Undiscloser Desire – Part 10

303310_446582102027361_1450612211_n

Tittle : Undisclosed Desire

Author : ViKey…………

Maincast : Kim Jonghyun,Lee Hyukyung, Kim Yoogeun.

Support cast : Key, Han  Yoora, SHINee member.

Genre : Marriage Life, Sad, romance, Family.

Rate : PG-16

Type : Sequel, part 10 from 12

Part 10 : Maximum Complicated

Udara pagi berhembus, mengibarkan tirai-tirai lembut yang bergerak dengan begitu anggun. Meski tak seanggun yeoja cantik yang tengah duduk termenung menghadap meja makan bekas sarapannya dengan sang suami. Yah, Kim Hyukyung wanita muda yang kini dinyatakan hamil itu tengah bermuram durja. Ketegangan dengan Jonghyun beberapa waktu lalu mengakibatkan perang dingin diantara mereka terus berlanjut hingga pagi ini. Jonghyun benar-benar marah padanya.

“Jjong. . Apa yang harus kulakukan sekarang ini.” Setitik air mata lolos, membasahi paras cantiknya. Wajah yang terlihat begitu lelah dengan lingkaran panda mengelili matanya. Hyukyung merasa begitu terluka, mendengar kata yang selama ini ditakutinya keluar langsung dari mulut seorang Kim Jonghyun. Sungguh, Hyukyung tak begitu peduli dengan pengakuan dari seluruh dunia, baginya cukup Jonghyun saja yang percaya bahwa dia begitu mencintai Yoogeun. Ucapan Jonghyun malam itu, seolah membuat apa yang telah dia lakukan demi Yoogeun selama ini hanya sia-sia. Didalam relung hati terdalam, Hyukyung merasa begitu perih. Begitu menyadari bahwa Jonghyun tak sepenuhnya mempercayai ketulusan kasih sayangnya untuk Yoogeun.

“Eonni!” Teriakan seseorang membuyarkan lamunan Hyukyung. Terburu-buru menghapus air matanya, saat dia melihat Hyuna dan Key yang berjalan mendekatinya.

“Tak baik wanita hamil pagi-pagi sudah melamun Hyu. .” Timpal Key.

“Na-ya. . Key! Kalian sudah kembali.” Sapa Hyukyung berusaha terlihat biasa saja.

“Yoogeun sudah berangkat ya eon…” sambung Hyuna lagi, mengambil sepotong roti dengan selai kacang yang ada di atas meja.

“Sudah. . Barusan saja Jonghyun mengantarnya. Oh iya, bagaimana honeymoon kalian. Apakah menyenangkan.” Hyukyung menyamarkan tawanya dalam suara batuk, merasa geli membayangkan Key dan Hyuna malah bertengkar dimalam pertama, alih-alih menciptakan moment romantis. Aigoo, sejak kapan Hyukyung mulai pandai berpikiran konyol seperti sekarang ini.

“Tentu saja sukses. . Tunggu saja kabar dari kami secepatnya.” Sahut Key santai. Dengan gerakan tak terduga, pria bermata kucing itu menyerobot potongan terakhir dari roti yang dipegang Hyuna.

“Yahh. . Memalukan.” Pekik Hyuna kaget.

“Pabbo. . Kenapa berbicara sevulgar itu dihadapan orang lain.” dengan sengaja Hyuna menginjak kaki Key, menyembunyikan semburat merah yang mulai muncul dipipinya.

“Kenapa harus malu, bukankah hal itu memang sudah sewajarnya. Lagipula kita sudah menikah.”

“Kim Kibum!!” Teriak Hyuna semakin malu.

‘Haha. . kalian memang pasangan yang lucu.” Tukas Hyukyung dengan geli.

“Dia itu menyebalkan.” Gerutu Hyuna lagi.

“Aku juga mencintaimu.” Balas Key gombal.

“Pabbo” Umpat Hyuna.

“Chup~

Sebuah kecupan mendarat di pipi Hyuna, membuat yeoja itu terkejut.

“Ya. . ya, jadi niat kalian kesini itu untuk memamerkan kemesraan eoh?” sela Hyukyung, membatalkan jitakan yang akan mendarat di kepala Key sebagai ungkapan “sayang” dari sang istri.

“Hyu. . kau kenapa? Wajahmu pucat.” Ujar Key mengalihkan pembicaraan. Menangkap tangan Hyuna dan menggenggamnya dengan sengaja tanpa menatap wajah sang istri, matanya memandangi Hyukyung dengan khawatir.

“Anniyo. . gwenchana.”

“Jangan bilang eonni dan si Dino pabbo itu tengah bertengkar.” Timpal Hyuna.

“Dia suamiku Kim Hyuna, bukan Dinosaurus.” Sela Hyukyung, menatap Hyuna dengan wajah lelah. “Huh, entahlah. Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya sekarang.”

“Biar aku yang bicara padanya nanti.” Key berusaha meredam kegundahan Hyukyung.

“Tidak Key, ini masalah kami. Sebaiknya kau jangan ikut campur dulu.”

“Kurasa Hyukyung eonni benar, ini masalah mereka Kibum. Kita sebagai orang luar tidak patut untuk ikut campur.” Dukung Hyuna, merasa tidak nyaman dengan cara Key menatap Hyukyung yang terlihat intens. Bisakah ini disebut cemburu, molla. Han,ya tuhan mungkin yang tahu.

***

Suara tawa menggema dimana-mana, terdengar celotehan khas anak-anak yang memenuhi sebuah bangunan sederhana. Namun terlihat begitu semarak dengan coretan warna-warna disana-sini. Seorang namja mungil bernama Kim Yoogeun baru saja keluar dari kelasnya. Menggendong tas merah bergambar power rangers sembari menenteng tempat minum dengan bentuk beruang lucu berwarna biru cerah.

“Yoogeunni. . duluan ne. umma sudah jemput.” Sapa seorang temannya, kemudian berlari meninggalkan Yoogeun yang masih berdiri dengan bingung mencari umma-nya.

“Ne. . hati-hati Jangminnie.” Balas Yoogeun, kemudian kembali mengedarkan pandangannya.

“Yoogeunni. .” suara perempuan memanggilnya. Sontak Yoogeun menoleh dan mendapati Yoora ahjumma sudah mendekatinya.

“Ahjumonie. .” panggil yoogeun dengan sopan.

“Anyeong sayang.  Hari ini ahjuma yang jemput Yoogeun. Tadi umma Hyukyung menelpon ahjumma. Kajja!” ajak yoora. Menggandeng tangan Yoogeun dan menariknya menuju sedan putih yang sudah terparkir didepan gerbang sekolah.

“Tapi ahjumma, umma baik-baik saja kan? tidak teljadi apa-apa sama umma Yoogeun.” Tanya yoogeun dengan was-was, karena tak biasanya sang umma tak bisa menjemputnya tanpa ada pemberitahuan lebih dulu.

“Jangan  khawatir sayang, umma Cuma periksa ke dokter. Tahukan, kalau baby dongsaeng Yoogeun perlu di periksa dokter supaya tetap sehat.” Bujuk Yoora,

Dengan polosnya Yoogeun mengangguk dan mengikuti langkah Yoora memasuki mobilnya. Yoogeun terlihat gembira ketika Yoora mengajaknya makan es krim dan berjalan-jalan disalah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota Seoul.

“Ahjumma, kita mau pulang ya! Tapi kok beloknya ke sini. Lumah Yoogeunkan beloknya kesana.” Protes Yoogeun saat mobil Yoora melesat berlawanan arah dengan rute yang biasa namja kecil itu lalui. Hari hampir sore ketika Yoora malah membelokkan mobilnya menuju rumah mewahnya setelah seharian ini mengajak Yoogeun berkeliling kota, membelikan banyak mainan untuknya. Awalnya Yoogeun merasa begitu gembira, karena Hyukyung tak pernah memanjakannya seperti Yoora. Menuruti semua permintaanya, dan membelikan segala yang dia inginkan. Namun, semakin sore Yoogeun semakin merasa bosan. Sudah tak sabar untuk pulang dan menceritakan pengalamannya pada sang Ibu.

“nah Yoogeunnie, kita sudah sampai. Ini rumah Ahjumma, kita makan dulu baru nanti Yoogeun ahjumma antar pulang otte.”

“Tapi Yoogeun mau pulang, makan sama umma dan appa saja.” Tolak Yoogeunni.

“Pliss, Yoogeunnie menemani ahjumma makan dulu ya, ahjumma setiap hari Cuma makan sendirian.” Dengan pintar Yoora memasang wajah sedih untuk membujuk Yoogeun, membuat namja tampan itu tak tega dan menuruti permintaan sang Ahjumma. Sejak kecil Yoogeun diajarkan oleh Hyukyung tak boleh membuat orang lain merasa sedih karena dirinya.

“Ne. . kajja ahjumonie. Yoogeunie lapal.” Setuju Yoogeun.

Dengan senyum lebar, Yoora menggendong Yoogeun dan membawanya memasuki rumah. Langsung menuju dapur tanpa tahu bahwa ada seseorang yang tengah duduk di sofa dengan gusar, menantinya.

“Yoora. .” sebuah panggilan membuat Yoora menoleh.

“Eoh Minho.” Kaget Yoora, mendudukkan Yoogeun diatas kursi.

“Apakah itu anakmu?” Tanya Minho seraya mendekat.

“Bukan ahjucci, Yoogeun putera umma Hyukyung dan appa Jonghyun.” Protes Yoogeun tak terima. Mood-nya semakin buruk, wajahnya mulai terlihat bosan lagi. Keinginannya untuk bertemu umma dan appanya semakin besar. Tiba-tiba Yoogeun turun dari kursi dan berlari menuju pintu keluar.

“Yoogeunnie.. mau kemana sayang.”  Kejar Yoora dengan terkejut.

“Yoogeun mau pulang, pulang.” Rajuknya semakin kesal.

“Nanti ya sayang. . tadi Yoogeun sudah janji mau menemani ahjumma makan dulu kan.”

“Shileooo.. Yoogeun mau umma, huhuu…” air mata yoogeun mengalir, namja cerdas itu mulai menangis.

“Uljima. . uljima.” Kembali Yoora berusaha membujuk.

“Umma. . Yoogeun mau umma…” rengek yoogeun. Membuat Yoora menjadi sedikit kesal. Tak terima karena Yoogeun terus-terusan memanggil Hyukyung.

“DIAM YOOGEUN!” Teriak Yoora lepas control.

“Huwaahhh. . Umma, Ahjumma membentak Yoogeuni. .. umma.” Tangisan Yoogeun semakin keras dan mencoba berontak.

“Hyukyung bukan ummamu. . akulah umma-mu, yang melahirkanmu. Bukan dia, tapi aku. Panggil aku umma.” Kesal Yoora semakin menjadi.

“Shileooo… pulang –hiks-, , pulang –hiks-.”

“Yoora. . kau membuat Yoogeun ketakutan.” Tegur Minho, berusaha memeluk tubuh mungil Yoogeun yang mulai bergetar.

“Umma, panggil aku umma Yoogeun, bukan ahjumma.” Tuntut Yoora, tak menghiraukan teguran Minho. Emosinya kian naik, karena Yoogeun malah menjauhinya. Terlihat sangat takut padanya.

“YOOGEUNNIE. . .” tiba-tiba Key dan Hyuna muncul, diikuti Jonghyun juga Hyukyung dibelakangnya.

“Ummaaa…” teriak Yoogeun, melepaskan rengkuhan Minho dengan paksa. Kemudian berlari menuju Hyukyung dan memeluknya sangat erat.

“-Hiks-, umma. Yoogeuni takut. –Hiks-, pelempuan itu membentak yoogeun dan memaksa Yoogeun –hiks-, memanggilnya umma, hiks. Yooegun tidak mau –hiks-, umma Yoogeun Cuma Umma –hiks-.” Adu Yoogeun disertai isak tangis. Membuat Hyukyung ikut merasa sedih, menggendong putranya dan memeluknya protectif.  Kemudian menatap Yoora dengan kecewa.

“Kyungie. . bawa yoogeun ke Mobil.” Perintah Jonghyun, suaranya terdengat penuh tekanan dan emosi. Menatap Yoora dan Minho penuh kebencian. Dengan patuh, Hyukyung membawa Yoogeun menyingkir. Tak ingin melihat apa yang akan terjadi diantara Yoora dan Jonghyun. Karena dia tahu, Jonghyun sangat marah pada Yoora saat ini. Emosinya sudah sampai titik kulminasi tertinggi, terlebih lagi. Sejak tadi Jonghyun sudah gelisah dengan menghilangnya Yoogeun yang memang ternyata di bawa Yoora tanpa izin.

“Aku sudah memperingatimu dengan cara yang baik, dan ini sudah sampai di batasku. Tunggu panggilan dari pengadilan. Dan kita lihat siapa yang  akan menang nanti.” Murka Jonghyun hingga urat lehernya sedikit tertarik. Terlebih, dia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Yoora membentak Yoogeun hingga namja mungil itu ketakutan. Orang tua mana yang terima anaknya diperlakukan seperti itu.

“Baik, aku terima tantanganmu. Dan jangan menyesal jika pada akhirnya Yoogeun akan jadi milikku sepenuhnya.” Balas Yoora tanpa rasa gentar.

“sudahlah hyung! Jangan berlebihan. Sebaiknya kita segera pulang.” Lerai Key sedikit jengah. Melirik pada Minho yang menatap Hyuna dengan instens. Merasa tak nyaman dengan kehadiran pria bermata belo itu. Minho menatap Hyuna begitu lekat seolah ingin memakan yeoja itu hingga habis tak bersisa.

“benar oppa, sebaiknya kita segera kembali. Kasian Yoogeun. Dan untukmu Han Yoora~ssi, cobalah berkaca pada tapak tanganmu. Keluarga besar Kim tak akan membiarkan kau mengusik ketentraman keluarga kami begitu saja.” Hyuna memeluk lengan Jonghyun,  berusaha meredam kemarahan kakak sepupunya. Kemudian menatap Yoora dengan pandangan mengancam, awalnya Hyuna tak peduli dan tak ingin ikut campur. Namun, menyaksikan apa yang Yoora lakukan terhadap Yoogeun membuat kekesalannya pada tunangan mantan kekasihnya itu tak lagi  bisa dibendung.

“Jangan ikut campur, nona Kim” sentak Yoora.

“Yeobo, Kkajja. . kita kembali.” Key menarik bahu Hyuna dengan posesif saat Minho mencoba mendekati istrinya. Kemudian ketiganya berlalu meninggalkan Yoora dan Minho dalam sepi.

“Arghhh. . . “ geram Yoora pada akhirnya.

“kau menggali lubangmu sendiri Han Yoora!” tukas Minho dingin. Sembari berlalu menuju mobilnya dengan pandangan mata yang tak lepas dari mobil Hyundai biru yang membawa keluarga Kim.

***

“Umma. . jangan pergi ne. . yoogeun takut.” Mohon Yoogeun ketika malam telah tiba. Berbaring dalam pelukan sang umma dan memegang baju Hyukyung begitu erat. Hyukung sungguh khawatir. Dampak kejadian di rumah Yoora tadi sore sangat mempengaruhi psikologi Yoogeun. Putra pertama Kim Jonghyun it uterus menangis dan sama sekali tak mau ditinggal Hyukyung barang sedetikpun.

“Gwenchana sayang.. umma disini. Yoogeun tidak perlu takut ne.” Miris, Hyukyung memeluk putranya semakin erat. Tanpa terasa air matanya jatuh berlinang. Meski itu bukan ikatan batin karena aliran darah yang sama, namun Hyukyung dapat merasakan kesedihan yang Yoogeun rasakan.

“Umma. ..hiks.” Akhirnya Yoogeun tidur dalam buaian Hyukyung yang dengan setia mengusap keningnya dengan lembut. Penuh kasih saying.

Kriettt. . .

Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok maskulin seorang Kim Jonghyun. Membawa secangkir coklat hangat yang langsung di taruhnya diatas nakas.

Tidur?” Bisik Jjong pelan, berjalan mendekati anak dan istrinya dengan langkah perlahan.

“sstt…” Tegur Hyukyung menempelkan telunjuk dibibirnya.

Dengan perlahan, Hyukyung bangkit dari tempat tidur dan melepaskan pelukan Yoogeun tanpa membuat gerakan berlebihan. Berhati-hati supaya sang aegy tidak merasa terganggu.

“Hyu. .  Ottokeh?” Rengek Jonghyun. Memeluk tubuh Hyukyung begitu sang anae berada didekatnya.

“Aku takut Hyu. . Yoogeun mengalami Shock yang cukup berat. Aku tak tega melihatnya.” Lanjutnya lagi, Dan semakin mengeratkan pelukannya mencoba mencari kedamaian dalam lembutnya pelukan sang terkasih.

“Gokjongma jjong. . kau sudah tak marah padaku lagi kan?” Tanya Hyukyung sedikit takut.

“Aku  tak pernah marah padamu. . mianhe, kemarin aku benar-benar emosi. Mianhe, karena aku tak bermkasud meragukanmu. . jeongmal Mianhe yeobo!”

“Gumawo Jjong, aku lega mendengarnya, aku benar-benar takut mendengarmu berpikiran seperti itu tentangku. Meskipun Yoogeun bukan putra kandungku, tapi aku sangat mencintainya melebihi diriku sendiri.” Ujar Hyukyung, mencoba meyakinkan Jonghyun bahwa perkataanya kemarin sangat menyakitinya.

“percaya Hyu. . aku percaya padamu. Kau yang terbaik” balas Jonghyun, berusaha membingkai wajah Hyukyung dan mencium keningnya dengan teramat lembut. Seolah Hyukyung adalah sebuah porselen yang mudah pecah. Hingga kemudian ciuman Jonghyun semakin turun dan berakhir manis di bibir Hyukyung. Menyesap bibir cherry itu sangat pelan, berusaha menyalurkan permintaan maaf melalui ketulusan yang dapat Hyukyung rasakan dari pergerakan bibir Jonghyun.

“Baby. . maafkan appa ne. .” Batin Jonghyun saat tangannya mengusap perut Hyukyung tak sengaja.

***

Malam mulai menampakkan dirinya, meski sinar bulan terhalang oleh gemerlap lampu yang menghias kota Seoul. Dan di bawah sorot lampu pertokoan itulah, nampak sejoli tengah berjalan dengan bergandengan tangan. Terlihat begitu mesra, dengan jemari-jemari yang terpaut dalam hangatnya satu sarung tangan merah besar yang sepertinya sengaja didesain agar dua tangan besar bisa muat didalamnya.

“Kim Hyuna. . “ Panggil sang namja, mengalihkan tatapannya pada gadis –oh bukan gadis lagi sepertinya, karena keduanya sudah bersatu dalam sucinya ikrar pernikahan.

“Ehm. .” Sahut Hyuna datar, tak berniat menatap nampyeon. Pandangannya lurus ke depan, terlalu asyik melihat sepasang kakek dan nenek tua yang berjalan bertautan seperti mereka.

“Lihat aku Kim Hyuna!!” Decak Key sedikit kesal, merasa di acuhkan.

“Apa sih Kim Ki—“ Ucapan Hyuna terhenti saat sebuah kecupan mendarat dipipinya.

Chup~

Langsung saja, semburat merah menampakkan diri di kedua pipinya yang putih hingga terlihat sangat kontras.

“YA!!” Decak Hyuna kesal—salah tingkah sebenarnya.

“Itu hukuman karena kau mengacuhkanku sedari tadi, memangnya apa sih yang lebih menarik dari pada wajah tampan nan sexy milik nampyeonmu ini.” Goda Key tiba-tiba.

“Ish… tampan? Hanya dalam mimpimu tuan Kim.” Cela Hyuna.

“Ya!! Bisakah kau sekali saja memuji ketampanan suamimu ini, seluruh wanita di dunia ini sangat mengakui bahwa seorang Kim Kibum ini sangatlah tampan.” Yeah, Key sang tuan muda yang memang memiliki rasa percaya diri kelewat tinggi—mendekati narsis malah, berujar.

“Kecuali istrimu ini tentu saja, aku tak habis pikir dengan orang-orang yang mengatakan bahwa kau itu tampan. Fakta bahwa seorang Cho Kyuhyun Super Junior yang meskipun terkenal evil namun seratus kali lebih tampan darimu, lebih ku percaya. Tuan narsisme!” Tandas Hyuna begitu lugas, mengakibatkan segurat keterkejutan di wajah tampan –yang sejujurnya Hyuna akui CUKUP tampan itu.

“Cho Kyuhyun lagi, Cho Kyuhyun lagi. Ya Tuhan! bagaimana mungkin aku menikahi wanita yang bahkan tidak bisa mengenali kriteria namja tampan.” Desah Key pasrah. Hyuna sendiri hanya terkikik geli melihat tingkah suaminya. Tiba-tiba wanita cantik itu merangkul bahu Key dan tersenyum lembut.

“Setidaknya, wanita bodoh itu tidak terlalu bodoh untuk menolak lamaran seorang Kim Kibum bukan.” Bisik Hyuna tiba-tiba.

“Aku tahu kau cemburu pada Minho sore tadi bukan.” Lanjutnya lagi, yang langsung mendapat tatapan heran dari mata kucing milik sang Suami.

“Bagaimana—ah, yeah! Aku sangat cembu—mwoya. . anniyo, kau salah menduga nyonya Kim.” Key terlihat salah tingkah, hampir mengakui bahwa dia memang cemburu dengan tatapan memuja penuh cinta dari seorang Choi Minho pada istrinya.

Dan kenyataan bahwa mereka pernah berhubungan cukup lama, selalu membuat Key was-was setiap kali Pangeran bermata belo itu berada radius 3 meter dari keberadaan Hyuna. Bahkan, kemarin—tanpa sepengetahuan Hyuna, Minho mengkonfrontasi dirinya atas fakta bahwa dulu Key pernah memiliki perasaan terhadap Hyukyung. Yah, dengan sangat lugas Minho berkata bahwa dia sudah memegang kartu AS yang sewaktu-waktu bisa dia gunakan untuk mengambil Hyuna kembali.

“Kau cemburu Kim Kibum.” Tekan Hyuna sengaja.

“Tidak. .” bantah Key.

“Cemburu. .”

“Tidak. .”

“Cemburu..”

“Tidak.. “

“Tidak cemburu. .”

“Cemburu. .” Key termakan jebakan Hyuna.

“Hahaha.. Lihatlah, kau mengakui sendiri bahwa kau cemburu pada kodok bermata belo itu.” Hyuna tertawa puas bisa mengalahkan Key.

“Terserahmulah. .” Cuek Key pada akhirnya. Entah sejak kapan, seorang almighty Key bisa kehilangan kedigdayaannya dan kalah dengan mudah oleh seorang Kim Hyuna. Dan pada akhirnya, keduanya kembali berjalan bahkan kini saling berangkulan –Hyuna dirangkul paksa oleh Key tepatnya dan kembali berjalan menuju apartement mereka.

***

Daun-daun berguguran, berterbangan terhempas desau angin. Menyisakan ranting-ranting kosong didahan pohon. Akhir musim gugur, dengan awan cerah menggantung. Meski terkadang sedikit menutup perkasanya sang surya. Dan dari dalam ruangan sebuah perkantoran elite di kawasan Gangnam itu, seorang Kim Jonghyun tengah berdiri dalam kebisuan. Matanya menatap jauh kedepan melalui sebuah bingkai jendela. Ditemani kebisuan yang begitu kentara. Bahkan detak jarum jam dinding terdengar memekakkan telinga. Jonghyun memijat kepalanya dengan pelan, sedikit merasa pusing. Teringat lagi pertengkarannya –yang kesekian kalinya dengan seorang Han Yoora. Moment itu berputar lagi dikepalanya selayaknya kaset film.

“Bersiaplah Kim Jonghyun. .” Yoora menatap Jonghyun dengan penuh semangat. Bertemu di pengadilan, karena pada akhirnya pihak Yoora lah yang mengajukan tuntutan dengan tuduhan pemalsuan identitas dan peralihan hak asuh.

“Jangan gegabah Han Yoora-ssi, aku punya kartu As, bukti ini yang akan memenangkanku dalam kasus ini.” jawab Jonghyun pelan namun penuh keyakinan. Melemparkan selembar fotokopi surat keterangan kelahiran Yoogeun.

“Hah sungguh percaya diri sekali Tuan Kim Jonghyun, aku sudah tahu. Lihat saja, justru dengan ini aku bisa saja menjadikannya sebagai bukti untuk menyeret istrimu tercinta itu dengan dakwaan pemalsuan identitas jika hasil DNA benar-benar keluar.” Yoora menyeringai penuh kepuasaan. Menaikkan sudut kacamata hitamnya kemudian berlalu begitu angkuh.

“Shit!!” Maki Jonghyun begitu kesal. Memandang siluet tubuh Yoora penuh kebencian.

***

“Jjong, kumohon jangan teruskan lagi. Ini akan menyiksa Yoogeun. Tidak bisakah kau membiarkan semua seperti ini saja. Walau bagaimanapun, Yoora tetap ibu kandung Yoogeun. Dia punya hak untuk menemui Yoogeun.” Hyukyung menahan langkah Jonghyun yang tengah bersiap untuk menemui pengacaranya. Pria itu tak bergeming sedikitpun mendengar permohonan Hyukyung, tekadnya sudah bulat. Dia harus memenangkan perebutan hak asuh Yoogeun.

“Menyikirlah Hyu. .” Balas Jonghyun dingin.

“Kau benar-benar tak mau lagi mendengarku. Kau egois Kim Jonghyun. Kau dan Yoora sama saja, kalian egois. Tidakkah kau berpikir bahwa Yooegun lah yang menerima dampaknya.” Pasrah Hyukyung, melepaskan tangannya dari lengan Jonghyun yang dia gunakan untuk menahan langkah sang suami.

“Maaf  Hyu. . Untuk kali ini saja!” Bisik Jonghyun, mengecup kepala Hyukyung sekilas sebelum berlalu.

“Aku takut kau akan menyesal Jjong!” Batin Hyukyung.

***

Bugh!! Satu pukulan mendarat telak dipipi Key. Membuat namja itu terhempas menabrak dinding.

“Sial Kau Kim Kibum!” Maki Minho dengan kasar.

“Choi Minhooo. . Apa yang kau lakukan?” pekik Hyuna dengan kaget. Tak menyangka sama sekali bahwa Minho akan memukul Key sekeras itu.

“Hyuna. . Kumohon, percaya padaku. Dia tak mencintaimu. Dia hanya menjadikanmu pelarian. Yang suamimu cintai itu Hyukyung. Kakak iparmu sendiri.”

“Diamlah Choi. . Kau tak berhak mencampuri urusan rumah tangga kami.” terika Hyuna dengan kesal.

“aku tak akan diam. . Sebelum kau mendengarku. Aku hanya tak ingin melihatmu menderita. Cukup aku saja yang membuatmu menangis. Jangan lagi, kau tak pantas mendapatkan kekecewaan lagi.” suara Minho melemah. Memegang bahu Hyuna dengan lembut. Tak bisa dipungkiri, Hyuna masih melihatnya. Rasa cinta dimata belo namja bermarga Choi itu.

“Bugh!”

“Akhh. .” Minho terjerambab, ketika Key membalas pukulannya. Menarik Hyuna menjauh darinya.

“Enyahlah kau. . Tidakkah kau mendengar ucapan Hyuna barusan. Jangan mencampuri privasi kami. Tuan choi yang terhormat.” geram Key begitu marah. Minho bangkit, menatap Key tanpa rasa takut. Kedua namja tampan itu berdiri berhadapan siap saling menyerang.

“Geumanhe. . Kalia berdua sama saja! Aku kecewa pada kalian.” gertak Hyuna, berdiri diantara keduanya dan menatap bergantian cukup lama, lalu. ..

“drap!” dengan langkah cepat, Hyuna berlari meninggalkan Key dan Minho tanpa berbicara lagi.

“Hyuna. . Wae irae?” kejar Key, berhasil menahan lengan Hyuna. Sedikit terhenyak melihat anaenya menangis.

“Jangan menahanku Key, aku butuh sendiri.” sahut Hyuna pelan. Berusaha menusut air matanya yang terus berjatuhan tanpa izinnya.

“Tidak, jangan dengarkan ucapan Minho.” mohon Key, berusaha menggapai tubuh istrinya lebih dekat.

“Kubilang biarkan aku sendiri. Aku butuh berpikir, yah. Tanpa Minho memberitahupun aku sudah mengerti semuanya. Sekarang aku tahu, kenapa kau begitu perhatian pada eonni. Aku tahu semuanya Key.”

“Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Aku bisa jelaskan sayang.” bujuk Key dengan was-was.

“Jebal. Jangan paksa aku Key, aku takut. Jika kau memaksaku, aku malah akan berlari semakin jauh darimu. Biarkan aku berpikir sendiri” pinta Hyuna seraya melepaskan tangan Key yang menahan lengannya.

Terlepas, tautan tangan Key dan Hyuna terlepas. Menyisakan setitik air disudut mata pasangan itu.

“Geppp”

dengan cepat, Key memeluk leher Hyuna. Menciumi rambut panjang milik istrinya.

“Pergilah, jika itu memang yang terbaik. Tapi kau harus berjanji Na-ya, bahwa kau akan kembali padaku. Karena aku yakin dengan perasaanku padamu. Saranghae” ujar Key, kemudian dengan perlahan membalik tubuh Hyuna dan mencium kening istrinya begitu lembaut.

“Saranghae, Jeongmal” bisik Key kembali,

***

Ketika malam semakin kelam, menyembunyikan segala kegundahan. Menyisakan kesedihan, hanya mampu bertumpu dalam kesendirian. Menatap jauh kedepan. Sesekali menghela nafas dengan berat. Berharap bahwa segala keresahannya akan menghilang bersaa udara yang keluar.

“Masuklah Hyu. . Udara malam tak baik untukmu.” suara Key memecah lamunan Hyukyung. Mengulurkan secangkir coklat hangat padanya.

“Oh Key. . Bagaimana keadaan Hyuna? Kau sudah bertemu dengannya?” masih sedikit was-was. Juga merasa bersalah atas masalah yang menimpa 2Kim ini. Hyukyung sangat tahu, bahwa Hyuna cemburu padanya. Well, hanya bisa berharap dengan penjelasannya waktu itu bisa sedikit meluluhkan prasangka buruk Hyuna pada suaminya itu.

“Gwenchana.. Kami sudah baikan. Hanya saja, yah, kau tahu sendiri betapa kerasnya seorang Lee Taemin. Adikmu itu, huh, sungguh mengesalkan saat merajuk seperti sekarang.” hyukyung tertawa kecil mendengar gerutuan Key tentang Taemin.

“Taemin? Waeyo. . Kenapa dengan adikku kecilku itu.”

“Huh, Taemin masih marah padaku. Dia melarang Hyuna untuk kembali bersamaku. Dan tentu saja Hyuna menurut padanya. Sebenarnya yang suami Hyuna itu aku atau Taemin sih.” Key lagi-lagi menggerutu, seperti anak kecil yang mengadukan kekesalannya. Meski jauh dilubuk hatinya, Key merasa sedikit lega. Karena Hyuna mempercayainya.

“Key. . Nanti malam Jinki oppa akan menjemputku. Untuk sementara aku akan tinggal bersamanya.”

“Kenapa tidak tinggal disini saja.” tanya Key dengan bingung.

“dan menambah kesalah pahaman Hyuna. Tidak Key, terima kasih. Lagi pula aku harus membujuk Taemin langsung agar mengijinkan Hyuna kembali padamu. Setidaknya hanya ini yang bisa aku lakukan untuk kalian.” ujar Hyukyung seraya menepuk pundak Key.

“Terima kasih untuk semuanya Key.” bisik Hyukyung.

***

Drap! Drap! Jonghyun berlari dengan tergesa. Menerobos pintu apartement Key tanpa permisi.

“Hyukyung. . Kyungie. . Oddiseyoo.” teriakan Jonghyun mengganggu tidur Key dan Hyuna.

“Jonghyun hyung!” “Jjong oppa!” panggil Key dan Hyuna bersama.

“Key, Hyuna! Dimana Hyukyung.”

Bugh. .

Satu pukulan mendarat di wajah Jonghyun. Membuat namja kekar itu terperangah.

“Ke. . Key!” ujar Jonghyun tak percaya.

“Itu pantas untukmu hyung. . Bukankah dulu aku pernah bilang, bahwa aku akan membunuhmu jika kau menyia-nyiakan Hyukyung.” jelas Key dengan dingin. Hyuna sendiri hanya bisa terdiam. Tak ingin ikut campur, takut dia salah mengambil kesimpulan. Yah, pertengkarannya dengan Key beberapa waktu lalu membuatnya lebih-lebih berhati-hati sekarang.

“MIANHE. .jeongmal. Kau boleh memukulku sepuasnya, tapi bukan sekarang. Biarkan aku bertemu Hyukyung dulu. Yoogeun sangat membutuhkannya. Dia. . Dia kritis. Ku mohon Key!”

“Mwoyaa?? Ada apa dengan Yoogeun. Apa yang terjadi padanya.” pekik Hyuna dengan kaget.

“Jebal, biarkan aku bertemu Hyukyung.” tiba-tiba Jonghyun berlutut dan menangis. Memohon dengan kalut, yang menandakan bahwa keadaan Yoogeun benar-benar dalam posisi bahaya.

“Bangunlah hyung. . Aku percaya padamu, kita harus bergegas. Hyukyung ditempat Jinki hyung sekarang ini.”

.

.

.

.

 

Bersambung. . .

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

8 thoughts on “Undiscloser Desire – Part 10”

  1. Hi aku newbie disini, seneng banget nemu tempat ngumpulnya ff (?) .aku udah baca undiscloser desire dari part 1 dan baru komen disiniii 😀
    Ceritanya nagiiiiihh!! Ditunggu part 11 nya 😉

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s