Sunshine [2.2]

Title                 :           Sunshine [SJB & The Future side story] part 2

Author            :           Choi Minjin

Main Cast       :           Lee Taemin, Choi Jinri

Supporting cast :       Choi Minho, Lee Daeyeong (Taemin’s mom/OC), Lee Jinki (?), Shin Jungwoo (OC)

Genre              :           Life, family

Length                        :           Two shots

Rating             :           General

AN                   :           Di part 1 kemaren, pasti readers bertanya-tanya, kenapa judulnya ‘Sunshine’? Well, baca part 2 ini and you’ll know. Dan jangan kaget kalo ternyata nggak penting. Mhahahaha >,<

Oiya, ini FF pertamaku yang main cast-nya Taemin lho *ga ada yang tanya*

Okeh, happy reading ^^

 

Kelopak matanya berat, rasanya seperti dilem. Tapi ia berusaha membukanya lebar-lebar. Dan seperti yang diduganya, ia terbaring di atas ranjang rumah sakit.

“Taemin? Kau sudah bangun?”

Rasanya seperti ada batu yang meluncur di perutnya. Suara itu, mungkinkah…

Benar saja, Lee Daeyeong duduk di samping tempat tidurnya.

“Eomma?”

“Taemin, syukurlah kau sudah bangun. Kau butuh apa? Mau minum?”

Taemin hanya menggeleng dalam kebingungan. Ia menggerakkan tangan kirinya yang digips tebal, sakit. Kakinya juga agak kaku. Kepalanya masih berputar-putar.

“Tunggu ya. Eomma akan memanggil dokter.”

Setelah eommanya pergi, Taemin sadar ada orang lain di ruangan ini. Seorang yeoja tinggi, bermata sipit dan berambut panjang yang selama beberapa hari ini terus-terusan mengganggunya, Choi Jinri.

“Hei, Taemin. Bagaimana kabarmu? Patah tulang itu memang tidak enak. Kau harus sabar.”

Taemin memandang saja sampai Jinri duduk di kursi yang tadi diduduki eommanya. Ia bahkan tidak berkata apa-apa ketika Jinri mulai berkata-kata lagi,”Orang tuamu langsung buru-buru kemari setelah Kibum oppa menelepon mereka. Ayahmu semalam bahkan menginap di sini, lho. Ibumu dari tadi pagi duduk diam di sini, menunggumu bangun.”

“Yah, terang saja begitu. Itu kan karena Jinki sudah mati. Kalau saja masih ada dia, pasti mereka lebih memilih menemani Jinki tidur di rumah daripada menjengukku di sini.”

Rasanya Jinri ingin memukul kepala Taemin sekeras-kerasnya. Tapi nanti dia pasti dapat masalah, jadi ia berusaha tenang,”Oh, begitu ya. Nah, jadi sekarang, karena Jinki oppa sudah tidak ada dan kebetulan kau sedang sakit, mereka jadi peduli padamu ya? Dan kau sekarang bisa menikmati bagaimana rasanya mendapat perhatian karena sakit, iya kan? Enak ya?”

“Sudahlah, kau pergi saja sana.”

Jinri bangkit berdiri dengan kesal,”Haish, kenapa ya ada orang semenyebalkan dirimu? Aku benar-benar kasihan pada Jinki oppa. Dia… dia benar-benar sial punya adik sepertimu!”

Jinri bergegas pergi, namun berpapasan dengan ibu Taemin dan seorang dokter di ambang pintu,”Oh, ahjumma. Aku permisi pulang. Maaf dari tadi sudah mengganggumu.”

Tanpa menunggu jawaban, ia terus berjalan pergi.

~~~~~

Menjelang tengah malam, Taemn masih belum dapat memejamkan matanya. Kelopak matanya seakan tidak mau menutup. Entah mengapa ada hal mengganjal di hatinya.

Kata-kata Choi Jinri siang kemarin masih terngiang di telinganya,

‘Dan sekarang coba kau bayangkan bagaimana sakit yang diderita kakakmu, Lee Taemin! Kaupikir dia sendirikah yang ingin menjadi sakit dan lemah? Kaupikir, dia sendirikah yang memohon untuk diberi banyak perhatian karena penyakitnya? Kaupikir dia tidak menderita?’

Taemin menoleh pada eommanya yang tertidur nyenyak di sebuah tempat tidur lipat. Kemudian perlahan matanya menangkap sesuatu di atas meja.

Itu foto Jinki.

Jinki seakan benar-benar tersenyum padanya. Senyum itu selalu sama, seperti itu. Namun Taemin tidak pernah mengerti apa maksud senyum itu. Taemin tidak pernah ingin peduli pada Jinki. Baginya, sudah terlalu banyak orang yang memedulikannya, dan Taemin berpikir bahwa ia hanya perlu memedulikan dirinya sendiri.

Taemin hampir tidak pernah mengingat Jinki. Bahkan sampai sekarang, setelah tiga tahun berlalu sejak kepergiannya.

Pelan, Taemin menutup matanya, mencoba mengingat sesuatu.

~~~~~

Saat itu musim panas yang cerah. Lapangan berumput dekat sungai itu penuh dengan gelak tawa anak-anak. Beberapa bermain bola, yang lain hanya berkejaran. Lee Taemin, tujuh tahun, dengan riang asyik menghindar dari kejaran seorang temannya.

Di sebuah bangku kayu panjang di tepi lapangan, seorang anak laki-laki berumur dua belas tahun, dengan mata sipitnya tampak tersenyum senang menonton adiknya bermain kejar-kejaran.

Seorang anak berlari di depannya sambil berteriak,”Jinki hyung payaaah… bisanya cuma duduk sajaaa!”

Beberapa anak tertawa.

“Taemiiiin… sebaiknya kau antar hyungmu pulang saja sanaaa! Lebih baik kalian main kartu saja di rumaaaah!”

Taemin menoleh sebentar pada Jinki dengan sebal,”Diam kalian!”kemudian ia melanjutkan bermain lagi.

Jinki berdiri, lalu katanya dengan suara lantang,”Yah! Lee Hyukjae, Park Jungsu! Aku mau ikut main bola!”

Cerahnya musim panas itu mulai berputar, lalu tiba-tiba gelap.

Dan Taemin sudah berdiri di ambang pintu kamar kakaknya sementara sang eomma memandanginya marah.

“Taemin-ah, kenapa kau biarkan hyungmu main bola? Kau tahu kan dia sedang sakit? Sekarang lihat, hyungmu tidak bisa bangun.”

“Dia sendiri yang mau.”

“Tapi kau kan bisa mencegahnya. Dia kan selalu mendengarkanmu. Sudahlah, pergi ke kamarmu sana! Kerjakan PRmu! Kau selalu tidak mengerjakan PR.”setelah mengatakan itu, eomma kembali memasuki kamar Jinki. Sementara Taemin masih berdiri diam, dalam sakit hati.

Kenapa? Kenapa selalu dia yang disalahkan? Kenapa?

Matanya menatap pintu kamar Jinki dengan penuh benci. Huh, dia tidak akan peduli pada Jinki. Tidak akan pernah.

~~~~~

Hari-hari berlalu dengan cara berbeda di rumah sakit. Setiap detik terasa begitu membosankan, begitu menyebalkan. Semua hal tampak suram. Mulai dari pasien yang berlalu lalang dengan kursi roda, dokter dan perawat yang sibuk kesana kemari, sampai penjenguk yang datang dan pergi dengan wajah lesu.

Seumur hidupnya, ini pertama kalinya Taemin dirawat di rumah sakit. Sebelumnya, jangankan dirawat, pergi ke rumah sakit saja sangat jarang. Meski Jinki, kakaknya sendiri begitu akrab dengan rumah sakit, Taemin selalu berpikir bahwa kalau tidak terpaksa, dia tidak akan pernah menemani Jinki di rumah sakit.

Kibum hyung baru sekali menjenguknya. Mungkin dia terlalu sibuk untuk sering menemaninya. Jadi, ya begitulah. Taemin hanya menghabiskan waktunya dalam kesepian.

Ia menatap pemandangan di luar jendela. Meski salju masih tebal, tapi langit cukup bersih. Semua terlihat putih dan berkilau. Luar biasa.

Taemin teringat tempat dimana dia bisa melihatnya dengan lebih baik. Atap rumah sakit.

Perlahan, dengan tangan digendong, Taemin turun dari tempat tidur. Ia berjalan menyusuri koridor-koridor, mengingat-ingat jalan menuju atap. Tidak sulit, dia hanya perlu naik lift sampai lantai teratas, lalu naik beberapa anak tangga lagi sampai menemukan pintu terakhir berwarna biru.

Benar dugaannya, pemandangan dari sinilah yang terbaik.

Tapi dia tidak sendiri di sini. Duduk di tepian, seorang namja yang sekarang sedang menoleh kepadanya. Taemin mencoba mengingat-ingat siapa dia. Dia yakin dia kenal orang ini.

“Lee Taemin? Kemarilah.”

Taemin ragu, tapi dia juga tidak ingin kembali lagi kamarnya dan merasa bosan lagi. Jadi ia mendekati namja itu.

“Duduklah di sini.”namja itu menunjuk tempat di sebelahnya. Taemin memandangnya ragu beberapa saat, kemudian dengan sangat hati-hati agar tidak terpeleset dan mati konyol karena jatuh ke jalan di bawah sana, ia mendudukkan dirinya.

“Lee Taemin, aku Choi Minho. Kau tahu aku?”

Oh, iya. Dia ingat sekarang,”Ah, iya. Hyungnim, selamat siang.”Taemin menganggukkan kepala sedikit.

“Jangan sekaku itu. Ngomong-ngomong bagaimana kau menemukan tempat ini? Seseorang mengajakmu ke sini?”

“Jinri.”kata Taemin pelan.

“Oh, anak itu.”Minho tersenyum geli,”Tempat ini sempurna, bukan? Bahkan dulu saat aku tidak bisa melihat, tempat ini tetap terasa istimewa. Aku selalu ingin kembali ke sini lagi dan lagi, bahkan sekarang setelah bertahun-tahun terlewat.”

Taemin diam. Ia mendengarkan sambil mengedarkan pandang ke semua penjuru.

“Lee Taemin, aku selalu bersyukur dipertemukan dengan kakakmu. Andai dulu ia tidak menggangguku di sini, entah bagaimana hidupku sekarang. Kau tahu? Setiap sore selama kurang lebih satu setengah bulan, kami duduk seperti ini di sini, membicarakan banyak hal. Tapi entah kenapa dia tidak pernah menceritakan tentang dirinya. Aku saat itu pun berpikiran bahwa aku tidak terlalu peduli tentangnya. Dan sekarang aku menyesal.”

Lagi-lagi pembicaraan tentang Jinki. Jinki, Jinki, Jinki. Bahkan setelah kepergiannya, semua orang masih saja membicarakannya. Taemin merasa muak.

“Tapi sebenarnya dulu… Jinki pernah menitipkan sesuatu padaku. Sebuah amplop. Katanya, aku tidak boleh membukanya. Bahkan nanti, setelah aku bisa melihat. Katanya, amplop itu ditujukan untuk seseorang yang disayanginya. Katanya mungkin suatu saat aku akan tahu maksudnya siapa.”

Angin dingin berhembus, menyela cerita Minho sesaat.

“Aku sempat heran, kenapa dia menitipkannya padaku? Tapi ya sudahlah, biar kusimpan. Ternyata dia sakit dan meninggal. Saat itu aku tidak tahu. Lalu bertahun-tahun kemudian, aku bertemu Sooyoung. Aku sempat berpikir surat itu untuk Sooyoung. Tapi entah kenapa hatiku menyangkalnya. Jadi aku tetap menyimpannya, masih rapat dan sama seperti ketika dulu Jinki memberikannya padaku.”

Taemin melirik Minho sejenak. Apa maksudnya Minho menceritakan hal itu? Apa maksudnya…

“Lalu semalam aku memikirkannya lagi. Dan tiba-tiba saja, sebuah pemikiran muncul di kepalaku. Tiba-tiba saja aku yakin bahwa sekaranglah saatnya aku menyerahkan surat itu pada seseorang. Padamu.”Minho mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya, sebuah amplop.

“Hatiku berkata kaulah yang dimaksud Jinki, Taemin. Entahlah, mungkin dia membisikkannya padaku? Terimalah. Dan aku bersumpah, aku tidak pernah membukanya.”

Taemin menerima surat itu dengan ragu. Mulutnya belum bisa mengucapkan apa-apa. Bahkan sampai Minho berdiri dan berkata,”Baiklah, aku harus pulang. Cepat sembuh ya.”Taemin masih bergeming.

Pintu biru itu menutup, meninggalkan Taemin sendiri.

Ia memandangi surat itu dengan perasaan tidak menentu. Ia tidak tahu harus ia apakan surat itu. Dibuang? Dibakar? Dirobek-robek? Tapi hatinya menghalanginya. Hatinya menyuruhnya membuka surat itu.

Susah payah, ia membukanya dengan satu tangan karena tangan kirinya sakit. Amplopnya terbang entah kemana, tapi Taemin berhasil memegangi surat itu di depannya.

Baca? Tidak? Apa gunanya dibaca? Tapi ia ingin tahu apa isinya.

Dengan menghela nafas panjang, Taemin mulai membacanya.

Dear saengi J

Lee Taemin, ingatkah kau pada hyungmu ini? Aku Lee Jinki, kakak yang tidak pantas kaupanggil ‘hyung’. Bagaimana mungkin aku mengaku sebagai kakakmu? Aku tidak pernah benar-benar berlaku seperti seorang kakak.

Taemin-ah, saat kau membaca surat ini, apakah kau masih membenciku? Apakah aku sudah meninggal? Aku tidak tahu lagi bedanya hidup dan mati. Aku hanya merasa sakit setiap saat. Mungkin aku akan segera pergi? Pasti aku akan merindukan kalian. Eomma, appa, dan tentunya kau, Taemin.

Setidaknya akhir-akhir ini aku tidak terlalu kesepian lagi. Aku punya teman, namanya Minho. Dia tidak bisa melihat. Semoga suatu saat dia bisa melihat lagi. Kibum juga sering mengunjungiku. Tapi Taemin, kenapa tidak sekalipun kau mengunjungiku? Aku selalu memandang pintu, berharap kau akan datang dan berkata ‘Jinki.’ Begitu saja. Tapi aku mengerti, mungkin kau tidak mau datang. Hanya saja, Taemin, aku benar-benar berharap kau mau datang ke pemakamanku.

Aku tidak yakin apakah surat ini akan sampai padamu. Tapi andai saja iya, aku ingin meminta maaf padamu. Maafkan aku, Taemin. Karena aku selalu menyusahkan semua orang, sehingga kau jadi kurang diperhatikan. Maafkan aku yang sering membuatmu dimarahi eomma.

Andai saja aku dapat meminta pada Tuhan, agar aku dilahirkan sebagai anak yang sehat, yang bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Aku selalu memohon pada Tuhan, agar setidaknya kalaupun aku harus terus sakit seperti ini, berilah Taemin kebahagiaan. Karena aku telah merenggut kebahagiaan yang seharusnya didapatnya dari kecil.

Taemin, salah satu keinginanku yang terbesar sebelum saatnya aku pergi adalah, aku ingin melihat kau tersenyum padaku. Sekali saja. Senyum tulus dan berkata,’Jinki, kau jelek sekali’, begitu saja. Aku sangat menyayangimu, Taemin. Hatiku seperti teriris setiap kali kulihat pandangan bencimu. Sungguh, aku ingin melihatmu tersenyum padaku.

Taemin, entah kapan kau membaca surat ini, tapi kapanpun itu, kuharap kau bahagia. Maafkan aku. Maafkan aku.

Suatu saat kita pasti akan bertemu lagi, entah dimana. Dan ketika saat itu tiba, Taemin, aku akan tetap bahagia, tetap bangga dan bersyukur karena Tuhan telah memilihkanmu menjadi adikku.

Lee Jinki

 

Angin dingin bertiup lagi. Taemin masih terduduk di tempatnya, memegang surat di tangannya dengan gemetar. Tetes-tetes air jatuh, membasahi tulisan tangan Jinki.

Padahal langit cerah.

~~~~~

Taemin melangkah santai menuju rumah. Rerindangan pohon di kanan-kirinya membuatnya enggan berjalan terlalu cepat.  Angin sepoi-sepoi menambah sejuknya siang, terasa sangat nyaman.

“Woi, Lee Taemin!”

Taemin membeku. Gawat, itu pasti Shin Jungwoo, orang yang sering mem-bully-nya.

“Taemin! Mau kemana, hah?”

Taemin mencoba tenang, dipandangnya Jungwoo dengan menantang,”Mau pulang. Pergi sana.”

“Enak saja, pulang. Kau kan belum memberi aku uang.”

“Kalau mau minta uang, minta ibumu sana.”

Jungwoo mencengkeram kerah baju Taemin erat,”Bicara apa kau? Lihat saja kalau kau berani melawanku. Kau tidak akan bisa membayangkan seperti apa besok kau di sekolah. Besok, bisa pulang dengan utuh saja kau sangat beruntung.”

Dan pergilah Jungwoo.

Taemin telah kehilangan minat untuk berlama-lama di sini. Dia bergegas pulang, siapa tahu Jungwoo itu akan kembali membawa segerombolan pemalak lain.

Rumah sunyi senyap. Taemin berbaring di sofa lalu mulai menonton TV.

Satu jam kemudian, pintu terbuka. Taemin melongokkan kepalanya sejenak untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Jinki yang juga baru pulang sekolah. Ia tersenyum yang hanya dibalas Taemin dengan mengangkat alis sebelum kembali memperhatikan TV.

“Eomma dimana?”

Taemin menoleh lagi,”Tidak tahu.”kemudian disadarinya Jinki punya beberapa luka lebam di wajahnya,”Kenapa kau?”

“Oh, ini? Jatuh. Kau tahu aku, kan?”setelah tersenyum lagi, Jinki bergegas naik tangga.

“Kalau begitu nanti bilang pada eomma kalau kau jatuh sendiri! Aku tidak mau dituduh mendorong-dorongmu atau apa dan akhirnya dimarahi.”

“Iya.”suara Jinki terdengar sayup-sayup dari atas.

Taemin kembali menonton TV.

Besoknya, entah kenapa Shin Jungwoo tidak berani mengganggunya. Padahal mereka berpapasan beberapa kali di sekolah. Anehnya juga, wajah Jungwoo penuh dengan luka-luka lebam.

Dan seterusnya, sampai mereka lulus SMP, Shin Jungwoo tidak pernah mengganggu Taemin lagi.

~~~~~

Hal pertama yang ingin dilakukan Taemin begitu membuka mata pagi ini adalah, ia ingin memeluk eommanya.

Dan Lee Daeyeong sangat terkejut dengan perbuatan anak bungsunya itu. Tentu saja, karena Taemin sangat jarang memeluknya. Bahkan mungkin bisa dibilang hampir tidak pernah.

“Ada apa, Taemin? Kenapa tumben sekali?”

Taemin menenggelamkan kepalanya ke pundak sang ibu. Suaranya pelan terdengar,”Eomma, aku merindukan hyung.”

“Merindukan siapa?”

“Aku merindukan Jinki hyung.”

Lee Daeyeong benar-benar merasa heran. Apa ia salah dengar? Apa Taemin sedang mengigau? Jangankan berkata seperti itu, memanggil Jinki dengan ‘hyung’ saja tidak pernah.

Taemin memeluknya seperti itu selama beberapa menit. Hanya memeluk, namun pelukan itu memiliki beribu arti.

Sang ibu begitu ingin menangis, namun ia menahannya,“Taemin, maukah kau maafkan eomma?”

Taemin mendongak,”Maaf karena apa?”

“Karena jarang memperhatikanmu. Maafkan eomma, Taemin. Eomma hanya berpikir kau pasti mengerti karena Jinki lebih membutuhkan eomma. Eomma tidak berpikir bahwa kau juga perlu diperhatikan. Maafkan eomma.”

Taemin menggeleng lemah,”Tidak, eomma. Akulah yang salah. Aku tidak dewasa. Maafkan aku.”

Lee Daeyeong mengelus kepala Taemin penuh sayang,”Sudahlah. Semua sudah berlalu. Taemin, temanmu menunggumu di depan. Bolehkah dia masuk?”

Taemin melepas pelukannya, kemudian mengangguk.

Beberapa saat kemudian, Choi Jinri sudah duduk di sampingnya. Ia membawakan setangkai bunga yang diletakkannya di dalam gelas di atas meja.

“Aku menemukan setangkai bunga segar ini di tengah dinginnya udara dan salju di luar sana. Bagus, bukan?”

“Bagus.”Taemin mengangguk,”Tapi jangan diletakkan di situ. Bolehkah kubawa ke tempat lain?”

“Kemana?”

Taemin menurunkan kakinya dari tempat tidur. Jinri memandangnya heran,”Kau mau kemana?”

“Mau ke suatu tempat. Mau menemaniku?”

~~~~~

Jinri merasa bulu tengkuknya berdiri, bukan karena dingin, bukan karena takut, melainkan karena apa yang ada di hadapannya. Lee Taemin duduk dengan khidmat di depan pusara kakaknya, Lee Jinki.

Bunga yang tadi dibawakan Jinri diletakkan Taemin di depan nisan,”Bunga ini tidak kubeli di toko bunga. Bunga ini ditemukan Jinri di tengah udara dingin dan salju. Dia tumbuh melawan dinginnya udara, seperti kau yang tetap tumbuh menjadi orang yang baik dan ceria di tengah berbagai penderitaan yang kaurasakan.”

Jinri berbalik, mati-matian mengusap air matanya.

“Jinki hyung… hidupmu memang singkat, tapi sangat berguna. Kau membawa udara baru bagi orang lain. Begitu juga bagiku. Karenamu, aku tumbuh menjadi seperti ini. Menjadi Taemin yang sangat tangguh dan mandiri.”

Taemin terdiam sebentar. Ia mengusap pelan permukaan tanah bersalju di hadapannya.

“Aku sangat menyesal, hyung. Menyesal karena dulu aku tidak pernah menemanimu di rumah sakit. Menyesal karena aku membencimu tanpa mengingat apa yang telah kaulakukan selama ini sebagai kakakku. Kau mengerjakan PRku, membelaku, menyiapkan sepatuku, membuatkan makanan untukku, dan banyak hal lain. Aku juga menyesal sekarang, karena dulu ketika kau masih hidup, kita tidak bermain bersama, tidak melakukan hal yang biasa dilakukan kakak adik bersama. Aku benar-benar menyesal sekarang.”

Setetes air jatuh di atas salju. Air itu pun membeku dalam sekejap.

Dan Taemin mendongak, menatap langit biru,”Tapi aku sangat bersyukur bahwa Tuhan telah memilihkanmu menjadi kakakku. Menjadi kakak yang sampai sekarang selalu bisa kubanggakan. Terima kasih, Jinki hyung. Tunggulah aku sampai saatnya nanti kita bertemu.”

Hanya mendengar kata-kata itu, air mata Jinri mengalir begitu deras. Hatinya terenyuh begitu rupa. Bahkan sampai Taemin menggenggam tangannya, air matanya masih saja mengalir.

“Kenapa kau menangis, Jinri? Lapar ya? Ayo kita pergi makan. Setelah itu ayo kembali ke rumah sakit. Aku ingin meminta mereka membuka gips ini. Aku benar-benar tidak betah.”

Jinri tersenyum. Hatinya damai dalam genggaman tangan Taemin di tangannya. Udara tidak terasa begitu dingin lagi. Pasti musim semi datang lebih cepat tahun ini.

Ya, karena es tidak bisa terus-terusan beku jika terkena sinar matahari.

Dan sinar mentari ada dalam diri Lee Jinki.

-end-

-minjin’120422-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

25 thoughts on “Sunshine [2.2]”

  1. Ehm gitu ya, kenapa diberi judul sunshine karena sunshine nya itu Jinki yang mencairkan kebekuan hati seorang Lee Taemin*manggut2

    Mengharukan hampir nangis pas adegan baca surat T___T

  2. ahhh…cerita yang hangat
    kebayang gimana nyeselnya taemin, aku kalau jadi dia udah nyesel banget nget nget kayaknya
    dan itu suratnya menyentuh sekali

    suka banget quote terakhir:
    Ya, karena es tidak bisa terus-terusan beku jika terkena sinar matahari.

    Dan sinar mentari ada dalam diri Lee Jinki.

    ahhh…jangankan taemin, aku pun meleleh membacanya 😀
    dan minjin kayaknya bakat bikin cerita seperti ini, selalu bagus! 🙂

  3. Oh,gitu ya kenapa di beri judul sunshine,pas baca bagian taemin baca surat yg dari jinki itu,bikin aq mewek,kalo jadi taemin aq pasti nyesel bgt.keren n daebak thor,fanfic nya menyentuh bgt,,keep writing

  4. Terharu…. Aah, sisi lemahku tersentuh. Aaah, tidaak! *abaikan*

    Aku paling suka bagian Jinki yang ternyata ngelawan Jungwoo. Ya ampun, sumpah. Berkaca-kaca.

    Nice story ^^

  5. Aku terharuuuu….
    Jinki..jgnkan es,,andai aku jd batu..aku jg bkalan meleleh.. #mian,,reader gaje

    Baru nyadar,,,ini bhub.ma ff yg minho nerima donor mata dr jinki itu ya…
    *mian lupa judulnya..
    #getok aja nih readernya thor…kekekkk

    Chuaaaa….

  6. mantap banget kaak..ya Allah…
    ini bner2 kerasa banget ikatan persodaraannya. jinki dan taemin..oh my..

    la slalu suka sama yang namanya taemin bersikap dingin…oke, kakak berhasil membuatnya…hhohohoho…
    isi surat Jinki, ya Ampuun, kepengen nagis jadinya…
    dan alasan jinki disebut sebagai sunshine itu sederhana, namun artinya daleeem banget…

    okeee, ditunggu cerita lainnya, terutama yang castnya taemin..XD

  7. Akhirnya End
    Chapter 1 penuh dengan kebencian dari TaeMin pada JinKi.
    Chapter terakhir mengharukan sekali author.
    TaeMin akhirnya berterima kasih pada hyungnya.
    Sedih banget, JinKi terlalu cepat pergi.
    Daebak author
    Keep writing author
    Phaitting ^^

  8. End thooor ._. Ayoo ff laiin hehe aku selalu nunggu ff dari author choi minjin ^^
    Daebaak, sedih banget waktu taem di pemakaman jinki dan bilang kata2 yang nyentuh banget 😦

  9. ouh.. mulai mewek pas baca surat dr jinki.. hiks hiks..
    itu jinki lebam2 pasti berantem sm yg malak taemin ya?

    pas di makam itu.. mewek lagi.. huuuaaaaa…
    “Kenapa kau menangis, Jinri? Lapar ya? …” taemin merusak suasana… huhuhu

    nice ff thor..
    ditunggu karya selanjutnya…
    ff taemin jinri lgi ya.. hahaha

  10. duh..terharu bgt bacanyaaaaa 😦
    kasian juga jinki oppa.
    tapi untungl taemin udah sadar sm apa yg di perbuatnya (y)
    daebakk (y)

  11. Yaampun thor pnter bgt si bkin aku nangis, critanya bner2 mngharukn pkonya 2jmpol dh buat choi minji d^-^b

  12. gila!!! nih ff sedih bgt!! hiks..hiks.. 😥
    kata-katanya bner2 menyentuh. dlam bgt artinya. ditunggu karya2 lainnya ya :))

  13. bagus bgt ceritanya dr SJB
    onew baik bgt sih pdhal dia nongolnya d SJB aja
    tp d cerita2 selanjutnya dia ttp aja muncul
    mengharukan bgt ceritanya, terutama kebaikanny onew
    keren deh pkoknya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s