[FF KEY B’DAY PARTY] The Eyes [1.2]

Title: The Eyes

Author: Ayachaan

Main cast:

  • Kim Kibum aka Key
  • Lee Na-young

Support cast:

  • Lee Jinki
  • BoA
  • Lee Taemin
  • Kim Jonghyun
  • Lee Se-jeong (just mention)

Genre: Romance, Crime, Mystery, Family, Angst

Length: Twoshoot

Rating: PG, Teen

Summary:

Ia menatapku dengan mata bulatnya yang berair.

Mata yang menenggelamkanku dalam kubangan penasaran.

THE EYES PART 1

[Flashback on]

Musim semi, 1998.

Suara isakan pelan semakin terdengar jelas oleh telinganya. Sempat membuat bocah lelaki berwajah tirus itu bergidik alih-alih penasaran. Matanya yang bersudut tajam menatap awas, waspada jika terjadi hal-hal tak terduga. Hingga ketika isakan itu benar-benar terdengar jelas, dia tak juga menemukan asal suara tersebut.

Gemerisik di balik semak merambat menarik perhatiannya. Melangkah pelan, berusaha tidak membuat suara ketika tapak kakinya menyentuh tanah. Dia berhenti melangkah ketika telah berada tepat di samping semak-semak. Melongokkan kepalanya sembari menahan napas. Sedang kakinya telah siap dengan ancang-ancang untuk berlari jika terjadi hal yang dia takutkan.

Terpekur menatap sosok sekecil dirinya, sebelum akhirnya memutuskan buka suara. “Gwenchana?”

Sosok itu menoleh pelan, menatap si bocah lelaki dengan mata bulatnya yang berair. Pipinya basah oleh airmata, sementara tangannya mendekap kedua lututnya yang tertekuk.

Si bocah lelaki berjongkok, menyamai posisi gadis kecil itu. Dalam jarak sedekat itu, si bocah lelaki dapat melihat helaian rambut hitam legam si gadis kecil yang terjalin rapi dalam kuncirannya. Serta pipi halus yang merona manis.

Gwenchana?”

Masih mengulangi pertanyaan yang sama. Meringis sedikit risih ketika mata bulat gadis kecil itu terus menatapnya lekat. Seolah tersirat beragam rasa dalam tatapan itu.

Gadis kecil itu akhirnya mengalihkan pandangannya. Kembali menatap tanah di ujung kakinya sembari bergumam pelan, “Kelinciku mati.”

Bocah lelaki itu merunduk sedikit untuk bisa melihat ke balik tubuh si gadis kecil. Dan benar saja, di sana, terbaring kelinci kecil berbulu putih. Kedua matanya tertutup rapat, sementara tidak ada sedikitpun pergerakan dari tubuhnya.

Si bocah lelaki sigap menarik tas ranselnya. Membuka dan mengaduk isinya dengan sedikit brutal. Sedangkan si gadis kecil menatap bocah lelaki itu penuh tanya. Mata bulat beningnya menangkap lambang angka 2 di lengan kiri seragam bocah itu. Tersenyum samar ketika menyadari satu hal—mereka hanya terpaut satu tingkat.

“Ini,” bocah lelaki itu mengangsurkan satu sarung tangan plastik kepada si gadis kecil dan diterima dengan tatapan bingung. Si bocah lelaki lalu sibuk memasang sarung tangan ke tangan kanannya.

“Ayo, kita kubur.” Ajak si bocah lelaki.

Gadis kecil itu tersenyum walau masih terisak, mengikuti saran si bocah lelaki dan mulai ikut mengais tanah. Menggali lubang untuk mengubur kelinci kecilnya yang malang.

Ketika kelinci kecil itu telah tertutup gundukan tanah, kedua bocah cilik itu serempak melakukan penghormatan dan merapalkan doa. Doa yang menurut mereka akan menemani perjalanan kelinci kecil menuju surga.

[Flashback off]

***

            Pintu ruang Instalasi Forensik Kyunghee University Hospital terbuka pelan. Dari balik pintu putih yang sebagian terbuat dari kaca tak tembus pandang itu keluar seorang dokter muda. Dokter muda berperawakan rata-rata itu menenteng dua berkas laporan dengan tampang agak kusut.

“Ini,” ucapnya pelan ketika telah sampai di meja perawat jaga. Menggeser dua berkas tersebut untuk di simpan di rak.

“Dokter Lee, Anda punya jadwal Otopsi setengah jam lagi.” Seorang perawat mengingatkan Dokter muda itu ketika dia berniat pergi tanpa sepatah katapun.

“Ah,” dia berbalik, menunduk sebentar lalu melanjutkan ucapannya. “Tolong mundurkan selama satu jam. Ada hal yang harus kuselesaikan dulu.”

Perawat itu mengangguk mengerti, “Baiklah, Dokter Lee.”

Begitu mendapat persetujuan dari si perawat, Dokter Lee melenggangkan kakinya menuju balkon di lantai teratas rumah sakit. Balkon yang selalu menjadi tempat terbaik ketika dia sedang ingin menenangkan diri. Terus melangkah menuju tangga darurat di sisi selatan—dia anti menggunakan lift selama kondisinya masih memungkinkan untuk menaiki tangga—tanpa menyadari seseorang yang mengikutinya.

***

            “Jinki-hyung,” sebuah suara menyapa indera pendengarannya. Di sertai dengan sesosok namja yang duduk di sampingnya, mengangsurkan segelas kopi panas.

Gomawo, Kibum-ah.” Ucap Jinki sembari mengambilalih kopi dari tangan Kibum.

Kibum tersenyum melihat wajah Jinki yang masih sama kusut dengan saat dia keluar dari ruangannya.

“Ada masalah lagi, Hyung?” tanya Kibum.

Jinki mengangguk, “Ada satu jenazah tunawisma lagi hari ini.”

“Lalu, apakah jenazah itu telah kehilangan organ dalam tubuhnya?” Kibum bertanya lugas. Seolah sudah dapat menebak kelanjutan dari kalimat Jinki.

Lagi-lagi Jinki mengangguk. Namun, kali ini raut wajahnya berubah keras. “Aku mengutuk mereka. Bisa-bisanya berbuat sebejat itu.” Geramnya.

Kibum memangut-mangut mengerti. Tangannya tergerak untuk menepuk pundak Jinki dengan gestur hangat. “Tenangkan dirimu, Hyung. Bukankah pihak publicrelation rumah sakit sudah mengurusnya?”

Ne. Tapi, rumah sakit tetap tidak punya kewenangan untuk menuntut pelakunya. Kita hanya punya wewenang untuk mengingatkan pemerintah bahwa kasus seperti ini ada.” Sahut Jinki menggebu-gebu.

Kibum mengangguk membenarkan. Ia memilih untuk menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Membiarkan matanya menikmati suasana kota Seoul dari atas balkon rumah sakit. Serta menikmati semilir angin di pertengahan musim semi tanpa menyadari pandangan Jinki yang penuh selidik kepadanya.

“Kibum-ah,” Jinki buka suara ketika Kibum tak juga mengerti arti pandangannya.

Kibum menoleh, memiringkan kepala sebagai tanggapan akan panggilan Jinki. Wajahnya memandang Jinki dengan sangat polos, seakan dia tak menyadari pandangan tajam sang Kepala Instalasi Forensik.

Jinki mendengus gemas, “Jangan pura-pura tidak mengerti, Kim Kibum! Aku tahu identitasmu selain sebagai Dokter bedah di rumah sakit ini.” Desisnya.

Kibum mengulum senyumnya, sedikit senang bisa mempermainkan Jinki. “Aku belum mendapat panggilan, Hyung. Dan kali terakhir aku ke kantor pusat, kasus ini tidak ada dalam urgent-case.”

“Kuharap kalian bergerak cepat. Ini sudah kejadian yang ketiga dalam empat bulan terakhir. Ini… sangat mengawatirkan.” Sahut Jinki.

Ne, aku juga sependapat denganmu.” Tanggap Kibum. Dia melirik Jinki yang kini tak lagi memandang tajam dirinya. Walau hanya memperhatikan Jinki sekadarnya, Kibum selalu dapat merasakan aura penuh dedikasi dari kakak tingkatnya di Fakultas Kedokteran ini.

“Ah, tiba-tiba aku ingin menangani kasus ini.” Celetuk Kibum tiba-tiba.

Jinki terkekeh pelan, “Aku tahu.” Sahutnya langsung. “Jiwamu itu setengah untuk pisau bedah selebihnya untuk kasus pelik.” Lanjutnya.

Kibum meninju pelan lengan Jinki. “Yaa! Kau, Hyung!” dengusnya dengan main-main.

Jinki terkekeh menanggapinya. Sadar bahwa sesungguhnya yang dia katakan tentang Kibum adalah kebenaran. Namja ini, Kim Kibum, tak hanya seorang namja dengan status sebagai salah satu Dokter bedah di Instalasi Kardiovaskular. Namun, dia juga seorang namja beridentitas sebagai seorang penegak hukum.

Atensi Jinki teralih pada arloji hitam di pergelangan kirinya, 2.30 KST. Sudah berlalu satu jam dari saat dia keluar dari ruang Instalasi dan berbincang dengan Kibum.

Jinki berdiri lalu menepuk pundak Kibum sekali. “Aku harus kembali. Ada jadwal Otopsi sebentar lagi.”

“Yah, pergilah, Hyung.” Sahut Kibum, tersenyum pada Jinki.

Jinki berbalik meninggalkan Kibum sembari menyelipkan kedua tangan di saku jas putihnya. Namun, tak sampai sepuluh detik dia kembali berbalik dengan cengiran khas pada Kibum.

“Kita akan kembali berdiskusi tentang masalah ini, Kibum-ah.” Kelekar Jinki.

“Tentu.” Tanggap Kibum langsung. “Ah, kau juga harus mendengar cerita masa laluku, Hyung.” Tambah Kibum.

Jinki yang awalnya telah setengah berbalik, kembali mengarahkan tubuhnya pada Kibum. Memicingkan mata pada namja berpipi tirus yang kini tersenyum penuh arti padanya.

“Aku akan sangat menunggu cerita itu.” Janji Jinki.

Yah, baginya cerita masa lalu Kibum memang terdengar menarik. Terlebih tentang cinta pertama namja itu. Cerita cinta pertama yang bagi Jinki terdengar aneh.

Sepeninggalan Jinki, Kibum merasakan getaran dari ponselnya di saku celana. Merogoh saku tersebut dengan tetap mempertahankan posisi duduknya.

            “Key, kasus baru. Datanglah ke kantor pusat pukul 5.00 KST.”

Bibir tipis Kibum melukiskan senyum samar ketika pupil matanya menangkap deretan huruf hanguel di layar ponselnya. Sesuatu yang dia tunggu dan sepertinya kini hal itu yang sedang menunggu campur tangan Kibum.

***

            Berlembar-lembar foto dengan penampakan yang hampir sama—jenazah dengan jahitan brutal di dada, perut dan mata—bertebaran di depannya. Sedang dia, Kim Kibum, masih menekuri berkas kasus dan beberapa barang bukti sejak satu jam yang lalu. Saat ini namja tampan bermata indah itu tengah berada di kantor pusat NIS—kantor keduanya setelah rumah sakit.

“Jadi, bagaimana Key?” tanya sebuah suara.

Kibum menegakkan kepalanya, aura serius kentara jelas dalam raut wajah itu. Berdehem pelan sebelum buka suara untuk mengemukakan pendapatnya.

“Kurasa, pelakunya hanya satu sampai dua orang.” Ungkap Kibum.

Wanita muda berkacamata yang tengah duduk tepat di depan Kibum mengerutkan kening. Terlihat penasaran akan kelanjutan kalimat Kibum.

“Begini BoA-noona,” lanjut Kibum. Dalam keadaan informal seperti sekarang, Kibum lebih senang memanggil BoA dengan title ‘Noona’. Sedang BoA sendiri lebih memilih memanggil Kibum dengan nama kecil Key.

“Jika kasus pencurian dan perdagangan organ tubuh ilegal ini dilakukan oleh sekelompok orang, maka setidaknya mereka harus memiliki lebih dari 60 orang agen yang tersebar di seluruh Asia—mengingat dua laporan terakhir tentang perdagangan organ tubuh ilegal ada di Srilanka dan Filipina.” Jelas Kibum.

BoA mengangguk mengerti, “Lalu, kau ingin mengatakan bahwa peluang keberhasilan tindak kriminal yang dilakukan oleh kelompok jauh lebih kecil?” tantang BoA.

Kibum tersenyum lebar, “Benar sekali, Noona.”

Yeah, aku memang sependapat denganmu. Tapi, menurutku mereka tetap dalam sebuah kelompok.” Cetus BoA.

“Maksudmu, Noona?”

“Mereka tergabung dalam kelompok bernama keluarga, Key-ah.” Kata BoA, sengaja memberikan penekanan dalam setiap kosakatanya.

“Keluarga?” Kibum mengulang kata-kata BoA dengan wajah bingung. Hei, dia masih belum bisa menangkap arah pemikiran wanita intelek di depannya ini.

BoA mengangguk mengiyakan, “Aku mencurigai satu keluarga, keluarga Lee.”

Kibum mengerutkan kening samar. Keluarga Lee? Sepertinya Kibum tak asing dengan marga itu. Pernahkan dia terlibat dengan keluarga Lee sebelumnya?

BoA menyadari kebingungan Kibum. Oleh karena itu, ia segera mengambil berkas tipis yang sedari tadi terselip di balik tumpukan berkas kasus pencurian dan perdagangan organ tubuh ilegal.

“Ini,” ia menyodorkan berkas itu ke hadapan Kibum. “Perhatikanlah.” Titahnya.

Kibum menarik berkas tipis tersebut, memperhatikan setiap kata yang tercetak rapi di sana.

            Lee Se-jeong, tersangka utama perdagangan organ tubuh ilegal tahun 2005. Keterangan kasus… di tutup. Alasan… tersangka tewas dalam pembekukan oleh NIS.

 

            “Sudah ingat?” tanya BoA.

Kibum mengangkat wajah, “Tentu saja. Walau aku tak terlibat dalam kasus ini, namun aku masih ingat perkembangannya.” Jawab Kibum.

“Ah, lalu karena hal ini kau mencurigai keluarga Lee? Oh, ralat, mungkin keturunan dari Lee Se-jeong?” Kibum mengajukan perkiraannya yang di sambut BoA dengan senyum lebar.

“Benar sekali.” Seru BoA. “Key-ah, kasus ini di tutup karena tersangka utama dan satu-satunya tewas saat di bekuk. Tapi, tidakkah kau pikir bahwa Lee Se-jeong juga memiliki penerus? Atau mungkin, dia telah mempersiapkan penerusnya?”

Kibum terdiam mencerna semua kemungkinan yang di kemukakan BoA. Yah, tidak ada yang salah dengan rumusan masalah tersebut. Setiap kemungkinan tetap mempunyai nilai peluang yang sama. Dengan demikian, maka setiap rumusan masalah harus di selesaikan oleh rumusan hipotesis yang mempuni. Artinya, dia dan BoA harus sesegera mungkin melakukan penyelidikan.

“Kurasa kita harus segera bergerak, Noona.” Saran Kibum.

Ne,” BoA mengangguk setuju. “Tapi, aku baru saja meminta seorang staf untuk mengumpulkan arsip apapun menyangkut Lee Se-jeong. Bagaimana kalau penyelidikannya kita lakukan setelah kau dan aku menganalisis arsip itu?” tawar BoA.

Kibum diam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk dan berujar, “Aku setuju.”

***

            BoA memperbaiki blazer hitam yang melekat pas di tubuhnya. Sementara matanya masih fokus memandang bangunan berarsitektur minimalis dari balik kaca mobil. Hari ini adalah hari keempat Kibum dan BoA mengawasi tempat itu. Tempat yang di sinyalir sebagai kediaman keturunan Lee Se-jeong.

“Key-ah,” panggil BoA pelan sembari membenarkan letak kacamatanya.

Ne,” sahut Kibum singkat. Namja itu masih sibuk membolak-balik dan membaca berkas-berkas di pangkuannya dengan serius.

“Aku semakin yakin….” Kata BoA, sengaja menggantung kalimatnya.

Kibum menoleh sekilas sebelum kembali memfokuskan pandangan pada berkas arsip yang mereka dapatkan dari seorang staf ahli NIS. Tak menanggapi pembicaraan BoA hingga ia membalik halaman terakhir dari arsip tersebut.

“Lee Se-jeong memiliki dua anak dengan almarhum istrinya. Seorang anak perempuan dan adiknya, seorang anak laki-laki.” Gumam Kibum. Dia membuang pandangan keluar dari kaca mobil. Membiarkan prediksi demi prediksi memenuhi pikirannya.

Lee Se-jeong adalah generasi ketiga dari keluarga Lee. Sebuah keluarga yang memiliki garis pelanggaran hukum berat. Generasi pertama meregang nyawa di tiang gantung setelah terbukti melakukan korupsi selama dua periode jabatannya sebagai anggota parlemen. Sedangkan generasi kedua juga meninggal di tangan penegak hukum. Ketika dia berhasil di bekuk atas tuduhan perdagangan narkoba lintas benua. Generasi ketiga, Lee Se-jeong, tewas oleh agen NIS ketika pembekukannya atas tuduhan pencurian dan perdagangan organ tubuh secara ilegal.

Lalu sekarang, apakah generasi keempat dari keluarga Lee mengikuti jejak generasi ketiga? Menjadi pelaku pencurian dan perdagangan ilegal?

Hening menyelimuti kedua insan itu. Kibum mengawasi rumah—yang menurut informasi arsip Lee Se-jeong—adalah kediaman terakhir keluarga Lee, dan masih berpenghuni hingga sekarang. Sedangkan BoA juga tak mau melepas konsentrasinya dari rumah tersebut.

Walaupun telah berlalu beberapa hari, namun, mereka tak juga melihat seseorang yang patut untuk di curigai keluar dari rumah itu. Kecuali seorang pembantu rumahtangga.

“Em, Key-ah,” panggil BoA.

Kibum melirik BoA sekilas sambil bergumam, “Ne?”

Yeoja manis itu tak langsung menjawab, melainkan merogoh saku dalam blazer-nya. Menarik lipatan kertas putih dari sana dan mengangsurkannya kepada Kibum.

“Ini laporan yang kau minta.” Ujar BoA.

Kibum terhenyak sesaat sebelum akhirnya menerima lipatan kertas itu. Dia hampir saja lupa akan permintaan pribadinya pada BoA. Hingga matanya menangkap deretan huruf tebal di balik lipatan kertas itu.

            Na-young, Lee. Mahasiswa pindahan tahun 2010 dari Toudai University, Tokyo, Jepang. Yudisium di Seoul Nation University, tahun 2011.

“Aku tahu tidak seharusnya kuberikan informasi itu sekarang. Tapi… kurasa kau pasti sangat ingin mengetahuinya.” Ucap BoA pelan. Sadar bahwa informasi—yang tak berkaitan dengan kasus mereka sekarang—dapat menyedot semua perhatian Kibum.

“Tak apa. Gomawo, Noona.” Sahut Kibum tak kalah pelan.

BoA memilih tak memberikan respon lagi pada Kibum. Membiarkan namja tampan itu larut dalam pikirannya sendiri mungkin lebih baik. Dan ia kembali fokus pada kasusnya sekarang.

Kibum merasa dadanya bergemuruh hebat. Rasanya tenaga Kibum terkuras habis untuk menahan gejolak perasaannya saat ini. Jadi, benarkah informasi yang baru saja dia dapatkan? Bahwa sejak dua tahun lalu Na-young berada di Korea hingga kelulusannya. Bahwa gadis itu berada dalam teritorial yang sama dengannya. Tapi, kenapa mereka tak berjumpa?

Orang itu adalah sosok dengan lambang ‘want­ed’ dalam otak Kibum. Sosok yang paling dia cari selama ini. Jika memang Na-young masih berada di Korea, dimanakah gadis itu sekarang? Segala pertanyaan tanpa jawaban berkecamuk dalam hati dan pikirannya. Andai saja bisa, Kibum ingin saat ini juga menemukan gadis itu. Mengikatnya agar tak pergi, hingga tak akan ada lagi badai kedua yang memporak-porandakan hatinya.

Aku akan menemukanmu, Na-young, tekad Kibum dalam hati.

***

            Namja berkulit putih mulus itu tengah duduk santai sembari membaca buku. Menghabiskan waktu luang dengan duduk di balkon atas rumah bergaya minimalisnya. Sesekali dia menyeruput lemon tea yang tersuguh di depannya. Dia akui, dalam beberapa kesempatan, dia suka ketenangan seperti ini.

Kehidupan tak selamanya tenang. Maka begitu jugalah hidupnya. Dia bahkan hampir lupa seperti apa rasanya berjalan santai di taman kota. Hal itu, sudah bertahun-tahun tak pernah dilakukannya. Hidupnya—dan hidup saudara perempuannya—selalu di selingi hura-hura. Akan tetapi, hidup mereka juga tertutup dari masyarakat luar.

Mereka seolah punya dunia sendiri. Dunia berpenghuni masyarakat yang mengenal dan menyegani mereka. Orang-orang penjilat adalah tetangga yang harus selalu di curigai. Dari sekian orang jahat dalam dunia mereka, ada segelintir orang yang mengabdi penuh patuh pada mereka.

“Tuan muda Lee Taemin,” sapa sebuah suara. Namja itu menutup buku yang di bacanya. Yah, segelintir orang baik itu salah satunya adalah orang yang kini memanggil namanya.

Dia bangkit dari duduknya, menyongsong lelaki yang masih membungkuk hormat menghadap dirinya.

“Ada apa, Kim Jonghyun-ssi?” tanya Taemin.

Jonghyun menegakkan tubuhnya, “Perkembangan dari pihak yang sedang mengawasi kita, Tuan muda.” Jawab Jonghyun.

Taemin tersenyum samar dalam raut wajah tenangnya. Dia tahu, dan sebenarnya sudah menduga hal ini akan terjadi. Di luar sana, banyak sekali orang-orang ber-IQ di atas rata-rata. Mereka adalah orang-orang yang akan mampu membongkar perilaku menyimpang dia dan saudara perempuannya.

“Apa saja?” Taemin kembali mengemukakan pertanyaan. Berhasil menahan rasa khawatir alih-alih takut dalam dirinya. Mendorong perasaan itu masuk dalam jurang hitam dalam hatinya.

Jonghyun mengarahkan amplop coklat yang sedari tadi di genggam tangan kirinya pada Taemin. Sedikit membungkukkan badan hingga amplop itu di ambilalih oleh si namja tampan.

“Itu adalah data dari dua orang agen yang kini mengawasi kita.” Kata Jonghyun.

Taemin mengangguk pelan sementara hampir seluruh perhatiannya teralih pada lembar-lembar informasi itu. “Kamsahamnida, Jonghyun-ssi.” Sahut Taemin.

Jonghyun menegapkan tubuhnya, “Ne, saya permisi Tuan muda.” Pamit Jonghyun di iringi bungkukan hormat pada Taemin.

Jonghyun melangkah keluar dari ruangan besar itu melalui pintu kayu berpelitur mengilat. Sepeninggalan Jonghyun, Taemin masih memperhatikan lembaran informasi itu dengan seksama. Hingga ketika matanya menangkap nama agen kedua di lembar berikutnya, dia terdiam sesaat.

Kim Kibum, nama yang tidak asing. Tapi siapa? Pernahkah sebelumnya dia mengenal orang ini? Atau… pernahkah dia berhubungan dengan orang itu? Perasaan mengenal, perasaan tidak asing menyambangi pikirannya tanpa henti.

Kim Kibum, jika bukan dia yang mengenal orang itu, apakah saudara perempuannya punya peluang besar untuk mengenal orang itu? Pernahkan orang itu ada dalam coretan masa lalunya dan saudara perempuannya? Jika memang ada, apakah coretan itu terlupakan olehnya?

Taemin membenahi susunan berkas di tangannya. Meletakkan berkas tersebut di nakas samping sofa, kemudian dia berlalu menuju pintu lain dalam ruangan itu. Pintu yang menghubungkan ruangannya dengan ruangan pribadi seseorang.

Namja tampan bermata bulat bening itu membuka kenop pintu pelan. Dari pintu yang setengah terbuka, dia dapat melihat seluit tubuh seorang gadis. Sosok itu menghadapkan ke jendela besar di depan Taemin dengan menyandarkan bobot tubuh di tepi meja besar berpelitur mengilap.

Noona,” sapa Taemin.

Sosok yang di sapa ‘Noona’ itu memiringkan wajahnya sedikit sebelum menyahut sapaan Taemin, “Ne, Taeminnie?”

Taemin bergerak pelan dari posisi awalnya. Dia menutup pintu dan berjalan mendekati sang Noona. Menyejajarkan dirinya dengan ikut bersandar pada tepi meja. Semilir angin di pertengahan musim semi segera menerpa wajahnya. Membuatnya ikut menikmati belaian angin dari jendela yang terbuka lebar.

Taemin lalu menyadari tujuan awalnya menemui sang Noona. Namja itu berdehem pelan sebelum kembali buka suara, “Kita di curigai, Noona. NIS malah sudah mengirimkan agennya untuk mengawasi kita.”

“Aku tahu, Taeminnie.” Sahut sang Noona pelan.

Taemin terhenyak kaget. Bagaimana bisa kakak perempuannya begitu tenang. Sejak tadi, Taemin sudah berusaha mengendalikan dirinya sendiri untuk tidak terlalu takut. Tapi kali ini, jujur saja… dia takut.

“Kau tak melakukan apapun, Taemin-ah. Kau aman—.”

“Tapi, kau tidak Noona. Kau sedang terancam sekarang!” Taemin memotong kalimat Noona-nya dengan menggebu-gebu. Jika dia takut akan nasib dirinya sendiri, maka dia juga jauh lebih takut akan nasib sang kakak.

Gadis manis bermata bulat bening itu menoleh pada Taemin. Menyunggingkan senyuman manis pada sang namja-dongsaeng. Sebelah tangannya meraba untuk meraih telapak tangan Taemin. Membawa kedua tangan itu untuk saling bertaut.

“Karena memang seperti inilah keinginan Appa.” Ucapnya pelan. Berusaha keras menyembunyikan suaranya yang parau oleh perasaan. Gadis itu lalu menyandarkan kepala di bahu Taemin.

Diam-diam sebelah tangan Taemin terkepal. Mengingat sang Ayah, tak ada sayang bergelayut di hatinya. Semuanya hanya kecaman, marah, kecewa bertubi-tubi. Kenapa? Kenapa harus dia dan saudara perempuannya? Mereka bagai angsa putih yang di paksa berenang di danau hitam. Tak bisa keluar dari danau karena telah berputar dalam pusaran air. Selamanya, mereka sebagai angsa putih yang berkubang di danau hitam.

Tiba-tiba Taemin mengingat satu hal, “Noona, tidakkah kau ingin mengetahui siapa yang menyelidiki kita?” tanya Taemin.

Taemin merasakan gelengan di bahunya sebelum sebuah suara terdengar, “Shireo. Bahkan, jika aku mengetahuinya keadaan tidak berubah, bukan? Aku sudah di giring masuk ke jurang. Maka tak ada yang dapat menarikku keluar dari sana.”

Taemin membenarkan kata-kata kakaknya. Di giring masuk ke dalam jurang. Tertuduh sebagai tersangka, namun, bukan sang kakak yang melakukannya. Para kolega keluarga mereka adalah orang yang mencari mangsa. Mencari para tunawisma untuk di ambil organ tubuhnya dan dijual. Sedang sang kakak adalah benteng pelindung dari para pelaku itu.

Seperti itulah harga yang harus mereka bayar. Harga yang telah ditetapkan oleh Ayah mereka dan para kolega itu. Dan ketika Ayah mereka meregang nyawa sebelum menjadi tumbal kejahatan itu, maka merekalah yang menjadi tumbal pengganti.

***

            Kota Seoul semakin larut. Namun, hingar bingar jalanan masih terdengar. Berhasil menyusup masuk menjadi suara samar-samar ke apartemen Kibum. Menemani namja itu di kesunyian malam.

Dari bawah cahaya lampu meja, Kibum masih menekuri lembaran kertas di depannya. Membaca ulang semua informasi yang tercetak di sana. Informasi tentang Lee Na-young yang selama ini selalu dicarinya.

Kibum tidak tahu sejak kapan dia menjadi sepenasaran ini. Mungkin, sejak pertama kali matanya bertemu pandang dengan mata gadis itu. Tatkala dia memandang masuk ke dalam mata bulat bening yang tengah berair kala itu, tanpa dia sadari, mata itu mengikatnya.  Membuat dia tak bisa melupakan seperti apa indahnya mata itu dan seperti apa gemuruh yang datang. Bahkan, gemuruh tersebut selalu hadir ketika dia hanya mengingat gadis itu.

Sejenak, atensinya teralih pada lembaran yang lebih tebal. Berisikan data kasus yang kini sedang dia tangani. Konsentrasi Kibum buyar oleh dering ponselnya. Segera meraih benda hitam itu dan menjawab panggilannya.

Yeoboseyo?”

“Key-ah, ada sesuatu yang ingin kubicarakan tentang pelaku kasus ini.” Itu suara BoA. Tengah malam begini, yeoja itu masih memiliki power rupanya.

“Tentu saja, kapan?”

“Besok  bisakah kau datang ke kantor pusat?” pinta BoA.

Key mengangguk, walau sadar BoA tidak dapat melihat gesture-answers darinya.

Ne, Noona.”

“Baiklah, annyeong Key-ah.”

Annyeong.”

Menurunkan ponselnya ketika mendengar bunyi sambungan yang telah terputus. Sepertinya, mereka telah menemukan titik terang dari kasus ini. Ah, keluarga Lee, kenapa Kibum selalu merasa aneh ketika mengingat marga itu? Apalagi sekarang konsentrasi Kibum terpecah oleh informasi dari masa lalunya.

Kibum mengambil kembali ponselnya. Memberdayakan jemarinya untuk mencari kontak seseorang. Hingga ketika telah menemukannya, dia segera men-dial nomor itu.

“….”

Hyung, aku menemukan sesuatu dari masa laluku.”

TBC

Ayachaan #120915

Annyeong ^^. Ini Ayachaan membawa The Eyes. Special gift untuk uri Almighty Key. SAENGIL CHUKKAEHAMNIDA URI KEY!!! :3

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

40 thoughts on “[FF KEY B’DAY PARTY] The Eyes [1.2]”

  1. liat tulisan NIS ngingetin sama film Athena..
    heheheghh..

    sepertinya Key ma Na-yong bkalan terlibat dalam masalah yg rumit..
    aissshh,,
    tak sabar baca lanjutannya..
    keren..
    daebak..

    1. aku sebenernya belum bisa bikin masalah rumit lho, dan… ini menurutku ga serumit satu cerita yg pernah aku baca, hehe
      tapi, tapi, gomawo kamu udah sempetin mampir

  2. Mangap beneran ngebacanya…
    Penasaran, apakah ada tautan antara serpihan masa lalu Key itu dengan kehidupan Jinki dengan kehidupan Taemin-Nayoung dengan kehidupan BoA
    #duagh

    dan, jdi kepengen teriak pas baca scene Taemin di sana..hahaha. Demenan aku banget tu karakternya 😀

    Aku juga excited sama rumah sakit itu. haha. Tapi, itu Jinki udah jadi spesialis forensik kan di sana? Udah bertitel Dokter (dr. ) kan?
    Menurut aku sih lbih cocok kalimatnya : “Dari balik pintu putih yang sebagian terbuat dari kaca tak tembus pandang itu keluar seorang dokter yang berusia cukup muda. Dokter tersebut berperawakan rata-rata…,” dst.
    Soalnya klo di tempat aku kuliah, dokter muda itu buat seseorang yang masih bertitle S.Ked di belakangnya. Jadi statusnya masih mahasiswa Co-Ass. Klo Jinki di sana kan udah spesialis kan yah? Jadi ‘dokter’ dan ‘muda’ nya di pisah oleh kata penghubung aja 😀

    Sekian kritik abal2 dari saia, smoga berkenan. Dan, sangat ditunggu kelanjutannya ^o^/

    1. sebenarnya ‘dokter muda’ itu aku mau bilang kalai Jinki dokter yg usianya relatif lebih muda dari kebanyakan dokter spesialis, hehe
      saran km pas kok, supaya kalimatnya ga ambigu 🙂

      makasih ya masukan ttg kedokterannya. kedepannya aku memang perlu berbenah lagi. sekali lagi makasiiihh udah dikasih tau 😀

  3. key dokter bedah sekaligus agen NIS.????
    udh pasti keren abis…
    tp kasihan…kyknya kisah cinta key kali ini g akan berjalan dg mulus ya…
    pasti gitu…
    tp tadi itu na young buta ya….???
    kyknya iya…klo nggak,knp dy mesti meraba – rabacm buat pegang tangan taemin…???
    penasaran nih…

    1. sebenarnya, Na-young ga buta kok. ia itu lagi mandang ke depan, jadi tangannya meraba nyari tangan taemin. meraba disini bikin ambigu ya?
      seharusnya kata menggapai atau meraih mungkin pas kali yah.. hehe 🙂

      oya, gomawo ne~

  4. apa noona taemin itu nayoung?? Dan,, apa jinki jg ada kaitan dgn klan ‘lee’?
    Mari kita simak pada part selanjutnya.. XD
    Next.. Next..

  5. sebelumnya aku mau ucapin: saengil chukkaehamnida uri yeobo!! ^^ #plak

    wah seru. kerjaan nayoung keren amat. bukan jualan baju atau sayur dipasar tp jualan organ dalam manusia!! ckckck

    key udah tau ya kl cinta masa kecilnya adalah pelakunya. Wah key kebingungan itu.. Next!

  6. aaaah seruuuu
    kayanya cwe itu yg dari masa lalu key deeh
    awalnya aq kira , keluarga lee itu lee jinki, ternyata bukan yaa, hehe
    penasaran sama cerita selanjutnya

  7. Aaah, seru seru. Ga sabar nunju kelanjutannya, nyehehe :3

    Nayoung itu temen masa kecilnya Key ya? Ah, nggak tau deh. Nunggu next partnya aja :p

  8. Wah! Key keren nih, selain jadi ahli bedah, jadi penegak hukum juga. Tiba2 kepikiran, klo kaya gitu kira2 Key tidurnya kapan yah? .akakakak.
    Nunggu lanjutannya deh biar ga penasaran 🙂

  9. Lee Nayoung, dia yeoja yg dicintai key kan.
    aku ykin niihh klo Lee nayoung itu noona nya taemin trsngka ksus yg lg dselidiki ama key.
    pnasaran ma klnjutannya, lnjut dl deehh

  10. Aya… ah sial, diriku mau blajar jadi baca ff-mu ini, tanggung jawab nih ayaaaa. tau kenapa? aku tertarik dr posternya, kkeke~ ga penting banget yah komenku.

    Oke, mulai waras ni komennya.

    NIS? wuooo, jadi inget drama2 korea. Bentar. Beberapa kali nonton drakor yg ceritanya intel2an, ada beberapa nama lembaga gtu, dan aku ga tau apakah NIS itu yg nanganin kasus beginian.

    Nah nah. Agak aneh di sini, kan katanya gara2 Lee Se-jeong tewas dalam pembekukan, jadi kasusnya ditutup. Nggg, kasus perdagangan ilegal organ tubuh itu menurutku tersangkanya ga mungkin tunggal. Jadi, mestinya diberantas abis tuh ampe ke keluarga2nya.
    Aku jadi keingetan film -nya Won Bin yang The Man from Nowhere, ceritanya tt perdagangan anggota tubuh gt. Nah, itu kan komplotan tuh… diceritain juga gimana cara kerjanya biar ga tercium polisi. Aku punya pertanyaan nih, knapa kamu nulis kalimat ini:
    ——————–

    “Jika kasus pencurian dan perdagangan organ tubuh ilegal ini dilakukan oleh sekelompok orang, maka setidaknya mereka harus memiliki lebih dari 60 orang agen yang tersebar di seluruh Asia—mengingat dua laporan terakhir tentang perdagangan organ tubuh ilegal ada di Srilanka dan Filipina.” Jelas Kibum.

    BoA mengangguk mengerti, “Lalu, kau ingin mengatakan bahwa peluang keberhasilan tindak kriminal yang dilakukan oleh kelompok jauh lebih kecil?” tantang BoA.
    ———————–
    kenapa 60 orang? kenapa kalo dilakukan kelompok peluang berhasilnya lbh kecil? soalnya dimana-mana yg beginian ada jaringannya klo aku liat di film2 mah.

    Trus. Emang kenapa toh Na Young ama Taemin pasrah aja jadi tumbal sodara2nya? kalo aku jd mereka, aku ga mau nama baikku kena padahal aku ga berbuat jahat. hmm, semoga ada penjelasannya ya…

    Oya, aku mau ngomentarin hal2 sepele boleh? soalnya ini sering kamu ulang2 Ay.

    1. si gadis kecil yang terjalin rapi dalam kuncirannya. Serta pipi halus yang merona manis.

    Menurutku lebih pas gni:
    …. rapi dalam kuncirannya, serta pipi halus yang merona manis.

    2. “Ayo, kita kubur.” Ajak si bocah lelaki

    Yang macem ini ay masih banyak terulang. Penulisan kalimat langsung. Kalo diikuti kata: ajak, bisik, katanya, ujar, desis, bisik, tanggapnya, lanjutnya dll… maka penulisannya:
    “Ayo, kita kubur,” ajak si bocah lelaki
    “Gomawo, Kibum-ah,” ucap
    …mengingatkan pemerintah bahwa kasus seperti ini ada,” sahut Jinki menggebu-gebu.
    “Ne, aku juga sependapat denganmu,” tanggap Kibum.
    “Ah, tiba-tiba aku ingin menangani kasus ini,” celetuk Kibum tiba-tiba.
    Jinki terkekeh pelan, “Aku tahu,” sahutnya langsung. “Jiwamu itu setengah untuk pisau bedah (koma) selebihnya untuk kasus pelik,” lanjutnya.

    3. Otopsi
    Harusnya autopsi, bisa dicek di KBBI
    4. mengangsurkan segelas kopi panas.

    Kenapa kamu pake ‘mengangsurkan’? oh, maksudnya itu ‘menyodorkan pelan-pelan’ ya?

    5. Mengambilalih

    Di KBBI, ambil alih yang bener, terpisah. Jadi mengambil alih
    6. Bisa-bisanya berbuat sebejat itu.

    Agak janggal ay bacanya. ‘Sebejat’ kan kata sifat, nah biasanya kata sifat itu buat ngejelasin kata benda bukan sih? Mungkin lebih pas gini:
    Bisa-bisanya ia melakukan perbuatan sebejat itu.

    Ga tau juga sih ay, ini Cuma pendapatku ya ^^

    7. Sudah berlalu satu jam dari saat dia keluar dari ruang Instalasi dan
    Agak aneh ay. Mungkin lebih pas kalo:
    Sudah berlalu satu jam sejak dia keluar dari ruang Instalasi dan

    8. Kelekar Jinki.
    Ada juga kelakar ay ^^
    9. Hanguel
    Aku tanya ama rahmi eon, yg bener itu han-geul
    10. Penulisan kata ‘di’. Selama itu imbuhan, penulisannya disambung. Kecuali itu untuk kata depan yang diikuti tempat dan waktu, baru dipisah.
    Jadi yg bner:

    11. Ditutup, dibekuk, dikemukakan, disinyalir, diselingi, digenggam, diambil alih, diiringi, dicurigai, dipaksa

    Masih banyak lg yg ga aku cantumin di komen ini

    12. mempuni.

    Mungkin ‘mumpuni’ ya maksudnya?
    13. Lee Se-jeong memiliki dua anak dengan almarhum istrinya.

    Ini juga janggal ay. Mungkin lebih pas:
    Lee Se-jeong memiliki dua anak dari almarhum istrinya.

    14. di tiang gantung setelah terbukti melakukan korupsi selama dua periode jabatannya sebagai anggota parlemen

    woaahh, aku jadi mau tau. Emang iya di korea bisa kena hukum gantung kalo korupsi 2 periode? Kalo ngebunuh kykna masih mungkin. Tp ga tau juga, aku ga pernah searching tt ini. Seandainya bener, aku Cuma ngarep di indo ada aturan macem ini juga, hukum mati koruptor, jangan malah masuk penjara berkelas hotel bintang lima #protes kumat

    15. rumahtangga.

    Di KBBI dipisah ay, ‘rumah tangga’

    16. seluit
    mungkin maksudnya ‘siluet’ ?
    17. bobot tubuh di tepi meja besar
    tubuh siapa?
    Ngerti sih maksudnya, tp kykna lebih pas:
    …bobot tubuhnya di tepi meja besar

    18. hingar bingar

    di KBBI, yang ada juga ‘ingar-bingar’

    19. Menemani namja itu di kesunyian malam.
    Gimana kalo ‘di’ itu jadi ‘dalam’

    Busettt, komenku panjang banget yakkk? *tarik2 rambut*

    Mian ya Ay. Udah lama ga baca ff n komen, sekalinya komen panjang malah jd amit2 panjang

    1. aku tertarik sama ff ini, berat dan buat nulisnya pasti butuh usaha yang nggak sedikit, harus riset juga…trus menggabungkan berbagai profesi dan sisi kehidupan manusia, itu keren menurutku, habisnya, aku belum bisa membuat cerita seperti itu. 😀

      aku cuma mau kritik beberapa hal sih, bukan terkait substansi cerita sih, lebih ke arah penguatan setting.
      1. penggunaan istilah ‘instalasi forensik’, menurutku kurang tepat. Mungkin bisa diganti jadi ‘unit’ –> unit Forensik.

      2. …tak hanya berstatus sebagai dokter bedah di instalasi kardiovaskular.
      setahuku, bagian kardiovaskular di RS tidak merupakan instalasi. Kyunghee Univ Hospital sendiri menggunakan istilah Departemen Kedokteran Kardiovaskular.
      Atau, saranku diganti menjadi ..’dokter bedah kardiovaskular’ , rasanya sudah cukup efektif

      2. di CV Lee Nayoung, tertulis Toudai University, Tokyo, Japan. Setahuku, Todai (bukan Toudai) adalah singkatan untuk Tokyo Daigaku/Tokyo University. Trus Seoul Nation University, seharusnya Seoul National University

      ahh, maaf aku kebanyakan kritik. segera meluncur ke part 2

      1. hai hai ^^
        ttg instalasi itu memang kesalahan aku ya, setelah tanya ternyata di rumah sakin daerahku unit forensik di bawah instalasi jenazah. Sama dgn instalasi kardiovaskular, penempatan instalasinya aku mmg belum tepat 🙂

        saran tentang unversitas makasih… hehe. Toudai itu mmg aku yg salah baca, di buku mmg Todai bukannya Toudai..

        sakali lagi, makasih banyak ya.. gomawo, jeongmal ^^

  11. kak bibib, hai-hai ^^

    ttg 60 org itu, aku dapat inspirasi dari Death Note *lagi2*. dari sana aku tau kalo katanya kemungkinan keberhasilan kejahatan kelompok itu jauh lebih kecil dari kejahatan individu. Tapi, mungkin bisa juga sebaliknya di beberapa kejadian kak.

    ttg kasus Lee Se-jong yg di tutup, itu lagi2 aku dapat inspirasi dari Death Note. karena katanya banyak kasus2 yg nggak sepenuhnya selesai sama polisi tapi dibilang selesai ke publik, semacam pembohongan publik gitu kali ya…

    ttg NIS, aku lihat drakor dgn judul NIS dan mereka menangani pembunuhan. jadi, waktu itu aku mikir kasus seperti ini mungkin di tangani sama mereka. Niatnya aku kemaren2 mau nyari tau ttg NIS, tapi, ga nemu. mungkin, karena mereka badan inteligen kali ya?

    ttg penulisan ‘di’ dan ‘ke’ aku mmg masih belum ngerti banget. pdhl pengen minta jelasin ke guruku, tapi, nggak kesampaian terus sampai hari ini *eh, kok malah curcol #abaikan*
    soal diikuti kalimat langsung udah mulai ngerti, nanti aku praktekkan kak ^^

    gomawo kak bibib, seneng deh dikasih tau seperti ini daripada dibiarin aja, hehe. makasiiiihhh kakak ^^

  12. maaf, komenku salah tempat, harusnya bikin komen baru, bukan nge-reply
    yang kritik soal instalasi forensik, abaikan saja. hehe, ternyata emang ada instalasi forensik, mungkin hanya perbedaan istilah di RS luar negeri yang tidak mengenal kata ‘instalasi’
    sekali lagi maaf atas keteledoranku barusan 🙂

  13. akhirnya, aku terdampar di sini atas rekomendasi bibib #abaikan.
    tema : asyik.
    diksi : boleh juga, nggak ngebosenin.
    hmmm… cuma lama2 agak janggal ngebacanya gegara byk kalimat yg subyek predikatnya gak jelas.
    mo nanya, itu jenazah yg mo diotopsi jinki, jenazah yg organnya diambil ama komplotan taemin ‘kan? bukannya otopsi kasus kriminal di korsel ditangani NFS? bukan RS umum.
    trus… “tertuduh sbg tersangka” tu maksudnya apa ya? klo sepengetahuanku, menurut istilah hukum di indonesia, ada tersangka, tertuduh, terdakwa, terpidana
    gitu2. itu beda semua ‘kan?
    overall, menarik.

    1. masukan ttg subjek-predikatnya makasih ya Kak, jadi bahan perbaikan buat aku ^^
      terus ttg istilah hukum juga makasih ^^

      ttg korban yg di bawa ke RS Umun, itu karena (maaf karena imajinasiku) korban di bawa ke RS umun dulu baru di ambil NIS gitu?
      tapi, mungkin nggak sesuai aturan ya? mianhae

      ah, sekali lagi makasih masukannya ^^

  14. Halo ayaaaa

    Ini semacam cerita-cerita intel yang gak pernah sanggup aku tuangkan meskipun ada berjuta ide yang sudah terekam di otak..
    untuk masalah penulisan sepertinya sudah banyak dikoreksi oleh bibib yah, oke kalau gitu aku gak perlu koreksi lagi biar kamu gak bosen bacanya, hehe
    Tapi, ada juga beberapa kalimat yang aku rasa seharusnya belum dikasih tanda titik (.) karena masih merupakan keterangan kalimat sebelumnya. Selain itu agak kebingungan juga karena minimnya penulisan subjek pada beberapa kalimat yang ketika dibaca jadi agak janggal

    ada yang aku rasa agak janggal, atau memang akunya aja yang gak nangkep maksudnya?
    di sini ditulis:
    Pintu yang menghubungkan ruangannya dengan ruangan pribadi seseorang.
    sementara di awal disebutkan taemin lagi bersantai di balkon atas rumahnya???

    Untuk temanya sih menurutku termasuk kreatif (mungkin juga karena aku yang jarang baca tema seperti ini)

    Nah, lalu ada yang terus berputar-putar di kepala aku sejak baca cerita ini diawal-awal sewaktu tau kibum itu anggota NIS
    Bolehkah di Korea Selatan melakukan double job?
    Biasanya orang-orang yang double job dan sebagainya itu yang kerja part-time atau freelance
    Sementara key menjadi dokter bedah dan agen NIS yang mana aku rasa kedua-duanya ini kerja penuh waktu dan Key bisa dikategorikan melakukan double job
    Bagaimana jika seandainya rumah sakit membutuhkan dia untuk melakukan bedah sementara di saat yang bersamaan ia harus mengawasi tersangka yang ditargetkan NIS?

    Waaah, jadi penasaran di part 2 pasti key ketemu nayoung dan menduga kalau nayounglah yang melakukan penjualan organ tubuh itukah?
    Penasaran sama konflik dan twist yang bakal dihadirkan di sana, aku meluncur sekarang yah..
    Terus berjuang untuk menulisnya, Aya 😀

    1. Hai kak ^^

      ttg Taemin, awalnya Taemin memang duduk di balkon rumah (yg sekaligus juga ruang pribadi Taemin–disini aku nggak jelasin ya, nah, kekurangnnya nih) terus dia masuk ke ruangannya saat ada Jonghyun. Setelah Jonghyun keluar, Taemin masuk ke ruang pribadi Na-young lewat pintu tembusan dari ruangannya.
      Aish, rancu ya kak? Mianhae ^^V

      terus ttg boleh nggaknya agen double profesi, aku pernah nonton film (lupa judulnya apa) disitu agen rahasianya jadi wartawan. Tapi, sini mungkin aku gegabah ya ngasih Key part job dokter bedah…
      tetap jadi bahan perbaikan buat aku nih kak, hehe

      makasih ya kak Yuyu masukannya. makasih juga udah sempetin mampir ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s