You Never Know [2.2]

You Never Know  (2.2)

Title                 : You Never Know  (2.2)

Author             : Shinsongmi

Main Cast        : Choi Minho, Han songji

Support Cast   : Shinee member’s and Etc

Lenght             :  Chapter

Genre              : Funny, Romance, Sad (may be.. he.. )

Rating:            : General

Anyeong……… kembali lagi dengan FF yang sangaaaaatttttt sungguhhh…. Biasssaaa….. ini,  sekali lagi terima kasih karena sudah meluangkan waktunya untuk membaca kelanjutan kisah yang sunngguhhhh standar ini. tidak lupa buat semua readers yang baik hati dan rajin menabung,, aku tunggu kritik, saran serta komentarnya . kritik, saran dan komentarnya kalian semua adalah sangat berharga bagiku..  have a nice day.. ^^

***

Wajah songji terlihat lesu begitupun minho, mereka berdua baru saja keluar dari ruangan dosen, ya mereka baru saja dapat petuah yang sangat panjang dari dosen karena telat mengumpulkan tugasnya, itu dikarenakan  kecerobohan songji yang lupa menaruh USB. Mereka berjalan menuju kursi ditaman kampus. Songji menghela napas panjang dan mengusap mukannya, sedangkan minho merentangkan tangannya, dan menghisap asupan oksigen sebanyak-banyaknya.

“songji-shi..kau  tidur jam berapa?? Apa kau tidak tidur karena USB itu?? Kantung matamu membesar dan agak hitam” minho menatap songji yang keadaannya agak kacau

“ne.. aku tidak tidur sampai sekarang karena USB itu, untung saja aku mengcopy di USB lain, walaupun aku harus menyusunnya kembali.” Songji mengambil minuman kaleng ditasnya,

“tsk… kenapa kau tidak menghubungiku?? Ini khan tugas kita berdua” minho kesal dan mengambil minuman kaleng yaitu kopi ketika songji akan meminumnya, songji tidak melawan karena terlalu lelah

“itu salahku, aku yang ceroboh menghilangkan USB itu, jadi sudah menjadi tanggung jawabku, lagipula tadi malam sudah sangat malam, aku tidak mau menganggumu. Dan kalaupun aku menghubungimu kau tidak tau tempat tinggalku kan..” Songji menundukan wajahnya,

“mau dimana mengerjakan tugas untuk presentasi besok??” songji menoleh pada minho yang sedari tadi menatapnya

“dirumahmu saja, ngomong2 kau sudah makan” tepat ketika minho bertanya perut songji berbunyi, dengan bunyi itu minho sudah tahu kalau songji kelaparan. Minhopun menarik tangan songji menuju kedai makanan didekat mereka. songji hanya mengikuti minho dengan langkah lesu.

“lain kali kalau kau menyimpan sesuatu yang penting simpan ditempat khusus, jadi ketika kau lupa kau bisa mudah menemukannya,” songji hanya mengangguk, sambil meraih air digelas untuk dia minum, tapi tiba2 minho menaruh sedotan digelasnya. Songji menatap heran.

“karena ketika kau minum digelas selalu saja ada yang tumpah, lebih baik biasakan kau menggunakan sedotan apalagi ditempat umum, jaga imagemu jangan terlalu cuek sehingga mempermalukan dirimu, arra..” layaknya seorang kaka yang sedang mengajari adik kecilnya minho terus menerus menasehati songji agar merubah sikapnya yang selalu ceroboh.

“aku sudah biasa mempermalukan diriku sendiri, mau bagaimana lagi aku memang selalu ceroboh” songji kembali bersikap tidak perduli akan dirinya setelah tadi mendengarkan nasehat dari minho.

“tapi aku tidak biasa, dan aku kesal kalau kau sudah dipermalukan’ minho menatap songji dengan tatapan tajam, songji tidak jadi memasukan nasi kemulutnya, ia mengerutkan alisnya dan meletakan sumpit dimangkuk nasinya.

“kesal?? Kenapa?? ”

“ya.. aku kesal, karena orang yang aku pedulikan tidak memperdulikan dirinya sendiri”  minho berbicara dengan serius,

“hmmm.. gomawo kau sudah memperdulikanku” layaknya senior yang memperlakukan juniornya songji menepuk pundak minho, minho hanya menganga mendapatkan perlakuan yang tidak ia harapkan.

“lebih baik  kita cepat makan, tidak baik berbicara ketika sedang makan. Arrachi???? “ minho agak kesal dengan tingkah songji yang tidak peka, iapun mengaduk2 nasinya dan memasukan kemulutnya sampai mulutnya penuh. Setelah makan merekapun melanjutkan perjalanan menuju tempat kediaman songji, waktu sudah menunjukan pukul 5: 30 PM mereka masuk bis dan didalam bis tidak ada bangku yang kosong sehingga merekapun berdiri, minho berdiri disamping songji, ketika bis berhenti mendadak minho selalu sigap menahan tubuh songji agar tidak terjatuh dengan memegang bahunya songji. karena itu, minho pun menarik songji agar lebih dekat dengannya. Songjipun hanya menurutinya karena ia ingat kata-kata minho dia harus merubah sikap kecerobohannya, dengan mencari cara untuk meminimalisirkan akibat kecerobohannya, seperti sekarang ini, karena ia sulit menyeimbangkan tubuh ia harus mencari sesuatu agar tidak terjatuh dan cara yang ada sekarang adalah menerima pertolongan dari minho. Walaupun iapun agak jengah karena jarak tubuh mereka sangat dekat.

*****

“selamat datang ditempatku yang biasa ini.. heheh “ Songji membuka pintu tempat tinggalnya lebih tepatnya ternyata tempat tinggalnya adalah sebuah kamar yang berada dilantai 2, dengan kondisi yang tidak terlalu besar. baru saja ia masuk kakinya sudah menendang rak sepatu. Minho hanya menghela napas

“kau tinggal sendri??” minho melihat-lihat kamar songji, terlihat ada satu kasur berukuran kecil tanpa ranjang, televisi dan sofa kecil, ya… kalau dilihat-lihat dari semua barang yang ada tempat ini memang hanya untuk sendri.

“ne.. mian tempatnya sempit” songji menggeser buku-buku yang menumpuk kesamping kasurya agar minho dapat duduk.

“kau tidak pernah memasak??” minho melihat tidak ada dapur disana karena memang ini hanyalah sebuah kamar yang ada kamar mandi kecil.

“kalau libur aku biasanya memasak dibawah bersama ahjuma pemilik tempat ini, atau diluar kamar menggunakan itu” songji duduk diatas kasur dan menunjuk kardus berisi peralatan masak.

“memangnya orang tuamu dimana???”

“ada, mereka tinggal jauh dari sini, hey tujuan kita khan bukan untuk membahas tentangku, kajja kita harus beraksi lagi” songji mengeluarkan laptopnya. Minho terlihat berfikir, ia melihat sepertinya ada sesuatu yang songji sembunyikan tentang keluarganya, itu sangat terlihat dari caranya mengalihkan pembicaraan.

“songji-shi lebih baik kau tidur saja, biar aku yang menyelesaikannya” untuk kesekian kalinya songji menguap dan matanya sudah memerah. Songji menyilangkan kedua tangannya tanda menolak. Tapi beberapa menit kemudian songjipun tertidur, minho hanya tersenyum melihatnya, iapun membenarkan posisi tidur songji dan menyelimutinya. Minhopun melanjutkan mengetik tugasnya. Ketika selesai mengetik ia melihat kembali kamar songji, iapun menulis sebuah pesan dinote dan ditempelkan di layar laptop milik songji, dan juga ia memasang alarm dijam weker songji,

“Han Songji.. kenapa kau tidak pernah sadar dan tidak berusaha mencari tahu tentangku?? Semoga mimpi indah” minho membelai rambut songji dan hendak mencium pipi songji, tapi ia mengurungkan niatnya, ia hanya tersenyum. Songji agak menggeliat, minhopun langsung berdiri dan keluar dari kamar songji.

*****

Suara komentator bola terdengar jelas ditelevisi, 3 orang pria yang sedang duduk didepan tv tersebut bersorak ketika club bola andalan mereka mencetak gol. Akan tetapi minho yang biasanya paling bersemangat menonton bola malah berdiam diri dikamarnya.

“minho hyung… kau tidak menonton bola, ini khan club andalanmu, lihat mereka sudah mencetak 2 kali gol” teriak seorang pria yang terlihat paling muda diantara mereka ber3

“biarkan saja taemin, dia mungkin kelelahan” ujar pria berambut silver sambil memasukan snack kemulutnya, salah satu pria berambut hitam beranjak kekamar minho meninggalkan jonghyun sirambut silver dan taemin yang masih serius menonton bola

“apa gadis itu masih belum ada perubahan??” minho membuka matanya dan melihat orang yang tadi berbicara

“hmm… seperti itulah, apa yang harus aku lakukan key, apa aku harus menyatakannya langsung agar aku tidak kehilangannya??” minho memiringkan tubuhnya dan menjadikan tangannya menjadi bantalan kepalanya,

“aku rasa kau harus melakukannya, menurutku dia adalah type wanita yang tidak suka basa basi dan tidak suka bertele-tele, jadi walaupun kau sudah memperlakukan dia istimewa dia tidak akan memandangmu lebih, dia akan baru memandangmu ketika kau menyatakan langsung perasaanmu dengan mulutmu sendiri,  hati-hati dengan wanita seperti itu dia bisa melihat kau berbohong atau tidak,” minho langsung terduduk ketika mendengar perkataan key.

“tambahan untukmu,wanita seperti dia bukan wanita yang mudah dilepaskan ketika kau sudah mendapatkannya, jadi jangan lanjutkan perasaanmu kalau kau hanya berniat bermain dengannya” minho merenungkan perkataan key,

“key.. kau daebak, hanya bercerita sedikit tentangnnya kau sudah paham, kau memang hebat” minho memberikan pelukan pada key, key menggeliat ingin melepaskan diri dari minho dan berhasil.

“plakk…” key memukul lengan minho dengan kencang

“wae???? appa..” minho mengelus-ngelus lengannya

“kau itu terlalu bodoh, sudah berapa kali kau berkencan dengan wanita tapi kau tidak paham akan kepribadian wanita, dasar payah.” key mencibir

“ya… dia ini berbeda makanya aku bingung, lagipula aku selalu berganti-ganti pacar itu karena ingin melupakan dia’ minho masih meringis mengusap lengannya yang ternyata memerah akibat pukulan key, key membulatkan matanya

“kau…. Jadi kau sudah lama menyukainya” key Nampak kaget dengan penuturan minho, key mengguncangkan tubuh minho dengan semangat. “ kenapa kau tidak cerita padaku??” key memukul lengan minho kembali dan sekarang cetakan tangan key terlihat jelas dilengan minho

“appa.. “ minho makin meringis kesakitan, jonghyun dan taemin yang baru selesai menonton pertandingan bola langsung masuk kekamar minho karena mendengar perseteruan key dan minho

“itu hukuman dariku, karena kau merahasiakan hal ini” jonghyun dan taemin saling memandang karena tidak mengerti pembicaraan mereka

“yak!! Kalian sedang apa disini kembali kekamar kalian. Ini sudah malam tidurlah” jonghyun dan taemin yang sedang berdiri didepan pintu kamar terperanjat kaget karena terkena omelan dari key, taemin langsung berbalik menuju kamarnya

“kau jonghyun kenapa masih berdiri disitu??” key berdiri dihadapan jonghyun sambil menunjuk wajahnya.

“aku khan tidur bersama minho” jawab jonghyun polos, key hanya mendecak dan mendorongnya agar ia bisa keluar kamar. Minho tersenyum walaupun lengannya masih terasa sakit,

“key.. gomawo n mian.. nanti akan kuceritakan semuanya” key hanya menengok sebentar dan mendengus kemudian masuk kamar sambil membanting pintu kamarnya, jonghyun memandang minho meminta penjelasan tapi minho malah memejamkan matanya sambil tersenyum, dan jonghyun mengacak rambutnya kesal.

*****

Presentasi yang dilakukan minho dan songji berjalan dengan lancar, mereka mendapatkan nilai yang tidak buruk yaitu B, minho berencana setelah jam kuliah habis ia ingin mengajak songji jalan hanya berdua dengannya, ia sudah memantapkan hatinya untuk mengungkapkan perasaannya. Selama kuliah berjalan minho yang duduk dibelakang songji terus saja memperhatikannya, minho menutupi wajahnya dengan buku untuk menyembunyikan senyumnnya, tapi ada satu hal yang membuat minho penasaran, sedari tadi songji sibuk membalas pesan diponselnya, entah pesan dari siapa yang membuatnya kelihatan gelisah. Jam kuliah berakhir ,  songji dengan cepatnya memasukan buku-bukunya sampai bukunya terjatuh, minhopun membantu mengambilnya.

“songji-shi apa kau sedang ada urusan?? Kau dari tadi kelihatan tidak tenang??” songji memasukan buku yang diberikan minho

“ne.. aku duluan” songji melambaikan tangannya dan berjalan dengan terburu-buru, minho menghela napas panjang, ia melihat Arang yang melewatinya

“arang-ah.. songji ada urusan apa?? kenapa dia terburu-buru seperti itu,”

“tadi dia bilang ada janji dengan temannya, dan sepertinya juga ada masalah serius” jawab arang

“temannya wanita atau pria??”

“kurasa wanita” minho bernapas lega, arang yang melihatnya heran, minhopun berjalan bersama arang keluar kelas. Tidak jauh dari kampus songji sedang mengobrol bersama seorang wanita sebaya dengannya disebuah café, terlihat dari raut wajahnya mereka membicarakan hal yang serius.

“niera-ya.. menurutmu aku harus bagaimana, appa menjodohkan aku dengan anak temannya, appa bilang dia baik, sopan dan juga tentunya mapan, appa benar-benar sudah mempercayakanku padanya,” songji mengaduk-ngaduk minumannya

“apa kau masih memikirkan pria itu?? apa dia sudah menyatakan perasaannya?” niera menatap temannya yang sedang dilemma ini

“ne.. aku masih memikirkannya, tidak akan dia menyatakan perasaannya padaku. kau tau sendiri setelah sekian lama sepertinya dia cinta pertamaku, tapi aku ragu apa dia menyukaiku atau tidak, memang dia sangat baik padaku bahkan ia terlihat peduli padaku, tapi dia berkelakuan seperti itu bukan hanya padaku saja tapi pada wanita lain juga, jadi aku berkesimpulan kalau dia tidak punya perasaan khusus padaku. Dia bersikap seperti itu karena itu sudah menjadi sifatnya yang selalu bersikap baik pada wanita, lagipula aku tidak terlalu cantik untuknya” songji merosotkan tubuhnya dikursi, niera mendengus kesal

“percaya diri sedikitlah, apa salahnya kalau kau yang menyatakan langsung, sekarang khan jamannya emansipasi wanita, atau tunjukan suatu sikap yang menunjukan kalau kau punya perasaan lebih padanya”

“aku tidak bisa percaya diri kalau untuk hal ini, dan juga ketika aku ingin menunjukan perasaanku aku malah tidak mau menunjukannya, dimatanya aku hanya wanita yang ceroboh, cuek tidak pernah berdandan, sedangkan dia adalah pria yang tampan, perhatian, baik, dan juga selalu banyak wanita yang menyukainya dari junior sampai senior. Mana mungkin dia memilihku” songji memalingkan wajahnya keluar jendela, memerhatikan orang-orang yang lewat

“jadi kau lebih memilih memendam perasaanmu itu dan menerima perjodohan” songji hanya mengangguk

“kau sungguh anak yang penurut, sampai masalah jodohpun kau menuruti orang tuamu,” niera menggelengkan kepalanya, dia tidak mengerti dengan jalan pikiran songji, ponsel songji bergetar tanda ada pesan masuk. Songji membuka pesan tersebut ternyata pesan dari appanya.

“lee Jinki” songji bergumam membaca pesan dari appanya, ponsel songji bergetar lagi ada 1 pesan lagi masuk, ketika ia akan membukanya niera mencolek-colek tangan songji

“wae?? “ ia mendongak

“Choi Minho duduk dibelakangmu??” niera berbisik pada songji, ia membulatkan matanya dan tanpa sadar ia meletakan ponselnya dimeja, niera melihat foto yang ada diponsel songji

“songji-shi nuguya??” niera memperlihatkan foto pada songji, dan ketika itu minho menoleh kebelakang dan iapun melihat foto itu juga.

“Lee Jinki” ucap songji berusaha tenang berpura-pura tidak tahu kalau minho yang ternyata cinta pertamanya itu duduk dibelakangnya

“dia yang akan dijodohkan denganmu??” niera menunjuk foto pria yang ada diponsel songji, songji memejamkan matanya, dan mengatai niera bodoh dengan bahasa isyarat, niera lupa disitu ada minho, tapi mau tidak mau songji mengangguk untuk menjawab pertanyaan niera. Minho sangat terkejut dengan hal yang didengarnya, begitupun key ia langsung melihat raut wajah minho yang tadinya ceria menjadi suram,

“minho-ya.. sepertinya aku tidak membawa dompetku, lain kali saja aku mentraktirmu, kajja kita pergi sebelum pelayannya datang” minho mengerti kalau key sedang berusaha untuk mengajaknya keluar dari tempat ini.

Minho terus menutupi wajahnya, kini hatinya benar- benar sakit terdengar napasnya yang cepat, key melepaskan tangan minho dari wajahnya, terlihat wajah minho memerah dan air mata yang menggenang dimatanya,

“ini belum berakhir, dia baru akan dijodohkan” key menatap minho tajam

“dia menerima perjodohannya, dan itu sudah mengartikan bahwa dia tidak punya perasaan lebih padaku,” ucap minho dengan putus asa

“kau tidak akan pernah tau perasaan seseorang kalau kau tidak menanyakannya, jadi lebih baik kau temui dia sekarang, nyatakan perasaanmu  apapun jawaban yang ia berikan nanti kau harus menerimanya,” minho masih terdiam tidak bergerak

“yak!!! Cepat bangun, bergeraklah!! temui dia dan tanyakan apa dia menyukaimu??? kalau tidak kau akan menyesal” akhirnya keypun berteriak sampai minho menjauh karena kupingnya sakit akibat teriakan key.

Songji dan niera berjalan menuju halte bis terdekat, mereka duduk dihaltem, kebetulan tidak ada orang yang menunggu dihalte.

“jadi kau sudah memutuskan akan menerima perjodohan??” songji mengangguk

“lagipula dia tidak terlalu buruk, dia tampan, heheheh…” songji tertawa berusaha menghibur hatinya sendri

“saranku kalau kau tidak cocok dengannya tolak saja jangan dipaksakan, aku yakin appamu akan mengerti,”

“ne… “ songji tersenyum pada sahabatnya dari kecil itu,

“ah bisnya datang, gomawo sudah menyempatkan diri  mian aku hanya bisa mengantarmu sampai sini, kalau secuter maticku tidak rusak akan kuantar kau sampai rumah..” niera tidak menjawab ia menunjuk kebelakang songji, songji menoleh kebelakang sambil menyipitkan mata karena cahaya matahari sore yang menyilaukan, songji masih belum jelas melihat pria yang sedang berlari kearahnya sampai akhirnya ketika pria itu mendekat ia baru mengenalnya.

“hosh… hosh… aku harus bicara denganmu.. hoshh.. hosshh…” minho sangat berkeringat sampai rambutnya basah oleh keringat. Songji menuntun minho duduk dikursi halte, dan tepat ketika minho duduk bis yang ditunggu datang

“songji-shi.. aku duluan.. fighting!!!” niera masuk kedalam bis dan melambaikan tangannya ketika sudah didalam bis, songji hanya memandang kepergian niera yang menunjukan wajah senang. Ada apa dengan anak itu?? batin songji, songji merogoh tasnya

“ah.. untung saja ada, jangan bicara!! Ini minum dulu tenangkan dirimu, atur napasmu agar kembali normal” minho berusaha mengatur napasnya kembali normal, songji mengambil tissue dan mengusap keringat yang ada diwajah minho, seketika wajah mereka berdekatan.

“apa kau tidak merasa kejadian ini pernah terjadi??” minho memegang tangan songji yang sedang mengusap keringat dipelipisnya, napasnya sudah mulai teratur, songji berfikir dan akhirnya mengangguk

“aku ingat tapi waktu itu aku yang berada diposisimu, tapi apa yang membuatmu berlari seolah-olah kau terlambat, padahal kita tidak mempunyai janji.” Songji menyerahkan selembar tissue baru kepada minho

“kenapa tidak kau saja yang membersihkan keringat diwajahku??” minho menggoda

“kau masih punya tangan khan??” songji mencibir, minho tertawa

“hey kau belum memberitahuku kenapa kau berlari seperti itu, apa ada barangmu yang terbawa olehku??”

“ne.. kau sudah membawa hatiku” minho menatap songji dengan tatapan serius, songji terdiam wajahnya agak memerah

“huppff.. hahahah… kau gombal sekali, semenjak kapan kau menggombaliku, sudahlah cepat katakan apa yang ingin kau katakan” songji menahan tawanya, walaupun sebenarnya napasnya sempat berhenti ketika minho mengatakan kata itu, minho memegang kedua bahu songji dan mengarahkan padanya, minho menatap mata songji lekat-lekat , songji hanya berkedip-kedip bingung apa yang dilakukan minho

“aku… aku menyukaimu….. anni.. aku mencintaimu.. apa kau mau menerimaku sebagai pacarmu, anni… sebagai calon pendamping hidupmu??” songji menatap kedua mata minho ia mencari-cari tanda kebohongan dimata minho, tapi ia tidak menemukannya, ia hanya menemukan kesungguhan dimata minho,

“minho menyukaiku, sejak kapan?? Apakah ini nyata?? Pasti dia berbohong, ia hanya bercanda, aku yakin” batin songji

“Han Songji.. tolong jawab aku” terlihat wajah songji kebingungan, minhopun melepaskan tangannya dibahu songji dengan lemas.

“minho-ya.. kau benar2 menyukaiku??” minho mengangguk yakin. Bibir songji perlahan mengembangkan senyuman kemudian ia memeluk minho, minho yang terkejut memeluk balik songji dengan erat

“aku juga menyukaimu” songji berbisik ditelinga minho, mata minho membulat setelah mendengarnya iapun memeluk songji erat. Dan mengecup pipi songji, tapi songji langsung menjauh.

“wae??”

“siapa yang mengijinkanmu menciumku” songji membentak

“khan kita sudah resmi pacaran” jawan minho terkejut

“tapi kau jangan berbuat seperti itu dengan tiba-tiba, itu membuatku terkejut, ingat jangan melakukan hal seperti itu lagi tanpa seijinku, dan juga kita belum resmi pacaran karena kau masih harus menjelaskan kronolgisnya kenapa kau bisa menyukaiku” minho terkekeh, ia mengerti songji bersikap seperti itu karena bagi songji ini adalah hal pertama baginya, songji sibuk memegang pipinya yang memerah karena malu pada minho

“hujan..” minho bergumam

“terjadi lagi, kau ingat sedia payung sebelum hujan” songji membuka tasnya tapi minho yang mengambil payung ditasnya,

“minho-ya..”

“hmm.. hey mulai sekarang jangan panggil aku minho panggil aku oppa, aku khan lebih tua darimu,” gerutu minho, songji hanya mengangjat satu alisnya

“aku tidak akan memanggilmu oppa tapi ajushi” ledek songji, minho mendecak

“hujannya sudah mulai reda, ayo kita jalan untuk merayakan hubungan kita” minho membuka payungnya,

“boleh aku genggam tanganmu” minho meminta ijin, songji terlihat berfikir tapi minho langsung mengenggam tangan songji

“akhirnya aku tau bagaimana raut wajahmu ketika malu” songji hanya mengalihkan wajahnya dari minho, minho tersenyum. Ia menarik songji karena didepannya ada seseorang berlari dari lawan arah, songji kembali dipermalukan oleh minho

“ajushi.. sepertinya hanya kau yang berhasil membuatku malu”

“yak.. apa kau bena-benar akan memanggilku ajushi, aishhh… cup” minho mengecup pipi songji

“ini hukuman kalau kau memanggilku ajjushi” songji menghentikan langkahnya, dan mengusap pipinya dan berjalan mendahului minho..

“ya.. ya… jangan marah…” minho mengejar songji yang berjalan cepat

Setelah beberapa bulan mereka menjalani hubungan songjipun akhirnya mulai merubah dirinya, itupun berkat minho yang setia membantunya, ia sudah mulai membiasakan diri untuk berdandan, mengurangi kecerobohannya, minhopun merubah kamar songji menjadi terlihat lebih rapih, ia membuatkan rak buku kemudian membuatkan tempat khusus barang-barang penting agar songji tidak lupa kesulitan ketika mencari  barangnya. Untuk masalah perjodohan songji menolaknya dan appanya pun menerima keputusan songji.

“aku tidak menyangka ternyata kita sebenarnya sudah saling menyukai, kalau saja kau tidak menyatakannya waktu itu mungkin aku sudah menerima perjodohan itu” songji menatap minho yang sekarang sedang berbaring disampingnya memandangi langit,

“tuhan memberikan kita mulut yaitu untuk berbicara, jadi kalau kau merasakan sesuatu kau harus katakan, jika kau tidak mengatakannya maka orang lain  tidak akan mengetahui apa yang kau rasakan, dan aku akan menggunakan mulut ini untuk selalu mengatakan perasaanku yang harus kau ketahui yaitu aku akan selalu mencintaimu” songji tersenyum

“jangan terlalu gombal aku tidak suka pria gombal, sekali saja kau ucapkan itu sudah cukup bagiku” minho berbalik memandang songji

“tapi, kalau aku tidak katakana, aku takut kau tidak pernah tau kalau aku benar-benar mencintaimu, dan aku rasa sekarang aku ingin segera menikahimu”minho merogoh sakunya dan meraih tangan songji, ia memasukan cincin putih kejari manis songji.

THE END….

Akhirnya selesai juga FF yang terlalu banyak typo ini, jeongmal gomawo untuk para readers yang selalu bersinar, dan juga tidak lupa untuk staff SFFSI yang sudah mempublish FF aku.. See U in next FF.. semoga hari kalian selalu bersinar… ^^

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

You Never Know  (2.2)

Title                 : You Never Know  (2.2)

Author             : Shinsongmi

Main Cast        : Choi Minho, Han songji

Support Cast   : Shinee member’s and Etc

Lenght             :  Chapter

Genre              : Funny, Romance, Sad (may be.. he.. )

Rating:            : General

Anyeong……… kembali lagi dengan FF yang sangaaaaatttttt sungguhhh…. Biasssaaa….. ini,  sekali lagi terima kasih karena sudah meluangkan waktunya untuk membaca kelanjutan kisah yang sunngguhhhh standar ini. tidak lupa buat semua readers yang baik hati dan rajin menabung,, aku tunggu kritik, saran serta komentarnya . kritik, saran dan komentarnya kalian semua adalah sangat berharga bagiku..  have a nice day.. ^^

***

Wajah songji terlihat lesu begitupun minho, mereka berdua baru saja keluar dari ruangan dosen, ya mereka baru saja dapat petuah yang sangat panjang dari dosen karena telat mengumpulkan tugasnya, itu dikarenakan  kecerobohan songji yang lupa menaruh USB. Mereka berjalan menuju kursi ditaman kampus. Songji menghela napas panjang dan mengusap mukannya, sedangkan minho merentangkan tangannya, dan menghisap asupan oksigen sebanyak-banyaknya.

“songji-shi..kau  tidur jam berapa?? Apa kau tidak tidur karena USB itu?? Kantung matamu membesar dan agak hitam” minho menatap songji yang keadaannya agak kacau

“ne.. aku tidak tidur sampai sekarang karena USB itu, untung saja aku mengcopy di USB lain, walaupun aku harus menyusunnya kembali.” Songji mengambil minuman kaleng ditasnya,

“tsk… kenapa kau tidak menghubungiku?? Ini khan tugas kita berdua” minho kesal dan mengambil minuman kaleng yaitu kopi ketika songji akan meminumnya, songji tidak melawan karena terlalu lelah

“itu salahku, aku yang ceroboh menghilangkan USB itu, jadi sudah menjadi tanggung jawabku, lagipula tadi malam sudah sangat malam, aku tidak mau menganggumu. Dan kalaupun aku menghubungimu kau tidak tau tempat tinggalku kan..” Songji menundukan wajahnya,

“mau dimana mengerjakan tugas untuk presentasi besok??” songji menoleh pada minho yang sedari tadi menatapnya

“dirumahmu saja, ngomong2 kau sudah makan” tepat ketika minho bertanya perut songji berbunyi, dengan bunyi itu minho sudah tahu kalau songji kelaparan. Minhopun menarik tangan songji menuju kedai makanan didekat mereka. songji hanya mengikuti minho dengan langkah lesu.

“lain kali kalau kau menyimpan sesuatu yang penting simpan ditempat khusus, jadi ketika kau lupa kau bisa mudah menemukannya,” songji hanya mengangguk, sambil meraih air digelas untuk dia minum, tapi tiba2 minho menaruh sedotan digelasnya. Songji menatap heran.

“karena ketika kau minum digelas selalu saja ada yang tumpah, lebih baik biasakan kau menggunakan sedotan apalagi ditempat umum, jaga imagemu jangan terlalu cuek sehingga mempermalukan dirimu, arra..” layaknya seorang kaka yang sedang mengajari adik kecilnya minho terus menerus menasehati songji agar merubah sikapnya yang selalu ceroboh.

“aku sudah biasa mempermalukan diriku sendiri, mau bagaimana lagi aku memang selalu ceroboh” songji kembali bersikap tidak perduli akan dirinya setelah tadi mendengarkan nasehat dari minho.

“tapi aku tidak biasa, dan aku kesal kalau kau sudah dipermalukan’ minho menatap songji dengan tatapan tajam, songji tidak jadi memasukan nasi kemulutnya, ia mengerutkan alisnya dan meletakan sumpit dimangkuk nasinya.

“kesal?? Kenapa?? ”

“ya.. aku kesal, karena orang yang aku pedulikan tidak memperdulikan dirinya sendiri”  minho berbicara dengan serius,

“hmmm.. gomawo kau sudah memperdulikanku” layaknya senior yang memperlakukan juniornya songji menepuk pundak minho, minho hanya menganga mendapatkan perlakuan yang tidak ia harapkan.

“lebih baik  kita cepat makan, tidak baik berbicara ketika sedang makan. Arrachi???? “ minho agak kesal dengan tingkah songji yang tidak peka, iapun mengaduk2 nasinya dan memasukan kemulutnya sampai mulutnya penuh. Setelah makan merekapun melanjutkan perjalanan menuju tempat kediaman songji, waktu sudah menunjukan pukul 5: 30 PM mereka masuk bis dan didalam bis tidak ada bangku yang kosong sehingga merekapun berdiri, minho berdiri disamping songji, ketika bis berhenti mendadak minho selalu sigap menahan tubuh songji agar tidak terjatuh dengan memegang bahunya songji. karena itu, minho pun menarik songji agar lebih dekat dengannya. Songjipun hanya menurutinya karena ia ingat kata-kata minho dia harus merubah sikap kecerobohannya, dengan mencari cara untuk meminimalisirkan akibat kecerobohannya, seperti sekarang ini, karena ia sulit menyeimbangkan tubuh ia harus mencari sesuatu agar tidak terjatuh dan cara yang ada sekarang adalah menerima pertolongan dari minho. Walaupun iapun agak jengah karena jarak tubuh mereka sangat dekat.

*****

“selamat datang ditempatku yang biasa ini.. heheh “ Songji membuka pintu tempat tinggalnya lebih tepatnya ternyata tempat tinggalnya adalah sebuah kamar yang berada dilantai 2, dengan kondisi yang tidak terlalu besar. baru saja ia masuk kakinya sudah menendang rak sepatu. Minho hanya menghela napas

“kau tinggal sendri??” minho melihat-lihat kamar songji, terlihat ada satu kasur berukuran kecil tanpa ranjang, televisi dan sofa kecil, ya… kalau dilihat-lihat dari semua barang yang ada tempat ini memang hanya untuk sendri.

“ne.. mian tempatnya sempit” songji menggeser buku-buku yang menumpuk kesamping kasurya agar minho dapat duduk.

“kau tidak pernah memasak??” minho melihat tidak ada dapur disana karena memang ini hanyalah sebuah kamar yang ada kamar mandi kecil.

“kalau libur aku biasanya memasak dibawah bersama ahjuma pemilik tempat ini, atau diluar kamar menggunakan itu” songji duduk diatas kasur dan menunjuk kardus berisi peralatan masak.

“memangnya orang tuamu dimana???”

“ada, mereka tinggal jauh dari sini, hey tujuan kita khan bukan untuk membahas tentangku, kajja kita harus beraksi lagi” songji mengeluarkan laptopnya. Minho terlihat berfikir, ia melihat sepertinya ada sesuatu yang songji sembunyikan tentang keluarganya, itu sangat terlihat dari caranya mengalihkan pembicaraan.

“songji-shi lebih baik kau tidur saja, biar aku yang menyelesaikannya” untuk kesekian kalinya songji menguap dan matanya sudah memerah. Songji menyilangkan kedua tangannya tanda menolak. Tapi beberapa menit kemudian songjipun tertidur, minho hanya tersenyum melihatnya, iapun membenarkan posisi tidur songji dan menyelimutinya. Minhopun melanjutkan mengetik tugasnya. Ketika selesai mengetik ia melihat kembali kamar songji, iapun menulis sebuah pesan dinote dan ditempelkan di layar laptop milik songji, dan juga ia memasang alarm dijam weker songji,

“Han Songji.. kenapa kau tidak pernah sadar dan tidak berusaha mencari tahu tentangku?? Semoga mimpi indah” minho membelai rambut songji dan hendak mencium pipi songji, tapi ia mengurungkan niatnya, ia hanya tersenyum. Songji agak menggeliat, minhopun langsung berdiri dan keluar dari kamar songji.

*****

Suara komentator bola terdengar jelas ditelevisi, 3 orang pria yang sedang duduk didepan tv tersebut bersorak ketika club bola andalan mereka mencetak gol. Akan tetapi minho yang biasanya paling bersemangat menonton bola malah berdiam diri dikamarnya.

“minho hyung… kau tidak menonton bola, ini khan club andalanmu, lihat mereka sudah mencetak 2 kali gol” teriak seorang pria yang terlihat paling muda diantara mereka ber3

“biarkan saja taemin, dia mungkin kelelahan” ujar pria berambut silver sambil memasukan snack kemulutnya, salah satu pria berambut hitam beranjak kekamar minho meninggalkan jonghyun sirambut silver dan taemin yang masih serius menonton bola

“apa gadis itu masih belum ada perubahan??” minho membuka matanya dan melihat orang yang tadi berbicara

“hmm… seperti itulah, apa yang harus aku lakukan key, apa aku harus menyatakannya langsung agar aku tidak kehilangannya??” minho memiringkan tubuhnya dan menjadikan tangannya menjadi bantalan kepalanya,

“aku rasa kau harus melakukannya, menurutku dia adalah type wanita yang tidak suka basa basi dan tidak suka bertele-tele, jadi walaupun kau sudah memperlakukan dia istimewa dia tidak akan memandangmu lebih, dia akan baru memandangmu ketika kau menyatakan langsung perasaanmu dengan mulutmu sendiri,  hati-hati dengan wanita seperti itu dia bisa melihat kau berbohong atau tidak,” minho langsung terduduk ketika mendengar perkataan key.

“tambahan untukmu,wanita seperti dia bukan wanita yang mudah dilepaskan ketika kau sudah mendapatkannya, jadi jangan lanjutkan perasaanmu kalau kau hanya berniat bermain dengannya” minho merenungkan perkataan key,

“key.. kau daebak, hanya bercerita sedikit tentangnnya kau sudah paham, kau memang hebat” minho memberikan pelukan pada key, key menggeliat ingin melepaskan diri dari minho dan berhasil.

“plakk…” key memukul lengan minho dengan kencang

“wae???? appa..” minho mengelus-ngelus lengannya

“kau itu terlalu bodoh, sudah berapa kali kau berkencan dengan wanita tapi kau tidak paham akan kepribadian wanita, dasar payah.” key mencibir

“ya… dia ini berbeda makanya aku bingung, lagipula aku selalu berganti-ganti pacar itu karena ingin melupakan dia’ minho masih meringis mengusap lengannya yang ternyata memerah akibat pukulan key, key membulatkan matanya

“kau…. Jadi kau sudah lama menyukainya” key Nampak kaget dengan penuturan minho, key mengguncangkan tubuh minho dengan semangat. “ kenapa kau tidak cerita padaku??” key memukul lengan minho kembali dan sekarang cetakan tangan key terlihat jelas dilengan minho

“appa.. “ minho makin meringis kesakitan, jonghyun dan taemin yang baru selesai menonton pertandingan bola langsung masuk kekamar minho karena mendengar perseteruan key dan minho

“itu hukuman dariku, karena kau merahasiakan hal ini” jonghyun dan taemin saling memandang karena tidak mengerti pembicaraan mereka

“yak!! Kalian sedang apa disini kembali kekamar kalian. Ini sudah malam tidurlah” jonghyun dan taemin yang sedang berdiri didepan pintu kamar terperanjat kaget karena terkena omelan dari key, taemin langsung berbalik menuju kamarnya

“kau jonghyun kenapa masih berdiri disitu??” key berdiri dihadapan jonghyun sambil menunjuk wajahnya.

“aku khan tidur bersama minho” jawab jonghyun polos, key hanya mendecak dan mendorongnya agar ia bisa keluar kamar. Minho tersenyum walaupun lengannya masih terasa sakit,

“key.. gomawo n mian.. nanti akan kuceritakan semuanya” key hanya menengok sebentar dan mendengus kemudian masuk kamar sambil membanting pintu kamarnya, jonghyun memandang minho meminta penjelasan tapi minho malah memejamkan matanya sambil tersenyum, dan jonghyun mengacak rambutnya kesal.

*****

Presentasi yang dilakukan minho dan songji berjalan dengan lancar, mereka mendapatkan nilai yang tidak buruk yaitu B, minho berencana setelah jam kuliah habis ia ingin mengajak songji jalan hanya berdua dengannya, ia sudah memantapkan hatinya untuk mengungkapkan perasaannya. Selama kuliah berjalan minho yang duduk dibelakang songji terus saja memperhatikannya, minho menutupi wajahnya dengan buku untuk menyembunyikan senyumnnya, tapi ada satu hal yang membuat minho penasaran, sedari tadi songji sibuk membalas pesan diponselnya, entah pesan dari siapa yang membuatnya kelihatan gelisah. Jam kuliah berakhir ,  songji dengan cepatnya memasukan buku-bukunya sampai bukunya terjatuh, minhopun membantu mengambilnya.

“songji-shi apa kau sedang ada urusan?? Kau dari tadi kelihatan tidak tenang??” songji memasukan buku yang diberikan minho

“ne.. aku duluan” songji melambaikan tangannya dan berjalan dengan terburu-buru, minho menghela napas panjang, ia melihat Arang yang melewatinya

“arang-ah.. songji ada urusan apa?? kenapa dia terburu-buru seperti itu,”

“tadi dia bilang ada janji dengan temannya, dan sepertinya juga ada masalah serius” jawab arang

“temannya wanita atau pria??”

“kurasa wanita” minho bernapas lega, arang yang melihatnya heran, minhopun berjalan bersama arang keluar kelas. Tidak jauh dari kampus songji sedang mengobrol bersama seorang wanita sebaya dengannya disebuah café, terlihat dari raut wajahnya mereka membicarakan hal yang serius.

“niera-ya.. menurutmu aku harus bagaimana, appa menjodohkan aku dengan anak temannya, appa bilang dia baik, sopan dan juga tentunya mapan, appa benar-benar sudah mempercayakanku padanya,” songji mengaduk-ngaduk minumannya

“apa kau masih memikirkan pria itu?? apa dia sudah menyatakan perasaannya?” niera menatap temannya yang sedang dilemma ini

“ne.. aku masih memikirkannya, tidak akan dia menyatakan perasaannya padaku. kau tau sendiri setelah sekian lama sepertinya dia cinta pertamaku, tapi aku ragu apa dia menyukaiku atau tidak, memang dia sangat baik padaku bahkan ia terlihat peduli padaku, tapi dia berkelakuan seperti itu bukan hanya padaku saja tapi pada wanita lain juga, jadi aku berkesimpulan kalau dia tidak punya perasaan khusus padaku. Dia bersikap seperti itu karena itu sudah menjadi sifatnya yang selalu bersikap baik pada wanita, lagipula aku tidak terlalu cantik untuknya” songji merosotkan tubuhnya dikursi, niera mendengus kesal

“percaya diri sedikitlah, apa salahnya kalau kau yang menyatakan langsung, sekarang khan jamannya emansipasi wanita, atau tunjukan suatu sikap yang menunjukan kalau kau punya perasaan lebih padanya”

“aku tidak bisa percaya diri kalau untuk hal ini, dan juga ketika aku ingin menunjukan perasaanku aku malah tidak mau menunjukannya, dimatanya aku hanya wanita yang ceroboh, cuek tidak pernah berdandan, sedangkan dia adalah pria yang tampan, perhatian, baik, dan juga selalu banyak wanita yang menyukainya dari junior sampai senior. Mana mungkin dia memilihku” songji memalingkan wajahnya keluar jendela, memerhatikan orang-orang yang lewat

“jadi kau lebih memilih memendam perasaanmu itu dan menerima perjodohan” songji hanya mengangguk

“kau sungguh anak yang penurut, sampai masalah jodohpun kau menuruti orang tuamu,” niera menggelengkan kepalanya, dia tidak mengerti dengan jalan pikiran songji, ponsel songji bergetar tanda ada pesan masuk. Songji membuka pesan tersebut ternyata pesan dari appanya.

“lee Jinki” songji bergumam membaca pesan dari appanya, ponsel songji bergetar lagi ada 1 pesan lagi masuk, ketika ia akan membukanya niera mencolek-colek tangan songji

“wae?? “ ia mendongak

“Choi Minho duduk dibelakangmu??” niera berbisik pada songji, ia membulatkan matanya dan tanpa sadar ia meletakan ponselnya dimeja, niera melihat foto yang ada diponsel songji

“songji-shi nuguya??” niera memperlihatkan foto pada songji, dan ketika itu minho menoleh kebelakang dan iapun melihat foto itu juga.

“Lee Jinki” ucap songji berusaha tenang berpura-pura tidak tahu kalau minho yang ternyata cinta pertamanya itu duduk dibelakangnya

“dia yang akan dijodohkan denganmu??” niera menunjuk foto pria yang ada diponsel songji, songji memejamkan matanya, dan mengatai niera bodoh dengan bahasa isyarat, niera lupa disitu ada minho, tapi mau tidak mau songji mengangguk untuk menjawab pertanyaan niera. Minho sangat terkejut dengan hal yang didengarnya, begitupun key ia langsung melihat raut wajah minho yang tadinya ceria menjadi suram,

“minho-ya.. sepertinya aku tidak membawa dompetku, lain kali saja aku mentraktirmu, kajja kita pergi sebelum pelayannya datang” minho mengerti kalau key sedang berusaha untuk mengajaknya keluar dari tempat ini.

Minho terus menutupi wajahnya, kini hatinya benar- benar sakit terdengar napasnya yang cepat, key melepaskan tangan minho dari wajahnya, terlihat wajah minho memerah dan air mata yang menggenang dimatanya,

“ini belum berakhir, dia baru akan dijodohkan” key menatap minho tajam

“dia menerima perjodohannya, dan itu sudah mengartikan bahwa dia tidak punya perasaan lebih padaku,” ucap minho dengan putus asa

“kau tidak akan pernah tau perasaan seseorang kalau kau tidak menanyakannya, jadi lebih baik kau temui dia sekarang, nyatakan perasaanmu  apapun jawaban yang ia berikan nanti kau harus menerimanya,” minho masih terdiam tidak bergerak

“yak!!! Cepat bangun, bergeraklah!! temui dia dan tanyakan apa dia menyukaimu??? kalau tidak kau akan menyesal” akhirnya keypun berteriak sampai minho menjauh karena kupingnya sakit akibat teriakan key.

Songji dan niera berjalan menuju halte bis terdekat, mereka duduk dihaltem, kebetulan tidak ada orang yang menunggu dihalte.

“jadi kau sudah memutuskan akan menerima perjodohan??” songji mengangguk

“lagipula dia tidak terlalu buruk, dia tampan, heheheh…” songji tertawa berusaha menghibur hatinya sendri

“saranku kalau kau tidak cocok dengannya tolak saja jangan dipaksakan, aku yakin appamu akan mengerti,”

“ne… “ songji tersenyum pada sahabatnya dari kecil itu,

“ah bisnya datang, gomawo sudah menyempatkan diri  mian aku hanya bisa mengantarmu sampai sini, kalau secuter maticku tidak rusak akan kuantar kau sampai rumah..” niera tidak menjawab ia menunjuk kebelakang songji, songji menoleh kebelakang sambil menyipitkan mata karena cahaya matahari sore yang menyilaukan, songji masih belum jelas melihat pria yang sedang berlari kearahnya sampai akhirnya ketika pria itu mendekat ia baru mengenalnya.

“hosh… hosh… aku harus bicara denganmu.. hoshh.. hosshh…” minho sangat berkeringat sampai rambutnya basah oleh keringat. Songji menuntun minho duduk dikursi halte, dan tepat ketika minho duduk bis yang ditunggu datang

“songji-shi.. aku duluan.. fighting!!!” niera masuk kedalam bis dan melambaikan tangannya ketika sudah didalam bis, songji hanya memandang kepergian niera yang menunjukan wajah senang. Ada apa dengan anak itu?? batin songji, songji merogoh tasnya

“ah.. untung saja ada, jangan bicara!! Ini minum dulu tenangkan dirimu, atur napasmu agar kembali normal” minho berusaha mengatur napasnya kembali normal, songji mengambil tissue dan mengusap keringat yang ada diwajah minho, seketika wajah mereka berdekatan.

“apa kau tidak merasa kejadian ini pernah terjadi??” minho memegang tangan songji yang sedang mengusap keringat dipelipisnya, napasnya sudah mulai teratur, songji berfikir dan akhirnya mengangguk

“aku ingat tapi waktu itu aku yang berada diposisimu, tapi apa yang membuatmu berlari seolah-olah kau terlambat, padahal kita tidak mempunyai janji.” Songji menyerahkan selembar tissue baru kepada minho

“kenapa tidak kau saja yang membersihkan keringat diwajahku??” minho menggoda

“kau masih punya tangan khan??” songji mencibir, minho tertawa

“hey kau belum memberitahuku kenapa kau berlari seperti itu, apa ada barangmu yang terbawa olehku??”

“ne.. kau sudah membawa hatiku” minho menatap songji dengan tatapan serius, songji terdiam wajahnya agak memerah

“huppff.. hahahah… kau gombal sekali, semenjak kapan kau menggombaliku, sudahlah cepat katakan apa yang ingin kau katakan” songji menahan tawanya, walaupun sebenarnya napasnya sempat berhenti ketika minho mengatakan kata itu, minho memegang kedua bahu songji dan mengarahkan padanya, minho menatap mata songji lekat-lekat , songji hanya berkedip-kedip bingung apa yang dilakukan minho

“aku… aku menyukaimu….. anni.. aku mencintaimu.. apa kau mau menerimaku sebagai pacarmu, anni… sebagai calon pendamping hidupmu??” songji menatap kedua mata minho ia mencari-cari tanda kebohongan dimata minho, tapi ia tidak menemukannya, ia hanya menemukan kesungguhan dimata minho,

“minho menyukaiku, sejak kapan?? Apakah ini nyata?? Pasti dia berbohong, ia hanya bercanda, aku yakin” batin songji

“Han Songji.. tolong jawab aku” terlihat wajah songji kebingungan, minhopun melepaskan tangannya dibahu songji dengan lemas.

“minho-ya.. kau benar2 menyukaiku??” minho mengangguk yakin. Bibir songji perlahan mengembangkan senyuman kemudian ia memeluk minho, minho yang terkejut memeluk balik songji dengan erat

“aku juga menyukaimu” songji berbisik ditelinga minho, mata minho membulat setelah mendengarnya iapun memeluk songji erat. Dan mengecup pipi songji, tapi songji langsung menjauh.

“wae??”

“siapa yang mengijinkanmu menciumku” songji membentak

“khan kita sudah resmi pacaran” jawan minho terkejut

“tapi kau jangan berbuat seperti itu dengan tiba-tiba, itu membuatku terkejut, ingat jangan melakukan hal seperti itu lagi tanpa seijinku, dan juga kita belum resmi pacaran karena kau masih harus menjelaskan kronolgisnya kenapa kau bisa menyukaiku” minho terkekeh, ia mengerti songji bersikap seperti itu karena bagi songji ini adalah hal pertama baginya, songji sibuk memegang pipinya yang memerah karena malu pada minho

“hujan..” minho bergumam

“terjadi lagi, kau ingat sedia payung sebelum hujan” songji membuka tasnya tapi minho yang mengambil payung ditasnya,

“minho-ya..”

“hmm.. hey mulai sekarang jangan panggil aku minho panggil aku oppa, aku khan lebih tua darimu,” gerutu minho, songji hanya mengangjat satu alisnya

“aku tidak akan memanggilmu oppa tapi ajushi” ledek songji, minho mendecak

“hujannya sudah mulai reda, ayo kita jalan untuk merayakan hubungan kita” minho membuka payungnya,

“boleh aku genggam tanganmu” minho meminta ijin, songji terlihat berfikir tapi minho langsung mengenggam tangan songji

“akhirnya aku tau bagaimana raut wajahmu ketika malu” songji hanya mengalihkan wajahnya dari minho, minho tersenyum. Ia menarik songji karena didepannya ada seseorang berlari dari lawan arah, songji kembali dipermalukan oleh minho

“ajushi.. sepertinya hanya kau yang berhasil membuatku malu”

“yak.. apa kau bena-benar akan memanggilku ajushi, aishhh… cup” minho mengecup pipi songji

“ini hukuman kalau kau memanggilku ajjushi” songji menghentikan langkahnya, dan mengusap pipinya dan berjalan mendahului minho..

“ya.. ya… jangan marah…” minho mengejar songji yang berjalan cepat

Setelah beberapa bulan mereka menjalani hubungan songjipun akhirnya mulai merubah dirinya, itupun berkat minho yang setia membantunya, ia sudah mulai membiasakan diri untuk berdandan, mengurangi kecerobohannya, minhopun merubah kamar songji menjadi terlihat lebih rapih, ia membuatkan rak buku kemudian membuatkan tempat khusus barang-barang penting agar songji tidak lupa kesulitan ketika mencari  barangnya. Untuk masalah perjodohan songji menolaknya dan appanya pun menerima keputusan songji.

“aku tidak menyangka ternyata kita sebenarnya sudah saling menyukai, kalau saja kau tidak menyatakannya waktu itu mungkin aku sudah menerima perjodohan itu” songji menatap minho yang sekarang sedang berbaring disampingnya memandangi langit,

“tuhan memberikan kita mulut yaitu untuk berbicara, jadi kalau kau merasakan sesuatu kau harus katakan, jika kau tidak mengatakannya maka orang lain  tidak akan mengetahui apa yang kau rasakan, dan aku akan menggunakan mulut ini untuk selalu mengatakan perasaanku yang harus kau ketahui yaitu aku akan selalu mencintaimu” songji tersenyum

“jangan terlalu gombal aku tidak suka pria gombal, sekali saja kau ucapkan itu sudah cukup bagiku” minho berbalik memandang songji

“tapi, kalau aku tidak katakana, aku takut kau tidak pernah tau kalau aku benar-benar mencintaimu, dan aku rasa sekarang aku ingin segera menikahimu”minho merogoh sakunya dan meraih tangan songji, ia memasukan cincin putih kejari manis songji.

THE END….

Akhirnya selesai juga FF yang terlalu banyak typo ini, jeongmal gomawo untuk para readers yang selalu bersinar, dan juga tidak lupa untuk staff SFFSI yang sudah mempublish FF aku.. See U in next FF.. semoga hari kalian selalu bersinar… ^^


©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

3 thoughts on “You Never Know [2.2]

  1. ni authorny sk ntn the comment nih wkwkwk
    hmm~~ akirnya ngomong jgaAaaa… klo ga ada yg maju tar ni ff jd sequel namanyaaa hahahaha
    minong~~ slalu tkg nyosor yeh emang…. hshaha

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s