kenapa hujannya semakin deras?” Chun Li memandangi keluar. “Gaeul! Apa kau bilang pada Yuna kalau aku hari ini akan pergi?”

“A~… aku..”

“Oh tidak! Cepat bantu aku beres-beres.. lebih cepat!” Donghae memasukkan seluruh barangnya ke mobil. “Umma, appa! Lebih cepat! Kita tidak bisa lama-lama di sini!”

“Maafkan aku, aku tidak tahu.”

“Itu bukan masalahnya sekarang. Aku harus cepat-cepat pergi sebelum Yuna tiba.” Untungnya perabotan rumah dan barang lain sudah di bawa kemarin jadi sekarang mereka hanya mengemasi koper-koper.

“Aku akan merindukan kalian. Chun Li, terima kasih atas segalanya! Sampaikan maafku pada Haeya karena tidak bilang padanya. Gaeul… berikan ini pada Yuna, sampaikan maafku yang sedalam-dalamnya pada Yuna.’

“Apa kemarin Yuna sudah memanggilmu Donghae oppa?” tanya Chun Li sebelum Donghae berbalik. “Belum, dia masih menolak. Sudahlah.. mungkin suatu saat nanti aku baru bisa mendengarnya memanggilku begitu. Walaupun itu adalah harapan terakhirku. Sampai jumpa semuanya. Aku harap kita bisa bertemu lagi.” Donghae menarik nafas panjang sebelum masuk ke dalam mobil.

“Sampai jumpa!” Donghae membalas lambaian tangan Chun Li dari dalam mobil. Ayah Donghae melambaikan tangan sebelum akhirnya menginjak gas, perlahan mobil tersebut mulai pergi.

“SUNBAE OPPA!!!!” Chun Li dan Gaeul menoleh serempak. Yuna berlari keluar dari sebuah limo. “Donghae! Yuna mengejarmu!” seru Chun Li pada Donghae melalui telepon. “SUNBAE OPPA!!!” Donghae membuka kaca mobil.

“YUNA! YUNA CHAGIYA! SALANGHAEYO! YEONGWONHI. MIANHADA. SORRY, I LOVE YOU!” Donghae buru-buru memasukan kepalanya dan menutup kaca mobil tanpa melihat kebelakang lagi.

“DONGHAE OPPA!!!! DONGHAE OPPA!!! JEBAL GAJI MALAYO (tolong jangan pergi)!! ANDWAEYO (Tidak)!!!” akhirnya Yuna menyerah karena sampai kapanpun mobil Donghae tidak akan berhenti.

“Donghae oppa… salanghaeyo yeongwonhi.”

TBC

P.S: Maksa yak maksa ya???? Ehehehehe… habis waktu itu emang udah mampet, jadilah part 10 ancur gini.. ehehe… Tenang-tenang, di part 11 dan selanjutnya Onew sudah muncul ^o^

Lana

This FF/post has made by Lana and has claim by her signature.

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

My Past Future – Part 9

My Past Future

Part 9

Main Cast : Yuna, Donghae, Onew

Support Cast : Gaeul, Jun, SHINee, Super Junior

Chapter 1

“Singkirkan seluruh barang yang bisa pecah, supir bilang Yuna agassi sedang kacau. Itu.. jangan sampai lukisan itu di hancurkan oleh agassi.” Kepala pelayan mengontrol. “Agassi datang kepala pelayan.” Seluruh pelayan langsung berbaris, dari kejauhan terdengar suara Yuna bertereiak-teriak.

“Selamat datang agassi.” Seluruh pelayan yang berbaris itu langsung membungkuk. “AAAAAAAAARRRRRRGGGGGHHHHH!!!!!!! PERGI KALIAN SEMUA!” jerit Yuna, membuat para pelayan jadi terkejut. “Agassi tenang.” Yuna menatap kepala pelayan dengan nanar. “DIAM! SEMUA PERGIII!!!! KYAAAAA~!” Yuna kembali berjalan menuju kamarnya sambil menjerit tidak karuan. “Syukurlah.. ini tidak begitu parah.” Ucap salah satu pelayan. Kepala pelayan menunjuk seseorang dengan dagunya, spontan para pelayan mengikuti arah tunjukan kepala pelayan.

“Sepertinya sesi pertama di berikan pada Teung Yo.” Teung Yo adalah salah satu dari 5 pelayan yang selalu mengiringi Yuna dari pintu masuk dan mereka yang mengurus segala sesuatu yang Yuna inginkan. Teung Yo masuk dengan rambut acak-acakan, dan agak sedikit pincang. Sepertinya Yuna menendang dan menginjak kaki Teung Yo.

“Nona.. anda tenang dulu, anda tidak bisa langsung marah begitu.”

“Tapi… eeeggghh! Aku menunggu sampai lebih dari 2 jam! Dan saat aku mencarinya ternyata Donghae oppa sedang asik berduaan dengan gadis lain! Kalau kau ada di posisiku apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan menghampirinya dan meminta penjelasan.” Jawab Jun singkat, jawaban itu malah membuat Yuna kesal karena seolah Jun menyalahkan Yuna. Ingin sekali Yuna memukul Jun, tapi ia enggan melakukannya… karena Jun tidak pantas dipukul. Yuna melempar tubuhnya keatas kasur, membekap wajahnya dengan bantal lalu berteriak sekeras mungkin.

&&&

~Donghae Pov~

“Ya, Donghae! Apa kau masih bertengkar dengan Yuna?” Aku menutupi wajahku dengan buku. “Sebenarnya kalian berdua itu maunya apa sih? Baru baikan sudah bertengkar lagi.”

“Aku juga tidak tahu. Aku sudah berusaha bicara dengannya, tapi setiap kali aku bertemu dengannya dia selalu buru-buru pergi.” Para murid berlarian masuk ke dalam kelas. “Ada siapa?” tanya Chun Li. “Gak tahu tuh, ada guru baru… sok galak gitu lagi tampangnya.” Jawab Hong Bae. “Ayo semuanya duduk di bangku masing-masing!”

“Annyeong haseoyo… saya adalah guru baru di sini, nama saya Kangta. Mulai sekarang saya yang akan mengajar di kelas ini bersama dengan wali kelas kalian.” Fuuhhh… aku paling malas kalau ada guru baru. Guru itu mulai mengajar, tapi konsenterasi ku buyar… kini yang ada di kepalaku hanya Yuna. Sebenarnya Yuna itu kenapa sih? Aduh… aku pikir dia bukan gadis yang mudah marah. Tapi jujur… sampai sekarang aku masih tidak bisa melupakan tatapan mata Yuna yang sangat menyeramkan itu. Aku berani bersumpah aku seperti sedang menatap mata orang yang hendak membunuhku karena sudah dendam 7 turunan.

Sudah 2 minggu ini aku mondar mandir di SMP nya, tapi sulit sekali bertemu dengannya walaupun melihat dari jauh itu benar-benar sulit. Jika aku menunggu di sekolahnya pagi-pagi, Gaeul bilang dia sekarang datang 5 menit sebelum bel berbunyi sedangkan 15 menit sebelum bel SMP berbunyi SMA sudah harus masuk. Aku menunggu saat pulang dia juga pulang malam, Gaeul bilang belakangan ini Yuna mengambil kelas malam karena dia kandidat kepresidenan.

Tapi… walaupun dalam keadaan seperti ini aku mendengar dari Gaeul lagi kalau prestasi Yuna semakin meningkat, matanya sulit lepas dari buku… bahkan dia jarang makan sekarang. Sebenarnya aku agak khawatir dengan yang satu ini…

“Donghae!”

Aku takut kalau sebenarnya belajar dan membaca adalah pelampiasan Yuna.

“Donghae!”

Karena tidak bisa marah kepadaku, dia menjadikan buku sebagai penghilang amarahnya.

“DONGHAE-SSI!”

“APAAN SIH?!” seruku dengan kesal, siapa sih yang memanggilku.. tidak tahu kalau Yuna lebih penting dari apapun apa?! “Kau bisa keluar sekarang kalau kau tidak suka dengan pelajaran saya.” Ya tuhan…

“Jweosohamnida seonsaeng-nim, aku tidak bermaksud begitu.” Aku melihat murid-murid terkekeh melihatku. “Mungkin kau memang sedang ada masalah, tapi saya mohon jangan bawa masalahmu ke dalam kelas.”

“Ne, seonsaeng-nim. Jweosohamnida.” Aku membungkuk… hhh~ ini ketiga kalinya dalam 2 minggu aku di tegur guru. Apakah hari ini aku harus mencoba lagi?

***

Sesuai janji aku menunggu di taman yang terletak tidak jauh dari sekolah kami, aku melihat Yuna berjalan mendekat ke arahku… kira-kira sekitar 5 meter lagi Yuna langsung berjalan mundur, buru-buru aku mengejarnya.

“Yuna tunggu!” Aku menarik tangannya, ia tidak melawan tapi ia malas melihat wajahku. “Aku minta maaf karena aku tidak tahu kesalahanku, tapi bagaiman aaku bisa tahu kalau kau tidak memberitahukannya padaku? Aku mohon bicaralah… masalah ini mengganggu konsenterasiku.” Ia mendesah, sepertinya menyerah karena kali ini ia benar-benar tidak bisa kabur.

“Waktu itu aku menunggu sunbae lebih dari 2 jam, itu bukan waktu yang sebentar. Aku benar-benar bosan, sunbae bilang sunbae akan segera datang. Aku kembali menunggu, rasanya aku sudah menunggu selama 100 tahun tapi sunbae tidak kunjung datang…-“ tunggu! Dia memanggilku apa? Sunbae? Memang aku seniornya apa?! “Dan begitu aku mencari sunbae, aku melihat sunbae sedang asik mengobrol dengan gadis lain. Apakah itu tidak menyakitkan? Apapun alasannya tetap saja aku sudah menunggu selama lebih dari 2 jam. Sekarang lepaskan aku… aku punya urusan yang lebih penting dari ini.” Ia melepaskan cengkraman tanganku dengan tangan kiriny ayang bebas, lalu pergi begitu saja meninggalkanku. Seorang gadis? Gadis yang mana?.. ehem maksudku siapa?

&&&

~Yuna Pov~

Aku berjalan sambil memandangi tanah yang di tumbuhi rerumputan hijau, setidaknya warna hijau bisa memberikan pencerahan walaupun hanya sedikit. “Yuna.. bisa kita bicara?” aku mendongak. Siapa dia?

“Ini.” Wanita itu menyodorkan sekaleng soft drink. “Komapseumnida.” Dari seragamnya kau yakin dia satu SMA dengan Donghae oppa, dan dari dasinya aku yakin dia murid satu angkatan dengan Donghae oppa. “Maafkan aku karena waktu itu membuatmu menunggu Donghae hingga lebih dari 2 jam.” Eh? Tunggu… jadi dia perempuan yang mengobrol bersama oppa.

“Namaku Sang Yun. Ini konyol sekali… tidak rela jika Donghae di miliki oleh gadis lain.” Huh? Otakku penuh dengan tanda tanya.. orang ini bicara apa sih?

“Dulu… aku dan Donghae hampir berpacaran, tapi kebodohanku membuat Donghae menjauhiku. Dulu aku benar-benar tidak suka dengan Donghae, bagiku dia hanya bocah aneh… dan menjijikan…-“ dia tertawa lemah “maaf… hhh~, aku mendengar gossip dari teman-temanku kalau Donghae itu menyukaiku, dan dia berniat untuk mendekatiku. Waktu itu aku yang masih membenci Donghae langsung berniat untuk mengerjai Donghae. Aku akan memberinya harapan lalu saat dia menyatakan cintanya padaku di depan murid-murid, di saat yang bersamaan aku akan meminta Siwon oppa untuk menyatakan cintanya padaku juga. Padahal secara diam-diam aku sudah berkencan dengan Siwon, jadi aku akan langsung menolak Donghae mentah-mentah dan memilih untuk pergi bersama Siwon. Tapi semakin lama aku semakin dekat dengan Donghae, aku sadar bahwa Donghae adalah laki-laki yang sangat baik, perhatian, walaupun jahil dia sangat romantis terhadap wanita.”

Apa?!!!!!!

“Aku benar-benar menyesal, ingin sekali aku menarik rencanaku. Tapi terlambat, Donghae mendengar rencanaku itu dari salah satu murid dan mulai sejak saat itu Donghae menjauhiku. Aku bersikeras untuk meminta maaf dan tetap menjaga agar Donghae selalu ada bersamaku, walaupun Chun Li selalu mengusirku. Aku bersyukur Chun Li tidak tahu tentang rencanaku itu, sehingga dia tidak membenciku. Jika Chun Li tahu maka aku akan langsung di keluarkan dari sekolah.”

Sekarang apa hubungannya denganku?! Kau ingin membuatku cemburu?!

“Saat kau menghubungi Donghae, aku sedang berada tidak jauh darinya. Buru-buru aku mencari perhatian agar Donghae tidak menemuimu, dan sebenarnya aku melihatmu berada tidak jauh dari kami. Tapi aku pura-pura tidak tahu. Karena Siwon memaksaku, sekarang aku di sini untuk minta maaf. Donghae benar-benar tidak tahu apa-apa dan tidak bermaksud membuatmu menunggu. Ini salahku, aku akan mencoba untuk melepaskan Donghae karena dia bukan siapa-siapa ku.”

***

Ahhh.. aku jahat sekali.. harusnya aku melakukan apa yang Jun lakukan jika ada di posisiku, yaitu meminta penjelasan. Sekarang aku harus bagaimana… aku tidak mungkin minta maaf, kenapa? Gengsi lahhh!!! Sepertinya berguling-guling di atas kasur tidak akan membantu.

Sudah 5 hari sejak Sang Yun memberi tahuku masalah itu, tapi aku masih belum bisa minta maaf… tapi kenapa saat aku sadar Donghae oppa justru berhenti mencariku? Apa dia sudah jera ya? Aku berharap mendengarkan lagu Backstreet Boys bisa membantu.

“Nona…” aku menoleh. “Seseorang menitipkan amplop ini. Anda di minta membuka amplop yang berwarna biru dulu, dan dia minta agar nona tidak membuka amplop yang berwarna putih dulu.” Aku mengambil dua amplop panjang yang ada di tangan Jun. aku membuka amplop berwarna biru dan membacanya.

Pergilah ke taman skate sekarang juga, aku akan menunggumu hingga kau datang. Jangan lupa bawa amplop putih bersamamu.

Siapa sih dia? Enak saja menyuruhku keluar! “Jun.. menurutmu aku pergi atau tidak?” Jun mengangkat bahu. “Menurut nona?” aku melirik jam, baru jam 5 sore. Aku malas sekali keluar. “Tidak, aku malas!” Jun berputar lalu berjalan keluar. Aku kembali berkonsenterasi pada lagu Backstreet Boys yang aku putar, dan tidak terasa sudah jam 6. Aku melirik ke arah amplop yang aku geletakkan di lantai. Sesekali aku melirik jam dan kembali memandangi amplop itu, sepertinya aku harus datang…

Aku memasukkan amplop itu kedalam tas, mengambil jaketku lalu aku buru-buru keluar. Beberapa pelayan melemparkan pertanyaan, tapi aku malas menjawab aku terus berjalan. “Antar aku ke taman skate!” aku menutup pintu mobil. Jam menunjukkan pukul 6 lewat 30 menit, mobilku berhenti di depan taman skate. Buru-buru aku masuk ke dalam… kenapa gelap sekali?

“Yuna!” aku menoleh, dan tiba-tiba lampu menyala. Sebuah lampu sorot membuat sebuah kalimat yang di tulis besar-besar dan terpantul di bidang es. Tulisannya…

Untuk Yuna yang tercinta, aku benar-benar minta maaf. Percaya bahwa aku tidak akan berpaling!

“Percayalah padaku Yuna!” Donghae oppa berjalan mendekatiku dengan segenggam bunga di tangannya. “Aku minta maaf karena tidak tahu salahku, aku minta maaf karena membuatmu menunggu, aku minta maaf karena aku membuatmu sakit hati dan aku minta maaf untuk setiap tetes air mata yang menetes dari matamu untuk dan karenaku. Air matamu lebih berharga dari permata termahal di dunia.” Aku langsung memeluknya erat-erat, merasa bersalah tapi juga merasa benar.

“Aku memesan agar rangkaian bunga ini hanya berisi 25 tangkai bunga sebagai tanda hari jadi kita.” Donghae oppa balas memelukku. “Aku baru tahu kalau menunggu itu benar-benar tidak enak, padahal baru satu jam aku menunggu tapi rasanya ingin bunuh diri karena bosan.”

“Maaf karena aku marah tanpa alasan yang jelas, maaf juga karena membuatmu menunggu. Terima kasih untuk semua ini, terima kasih untuk bunganya dan terima kasih untuk maaf mu.”

“Sekarang kau akan lebih berterima kasih padaku, buka amplop putihnya.” Aku membongkar tasku, lalu mengambil amplop tersebut dan membukanya. “I..I-ni… HWUAAAAA!!!!” aku menjerit karena terlalu senang. Aku langsung melompat dan memeluk Donghae oppa lagi. “Bagaimana bisa sunbae oppa mendapatkan tiket ini? Bagaimana bisa sunbae oppa tahu kalau aku suka mereka?”

“Memang kau tidak tahu kalau Backstreet Boys malam ini konser?”

“Apa? Aku sama sekali tidak tahu! Hwuaaa… terima kasih banyak!”

***

“Jadi… kau akan memberiku imbalan apa?”

“Oh.. Gaeul, imbalan apa maksudmu?”

“Imbalan atas perjuanganku dan Chun Li oppa untuk menyatukan kalian berdua.” Aku mengerutkan alis. “Yang menyewa taman skate itu aku dan Chun Li oppa, rencananya hanya di sewa selama satu jam. Tapi kau malah terlambat satu jam.. jadi kami harus menambah bayaran! Kau harus tanggung jawab.”

“Mintalah pada Donghae oppa, atau sama Jun.” Gaeul menoleh pada Jun yang sedang asik membaca dengan telinga tertutup headphones. “Apa hubungannya dengan Jun?” Gaeul meletakkan tasnya. “Jun kan pacarmu.”

“Yang bertengkar kan kalian! Jadi yang harus ganti ya kalian berdua.”

“Aku tidak punya uang, minta saja pada Jun.” aku menendang kaki kursi Jun. “Waeire?” Jun menggantung headphones nya di leher. “Pacarmu minta uang!” aku bangkit. “Oh? Tidak-tidak.. itu tidak benar! Ya! Yuna!” Gaeul buru-buru mengejarku yang sudah keluar kelas.

&&&

“Ah! Kenapa hari ini harus lari!” Gaeul menjatuhkan diri di kursi. “Terima sajalah, lagipula lari tidak buruk kok, malah asik!” Yuna memasukkan seragamnya ke dalam tas. “Ayo… nanti kita di omeli seonsang-nim!” Yuna menarik tangan Gaeul yang dengan malas menurut.

“Ayo cepat baris sesuai dengan barisan pemanasan tadi!” Yuna menarik Gaeul untuk berdiri di sebelah kanannya sedangkan Jun di sebelah kirinya. “Semua pada posisi! Ingat.. kita akan spin. 800 m, berarti dua putaran.. kalau lebih dari 10 menit maka nilai kalian di bawah 6! Semua bersedia… siap…-“ pritttt… peluit di tiup, barisan pertama langsung berlari kencang. Jun dan Yuna berlari paling belakang, sedangkan yang lain sudah sangat jauh.

“Gaeul berjuang!” teriak Yuna berusaha menyemangati Gaeul yang mulai membalap anak-anak lain dan berhasil berada di urutan pertama. Gaeul berusaha berlari secepat mungkin, ia berharap bisa cepat-cepat menyelesaikan putaran sehingga dia bisa langsung mandi lalu tidur di kelas.

Belum sampai satu putaran, mereka sudah mulai kelelahan. Gaeul masih berada di posisi pertama hingga 700 m Gaeul sudah tidak kuat. “Spin?” tanya Yuna pada Jun yang berlari di sebelahnya. “Ayo!” seolah ada yang menghitung, begitu 3 langkah keduanya langsung mempercepat lari mereka membalap murid lain yang berada di depan. “Gaeul hwaiting!” lalu Yuna melewati Gaeul begitu saja. “Ya tuhan.. kapan ini berakhir??!!!” mohon Gaeul dengan nafas terengah-engah. ‘Ayolah tuhan… aku berharap akan ada sesuatu yang bisa terbang lalu menarikku dan melemparku ke garis finish. Atau apapun yang penting aku bisa cepat sampai di garis akhir!!’ batin Gaeul tidak berhenti bicara.

“Lebih cepat lagi!” ujar Jun begitu tiba di sebelah Gaeul lalu menarik tangannya dan kembali mempercepat larinya. “Lari bersama?” ledek Yuna. Entah kenapa jantung Gaeul berdegup sangat kencang, dirasakan pipinya mulai memanas… inikah bantuan dari tuhan yang ia minta sejak tadi?

TBC

***

Lana

This FF/post has made by Lana and has claim by her signature.

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF