I’m Not Wicked Princess [2.2]

I’M NOT WICKED PRINCESS (2.2)

Title                 :  I’m not wicked princess

Author             :  PARK SOJINKEY

Main Cast        :  Onew, Kim Nana

Support Cast    :  other member shinee, Kim Chaeri, Kyuhyun, Kim Nana & Kim Chaeri omma, dll

Length             :  two shoot

Genre              :    Family,  Romance (?)

Rating              :  General

Segala yang terjadi dalam ff ini hanya karangan dari author belaka. Mian, kalau ada kata2’na yang gak enak. Itu hanya untuk keperluan cerita saja. Harap maklum. Ngomong2 ini ff kedua ku setelah ‘my love is not migren because he love me too’. Met baca.

“Nana”, panggil Kyuhyun oppa setengah berbisik. “Ehm? Wae?” Aku masih menyeruput jus pokat (?) dan memakan dengan rakus nasi goreng (?) yang baru kupesan tadi. Seperti orang yang belum makan selama seminggu, dalam sekejap mata, ting! Jus pokat (?) dan nasi goreng (?) tadi sudah habis aku makan.

“Itu.. namja itu, terus melihat kita dari tadi. Tatapannya menakutkan. Kayak voldemord di Harry Potter deh!?”

“Eh? Nugu?”

“Itu, namja yang bersamamu tadi!”

Yang bersamaku tadi? Onew? Aku melihat ke arah yang Kyuhyun oppa maksud. Onew tampak gelagapan, karena aku tiba-tiba menoleh ke belakang. Meja mereka memang ada di belakangku, tapi tidak terlalu dekat.

“Dia pasti cemburu.” Perkataan Kyuhyun oppa sukses membuatku tersedak dan terbatuk-batuk. “Apaan sih!? Cemburu apa coba? Oppa dia bukan namja chinguku dan aku juga bukan yeoja chingunya. Buat apa dia cemburu? Sedangkan di satu sisi aku bukan siapa-siapanya?! Dari pada ngomongin yang gak jelas, gimana dengan oppa? Apakah oppa sudah bilang ke eonie bahwa oppa suka padanya?”

“Ya! kecilkan suaramu!gimana kalau dia dengar? Dasar! Kau pintar sekali membalikkan situasi. Terlalu to the point!”

Hehehe… siapa suruh menjahili Kim Nana? Oh ya!? perkenalkan namja di depanku ini adalah calon kakak iparku, namanya Kyuhyun. Sudah lama aku tidak datang ke kafe latte ini. Habisnya aku slalu sibuk dg novelku, disamping karena shinee plus eonie ku yang sering nongkrong disini itu membuatku malas. Bisa kuanggap Kyuhyun sebagai oppa ku atau teman diluar kampus. Kan aku pernah bilang, aku tidak punya teman di kampus. Walaupun aku yakin Kyuhyun oppa adalah satu2nya sahabatku diluar kampus. Jarak kampus antara kafe ini sangat dekat. Hanya sekitar 500 meter dari kampus.

Aku bisa dekat dengannya karena aku tahu dia menyukai eonie ku. Dan sepertinya eonie ku, juga suka padannya. Apa salahnya buat jadi cupid? Ya gak?

Jadi gimana?”, tanyaku

“Apanya?”

“Itu, masalah eonie. Apa kau sudah bilang padanya?”

“Boro2 mau bilang, dia slalu nempel sama gengnya itu. Eh! Tapi darimana kau tahu bahwa eonie mu juga suka padaku? Kuperhatikan dia biasa2 saja padaku.” Aku melipat tangan diatas meja sambil pura2 berpkir. “Kasik tahu gak ya?”

“ya!ayolah,, mareba! Cebal?!”. Dia memohon-mohon, menggoyang-goyangkan tanganku. “Itu…., sesuatu…. Annyeong! Makasih buat traktirannya.” Aku bergegas lari ke luar kafe. Masih kudengar Kyuhyun oppa memanggil-mangil namaku. “Ya! Nana!sejak kapan aku bilang akan mentratirmu makan?! Cepat kembali! Bayar sekarang juga!”

“Mehrong! Kapan2 saja aku bayar!!!!” teriakku dari luar kafe. Aku sama sekali tidak tahu, Onew ternyata terus memperhatikan gerak-gerik kami dengan ekspresi tidak suka dari dalam kafe.

Aku memutuskan untuk pulang kerumah. Sudah mulai mati karna bosan aku ada dikampus. Sekarang aku berada di halte dekat kampus, duduk, menunggu bus datang. Tapi yang ditunggu tampak belum muncul juga rupanya.

“Ehem…” sontak ehem-man tadi membuatku kaget. Seorang yeoja yang tinggi, ramping, cantik pula sudah tiba-tiba saja duduk di sampingku kini. Siapakah yeoja yang aku maksud? Kim Chaeri, si putri salju. ‘perasaan ini belum perang dunia ketiga deh. Kok tiba-tiba dia nongol tanpa suara kayak nyi kunti, duduk disampingku lagi’, batinku. Aku diam saja. Pura-pura tidak ada orang disebelahku, sampai dai melontarkan kata yang membuatku menganga. Bahkan lalat pun bisa masuk kedalamnya.

“Gumawo”

“Nde?”, tanyaku tidak percaya. Aku sih sebenarnya sudah dengar. Aku hanya ingin memastikan, supaya aku gak kege-eran.

“Gumaworagoyo. Kemarin kau sudah membelikanku obat. Bahkan obat yang betul2 lengkap”, katanya cengar-cengir. “Dan kemarin, aku juga dengar kau bertengkar dengan omma. Mianhae…. Kau berpikir omma diskriminasi terhadapmu? Tapi kau salah. Omma menyayangi kita berdua. Tak ada yang namanya pilih kasih”. Dia berbicara begitu sambil menatapku sendu. Aku hanya bisa diam. Melihat kebawah. Tepatnya melihat tanah. Mataku memang melihat ke bawah, tapi pikiranku melayang kemana-mana.

Dia berbicara lagi. “ Aku tahu sekarang, kenapa kau selalu menghindariku. Tidak di kampus, di rumah pun juga sama. Tapi kita tidak boleh begini. Kita ini saudara sedarah. Yang dilahirkan dari ibu yang sama.” Katanya penuh dengan kebijaksanaan. “Aku ingin baikan denganmu”, dia menjulurkan kelingking kanannya padaku. ‘benar. Kita ini saudara buat apa saling membenci?’ batinku. Kemudian kujulurkan juga kelingking kananku, lalu kelingking kami saling bertautan. Setelah melakukan itu, entah kenapa kami tersenyum. “Ya! dua yeoja yang disana! Tampaknya kalian lagi happy?” Aigo! Kenapa mereka ada disini? “Key-ah, aku sudah baikan dengan donsaengku!”, teriak Chaeri berseri-seri. Kelima namja itu sudah keluar dari mobil jaguar yang entah milik siapa dari mereka berlima.

“Ya! mobilnya jangan diparkir disana! Dimana bus akan berhenti kalau kalian parkir disana?” kataku sewot. Masak mereka memarkir mobil jaguar itu tepat di depan halte? Dimana bus itu akan parkir coba? *maaf! Author ngasal*

“Aish! Yeoja yang satu ini, walaupun kau sudah baikan dengan eoniemu, tapi galaknya teteeeeeeeep aja, gak mau pergi” kata namja si mata sipit diikuti tawa renyah oleh member lain dan eonie ku, kecuali aku. “Biarin!!! Mehrong!”

“Lagian kami tidak akan membiarkanmu menunggu bus disini. Kita bertuju akan pulang sama-sama”.  Mwo? Pulang sama2?. Apa-apaan sih si mata sipit satu ini?! Maksa banget.

“Anieyo, aku pulang naik bus saja”

“Ani, Nana-ya, kau harus pulang bersama kami. Cebal…….. o?” Aish! Kenapa eonie mengeluarkan serangan puppy eyesnya? Kalau begini kan tak tega aku jadinya?!

Setelah memikirkannya cukup lama, akhirnya aku mau juga pulang sama2 walaupun dengan berat hati tentu saja. Kami tiba dirumah yang disambut dengan keterkejutan omma. Kenapa terkejut? Yah sudah jelas. Kedua putrinya kini pulang sama2, tanpa ada muka cemberut atau canggung diantara mereka berdua. Itu membuat omma sangat bahagia. Eonie sudah masuk duluan ke kamarnya. Sedangkan aku? Aku masih meminum air yang aku ambil dari kulkas. Dimanakah aku? Di dapur tentu saja.

“Nana-ya…”, panggil seorang yeoja paruh baya dengan suara yang sangat lembut. Tapi panggilan itu membuatkau terkejut, padahal saat itu aku masih sedang minum. Sukses membuatku tersedak hingga batuk2.

“Uhuk…uhuk..”

“Aigo…gwenchanayo?…Aigo…”, kata omma ku sangat khawatir sambil menepuk-nepuk punggungku. “Gwenchanayo omma. Aku sudah tak apa-apa.” Kubersihkan mulutku yang masih ada sisa airnya karena batuk tadi. “Waeyo omma?”, tanyaku.

“Omma mau minta maaf. Slama ini omma slalu memarahi kamu, membentak-bentak kamu, me….”

“Gwenchana omma. Tidak usah khawatir dan aku juga mau minta maaf. Karena waktu itu aku berteriak dihadapan omma. Aku sadar, sikapku sangat kekanakan waktu itu. Mian omma, aku benar-benar anak durhaka. Aku harap, omma mau memaafkan ku dan tidak membahas masalah ini lagi. Aku sangat sayang omma dan eonie juga tentu saja.” Omma tampak berkaca-kaca dengan perkataan ku barusan. Segeralah kepeluk omma dalam dekapanku. “Kalau omma diam, omma sudah memaafkanku berarti”, kataku memaksa. Aku mulai menangis, tanpa sepengetahuan kami berdua, seorang yeoja sudah nimbrung ke pelukan kami begitu saja. “Aku juga sayang omma, dan kau juga nae donsaeng”, katanya sambil memeluk kami erat. Sungguh. Perbuatan yang kami lakukan saat ini persis seperti adegan di film-film. Dramatis banget.

Esok harinya, kami berangkat kuliah sama-sama. Sesampainya di kampus, kami jadi pusat perhatian, pusat tontonan. Mereka mengekspresikan berbagai macam sikap heran mereka dengan tindakan yang mungkin akan membuatku mati karena menahan tawa. bagaimana tidak? Ada seorang namja yang jatuh ke selokan, itu mata taruh dimana sih?. Dua mobil saling bertabrakan, saking kagetnya melihat kami hingga tak konsen menyetir. Ada kepentuk tiang bendera kampus. Ah…. Macam-macam lah, yang kalau aku sebutin satu-satu entar critanya gak selesai-selesai lagi!? Eonie ku yang mengetahui itu hanya senyam-senyum geje. Aku jadi ingat ama si namja sipit. Buset! Kenapa aku jadi mikirin namja yang satu itu. Nih otak udah gak beres nih kayaknya. Sesampainya di halaman kampus, kami bertemu dengan namja yang paling bersinar dikampus. Siapa lagi kalau bukan shinee? Ternyata Onew juga ikut toh. Yayalah! Nana pabo, mereka kan geng. Jadi kemana-mana slalu bareng. Aku jadi geli sendiri, mengingat tadi aku sempat memikirkan Onew.

“Minho-ya, apa kau sudah membawa barang yang aku perlukan?” tanya eonie pada Minho, si keroro. “Ne.. tentu saja. Igo” Namja itu menyerahkan alat pengeras suara yang entah didapat darimana kepada eonie ku. “Gumawo”, balas eonieku seraya mengambil pengeras suara yang diserahkan Minho padanya.

“Ehem..ehem..tes..tes…tes…. tes…satu…dua..tiga..tes” Eonie ku mengetes pengeras suaranya. ‘Mau apa sih orang ini?’ batinku. Apa gak tahu lagi rame gini?! Mau ngumumin apa sih? Dihalaman kampus lagi?!

“Perhatian..perhatian, saya mau minta perhatian sebentar saja”, kini seluruh anak kampus tertuju padanya. “Perkenalkan namaku Kim Chaeri” Siapa sih yang gak tahu? Udah rahasia umum kali. Yang gak tahu? K-e-b-a-n-g-e-t-a-n. “Dan yeoja yang disebelahku ini adalah donsaengku, Kim Nana. Ada yang gak tahu? Itu mah udah biasa. “Jadi, yang dulu pernah menjahilinya berhenti menjahilinya mulai sekarang dan………………………..”. Mwo? Apa-apan yeoja ini? Apa ia tidak malu? Atau urat ke’maluannya udah putus?

“Ini alasan kami betah bersahabat dengannya”, kata Onew sambil tersenyum. Omo! Kyeopta.

“Ia agak gila.”, sahut Jjong. Baru aku mau marah padanya, si keroro angkat bicara.

“Tapi mengasikkan”

“Ia agak cerewet”, kata si kunci

“Tapi perhatian”, jawab si maknae sambil sambil senyam senyum. Namja-namja ini mungkin benar. Eonienya memang agak gila, tapi mengasikkan. Agak cerewet tapi perhatian.

Gara-gara ultimatum yang diberikan eonie kepada anak-anak kampus tadi, mereka terlihat segan padaku. Tidak sesinis dulu. Mereka terlihat takut. Wah… eonienya sangat berpengaruh ternyata disini.

Terlepas dari kegiatan kuliahku yang serba padat, yang membuatku capek, aku mampir lagi ke kafe latte sebrang kampus. aku memasuki kafe yang tampak sepi. Pelanggannya bisa diitung pakek jari. Sang pemilik kafe yang lagi bengong di pojokan, tidak tahu rupanya kalau aku datang. “Igo…, aku bayar makanan plus minumanku yang kemarin.” Aku menyodorkan uang ke mukanya tiba-tiba. Itu membuatnya terkejut dan berhenti bengong. “Aigo!! Kapjangiya! Bisakah kau memberi salam terlebih dahulu? Selamat pagi kek, annyeong kek, good morning kek, apa lah terserah!? Yang penting memberi salam!?” Ia menyambut uang yang aku sodorkan kepadanya. Aku yang mendengar omelannya hanya bisa cengar-cengir kuda, lalu aku duduk di hadapannya kini.

“Oppa, kuberitahu ya, ini tuh udah sore jadi bukan good morning lagi melainkan good afternoon. Lagian oppa bengong berapa lam sih? Hari udah sore gini masih dibilang pagi?”

“Ini semua gara-gara eonie mu. Hiks…hiks.” Katanya mewek-mewek.. “Aigo..aigo, gemane! Kau terlihat menggelikan jika begitu”, kataku sambil pura-pura jijik. duk..duk..duk, dia memantul-mantulkan (?) kepalanya ke meja. “Otthoke?”

“Ya!hentikan. kau mau kepalamu gegar otak?”

“Ah! Nana, bantu aku. Ne?” dia bangkit dari tempat duduknya, pindah duduk disebelahku sekarang. “Mwohae? Ck!”

“Ayolah Nana. Bantu aku. Ne? ne? ne?. Tolong pertemukan aku dengannya, o?. Ya..ya..ya????”. Sambil memasang wajah kyeoptanya, Kyuhyun oppa memegang kedua tanganku. Memohon.

“Aish! Lepas! Bukannya setiap hari udah ketemu? Masih aja kurang. Kan setiap hari eonie salu nongkrong disini?! Lepasin!”. Aku mencoba berontak, tapi bukannya malah bebas malah makin kenceng aja nih genggaman. “Shiro! Pabo…., maksudnya itu, PDKT-in aku ama Chaeri, ya..ya..ya..?!? Nana kan anak baik, tidak sombong, rajin menabung.”

“Kalau gantinya ada maunya aja, baru dibilang baik. Adehhhh…”, kataku sambil geleng-geleng. “Ya udah. Minta pulpen ma kertas. Mana cepetan!” Perbuatan ku sekarang seperti mau malakin orang. “Pulpen kertas?”, sahutnya bengong. “Untuk apa?”

“Udah ah! Jangan banyak nanya! Cepetan ambil!”

“Ne..ne.. Changkaman. Eh! Tapi, kau jangan kabur awas kalau kau kabur.” Dia menunjuk-nunjuk hidungku dengan telunjuk kanannya. Emangnya ni hidung bel apa?!

“Arraso! ppali!”. Selang beberapa menit, Kyuhyun oppa sudah kembali dengan pulpen dan kertasanya. “Igo”, katanya sambil menyerahkan kedua benda yang kupesan. Aku menuliskan sederetan angka-angka diatas kertas putih yang diberikan Kyuhyun oppa tadi. Setelah dirasa benar, aku menyerahkan kertas yang sudah ditulisi itu ke Kyuhyun oppa. “Apa ini?”, tanyanya polos.

“Nomor togel”

“Mwo?”  aku hanya tersenyum melihat ekspresi kagetnya

“Ya gak lah. Ini nomor hp, kok lola banget sih!?”

“Nomornya Chaeri?”

“Ani, itu nomor ommaku”

“Mwo?”

“Gak cuma becanda kok, hehehe. Ya yalah ini nomor eonieku”, kataku sambil tersenyum simpul. “Aku pergi, aku mau pulang.  Capek. Annyeong! Selamat ber-PDKT oppa. Semoga sukses. Hwaiting!!”

“Ne… hwaiting! Hati-hati”. Kujawab dengan anggukan dan beranjak pergi dari kafe. Setelah sampai di luar kafe, ternyata si namja sipit juga ada di sana. Entah kenapa akhir-akhir ini, hatiku bekerja ekstrim jika dekat-dekat dengannya. Senang sekali aku melihat namja ini.

“Mesra huh?” Sinis banget sih!? Salah makan nasi ya? Nyapa dulu kek, basa basi dulu kek, apa kek. Eh! Ini baru ketemu udah langsung sinis gitu ngomongnya. Sebel! Karena sapaan yang agak sinis ini aku jadi sedikit kesal. “Mesra? Dengan siapa? Hantu?”, tanyaku menyindir. Aku berlalu meninggalkan Onew. Malas juga jadinya kalau begini. Tak disangka-sangka dia meraih tanganku, menahanku untuk tak pergi. “Hantu? Kau pikir, pemilik kafe ini hantu? Kalau hantu, kalian gak mungkin bisa mesra-mesraan pengangan tangan kayak tadi.” Aku berbalik. “Cemburu?”

“Ya. Aku cemburu!” tegas amat ni namja. Gak sadar apa yang dikatain barusan? Aku aja malu dengernya. “Sudah Onew-ssi jangan bercanda. Sekarang lepaskan tanganku. Aku mau pulang. Capek banget nih”, kataku sambil mengiba-iba. “Kau pikir aku bercanda?? Ikut aku.” Dia membawaku paksa dan memasukkanku ke dalam mobil. Sebuah mobil jaguar. Oh ternyata jaguar ini miliknya? ”Ya!, kau mau bawa aku kemana?” rengekku di dalam mobilnya. Mau keluar tapi udah keburu di kunci. Sial!

“Sudah, kau gak akan bisa kabur. Jika mau cepat pulang, diam dan duduk manis saja. Geogjonghajima.” Aku hanya bisa manyun. Tak tahu harus bagaimana. Jadi kuputuskan untuk diam. Sesudah menempuh perjalanan sekitar 20 menit kalau aku itung, sekarang kami sampai disebuah bangunan besar yang tepatnya adalah sebuah sekolah SMA (?). “Ini…ini…”

“Jangan banyak comment dulu. Ayo.” Dia meraih tanganku, membawaku masuk ke dalam areal sekolah. Ini kan sekolahku? Maksudnya bukan sekolah punyaku, keunde ini adalah tempat aku sekolah waktu SMA (?). SMA Seoul Shinwa. Lari-lari berdua menuju suatu tempat sepertinya, yang aku tak tahu dimana. Setelah aktifitas lari-lari tadi yang membuatku ngos-ngosan, akhirnya kami sampai disebuah ruangan. Aku melihat tulisan di papan yang letaknya di atas pintu. “Ruang musik?”

Dia mengajakku masuk ke dalam ruangan itu, sampai kami berhenti di salah satu alat musik modern yang besar, ada tuts-tuts nya dan sudah tersedia kursi panjang, setara dengan panjang alat musik itu. “Mau apa kau dengan piano ini?”, tanyaku pada Onew heran. Dia melepaskan genggamannya, dan mempersilakan ku duduk di kursi itu, menemaninya. “Diam dan dengarkan”, pintanya lalu tersenyum. Aku hanya bisa mengangguk. Kemudian pandangannya kini beralih ke tuts tuts piano. Dia memainkan permainan piano yang sangat aku kenal. *author: “readers yang terhormat, disarankan untuk mendengarkan lagu kiss kiss kiss’na shinee tapi instrumental pianonya. Kalau gak dengerin gak papa kok, dihayalin aja juga gak kenapa (n_n)*

Dia sudah mengakhiri permainan pianonya. Tapi aku masih menatapnya bengong, heran bercampur jadi satu. Tanpa sadar aku mengangakan mulut ku lebar-lebar. “Tidak baik, seorang wanita menganga terlalu lebar”, katanya, menyentuh daguku dan menggerakkannya ke atas, menutup kedua bibirku.. “Keunde,,,” kataku hendak protes. “Arayo, ini adalah permainan piano yang sering kau mainkan setiap jam istirahat kan, waktu SMA(?)?” Dia mengatakan itu, masih tetap dengan senyumannya. “Setiap istirahat ke dua, kau pasti kemari, bermain piano. Tapi sepertinya kau gak bisa main piano ya? habis… permainan pianomu itu itu saja, gak pernah ganti.”

“Siapa kau? Kenapa kau tahu aku sering bermain piano disini? Aku merasa tidak pernah mengenalmu waktu SMA(?).”

“Kau mungkin tidak mengenalku, hajiman aku mengenalmu.” Kini namja itu bangkit dari duduknya, berdiri membelakangiku. Sedangkan aku masih duduk menghadap ke piano. “Maksudmu? Aku tak mengerti!?”

“Saat itu kau kelas satu sedangkan aku sendiri kelas tiga, sudah mau lulus. Kalau bukan gara Victoria seonsaengnim, mungkin aku tak pernah tahu atau tepatnya tak mungkin kita bisa bertemu. Secara gedung kelas satu dan kelas tiga kan terpisah, jauh lagi. Tapi kita memakai ruang musik yang sama. Nah, jadi critanya aku dipanggil oleh Victoria seonsaengnim melalui pengeras suara di sekolah. Beliau memintaku untuk menghadapnya kemari. Ruang musik.”

Pandangannya menerawang keseluruh ruangan. Ia berbalik menatap punggung ku. “Setelah aku cari kemari, bukannya Victoria seonsangnim yang aku temui. Malah aku bertemu denganmu yang sedang bermain piano. Sosokmu yang sedang bermain piano itu, mengagumkan. Tanpa sadar kau sudah membuatku jatuh cinta padamu dan pada permainan pianomu.” Aku berbalik, menghadapnya masih dengan posisi duduk.

“Jatuh cinta pada pandangan dan permainan piano pertama”, katanya tersenyum. “Tapi mungkin kau tidak mengetahui kedatangan ku saat itu. Kau serius banget sih!? Maunya nyapa, eh! Victoria seonsaengnim keburu dateng, beliau sudah main ajak aja keruang guru.” Aku tersenyum melihat ekspresi kesalnya. Sungguh lucu. “Aku tidak menyerah, esoknya aku kembali lagi kesini. Dan aku beruntung kau ada waktu itu. Karena seringnya aku memperhatikanmu, aku jadi tau, setiap istirahat kedua kau pasti kemari bermain piano. Tetap dengan permainan piano yang sama, tapi menyentuh hati. Kau tahu? Setiap aku melihatmu bermain piano, rasanya aku berada di sebuah hamparan taman yang sangat luas. Ditumbuhi bunga-bunga aneh tapi cantik yang ribuan jumlahnya. Berasa udah kayak musim semi. Padahal waktu itu kan lagi musim dingin.” Aku masih setia mendengarkan ceritanya. Tanpa melepaskan pandanganku darinya dan tanpa memberikan coment apapun. Sebenarnya sih aku agak syok mendengar ceritanya itu.

“Aku tahu namanu dari Lee Joon. Chinguku. Menariknya lagi, kau sudah mencuri perhatian semua namja kelas tiga. tapi kau tampaknya gak ngeh,huh? Kau sangat terkenal  di kalangan namja kelas tiga. aku juga mendapatkan informasi tentangmu dari mereka. Mulai dari ommamu, eoniemu, dan mengenai appamu yang sudah meninggal.” Raut mukanya tampak sedih sewaktu menyinggung appa ku yang sudah meninggal, begitu pun aku. Aku jadi teringat appaku. “Karena sikapku yang sangat pengecut, akhirnya aku lulus tanpa bertegur sapa terlebih dahulu padamu. Bahkan mengatakan ‘hi’ saja aku tak berani.” Dia mendesah panjang tanda kecewa, kemudian dia duduk disampingku, pandangannya beralih padaku dan aku balas memandangnya. “Mungkin karena nasib atau takdir, aku satu kampus dengan eonie mu. aku senang, itu berarti besar kemungkinan kau akan kuliah di tempat yang sama dengan eonimu. Penantianku ternyata tidak sia-sia. Akhirnya kau kuliah juga disana.”

“Lalu, jika memang benar kau suka padaku, kenapa kau selau cuek padaku? Kau dan teman-teman mu malah lebih lengket dengan eonie ku?!”

“Eh! Ralat ya! bukan aku yang cuek tapi kau tuh yang cuek” Dia mencubit pipi kananku lembut. “Selama ini kau terlihat tidak suka dengan kami. Terutama aku. Setiap aku dekat denganmu kau selalu memasang tampang kadal. Aku selalu mencoba untuk menarik perhatianmu. Tapi sia-sia, gagal terus. Kadang-kadang aku kesal, kau sungguh keras kepala. Susah dibilangin, bandel, dasar kepala batu!” Dicubitnya lagi pipiku. Kali ini kedua pipiku dengan agak keras. “Ah! Ah! Apo! Apo pabo!!”

“Hehehe” Cengar cengir lagi?! Emang pipiku ini bakpao kacang ijo apa? Udah maen cubit aja.

“Jadi gimana?”

“Gimana apanya?”

“Kau mau kan jadi pelabuhan hatiku?”

“Itu..itu”, jawabku agak tersendat-sendat. “Jangan bilang kau sudah pacaran dengan pemilik kafe itu?!”

“Aish! Pabo! Dia itu suka eonie ku, bukan aku. Aku hanya sedikit membantunya tadi.”

“Baguslah, jadi tak ada alasan kau tak mau menjadi yeojachingu ku”, katanya memaksa.

“Ahh… terserah lah, ayo pulang! Udah mau malem nih. Aku takut dimarahi omma.” Aku merengek-rengek minta pulang. Jantungku udah berdetak gak karuan, rasanya pingin mencuat ke luar. Bisa mati aku, kalau lama-lama berduaan dengan namja ini. Malu tapi mau, kayak lagunya gita gutawa. “Oke, ayo kita pulang.” Dia beranjak dari kursi dan langsung mengambil tangan kiriku, sontak aku kaget. “Wae? Kita kan sudah pacaran?!?. Masak marah? Megang tangan aja gak boleh?”, katanya protes. “Ani..ani.. gwenchana. Siapa juga yang marah? Aku hanya sedikit terkejut. Biasanya, dulu tak ada seorang namja yang memegang tanganku, maklum gak pernah punya namjachingu sih.”

“Bagus dong? Aku yang pertama. Hehehe. Ya udah ayo,,, changkaman” Dia reflek berhentin berjalan. Melihat dia berhenti berjalan, aku jadi ikut diam. “Aku mau minta satu hal lagi darimu.” Serius amat sih?

“Aku minta mulai sekarang, panggil aku dengan sebutan oppa. Kau kan lebih kecil dariku. Araso?”

“Hahahahaha.” Aku hanya bisa tertawa ngakak sambil memegangi perutku dengan tangan kanan. “Ya! ussojima! Kenapa tertawa? Hentikan!”

“Mian..mian, hmmmppppphhh….” Aku berusaha menahan tawaku agar tak meledak. Tapi membayangkan permintaan anehnya itu, membuatku ingin terus tertawa. Karena gemas langsung saja aku cubit salah satu pipinya dengan tangan kanan ku. “Ne…oppa.. jangan cemberut dong…” Kulepas tanganku dari pipinya. Omo! Pipinya memerah. Malu. Lucunya…. “Kajja..” sekarang gentian aku yang menariknya.

Sekarang aku bisa bernafas lega. Konflik yang terjadi antara aku, omma, dan eonie sudah beres. Selanjutnya tinggal kisah cintaku dengan si namja sipit ini saja. Semoga hubungan kami dapat berjalan dengan lancer. Amiiiiiiiiiinnnnnnnn….

END.

 

Makasih buat para readers yang udah baca ff kedua ku dengan hati yang sabar. Maaf ff ku jelek. Maklum, gak bakat nulis. Udah gak bakat nulis, masih aja nekat bikin ff. give me oksigen please. Dapet pahala lo….. (0_o).

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

40 thoughts on “I’m Not Wicked Princess [2.2]”

  1. hahaha
    jinki so sweet yooooo… hahaha trnyata udh naksir sjk SMA

    itu reaksi org2 d kmpus ajib bgt ya.. kkkkkkkkk

    Atau urat ke’maluannya — lbh bagus klo “urat malu” aj.. udh cukup..

    lucu.. hihihi lucu ngebyngin jinki.. haha

  2. Yeee…happy ending,,

    Jaguar memangnya cukup buat ber7 thor?#PLAK

    Nasib cherim sama kyu gimana tuh?aku kira salah 1 anak shinee ada yang suka sama dia,eh malah suka sama adeknya..

    Daebak!
    Ditunggu karya selanjutnya..

    1. kagak tau, thor tau cuma namanya doang… ‘jaguar’
      kagak ada niat buat nyari gambar jaguar di mr. google… jadilah begini

      makasih dah coment

  3. hyaaaa lucuuu ….
    aku bacanya di lab komp sekolah, senyum2 sendiri kaya orgil … ahahah gara2 baca ff ini … huwaaa….
    seru bacanyaaa..
    bahasanya enak bgt …

    cheri sma kyu gimna ???
    ayo.. di tunggu ff mu yang lain .. ^^

    1. kekeke….
      makasih…
      makasih
      makasih…

      chaeri ma kyu?? entar aku usaha’in bikin. tapi gak janji loh….
      tapi kalau lanjutan’a nana ma onew ada… dah tak kirim kesini kok…

  4. hehehe akhirnya happy ending juga *senyam senyum sendiri
    ff nya bagus, tapi bahasanya agak kurang formal aja. biasanya baca ff yg bahasanya formal, jadi baca ini agak2 asing hehe. ditunggu karya selanjutnya yaaa 😀

    1. terimakasih atas saran dan juga kritiknya..

      nih… sekarang aku lagi belajar gimana caranya bikin ff yang bahasa baku. biar gak kecampur aduk kayak nasi jinggo pakek kuah… doa’in ya biar berhasil. lagi-lagi cast yang aku bawa onew… onew oppa aku padamu#plak#

  5. Ah keren,, lucu,, seru…

    Apalagi pas bagian chaerin jln bareng nana… Smpe ad yg jatuh k sungai sgala…hehe
    Udh gtu chaerin nya maen teriak2 lwt pngeras suara aja lg,,hehe

    Pokokny TOP BGT chingu…:)

    1. gumawo…. tapi tetep aj ff ku ini jauh dari sempurna. masih banyak ff laen yang lebih bagus daripada punyaku.#iya iya lah#

      gomawo dah coment…. ^.^

  6. Hiks chingu… cerita Hana sama Onew nya keren, tapi penasaran sama kelanjutan hubungan cheri n kyuhyun… kupikri tadi bakal ada, eh ternyata udah the end… ^^

    kalo dibikin biar cuma sedikit pasti bagus. ^^

    1. suka ya ma kyuhyun chaerin couple?
      kalau chingu sabar,,, aku bakal bikinin buat chingu. tapi tetep cast nya shinee. si kyuhyun ma chaerin cuma kena imbasnya dikit.
      sebenernya ini cerita ada sequelnya. tapi cuma oneshot. fokusnya cuma onew ma nana doang

      maksih dah saranin
      gumawo

    1. sayangnya gak ada readers yang baik , mianhae 😦
      tapi kalau lanjutan onew ma nana ada 🙂

      maksih dah coment

  7. Kelanjutannya chaeri ma kyu? Masi diotak… Tapi klo onew ma nana ada, dah tak kirim ke shawolindo. Rencananya sih mo bikin lagi. Ngelibatin 4 orng itu: onew, nana, kyu, ma chaeri. Klo chingu mo sbr menunggu, astungkare aku akan bikinin buat chingu.
    Makasi dah comment 🙂

  8. ceritanya seru…
    lucu bahasanya. nyablak klau aku bilang. dan itu yg bikin menarik. wlupun bbrapa masih ada y aku krg ngeh#rider byk protes.

    ada lanjutannya kah?
    ak tgu ya thor
    keep writing!!

    1. makasih…
      memang bahasanya agak nyablak, seperti yang chingu bilang. mianhae, baru belajar nih, entah kenapa jadinya ‘kok ketagihan bikin ff’. karang aku masih usaha bikin ff yang lebih baek dari sekarang.
      makasih dah comment 🙂
      sebenernya ada lanjutannya, tapi liat d ‘ff varification#11’ kagak ada ff yang judulnya ‘i love u! trust me!’. padahal tu sequel i’m not wicked princess. tapi gak papa deh 😦

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s