Beautiful Stranger [Chapter Six]

Beautiful Stranger

AKU menguap lebar.

      Pagi-pagi sekali sudah ‘berteleportasi’ ke perusahaan. Mata berat, lingkaran hitam juga menghiasi kantung mata. Belum kering bibir ini mengatakan kalau kejadian kemarin ketika Jinki menciumku paksa di kotak telepon adalah kejadian biasa―aku sudah pernah melakukannya dengan Kris dulu. Tapi pada kenyataannya aku tidak bisa tidur. Bayangan wajah Jinki berputar di kepala membuatku muak. Dia gila! Er, tidak, akulah yang mulai gila.

      Kesimpulannya, hari libur kemarin tidak termanfaatkan dengan baik. Sepulangnya dari rumah Jinki aku memang menghabiskan sisa hari dengan berbaring bermalas-malasan di kamar. Tapi pikiran dipenuhi cerita sedih Jinki yang diungkapkan ibunya, adegan cium tiba-tiba di kotak telepon, hingga teror telepon dan pesan yang dilayangkan Kris tiada henti, semua itu bukanlah istirahat. Beruntung kepalaku tidak pecah.

      Sarapan tadi pagi pun tidak membuatku menjadi lebih baik. Sebaliknya, Appa menjungkirbalikkan moodku. Ia tiada henti bertanya seperti apa kegiatanku dan eomma selama menetap di Vancouver.

      Ah, hidupku sudah cukup buruk, tolong jangan tambahkan wanita itu lagi di dalamnya!

Perutku sejak semalam kurang bersahabat. Terdapat tekanan di bawah perut, seperti ada silet tak terlihat yang sedang menyayat secara perlahan. Pagi ini rasanya jauh lebih sakit ketimbang semalam. Sayangnya tidak ada libur tambahan.

      Suara musik dengan beat sedang terdengar meski aku masih berada di lantai dua. Sepagi ini seseorang sudah berlatih atau ia tidak pulang dan masih berlatih. Aku mendengarkan musik dengan seksama sambil menaiki tangga satu per satu. Lagu berbahasa Inggris yang tidak kukenal. Sepertinya koreografer yang ada di ruang latihan. Musik ini cocok untuk slow-dance. Pintu sedikit terbuka, jadi aku tergoda untuk mengintip. Bukan koreografer seperti yang tadi kupikirkan, melainkan Lee Jinki yang terus menari meski peluh membanjiri baju dan menetes di tiap helai rambutnya.

      Why are you so hard working yet freak, Jinki?

      Beberapa kali ia berhenti ketika batuknya sudah tidak bisa mentolerir. Kudengar napasnya juga semakin berat. Aku berani bertaruh kalau demamnya belum sepenuhnya sembuh. Dia benar-benar makhluk terbodoh yang pernah kutemui di dunia!

      Aku membuka pintu dan berjalan lurus masuk ke dalam. Ia menoleh untuk melihatku, namun berusaha tidak peduli. Jadi aku duduk jauh di belakang, menatap pantulannya dari cermin raksasa yang menutupi satu sisi dinding. Keringat dingin bermunculan seiring aku menahan rasa sakit di bagian bawah perut. Namun keringat ini masih jauh lebih sedikit ketimbang Jinki yang sedang berlatih. Ia terus menari, menari, dan menari…

.

.

.

      Satu setengah jam berlalu. Jinki masih menari meski wajahnya sudah sangat pucat. Aku bahkan sudah merampungkan lima buah rancangan pakaian dan ia masih saja menyiksa diri seperti itu. Bahkan sesekali meneriakkan nada-nada dari mulutnya dengan dalih mengolah vokal. Ini bukan latihan, ini neraka!

      “Menarilah sampai mati!” teriakku.

      Dia berhenti menari, berjalan ke seberang ruangan untuk mematikan musik kemudian berjalan ke arahku.

      “Sekarang katakan padaku bagaimana bisa aku tak menuduhmu sebagai sasaeng kalau kau masih terus mengikutiku seperti ini!” serunya dengan kedua tangan di pinggang.

      Kami saling pandang, menatap mata satu sama lain.

      Aku bisa melihat jiwa kesepian di dalam sana. Seperti raga yang memaksa memenjarakan jiwa jauh di lubuk hati. Sesuatu di dalam sana seakan-akan memanggilku, meminta bantuan, namun tiba-tiba ia memutuskan pandangannya dan berbalik berjalan ke ujung ruangan untuk mengambil handuk. Kontakku dengan jiwa itu terputus.

      “Tinggalkan aku sendiri!”

      “Aku akan pergi setelah menerima permintaan maaf darimu.”

      “Untuk apa?”

      “Atas kejadian kemarin. Jika kau masih berpikir bahwa aku ini adalah sasaeng, maka artis macam apa yang mencium paksa penggemarnya?” tanyaku agak gusar karena kondisi perut semakin tidak bersahabat.

      “Bukankah kau sendiri yang bilang sudah terbiasa dengan hal itu? Aku mengerti, kau tinggal di luar negeri sebelumnya. Bagimu itu hal yang lazim ‘kan?”

      “Ap―”

      Tangan kiriku refleks memegang perut ketika kram tiba-tiba muncul. Tapi aku tidak bisa menampakkan ekspresi sakit saat ini, aku benci terlihat lemah di hadapan Jinki. Dia akan semakin berkuasa nantinya.

      Ia berjalan menghampiriku.

      “Mau apa kau?” tanyaku, bersusah payah menggerakkan tubuh untuk mundur beberapa sentimeter. Kejadian di kotak telepon kemarin berkelebat di pikiran. Aku bersumpah akan membunuhnya jika ia melakukan hal itu lagi di sini.

      “Kenapa takut?” Ia balik bertanya.

      Napasku semakin tidak teratur. Perut seperti sedang memeras dirinya sendiri. Tidak ada yang kuinginkan saat ini selain berbaring. Hanya saja tidak bisa, Jinki hanya berjarak beberapa meter dariku. Ini jauh lebih berbahaya dari nuklir yang siap meledak.

      “Jangan mendekat!” seruku dengan suara bergetar. Napas berembus lebih cepat. Aku sudah tidak bisa mundur, punggungku sudah menyentuh dinding dan ia masih berusaha mendekatiku.

      Jinki melirik lantai dan mengerutkan alisnya. “Apa itu?” tanyanya.

      Aku mengikuti arah pandangnya dan memekik. Astaga period!!! Aku buru-buru mengeluarkan tisu basah dari dalam tas dan membersihkannya. Jinki masih terpaku di tempat, begitupula denganku. Sudah tidak mampu lagi berusaha menutupi kesakitan, aku mulai meringis. Rasanya sakit sekali. Menggerakkan jempol kaki saja rasa sakit bisa menjalar ke perut.

      Jinki mundur beberapa langkah, ia berbalik dan pergi keluar ruangan.

      “Tidak… tunggu!”

      Untuk kali ini aku butuh bantuanmu, Lee Jinki

      Pintu terbuka, aku merasa sedikit lega harapan akan ia kembali terwujud. Namun, lidahku tertahan ketika akan memanggil nama “Jinki” setelah melihat Kris berdiri di ambang pintu. Ia berlari menghampiriku.

      “Kau kenapa?”

      “Period,” jawabku. Tanpa banyak bicara ia langsung menggendongku ke pintu lain menuju toilet.

      “Kau bisa jalan?” tanyanya.

      “Sekarang… ya.” Ia memegangku erat-erat, lengan panjangnya dengan sempurna membungkus pingganggku. Matanya tak pernah teralih dari perutku. Ini sedikit membuatku kurang nyaman hingga aku melepaskan diri darinya. “Terima kasih sudah datang. Kau selalu ada ketika aku seperti ini. Memalukan sekali.”

      Kris tersenyum simpul. “Kau selalu seperti ini setiap bulan, periksakan ke dokter, aku sudah bilang ratusan kali.”

      “Tidak usah. Aku masih normal,” tolakku lembut sambil menepis tangannya yang akan membelai kepalaku.

      “Tunggu di sini aku segera kembali.”

      Ia berlari keluar. Aku baru sadar ia mengantarku hingga masuk ke dalam toilet wanita. Beruntung tidak ada siapapun selain kami di sini.

      Aku menaruh tas di atas westafel dan mengeluarkan celana ganti. Pertanyaan mengenai mengapa-Jinki-meninggalkanku-yang-terlihat-seperti-sedang-sekarat terus bergulat di pikiran. Sekarang aku tahu sedalam apa ia membenciku dan harus sedalam apa aku membencinya. Dia tidak akan pernah bisa melihatku sebagai manusia. Di dalam pikirannya aku hanyalah seorang penggemar gila.

      “Kau selalu menarik, berhenti menatap dirimu sendiri melalui cermin,” Kris membuyarkan lamunanku.

      Rasanya seperti de javu, dulu aku selalu seperti ini di sekolah dan Kris tak pernah absen membantuku. Ia bahkan lebih hafal jadwalnya dibandingkan aku. Ia mengenalku lebih baik daripada diriku sendiri.

      “Dari mana kau dapatkan itu?” tanyaku tak percaya ketika ia menyerahkan sebuah bungkusan yang kuyakini sebagai pembalut.

      “Mama.”

      “Mama di sini? Di Seoul?!” pekikku tapi Kris sudah mendorongku ke dalam bilik toilet sebelum ia menjawabnya.

***

Jantung berdegup kencang, sangat kencang malah, ketika mata menemukan sosok wanita sangat tinggi di lobi perusahaan. Mataku menyusuri tiap jengkal tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki. Aku tidak pernah segugup ini sebelumnya ketika bertemu dia. Dress abu ketatnya dengan belahan pendek di bagian belakang membuatku agak malu karena muncul hanya dengan balutan jaket dan celana jins bladus berikut sepatu kets dan rambut ekor kuda yang kuikat sangat tinggi. Di Vancouver aku tidak cukup boyish di matanya.

      Aku merapatkan jaket dan merapikan rambut. “Mama,” panggilku.

      Ia berbalik. Ekspresi keibuan yang kental terukir jelas di wajahnya setiap kali melihatku. Aku merindukannya hingga tulang lapisan terdalam. Ingin lari menghambur ke dalam pelukannya tetapi tidak bisa, karena dengan begitu ia akan tahu kalau aku tidak sebaik yang ia lihat.

      “Sena,” lirihnya. Aku bisa melihat cairan bening seperti kristal menggenang di pelupuk matanya. Kemudian ia berjalan ke arahku, memelukku erat sambil beberapa kali mengecup keningku. “Aku sangat merindukanmu.”

      “Aku juga. Senang ketemu denganmu, Ma.”

      Terdengar janggal di negeri ginseng memanggil ibu mereka dengan sebutan ‘Mama’. Tetapi sekali lagi, Kris adalah Chinadian, anak China biasa memanggil ‘Mama’ pada ibu mereka.

      “Kami akan pergi jalan-jalan, ikutlah!” ajak Kris sambil mengaleng bahu ibunya. Mereka lebih terlihat seperti pasangan.

      “Tidak bisa, aku harus kerja. EXO-K tidak mendapat jatah libur sepertimu,” tolakku halus. Memang benar, ketiga anggota China bahkan diberikan kesempatan pulang untuk bertemu keluarga mereka setelah sekian lama merantau di sini. Khusus untuk Kris, ibunya yang datang kemari, jadi ia tidak perlu pulang.

      “Ayolah, Nak, aku ingin melepas rindu mengobrol banyak denganmu. Kau harus menebus kesalahanmu karena sudah menghilang dulu…”

      “Mom!” tegur Kris. Ia mengenakan topi biru yang senada dengan t-shirt putih stripnya.

      “Mungkin aku bisa ikut makan malam dengan kalian nanti. Sekarang aku harus bekerja. Maaf sekali.”

      Mama tersenyum lebar, wajah panjangnya semakin memancarkan aura kecantikan. Ia membelai bahuku. “Baiklah. Sampai jumpa nanti malam. Jangan coba-coba menghilang lagi karena aku takkan memaafkanmu untuk kedua kalinya!” ancamnya.

      “Mama!” Kris menegurnya lagi dan wanita cantik itu hanya terkekeh riang.

      Aku mengantar mereka hingga ke pintu depan. Tepat setelah mereka menaiki taksi, aku melihat Jinki berlari dari ujung jalan hingga memasuki gedung.

      Terdengar bunyi gemerisik kantong plastik tapi ia menyembunyikannya di balik punggung.

      “Kau… tampak… sangat sehat,” ujarnya sambil terus mencoba mengatur napas.

      “Ya, Kris menolongku!” sahutku galak dengan berbagai penekanan di setiap kata. Aku mencoba mencuri lirik pada benda yang ia sembunyikan namun tetap tidak terlihat.

      Aku berbalik meninggalkannya sendirian di lobi, tapi aku masih bisa mendengar ia membuang bungkusan tersebut ke dalam tempat sampah.

***

Sudah pukul enam dan aku masih berkutat dengan pensil dan kertas-kertas mencoba membuat beberapa rancangan. Menjadi stylist bukan berarti menumpulkan keahlian, itu sangat salah, aku akan terus berkarya. Karier ini adalah salah satu jalan untuk menggapai mimpiku―menjadi perancang busana di tanah air―dan takkan ada yang bisa menghalangi tujuanku. Memasuki perusahaan ini adalah awal menjajaki karier.

      Merancang banyak pakaian sangat menyenangkan sekalipun aku harus duduk berjam-jam sejak pagi hingga saat ini. Melakukan hal yang kusenangi membantuku mengurangi rasa tidak nyaman di perut.

      Tadi siang kulihat Jinki dan anggota SHINee lainnya pergi bersama manajer untuk menjalani jadwal mereka. Seperti biasa wajah si ketua grup sangat tidak bersahabat. Aku jadi penasaran seperti apa ia sebelum insiden Jira-jatuh-ke-pelukan-Minho, apa ia orang yang sama dengan yang selama ini dipublikasikan ke media?

      Aku kecewa sebagai pengangumnya, sangat kecewa setelah mengetahui mengagumi orang yang salah.

      Miris mendapati bakat yang luar biasa dibungkus oleh kemasan yang menarik tetapi dikungkung oleh aura buruk. Sekarang aku menyadari bahwa mereka berbeda.

      Jinki dan Onew adalah dua pribadi yang berbeda. Yang selama ini kulihat di media adalah pribadi hasil rekaan. Tentunya seorang publik figur akan menampilkan diri sesempurna mungkin.

      Dan yang ada di hadapanku saat ini adalah Lee Jinki, pria 23 tahun yang sedang menjajaki masa sulit masalah hati. Semua pria normal akan memasuki fase itu, tapi Jinki tidak sekuat yang dibayangkan. Ia menyimpan kepedihannya sendiri, menikmatinya, dan melampiaskan kemarahannya pada orang yang ada di sekitarnya meskipun aku belum pernah melihatnya berlaku buruk pada anggota namun akulah saksi kunci sekaligus korban.

      Sedikit demi sedikit kebencianku terkumpul. Kita memang ditakdirkan untuk saling membenci

Ponsel berdering, Mama menghubungiku.

      “Halo?” sapaku, “Iya, aku segera ke sana, sampai nanti.”

      Aku membereskan barang-barang dan memasukkannya ke dalam tas. Setidaknya hari ini aku menghasilkan banyak karya yang bisa direkomendasikan ke perusahaan.

      Sebenarnya hari ini EXO-K tidak memiliki jadwal tampil, mereka tengah sibuk mempelajari lagu baru untuk persiapan pengambilan gambar CF Samsung ATIV Smart PC yang akan mereka bintangi nanti. Aku lebih memilih datang ke kantor dibandingkan terjebak diam di rumah. Belum menemukan sesuatu yang menarik kukerjakan membuatku kurang betah berlama-lama di rumah meski di kantor pun aku tetap sendiri.

      Jooyoung pergi bersama manajer untuk memiliki diskusi bersama produser dan staf lainnya, sedangkan Hyojin membantu staf SHINee yang lagi-lagi kekurangan tenaga stylist. Aku bersyukur tidak lagi dipilih untuk membantu mereka. Menghindari Jinki lebih baik dari apapun untuk saat ini.

      Berjalan menyusuri gedung perkantoran di kawasan Kangnam menuju shelter bus di ujung jalan membutuhkan usaha ekstra. Perut masih belum membaik, aku tidak membawa obat penahan rasa nyeri di tas dan benar-benar tidak ingin melewatkan momen berharga untuk kembali berkumpul bersama keluarga Wu. Setidaknya aku harus menahan rasa sakit hingga beberapa jam ke depan karena besok Mama akan bertolak ke Kanada sebelum kembali ke Guangzhou.

      Seperti biasa aku memilih untuk duduk di dekat jendela ketika melompat memasuki bus. Kejadian beberapa waktu lalu ketika Jinki mengikutiku mencuat dalam ingatan. Appa bilang ia melakukan itu karena khawatir melihatku yang kurang sehat, tapi lagi-lagi aku takkan tertipu dengan mulut manisnya mengingat Jinki berakting cukup baik di hadapan publik.

      Kris melambaikan tangannya di pintu masuk ketika aku turun dari bus. Ia memamerkan senyum lebar membuat kedua matanya menggunung dihiasi kerutan halus di sekitar mata. Aku sangat kenal dengan kebiasaannya itu, terutama yang satu ini…

      “Maaf tidak bisa menjemputmu, aku tidak bisa meninggalkan Mama sendirian.” Ia membisikkan hal itu dengan mulut menempel di dahiku.

      “Hentikan kebiasaanmu ini!” Aku menoleh ke kanan dan kiri, “…kau ingin membuatku mati di tangan penggemarmu?!”

      Ia menarikku masuk ke dalam restoran berkelas internasional, sesuai dengan selera Mama.

      “Itu tidak akan pernah terjadi. Kau aman bersamaku.”

      Aku melepaskan lebih dulu tanganku dari genggamannya dan menghampiri Mama yang tengah duduk anggun di meja sudut ruangan. Aku memeluk dan mengecup keningnya.

      “Sudah sehat?” tanyanya sambil memegangi perutku.

      “Er, ya…”

      Kris terkekeh, kemudian ia mengangkat kedua tangan, membentuk bujur sangkar dengan kedua telunjuk dan ibu jarinya. Ia melihat kami melalui lubang kotak itu. “Ini seperti melihat Mama sedang mengkhawatirkan kandungan istriku,” ujarnya.

      “Yifan, itu tidak lucu!” tegur Mama dan Kris mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya pertanda damai. “Mau makan apa, Nak?”

      Aku membuka menu dan membaca daftar makanan satu per satu.

      “Ginger Beef dan Hot Lemon Tea,” ujar Kris sambil tersenyum hangat. “Tidak usah melihat menu karena dua hal itu yang selalu kau pesan.”

      Aku meliriknya singkat dan kembali menenggelamkan diri ke dalam daftar menu. “Aku mau Wild Chanterelle dan air putih saja,” kataku dan senyum Kris memudar dari wajahnya. Aku berusaha tidak memedulikan hal itu.

      “Dulu aku sering membuatkan kalian Ginger Beef dan Wild Chanterelle sepulang sekolah. Kau masih ingat?” tanya Mama.

      Hatiku mencelos. Aku tidak begitu suka mengungkit masa laluku selama di Vancouver, tetapi memori bersama Mama adalah pengecualian.

      “Ya, tentu saja. Aku takkan pernah bisa melupakan makanan enak buatanmu, Ma. Tanganmu ini sangat diberkahi Tuhan untuk urusan memasak.” Aku menggenggam kedua tangannya, ia tersenyum sangat lembut, membuatku ingin memeluk dan tidak pernah melepaskannya. Aku menyayanginya melebihi ibu kandungku sendiri.

Setelah selesai makan kami membicarakan banyak hal tentang pekerjaanku dan Kris. Sekarang aku benar-benar paham sebesar apa passion yang dimilikinya pada dunia entertainment. Aku baru ingat kalau ia pernah menuliskan cita-citanya sebagai aktor di buku hariannya ketika masih SD. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi mendukungnya, terutama ketika Mama memintaku untuk menjaganya.

      “Aku tidak bisa lagi memantau anak nakal ini selama 24 jam, bantu aku untuk mengawasinya, Sena. Jangan biarkan dia memberi banyak harapan pada penggemar-penggemarnya. Aku agak malu ketika teman-temanku memprotes kalau anak-anak mereka tergila-gila padanya,” cerocos Mama dengan aksen Inggris khasnya.

      Kris menutupi mulutnya dengan punggung tangan ketika ia tidak bisa lagi menahan tawa kerasnya. “Aku tidak melakukan apapun. Aku menyanyi dan menari di belakang, kalaupun sedang di bandara aku hanya berjalan biasa dan melihat lensa kamera yang mereka bidikkan padaku. Di mana letak salahku?” protesnya sambil terus terkekeh.

      Mama menghela napas panjang. “Kalau kalian sudah lelah dan menyerah dengan pekerjaan kalian, datanglah padaku, tanganku selalu terbuka untuk anak-anakku. Tapi kuharap tidak ada kata menyerah darimu…,” ia bergantian mengecup dahiku dan Kris, “…juga kau, berhenti menjadi anak nakal! Kau memiliki 11 anak yang membutuhkan perhatianmu.”

      Kris mengangguk mantap sambil mengacungkan ibu jarinya. “Oke, Mom.”

      “Aku harus segera ke bandara, pesawat take off satu jam lagi―” Aku buru-buru memeluknya erat. Lima tahun terpisah dan hari ini bertemu hanya beberapa menit benar-benar membuatku kesal pada diri sendiri. Ada perasaan menyesal pernah meninggalkannya dulu.

      “Maaf sudah meninggalkanmu tanpa kabar. Aku sangat menyesal.”

      Ia balas memeluk dan membelai punggungku. “It’s okay. Setidaknya hari ini kami sudah bertemu meskipun masih belum cukup melepaskan rasa rindu. Datanglah ke Guangzhou kalau Vancouver membuatmu takut untuk kembali ke sana.”

      Aku mengangguk, melepaskan pelukan. Senyum merekah di bibir ketika ia menatapku penuh kasih sayang.

      “Ah ya, Sena, apa kau sudah bertemu dengannya?”

      “Siapa?”

      “Bukan siapa-siapa,” sela Kris dan ia langsung berbisik pada Mama meski aku masih bisa mendengarnya, “Mom, belum saatnya ia tahu.”

      Keadaan cukup canggung, jadi aku mencari topik lain. “Mama, boleh kuminta nomor ponselmu?”

      Ketika hendak mengeluarkan ponsel untuk mencatat nomor ponselnya, aku panik. Ponselku tidak ada di dalam tas. Aku meninggalkannya di atas meja kantor.

      “Kenapa?” tanya Kris.

      “Aku harus kembali ke perusahaan, khawatir Appa menghubungiku. Maaf, Mama, aku tak bisa mengantarmu.”

      “Tidak apa-apa, Yifan yang akan mengantar.”

      Kami jalan bersama hingga pintu depan, setelah memeluk Mama dan pamit pada Kris, aku berlari ke shelter dan segera menaiki bus yang kebetulan sedang berhenti di sana. Meski agak gelap, aku masih bisa melihat mereka melambaikan tangan padaku. Ini benar-benar seperti kembali ke masa itu di mana mereka selalu mengantarku hingga depan rumah jika sore menjelang dan ayah tiriku sudah kembali dari kantor.

***

Para trainee memenuhi koridor setelah seharian berlatih di ruangan yang berada di basement. Masing-masing dari mereka membungkuk memberiku salam ketika berpapasan. Aku berlari ke ruang kostum, tetapi ponselku tidak ada di atas meja.

      “Hyojin, kau lihat ponselku?”

      Dia yang sedang fokus dengan jahitannya mendongak menatapku. “Aku tidak tahu tapi tadi Onew kemari memintaku untuk menjahitkan jaketnya yang sobek, kalau tidak salah tadi dia duduk di mejamu. Coba tanyakan saja, siapa tahu dia salah mengantongi ponsel jika sangtae-nya sedang kumat.”

      “Ah, terima kasih. Di mana dia sekarang?”

      “Atap sepertinya…”

      Aku keluar ruangan dan berjalan menuju atap. Memang benar, Jinki sedang di sana menghisap rokok elektroniknya. Ia menyadari kehadiranku dan menoleh.

      “Kau lihat ponselku?” Ia tidak menjawab, hanya memalingkan muka. Aku berjalan mendekatinya dan mengulang pertanyaan, “Kau lihat ponselku?”

      Jinki merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselku. Ia mengepulkan asap putih ke udara dan berkata, “Terburu-buru datang ke acara kencan hingga membuatmu melupakan sesuatu. Bukankah sudah kubilang hubungan antara staf dan artis dilarang keras di sini?”

      Ketika aku akan mengambil ponsel, Jinki menarik tangannya.

      “Kembalikan!” pintaku tenang.

      “Tidak gratis…”

      “Apa maksudmu? Kembalikan ponselku!”

      Jinki berbalik, ia mematikan rokoknya dan berjalan mendekatiku. Bau alkohol tercium dari mulutnya.

      “Penuhi keinginanku kalau kau ingin ponselmu kembali.”

      “Berhenti mengancamku!”

      “Aku serius. Ah, bukankah di ponselmu ini terdapat banyak nomor penting? Bagaimana jika relasi perusahaan tertarik pada karyamu dan…,” ia mengarahkan tangannya yang menggenggam ponselku ke beranda. Aku mulai panik. Jinki sedang mabuk, ia bisa kapan saja menjatuhkan ponselku secara tidak sengaja. “Penuhi keinginanku atau…”

      “Oke! Apa maumu?!”

      Jinki terkekeh penuh kemenangan. “Sampai jumpa Sabtu depan di Jeju. Kita memiliki jadwal yang sama ‘kan?”

      “Lalu?”

      Ia berjalan semakin dekat dan lambat laun menempelkan pipinya ke pipiku kemudian berbisik, “Good night, Sena-ya.”

      Darahku bedesir. Bisikkannya membuat bulu romaku bangkit. Ia meninggalkanku sendirian, ponselku masih di tangannya. Well, apa yang akan ia lakukan padaku nanti? Rasanya pintu neraka perlahan-lahan mulai terbuka.

      Jinki berjalan terseok-seok di belakangku, seseorang memanggilnya sebelum aku sempat berbalik.

      “Oppa!”

      Perutku mencelos, perasaan seperti baru saja melewati dua anak tangga sekaligus, terkejut sekaligus syok. Jantungku berdegup sangat kencang.

      “Panggil aku ‘senior’!” gerutu Jinki.

Aku masih berdiri di tempat, kakiku terlalu gemetar untuk berbalik memastikan kalau pemilik suara tersebut adalah benar seperti yang kupikirkan.

“Sedang apa kau di sini, siapa perempuan itu?” tanya suara itu lagi.

Mataku tertuju pada satu fokus di lantai. Keringat memenuhi dahi.

“Hei, Park Jiyul, sudah kubilang berhenti mengikutiku!”

GOTCHA……………mental breakdown.

-to be continued

Author’s Note:

– Jinki melempar bungkusan putih ke dalam tempat sampah kemudian meninju dinding dengan kepalan tangan kanannya yang kuat. Dia tahu apa yang terjadi pada Sena, untuk itulah tanpa membuang banyak waktu ia segera berlari keluar gedung menuju supermarket untuk membeli sebungkus pembalut. Namun adanya bantuan dari Kris membuatnya marah besar. Ia sendiri pun tidak tahu untuk apa ia marah.

Menurutmu untuk apa?

 

©2011 SF3SI, Diya.

Officially written by Diya, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

81 thoughts on “Beautiful Stranger [Chapter Six]

  1. Wooo konflik bertambah!! Seru nih~ *brb nyiapin garem dan bawang untuk ngusir jiyul*
    part ini kerenn gasabar nunggu nextnyaaa xD btw, jinki nyaa so sweet yaaa~

  2. aku udah lama nungguin part ini akhirnya keluar juga *nafas lega* konfliknya makin banyak dan makin seru😄 next ya !!!

  3. Aku tau, thor…. Jinki cemburu!!!!!!
    Thor, please…. jangan sampai kejadian buruk kembali terjadi pada Jinki…
    T T…. gak kuat kalo dia sampe harus dua kali sakit hati dengan pola yang sama…
    Tapi setelah datangnya Park Jihyul yang sepertinya mengejar Jinki…
    Aku berharap Sena pun takut kejadian yang sempat membuat hatinya terluka
    tidak terjadi lagi, dan dia akan mempertahankan Jinki di sisinya…
    “Mempertahankan Jinki”? untuk apa?
    Jinki emang udah jelas membuka hati u/ sena… tp sena????
    sampai saat ini dia masih sangat membenci Jinki…
    yeah, gak dipungkiri, sekarang ada sedikit rasa iba, simpati, dan mgkn
    perhatian buat Jinki… Aku harap perasaan sena terus berkembang…
    Aku berharap banget, dua orang yang pernah sangat terpuruk di masa
    lalu mereka dapat bersama-sama membangun kembali keyakinan akan
    indahnya kata cinta….
    #aku aku mual sendiri ya, dengan omonganku….

    Daebak, Thor…. Kelanjutannya jangan lama2….
    Tak pantengin….

    FIGHTING!!!!!

  4. Benih2 cinta mulai tumbuh nih, tp knp ad jiyul?

    Tambah seru deh..apakah nanti akan ada eomma senna juga?

    Uwaahhh tambah penasaran

  5. Jinki youre totally gentle! Aww tapi kamu keduluan say, tapi knp tiba2 kris nongol aja gitu thor -.- aih si jiyul minta di santet aaaaaak~

  6. Persaingan segera dimulai, jiyeul datang!
    Memang apa yg bisa dilakukan laki2 dg pembalut yg jelas bukan brang untuk dmiliki.. Tapi onew perhatian juga sebenarnya,,

  7. ohh snap.
    Jinki cemburu broh. CEMBURU!! AKHIRNYA SI JONES MOVE ON!!! (jones = jomblo ngenes. salahkan Diya unni yang bikin skrip, Jin!!! *ditendang diya unni*)
    OHH SNAP. ADA JIYUL!!! Mau kita apakan anak laknat*upa* itu yah? Mau digoreng dengan tomcat bakar bumbu mentega aatau dipanggang dengan tomcat tumis saus tiram (??)
    Dan kenapa itu… ish aku bingung!! Jinki punya hubungan gitu sama Jiyul??? ATAUUUU JANGAN-JANGAN JINKI KAKAKNYA JIYUL? KAN JINKI CUMA SAMA UMMA-NYA?? APPA-NYA NIKAH SAMA UMMANYA SENA GITU???
    *aduh otak gue sinetron banget seeh-_-*
    neeext~!

  8. Oh. peran antagonisnya keluar.. mulai seru nih😀
    Hihihi Jinki tanpa sadar perhatian ma sena, kyknya dia mulai suka tuh..

    Huhuhu~ makin seru
    Suka karakter Jinki yg bad boy
    Keren, lanjut next chap ^^

  9. Aish jiyul nonggol -_-
    ehh jangan” waktu tdi mama kris mau ngomong tentang jiyul ya ,. eum bencana akn datang:/
    cieee jinki mau apa hayuu ntar di jeju :3

  10. aku pikir peran ade tirinya cuma sekedar pemeran pembantu yg hanya namanya doang yg muncul, taunya~ beneran penganggu =_=

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s