Can You Be Mine, Noona? – Part VI

Title: Can you be Mine, Noona? Part VI

Main cast: Lee Taemin & Victoria Song (unusual pair, I know ^^)

Other: SHINee members, Jessica Jung, etc.

Genre: drama, angst.

 

 

Chapter VI

Someone so Precious.

-Jinki’s POV

Tidak kusangka aku akan datang ke rumah sakit secepat ini. baru 2 jam aku disini bersama Jessica dan sekarang? Aku sudah kembali untuk kabar yang sama sekali tidak mengenakkan. Saat aku tiba aku disambut oleh Kibum dan Minho sudah sampai duluan. Dan mata Kibum sembab. Aku tidak berani menanyakan apa-apa pada Minho yang masih menenangkannya. Kibum sangat emosional kalau menyangkut Taemin. Mungkin karena dia sangat menginginkan seorang dongsaeng?

Mataku menyusuri koridor. Dimana Victoria noona yang mengirimku pesan? Untung saja tadi handphone ada di tanganku. Jadi setelah berhasil meyakinkan Jessica kalau semuanya baik-baik saja, aku langsung kesini.

Ah. Ketemu.

Victoria noona memilih untuk duduk jauh sekali dari lokasi kami. Matanya terpejam. Apa dia tertidur? Posisinya tidak enak.

“Hyung,” panggilan Minho mengalihkan perhatianku. Kurasa Kibum sudah agak tenang sekarang. Setidaknya dia sudah duduk. Aku memutuskan untuk menghampiri Minho dan Kibum dulu.

“… Gwenchana, Kibummie?” tanyaku sembari berjongkok agar bisa selevel dengannya. Dia mengangguk lemah.

“Taemin baik-baik saja kan, Hyung?” pertanyaan retoris. Aku yakin Kibum sendiri sudah tahu kalau keadaan Taemin jauh dari kata baik-baik saja. Aku tersadar dari diamku saat Minho meremas pundakku. Aku menatap Minho yang memberiku senyum getir. Senyum. Ya, hanya itu yang bisa kuberikan pada Kibum. Kuraih tangannya yang memegang erat lengan baju Minho. Pandangan kami bertemu.

“… tentu saja. Kau tahu kalau Taemin anak yang kuat kan? Dia sedang berjuang di dalam… berdoalah,” Ujarku sambil menyunggingkan seulas senyum. Sebenarnya aku ingin memukul diriku sendiri karena sudah tersenyum di saat-saat genting seperti ini, tapi saat kulihat tepi bibir Kibum agak terangkat meski terpaksa, kupikir tak apalah.

“Hyung! Kibummie! Minho!” Seru Jonghyun yang baru saja datang. Sesaat setelah dia berhenti di depan kami, dia langsung membungkuk. Nafasnya memburu.

“kau lupa ini rumah sakit, Jonghyun-hyung?”

Aku mengabaikan ucapan Minho, “Kau… berlari?”

“haah.. se- haah… -bentar- hah… ha..” Minho menggeser duduknya, memberi ruang untuk Jonghyun duduk. Botol air putih yang kutawarkan langsung disambar.

“Kenapa kau sampai lari? Kau tidak ingat ada elevator?”

Ani! Tadi elevatornya penuh- terus, jadi aku langsung berlari- ke tangga darurat,” Kata jonghyun terputus-putus. Tentu saja. 3 lantai kan?

“… hehe. Pabo.” Suara Kibum akhirnya kembali seperti biasa saat dia bergurau bersama kami. Raut wajah Minho jadi agak melunak.

“YAH! Aku berusaha secepat mungkin kesini, dan itu balasanku?” jawab Jonghyun sedikit berteriak. Namun Kibum yang diteriaki malah tertawa di pundak Minho. Jonghyun pun memukul kepala Kibum pelan. Aku berterima kasih padanya yang sudah mencairkan ketegangan.

“Taemin, hyung?”

“gwenchana, hyung. Dia akan baik-baik saja. Ya kan, Minho-ah?” ucapan Kibum lebih terdengar seperti meyakinkan dirinya sendiri daripada Jonghyun yang bertanya padanya. pandangan kami semua tertuju pada Minho yang mengangguk. Jonghyun hanya diam, tapi tidak lama grins khas miliknya keluar.

“tentu saja. Bodohnya aku bertanya,”

Entah sejak kapan, hubungan kami bisa sedekat ini. mungkinkah karena Taemin? Sejak dia masuk ke kelompok kami, Jjong jadi tambah jahil… Kibum jadi seperti umma, dan Minho… tetap saja jadi Minho. Meski sekarang dia sudah lebih sering tersenyum dan agak protective pada magnae dance group kami… siapa yang tidak terkena brother-complex jika terus bergaul dengan dongsaeng semanis Taemin?

“Hyung?” panggilan Kibum menyadarkanku dari lamunan. “Kenapa kau tersenyum terus? Apa bibirmu tidak bisa kembali?”

“Yah!” aku berteriak kesal.

“Aigooo~ manyun! Sekarang dia manyun!”

“Ya, Kibummie! Aku hyungmu—“

“kalau begitu, tolong lihat Victoria noona, hyung. Dia yang dari tadi menunggui Taemin…” sela Minho. “sampai kami datang,”

“untuk apa Minho-ah? Karena dia juga taemin jadi seperti ini! apa kau lupa?” Kibum menjawab sengit.

“Jangan begitu, Kibummie…”

“Tapi Jjong-hyung! Dia kemarin juga sudah membuat Taemin menangis! Tidakkah kalian benci padanya?!”

“Kibum,” Panggilku saat emosinya jadi semakin tidak terkendali. Minho menatapku minta tolong.

“Apa kau tahu betapa sakitnya Tae—“

“Kim Kibum!” nada suaraku naik tanpa kusengaja. Kibum memandangku dengan kaget.

“… Posisi taemin dan Victoria noona tidak ada yang enak. Taemin sedang sakit dan Victoria noona… kehilangan calon suaminya.” Aku melihat Kibum yang membetulkan posisi duduknya. “Tidak ada yang salah dan yang benar dalam hal ini… Dan kau tahu Key?” suaraku sekarang terdengar lirih bahkan oleh telingaku. “Dia sudah memperlakukan Taemin kita selayaknya seorang namja. Aku yakin Taemin juga tidak mau dikasihani…” aku melepas nafasku yang kutahan, “… harga diri? Setidaknya Victoria noona tidak merendahkan uri Taeminnie dengan mengasihaninya secara berlebihan.”

Jonghyun berjongkok disebelahku.

“Jinki hyung benar. Dia… orang yang patut dihormati.” Jonghyun melirik kea rah Victoria noona. “Dia sudah mau menyempatkan waktunya untuk orang yang… memisahkannya dengan Nickhun-hyung.”

“Dan meski belum lama dia kenal Taemin, aku rasa dia sudah sayang padanya.” Lanjutku. Tentu saja aku mengatakan semua berdasarkan apa yang aku lihat. Victoria noona bahkan mau menemani Taemin seharian disini kan? “Sebentar. Kutarik ucapanku, siapa yang tidak akan terkena bother-complex oleh Taemin?”

“Tidak akan ada yang tahan, hyung. Dia sumbernya sih.” Minho menceletuk.

Kibum masih saja menunduk. Mungkin beberapa kata-kata kami ada yang dia pertimbangkan.

“Sana, hyung.” Hampir saja aku terjungkal karena dorongan Jonghyun jika aku tidak menahan badanku. Aku memberinya death glare yang sepertinya tidak mempan, karena dia malah tertawa.  “Victoria noona sudah terlalu lama sendirian,”

“…kalian tak apa?” tanyaku tidak yakin, apalagi dengan Kibum.

“Ne, ne, ne. umur kami sudah 20an lebih, hyung! Sana!”

Jawaban Jonghyun membuatku berdiri. Setelah melirik mereka untuk yang terakhir, aku beranjak mendekati Victoria noona.

***

Sosoknya yang bersandar pada punggung kursi besi itu terlihat sangat lelah. Rambutnya yang tadi sore masih tergerai sekarang sudah diikat seadanya dengan jepit merah. Nafasnya tenang. Apa dia benar-benar tertidur? Aku jadi merasa tidak enak hati jika membayangkan dia panic sendirian tadi sebelum Kibum dan Minho datang. Bahkan saat menelponku dia sesenggukan. Ah. Sembab. Jadi benar Victoria noona menangis…

Perlahan matanya terbuka. Dia tersenyum tipis ketika melihatku.

“Jinki,” Victoria noona berkali-kali mengusap matanya untuk menghilangkan rasa kantuk. “Apa kau sudah lama? Bagaimana? Apa dokter sudah keluar?”

“Ne. Sungmin-hyung belum memberi kabar,” Aku duduk di sampingnya. “Noona tidak istirahat di rumah saja? Kami sudah disini,”

Victoria noona menggeleng.

“Ani. Aku mau menemani kalian.”

“tapi noona sepertinya lelah sekali,” Kataku berusaha membujuknya.

“…Bukan Taemin yang membuatku lelah, Jinki,”

“Noona?”

“—hidup ini yang membuatku lelah. Tidak hentinya aku dipermainkan seperti ini.” Victoria noona menarik nafas panjang. “Mulai dari Nickhun…” aku menunduk mendengar nama itu disebut lagi. “ dan Qian… aku tidak mau kehilangan lagi. Aku tak akan membuat kesalahan yang sama.” Bibirku seperti terkunci.

Sebentar, ada satu nama baru yang kudengar.

“Qian?”

“ah. Aku belum menceritakannya padamu. Dia dongsaengku,”

“Jinjja? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?”

“kapan kau sempat, aku akan mengajakmu menemuinya,” Victoria noona membetulkan posisi duduknya, “Jika kau mau,”

“tentu saja! Aku mau!” selanya cepat.

“aku… baru sadar kalau kau benar Jinki-ah.”

“Eh?” aku menatap Victoria noona yang tersenyum. Dia menoleh kepadaku.

“Taemin. sifat taemin membuatku ingin melindunginya… apa aku salah, Jinki-ah? Meski Khun pergi karenanya… tapi aku masih ingin bersama kalian menemaninya.”

“noona…”

“apa aku salah?”

aku menggeleng.

“Itulah Taemin. Sekarang Noona tahu kenapa kami begitu dekat dengannya,”

Senyum Victoria noona terkembang. Manisnya… noona neomu yeppeo… ani! Jinki! Ingat Sica!

“Ne. Bolehkah aku menemaninya bersama kalian? Dia sudah kuanggap sebagai dongsaengku,” Ucapan vic-noona membuatku kaget. Dia kebingungan menatapku. Ah!! Pabo! Semoga wajahku tidak merah…

“Cu- cuma Taemin, noona?” jawabku kaku.

“Eh?”

“dongsaengnya noona,” Tanpa kusadari alisku naik sebelah. Victoria noona terkekeh.

“Tentu saja kau juga, Jinki-ah. Sica juga,”

“Yah! Noona! Kau bilang akan diam—“

“ye ye ye.”

Klek.

Pintu kamar taemin yang sudah dibuka. Tak lama Sungmin hyung dan beberapa perawatnya keluar. Kami langsung menghalangi Sungmin hyung pergi.

“Bagaimana?” Kibum bertanya begitu ada kesempatan. Dan aku tahu, kami semua was-was menunggu jawabannya.

“ Kalian sudah menghubungi orang tuanya? Jika memang Nyonya Lee tidak bisa, ada Tuan Lee kan?”

“Hyung. Beritahu kami.” Kibum sudah agak memaksa. tentu saja Sungmin hyung kalah. Tidak ada yang bisa menang dari tatapan dingin dari sang Almighty.

“Aku tidak akan berbohong pada kalian…” Sungmin hyung menarik nafas, “… keadaannya makin… buruk.” Kami semua terdiam. Aku bisa merasakan genggaman tangan Victoria noona di lenganku. Minho menunduk rendah, sampai aku sulit membaca ekspresinya karena wajahnya tertutup oleh poni panjangnya. Mulut Jonghyun masih membuka dan menutup tanpa ada suara yang keluar. Kibum yang termakan emosi menarik kerah jas Sungmin hyung.

“Ja.ngan.ber.can.da.”

“Kibum. Lepaskan hyung—“

“Inilah sebabnya aku enggan mengatakannya pada kalian. Tidak satupun dari kalian yang bisa berpikir jernih,” Kata-kata Sungmin hyung membuat Kibum tersadar dan melepas tangannya. Sungmin hyung membetulkan jasnya.

“Mi- mianhae…”

“…gwenchana, Kibum-ah. Aku sudah biasa,” Senyum Sungmin hyung terlihat sangat memaksa. Karena pada kenyataannya, kami juga tahu, tidak ada yang bisa disenyumi pada saat ini.

“Victoria-ssi?”

Sejenak tubuh Victoria noona langsung tegang saat namanya dipanggil.

“terima kasih sudah memberitahuku dengan cepat. Jadi Taemin… bisa segera diatasi.”

“a… ah. N- ne. a-aku takut sekali tadi…”

“…terima kasih, noona,” Minho dan Jonghyun, juga aku menatap Kibum kaget. Baru tadi dia bilang dia benci dengan Noona…

“a- ani… bukan apa-apa…” Sungmin mengelus kepala Kibum yang pasrah-pasrah saja diperlakukan seperti itu. Benar-benar tidak biasa.

“kalau sudah, kalian boleh melihat Taeminnie. Tapi ingat. Jangan mengganggunya kalau memang dia belum bangun,”

“Ne.” jawabku.

“Aku ada di kantor ya. Tolong bilang ke Keluarga Lee.”

“ne, hyung. Terima kasih.”

Sungmin hyung tidak menjawab kami. Dia terus berjalan sambil melambaikan tangannya.

“aku masuk dulu,”

“ya, Kibum! Tunggu!”

“Jonghyun-hyung, jangan berlari di rumah sakit!” Ujar Minho sambil menyusul hyungdeulnya. Aku melirik Victoria noona.

“…masuk, noona?”

dia terlihat ragu.

“Taemin pasti ingin bertemu noona.”

“… a- ah… Y- ye.”

Dengan langkah berat kami berjalan menuju ruangan Taemin.

Author’s POV

“Taeminnie?” Kibum memanggil Taemin lirih. Namun yang dipanggil tidak menjawab. Kami mengerubungi bed Taemin.

Tidak ada yang sanggup mengatakan apapun saat mereka melihat Taemin yang terbaring lemah. Sebuah jarum IV menancap di punggung tangan kirinya. Dia tidak seperti taemin yang mereka kenal, karena Taemin yang mereka tahu adalah seorang namja yang energetic.

Jinki sedang mengusap keringat di dahi taemin, saat kelopak mata Taemin tiba-tiba terbuka. Taemin menatap Jinki.

“ah. Maaf Taeminnie. Apa aku membangunkanmu?”

“ani… hyung…” jawaban lemah Taemin membuat Kibum hampir menangis, meski sudah ditenangkan oleh Jonghyun dan Minho, yang tidak berhasil. Victoria masih berdiri di belakang Jinki. Dia merasa tidak sanggup jika harus bertatapan dengan Taemin.

“Kibum… hyung- kena… pa?” alis Taemin berkerut. Dia memandang mereka khawatir.

Kibum menyeka air matanya cepat, lalu tersenyum pada Taemin yang menatapnya ragu.

“tidak apa. Ba- bagaimana denganmu?” sepertinya agak sulit bagi taemin untuk berbicara. Berkali-kali dia mengambil nafas terlebih dahulu baru menjawab.

“sakit… ca- pek…”

“…Dimana yang sakit?” Jari telunjuk taemin terangkat sebagian, dan dia mengarahkannya ke kepalanya. Jonghyun mengusap kepala Taemin lembut.

“… Noo… na?”

Victoria memutuskan untuk menjawab panggilan taemin. Sebisa mungkin dia menahan air matanya yang sudah hampir jatuh. Entah apa yang sudah membuatnya hampir menangis. Padahal namja ini yang menabrak Khun—harusnya tidak ada perasaan iba yang menyakitinya seperti ini.

“N- ne, Taemin?”

“Mi…an,”

“u- untuk apa lagi… ? p-pabo.”

“… mian… hae.” Victoria memilih untuk menggigit bibir bawahnya untuk menghentikannya berkata lebih banyak. Agar dia tidak menyakiti Taemin lebih dari ini.

Taemin mengulurkan tangannya pada Victoria. Jinki mengerti maksud Taemin. Dengan sebuah senyum, Jinki mendorong Victoria pelan untuk membuatnya mendekati Taemin.

“noo… na?” tangan Taemin terangkat lebih tinggi. Victoria akhirnya paham. Diraihnya tangan namja itu. Tangannya dingin. Victoria mengeratkan genggamannya.

“… Ta- taemin?” ujarnya sesenggukan, dia sudah tak sanggup untuk menutupi rasa sedihnya lagi.

“jangan… pergi…” semua orang di ruangan itu terkejut, tak terkecuali Victoria. Permintaan Taemin sama sekali tidak diduga.

“N-ne… Ne. Noona akan disini. Sekarang, tidurlah dulu. A- arasso?”

Lagi-lagi Taemin tidak menjawab. Dia menutup matanya pelan-pelan. Semuanya diam sampai mendengar bunyi nafas taemin yang teratur.

“Kibum, Minho, dan Jonghyun, pulang sana. Istirahatlah di rumah. Datang besok pagi saja. Biar aku dan Noona yang menjaga Taemin,”

“Ani—aku, hyung—“

“terutama kau, Kibum. Aku tidak mau ada yang jatuh sakit lagi,”

Kibum menunduk.

“kau juga minho, dan kau Jonghyun. Aku tahu kalian lelah,”

“Hyung, kamu juga—“

“besok aku libur seharian, jadi tak masalah,”

Tidak ada yang bisa melawan Jinki kalau sudah tegas begini. Minho memapah Kibum keluar ruangan, yang diikuti oleh Jonghyun.

“Kabari kami kalau ada apa-apa, hyung,”

“Tentu saja, Jjong-ah…” suara Jinki kembali lembut. “kalian berhak tahu,”

Jonghyun tersenyum tipis pada Jinki, dan berbalik pergi meninggalkan ruangan itu. Jinki mengambil selimut cadangan di rak samping bed taemin, kemudian memakaikannya pada Victoria.

“Gomawo, Jinki-ah,”

“Ne.” ujarnya sembari menarik satu kursi lagi untuknya.

“Kau tidak pulang juga? Apa Jessica tidak apa-apa?”

Jinki menggeleng.

“gwenchana. Dia pasti mengerti,”

“…ne,” Victoria membenahi selimut Taemin.

“noona… boleh aku minta tolong lagi?”

Gerakan Victoria terhenti.

“Tolong… jaga Taemin bersama kami,” Jinki tahu dia sudah membuat Victoria bingung dengan permintaannya. “aku tahu bagaimanapun taemin adalah…”

“—ne, Jinki-ah. Jangan diteruskan.”

“Mianhae,”

Untuk mengambil nafas pada saat-saat seperti ini pun rasanya berat, setidaknya itulah yang dirasakan Victoria.

“… aku tidak mau membuat kesalahan lagi, Jinki-ah.” Kata Victoria akhirnya. Sekali lagi dia menarik nafas dalam. “aku akan menjaganya, sekaligus untuk menebus dosaku karena sudah sempat membencinya,”

Jinki terdiam. Sebenarnya bukan itu yang ingin didengar Jinki. Tapi untuk sekarang, asal Taemin bahagia, Jinki akan menerimanya.

TBC

@>== .::. ==<@

Bonus Part

This is our Happy Life.

(3 hari sebelum pertandingan dance)

Five, Six, Seven, Eight! Turn, turn, turn, Jump!” Kibum menepuk tangannya memberi irama. Formasi mereka sudah cukup mengalami kemajuan, tentu saja jika kecerobohan Jinki diabaikan. Seluruh gerakan dance mereka terlihat powerful. Masing-masing masih berusaha dengan keras mengikuti aba-aba sang Almighty dan mencoba berbaur dengan music. “… 4 hitungan sebelum pelvic thrust! Konsentrasi! Five, Six, seven, Eigh—“

Bruk.

Ah. Ada yang jatuh. Pasti Jinki. Dengan posisi apa sekarang?

“Hyung… gwenchana?” Taemin khawatir. Fokusnya sudah bukan pada tariannya lagi.

“Ya… Hyung… sekali lagi deh… ayola—“

Bruk. Jinki terkapar.

“Hyung!” formasi hancur seketika. Taemin dan Kibum yang panic berlomba mengguncang tubuh Jinki kalap. Musik sudah dimatikan, terima kasih untuk Minho.

“Hyuuung! Hyung! Jangan mati!” sang Diva berteriak melebih-lebihkan. Jinki masih belum bergerak.  Kibum semakin ketakutan. Tipikal umma. “Jjongie~ telepon ambulance!” Jonghyun dengan santai merogoh saku celana baggy-nya, mengambil handphone, dan memencet nomor yang banyaaaak sekali.

“Gimana ini, hyung?” Jika saja bukan keadaan darurat begini, Kibum yang ditatap Taemin dengan imutnya itu pasti akan mengelus-elus pipi Taemin. Tapi kalau sedang begini, rasanya ingin membuang taemin ke pantai selatan.

“…Mungkin Jinki-hyung hanya capek, Kibummie.” Minho angkat bicara sembari duduk disamping mereka yang mengelilingi Jinki.

“—Halo? Ahjusshi… Sedang ramaikah? Ahahaha. Tidak kok. Oh? Bisa mengirim sekotak ayam goreng?” Kibum melempar death glare pada Jonghyun yang malah menelpon penjual ayam.

“YAH! KIM JONGHYUN! Kenapa kau malah memesan ayam—!“

“…ayam?”

Siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing. Sunyi.

“kau bilang ayam… Kibum?” Tanya Jinki dengan polosnya seperti bayi. Kibum tidak menjawab. Dan Taemin sudah seperti patung di monument pahlawan, dengan mulutnya yang terbuka membentuk huruf ‘o’.

“Ah. Ne, Ahjusshi. Yang biasanya saja. Cepat ya! … hehe. Sungguh bukan begitu. Aish… Salam untuk Se Kyung ya! Kamsahamnida!”

 Klep. Handphone model flip milik Jonghyun sudah ditutup. Dia menghampiri teman-temannya yang masih mematung di tempat.

“Ah. Akhirnya sadar juga hyung.”  Jonghyun ikut duduk disamping Jinki. “Ayam?” tawarnya.

“Gomawo Jjongie~” Badan yang kurang tinggi si suara bagus di grup mereka langsung ditarik ke pelukan Jinki, sementara yang di peluk hanya cengengesan layaknya seorang gadis yang dilamar oleh pangeran idamannya.

Aura Kibum menjadi suram. Minho bisa melihat awan hitam di sekitar Kibum raut wajah temannya yang berubah seram. Dengan malas ditariknya lengan taemin menjauh dari mereka.

“Minho-Hyung?” Taemin berkedip-kedip kebingungan. Minho menggerakkan kepalanya untuk menunjuk kea rah hyungdeul-nya.

“kenapa?”

“… aku tidak mau kau cedera, mental dan fisik, sebelum pertandingan kita mulai,”

“…Oh.” Dengan masih digandeng Minho, Taemin berjalan bersamanya ke pojok ruang latihan. Disitulah semua peralatan mereka diletakkan. Mulai dari CDs, Baju ganti, snack… dan tentu saja, komik-komik mereka.

“Lee. Jinki. Kau. Tak. Apa?” suara dalam Kibum keluar. Badan Jonghyun dan Jinki kaku. Taemin menarik buku komik yang disusun paling bawah.

“hati-hati, Taemin. Nanti rubuh,”

“ah, ne, Minho-hyung,”  Taemin tersenyum manis sekali.

Krak. Krak! Kibum melemaskan sendi jari-jari tangannya. Dengan ketakutan Jinki menengok kearah sang umma. Jonghyun masih bertahan, meski Jinki bisa merasakan keringat dingin yang terbentuk di badan Jonghyun.

Kau. Ber. Canda?” sarkasme jelas sekali terdengar dari kata-kata Kibum yang menetes keluar bagai bisa bagi Jinki dan Jonghyun.

“Mi- mianhae, Kibum—“

“Aku bisa mengambilnya, Minho-hyung!”

“jadi kau membohongiku,“

“Kau pintar, Taemin.”

“Tu- tunggu, Kibum, aku capek sekali tadi—“

“kau pikir aku tidak capek?“

Ting tong.

Ah. Pasti paman penjual ayam goreng. Nanti nama paman itu pasti diukir si Jjong di taman pahlawan, karena dia adalah penyelamat hidup seorang Kim Jonghyun.

Tanpa basa basi Jonghyun melempar mendorong Jinki kea rah Kibum dan berlari ke pintu.

“Kim Jonghyun- jangan tinggalkan ak—“ Hup. Tidak bisa bergerak. Hoodie Jinki sudah berada dalam genggaman jemari namja yang keibuan itu.

“Mau kemana, hyung?” api berkobar di mata Kibum yang membuat Jinki kehilangan akal sehat.

“GYAAAA!! MONSTER!”

“YAH! Hyung!!”

Plakk!

“Maafkan aku, Kibummie!”

Duak!

“Jangan mempermainkan aku, Lee Jinki!”

Buk!

“Aku menyesaaal!”

“Kau bercanda—“

“aaah. Diam, brengsek!” suara Taemin membungkam mulut Kibum dan Jinki yang melongo. Gerakan mereka terhenti. Mulut mereka berdua menganga seperti ikan. Taemin yang tiba-tiba merasa menjadi pusat perhatian menoleh.

“eer… kenapa hyung?” tanyanya innocent, kalau tidak mau disebut jijik melihat muka idiot hyungnya.

“Nih, Jinki hyung. Ayamny—“

“Jjongie!!” Kibum berlari meninggalkan Jinki yang sudah seperti patung, menubruk Jonghyun yang menggenggam plastic isi ayam. Matanya membelalak membuat Jonghyun kaget. “Yeobo, anak kita yeobo! Uri Taeminnie—“

“anak? Kapan aku pernah menghamilimu? Maksudmu Taemin? Kenapa dengan Taemin?” Jonghyun bertanya balik. Dia mencoba tenang. Jonghyun paling bingung kalau Kibum sudah main peluk. Walaupun sudah sering begini… tetap saja permainan suami-istri Kibum sulit untuk masuk ke akal. Dan sekarang… mereka sudah mempunyai anak? Ironis. Sungguh permainan keluarga yang sesat.

“Dia—dia! Dia barusan mengatakan hal-hal yang tidak pernah kuajarkan— kau tahu aku umma yang baik kan??!“

“… apa sih?” Jonghyun tambah bingung. Taemin dengan naïf-nya, masih sibuk membaca komik, Minho asyik minum air, dan Jinki yang melongo… menyedihkan. Entah siapa yang bisa dimintai tolong.

“dia— barusan! Oh Tuhan. Aku tak sanggup lagi, Jjongie!” Oke. Author mulai berlebihan.

“Apa sih Taem?”

“apanya, hyung?”

“Yah! Taemin-ah! Panggil appa-mu dengan sopan!”

“… appa?” alis Taemin terangkat.

“maksudmu aku, Kibum?” dahi Jonghyun sudah berkerut-kerut kebanyakan berpikir.

“Itu ayamnya hyung? Minho aku sudah lapar.” Lanjut Minho dengan santai dan meraih kantong ayam yang di pegang Jonghyun. Jinki langsung menghampiri ayam Minho.

“kau barusan bilang apa Taemin?” Jonghyun menarik-narik Kibum yang masih menempel di badannya mendekati sang magnae.

“Apa sih? Barusan aku cuma baca komik, hyung.”

“dia appamu Taemin—“ sela Kibum.

“… kau yakin?” Jonghyun bertanya tanpa mengabaikan pernyataan Kibum.

“100%.” Angguk Taemin mantap.

“Bohong! Jangan bohong kepada umma, Taemin! Umma tidak pernah mengajarkanmu—”

“Apa sih Kibum hyung…” Taemin ikutan bingung sekarang. Bibirnya manyun, yang artinya Taemin sudah mulai sebal.

“Ah. Mungkinkah yang barusan… diam dan brengsek itu, hyung?” Minho menjawab dengan mulut penuh ayam. Jinki? Tidak perlu dibahas.

Badan Kibum tegang mendengarnya.

“…Oh. Kata-kata itu ada di komik Searching for One Piece kan Taemin?” (A/N: plesetan mangan One Piece. Manga dengan genre action adventure. Bukan komik ecchi/hentai lo yaaa~ awas! XD)

Taemin berkedip. Sekali. Dua kali.

“Ah!” dia menepuk tangannya. “Iya. Tadi aku bertanya pada Minho hyung artinya, ‘shut up, bastard.’

“yap. Komik yang itu ceritanya bagus. Aku merekomendasikannya kepadamu, Taem.”

“Jinjja??”

Kibum melepas pelukannya dari Jonghyun. Sekarang tatapan mautnya mengarah si Dino puppy. Taemin terlupakan. Minho dan Jinki segera mengevakuasi Taemin yang masih berbinar-binar dengan saran Jonghyun dan ayam goreng mereka ke tempat yang lebih aman. Ruang sebelah.

“Jadi kau menyimpan barang-barang sampah seperti itu, yeobo?” Tanya kibum pada Jonghyun. Dingin.

“… a- apa maksudmu sampah Kibummie?” Jonghyun menjawab dengan sedikit gemetaran.

“kau sudah tahu anakku tidak boleh berkata jelek kan? Kasar? Jorok? Apalagi mengumpat?”

Krak. Krak. Bingo. Masih bisa bunyi.

“… Tu- tunggu. Kibummie! A-aku bisa—GYAAA!!”

Bak, Buk. Plak!

“pasti sakit deh.”

“Jinki hyung, jangan ngomong dengan mulut penuh.”

“pipimu tidak sakit hyung? Merah banged loh.”

“Ayam goreng adalah obatku yang paling manjur, taeminnie,”

STOP!! KIBUM!”

“kalau Jjong-hyung pamanku, lalu siapa peranmu, Jinki-hyung?”

“kata Kibum: Jinki-hyung=appa, Jjongie hyung=selingkuhan umma, dan aku adalah BFF-mu,”

“ah,”

“ayam memang enak—“

“makannya pelan-pelan, Jinki-hyung,”

“Minho hyung, aku mau saus cabenya,”

“NOOOOOOO!!”

BUK!

“—nih, taemin,”

“Gomawo, hyung,”

-END

Author’s Note: yak. Tamat sudah akhirnya FF ini. menggantung seperti ini XDDD –> kaburr. Tapi ntar dulu ah, saya masih suka menyiksa taeminnie. *ditusuk lidi* Maaf bagi yang ngerasa alur cerita saya lambat. Terima kasih sekali untuk yang sudah menyuruh saya untuk melanjutkan FF ini *emangnya ada??! Dx* XDD semoga FFnya bisa dimengerti. Oh ya. Ada sisipan Bonus Part di bawah. Itu cerita gaje lepas sebelum dance Contest-part. ^^ reviewnya ya! Terima kasih!

P.S: saya bikin poster untuk FF aneh ini~ ehehe. Aneh kaaaaan~ kamu benar, saya kurang kerjaan >w<  satu lagi~ ada yang punya account twitter?? Saya tidak mau ketinggalan info, jadi siapa yang mau berbagi sama saya?? ^^

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


Advertisements

18 thoughts on “Can You Be Mine, Noona? – Part VI”

  1. Mee, aku komen lagii disini *plakkk
    ayo lanjut part selanjutnya *plakk again, pdhl udh tau lanjutan.a* wkwk
    fighting mee
    maap nyepam..^^

  2. ahahahaha… atasnya ngak enak sedih … bawahnya .. bener2 ngakak !! ahahahahah
    hyaaa menghapus 75% kesedihan ku karena crita ini !!!
    daebbak!! kok lama publishnya sih ???

  3. CHINGGU!!!!!!!!!!!!!
    lAMA AMAT PUBLISH NYA ?!?!?!?!?
    NEXT PART JO LAMA2 YO…
    ANU SEKALIAN MAU NANYA,MAIN CAST NA TUW TAEMIN PA JINKI SIH?!?!?!!?KOK BANYAK JINKINYA?!?!?!*bingung berat garuk2 pala….

    1. ehm, aku ngewakilin Mee *authornya* bwt jawab pertanyaan kamu ya! hmm soal lama publishnya, aku gak tahu menahu. soalnya setahu aku, Mee udah kirim part ini dari jauh2 hari, kayaknya ngantri giliran posting yg bejibun deh ^^. err main cast? Taemin laa, cuma Jinki disini ambil peran yang cukup penting juga dia punya side story tersendiri di FF ini. kalo mau baca part lanjutannya kunjungi aja blog pribadi Mee/authornya
      http://mochacreamy.wordpress.com/
      semoga membantu ^^
      MEE, maaf aku yg nge-replay-nya…*haha gatel sih*

  4. Lanjuutnya jgan lama2 dong thor..
    Menjamur kami menunggu..
    He..he..
    Penasaran jalan ceritanya asiiik..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s