Half Parents – Part 2

[FF Special Serial Stage: Half] “Half Parents”

( Part 2 )

It’s been a long time, ryte?

Well, maaf banget karena sudah menghilang dalam kurun waktu 5 bulan (mungkin lebih). Bener” maaf bgt karena masih belum bisa professional membagi otak dan waktu. Jadi, ceritanya El itu udah sibuk dengan mata kuliah PKK, dan PKK itu ada di tiap semester, PKK itu mata kuliah dimana aku harus praktek di rumah sakit, kekeke maklumlah, calon perawat (eciee). #plak Dan sakitnya, mulai dari tahun ke-2 ini, aku udah kedapetan sistem blok yg luar biasa sibuknya, bayangin aja, aku kebagian kelas dari jam 5 pagi sampe jam 9 malam. Huweee.. kapan bisa bikin FF-nya coba, dah gitu, aku ini suka sakit”an, jd kalau ada waktu kosong, aku pakai buat istirahat total (ahh, payah ya diriku). Ditambah lagi, selama liburan ini, El milih ngisi waktu dengan magang, ketimbang pulang ke rumah (bayangin aja, dr Januari sampai sekarang, ga pernah nginjekin kaki di rumah, padahal Bandung-Jakarta deket, tp liburan ini lebih milih kerja di Lampung coba) -.-”

Nah, jadi dari sekian banyak alasan yang membuat aku harus menghilang dari peredaran, mohon dimaafkan ya, walau sebenarnya semua alasan itu harusnya bisa aku hadapi sebijaksana mungkin. Tapi, begitulah, kelabilan yang membuatku begini L

Okay, ga mau panjang” lagi, deh. Ini FF lama sebenernya, tapi baru aku publish kelanjutannya. Buat remain lg, silahkan baca di (link) ^^

Here is the story… ^_^

Happy reading, all J

Author: I-el

Main Cast: Kim Kibum (23 tahun), Lee Hyunmin (para Locked, it’s the time for you)

Support Cast: Other SHINee’s member, also Ji Hyerin

Length: Sequel

Genre: Romance

Rating: NC 17 (sorry for that rating)

Summary : Apa eomma bercanda?!!!” tanya Key skeptis dan mulai frustasi.

Story line before: Tiba-tiba, appa dan eomma dari Key menelepon dan meminta agar anak semata wayangnya itu pulang ke Daegu, daerah asal Key dan keluarganya. Dan tanpa ba bi bu lagi, segeralah Key pulang menuju kota kelahiran dan kebesarannya. Daegu.-

***I-el      

***AUTHOR POV***

Saat pagi baru akan memunculkan sinarnya itu, entah mengapa terasa tidak seindah biasanya ketika sebuah hideline koran menjual judul yang tertulis besar, berbunyi: KEY SHINEE DAN JI HYERIN BERSELINGKUH DI DEKAT GEDUNG SM ENT. ??

            ”GILA!!!!” bentak Minho sambil berkacak pinggang dan berjalan mondar-mandir.

            Saat itu kira-kira masih jam 3 pagi KST dan suasana rumah Minho sudah memanas bahkan tanpa adanya matahari terik atau pemanas ruangan sekalipun.

            ”Tenanglah Minho!” pinta Jinki, sang leader yang tidak mau ikut-ikutan tersulut.

            Minho menatap Jinki sebentar, lalu mengambil tempat di sofa, di samping Hyerin, ”bagaimana aku bisa tenang, hyeong? Ini menyangkut Hyerin. Istriku. Tidakkah ini akan berefek tidak baik padanya?” Minho mengacak rambutnya frustasi.

            ”Yeobo, tenanglah. Jangan seperti ini. Aku.. aku.. hiks,” Hyerin mulai terisak.

Mungkin batinnya masih terlalu trauma untuk membayangkan bagaimana ia pernah berada di posisi terjepit seperti ini, kemudian harus merasakan kembali untuk kedua kalinya.

Jagiya, uljimma. Uljimma.” Minho berusaha menenangkan Hyerin yang mulai kalut.

Dan tanpa ba bi bu seorang Minho mendekap Hyerin untuk menyalurkan ketenangan yang istrinya tersebut butuhkan, ”tenang, sayang. Ada aku di sini.”

”Tapi..” kata Hyerin menyanggah.

”Sudah, aku tidak akan membiarkanmu kembali seperti dulu. Sekarang, kau punya aku yang akan selalu ada untuk menjagamu.”

Member SHINee lain yang melihat sedikit terkesima. Bagaimana tidak?! Pasangan yang beberapa waktu lalu sangat mengkhwatirkan, kini berubah 180 derajat menjadi tidak terpisahkan.

Mungkin beberapa dari mereka berpikir, ’apa yang terjadi pada mereka selama di Hawaii?’

”Baiklah, bagaimana kalau menghubungi Key? Dia harus tahu  masalah ini, bukan?” usul Jonghyun yang terlihat segera mencari nama Key di fasiltas kontak pada ponselnya.

”Tunggu!” Onew menghalangi niat Jonghyun. ”Kupikir jangan dulu. Dia pasti baru sampai ke rumahnya. Lebih baik kita tangani dulu masalah ini dengan cara yang ada, baru kita pikirkan cara memberitahu Key pelan-pelan.” lanjut Onew dengan tatapan serius yang ia edarkan keseluruh pasang mata yang ada di tempat tersebut.

”Usul hyeong boleh juga.” puji Minho yang masih menenangkan Hyerin.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

 

 

***Key POV***

Aigo! Myeot sie isseoyo?” aku tersentak terbangun dan menyadari bahwa tubuhku tertinggal dalam keadaan topless saat tidur.

Aku mengusap wajahku dan mengembuskan napas berat serta dan gusar.

Beberapa menit aku terdiam di atas tempat tidurku, aku terusik dengan suara berisik  yang berasal dari dapur. Aku pun memutuskan untuk keluar kamar, mungkin eomma sedang membuat sarapan.

Eo?” aku membulatkan mataku ketika melihat bahwa yang kutemukan adalah sosok yang tidak kukenal sebagai eomma ku. ”Nu-nugu?”  dengan takut-takut aku bertanya pada orang asing yang tiba-tiba muncul di dalam rumahku, siapa tahu dia memiliki niat jahat dengan keluargaku.

Dengan menjejak pelan di lantai kayu rumah, aku bergegas menuju ke kamar orang tuaku, aku takut terjadi apa-apa. Tapi, begitu aku membuka knop pintu kamar mereka, yang kudapati adalah terlelapnya eomma ku, sedangkan appa mendekap eomma hangat.

Kurasa, mereka baik-baik saja.

’Lalu, siapa yeoja yang ada di dapur itu?’ aku berpikir keras.

Dan akupun teringat dengan kejadian semalam, ketika aku baru saja sampai ke rumahku ini, di  Daegu.

Saat itu, aku terengah karena menyetir terburu-buru untuk sampai di Daegu karena selama perjalanan, eomma terus-terusan memintaku agar cepat sampai ke rumah.

Dan dengan napas yang masih memburu, secepat kilat aku memarkirkan mobil Minho yang kupinjam dan segera masuk ke dalam rumah setelah aku mengganti sepatuku dengan kasut rumah, tentunya.

Sudah barang tentu, secepat kilat aku ke kamar orang tuaku dan mendapati  eomma dan appa sedang dalam perbincangan yang tidak aku mengerti. Aku melangkah perlahan dan duduk  di samping eomma  yang terbaring setengah duduk di atas tempat tidurnya.

’Eomma.’

’Ahh.. Kibum sudah datang rupanya,’ kata eomma sambil mencoba duduk dengan posisi yang lebih baik.

’Katanya eomma sakit, kenapa jam segini belum tidur?’ tanyaku sambil menatap appa heran.

’Eomma mau menunggu kamu, sayang.’

’Kenapa? Kan besok pagi kita bisa bicara, apa harus selarut ini? Lagipula Ki lelah menyetir dari Seoul ke Daegu, eomma.’

Eomma tahu, tapi, eomma pikir, eomma harus mengatakan ini, sebelum esok pagi.’

’Apa ini hal yang sangat penting?’

’Tentu saja. Ini masalah yeoja. Apa kamu punya yeoja sekarang ini?’

Eomma, saat ini aku tidak memikirkan yeoja. Karir ku lebih penting, tapi jika eomma maksud yeoja yang aku sukai, mungkin ada. Tapi, sayangnya dia sudah bersuami.’

’Bodoh!!!’ kata eomma malam itu.

’Ya, tapi bukankah cinta itu tidak mengenal waktu?’ aku mulai menggurui eomma.

’Benar, tapi cinta itu mengenal siapa yang patut dicintai, siapa yang harus dihindari karena alasan tertentu. Dan pada kasusmu, dia sudah bersuami, dan itu salah.’

 

Dan menyadari perbincangan semalam, apakah ada sangkut pautnya? Entah, tapi sudah cukup beralasan untuk menyelidiki asal-usul yeoja ini lebih lanjut, dan yang paling penting bagaimana dia bisa ada di dalam rumah sepagi ini?

”Jadi, kalian sudah saling bertemu rupanya.” aku tak menyadari eomma sudah berdiri di belakangku dan appa berada di sampingnya.

”Ma-maksud eomma apa?” aku gugup karena bingung.

”Hyun-ah, apa kau sudah selesai memasak?” eomma beranjak dari tempatnya berdiri tadi, kemudian menghampiri yeoja yang dipanggil ’Hyun-ah’ itu, dan menangkup bahunya sambil tersenyum ramah.

”Sudah, eommonim.” sahutnya dengan senyum yang bagiku tak kalah manis dengan senyum Hyerin.

Sejujurnya, ini kali pertama aku spontan memuji yeoja asing, but, here’s the reality.

”Baiklah. Eommonim bantu merapikan meja makan kalau begitu.” sekilas aku melihat eomma beranjak menuju meja makan, ketika aku masih terpaku di tempatku berdiri. Sebenarnya aku bingung dengan circumstances yang tercipta sekarang, hingga aku jadi tidak tahu apa yang mau aku lakukan. ”Ah, sepertinya meja ini juga sudah disiapkan oleh calon menantu kita, appa.” sahut eomma dari ruang makan.

”Kalau begitu, tidak ada yang harus kau lakukan lagi, eomma.”

Appa benar, bagaimana kalau kita mandi saja?”

”Iya, usul yang baik. Biarkanlah dia menyelesaikan masakannya.”

Aku memandangi eomma dan appa bergantian, kemudian melemparkan pandangan ke Hyun-ah.

Masih tidak sadar dengan yang ada.

Baiklah dia calon menantu eomma. Calon menantu? Anak eomma kan hanya aku, berarti?!

Seketika aku segera tercengang-bengang, dan kesadaranku kembali karena aku mendapatkan sorotan teduh dari Hyun-ah.

Aish.. apa ada yang salah dengan kepalanya hingga melemparku dengan tatapan seperti itu?

”Kibum-ssi tidakkah kau mandi biar kita sarapan bersama?” suaranya yang terdengar selembut angin musim semi itu menambahkan tingkat kesadaranku.

Omo!” seruku begitu menyadari bahwa aku telah memuji yeoja asing ini.

Aku gelagapan.

Wae?” mungkinkah dia mengkhawatirkan aku?

Ani.” timpalku.

Aku pergi menuju kamarku, kemudian duduk sambil bersender di tempat tidurku. Aneh, biasanya aku akan bersikap agak ketus diawal perkenalan pada siapapun, tapi kenapa tidak pada yeoja yang masih ada di luar sana itu, ya?

”Sudahlah, daripada aku makin bingung dengan keadaan ini, lebih baik aku mandi.”

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

 

***AUTHOR POV***

            Ada sekitar 20 menit, Lee Hyunmin, gadis yang secara ajaib ada di rumah Kibum pagi-pagi sekali tersebut, melanjutkan kegiatan memasak menu terakhir, kemudian meletakan tumisan sayuran itu di mangkuk sedang, meletakannya di meja, dan merapikan sedikit lagi tata meja makan keluarga Kim.

            Tak lama, tuan dan nyonya Kim, yang akrab dipanggil lidah Hyunmin dengan sebutan aboeji dan eommonim itu menempati bantalan masing-masing dalam posisi makan yang masih tradisional, duduk bersila di lantai kayu. Suasana makan yang hangat, tentu dengan adanya menu makanan yang sehat melengkapi suasana semangat pagi ini.

            Nasi hangat yang pulen, dilengkapi dengan telur dadar gulung yang dicampur dengan kacang polong dan potongan dadu dari wortel segar. Lalu, di piring lain terliat ada irisan tipis daging yang ditumis saus tiram bersama dengan paprika merah, kuning dan hijau yang masing-masing dipotong memanjang. Ditengah meja, di dalam mangkuk yang paling besar, ada kacang merah yang direbus dengan kuah kaldu sapi, diberi irisan daun bawang dan taburan bawang merah goreng. Dan di sisi lain meja, telah ada potongan apel merah, siap untuk dimakan.

            ”Huwaa.. Banyak sekali makanan yang disiapkan! Appa sampai bingung harus makan yang mana terlebih dahulu.” tuan Kim memecahkan keterasingan yang timbul.

            ”Makan buah apelnya terlebih dahulu.” sahut nyonya Kim berbarengan dengan Hyunmin.

            Mata tuan Kim membulat. Tidak biasanya kedua wanita tersebut bisa bicara bersamaan dalam waktu yang sama pula.

            ”Baiklah, karena sudah ada 2 orang perawat yang menyarankan makan apel lebih dulu, appa akan makan apelnya.” putus tuan Kim diikuti kerutan kening dari Kibum yang makin nyata. ”Ki, sebaiknya kau juga makan apel itu.”

            ”N-ne, appa.” Kibum pun ikutan mengambil potongan apel itu, dan memasukannya ke mulut, begitu pula nyonya Kim dan Hyunmin lakukan.

            Seselesainya memakan apel tersebut, nyonya Kim segera membantu suaminya untuk menyendoki nasi ke mangkuk, dan membantu mendekatkan piring-piring sayur dan lauk yang ada.

            Dalam suasana yang tenang di pagi itu, nyonya Kim mengambil jeda untuk mulai menyuarakan apa yang sejak lama ingin ia bicarakan pada anak semata wayangnya, tapi terkendala kesibukannya di dunia entertainment, membuat ia sering mengurungkan niatnya untuk mengangkat pembicaraan ini ke tahap yang serius.

            ”Kibum.” panggil nyonya Kim lembut.

            Kibum memalingkan wajahnya kepada Ibunya, ”ne, eomma.”

            Nyonya Kim menatap tuan Kim yang segera dibalas dengan anggukan mantap dari suaminya, ”begini, eomma dan appa sudah lama membahas ini sebelumnya. Sebelum itu, Kibum perkenalkan ini Lee Hyunmin,” nyonya Kim menggeser posisinya mendekat pada Hyunmin. ”Dia juga perawat di rumah sakit tempat eomma bekerja, jadi kami sudah kenal cukup lama, selama dia bekerja pertama kali di rumah sakit, sekitar 2 tahun yang lalu.” terang nyonya Kim.

            Hyunmin membungkukan badan kaku, dibalas dengan bungkukan badan Kibum juga sambil mengangguk, tanda mengerti penjelasan ibunya.

            ”Dan jadi eomma berpikir untuk menjodohkan kalian berdua secepatnya, bukankah begitu, appa?” pertanyaan nyonya Kim mendapat anggukan mantap dari tuan Kim, tanda dia menyetujui hal yang disampaikan istrinya.

            Mata Hyunmin membulat, dirinya memang tidak tahu menahu masalah ini sebenarnya. Yang ada dibenaknya, mungkin diri laki-laki yang ada dihadapannya tidak akan menerima hal ini, sama seperti dirinya yang belum siap.

            ”Jam-jamkanmanyeo.” Hyunmin terbata. ”Bukankah kemarin anda bilang hanya akan mengenalkan saya dengan anak anda, eommonim?”

            ”Iya, memang mau diperkenalkan. Dan tujuan utamanya adalah untuk membahas masalah pernikahan kalian berdua nantinya.” wajah nyonya Kim sumringah, mungkin dipikirannya adalah bayangan anak semata wayangnya yang sedang berdiri di mimbar gereja sambil mengucap janji suci bersama dengan menantu yang ia pilih sendiri.

            ”Apa eomma bercanda?” tanya Kibum skeptis dan ia terlihat mulai frustasi. Seakan kesadarannya yang beberapa waktu tadi belum berkumpul, kini mendesak minta dikeluarkan dari mulutnya.

            Hyunmin terkesiap melihat ekspresi Kibum yang muncul tiba-tiba.

            ”Eomma tidak bercanda sayang. Lagipula eomma begini karena kamu belum juga memiliki kekasih, sementara Minho, teman satu grup kamu bahkan sudah memiliki anae.”

            ”I-iya, tapi tidak begini caranya, kan eomma. Lagipula aku ke Daegu karena eomma sakit, bukannya membicarakan hal ini. Apa jangan-jangan eomma pura-pura sakit agar bisa membuatku kesini di tengah kesibukanku yang padat, heo?!” suara Kibum mulai meninggi.

            ”Ki-Kibum, eomma. Eomma benar-benar sakit, kamu..” nyonya Kim terlalu syok mendengar nada bicara Kibum yang demikian. Dia tidak bermaksud membuat Kibum marah, hanya  ingin membeberkan apa yang menjadi keinginannya sejak lama, itu saja.

            ”Omo, apa yang aku lakukan tadi.” Bagai tersadar dari rasukan roh, Kibum mengusap wajahnya dan segera menghampiri ibunya, lalu memeluknya.

            Hyunmin yang mengerti bagaimana menempatkan diri, segera bergeser menjauh dari nyonya Kim, sementara tuan Kim hanya melihat saja apa yang ada di hadapannya, tanpa tanggapan.

            ”Jadi, Kibum tidak suka dengan keputusan eomma?” nyonya Kim mengendurkan pelukan anaknya, kemudian menatapnya intens.

            ”Entahlah, eomma, mungkin aku butuh waktu untuk memikirkannya.” jawab Kibum dengan wajah tertunduk, sementara Hyunmin masih tetap diam, tidak bereaksi. ”Kalau begitu, eomma, appa, aku pamit, sebaiknya aku antar Hyunmin pulang, bagaimana?”

            ”Hah? O-o iya, kebetulan aku mau pulang sebentar, eommonim, aboeji.” sahut Hyunmin.

            ”Baiklah kalau begitu.” nyonya Kim mengangguk setuju. ”Antar dengan berjalan kaki saja ya, Kibum. Rumahnya tidak terlalu jauh soalnya.” lanjut nyonya Kim sambil menyodorkan sebuah kotak bekal ukuran sedang milik Hyunmin untuk Kibum bawa. ”Bawa ini, nanti jangan lupa berikan ini padanya untuk dia jadikan bekal saat bekerja.”

            Kibum dan Hyunmin terlihat berjalan berdua di sepanjang jalan setapak menuju rumah Hyunmin yang Kibum sendiri tidak tahu ada dimana.

            Dan untuk meremukan keheningan diantara keduanya, Kibum memulai dengan pertanyaan, ”Jadi, kau sudah lama kenal eomma?”

            ”Eo?” Hyunmin kaget karena dia sama sekali tidak terbayang Kibum mau berbicara padanya, padahal tadi dia baru saja menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap rencana yang ibunya buat sendiri. ”Eung, ya, kurang lebih begitu. Aku kenal beliau sejak aku praktek di  tahun akhir masa sekolahku di keperawatan. Dan sekarang aku juga diterima bekerja di rumah sakit tempat kami bekerja, berkat bantuan eommonim yang menjabat sebagai head nurse.” jelas Hyunmin, membangkitkan antusiasme Kibum lebih jauh untuk tahu.

            ”Membantu bagaimana? Kau langsung masuk begitu saja? Bukankah itu curang?” Kibum melempar rentetan pertanyaan yang malah membuat Hyunmin bingung untuk menjawab.

            ”Itu.. um bukan begitu, Kibum-ssi. Eommonim membantu perekrutan namaku saja. Dia mengusulkan namaku sebagai mahasiswa freshgraduate yang kira-kira boleh mengikuti tes penerimaan tenaga medis yang baru dan mengikuti masa probation, lalu selebihnya aku berjuang sendiri dengan otakku.” Kibum mengangguk-angguk sambil sesekali mengelus dagunya yang tajam, sedangkan Hyunmin mencuri-curi waktu untuk memandang Kibum.

            Baru sebentar keduanya merasa suasana menghangat, kebekuan itu datang lagi ketika keduanya sama-sama takut untuk memulai pembicaraan, sampai akhirnya Hyunmin memberanikan diri untuk melempar pertanyaan pada Kibum.

            ”Bagaimana denganmu, kenapa kau tidak mengikuti kemauan eommonim dengan menjadi euisa dan lebih memilih menjadi artis seperti sekarang?” pertanyaan yang membuat Kibum stuck ditempatnya. ”Apa karena uangnya lebih banyak?” tanya Hyunmin lagi, sesaat Kibum tengah menarik napas untuk menjawab pertanyaan Hyunmin sebelumnya.

            ”Aish kau ini!” tanpa sadar Kibum melancarkan jitakan ke kepala Hyunmin.

            ”Aya! Sakit tahu. Aku bisa melaporkan ini sebagai tindakan penganiayaan.” ancam Hyunmin yang dibalur dengan senyum canda khasnya.

            ”Ya! Kau ini, mau tidak pertanyaanmu ku jawab?” Kibum melipat tangannya ke depan dadanya, dan segera Hyunmin mengangguk. ”Sebenarnya pertanyaanmu itu adalah satu dari sekian banyak pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Aku sampai sekolah ke luar negeri, tapi tidak tahu juga untuk apa.”

            ”Bukankah agar kau lancar bahasa Inggris?” tanya Hyunmin memastikan.

            ”Iya sih, tapi tadinya akan lebih bermanfaat kalau aku masuk di bidang kedokteran, bukan?”

            ”Ahaha, kau ini plin-plan, ya. Oh ya, ngomong-ngomong kita sudah sampai di rumahku. Kurasa kau boleh pulang sekarang.” pinta Hyunmin dengan sopan, dan lagi-lagi membungkukkan badannya.

            Kibum membalasnya dengan senyuman hangat, kemudian memutar haluan arah badannya kembali menuju rumahnya.

            Dari jauh Hyunmin tersenyum girang, dan memasuki rumah yang kecil. Dari muka pintu, Hyunmin bisa segera menghirup aroma alkohol yang tajam, menusuk hidungnya.

            ”Appa!” panggil Hyunmin.

            Mencium bau alkohol, melihat perabot rumah yang seketika porak-poranda, serta pakaian-pakaian kotor dan bersih yang tidak beraturan, pikiran Hyunmin segera memberi sinyal untuk menemukan dimana ayahnya yang sudah barang tentu menjadi oknum dibalik ini.

            ”Errrr..” suara erangan nada bass terdengar sayup berasal dari salah satu kamar di rumah itu.

            Dengan sigap, Hyunmin mempercepat langkah kakinya, menghampiri ayahnya yang terkapar di lantai kayu.

            ”Appa?!” panggil Hyunmin sambil menepuk pelan bahu ayahnya.

            ”Eh, Hyun-ah.” mata sang ayah terbuka sayu, kemudian terpejam lagi. ”Sini sayang, peluk ayah!” seketika itu sang ayah langsung terduduk, kemudian menggelayut di bahu Hyunmin.

            Dengan badannya yang kecil, Hyunmin berusaha menahan tubuh ayahnya. Entah apa yang saat itu ada dipikiran sang ayah, tiba-tiba iya memeluk erat tubuh Hyunmin, menahan tengkuknya, kemudian mencoba untuk mencumbu anaknya. Merasa ada yang tidak wajar, segera ia singkirkan tubuh ayahnya, dan masih dengan posisi duduk, Hyunmin membawa tubuhnya menjauhi sang ayah.

            ”KYAAAAAA!!!!!” teriak Hyunmin, ketika ayahnya menarik kedua kakinya dan menyeretnya mendekat. ”APPA! APPA!” teriak Hyunmin lagi mulai panik.

            ”Ayolah Hyunmin, sudah berapa lama kau masih belum memiliki kekasih, kan? Bagaimana kalau kau dengan appa saja?” dengan senyum seduktif, beliau kembali menarik kaki Hyunmin.

            ”Andwae, appa!” teriak Hyunmin lagi sambil terus mencoba menyeret dirinya mundur. Tak jarang ia mencoba menendangkan kakinya, demi  mendapatkan kebebasan dari cengkraman tangan ayahnya yang kuat.

            ”ARGGGHHH!!!” teriak si ayah dengan menarik keras kaki Hyunmin, kemudian memeluk erat Hyunmin.

            Hyunmin mencoba memukul, melepaskan diri dari pelukan ayahnya yang dengan brutal menarik lepas baju yang dikenakan Hyunmin, mencumbu dengan garangnya setiap inchi permukaan kulit Hyunmin yang terekspos. Hyunmin hampir menangis, tapi suara tangisannya kalah dengan teriakan Hyunmin yang minta untuk dilepas, tangisannya tenggelam oleh permohonan doanya agar ia bisa terlepas dari keadaan yang menakutkan itu.

            ”APPA.. APPA!!” teriak Hyunmin sambil menahan isakan lagi, berharap ayahnya akan mendengarkannya lalu tersadar.

BRAKK…

            Suara gebrakan pintu terbuka, dan di depan pintu itu, sosok lelaki tinggi, dengan rambut blonde, memberi tatapan melebar kepada Hyunmin dan ayahnya yang tiba-tiba berhenti menjamahi tubuh Hyunmin.

            ”Hyu-Hyunmin!” seketika tersadar, sosok itu segera menendang bahu ayah Hyunmin menjauh, lalu menarik Hyunmin untuk menyelamatkannya.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

***Key POV***

            “Kau, tidak apa-apa, kan?” tanya Key hati-hati sambil meraba pelan bahu Hyunmin yang masih bergetar. “Maaf, aku tadi kembali untuk memberikanmu bekal ini, tapi aku malah jadi melihat yang seperti tadi.” Katanya lagi sambil mengaitkan jaket pada bahu Hyunmin.

            “…” Hyunmin tetap tidak bersuara.

            “Mestinya kau bekerja shift pagi ini, kan? Bagaimana kalau aku antar kamu sekalian ke rumah sakit?” Key memperhatikan penuh wajah Hyunmin, mana kala ada reaksi dari dirinya. Tapi, yang ditemukan Key adalah nihil. Hyunmin masih memandang kosong ke arah rerumputan yang mulai botak. “Baiklah, kalau kau masih tetap mau begini, aku pergi. Memang dari awal, seharusnya aku tidak tahu-menahu tentang dirimu.”

            Key mengangkat duduknya dari bangku taman yang mereka duduki, tapi kemudian Hyunmin menarik tangan Key, dan membuat Key kembali duduk, lalu memperhatikan wajah Hyunmin yang masih saja tertunduk itu.

            “Ka-kau, tadi lihat kan?” bisik Hyunmin dengan kalimat yang tersendat. Key mengangguk. “Appa menjadi seperti itu semejak eomma meninggal, dan biasanya aku akan mengungsi di rumahmu kalau dia sedang mabuk.” Jelas Hyunmin ragu-ragu.

            Key mencoba membuat dirinya memahami kondisi yang sedang dihadapi Hyunmin. Dia tahu bahwa masalah yang sedang Hyunmin alami tidaklah ringan. Batinnya benar-benar terluka, pikirnya.

            “Key..” panggil Hyunmin dengan suara yang lemah, tapi sarat getar ketakutan. “Bawa aku pergi dari sini! Tolong, bawa aku menjauh dari sini!! Kemanapun, aku ikut. Kalau perlu, nikahi aku, Key, agar appa tidak lagi menggangguku.” Pinta Hyunmin dengan tatapan nanar, seraya menggoncangkan tubuh Key sekuat tenaganya yang tersisa. “Bantu aku, jebal.” Kalimat Hyunmin terakhir, sebelum ia akhirnya benar-benar meluapkan tangisannya.

            “Hyun-ah, aku tidak tahu bagaimana cara membantumu, tapi kalau memang pergi dari sini bisa membuatmu bebas, aku akan berusaha. Dan untuk menikah, aku rasa aku tidak bisa. Aku tidak berhak atas dirimu, dan aku yakin kau pasti tahu kalau hal ini akan menimbulkan masalah yang lain.” Jelas Key sambil memeluk Hyunmin. Ia mengusap punggung Hyunmin, dan membelai rambut hitamnya. Dan di dalam otaknya ia sedang berpikir, tapi entah apa yang ia pikirkan.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

#ToBeContinue

Eaaa gimana? Gimana? Nanggung ya? Ahahaa

Yang bias baca FF aku, pasti tahu lah aku ini tipe yang bagaimana. Suka ngerjain yang baca dengan akhir yang aneh-aneh. Biasa, biar greget😄

Dan yang pasti, bikin kalian mikir keras gimana kelanjutannya kan?

Okay, stay tuned di Half Parents, karena kelanjutannya akan segera dirancang😄

Maaf sekali lagi untuk FF yang mungkin agak mengecewakan kalian ini karena kelamaan ya? Maaf maaf bgt ^^

Nah, buat yang baru-baru masuk sekolah, selamat beradaptasi ya. Hayo yang MOS.. yang MOS mana suaranya? Yang OSPEK, udah pada siap belum?

Mana lagi ini si Lana, ga kedengeran kabarnya masuk mana, jurusan apa pula -.-“

AHAHA😀

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Baiklah, see ya! ^_^

7 thoughts on “Half Parents – Part 2

  1. annyeong Ji el….🙂

    saya gk tau udah pernah baca ini apa belum, dan agak sedikit mikir bacanya…

    awal baca nyambungnya klo Key jadi orang ketiga antara Minho-Hyerin..

    saya ngerasa lumayan cepet ya, proses kenalan Kibum-Hyunmin sampe akhirnya Key jadi tau masalah Hyunmin n Appa-nya..

    sepertinya saya harus baca dari awal nih biar lebih ngerti..

    Ok Ji el, ditunggu kelanjutannya ya..

    Oiya, saya juga di Lampung loh..😀

    1. Ehehhee..
      o iya, mian, emg krn FF ini kelamaan munculnya, pasti banyak yg lupa.
      Apalagi klo blm baca Half Married –”
      Kekeke..
      Tak apa, tetep semangat!! ^_^

      Thanks for ur comment🙂

  2. Ahhhh lanjutannya ppaliiiii~~~~
    Ini ff lanjutan apa gmn sih eon?
    Kok aku kaya pernah baca kisahnya minho sm hyerin yaa?
    Miannn aku lupa hihi
    Ditunggu kelanjutannya eonni♥

  3. aku merasa alurnya kecepetan. eh tapi gak tau juga, apa akunya yg baca terlalu cepet ato gimana.. hehehe

    rerumputan yang mulai botak.
    aduuuh ngakak bgt baca kalimat ini. gimana klo diganti “padang rumput yang mulai gundul”
    hahahaha apa pula itu. hahaha
    lupakan lupakan

    nikahin aja deh key. kasian itu hyunmin
    lagian key jg udh ngerasa gimana gitu ya pas pertama kli liat hyunmin.
    tatapannya yg teduh
    suara yg lembut bagaikan angin musim semi
    asyiiiiiik
    hahahaha

    ditunggu part selanjutnya
    aku hmpir lupa klo pernah baca ini. wkwkw

    semangat ^^9

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s