[WFT B] He is Wolf [1.2]

He is Wolf

Main Cast : Lee Taemin

Support Cast : Choi Sulli, Choi Minho, Choi Siwon, and the other cast (secret)

Length : Twoshot

Genre : Fantasy , Romantic, tragedy, angst, thriller (???), mystery, etc…

Rating : General

cover ff copy

            Namaku Lee Taemin, dibalik tampangku yang menggemaskan, kau tak akan menyangka siapa diriku sebenarnya. Sepintas, mungkin kau mengira aku adalah seorang mahasiswa bahkan tak jarang orang menyangka bahwa aku ini tak lebih dari seorang pelajar SMA yang innocent. Aku bekerja di sebuah Butler Cafe disiang hari, dengan memanfaatkan keimutan wajahku tak jarang banyak yeoja yang datang hanya untuk menggodaku. Mereka pikir aku adalah lelaki bahagia penuh kasih sayang dan tinggal dalam sebuah rumah mungil yang harmonis. Namun, dibalik ini semua  kalian tak akan menyangka bahwa kehidupanku sangat bertolak belakang dengan apa yang kalian pikirkan. Memang, dising hari aku bekerja sebagai butler di cafe tersebut, namun ketika sore menjelang, aku melanjutkan pekerjaanku sebagai wartawan. Ini semua kulakukan hanya demi uang untuk menaggung beban hidupku dan tentu saja sahabatku tersayang, Sulli.

Taemin POV :

Hari ini aku akan mengatakan kepadamu bahwa aku benar benar mencintaimu. Kita tak akan terpisahkan, tak bisa terpisahkan, tak boleh terpisahkan. Kau tahu, aku membawakanmu sebuah cincin. Cincin yang kubeli dari hasil jerih payahku selama ini. Dimana terdapat ukiran namamu di sampingnya. “Sulli,”.

AUTHOR POV :

Taemin melangkahkan kakinya keluar dari sebuh pertokoan kuno di pinggir kota. Ia mengenakan kaos putih sederhana ditambah dengan celana Jeans yang terlihat kumuh. Ia menggandeng sebuah tas berisi dokumen penting tentang pemberontakan hasil liputannya setelah bergelut dengan para pemberontak hari ini. Tangannya sibuk memasukkan sebuah box kecil berwarna merah ke dalam saku celananya.  Taemin menelusuri  jalanan yang gelap, Ia berjalan terhuyung di bawah penerangan lampu jalanan yang redup. Langkahnya terhenti oleh sebuah sentuhan hangat yang terus mengalir pada kedua pipi tirusnya yang dingin. Membelah segala keperihan di kedua pelupuk mata seorang namja tampan yang rasanya ingin pecah.

Apa Ia tahu, bahwa aku menunggu untuknya?

               Apa Ia memutuskan untuk melupakanku, benar benar menghapuskannku?

Apa Ia berpikir bahwa tubuhnya sudah mati sehingga jiwanya terus terhuyung dalam mimpi yang semakin membawanya menjauh dariku. Namun, aku yakin, Ia hanya belum bisa bangun dari tidurnya.

Get well soon Sulli

Di persimpangan jalan yang remang, Taemin berjalan memasuki jalan sempit agar Ia cepat sampai menuju apartemen kecil tempat ia tinggal. Di depan, Taemin melihat sebuah sosok hitam yang berjalan menuju kearahnya. Sosok itu mengenakan jaket dengan celana jeans yang sudah sobek, entah kenapa perasaannya sungguh tak enak karena memikirkan sesuatu yang buruk akan terjadi. Pekerjaannnya sebagai wartawan memang mendatangkan banyak bahaya, tetapi Ia tak tahu kenapa, otaknya tiba tiba gontai seperti tersambar petir. Sosok tersebut memegang sebotol minuman berakohol dan mulai berjalan cepat kearah Taemin yang berjalan menjauh. Langkah Taemin semakin menjauh, dan sampailah Ia kepada jalan sepi yang lebih besar dekat dermaga. Tempat ini begitu sepi dan menusuk. Ia terus berlari sekuat tenaga untuk menghindari pemabuk yang mulai gila. Taemin terpeleset dan jatuh terpental di aspal yang berlumpur karena hujan. Pemabuk tersebut menghampiri Taemin dan memecahkan botol minuman keras ke kepala Taemin “Bajingan!… kau memang istri yang tak berbakti, mati kau”, terdengar racauan kotor diiringi deruan angin laut yang berhembus kencang. Orang itu terus memukuli Taemin dan Taemin memberikan perlawanan yang cukup sengit. “Buk!…buk!…buk!”, Taemin memukul orang tersebut dan mengunci tangannya ke belakang. Memang tubuh orang tersebut lebih besar dibandingkan Ia sendiri. Tetapi berkat kekuatan yang Ia kumpulkan, Taemin berhasil mengalahkannya. Pemabuk tersebut jatuh terkapar dengan darah di bagian mulut dan lebam di tangan serta perut. “Dasar!, Cih”, Taemin tersenyum puas akan aksinya dan mencoba berdiri. Ia mengelap darah yang keluar dari kepalanya yang buncur serta memegangi kakinya yang memar dan berdarah. “Sakit…”, Ia berjalan terjungkal sambil memegangi kedua kakinya. Ia sudah biasa mengalami hal seperti ini, Ia sudah dididik untuk hidup mandiri sejak kecil. Ia tak pernah bertemu ayahnya sejak lahir dan harus merawat ibunya yang sakit sakitan lalu meninggal saat Ia berumur 17 tahun. Sekarang Ia telah berumur 22 tahun, cukup dewasa bukan. Ia meyakinkan dirinya bahwa Ia akan baik baik saja, tetapi perasan tak enak terus menghantui otaknya yang sudah cukup rapuh karena memikirkan sang sahabat yang Ia cintai sedang meregang nyawa. Ia memegangi kepalanya, seakan tak percaya akan apa yang telah terjadi. Tak percaya akan diagnosa dokter yang mengatakan bahwa Sulli tak akan lama lagi meninggal.

“Penyakit yang diderita Sulli sudah memasuki fase kritis. Mungkin sudah terlambat, operasi tak akan menyembuhkan penyakitnya karena berdasarkan hasil pengamatan kami selama ini, apapun yang kami berikan tak dapat menunjukkan peningkatan bagi Sulli. semakin hari semakin memburuk…”

Taemin membayangkan Sulli tertidur di ranjang rumah sakit dengan berbagai peralatan medis untuk menopang arwahnya yang ingin keluar. Memberikannya kehidupan agar Ia tetap pulas. Tubuhnya lemas, jiwanya seperti sudah tiada. Bagaikan Jiwa yang hanya meninggalkan raga sebagai hiburan, meninggalkan raga sebagai tumpuan berbagai harapan. Oleh karena itu, Taemin memutuskan untuk mencari pekerjaan tambahan disamping pekerjaan tetap yang Ia jalani sebagai seorang pencuri berita untuk membantu menanggung biaya perawatan Sulli di rumah sakit.

            Taemin terus berlajan, diiringi sebuah senyuman kusut. Setiap gejolak tersebut membuatnya mati rasa. Merasakan mirisnya kehidupan yang Ia alami. Ia terus merunduk dan terbangun ketika sebuah rengkuhan menyentuh lehernya yang putih dan tegap karena terkejut. Tangan itu begitu dingin dan kuat. “DEG”, perasaan tak sedap melintas kembali dalam benak. Reflex, Taemin melepaskan cengkraman sosok asing tersebut, tetapi cengkraman tersebut terlalu kuat sehingga membuatnya lemas kehabisan napas. Tangan tersebut menghepaskan tubuh Taemin ke tanah dengan kasar. “Hai, kau manis sekali. Darah yang keluar dari tubuhmu tadi begitu menggiurkan, sepertinya kau baru berkelahi ya?”. Taemin melihat sosok yang berdiri di depannya lalu menendang kaki orang  tersebut hingga terjatuh. Sontak Ia berlari meninggalkan tas nya yang tertinggal di belakang, tetapi “Trasshh”, darah mengucur dari punggung Taemin akibat sebuah cakaran. Ia mencoba berlari menjauh tetapi terlambat. Seekor serigala besar menerkamnya hingga terhempas jauh beberapa meter. Satu cakaran, dua cakaran, tiga cakaran, Ia merasakan tulang rusuknya remuk dan sebuah lubang bekas tusukan di dada kirinya. Beberapa detik kemudian, dia pun  ambruk karena tak kuat menahan tubuhnya yang sudah rapuh, tatapannya kosong bagai diterjang malaikat maut. “Crash”, serigala tersebut mengarahkan cakarannya kembali ke arah pelipis Taemin, dan mematahkan sebuah tulang. “Trek.. ARGH!!”. “Bug”, kepalanya berdarah untuk kedua kalinya, tetapi kali ini Ia merasakan sakit yang teramat sangat di bagian kiri. Ia merasa bahwa ubun ubunya telah remuk dengan tulang pelipis yang tergores. Pandangannya kabur, dan napasnya seakan ingin berhenti, bibirnya bergetar mengucapkan  sebuah kalimat. “Jangan makan aku, aku mohon padamu, jangan bunuh aku”, Taemin merintih mencoba untuk bertahan. Ia tak akan memejamkan matanya karena takut jika Ia tak bisa membuka lagi indra tersebut. Pria tersebut  meronta sendirian, mengeluarkan rontaan seakan rontahan tersebut dapat menggoyahkan hati serigala tersebut untuk berhenti menyerangnya. Sang serigala terlihat kepalaran melihat banyak darah yang keluar dari tubuh Taemin, dan ingin langsung mengoyak daging manusia yang tak berdaya di depannya. “Kumohon jangan…”, rintihan Taemin yang sangat lemah terucap bagai suara angin yang lalu lalang menggegesek ranting ranting pada dahan tertinggi pepohonan di sebrang jalan. Semakin menjauh, jauh, dan menghilang. Taemin menggerakkan tangan kanannya yang sepertinya sudah patah ke kantong dan mengambil sebuah wadah kecil berbentuk hati dengan cincin manis semanis orang yang akan mengenakannya nanti. “Kumohon…, aku masih ingin hidup bersamanya, aku masih ingin melihatnya walau itu untuk yang terakir kali”. Serigala tersebut memandangi tubuh Taemin dengan seksama. Dihadapannya tergeletak seorang lelaki dengan  kepala yang tak henti hentinya memuncratkan darah, Taemin sudah terkapar tak berdaya. Pupil mata serigala tersebut melebar, mencoba menerawang sisa ingatan lelaki yang baru Ia terkam. Lelaki tersebut masih ingin hidup, tetapi Ia sudah tak diberi kesempatan untuk hidup dengan tubuh seperti itu. Melihat mata Taemin yang mulai tertutup dengan mulut yang sedikit bergetar untuk mengeluarkan darah segar. Dengan hati hati, serigala tersebut berubah menjadi sosok manusianya kembali, memegangi leher Taemin dengan lembut dan menancapkan 2 gigi tajamnya disitu. Taring yang menembus kulit pria yang sekarat, menghisap darahnya sedikit demi sedikit. Ia melepaskan taringnya lalu pergi dengan cepat. Meninggalkan Taemin yang malang sendirian termakan kesunyian. Meninggalkan rintihan Taemin menggema kecil dalam kegelapan. Meninggalkan Taemin dengan kulit yang mulai memucat kehabisan darah, “Sulli.. Sulli, maafkan aku. Aku harus meninggalkanmu lebih dulu. Aku akan menunggumu disana. Maafkan aku Sulli, aku tak bisa menemanimu. “Sulli, saranghe…”, Ia membayangkan masa masa indah yang terus berputar di kepalnya. Masa masa dimana Ia masih bisa menghirup udara segar. Masa masa ketika Ia kecil dengan sahabatnya, Sulli yang berlari lari di padang rumput yang hijau. Ia melihat senyuman Sulli disana. Menerawang ribuan detik yang telah Ia jalani bersama dengan sahabat tersayang, mengenang kembali wajah cantik Sulli yang takkan pernah hilang dari dekapannya. Semua berputar dengan rapi bagai sebuah film yang takkan pernah luntur termakan waktu. Ia berharap agar dapat merekan film tersebut untuk walau benda konkret yang Ia sisakan hanyalah sebuah raga tanpa nyawa. Bagaimanapun itu Ia menginginkan Sulli untuk tidak melupakannya, melupakan sebuah sejarah terselubung yang mengandung sejuta arti. Sebuah arti yang membuatnya tetap berada di samping Sulli sampai detik ini, sampai hari ini, atau selamanya? “Jiwaku selau ada untukmu, Sulli.”, tak terasa air bening itu mengalir tirun menuju pipi Taemin yang semakin pucat. Air matanya mulai mendingin bagai bogkahan es di sela sela kulitnya yang tak kalah membeku. Matanya semakin meneduh, mengisyaratkan bahwa Ia rela untuk melepas segalanya, melepas segala haknya untuk menginjakkan kaki di bumi ini. Ia menatap nanar langit diatasnya, sungguh indah. Banyak bintang bertaburan diatas sana, bagaikan lautan cahaya dari ribuan lilin yang akan menyambut kepergiannya. Tiba tiba hujan turun deras, langit menangis seakan tahu apa yang setelah ini terjadi. Mendung merampas semua cahanya yang menetas di atmosfer.

TAEMIN POV :

Disini, tempatku berbaring, menetralkan ragaku yang sedang meregang nyawa, kupandang langit diatasku. Tak ada secarik sinar yang menembus awan awan mendung ini. Semuanya gelap, mungkin bulan purnama takut untuk menampakkan dirinya. Membuat gumpalan awan badai itu menangis riuh, meneteskan air matanya satu persatu. Dingin. Air mata itu membasahiku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rambut ini terasa berat, memberikan keperihan pada setiap luka di tubuhku. Air air ini membuatku hanyut dalam kedinginan mengisyaratkan kepiluan menjelang ajal. Bagaikan tenggelam dalam banjir dan terombang ambing air bah untuk selamanya.

Hatiku yang bersedih tercelup genangan air hujan, melumpuhkan semua kesedihan tentang kau. Membuat semuanya terasa berarti, penuh makana, tak sia sia. Membuat suatu kewajiban untukku agar menghargai setiap detik dengan orang orang yang kusayangi. Karena sekarang adalah menit terakhirku untuk singgah singgah dalam dunia yang sama dengan mereka. Sepertinya takdirku pendek, karena aku semakin sadar jika sebentar lagi sang malaikat maut akan menuntun ruh ini untuk menyerah. Sebenarnya aku tak ingin menyerah, namun mungkin kematian akan merenggut segalanya.  “Sulli-ah…”.

Ketika cahaya bintang tiba-tiba menjadi hujan
Yang tidak akan berhenti mengalir seperti air mataku
Ingatlah bahwa aku pernah mencintaimu
Meskipun aku tidak bisa memilikimu

Remember that day when we first met

Strikingly radiant you for coming on such a day

I really thank you

“Sulli, selamat tinggal…, kumohon tetaplah hidup. Kuharap kau dapat bertahan……..”. Ia merasakan paru parunya sudah tak sanggup untuk membuatkan napas agar Ia tetap hidup.

Ketika aku benar benar merasakan apa yang dinamakan kehidupan,

Dan menemukan sebuah cinta

Kematian datang tanpa diundang

Dua napas, satu napas“SShh”, dan berhenti. “DEG!…..”Jantungnya sudah tak sanggup memompakan darah. Tubuhnya membujur kaku, dingin  tanpa suara. Pembuluh darahnya sudah tak bisa mengalir lagi. Ia sudah mati.

Dapatkah kau mendengar detak jantungku

Mendengar rintihan seorang pria yang haus akan cinta

Jika diberi kebebasan, aku ingin…

Menyentuh jutaan denyutan kecil saat jiwamu bersamaku

Karena aku adalah arwah yang ingin bertahan untuk menghunus ribuan detik di depan sana

Melebur berasama dalam kelemahan

Tak bisa beranjak untuk menemukan sayap baru

Aku ingin merayapi sudut kecil dunia,

Dunia untuk mendengar melodi perpisahan, melodi yang disusun dari tangga nada yang terasingkan

Dunia untuk bermain sebuah drama yang indah tanpa akhir

Dunia fiksi dalam lingkaran cerita yang berada di luar kata kata

Dunia dengan naskah yang tak akan bisa dilukis dan digambarkan sebagai sebuah seni pikiran

Pikiran tanpa kehidupan, jiwa manusia yang hidup kembali, timbul tenggelam termakan sebuah takdir

Tolong selamatkan jejakku, berilah aku kesempatan untuk kembali

Menginjak tanah yang kau langkahi, menerawang ribuat detik yang telah kita tanam dengan dedalu

Berkembang lalu berdetak walau dalam dosa

Aku ingin hidup tetapi sudah terlambat

Dibawah langit yang sama, di tempat yang berbeda

Sewaktu air mata ini telah mengering, mataku tertutup,

Aku merasa jantugku telah berhenti berdetak,

Aku mungkin akan tertidur dalam keabadian

Tetapi, “DUG…DUG…DUG”.

atau kembali, menyentuh tanah penuh kehidupan

TAEMIN POV :

            Aku merasakan sebuah detakan lemah, aku merasakan detakan ini semakin cepat dan kencang. Aku merasa hidup kembali, tetapi mengapa rasanya sangat sakit? Aku merasakan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhku. Aku mencoba untuk membuka mataku, memastikan apa yang telah terjadi. Terdengar berbagai dengungan melalui telingaku, suara amarah yang membutakan indera ini hingga meleleh. Aku melihat cahaya merah yang membuatku pusing, aku mencium bau anyir dimana mana, aku melihat luka yang amat sangat mengerikan di sekujur tubuhku. Darahku masih mengalir dan merembes ke dalam tanah dimana aku dibunuh. Aku bagaikan mayat busuk yang meronta bukan pada dunianya. Di dada ini, terdapat sebuah luka dalam, mataku tertuju pada sebuah organ sebesar telapak yang bergetar hebat. Bergetar atau berdetak? Jika itu berdetak, apakah itu adalah jantung, jantung yang terlah hancur kerkonyak namun memaksakan diri untuk tetap memompa. Bukannya aku sudah mati?. Aku merasakan hawa panas yang  luar biasa, mengalir dari leher hingga ujung kaki. Semua darah ini kembali mengalir, dan alirannya begitu perih. Bagai aliran yang merobek setiap celah pembuluh darah. “Akhh..!”, aku memuntahkan sepercik darah berwarna hitam pekat. Aku merintih kesakitan disini, ini lebih sakit daripada kematianku tadi, tetapi mengapa aku tetap hidup? Tuhan, kutukan apa yang telah engkau berikan kepadaku?

Malam malam dengan rembulan pucat di atas
Dan ketika rembulan tersebut keluar dari awan mendung

Bulan yang begitu bulat menampakkan sinarnya yang bersiluet merah darah

Sebuah lingkaran yang membelah setiap cakrawala, membakar setiap lamunan

            Bulan purnama bersinar terang diatasku, cahanya terlalu luar biasa untuk disebut bulan purnama. Aku terus menatapnya, aku tak tahu mengapa mataku terus memaksa untuk mendongak keatas. Tubuhku bergoncang hebat, ini sangat panas. Aku tak tahu kutukan apa ini. Kepalaku terasa pecah, sepertinya ubun ubunku telah remuk. “ARGH!”…

            Taemin berteriak kesakitan dibawah malam yang begitu indah, malam dengan jutaan bintang dan rembulan, begitu sempurna seperti sedang terjadi hujan meteor. Taemin memegangi tangannya yang terus membesar, membuat cakar di setiap ujung jari. Tubuhnya membesar dengan kedua taring yang keluar dari gusinya. Taring sangat tajam tetapi menawan. Pupilnya membesar, dengan Iris yang berganti warna menjadi merah darah yang menyala bagai kobaran api. Jantungnya berdetak sangat kuat, Ia merasakan tulang dadanya melebar dan melebar menembus pembuluh darah dibawah kulitnya. Gigi yang bergemetak, begitu juga degan tangannya yang menjadi semakin kuat. Warna kulitnya menjadi lebih cokelat dan kasar. Ia menjadi seekor werewolf.

            “Mengapa aku menjadi seperti ini? Tuhan, kutukan apa yang telah engkau berikan”. Ia terus meraung kearah bulan purnama dengan tubuh yang terus berkembang menyerupai seekor werewolf.

Jiwa manusiaku telah hilang, tak ada yang menginginkanku untuk terlahir kembali

Memohon untuk terlahir dengan sosok kupu kupu bersayap pelangi

Kenyataannya aku hanyalah iblis bersayap kelelawar

Mencabik setiap celah kegelapan, tuk temukan kehidupan lamaku kembali

—-“Atau menjalani sebuah kehidupan baru dibalik bayang bayang gelap”—-

 

            Taemin merasakan gejolak dalam perutnya, tenggorokannya serasa terbakar. Sesak dan tubuhnya memberontak untuk diam. Matanya menjadi semakin merah bagai mata iblis, kuku kukunya menajam hendak menerkam sesuatu. Ia mendegar seekor gagak bertengger di pohon sebelah, seekor gagak dan ada beberapa semut di bawah tanah. Dengan cepat ia berlari dan memanjat pohon besar itu, lalu menerkam gagak tersebut. Ia masih lapar, dan rasanya sagat lapar, Ia mencium bau darah yang harum dimana mana, di balik bangunan ini ada banyak manusia tinggal. Ia melihat seorang gadis kecil tertidur pulas dari balik jendela sebuah ruangan, daranya sangat manis. Ia mendekati jendela tersebut, tetapi Taemin sadar kalau membunuh itu perbuatan terlarang. Jiwa manusinya kembali menggantikan napsu binatang yang barusan menguasai dirinya. Ia berada diambang antara napsu dan perasaan, diambang antara manusia dengan binatang. “Aggghhh….!”, Taemin berlari sekencang mungkin untuk menjauh dari situ, menjauhi segala godaan yang membuatnya semakin panas dan tercekat. Ia memutuskan untuk menjauh dari dunia manusia yang menjerumuskan napsunya untuk terus membunuh, membunuh demi segumpal makanan.

            Ia berlari terus berlari, mempercepat langkah yang dibayang bayangi oleh masa lalu yang bertolak belakang dengan kehidupan yang Ia jalani saat ini. “Hosh hosh …”, napasnya yang berat terdengar bagai desahan monster di dalam alam yang sepi. Ia bersandar pada sebuah pohon tua di tengah hutan lebat. Tempat yang sekiranya tak terjamah oleh manusia dan tempat yang ideal untuk berburu binatang. Taemin mengendus sesuatu, lalu menajamkan matanya ketika menemukan seekor rusa dalam radius 1500 m. Ia mencabik rusa tersebut hingga kepalanya terputus, lalu menghisap darah yang keluar dari situ.

            Seusai menyantap habis rusa tesebut, Taemin menyandarkan punggungnya pada sebuah pohon.

TAEMIN  POV :

            Hujan turun deras malam ini, disini sangat gelap. Sepertinya awan mendung tak menyisakan cahaya untuk makhluk sepertiku. Aku duduk terdiam, memandang langit malam yang terlihat lebih gelap dari biasanya. Kumasukkan kedua tanganku pada saku celana. Dan “Apa ini?”, aku menemukan sebuah benda berwarna merah. Bentuknya hati. Sontak aku terkejut, “SULLI!”. Aku melupakan sesuatu yang berhaga dalam hidup ini, “SULLI,”.

            Perasaanku campur aduk, antara bahagia dan benci. Aku bahagia karena tuhan masih memberikan kesempatan utukku agar dapat bertemu dengan Sulli kembali. Aku bahagia karena dapat menginjakkan kakiku ke tanah ini. Aku bahagia karena sebentar lagi aku diberi kesempatan untuk menyatakan perasaanku kepadanya … tetapi apakah aku harus menyatakan perasaanku dalam keadaan seperti ini, dalam wujud seperti ini?

—————————————————-

Ia tak sadar bahwa terdapat sepasang mata yang sedang mengawasinya dari kejauhan. “Itu orang yang kugigit tadi”, ujar seseorang kepada kawanannya. “Jonghyun, kenapa kau merubahnya?” ujar seseorang yang lain.

“Siwon, aku kasihan padanya, Ia ingin hidup. Namun bukankah dengan menjadikannya werewolf merupakan suatu keuntungan untuk kita?”.  ujar Jonghyun.

“Hahha, kau benar. Ayo cepat dapatkan dia sebelum koloni werewolf lain mendapatkannya. Mungkin dia juga dapat menjadi sukarelawan untuk percobaanku kali ini”, Siwon tersenyum kemenangan.

            Jonghyun diikuti 2 orang lain berlari ke arah Taemin yang masih duduk menikmati makan malamnya. Dengan cepat ketiga orang tersebut membius Taemin lalu membawanya pergi menuju markas mereka di tengah hutan.

            Taemin yang mulai sadar, perlahan membuka matanya. Ia mencoba bangkit, namun sesuatu menahan pergerakannya. Ia melihat rantai yang diikat pada kedua tangan dan kakinya. “Apa apan ini, tempat apa ini?”Ia mencoba melepaskan diri, namun rantai tersebut sangat kuat.

            “Tenang, kami sama sepertimu. Dan Sekarang bisa katakan siapa namamu anak muda?”, ujar Siwon sambil mengisi jarum suntik berisi cairan berwarna hitam.

            “Ya, tolong jawab pertanyaanku dulu!”, Taemin memberontak.

            “Oke kalau begitu, kau sedang berada di markas kami. Kami tak akan membunuhmu, tenang saja. Oh aku lupa, perkenalkan namaku Siwon”, dengan hati hati Siwon membawa jarum suntik tersebut ke arah Taemin.

            “Apa yang akan kau lakukan dengan jarum tersebut?”, ujar Taemin cemas.

            “Hihi, tahan sebentar. Ini mungkin akan sedikit sakit”, “JLEB”, jarum tersebut menembus kulit Taemin.

            “Cairan apa itu”, ujar Taemin sedikit kesakitan akibat cairan yang mulai bereaksi pada tubuhnya.

            “Cairan ini mungkin dapat mempercepat regenerasi pada tubuhmu. Sebanyak apapun kau kehilangan darah, cairan ini akan mempercepat regenerasi sel yang hilang dalam batas tertentu. Satu hal lagi yang ingin kuberitahukan padamu, berhati hatilah dengan peluru perak”, Siwon berjalan ke arah meja labolatorium mengambil kunci untuk membuka borgol yang mengikat Taemin.

            Namun, “BOOOM!”, terdengar sebuah ledakan diikuti suara tembakan di markas tersebut. Spontan Siwon berlari hendak menyelamatkan diri, namun segerombol polisi mengepungnya. Ia berubah wujud menjadi seekor serigala, berniat menerkam segerombol manusia di depannya. “DOR!”, seorang polisi berhasil melayangkan peluru peraknya tepat pada kepala Siwon. Tubuh Siwon tergeletak tak berdaya di lantai. Sementara itu Taemin merunduk lemah, membiarkan poni panjangnya menutupi matanya, Ia tak sanggup melihat adegan berdarah di depannya.

            “Sekarang, siapa ini?”, seorang polisi menunjuk laki laki yang diikat dengan rantai pada sebuah tembok. “Cepat tunjukkan wajahmu!”, ujar salah satu polisi. Taemin mengadahkan wajahnya ke atas, membiarkan poni yang menutupi wajahnya tersibak ke belakang. Sekarang wajahnya terlihat jelas.

            “Taemin!”, salah satu polisi berteriak terkejut.

            “Minho!”, ucap Taemin sambil menelan ludah. Kekhawatiran tersirat pada wajahnya, takut jika Ia bernasib sama dengan Siwon yang berakhir mengenaskan.

            Dengan sigap Minho memungut kunci yang jatuh di dekat Taemin, lalu membuka borgol tersebut. Taemin merasa bersyukur karena mereka mengira borgol yang diikatkan pada tangan dan kaki Taemin ditujukan karena Ia adalah santapan para werewolf. Mereka terkelabuhi, padahal kenyataannya Ia adalah werewolf itu sendiri.

            “Hyung, terimakasih sudah menolong”, Taemin tersenyum walau ketakutan tak bisa hilang dari benaknya.

Jika Ia mengetahui siapa sebenarnya diriku, apakah mereka akan melakukan hal yang sama dengan apa yang mereka lakukan untuk membunuh sekawanan werewolf?

            Salah seorang polisi menghampiri Minho, “Pak, seekor serigala berbulu hitam kabur ke arah selatan, Apa kami perlu mengejarnya?”.”Tidak perlu, kita kembali ke kota sekarang”, ujar Minho dengan tenang.

            Tiga puluh menit kemudian mobil mereka sampai pada suatu tempat yang cukup ramai, Seoul.

TAEMIN POV :

Aku tak tahu mengapa ingatanku menjadi rapuh seperti ini, hanya sedikit hal yang bisa kuingat setelah jeadian tersebut. Rasanya kepalaku pusing, kulirik jendela disampingku untunk menghibur diri. Mungkin ada sesuatu yang menarik di luar sana. “SMA Chunyang?”, tempatku bersekolah bersama Sulli. Satu persatu ingatanku mulai pulih secara perlahan. Aku membayangkan diriku berlari lari disana, bermain musik dan belajar dengan gembira. Aku membayangkan wajah wajah masa remaja kami, bergandengan tangan saling menatap satu sama lain. Aku mendengar bisikan bisikan masa lalu yang terdengar jelas di kepalaku. Bisikan tentang janji kami yang takkan kulupakan”.

Flashback :

“Taeminnie oppa, bisakah kita selalu bersama?”

“Ne saeng, kita kan sahabat. Sudah sepatutnya aku menjagamu sampai masing masing dari kita sudah berkeluarga, karena nanti kita harus menjaga pasangan kita masing masing”

“Aishhh…, Taemin bagaimana jika laki laki yang kucintai meninggalkanku? Apakah kau tak mau menjagaku?”

“Jangan bicara begitu Sulli, aku akan selalu menjagamu karena aku adalah pendamping hidupmu kelak”

Sulli apakah kau tahu jika aku benar benar mencintaimu?

Tetapi apakah kau mencintaiku, Sulli?

AUTHOR POV :

            Minho dan kawanannya berjalan memasuki kantor polisi diikuti Taemin di belakangnya hingga sampailah Ia pada sebuah ruangan tempat Minho bekerja. “Taemin, masuklah”, ujar Minho sambil menunggu Taemin masuk. Kemudian Ia menutup pintu dan mempersilahkan Taemin duduk.

            “Terimakasih Minho, sudah menolong”, Taemin memulai pembicaraan.

            “Taemin, aku sudah tahu siapa kau sebenanya”, Minho menatap Taemin dingin.

         “Bagaimana bisa?”, Taemin terkejut. Ia tak bisa berbuat apa apa, tangannya dingin, namun Ia tak mengeluarkan peluh sedikitpun.

“Dengan alat ini”, Minho mengeluarkan sebuah alat Mirip dengan teropong dari dalam sakunya. Sementara itu, anak buah Minho terkejut akan pernyataan yang dilontarkan Minho barusan.

“Lalu, mengapa kau membiarkanku hidup?”, tanya Taemin.

 “Kau tahu mengapa?, karena kau sahabatku, bahkan aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri. Namun, jika kau membunuh atau melukai manusia sekali saja. Aku tak segan segan membunuhmu. Karena werewolf tak layak hidup, ini dunia kami. Namun aku masih mempunyai rasa simpati padamu, jadi….”

Tiba tiba salah rekan Minho menyahut sambil mengarahkan senapannya ke arah Taemin, “Bagaimana jika kita membunuhnya sekarang. bagaimanapun itu, Ia berbahaya”.

“Jangan, kurung dia di ruang 113. Cepat! Satu lagi pesanku untuk kalian, tolong jangan katakan hal ini pada orang lain, siapapun itu.”, Minho memalingkan tatapannya dari Taemin.

Taemin memasrahkan kedua kaki dan tangannya untuk diikat dengan rantai lalu dimasukkan ke dalam ruangan yang gelap. Ia ingin menagis, namun tak ada setetes air mata yang dapat keluar dari pelupuk matanya. Ia ingin memberontak, namun percuma rantai yang mengikatnya kali ini jauh lebih kuat daripada rantai yang dipakai Siwon untuk mengikatnya.

“SULLI…., apakah kau baik baik saja?”, Taemin meringkuk di pojok ruangan, mengukir sebuah nama di dinding. “Ini makan malammu”, seorang polisi membuka pintu ruangan lalu melemparkan bangkai kelinci ke dalam. Taemin menatap bangkai tersebut, tak tertarik. Ia kembali melanjutkan aktifitasnya. Namun sekarang Ia benar benar lapar, setelah 1 Minggu mencampakkan bangkai bangkai yang diberikan polisi padanya hingga menggunung di depan pintu. Ia tak dapat menahan rasa lapar yang sudah  menjalar, pupilnya berubah menjadi semerah darah, kemudian Ia merangkak mengambil bangkai tersebut dan menghisapnya perlahan.

——————————————

1 Week later :

“Saudara Sulli, sulit dipercaya, anda dapat bertahan sampai sekarang. Padahal kami sudah mendiagnosa bahwa anda hanya bisa bertahan selama 3 hari”, ujar seorang dokter kepada Sulli.

“Ne, Gomawo dok”, Sulli tersenyum kemudian kembali membuka mulutnya untuk melahap sesendok nasi dari Gweboon.

“Gweboon, dimana Taemin, 3 hari ini aku tak melihatnya berkunjung. Apakah dia sakit?. Dulu Ia berjanji akan mengunjungiku setiap hari”, Sulli memanyunkan bibirnya dengan manja ke arah Gweboon.

“Eumm.. Sulli, Tae”, belum sempat melanjutkan kalimatnya, pintu kaamar tempat Sulli dirawat terbuka. Di hadapannya berdiri seseorang yang lumayan familiar berpakaian rapi sambil membawa sekotak es krim.

“Maaf, aku masuk tanpa membuka pintu. Kudengar Gweboon ada disini, jadi aku…hehehe”, ujar orang tersebut sambil mengangkat kotak es krimnya.

“Ya! Jinki jadi kau kesini hanya untuk menemui Gweboon, asih. Umm, dimana Taemin?, Kau tak  tahu, aku merindukannya. Apa Ia sedang tugas keluar kota?”, tanya Sulli penuh keingintahuan. Matanya membulat bagai anak kucing yang kelaparan.

Sedangkan, Jinki merasa iba melihat wajah Sulli yang penuh harap, Ia tak sanggup memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada Taemin. “Eumm.. aku minta maaf Sulli, Taemin menghilang”.

Seperti yang Ia duga, Sulli terkejut setengah mati, “Jinki, apa yang kau maksud dengan menghilang?”. Gweboon dan Jinki pujn ikut panik apalagi setelah Sulli pingsan dihadapan mereka.

4 Week Later :

Sulli berlari tergesa gesa. Ia menggenggam sebuah ponsel yang tak berhenti berdering. Ia yakin itu pasti bosnya. Sebenarnya Ia tak tahu apa yang telah Ia lakukan sekarang adalah perbuatan benar atau tidak. kabur dari tempat kerja hanya untuk mengunjungi Minho demi memantau pencarian Taemin yang dikabarkan menghilang 5 Minggu lalu.

“Lee Taemin menghilang sejak tanggal 19 September dini hari, dan sampai sekarang kami belum menemukan jejaknya sama sekali. Kami hanya menemukan tas berisi dokumen hasil liputan pemberontakan yang terjadi di Daegu kemarin sore. Kami juga menemukan banyak darah yang berceceran, 3 meter dari tas tersebut jatuh. Setelah analisis DNA yang kami lakukan, darah tersebut menunjukkan ciri ciri yang sama dengan analisis darah Lee Taemin yang pernah Ia lakukan sebelumnya. Kami meminta data diri Lee Taemin di Seoul post. Kebetulan Seoul post mempunyai banyak informasi tentang Lee Taemin termasuk analisis DNA beliau. Mereka menyiapakan segala arsip penting tersebut karena mereka tahu bahwa pekerjaan Lee Taemin sebagai wartawan tak lepas dari bahaya mengingat suasana Negara kita yang gempar dan kacau balau seperti ini. Kemungkinan besar Ia diculik para pemberontak, karena 3 jam sebelum menghilang, Ia sempat meliput tentang Daegu’s Insurrection dengan arsip rahasia lain yang berhasil Ia dapatkan.”

“Tapi, bisakah kalian tetap melanjutkan pencarian?”

“Ya, kami tetap melanjutkan pencarian selama 1 minggu karena itu merupakan kewajiban kami.”

“Satu Minggu?, bisakah diperpanjang lagi? Apakah ada tanda tanda keberadaannya? Tanda tanda bahwa ia masih hidup? Minho, bukannya kau teman dekatnya, kau juga merindukan Taemin kan? ”

“Sebelumnya aku minta maaf Sulli, aku hanya menjalankan tugasku sebagai polisi. Namun, sampai detik ini kami tak menemukan tanda apapun dari keberadaan Lee Taemin. Jika dalam pencarian ini tak membuahkan hasil, maka bagaimanapun itu anda harus menerima kemungkinan terburuk bahwa Lee Taemin kami nyatakan meninggal. Maafkan kami Sulli, tetapi kami akan berusaha sekeras mungkin untuk melanjutkan pencarian terakhir dalam 1 minggu”.

“Terimakasih atas kerja kerasnya, Minho”,  ujar Sulli membungkuk lalu bergegas pergi meninggalkan kantor kepolisian.

Minho terdiam, sibuk memikirkan sesuatu yang sedikit membuatnya merasa bersalah. Ia tak tahu apa yang Ia lakukan sekarang. Ia telah membohongi semua orang tentang Taemin. Taemin sudah ditemukan, dan Ia memalsukan keberadaan Taemin dengan mengatakan bahwa Taemin masih belum ditemukan. Namun posisinya sebagai anggota kepolisian membatasinya untuk berbuat lebih. “Taemin, Sulli, maafkan aku”, ujar Minho pelan.

Minho mengambil sebuah kunci dari dalam laci, Ia menunggu malam datang ketika rekan rekannya bergegas pulang. Ketika jarum panjang dan jarum pendek bertumpuk menunjuk angka 12. Ketika sebagian polisi yang masih tinggal sedang siaga di luar. Minho mengendap menuju gedung kosong di belakang gedung utama, tempat beberapa sel tanan kosong tergeletak tanpa penghuni. Kosong, gelap, pengap, bau, dan tak terawat. Hanya itu kayta kata yang dapat menggambarkan bagaimana mengenaskannya gedung ini. Atapnya pun setengah rapuh, bahkan beberapa kelelawar menggunakan bagunan ini sebagai rumah mereka. Kau tak jarang menemukan musang dan binatang malam lainnya disini. Ia turun ke lorong bawah tanah menggunakan tangga kecil yang lumayan curam. Jika kau berjalan terus mengikuti kemana lorong tesebut berujung, kau akan menemukan sebuah pintu, pintu sebuah runagn dimana Taemin ditahan. Minho mulai sesak, tak ada udara segar yang dapat Ia hirup, dan itu membuatnya semakin iba kepada Taemin. Ia tak dapat membayangkan bagaimana anak itu bertahan sampai sekarang.

Dengan hati hati Minho membuka pintu tahanan, “Tae, kau disitu?”, tak tersengar apapun selain suaranya yang menggema beberapa kali. “Tae?”. Tiba tiba Ia melihat sepasang mata merah menyala dari balik kegelapan. “Taemin, maafkan aku. Tapi kau harus keluar sekarang. Cepat, bergegasalah!”, Minho berjalan mendekati Taemin, dan mundur perlahan karena gunungan bangkai menghentikan langkahnya. “Temui Sulli! Tapi Taemin, kuperingatkan sekali lagi padamu, jangan coba coba untuk menyakiti manusia. Jika hal itu terjadi, kami tak segan untuk membunuhmu.”, Minho menatap manik merah Taemin dari tempatnya berdiri. Manik tersebut semakin mendekat, hingga Minho dapat melihat jelas wajah Taemin yang sangat pucat bagai batu pualam. “Hyung, terimakasih.”, Taemin menepuk pundak Minho, sahabat yang sudah Ia anggap seperti kakak sendiri. Taemin berlari keluar dari bagunan tersebut, berlari secepat mungkin  untuk menjauh. Minho diam di tempat, Ia tak menghiraukan bau bangkai yang mungkin dapat membuatnya muntah, Ia tak menghiraukan beberapa kelelawar yang mungkin dapat menjatuhkan kotoran sewaktu waktu di atas kepalanya. Ia bingung, “Apa aku telah melakukan sebuah kesalahan? membiarkan seekor werewolf keluar dengan bebas begitu saja? Tapi dia Taemin, sahabat yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri”.

Taemin terus berlari, berlari sekencang mungkin. Ia tak tahu tempat apa yang akan Ia tuju, namun Ia tahun satu hal, keberadaan Sulli. Ia dapat mencium bau Sulli yang khas dari tempatnya berada.

SULLI POV :

“Semoga aku dapat bertemu denganmu lagi Taemin…” batinku dalam hati.

Tak lama kemudian, salju turun lebih lebat menutupi alam yang sudah terlajur kedinginan ini. Butiran butiran putih seperti kristal dengan siluet anomali kecil ini turun dan bergesek dengan tiupan angin sehingga terciptalah sebuah melodi perpisahan, melodi yang disusun dari tangga nada ke 9, sekumpulan nada asing dengan susunan abstrak, yang tak pernah kudengar sebelumnya. Bisikannya bagai berasal dari alam lain… Yang sepi dan sunyi, tanpa suara, tanpa gema, tanpa apapun, kelabu….

Tak terasa, kepingan kepingan kecil ini sudah menutupi kakiku sampai mata kaki, kugerakkan kaki ini untuk melangkah meninggalkaan bangku taman yang putih, lembut dan dingin terselimuti salju. Tetapi itu sulit, sulit, sulit, sulit sekali… “Aku pasti bisa, aku harus kuat, aku adalah seorang  perempuan  yang kuat, aku, aku….”, ucapku lirih. Tetapi, “Hiks…”, aku tak kuasa untuk membendung air mata yang terlanjur tumpah membentuk aliran sungai kecil di pipiku yang merah. “Hiks..”. tubuhku kaku tetapi lemas. Kakiku seperti tak memiliki nyawa, rapuh bagai alang alang yang tercekik dinginnya es. Tubuhku berguncang, dan satu persatu nyawaku ingin melepaskan diri, pergi, keluar, dan bebas, tak tahan lagi.

 Aku tertunduk di tengah jalan sambil menangis seperti bayi, tangisku mulai menjadi jadi, kencang, dan tak terkendali. Sekarang aku baru tahu kalu aku ini tergolong  perempuan  yang cengeng, “cengeng? Ya”. Aku tak peduli bahwa beberapa pejalan kaki meneriakiku, “kenapa menangis?”, “tenangkan dirimu”, “Hey, apakah kau ini gila?”. Aku tak peduli itu semua.

“Aku mencintaimu Taemin” terdengar teriakan dari seorang  gadis  cengeng dan gila yang jatuh tersungkur di pinggir jalan (Aku), suara itu bergema seiring badai dan angin musim dingin yang bertiup kencang, keras, berat, memekakkan telinga bagi siapapun yang mendengarnya. Langit tertunduk seakan ada beban besar yang bertumpu padanya, tak ada rembulan, hanya nampak suatu kepucatan dan luka kecil yang tak terhitung jumlahnya tergores di langit. “Luka, apa itu luka?, lukaku adalah dapat bertahan hidup tanpa dirimu”. “TAAAEEEMIIIIIINNN!!!”

Sulli menyandarkan punggungnya pada sebuah bangku taman di taman kota yang sudah kosong. Dunia ini bagaikan sesuatu yang sepi tak berpenghuni, di seberang terdengar suara roda roda kendaraan bergesekan dengan jalanan yang membeku. Dedaunan bergesek tak kalah riuh, ketika diserbu kawanan angin dari arah utara, angin yang lumayan dingin. “Hiks, Jam berapa sekarang?”, Sulli melihat jarum jam yang menujukkan pukul 12.10, saaat dimana setiap orang tertidur pulas dalam mimpi mereka yang paling dalam.

“Pabo Minnie!, mengapa kau meninggalkanku? Apa ucapanmu yang mengatakan kalau kau akan menjadi pendampingku hanyalah sebuah lelucon?”, Sulli meracau sendirian di dalam sepi. Ia berteriak melepaskan kata hatinya yang ingin Ia keluarkan selama ini. Sebelumnya Ia menganggap ucapan Taemin waktu itu hanya sebuah omong kosong, tetapi tak tahu kenapa, Sulli semakin memegang ucapan tersebut dan percaya jika itu merupakan sebuah janji dari seorang Lee Taemin yang selalu Ia nanti kehadirannya.

Tak peduli siapa yang kutemui, aku tak peduli apa yang mereka katakaa tentang kepergianmu

Yang kulakukan hanyalah menutup perkataan perkataan merekakaren akau percaya bahwa kau masih hudup

Sekarang tak ada alasan untukmu kembali, tetapi mengapa aku tetap berpikir kau akan kembali?

Melihat kebawah kearah bayang bayang dusta

Bisikan rapuh yang sepertinya takkan pernah kau tepati

Hebatnya lagi, mengapa hatiku tetap mendengarkannya sampai sekarang?

“Pabo Taeminnie, apakah kau dapat mendengarkanku yang sedang berteriak seperti orang gila ini? Apakah kau mendengarnya heh!”.

“Apakah kau mendengarnya Minnie!”, teriak Sulli sambil menagis.

………………..

“Ya!, aku dengar semuanya, tetapi dapatkah kau berhenti memanggilku dengan sebutan Minnie?, panggil aku Taemin, Lee taemin”.

SULLI POV :

“TAEMIN!”, aku kaget sekali, ketika dibelakangku berdiri seorang lelaki tampan dengan senyuman nakal yang sangat khas. Apakah ini mimpi? Aku tak percaya. Apakah benar dia benar benar Taemin, lelaki yang kucari cari selama ini. Ia muncul dengan tiba tiba setelah menghilang tanpa jejak. Ini sangat aneh. Tapi aku tak peduli, yang ada dipikiranku hanyalah LeeTaemin, sahabatku semasa kecil yang selau ada untukku sampai sekarang.

 “Sulli”, Taemin membalas salamku dengan senyuman manis yang paling manis, senyuman terindah dengan berjuta perasaan haru di dalamnya. Perasaan haru yang sudah Ia pendam setelah sekian lama. Aku tahu Ia ingin meneteskan beberapa air mata, yang Ia coba tahan untuk tak keluar. Aku memperhatikan setiap lekukan diwajahnya yang tegar, tak ada yang berubah. Hanya bajunya yang terkesan compang camping memberikan kesan tragis akan apa yang telah Ia lewati selama ini. Pengalaman sengit selama 4 minggu menghilang tanpa jejak.

“Taemin, darimana saja kau?, Aku.. aku.. aku merindukanmu. Taemin, kumohon jangan menghilang lagi, tetaplah berada disampingku.”, Aku mengahamburkan tubuhku dengan keras, mendekapnya erat, tak rela jika Ia harus pergi. Aku menumpahkan segala emosiku disana, menagis, bahkan memukul. “Taemin, mengapa kau baru kembali sekarang, apa yang terjadi?”. Ia mengelus punggungku yang halus, berusaha menenagkan jiwa seorang Sulli yang sedikit goyah karena rasa haru yang terus menghatuinya. Rasa haru yang berasal dari serabut rasa bahagia akan penantian yang amat berarti.

Panah ini yang telah menusuk
Aku merasa panah ini adalah bagian dari tubuhku sekarang

Kau tahu, panah apa yang kumaksud?

Yup benar, panah cinta dari cupid kekar yang tampan

Panah darinya, pertanda bahwa sosoknya semakin dekat

Aku tak perlu berusaha untuk mendapatkannya karena Ia selalu datang untukku

 

*TO BE CONTINUED… #spoiler : masi banyak rintangan yang dihadapi Taemin, kasus belum tuntas, ini bukanlah akir

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

22 thoughts on “[WFT B] He is Wolf [1.2]

  1. Kereeen~
    Ceritanya, feelnya dapet bangeet. Dan mungkin untuk tambahan cuman, paragrafnya jangan terlalu panjang gitu kali ya? Soalnya mata jadi sakit bacanya^^
    Selain itu semuanya udah bagus termasuk penulisannya,
    Keep Writing ya~ Finghting~

    1. Makasi chingu, udah mampir ke ff pertama saya. ^^
      O iya makasi banget sarannya. Iya ternyata setelah aku lihat lagi, terlalu panjang, jadi kelihatan mbulet.
      #mendadak, belum sempat ralat.
      Sekali lagi, Gomawo

  2. Keren!!! Aku suka…
    Paragrafnya terlalu panjang, hee. Ada typo dikit, yah… Tapi penulisan udh termasuk bagus.

    Btw waktu aku baca ini jadi keinget lagunya exo wolf keke

    ditunggu next part…🙂

    1. Ne chingu, makasi udah baca ff saya… Iya paragrafnya terlalu panjang T^T. Gomawo banget untuk sarannya.😀
      Arigatou😀

  3. Taemin wa totemo kawaii desu!!!
    bener kata yang diatas, terlalu panjang. Jadi lebih dipisah pisah lagi jadi paragraf yang lebih kecil. Ada tipo2. Tapi keseluruhan bagus, deg deg deg … nunggu yang selanjutnya yah🙂
    terus berkarya yah!

    1. Iya, terlalu panjang… hihi bisa buat rekomedasi kalau saya bikin ff.
      Gomawo atas sarannya. Makasi sudah baca ^^

  4. Uwaaa kereen banget! #terharu
    request ff taemin-sehun boleh? Tp bukan cerita romantic🙂

    btw,ada beberapa typo .. Terus kepanjangan, jadi susah nemuin yg inti2 nya.tapi penggunaan kata2 nya bagus.
    Boleh nanya,yg permulaan itu bukan taemin pov nya.. Soalnya pake kata “aku”

    kalo blm baca ff aku mampir plus komen ff aku ya: wft b – kenapa taemin jadi artis?

  5. O iya chingu, gomawo sarannya. Iya, paragrafnya kepanjangan u,u .. #rekomendasi buat ff selanjutnya…
    O iya, itu taemin pov ^^, saya lupa nyantumin, makasi sudah ngingetin😀
    Oke

  6. emhh,,, kayaknya banyak yang bilang klo paragraf kepanjangan ya?? hehehe,, bisa jadi masukan… misal ada yang bicara, misal..

    “Taemin, darimana saja kau?, Aku.. aku.. aku merindukanmu. Taemin, kumohon jangan menghilang lagi, tetaplah berada disampingku.”, Aku mengahamburkan tubuhku …….

    “Taemin, mengapa kau baru kembali sekarang, apa yang terjadi?”. Ia mengelus punggungku yang ……

    jadi setiap ada dialog kamu buat paragraf baru.. hehehe, ceritanya oke punya.. ditunggu next chapternya yaaaaaa ^^

    1. Makasi chingu…
      Ini ff pertama saya.. #belum pengalaman bikin ff.
      Gomawo sarannya ^^
      gamsahamnida ne sudah baca😀

  7. ceritanya seru~ berat bgt ya jadi taemin.. kalo waktu itu dia ga jadi werewolf, berarti mati dong. sekarang jadi werewolf si taemin harus dikurung berminggu2 dulu ._. melas kan..
    itu serigala hitam yg kabur jonghyun kah? o.O
    ditunggu part selanjutnya chingu~ ^^

    1. Iya huks taemininie hampir mati. Eummmm kasi tahu gak ya?
      Tapi kehidupan melas taemin tak berakhir disini, tunggu part 2.
      Maaf kalau agak bosenin ^^
      Makasi chingu, udah baca ff saya ^^v😀

  8. Syukurlah bila chapter ini bukan akhir, soalnya maksud dari cairan hitam itu sendiri apa gunanya. JongHyun juga lari kemana. Sebenarnya kelompok werewolf itu jahat atau baik. Klo makan hewan kategori baik, kasihan manusia dikoyak-koyak seperti yang dilakukan pada TaeMin.

    1. Kalau kelompok werewolf nya ada yang jahat ada yang baik… cairan hitam itu untuk mempercepat regenerasi chingu…
      nanti yang jahat muncul di part 2.
      Gomawo chingu sudah baca2. Maaf kalau agak susah dimengerti dan rumit T^T
      Gomawo

  9. hem. sebenernya permainan kata-katanya oke punya. cuma eyd kembali mengganggu. feelnya lumayan dapet, mungkin hanya perlu sedikit latihan lagi aja.
    aku sebenernya suka cerita model begini. oke, lanjut!!!

  10. Emm kalau boleh jujur narasinya kepanjangan thor dan ujungnya bosan. Tapi salut sama rangkaian kalimat yang author buat.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s