Napeun Namdongsaeng [2.2]

Napeun Namdongsaeng (2.2)

Author : min_nki

Main Cast: Lee Taemin, Choi Mingi

Support Cast : Sehun, Jong In ( Kai ), Jinki ( Onew ),Min ah Umma, Key, Minho and Jonghyun

Genre : sad, family

Length : Sequel ( 2 shoot )

Rating : General

“MWO?” kata Taemin setengah teriak, “Ne, aku masih belum menemukan pendonor itu, sekalipun ada dia malah menjualnya. Aku tak mau membunuh seseorang dan belum tentu jantungnya cocok.” jelas Dokter Kim, “apakah tak ada pilihan lain selain menunggu dan menunggu?” Tanya Taemin, Dokter Kim berpikir sejenak dan mulai merangkai kata-kata yang akan ia sampaikan pada Taemin, “sebenarnya ada.” Ucap Dokter Kim.

***

“Taemin -ah, gwenchanayo?” Tanya Minho saat melihat  Taemin yang melamun di pinggir lapangan, “ah, ne?” kata Taemin yang tak menyimak perkataan Minho, “Aish, tumben sekali kau melamun. Waeyo?” tanyanya, “ehm, anni.” Jawab Taemin singkat lalu bangkit dari tempat duduknya, “Ah, malhaebwa Taemin -ah.” Pinta Minho sambil bergelayutan di tangan Taemin, “aish, Ya! Your so childish arra.” Kata Taemin yang kesal melihat tingkah Minho, “aku tak akan berhenti. malhaebwa.” Pinta Minho lagi, Taemin pun tak bisa melarikan diri dari rengekan Minho.

***

“Ku harap pilihanmu adalah yang terbaik.” Ucap Minho pada Taemin di kamarnya, “Ku harap seperti itu pula, tapi aku takut.” Jawab Taemin menundukkan wajahnya, “Wae? Tak ku sangka seorang Lee Taemin bisa setakut ini.” Kata Minho meremehkan Taemin, “nan molla Minho-ya.” Kata Taemin lirih, Minho pun tak bisa melihat sahabat terbaiknya itu terpuruk, karena dia harus mempunyai seseorang untuk selalu berada disisinya saat ini, “tenanglah Taemin -ah, aku selalu di sampingmu. Jadi curahkan segala keluh kesah mu padaku mulai saat ini, Arrachi.” Kata Minho memberi kekuatan pada Taemin, “Ne.” jawab Taemin lirih.

***

Taemin POV

Tekadku sudah kuat, aku tak boleh goyah. Aku yang menentukkannya maka aku harus menerima konsekuensinya. “ Taemin Fighthing.” Ucapku sambil memberi semangat padaku sendiri. Tak terasa sudah waktunya pertandingan Final dimulai, akupun berjalan menuju lapangan basket, aku mengedarkan pandanganku pada tempat duduk penonton dan melihat ada Jinki Hyung, Mingi, Taemin, Sehun dan Umma yang membawa-bawa papan namaku dan timku yang cukup besar. “Aku iri padamu Taemin -ah.” Bisik Minho saat dia melihat keluargaku datang menyemangatiku, “itu juga untuk kita semua.” Balasku lalu berjalan ke arah wasit untuk menentukan siapa yang bermain lebih dulu.

***

“Bersulang.”teriak semua orang saat di kedai pinggir jalan, mereka pun meminum soju hanya aku yang meminum air putih, dan menikmati kemenangan yang kami raih dengan susah payah, “kau hebat mushroom boy, itu adalah point yang bagus dan paling mendebarkan di detik-detik akhir.” Ucap Key padaku sambil menepuk-nepuk pundakku, “Ne, kau sungguh hebat Taemin.” Ucap sang pelatih padaku, “ne, gamsahamnida pelatih.” Ucapku sambil bow, “tapi aku akan mengundurkan diri dari tim ini.” Lanjutku  setelah duduk, “mwo?” Tanya mereka serempak kecuali Minho yang tak kaget, “Wae?” Tanya Key kecewa padaku, “Aku sepertinya  akan pergi Key-ah, jadi aku mengundurkan diri. Dan itu adalah permainan terakhirku, tetapi aku tak akan melupakan kalian semua. Sekali lagi Gomapsemnida semua sudah membantuku sejauh ini.” Ucapku bow kembali, “Aigoo, kita tidak boleh marah pada Taemin hanya karena dia ingin keluar dari klub basket kita. Kita harus mensupportnya dan merayakan perpisahan Taemin dengan kemenangan yang kita raih sekarang, nah ayo kita makan sepuasnya.” Ucap sang pelatih pada kami semua, rasanya aku ingin sekali memeluk mereka satu-satu dan mengucapkan terima kasih atas selama ini.

***

Mingi POV

“ Taemin –ah, Mianhae sudah menunggu lama, tadi aku di panggil Cho Songsaenim karena laporan kelasku sedikit berantakan.” Ucapku saat berdiri di hadapannya, “Ne gwenchana Noona.”balas Taemin dengan senyum yang menurutku itu manis, dan apa kata terakhirnya itu, “Noona? Naega?” tanyaku tak percaya, diapun hanya mengangguk, “Mwo? Gwenchanayo?” tanyaku sambil memegang dahinya, “gwenchana Noona, ayo sekarang temani aku jalan-jalan hari ini karena Jong In dan Sehun sedang study tour, dan Jinki hyung  tak bisa di ganggu yang sedang bergelut dengan skripsinya.” Ucapnya sambil menarik-narik tanganku manja, “Ne saengi.” Ucapku senang, entahlah tapi sikap Taemin kali ini sedikit aneh, baru kali ini aku mendengar sendiri dia memanggilku ‘Noona’, itu hal yang sangat tidak masuk akal bagiku, tapi sekarang aku senang dia dapat menerima keberadaanku, aku heran kenapa dia terus tak pernah menganggap aku Noona untuknya, padahal Jinki dengan mudah bisa mengambil hatinya, ku kira seiring dengan berjalannya waktu aku bisa dekat dengannya tapi tidak. Dan sekarang setelah 7 tahun aku bisa sedekat ini dengannya.

***

“Noona, kurasa ini cocok denganmu.” Kata Taemin memakaikan topi padaku, “ehm, kurasa cocok, bagaimana dengan ini? Apakah kau suka?” Tanya ku saat memakaikan bandana dengan telinga kelinci padanya, “Aish Noona, aku malu memakainya.” Kata Taemin yang melepas bandana itu sedikit kesal, akupun hanya terkekeh pelan melihat kelakuan Taemin. “ Noona mashita.” Ucapnya saat menyuapkan dokbokki makanan kesukaannya, “Mahni mogo.” Ucapku sambil mengacak-acak rambutnya, “Ne.” jawabnya.

***

Author POV

“Noona, Mianhae.” Batin Taemin saat melihat punggung Mingi saat mereka pulang, “Wae Taemin -ah, apa kau lelah?” Tanya Mingi saat melihat Taemin menekuk mukanya, “anni noona, apa kau senang hari ini?” Tanya Taemin balik, “Ne, noona sangat senang. Akhirnya noona dan kau bisa menghabiskan waktu bersama dan yang membuatku lebih senang adalah kau memanggilku ‘Noona’, itu adalah kata-kata yang aku tunggu selama ini.” Jawab Mingi panjang lebar. Taemin pun hanya mengangguk-angguk mendengarkan perkataan Mingi, “oh iya noona, tadi Dokter Kim menelefonku, katanya besok kau disuruh bertemu dengannya.” Ucap Taemin, “besok? Wae?” Tanya Mingi, “Molla noona.” Jawab Taemin singkat.

***

“Hyung, ada yang ingin aku sampaikan padamu.” Ucap Minho saat menemui Jinki di kampusnya, “wae Minho-ya?” Tanya Jinki penasaran, “eh, ini mengenai Mingi noona, dia.. dia..” jawab Minho terbata-bata, “what happen with Mingi?” Tanya Jinki khawatir, “ehm itu, Mingi noona.” Jawab Minho yang masih terbata-bata karena di kepalanya dia masih merangkai kata-kata yang pas untuk di keluarkan, “Wae?” Tanya Jinki setengah kesal, “Mingi noona besok akan di operasi tranfusi jantung karena gagal jantung, kau harus menyemangatinya.” Jawab Minho mantap, Jinki pun hanya diam mematung entah apa yang akan dia lakukan karena mencerna kembali kata-kata Minho, “mwo? Gagal jantung. Sejak kapan?” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Jinki, “sudah hampir 3 bulan mungkin.” Jawab Minho mengingat-ingat lagi, “mwo? Sudah selama itu tapi dia tak memberitahu padaku.” Ucap Jinki, “Oppa macam apa aku, hingga dongsaengnya sakit saja tidak tahu. Betapa bodohnya aku.” Kata Jinki lagi menyalahkan dirinya sendiri, “Sudahlah hyung jangan begitu, bukan salahmu. Mungkin Mingi noona tak mau membenani kalian semua makanya dia pendam sendiri. Oh iya ini ada surat, tolong baca setelah Mingi noona selesai operasi.” Kata Minho menyerahkan sepucuk surat pada Jinki, “dari siapa?” Tanya Jinki heran, “setelah membacaya kau akan tahu hyung, ingat baca setelah Mingi noona selesai operasi. Aku pamit Annyeong.” Ucap Minho dan pergi dari kampus Jinki

***

“ Taemin -ah, apa kau sudah tahu penyakit Mingi?” Tanya Jinki pada Taemin saat memasuki kamarnya, “Ne. nan arrayo.” Jawab Taemin sambil memainkan laptopnya, “Kenapa kau tak memberitahuku hah?” teriak Jinki tak terima karena Taemin sudah tahu tentang semua ini bahkan Minho yang notabennya bukan siapa-siapa di keluarganya saja tahu keadaan Mingi, “Kau sendiri tak menayakan tentang penyakitnya padaku.” Jawab Taemin yang tak lepas dari laptopnya, “mwo? Aish. Jinki babo.” Rutuk Jinki sambil merebahkan dirinya di tempat tidur Taemin, “Hyung Mianhaeyo.” Batin Taemin menghapus air matanya yang akan jatuh.

***

“Umma, gomapsemnida sudah merawatku selama ini.” Kata Taemin sambil memeluk Ummanya yang sedang menonton TV, “Waeyo Taemin -ah?” Tanya Min ah Umma sambil mengusap-usap kepala Taemin, “anni, hanya saja sepertinya aku akan merindukanmu.” Jawab Taemin tak melepaskan pelukannya, “Hyung gwenchana?” Tanya Jong In yang baru tiba, “ne. waegeurae hyung?” timpal Sehun, “anni, hyung hanya ingin seperti ini saja beberapa saat, illiwa, peluk hyung dong.” Pinta Taemin pada kedua dongsaengnya, merekapun menurut dan memeluknya, “Gomawo.” Ucap Taemin lirih, “saranghamnida Umma, saranghamnida Jong In-nie Sehun-nie, mianhaeyo sudah merepotkan kalian.” Lanjut Taemin lagi, Min ah Umma, Jong In dan Sehun hanya diam memeluk Taemin.

***

“Apa kau siap Mingi?” Tanya Jinki saat berada di ruang pasien, “Ne.” jawab Mingi mantap, “noona hwaiting. Kami menunggumu.” Ucap Jong In sambil memegang tangan Mingi, Sehun yang berada di samping Jong In pun mengangguk, “Umma selalu bersamamu Mingi-ah.” Ucap Min ah Umma mengusap-usap lengan Mingi, “ Taemin. odiga?” Tanya Mingi karena tak melihat Taemin, “ dia ada urusan katanya jadi dia terlambat kesininya.” Jawab Jinki sambil tersenyum,  Minho pun yang berada di ruangan itu pun hanya tersenyum pahit membayangkan apa reaksi mereka nanti bila mereka mengetahui kenyataannya.

***

Operasi pun berjalan dengan lancar, Mingi pun bisa selamat dari kematian dan sedang istirahat. “Minho-ya, aku mencium sesuatu yang aneh dengan sikap Taemin akhir-akhir ini.” Ucap Min ah Umma yang duduk di sebelah Minho, “waeyo Umma?” Tanya Minho setenang mungkin, “kemarin Taemin bertingkah tak seperti biasanya, dia memeluk umma dan aku pun merasa bahwa pelukan Taemin itu adalah yang terakhir bagi Umma. Kata kan bahwa Taemin baik-baik saja?” ucap Min ah Umma menatap Minho intenst, Minho pun terlihat ragu untuk menceritakan yang sebenarnya pada Min ah Umma.

***

“ dasar Taemin babo, tega-teganya kau berbuat seperti itu.” Ucap Jinki sambil menangisi sebuah photo seorang Namja muda dengan senyum termanisnya yang tak lain adalah Taemin, Jinki membawa setangkai bunga mawar dan mearuhnya di dekat photo tersebut, Min ah Umma hanya bisa menangis di pelukan Minho, dan Minho pun tak bisa menahan emosinya yang sesekali meneteskan air mata, “Hyung, tega kau meninggalkan aku seperti ini, apa susahnya bilang pada kami. Hyung jeongmal.” Ucap Jong In terhenti dan di lanjutkan dengan air mata yang menetes di pipinya yang lembut lalu menaruh mawar putih di samping mawar Jinki, Sehun hanya menangis tanpa bisa berkata apapun karena dipikirannya saat ini terus berputar memori dirinya dengan Taemin semasa hidup Taemin, “ itu sebabnya kau memelukku sangat erat Taemin -ah, itu adalah pelukan terakhirmu untuk Umma, entah kenapa Ummapun kemarin merasa itu adalah pelukanmu yang terakhir.” Kata Min ah Umma yang masih menangis yang di papah oleh Jinki, diapun meletakkan mawar putih di samping photo Taemin.

***

Di rumah duka itu sangat banyak kerabat dekat Min ah Umma, Jinki, Jong In, Sehun dan Mingi yang mengenal Taemin. teman-teman satu klub basket Taemin pun ada disana dan tak kuasa menahan tangis mereka, “kau sungguh kejam mushroom boy, meninggalkan kami seperti ini, dan pamit pada kami disaat kita memenangkan pertandingan pertama kita, kau sungguh kejam Taemin.” kata Key yang terisak mengingat kembali saat Taemin mengundurkan diri dari klub basket dan bilang bahwa dia akan pergi, “ternyata ini yang kau sebut ‘pergi’ itu, ternyata kau pergi untuk selamanya. Bagi kami kau tetaplah ketua klub basket kami Taemin, your eternal principal of basket club in our school.” Lanjut Key lalu menaruh mawar itu di dekat photo Taemin, semuapun menaruh bunga mawar didepan, “ kau sungguh hebat  Taemin, aku akui kau berani memilih jalur ini.” Ucap Minho memflashback percakapan mereka di kamar Minho

Flashback

“mwo? Michin ya.” Teriak Minho pada Taemin saat dia memberitahu pada Minho bahwa dia akan mendonorkan jantungnya untuk Mingi, “ itu adalah cara tercepat agar dia bisa bertahan hidup Minho-ya, dan itu satu-satunya cara agar aku menebus dosaku selama ini padanya.” Jawab Taemin dengan nada bergetar, “Tapi apa tak ada jalan lain?” Tanya Minho lirih tak rela sahabatnya itu akan pergi meninggalkannya, “ tak ada jalan lain Minho-ya, ini untuk kebaikannya dan penebusan kesalahanku padanya selama ini.” Jawab Taemin lirih, “bagaimana dengan keluargamu?” Tanya Minho menyerah, “ akan aku sampaikan nanti, tapi aku perlu bantuanmu.” Jawab Taemin menatap Minho, “bantuanku?” Tanya Minho sambil menunjuk dirinya, “Ne, nanti tolong berikan surat-surat ini pada Jinki hyung, Min ah Umma, dan Mingi noona bila aku tak selamat dalam operasi.” Jawab Taemin lalu memberikan 3 pucuk surat padanya, “ kapan?” Tanya Minho lirih, “untuk Jinki hyung sehari sebelum operasi Mingi noona, dan untuk noona serta umma setelah operasi.” Jawab Taemin mantap, “lalu klub basket kita bagaimana?” Tanya Minho semakin lirih seperti ingin menangis, “aku akan mengikuti pertandingan dahulu, lalu bilang akan mengundurkan diri. Itu saja.” Jawab Taemin yang dijawab anggukan oleh Minho, “kuharap operasi Mingi dan kau berjalan lancar, kuharap jantung pendonor untukmu cocok Taemin ah.” Ucap Minho, Taemin pun hanya mengangguk menerima support dari sahabatnya.

Flashback End

***

Kini tinggalah satu orang yang belum menaruh bunga mawar di depan yaitu Mingi, dia terlihat yang paling sangat terpukul, bagaimana tidak jantung yang membuatnya bisa hidup sekarang adalah jantungnya Taemin, “kau, tega-teganya melakukan ini padaku. Kau seenaknya saja menentukan pilihan seperti ini. Apa kau memikirkan kedepannya seperti apa? Malah kau yang tak selamat saat operasi ini Taemin.” Gumam Mingi saat menatap photo Taemin, dia hanya terduduk di kursi roda karena tubuhnya belum sepenuhnya stabil setelah operasi tadi pagi, “jadi saat kau mengajakku jalan-jalan itu adalah kebersamaan kita untuk terakhir kalinya, dan kata ’Noona’ itu kau ucapkan sebagai pertanda kau berpisah denganku, kau sungguh keterlaluan pada noona Taemin -ah.” Lanjut Mingi yang kini menangis yang teramat sakit karena menurutnya ini adalah pengorbanan pertama dan terakhir yang Taemin lakukan untuknya.

***

“noona, Taemin menitipkan ini padaku dan aku diminta untuk memberikannya padamu setelah operasimu selesai.” Kata Minho lalu memberikan surat pada Mingi, dia pun hanya menerimanya dengan sangat lemas dan menangis kembali tapi kali ini menangis dalam diam, Mingi pun membuka surat dari Taemin

To Mingi Noona

Annyeong noona? Bagaimana keadaanmu sesudah operasi? Kuharap jantungku bisa membuatmu hidup lebih lama.

Bila kau menerima surat ini dari Minho itu berarti aku sudah pergi, karena aku berpesan padanya berikan surat ini padamu bila aku tak selamat dalam operasi itu, Mianhaeyo Jeongmal mianhaeyo noona.

Mianhaeyo tidak pernah membicarakan ini padamu, aku takut kau akan menolaknya maka dari itu aku secara sembunyi-sembunyi melakukan pemeriksaan penyocokan jantung untukmu dan hasilnya cocok, dari pada menunggu pendonor jantung yang lain, lebih baik aku saja tak apa, asalkan noonaku bisa selamat aku juga senang.

Aku akan memberitahumu kenapa aku begitu benci padamu dulu, itu karena sebelum Min ah Umma menemukanku di sebuah rumah yang telah terbakar, kau tahu itu rumah siapa? Itu adalah rumah ku, umma, appa, dan noonaku. Sebelum itu aku mempunyai keluarga yang sangat bahagia, tetapi tragedy itu terjadi, saat umma dan appa menjemputku dari sekolah lalu tabrakan naas itu terjadi yang menyebabkan appa dan ummaku meninggal, setelah umma dan appa dimakamkan noonaku langsung berubah 360˚ padaku, dia beranggapan bahwa akulah yang menyebabkan umma dan appa meninggal. Dia selalu menyiksaku, saat itu umurnya 16 tahun dan aku 6 tahun, aku tak bisa berbuat apa-apa saat itu selain hanya bisa menangis, dan kejadian itu membuat noona menjadi gila akibat kehilangan yang mendalam atas umma dan appa dan obsesinya menyiksaku semakin menjadi, dia mencoba membunuhku dengan cara membakar rumah kami, saat itu aku sedang tidur dan noonaku berteriak ‘selamat bergabung di neraka Taemin, noona tak akan merindukanmu.’ Begitu teriaknya, akupun kaget dan melihat rumahku sudah setengah terbakar, kudengar para tetangga berusaha memadamkan api di rumahku, aku panik saat itu tak tahu harus berbuat apa, aku berpikir apa aku juga akan menyusul umma dan appa di surga atau pergi ke neraka seperti yang noonaku bilang, disaat banyak asap hitam dikamarku aku mulai kehilangan kesadaranku akibat terlalu banyak mengirup asap hitam itu ketimbang oksigen bersih, lalu samar-samar kulihat  dua orang seperti umma dan appa yang memanggil namaku, tapi aku sudah tak kuat dan pingsan. Lalu saat aku tersadar, aku sudah berada di rumah Min ah Umma, dan kudengar noonaku bunuh diri dengan cara terjun dari gedung tinggi akibat gangguan jiwanya, dari situ aku membenci setiap Yeoja yang ingin menjadi noonaku seperti kau, tapi kulihat kau tak pernah gentar dengan sikap dinginku padamu, kau selalu bersikap manis padaku, melindungiku dan menyayangiku, aku mulai membuka mataku saat aku mengetahui penyakitmu, disitu aku berpikir untuk merubah sikapku padamu dan bagaimana cara menebus kesalahanku selama ini padamu.

Aku terus memikirkan pendonor jantung untukmu, saat itu aku menemui dokter Kim, dia memberitahuku bahwa sangat sulit menemukan pendonor jantung, sekalipun ada dia menjualnya dan dokter Kim tak ingin membunuh seseorang dan belum tentu jantung itu cocok untukmu. Akupun terus berpikir bagaimana caranya mendapatkan pendonor jantung dengan cepat, hingga terlintaslah usul gilaku yaitu mendonorkan jantungku sendiri. Awalnya aku pikir itu sesuatu yang gila, tetapi aku teringat lagi perlakuanmu, perhatianmu padaku selama ini, mungkin aku bisa berbalas budi padamu dengan cara seperti ini. Dokter Kim dengan sangat jelas melarangku untuk melakukan hal itu, tetapi aku terus meyakinkannya bahwa aku tak apa-apa, dengan berberat hati dia mengijinkanku untuk cek kondisi jantungku dan kata dokter Kim itu cocok denganmu.

Dan lihat lah sekarang, kau bisa membaca suratku dalam keadaan sehat, dan sukses menjalani operasi itu walaupun aku sendiri tak dapat selamat. Tolong jagalah Umma, uri dongsaeng dan Jinki hyung serta chingu-chingu ku, aku ingin kalian semua bahagia walaupun aku sudah tak bersama kalian lagi. Mianhanda, Gamsahamnida, Saranghanda Mingi Noona, kau akan selalu menjadi my eternal Noona.

By Lee Taemin

***

Mingi pun menangis sejadi-jadinya setelah membaca surat itu, Min ah Umma, Jinki, Jong In dan Sehun hanya bisa menenangkannya hingga dia berhenti menangis. Esoknya, kremasi  Taemin pun selesai, sore itu sangatlah mendung, entah bagaimana langitpun seperti ikut berduka melihat keluarga Min Ah umma menangisi sebuah pot bersisi abu tubuh Taemin, “Min ah Umma, kajja kita pulang. Hari sudah gelap.” Ajak Minho karena melihat Jinki maupun Mingi tak bisa di andalkan saat ini untuk membawa Min Ah Umma pulang karena sama-sama terpukul, Min Ah Umma hanya melihat Minho dengan tatapan sendu, “apa Taemin selalu berkeluh kesah padamu?” Tanya Min ah Umma menatap Minho intens, “Ne. umma palli uri kajja.” Kata Minho menarik tangan Min Ah umma untuk bangkit, dengan sangat enggan Min ah umma bangkit dari tempatnya duduk dan di papah Minho berjalan menuju mobilnya dan dibuntuti oleh Jinki, Mingi, Jong In, dan Sehun.

***

“Umma, Taemin menitipkan ini padaku. Dia bilang berikan pada umma setelah operasinya, sangat berat rasanya untukku memberikan secarik surat yang akan membuatmu bertambah sedih. Tapi mau apa lagi, ini amanat dari Taemin, jadi aku harus menyerahkannya padamu.” Papar Minho dan memberikan surat itu pada Min ah umma. Diapun perlahan membuka surat itu dan membacanya diiringi tetesan air mata.

Dear Umma

Annyenghaseyo umma? How are you now after know my condition? It’s very hurt alright. Tapi, umma jangan pernah menyesal pernah mempunyai anak nakal seperti aku. Aku melakukan ini karena aku ingin berbalas budi pada perlakuan Mingi noona selama ini. Akupun melakukan operasi jantung untukku, bila operasiku tak berhasil maka kau akan menerima suratku dari Minho.

Aku tahu keputusan ini sangat mengagetkan kalian semua terutama umma, tapi ini untuk menyelamatkan Mingi noona dari penyakitnya meskipun aku harus mengorbankan nyawaku itu tak menjadi masalah demi menyelamatkannya.

Umma mianhaeyo meninggalkanmu seperti ini, dulu aku pernah bilang padamu bahwa aku akan meninggalkan rumah saat aku sudah menikah ataupun setelah membahagiakan umma ataupunyang lainnya, tetapi pada kenyataannya aku meninggalkan umma saat aku belum menikah dan belum menyelesaikan sekolahku. Aku harap umma dapat memaklumi keputusanku.

Umma jagalah kesehatanmu setelah aku tiada, karena belakangan ini aku lihat kesehatan umma kurang baik. Aku akan sangat senang bila umma selalu menjaga kesehatanmu, terus tersenyum dan mendoakan aku disana.

Aku bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga umma, kau selalu menganggap aku, Jinki hyung, dan Mingi noona adalah anak kandungmu seperti Jong In dan Sehun, aku sangat menyayangi kalian, jadi aku harap kalian selalu menjaga kesehatan dan selalu mengunjungiku di peristirahatan terakhirku, yaksok.

Aku sangat bahagia bisa mendonorkan jantungku pada Mingi noona, karena itu yang akan mengingatkan kalian padaku dan merindukan aku. Aku akan senang bila kalian tidak melupakan aku.

Umma, gamsahamnida sudah merawatku hingga sebesar ini, mianhanda selalu membuatmu marah, kesal dan selalu emosi saat aku selalu bertengkar dengan Mingi noona di rumah, dan Saranghanda sudah bersedia menjadi ummaku sampai saat ini. Love you Umma.

Your lovely son Lee Taemin

***

Min ah umma pun menangis sejadi-jadinya di pelukan Minho, “K-kapan dia memberikan ini padamu?” Tanya Min Ah umma pada minho sambil terisak, “beberapa hari sebelum kami tanding basket. Dia menceritakan semua rencananya padaku, lalu menyuruhku memberikan surat ini pada umma bila operasi dia tak berjalan dengan lancar.” Jawab Minho, Min ah umma hanya menangis hingga menghabiskan energinya dan pingsan.

***

“bagaimana keadaan umma?” Tanya Minho pada Jinki saat dia keluar dari kamar Min ah umma, “Mungkin dia masih syok dengan meninggalnya Taemin, akupun masih tak percaya dia melakukan ini. Padahal kemarin kami masih ngobrol masalah penyakit Mingi.” jawab Jinki mengusap air matanya saat kembali mengenang Taemin, “Uljima hyung, kau jangan menangis terus, Taemin berharap padamu selalu tegar dan menjaga keluarga ini dengan baik.” Ucap Minho sambil menepuk pundak Jinki, “ ini sudah malam Minho, kau pulang lah, para dongsaengku sudah tidur, Mingi pun sudah di antar kembali kerumah sakit untuk pemulihannya pasca operasi.” Kata Jinki, “ne hyung, jaga kesehatanmu dan keluargamu. Sampaikan salamku pada semuanya. Annyeong hyung.” Ucap Minho sambil bow pada Jinki dan pergi.

***

“oh iya, aku baru ingat mendapat surat dari Minho tapi dari siapa.” Gumam Jinki lalu mengambil surat yang ia simpan di laci lemarinya.

To Jinki Hyung

Annyeong hyung. Ini aku Taemin, apa kau kaget mendapat surat dariku? Kurasa kau tak akan kaget karena setiap haripun kau bertemu denganku atau mungkin sekarang tidak lagi.

Bila kau membaca surat ini berarti aku sudah pergi hyung, karena bila aku tak pergi aku pasti sudah meminta surat yang Minho diberikan padamu.

Mianhaeyo hyung aku sudah banyak merepotkanmu, menyusahkanmu, membuatmu kesal dan aku selalu berpikiran egois padamu. Dan masalah penyakit Mingi noona, jeongmal mianhaeyo, bukan bermaksud tak ingin meemberitahumu, tetapi aku hanya tak ingin kau ikut susah untuk mencari pendonor jantung bagi noona, karena aku tahu kau juga sedang sibuk dengan skripsimu maka dari itu aku tak pernah memberitahukannya padamu.

Hyung, tolong jaga keluarga ini. Aku sangat meminta tolong padamu untuk saat ini, mungkin karena aku sudah tak ada kau yang akan sedikit repot berperan sebagai hyung satu-satunya bagi Jong In dan Sehun.

Mianhaeyo hyung jeongmal mianhaeyo, mungkin hanya kata-kata itu yang bisa aku ucapkan atas semua ini, aku selalu membuat keluarga ini tak karuan, dan yang paling heboh adalah kejadian ini, tapi aku melakukan ini demi kesehatan noona, akupun melakukan operasi jantung untukku.

Jagalah kesehatanmu hyung, aku tak ingin kau sakit karena memikirkan kejadian ini, aku harap dengan kejadian ini kalian bisa makin dekat dan dengan adanya jantungku di tubuh Mingi noona aku berharap kalian selalu merindukan aku, mengenangku dan tak akan pernah melupakanku.

From your Napeun Namdongsaeng Lee Taemin

***

Jinki hanya menangis karena tak kuasa menahan emosinya, “sungguh kau sangat keterlaluan.” Ucap Jinki sambil menyeka air matanya, “ My Napeun Namdongsaengku yang sangat aku sayangi Taemin-ah, bahagialah disana.” Lanjut Jinki dan tersenyum pada photo dirinya dan Taemin yang sedang memegang piala kemenangkan pertandingan basketnya yang pertama.

***

Author side

Taemin dan Mingi melakukan operasi dengan seorang pendonor jantung untuk Taemin, saat itu Taemin sangat ketakutan apabila Mingi tak selamat, lalu operasipun berjalan sangat alot hingga 8 jam lamanya, operasi yang Mingi lakukan berhasil dengan sukses, tetapi berbeda dengan Taemin, meskipun dia berhasil melalui operasi itu terjadi pendarahan hebat yang membuat dia sangat kritis, saat Mingi belum dipindahkan ke ruang rawat Taemin terlebih dahulu di pindahkan ke ruang ICU karen kondisinya yang kritis dan ditemani oleh Minho, Minho terus menemani Taemin dan berharap keajaiban akan datang kepada sahabatnya. Tetapi sayang  Taemin tak dapat melalui masa kritisnya dan menginggal bertepatan saat Mingi dipindahkan ke ruang rawat. Jenasah Taemin  pun dipindahkan ke ruang mayat, betapa terpukulnya hati Minho tetapi harus dia pendam dan kembali ke ruang rawat Mingi dan bersikap senormal mungkin, dan disanalah dia menceritakan bahwa Taemin telah tiada.

THE END

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

12 thoughts on “Napeun Namdongsaeng [2.2]”

  1. kenapa gak mingi aja yang dapet donor dari orang yang donorin jantung ke taemin? kenapa harus oper-operan jantung? X>>taemin>> mingi. kenapa gak dari x>>mingi. *bingung*
    tapi cukup membuat isakan tangis kok.. hiks 😥 keep writing!!! 🙂

    1. hehehe, mian bikin bingung..
      itu maksudnya jantung si pendonor gak cocok buat Mingi tapi cocok buat Taemin, trus jantung Taemin pas buat Mingi..
      gitu maksudnya..
      hheee

  2. Endingnya…

    Ga nyangka taem trauma ama noona…

    Ceritanya bagus, alurnya aja yg sedikit perlu dipeebaiki. Aku suka ceritanya. Bikin nangis. T_T

    Ditunggu karya selanjutnya ^^

  3. Seperti dugaan, TaeMin akan mendonorkan jantungnya. Tapi aku tidak tahu kalau orang yang dalam keadaan sehat dibolehkan mendonorkan jantung ataupun organnya.
    Malang sekali TaeMin, mengapa tidak berpikir lebih panjang.
    Kenapa harus oper-operan jantung seperti itu, bukankah menjadi ribet (ʃ˘̩̩̩╭╮˘̩̩ƪ)
    Dan berakhir dengan reader menangis (ʃ˘̩̩̩╭╮˘̩̩ƪ) (۳º̩̩́.̮.̮º̩̩̀)۳ (っ‾̣̣̣﹏‾̣̣̣)っ

    1. kan kalo jantung atau organnya itu gak bagus kan gak boleh di donorin, nanti kasian yang dapet organ rusak itu…
      jadi disini Taemin mau bantuin noonanya pake jantung dia soalnya jantung si pendonor yang lain gak cocok ma Mingi tapi cocoknya ma Taemin..

  4. Aish ini cerita nyesek abis:(, kasian banget taem masa lalu yg suram:(, tapi thor masih ada yg typo antara taem sama kai, terus menurutku jalan ceritanya terlalu cepet, tapi keseluruhan keren kok bikin nyesek abis:'(

    1. hehehe, mian banyak typo karena ini awal maincast nya itu Kai bukan Taemin, jadinya banyak typonya deh,,hhhee

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s