Dear Friend

Dear Friend

poster-dear-friend

Author             : Rineedazzling (@Likesilvergirl)

Title                 : ‘Dear Friend’

Main Cast        :

§  Lee Taemin SHINee aka Lee Taemin

§  Kim Yora (OC)

Support Cast   :

§  Choi Jinri (Sulli) f(x) aka Sulli

§  Kim Kibum (Key) SHINee aka Key

Genre              : Sad(maybe?), Friendship, Romance

Rating             : T

Type                : Alternative Universe (AU)

Length             : One Shoot

Summary         : “Jangan pergi tanpa memberitahu padaku, arachi?”

A.N.                : Annyeonghaseyo~ Ini ff pertama saya yang saya publish disini, jadi selamat membaca~ Mohon maaf jika ada kesalahan dalam ff gaje ini. Kritik dan saran sangat diperlukan. Poster Belong to Café Poster.

Seorang gadis yang mengurai rambut hitam sebahunya itu tersenyum saat melirik isi dari kantong plastik yang ia bawa. Ia menganyunkan kantong plastik yang dibawanya dengan pelan, tak lupa ia menyenandungkan lagu First Love yang menjadi lagu kesukaannya.

Gadis itu membuka pagar besi berwarna hitam sepinggangnya yang mengelilingi sebuah rumah bertingkat dua yang ada di hadapannya kini. Ia menekan bel rumah itu tanpa menghilangkan sedikit senyumnya.

“Cangkamannyeo!”itulah balasan dari sang penghuni rumah begitu mendengar suara bel yang ditekan gadis itu. “Eoh? Yora-ya?”

“Annyeonghaseyo~”gadis bernama Yora itu menundukkan badannya kearah seorang wanita yang kira-kira berusia sekitar 40 tahun yang ada di hadapannya kini. “Aigo~ Sudah lama kau tak datang, ada apa?”

“Apa Taeminnya ada?”tanya Yora sambil menyunggingkan senyumnya. “Ah~ Taeminie? Dia baru saja pergi, katanya ada kegiatan di sekolahnya”guratan kecewa masih nampak terlihat walaupun Yora sudah mencoba untuk tersenyum. “Guraeyo? Kalau begitu aku pamit pulang Ahjumma”

“Eh? Tidak mampir dulu? Ahjumma sedang membuat biskuit, memangnya tidak mau menunggu Taemin sampai pulang?”Yora terlihat berfikir tentang tawaran wanita baik hati itu.

“Ayolah, Ahjumma juga sudah sangat merindukanmu. Ayo mampir, kita bisa mengobrol sambil mencicipi biskuit dan teh hangat buatan Ahjumma”akhirnya Yora menyerah dan menerima ajakan wanita yang terlalu baik hati dengan semua orang terlebih orang terdekatnya.

Yora masuk kedalam rumah itu, ternyata rumah itu tak berbeda dengan terakhir ia berkunjung. Yora memandangi sebuah bingkai foto yang menunjukkan wajah seorang pria berambut hitam yang menyunggingkan senyumnya dan membuat Yora ingin sekali mencubit kedua pipi pria itu.

Setelah puas memandangi setiap inci dari ruangan itu, ia memutuskan untuk beranjak ke ruangan dimana wanita baik hati itu berada. Wanita itu berada di dapur, ia sedang mengaduk teh dengan sendok yang membuat suara dentingan dari sendok dan dinding gelas yang bergesekkan. “Aigo~ bukankah sudah kukatakan untuk duduk dengan manis?”

Yora hanya tersenyum simpul dan melangkah kearah meja dapur dan mengikuti wanita itu yang sudah lebih dulu duduk di meja makan yang berada di tengah dapur. “Jadi, bagaimana dengan sekolahmu?”tanya wanita itu sambil mencicipi sekeping biskuit buatannya. “Aku mendapat peringkat ketiga umum saat kenaikan kelas kemarin Ahjumma”

“Aigo~ Sekarang kau sudah rajin belajar ya? Tapi untunglah Taemin masuk sepuluh besar di kelasnya. Tak perlu peringkat tiga sepertimu, hanya dengan lulus tanpa nilai merah itu sudah membuat Ahjumma bahagia”Yora tersenyum mendengar perkataan wanita ini, ia memang menyukai wanita ini sejak dulu.

Yora kembali melirik jam tangan baby blue yang melingkar di lengannya, jarum pendek sudah menunjukkan pukul enam sore. Dan itu berarti sudah sekitar dua jam Yora mengobrol dengan wanita itu, tapi sampai sekarang sosok yang ia tunggu pun belum kelihatan batang hidungnya. Pukul enam… Seharusnya dia sudah datang.

“Chogiyo, Ahjumma… Aku harus pulang sekarang”akhirnya setelah menimbang-nimbang Yora memilih untuk kembali pulang. Wanita itu memasang wajah murungnya ketika Yora meminta izin untuk pamit.

“Tidak mau menunggu Taemin lagi? Mungkin ia akan datang sebentar lagi”Yora segera tersenyum dan menolak tawaran Ahjumma itu dengan baik-baik.

“Mungkin Taemin benar-benar sibuk, jika aku bertemu dengannya ia tidak bisa beristirahat. Jadi lebih baik aku pulang, agar Taemin bisa langsung beristirahat. Oh! Ahjumma, bisakah berikan ini pada Taemin?”Ahjumma itu mengangguk dan menerima kantong plastik yang masih belum diketahui apa isi dari kantong plastik tersebut.

*******

“Aku pulang”pria itu segera membuka sepatunya dan meletakkannya di sebuah rak pendek yang ada disamping kirinya. Hanya dari pintu masuk ia sudah dapat mencium aroma sup yang membuat perutnya memaksanya agar segera menyantap makan malam yang sudah dibuatkan Ibunya.

“Taeminie? Kau sudah pulang? Segeralah mandi lalu makan malam, arachi?”ujar Ibunya begitu mengetahui anak bungsunya sudah pulang dari kegiatan di sekolahnya. “Araseo Eomma”

Pria bernama Taemin itu melahap makan malam yang disiapkan oleh Ibunya, Ibunya yang pandai memasak itu benar-benar memanjakan seluruh anggota keluarganya dengan masakannya. “Taeminie?”panggil Ibunya yang kini sedang berkutat dengan perlengkapan makan yang kotor dan sabun untuk membersihkan perlengkapan makan itu.

“Hm? Waeyo Eomma?”sahut Taemin, “Tadi Yora mampir ke rumah untuk bertemu denganmu, tapi kau terlalu sibuk di sekolah hingga akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Sepertinya ia merindukanmu, cobalah untuk memberinya kabar Taeminie”

“Taemin?”panggil Ibu Taemin sebelum pria itu melangkah pergi ke kamarnya. “Yora membawa sesuatu untukmu, Eomma menaruhnya di dalam kulkas”akhirnya Taemin mencoba untuk melihat apa yang dibawa Yora untuknya.

Taemin menatapi botol-botol banana milk yang memenuhi kantong plastik itu, sebuah senyum kecil muncul ketika menatap barang-barang yang ia sukai itu. Ia membawa kantong plastic yang penuh dengan banana milk itu ke dalam kamarnya, ia memandang beberapa panggilan dan pesan yang masuk tanpa ia ketahui. Dan semua itu dari orang yang sama.

From : Yora

Apa yang kau lakukan?

From : Yora

Kenapa kau tak menjawab pesanku Taeminie?

From :Yora

Bogoshipoo~

From : Yora

Apa kau sudah pulang?

From : Yora

Ya! Memangnya kegiatan apa yang membuatmu harus pulang telat seperti ini?

Taemin memilih untuk tak membaca pesan lainnya dari Yora, itu malah akan membuatnya semakin merasa bersalah. Ia segera menelfon Yora untuk membalas semua pesan dan panggilan yang tak sempat Taemin balas atau ia terima sebelumnya.

“Yeoboseyo?”

#Taemin-ah!#suara riang itu kembali terdengar setelah akhirnya Taemin tak mendengarnya untuk beberapa hari terakhir.

“Yora-ya, mianhae. Tadi battry ponselku habis dan tak sempat membalas semua panggilan dan pesanmu. Dan terimakasih untuk banana milknya”ujar Taemin agak canggung.

#Ehehe, tapi intinya kau suka kan?#

“Ne, gumawo”

#Seharusnya aku memberi kejutan untukmu hari ini, tapi karena kau sepertinya sibuk dengan kegiatanmu…#

“Mianhae. Sekolahku memang sering sekali mengadakan acara dan event, dan kebetulan aku dalam kelompok panitianya. Jadi, seperti itulah”

#Gurae? Hm, Taemin-ah! Mungkin kapan-kapan kita bisa hang out sama-sama?#

“Hm…Tentu saja. Yora? Maaf aku harus menutup panggilanmu, ada panggilan masuk. Besok akan kukabari lagi”

Taemin menghempaskan tubuhnya di kasur empuk miliknya, tidak tak ada panggilan masuk sama sekali, Taemin bahkan hanya meletakkan ponselnya di sampingnya. Taemin sedikit merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan kepada Yora. Menjauh dan bersembunyi adalah hal yang paling pengecut yang Taemin tahu, terlebih ia melakukannya untuk sahabat kecilnya.

******

Dengan santainya Taemin melangkah meninggalkan rumahnya, kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celananya. Menatap kearah depan, langkahnya berhenti ketika melihat sosok gadis berambut hitam berkuncir kuda tengah berdiri di depan halte bus. Tidak, nampaknya gadis itu tidak menunggu bus menuju sekolahnya, gadis itu menunggu seseorang, dan seseorang itu dia.

“Taemin-ah!”gadis itu melambaikan tangannya kearahnya. Tidak, kau tidak boleh mengindar pada Yora, tidak saat ini. Akhirnya Taemin melangkah mendekati Yora yang menunggunya di halte bus. “Annyeong Yora-ya”

“Akhirnya aku bisa bertemu denganmu! Kau tahu? Aku benar-benar merindukanmu Taemin-ah!”ucap Yora, “Naddo, Yora-ya”

Yora menatap kedua mata Taemin, Taemin memang sedang tersenyum kearahnya sekarang. Tapi ia benar-benar tahu jika senyum bukan sebuah senyum tulus yang Taemin selalu tunjukkan untuknya. Dan akhirnya senyum itu membuatnya sadar, sadar akan semua yang ia lakukan.

“Hey, busnya sudah datang”ucap Taemin dan segera melangkah memasuki bus, tapi langkahnya terhenti begitu melihat Yora yang masih terpaku ditempatnya. “Yora-ya, Kau tidak naik?”

Gadis itu tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya dengan lemah menanggapi pertanyaan Taemin. “Masuklah, sepertinya Ahjussi itu mulai kesal denganmu”Taemin dengan ragu melangkah masuk dan duduk di salah satu bangku yang kosong.

Taemin menatap Yora yang kini melambaikan tangannya kearahnya dan tak lupa tersenyum sebelum bus mulai melaju meninggalkan halte. Taemin masih memikirkan apa yang akan dilakukan Yora kali ini, ia sudah mencoba untuk tidak ikut mencampuri urusan orang lain. Tapi Yora bukan orang itu, Yora adalah sahabatnya yang ia sayangi.

******

Taemin melirik jam tangan hitam yang melingkar di tangannya, ia membalikkan badannya dan menatap seorang gadis yang berjalan diantara para siswa-siswa lainnya. Taemin segera melesat pergi begitu dirinya mengetahui alasan Yora tidak naik bus tadi pagi sekaligus pulang lebih telat dari sebelumnya. Gadis itu melihat Taemin yang menunggu di depan gerbang, gadis itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika dia menemukan pria di tempat ini.

Gadis itu melangkah menghampiri Taemin, “Taemin-ah, apa yang kau lakukan disini?”. “Menunggumu, waeyo? Bukankah kau mengatakan kau merindukanku?”gadis itu tersenyum mendengar semua yang dikatakan Taemin, ingin sekali ia memeluk pria itu, tapi ia mengurungkan niatnya itu.

“Taemin-ah?”panggilnya menatap kedua kakinya yang melangkah beriringan dengan langkah pria disampingnya. “Hm?”

“Aku ingin… Apapun yang terjadi di antara kita… Apapun yang telah aku katakan padamu… Aku ingin kita selalu seperti ini. Aku tak ingin kita akhirnya sibuk dengan kegiatan masing-masing sampai kita melupakan satu sama lain, sampai akhirnya kita tak menegur satu sama lain saat berpapasan. Aku bahkan tak bisa membayangkannya, itu terlalu menakutkan”Taemin menoleh menatap wajah murung itu, wajah yang sejak lama berada disampingnya.

“Yora-ya? Untuk apa kau mengikuti semua itu?”gadis itu terlihat tersenyum dalam wajah penuh kesedihannya. “Aku ingin mencoba, aku ingin melihat kemampuan diriku jika aku berada di tempat yang jauh. Tempat yang sangat jauh dari orang yang kucintai”

*******

Taemin memilih untuk duduk termenung dibandingkan untuk melakukan gladiresik bersama teman-temannya. Akhir-akhir ini pikirannya memang agak kacau karena masalah dirinya dengan Yora.

“Taemin-ah, kau tidak latihan?”tanya seorang temannya yang baru saja selesai melakukan gladiresik. “Tidak, lagipula aku sudah hafal semuanya. Dan aku juga sedikit lelah, biarkan aku istirahat sebentar”

“Baiklah, kurasa memang itu yang kau butuhkan. Oh, Taemin?”pria itu kembali menepuk bahunya begitu ia mengingat sesuatu hal. “Kurasa Sulli sudah menunggu pernyataanmu”Taemin terhenyak mendengarnya, “Eh? Apa maksudmu?”.

“Jangan pura-pura tidak tahu Taemin-ah. Semua siswa di sekolah sudah tahu kalau kau itu menyukai Sulli, dan bukankah kau mengatakan akan menyatakan perasaanmu pada Sulli saat festival sekolah?”Taemin mencoba mengingat semuanya, bagaimana bisa seluruh siswa tahu tentang perasaannya pada Sulli?

“Ya! Lee Taemin! Akhir-akhir ini kau sering melamun ya?”akhirnya pria itu pergi meninggalkan Taemin yang sedang sibuk di pikirannya sendiri. Taemin merutuki dirinya sendiri, seharusnya kini ia sedang bersiap untuk festival sekolah, bukan memikirkan hal tidak penting lainnya.

Taemin lagi-lagi melamun dan menatap foto dirinya bersama sahabatnya yang mereka ambil beberapa tahun yang lalu. Mungkin itu adalah saat-saat yang sangat bahagia, tidak seperti sekarang. Apakah kini Tuhan tengah mencoba persahabatan mereka?

Taemin merasa benar-benar bersalah dengan perlakuannya pada Yora yang terbilang jauh berbeda dari sebelumnya. Dan melihat wajah Yora yang murung membuatnya merasa bersalah. Sejujurnya ia bingung harus bagaimana pada Yora sekarang.

#Maaf nomor yang anda tuju sedang sibuk atau diluar jangkauan, mohon telfon beberapa saat lagi atau rekam pesan suara anda setelah bunyi –biip-#

“Ya! Sejak kapan kau menggunakan penerima pesan, eoh?”Taemin kemudian segera menekan tombol reject dan meletakkan ponselnya diatas meja belajarnya. Taemin memandang sebuah bingkai foto yang menunjukkan foto dirinya dan Yora yang diambil full face, ia masih ingat bagaimana dekatnya mereka saat itu dan kini semua sudah berbeda.

Sebenarnya siapa yang melakukan kesalahan di sini? Kenapa malah Taeminlah yang justru merasa bersalah pada Yora?

Taemin mengacak rambut dengan frustasi membuat rambutnya yang tertata rapi itu menjadi tak berbentuk. Merasa kini kepalanya mungkin akan segera meledak, ia memutuskan untuk segera tidur dan membiarkan dirinya tertidur sehingga tak merasakan sakit itu.

*****

“Biar ku bantu”ujar Taemin kemudian mengambil sebuah kotak yang berisi dekorasi panggung dari tangan Sulli. Sebuah senyum terukir di wajah manis Sulli, sebuah senyum yang Taemin tak sempat lihat. Sulli kemudian mempercepat langkahnya mengekori Taemin.

“Taemin-ah, apa kau menyukai seseorang akhir-akhir ini?”tanya Sulli pada Taemin yang kini tengah mengecat sebuah papan.

“Suka pada seseorang ya? Awalnya aku pikir aku menyukai orang itu, tapi karena sahabatku… Aku jadi bingung dengan perasaanku sendiri”jawab Taemin tanpa mengalihkan pandangannya dari papan yang masih setengah bagian ia cat. “Sahabatmu? Memangnya ada apa dengan kalian? Apa kalian bertengkar?”

Taemin terdiam memikirkan pertanyaan Sulli, ia sendiri tidak mengerti kenapa mereka berdua menjauhi satu sama lain. Padahal nyatanya mereka berdua ingin sekali bercengkrama, bergurau seperti dulu. Apa mereka terlalu malu untuk mengunggkapkan semua itu?

“Taemin-ah?”panggilan Sulli akhirnya membuyarkan lamunannya, “Aku sendiri tidak mengerti mengapa kami saling menjauh satu sama lain, padahal aku sangat merindukannya”

******

“Kuharap kau datang ke festival sekolah kami. Hm… Bogoshipoyo Yora-ya”Taemin lagi-lagi hanya bisa mengirim pesan suara untuk Yora. Kenapa anak itu selalu mematikan ponselnya? Apa ia kehilangan ponselnya?

Taemin memilih untuk memakan makan malamnya dengan tenang dibandingkan ikut mengobrol dengan anggota keluarganya. Ia merutuki dirinya sendiri yang kini lebih cenderung dingin karena masalahnya dengan Yora.

“Eomma, apa benar keluarga Yora akan pindah?”tanya kakaknya Taesun pada Ibunya yang sedang menikmati makan malamnya. Taemin hampir tersedak mendengarnya, sebelumnya Ibu Yora dan Yora hanya mengatakan bahwa Yora hanya akan melanjutkan pendidikannya di Jerman.

“Awalnya hanya Yora saja yang akan pindah untuk bersekolah disana, tapi tiba-tiba saja orangtuanya mengatakan ada urusan bisnis di Jerman. Jadi, mereka semua memutuskan untuk pindah kesana”jawab nyonya Lee tanpa menatap wajah anak sulungnya. “Lalu, apa mereka akan kembali lagi kesini?”

“Mollayo. Taesun-ah! Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti ini?”

“Aniya! Yora adalah adikku juga! Jadi wajar saja aku bertanya seperti itu kan?”

Taemin terdiam, ia merasa dirinya benar-benar dibohongi. Ia merasa seperti orang asing, mengapa Yora tak mengatakan semua itu padanya? Bahkan tentang Yora yang melanjutkan sekolahnya di Jerman hanya dikatakan oleh Ibu Yora pada dirinya.

“Taemin-ah, kenapa kau tak makan makan malammu? Apa tidak enak?”tanya Ibunya yang menangkap anak bungsunya hanya terdiam dan menatapi makan malamnya.

“Eomma, aku sudah kenyang. Aku harus segera tidur, besok aku tidak boleh terlambat”ujar Taemin kemudian beranjak dari meja makan.

“Apa makananku tidak enak?”tanya nyonya Lee pada suami dan anak sulungnya yang sibuk menyantap makan malam mereka.

Taemin segera mengambil ponselnya dan menekan sebuah nomor yang memang ia hafal sejak lama. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja menunggu jawaban dari seseorang di sebrang.

#Maaf nomor yang anda tuju sedang sibuk atau diluar jangkauan, mohon telfon beberapa saat lagi atau rekam pesan suara anda setelah bunyi –biip-#

“Kim Yora! Kenapa kau tak mengatakan padaku jika kau akan pandah bersama keluargamu? Kenapa kau bagai menganggapku orang asing Yora-ya!”

“Kita perlu bertemu dan membicarakan semuanya Yora-ya! Arachi?”

Taemin kemudian menekan tombol reject kemudian melempar ponselnya dengan asal ke ranjangnya. Ia tak peduli apapun yang terjadi besok, ia harus bertemu dengan Yora dan meluruskan semua yang terjadi diantara mereka.

*******

Untuk kesekian kalinya Taemin melirik jam tangan hitam yang melingkari lengannya, sesekali ia menoleh untuk melihat sang pemilik rumah dari kediamannya. Dan akhirnya setelah beberapa menit ia menunggu bagai seorang polisi yang menunggu penjahat dari tempat persembunyiannya, orang yang ia tunggu sedari tadi keluar dari rumahnya.

“Taemin-ah… Apa yang-”belum sempat melanjutkan perkataannya yang bingung melihat kehadiran Taemin di depan rumahnya, pria itu langsung memotong perkataannya lebih dulu. “Apa kau tak menerima pesanku? Kenapa ponselmu selalu tidak aktif saat ku telfon? Dan yang terpenting kenapa kau tak mengatakan padaku kau dan keluargamu akan pindah?”

“Taemin-ah, pelan-pelan saja. Bagaimana bisa aku menjawab pertanyaanmu jika kau bertanya secara beruntun seperti itu?”ujar Yora dengan tenang, membuat Taemin gemas dan ingin sekali menunjukkan bagaimana paniknya dirinya sekarang.

“Bagaimana bisa aku tenang nona Kim?”Taemin menghela nafas panjang dan mencoba merendamkan semua emosinya, “Baiklah, naik sepedaku dan jawab semua pertanyaanku di perjalanan. Arachi?”

“Mwo? Sepedamu sudah selesai di perbaiki?”tanya Yora melirik sebuah sepeda berwarna putih yang di parkir begitu saja di depan rumahnya.

“Jika belum maka tak mungkin aku memakainya nona Kim… Cepat naik!”Yora akhirnya menuruti perkataan Taemin untuk naik ke sepedanya. “Yora, pegangan. Aku tak ingin kau jatuh dan membuat kita berdua terlambat”

Kedua lengan Yora kini telah melingkari pinggang Taemin, sementara itu ia menyenderkan kepalanya di punggung Taemin. Sebuah senyum terukir di wajah Yora, ia merindukan aroma Taemin, ia merindukan debaran jantungnya yang kencang ketika memeluk Taemin seperti ini.

“Yora? Kau tidak tidur kan? Bukankah kau akan menjawab semua pertanyaanku?”Yora mendegus kesal, bagaimana bisa Taemin mengacaukan dirinya yang sedang menikmati semua ini?

“Baiklah, jawaban pertama aku memang tak menerima pesanmu. Jawaban kedua, ponselku jatuh kedalam air dan rusak, dan sekarang aku tak sempat membeli ponselku. Jawaban ketiga… bukankah itu tak ada bedanya dengan aku dan keluargaku pindah ke Jerman?”jawab Yora dengan tenang.

“Mwo? Apa maksudmu tak ada bedanya eoh? Jika hanya kau pidah masih ada kemungkinan kan kau kembali lagi ke Seoul, tapi jika kau dan keluargamu sepertinya tidak ada kemungkinan kau akan kembali ke Seoul…”mereka berdua kemudian terdiam, membiarkan hanya suara kayuhan pedal sepeda Taemin dan suara lainnya yang kini terdengar.

“Yora-ya, biarkan aku mencoba mengerti perasaanku padamu”ucap Taemin yang lebih terdegar sebagai gumaman. Yora ingin sekali membuat Taemin mengulangi perkataannya tadi, tapi ia terlalu takut. Jadi ia memutuskan untuk terus memutar ucapan Taemin itu didalam otaknya.

******

Taemin memandang Key yang sedang sibuk mempadankan beberapa baju untuk costume mereka nanti diatas panggung. Ini sudah baju kedua belas yang Key padankan untuk costume mereka, dan Taemin yakin Key akan segera meletakkan kembali baju kedua belas itu dan mengambil baju yang lainnya untuk dipadankan.

“Key?”panggil Taemin sambil memandang kosong pakaian-pakaian yang Key letakkan dengan sembarang. “Hm?”

“Jika ada sepasang pria dan gadis, mereka bersahabat… Dan tiba-tiba gadis itu menjauh dari sang pria, kemudian sang gadis dan keluarganya memutuskan untuk pindah keluar negeri apa itu hal yang biasa jika pria itu tidak ingin sahabatnya pergi meninggalkannya? Maksudku apa pria itu menyayangi sang gadis lebih dari seorang sahabat?”Key hanya menaikkan salah satu alisnya, entah karena ia tak mengerti dengan semua yang dikatakan Taemin atau ia merasa ada yang ganjil dari perkataan Taemin.

“Apa pria itu adalah kau?”mendengar pertanyaan Key, Taemin hanya bisa mengacak rambutnya dengan frustasi. Key terlihat melipat kedua tangannya, “Jadi kau tak menyukai Sulli?”

“Aku sendiri tak tahu Key…”jawab Taemin dengan seadanya, meningat pikirannya sedang kacau sekarang. “Key, bagaimana menurutmu?”

“Taemin-ah, kurasa kau harus bisa membedakan antara cinta, kasih sayang pada seorang sahabat dan mengagumi seseorang”

“Bagaimana caranya?”Key menaikkan bahunya, “Kau harus memikirakan dan menyadarinya sendiri Taem. Hey, aku akan pergi lebih dulu. Fighting!”ujarnya kemudian beranjak meninggalkan Taemin sambil membawa costume mereka.

******

Taemin kembali membaca pesan yang ia kirimkan pada Yora semalam, tidak ada yang salah dari pesan itu. Kini Yora sudah mempunyai ponsel baru, begitu Yora mengatakan ponselnya yang tusak, Taemin langsung membelikan ponsel baru untuk Yora. Dan awalnya tentu saja Yora menolaknya,tapi akhirnya gadis itu menerimanya begitu Taemin mengatakan ponsel itu adalah hadiah darinya. Taemin tidak bertele-tele menuliskan pesannya, semuanya tertulis dengan jelas, ia juga benar-benar mengirimkannya ke nomor Yora. Sekarang pertanyaannya adalah, dimana gadis itu?

“Taemin-ah, kita akan segera mulai”ujar salah satu temannya pada Taemin yang masih berdiri di depan pintu gerbang bagai patung selamat datang. “Mulai saja duluan, jika sudah bagianku maka aku akan masuk”pria itu pergi dan menyisahkan dirinya dengan para pengunjung yang berlalu lalang melewatinya.

Seorang gadis dengan cardigan dan beanie-nya berjalan kearah gerbang sekolah mereka, Taemin menyipitkan matanya mencoba melihat wajah gadis berambut panjang itu. “Yora?”

“Apa aku terlambat?”tanyanya dengan lirih, Taemin tersenyum ke arahnya. “Tidak ada kata terlambat untukmu”Taemin meraih tangan Yora dan membawanya kedalam sekolah mereka yang sudah ditata sedemikian rupa untuk acara ini.

“Tunggu disini sebentar, sedikit lagi giliranku untuk tampil. Setelah tampil aku akan segera kembali”ucap Taemin seraya menatap kedua mata Yora dengan tatapan yang dalam, “Jangan pergi tanpa memberitahu padaku, arachi?”Taemin kini mengarahkan telunjuknya ke wajah Yora, membuat gadis itu tersenyum dan mengangguk pelan.

Yora mencoba mencari kesibukan sementara menunggu Taemin yang akan tampil di panggung. Akhirnya giliran Taemin untuk tampil tiba juga, Yora tak heran melihat gaya Taemin yang begitu maskulin saat menari di atas panggung. Sejak kecil Yora memang tahu kegemaran Taemin dalam salah satu bidang seni itu, dan Yora dan semuanya memang mendukung bakatnya itu.

Tapi kenapa rasanya sesak? Begitu sesak melihat Taemin yang menari diatas panggung? Apa karena ini adalah sebuah perpisahan? Apa karena mungkin ia takkan pernah kembali untuk melihat seseorang pria yang sepertinya takkan mudah baginya untuk melupakannya?

Kenapa semua air mata ini seakan tak mendengar perintahnya? Kenapa mereka malah dengan mudahnya jatuh dan membasahi kedua pipi Yora? Kenapa hanya dengan Taemin saja, rasanya sesakit ini?

“Maaf membuatmu menunggu, kajja!”Taemin meraih tangan Yora untuk pergi dari gerbang sekolahnya begitu acara selesai. Tidak, tak ada percakapan penting diantara mereka. Bahkan sepertinya Yora lebih memilih diam dan merasakan genggaman tangan Taemin, yang mungkin takkan bisa ia rasakan lagi.

Yora menelan air liurnya, ia kemudian menarik nafasnya. Ia takkan bisa menyembunyikan ini dari Taemin, menyembunyikan hal ini malah akan membuatnya semakin sakit. Tapi ia sendiri juga takut untuk mengatakan ini pada Taemin, ia sangat yakin pasti Taemin akan marah besar.

“Kenapa kau hanya diam saja?”tanya Taemin yang melihat gelagat Yora yang tak seperti biasanya. “Aku akan berangkat besok”Taemin terdiam, apa baru saja Yora mengatakan bahwa ia akan berangkat? Apa telinganya bermasalah?

“Mwo?”

“Aku dan keluargaku akan pindah besok pagi, maaf jika aku baru mengatakannya sekarang. Aku baru saja mengingat ucapanmu yang melarangku untuk pergi tanpa memberitahumu”mengapa kini ia merasa lidahnya kini kelu, kenapa kata-kata itu bagai membuat hatinya jatuh dan hancur berkeping-keping hanya karena kepindahan Yora dan keluarganya?

“Sebenarnya ini adalah salam perpisahan, jadi…”Yora melepaskan genggaman tangan Taemin dan kini ia membalikkan badannya kesamping dan menatap Taemin, tangan mungil itu terjulur kearah Taemin. “Selamat tinggal”

Taemin tak bergeming, ia hanya menatap tangan mungil itu yang terjulur untuknya. Bahkan ia sepertinya takkan berani mengambil langkah sekarang, ia takkan siap jika ia mengambil langkah yang salah sekarang.

Yora menarik tangannya kembali dan tersenyum, “Maaf jika perasaanku pernah menganggumu, pernah membuatmu terbebani. Maaf jika aku terlalu mengabun-abun tentang perasaanku padamu. Aku takkan bisa mengatakan semuanya padamu, Taemin-ah… Aku takkan sanggup”Yora kini memberanikan dirinya untuk memeluk Taemin yang sedari tadi tak bergeming.

Yora mencium aroma tubuh Taemin untuk terakhir kalinya, mencoba untuk mengirupnya sebanyak yang ia bisa agar ia takkan lupa bagaimana aroma tubuh Taemin. “Aku akan melepaskanmu… Aku akan mencoba untuk melupakan perasaanku padamu. Anggap saja aku tak pernah mempunyai perasaan apapun selain menyayangimu sebagai sahabatku”ujar Yora dengan lirih.

“Gumawo Lee Taemin”

Tidak, kenapa gadis itu malah berterimakasih kepadanya? Berterimakasih karena telah memberi sebuah harapan yang terlalu besar untuk dirinya dan karena Taemin menghempaskan perasaan itu begitu saja tanpa rasa kemanusiaan? Apa gadis itu tak sadar bahwa ia telah membuat Taemin merasa bersalah padanya?

Taemin tak boleh memilih langkah yang salah saat ini, hanya dengan beberapa menit ini ia harus berfikir dengan matang tentang perasaannya pada Yora.

Yora baru saja hendak melepaskan pelukkannya sebelum Taemin memeluknya lebih erat. “Kau adalah gadis yang paling bodoh yang pernah kukenal”ujar Taemin tanpa melepaskan pelukkannya. “Gadis bodoh yang akhirnya membuatku menyadari perasaanku padamu”

“Saranghaeyo Yora-ya”ujar Taemin dengan lirih tepat di samping telinga milik Yora, lagi-lagi butiran air mata itu kembali jatuh dan membasahi pipi Yora. “Maukah kau naik pangkat menjadi kekasihku Yora-ya?”

Yora terkekeh kecil walaupun air mata itu masih membasahi pipinya, “Bagaimana bisa seperti itu dikatakan naik pangkat?”. Yora melepaskan pelukkannya dan menatap kedua mata Taemin, “Sebuah kehormatan untukku tuan Lee”ucapnya kemudian kembali memeluk erat Taemin.

Sejak malam itulah posisi Yora kini menjadi kekasih sekaligus sahabat Lee Taemin. Mungkin seorang sahabat menjadi seorang kekasih sangat tidak mungkin, tapi itu bisa saja terjadi. Kita tidak akan tahu dimana hati kita berlabuh dan meninggalkan jejak cinta kita. Tapi, percayalah jika cinta itu akan datang, entah kita yang menghampirinya ataupun cinta itu sendiri yang datang menghampiri kita.

-END-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “Dear Friend”

  1. WOW bikin cerita lanjutannya dong misalnya nyeritain gimana hubungan jarak jauh mereka gitu ^_^ ato tiba2 Yora pulang ke korea yah saran aja sih Ya bikin lanjutannya ya?ya?ya?

    1. Lanjutannya ya? Pernah sih kepikiran, tapi aku gak janji yaa~
      Soalnya aku lagi kelas ujian ehehe. Tapi rencananya aku mau kirim ff aku yang lain di sini lagi~ *promosi*
      Makasih udah baca Dear Friend ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s