Married By Accident – Part 7

MARRIED BY ACCIDENT

Author : Yuyu
Main Cast :

  • Lee Jinki (Onew)
  • Han Younji

Support Cast :

  • Choi Minho
  • Key
  • Son Shinyoung (Oc)
  • Kim Jonghyun
  • Kim Hyunji (Oc)

Minor Cast:

  • Lee Taemin
  • Hwang Jungmi (Oc)
  • Son Miyoung (Oc)

Length : Sequel
Genre : Romance, Sad, Friendship
Rating : PG – 15

Jika bagi sebagian orang akhir pekan adalah saatnya untuk bermalas-malasan, tidak begitu bagi Nyonya Lee. Baginya akhir pekan adalah hari keluarga. Makanya dia mengajak Onew dan Younji untuk datang ke rumahnya. Alih-alih meminta bantuan ini itu pada Younji, Nyonya Lee justru melarangnya melakukan apa pun dan menyuruhnya untuk bersantai di kamar Onew.

“Aku merasa seperti menantu yang tidak berbakti,” ujar Younji sambil mengerutkan keningnya.

“Mengapa kau berpikir begitu?” tanya Onew asal tanpa menatap Younji sedetik saja. Ia berbaring dengan santai di atas tempat tidur yang sudah lama tak ia tempati sementara Younji hanya duduk di bibir tempat tidur dengan gelisah.

“Tentu saja aku berpikir seperti itu. Mengapa justru Eommeoni yang melayaniku? Bukankah seharusnya aku yang melayaninya?”

Onew mengangkat pundak dengan cuek, menutup lembar majalah yang tak menarik dan akhirnya beralih menatap seseorang yang mampu membuat ia merasa begitu bersemangat. “Eomma sendiri yang bilang kalau dia ingin kau beristirahat diakhir pekan ini.”

“Tapi—“

“Sudahlah,” potong Onew dengan cepat sebelum Younji bisa membantah kata-katanya lagi. Seulas senyum hangat terukir diwajah Onew. “Daripada kau mengeluh terus, lebih baik kau bersantai seperti yang Eomma bilang.”

Younji hanya memberengutkan wajahnya ketika mendengar jawaban Onew. Sama sekali tak membantu, menurutnya. Diedarkan pandangannya ke sekeliling kamar Onew. Terlihat rapi, mungkin karena Nyonya Lee rajin membersihkan kamar yang tak lagi terpakai ini. Mungkin Onew benar. Daripada ia mengeluh terus, lebih baik ia melihat-lihat setiap detil yang ada di kamar ini.

Deretan pigura foto sederhana yang terletak di meja belajar menarik perhatian Younji. Ia menjejakkan kaki di lantai dan mulai melangkah perlahan menghampiri objek yang menarik perhatiannya tadi.

Pandangan Onew mengikuti setiap pergerakan Younji. Memerhatikan wanita itu secara diam-diam telah menjadi kegiatan paling menyenangkan yang ia lakukan untuk menghabiskan waktu. Ia tak pernah merasa bosan, ia justru ingin terus-terusan memerhatikan Younji—jika hal itu memungkinkan.

“Ini fotomu?” tanya Younji. Ia memutar tubuhnya dan mengangkat sebuah pigura.

“Hmm…” gumam Onew sebagai jawaban. “Sepertinya foto itu diambil Eomma saat umurku 6 tahun. Apakah aku terlihat menggemaskan?”

Younji mengangguk dengan bersemangat. Senyumnya merekah. Benar kata Onew, pria kecil itu benar-benar menggemaskan dengan pipinya yang bulat. Younji memerhatikan wajah Onew yang sekarang lalu membandingkannya dengan yang ada difoto. Berbeda, terlalu banyak. Karena Onew yang sekarang terlihat tampan dibanding menggemaskan.

Younji meletakkan pigura itu, lalu beralih ke pigura lain. Sepertinya Nyonya Lee benar-benar menyayangi Onew. Banyak sekali foto-foto ketika ia masih kecil. Dan Younji berani bertaruh bahwa semenjak remaja Onew pasti menolak untuk difoto. Bukankah anak laki-laki memang begitu ketika beranjak dewasa?

Melihat senyuman Younji benar-benar membuat detak jantung Onew terpacu. Tanpa dikehendakinya, ia ikut tersenyum pada dirinya sendiri. Namun senyum itu tak bertahan lama tatkala ia mengingat sebuah foto yang belum ia buang. Pigura itu hanya ia baringkan di meja, membiarkan bagian belakang pigura menghadap ke langit-langit.

Nyaris melompat turun, Onew buru-buru menghampiri Younji. Ia berdiri di belakang Younji dalam hitungan detik dan menahan pigura itu di waktu yang bersamaan ketika Younji mulai mengangkatnya.

“Huh?” gumam Younji kebingungan. Ia menoleh ke belakang dan agak tersentak saat melihat wajah Onew yang berada begitu dekat dengannya.

“Jangan…” ujar Onew setengah berbisik tanpa sekali pun melepaskan pandangannya dari Younji. “Jangan lihat foto yang ini…”

Wae? Apakah ini foto bugilmu waktu berusia satu bulan?” Younji terkekeh, masih tak mengerti betapa seriusnya situasi saat ini bagi Onew.

Saat menyadari kelengahan Younji, Onew segera menarik pigura itu dan melempar sembarangan ke belakang. Bunyi debam kecil terdengar, memberitahukan Onew bahwa pigura itu mendarat di tempat yang empuk—tempat tidurnya.

“Hei!” protes Younji sambil memberengut. “Aku kan—“

Lagi-lagi Younji terkesiap saat melihat wajah Onew yang semakin mendekat ke arahnya. Benarkah wajah Onew semakin mendekat? Atau memang sejak tadi tak ada begitu banyak jarak diantara mereka?

Kedua tangan Onew yang semula mencengkram pinggiran meja belajar perlahan bergerak, terkunci erat diperut Younji. Ia pasti gila, itulah kalimat yang terus terngiang di benaknya. Yah, pasti begitu. Jika tidak, bagaimana mungkin tiba-tiba saja ia ingin melumat bibir Younji? Tanpa sebab? Ataukah memang sejak awal hal itulah yang ingin ia lakukan setiap kali tatapannya dan Younji terkunci?

Onew memejamkan matanya saat jarak diantara mereka hanya tersisa beberapa milimeter. Ia bersiap untuk mendapatkan penolakan dari wanita dalam dekapannya. Namun saat bibirnya menyapu pelan bibir Younji, ia tak mendapatkan reaksi apa pun. Tidak ada penolakan, tidak ada juga balasan.

Dengan lembut, Onew memutar tubuh Younji tanpa sekali pun melepaskan kontak yang ada pada mereka. Begitu Younji telah sepenuhnya menghadap ke arahnya, Onew membuka matanya sedikit demi sedikit. Ia hampir saja berteriak senang saat melihat Younji memejamkan mata.

Ini mungkin akan menjadi salah satu kenangan yang tak akan pernah Onew lupakan. Ini adalah waktu di mana ia merasa bahwa hidupnya benar-benar sempurna, tanpa celah, tanpa luka, dan tanpa keputusasaan.

Baru saja Onew akan memperdalam ciumannya, tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka. Terdengar suara berdeham jahil yang mengharuskan ia melepaskan Younji dari dekapannya dengan terburu-buru dan canggung.

Eoeommeoni!” seru Younji tertahan dengan wajah merah padam begitu melihat sosok Nyonya Lee diambang pintu dengan kedua tangan terlipat manis di depan dada.

“Maaf mengganggu waktu kalian,” ujar Nyonya Lee tanpa rasa bersalah. “Tapi aku berubah pikiran, kurasa aku butuh bantuan Younji di dapur.”

Onew hanya melirik Younji dari ekor matanya, tapi cukup untuk membuatnya melihat semburat merah yang menyebar dengan cepat membentuk rona merah muda. Younji berjalan cepat melewati Nyonya Lee untuk berjalan turun ke dapur sambil tertunduk malu.

Nyonya Lee memastikan Younji telah berada cukup jauh dari jangkauan pendengarannya lalu menoleh pada Onew dan tersenyum jahil.

“Kau harus bisa mengontrol dirimu. Istrimu itu kan sedang hamil,” ujar Nyonya Lee ditambahkan dengan suara berdecak diakhir kalimat sebelum akhirnya ia berjalan pergi menyusul Younji.

Onew hanya bisa menggigiti bibir bawahnya dan manahan senyum mendengar komentar Nyonya Lee. Ia memang tak berniat membantah kata-kata Nyonya Lee karena apa yang beliau katakan memang benar. Ia harus bisa mengontrol diri. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika saja Nyonya Lee tidak menerobos masuk?

Teringat pada pigura yang ia campakkan tadi, Onew berjalan ke tempat tidurnya. Ia mengambil pigura itu, lalu mengeluarkan secarik foto dari dalamnya. Di dalam kertas itu, ada dirinya yang tersenyum bodoh bersama seorang wanita, Miyoung.

Awalnya terasa sulit bagi Onew untuk melenyapkan foto itu. Tapi juga terasa sesak jika ia harus terus menatap kenangan yang memilukan hati. Makanya ia biarkan foto itu tertelungkup di atas meja belajar.

Dan Younji tak akan pernah tahu bagaimana perasaan Onew saat memikirkan bahwa Younji akan melihat foto itu dan bertanya-tanya padanya. Terlepas dari apakah Younji memiliki sedikit ruang dihatinya untuk Onew atau tidak, pria itu tetap tidak ingin Younji mengetahui apa pun tentang Miyoung.

Miyoung sekarang benar-benar menjadi bagian dari masa lalunya—berkat Younji. Dan ia ingin mengubur rapat-rapat segala hal yang bisa mengingatkannya pada hal tersebut. Bukan karena ia merasa sakit. Tapi karena ia merasa tak pantas untuk dikenang.

Foto itu kini tersobek hingga beberapa bagian lalu terhempas begitu saja di dasar tempat sampah di samping meja belajar Onew. Saatnya mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu dan selamat datang pada masa depannya.

***

“Oh, kau sudah pulang?” tanya Onew begitu ia membuka pintu apartemen dan melihat Younji berdiri di depannya. Ia agak melongokkan kepala untuk mencari sosok pria yang beberapa waktu belakangan ini terus setia mendampingi istrinya.

“Di mana Minho-ssi?” Onew kembali bertanya seraya menggeser tubuh agar Younji bisa masuk ke dalam.

“Dia langsung pulang begitu mengantarku,” jawab Younji cepat. Ia terus memerhatikan Onew yang sibuk memakai sepatu. Jelas sekali terlihat dari penampilannya, Onew akan keluar. Tapi, ke mana? Ingin sekali Younji mendapatkan jawaban atas pertanyaan jika saja keraguan tak menggerogotinya. Hasilnya, Younji hanya mematung di tempat tanpa berkata apa-apa.

“Tidak perlu menungguku, aku tidak tahu akan pulang jam berapa,” ujar Onew sebelum ia melangkah keluar begitu saja dari apartemen.

Tak sekali pun ia menoleh ke belakang sebelum bahkan sesudah pintu tertutup. Ia takut jika ia menoleh sedetik saja, keinginannya untuk terus berada di sisi Younji—terutama hari ini—akan mengalahkan segalanya.

Onew mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Lagi-lagi ia mengendara tanpa tujuan. Ke mana saja, ia ingin ke mana saja asal tidak bersama Younji. Lucu, bukan? Padahal hatinya tak henti meronta agar ia melakukan hal sebaliknya.

Laju mobil Onew memelan. Ia menoleh ke samping dan tertawa pelan. Sungai Han sepertinya sudah menjadi tempatnya melipur lara. Ia mematikan mesin namun tak beranjak turun. Sebagai gantinya Onew hanya memejamkan mata dan bersandar.

Hari ini adalah hari yang spesial. Ulang tahun Younji. Oh, betapa inginnya dia menghabiskan sisa hari ini bersama Younji. Itu adalah keegoisan yang tak akan pernah ia tunjukkan kecuali pada dirinya sendiri. Ia tak bisa menyita seluruh waktu Younji hanya untukku. Bagaimana jika Younji ingin menghabiskan waktunya bersama Minho? Bukankah Onew hanya akan menjadi pengganggu saja? Dan bagaimana jika Younji ingin menghabiskan waktunya bersama Onew? Mungkinkah itu?

Masih dengan mata terpejam, tangan Onew bergerak naik menyentuh permukaan bibir miliknya. Sekilas cuplikan bermain di benaknya. Namun ia segera membuka matanya, membiarkan cuplikan itu terpotong oleh kesadaran yang masuk lewat penglihatannya.

Bukannya ia tak ingin mengenang hal tersebut, hanya saja semakin ia mengingatnya, semakin menjadi perasaannya. Sudah cukup, perasaannya sudah sangat kacau dan ia tak butuh hal lain untuk menambah kekacauan itu.

Onew mengedarkan pandang melalui kaca jendela mobil yang memberikan jarak pandang terbatas. Ia mencari seseorang yang telah beberapa kali bertemu dengannya di tempat yang sama tanpa membuat janji lebih dulu, berharap kali ini pun mereka bisa bertemu. Onew membutuhkan seorang teman—bukan untuk berkeluh kesah—sekadar untuk meringankan perasaannya. Dan ia tahu dengan jelas, menemui Jonghyun bukanlah pilihan bijak mengingat apa yang masih dialaminya sampai detik ini.

Seulas senyum—diwarnai keletihan—tercipta di wajah Onew saat orang yang ia cari muncul dalam penglihatannya. Tanpa pikir panjang, Onew melepaskan seat-belt, membuka pintu mobil dan melangkah lebar untuk mengejar Jungmi yang sedang berjalan menikmati siraman matahari senja.

“Hei,” sapa Onew sembari menepuk pundaknya.

Jungmi menoleh kaget, tak menyangka akan bertemu Onew kembali. Jari telunjuknya terulur, mengarah pada Onew dengan tatapan tak percaya. Sedetik kemudian tawa lepas wanita berkuncir kuda itu terdengar.

“Kita bertemu lagi,” ujarnya setelah berhenti tertawa. “Atau harus kubilang, kau ini benar-benar seorang penguntit?” Jungmin menaikkan satu alisnya seraya bertanya lalu kembali melanjutkan langkahnya dengan perlahan.

Onew mengikuti langkah Jungmi dan terkekeh pelan begitu pertanyaan Jungmi telah ia cerna dengan sempurna. Onew memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, membiarkan pertanyaan Jungmi menguap begitu saja.

“Kau tidak menjawab, berarti kau benar-benar menguntitku,” gurau Jungmi.

Onew memutar kepalanya, menghadap ke Jungmi dan tersenyum lebar. “Kalau aku menguntitmu, kau mungkin tidak akan bisa pulang ke rumah hari ini.”

Setelah itu tidak ada percakapan yang terdengar, hanya suara derap langkah masing-masing dan pejalan kaki di sekitar mereka seiring langkah yang mereka ambil. Ketenangan semacam ini seolah menjadi ciri khas ketika mereka bersama-sama. Bahkan suara gemerisik rerumputan yang saling bergesekan beberapa meter dari tempat mereka berjalan pun tak mampu mengusik keheningan yang mereka ciptakan.

***

Ini bukan bagaimana Younji ingin menghabiskan harinya, hanya menyendiri di dalam apartemen yang kosong. Bukan seperti ini yang ia mau. Sebenarnya, Younji bukan ingin mengadakan pesta mewah, atau juga diberi ucapan selamat. Yang ia inginkan sangatlah sederhana. Ia hanya ingin melewatinya bersama Onew.

Di mana suaminya itu sekarang? Lidah Younji kelu ketika Onew mengatakan akan pergi dan tak tahu kapan kembali. Ingin sekali Younji menahannya. Sayang, ia tak melakukan hal itu dan yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah meratapinya.

Padahal ia telah menolak ajakan makan malam dari Minho. Entah mengapa ia tak ingin menghabiskan hari ini bersama pria yang sempat mengisi relung hatinya. Aneh bukan?

Sejak kapan Younji menjadi seperti ini? Sejak ciuman akhir pekan kemarin? Sejak ia melihat kedekatan Onew dan Shinyoung? Sejak insiden yang merubah hidupnya dimulai? Atau bahkan sejak pertama kali ia melihat pria ini?

Younji menghela nafas panjang. Sia-sia. Waktunya terbuang percuma. Daripada meratapi, lebih baik dinikmati saja. Toh ia tak bisa berbuat apa-apa untuk memaksa Onew sekadar ada di sisinya.

Hari ini tak boleh berakhir seperti ini–terkurung bosan di dalam apartemen. Dikenakannya mantel hangat untuk menyelimuti tubuh. Ia ingin mencari angin segar untuk menyejukkan pikiran dan hatinya yang mulai tak selaras kini.

Kaki Younji melangkah dan terus melangkah. Ia membiarkan nalurinya bergerak bebas menuntun dirinya. Tangan Younji bergerak pelan, membenarkan letak rambut yang awalnya membingkai wajahnya sebelum terpaan angin mengacaukan susunan helai rambut wanita itu.

Langkah kaki Younji melambat hingga pada akhirnya justru terhenti. Ia menoleh ke samping, menatap hamparan cairan bening yang diterpa cahaya matahari bak kristal yang berkilau terang. Sekali lagi angin nakal menggoda helaian rambut Younji yang dibiarkan tergerai. Hal itu tak mengganggu bagi Younji, justru sebaliknya.

Seulas senyum tercipta bersamaan saat sang pemilik memejamkan matanya untuk merasakan terpaan demi terpaan angin. Ia merasa begitu bebas, seolah terbang. Inilah yang ia butuhkan, kebebasan dari neraka yang pernah ia huni selama bertahun-tahun lamanya. Sekarang ia tak lagi mendekam dalam tempat yang membara itu. Ia harusnya bahagia. Salah, ia memang bahagia. Namun ada sedikit celah dalam kebahagiaan itu. Ia membutuhkan seseorang–yang awalnya ia pikir adalah Minho.

Younji membuka matanya dengan spontan saat sebuah wajah menghiasi benaknya. Sebuah cuplikan singkat langsung membuat wajahnya merona merah. Kali kedua mereka berciuman. Rasanya tak berbeda, manis dan indah untuk dikenang. Sembari tersenyum kecil, wanita itu menyentuhkan ujung jarinya ke bibir dan kembali melanjutkan langkah.

Disayangkan, langkah singkat Younji terhenti begitu ia melihat sosok yang tadi muncul dalam benaknya kini menjadi nyata. Dan sebagai tambahan, sosok itu tengah tertawa kepada seorang wanita yang berjalan beriringan dengannya. Apa pun yang mereka bicarakan, Younji berani bertaruh pastilah sesuatu yang sangat menarik hingga membuat Onew nyaris terpingkal-pingkal dan tak menyadari keberadaan Younji yang memang tak bisa dibilang terlalu jauh.

“Sungguh? Lalu apa yang terjadi setelahnya?” tanya Onew sambil menyeka sudut mata yang berair. Ia akhirnya menatap lurus ke depan, mendapati seorang wanita menatap lurus padanya. Tawa di wajah Onew memudar menjadi senyum lalu menghilang sepenuhnya meninggalkan garis lurus yang diciptakan kedua sudut bibirnya.

“Younji?” panggil Onew untuk memastikan penglihatannya.

Jelas ia curiga pada apa yang ia lihat sekarang. Wanita yang berulang tahun itu kenapa justru berjalan seorang diri, bukannya melewati makan malam romantis dan sejumlah kejutan yang bisa saja telah disiapkan oleh Minho jauh-jauh hari. Tak ada bukti bahwa Minho adalah tipe pria romantis, tapi setidaknya dalam gambaran Onew, seperti itulah karakter Minho ketika berada di sisi Younji.

Anggukan kepala ditunjukkan oleh Younji saat mendengar namanya disebut. Ekspresi wajahnya masih datar, seolah ikut bingung dengan reaksi macam apa yang harus ia tunjukan. Kaget? Sudah pasti. Marah? Tidak ada hal yang membuatnya marah. Mungkin cemburu, tapi bukan marah. Nah, jadi harus bersikap seperti apa Younji sekarang? Memperlihatkan ketidaksukaannya saat menyaksikan suaminya bersama wanita lain? Bagaimana kalau hal itu justru membuat Onew merasa sebal padanya? Ugh, ia benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana.

“Apa yang kau lakukan sendirian…?” –tanpa Minho?

Oh betapa inginnya Onew melanjutkan bait kalimatnya, kalau saja ia tidak memikirkan tanggapan Younji setelahnya.

Menyadari sorot kebingungan dari kedua wanita yang ia kenal, Onew mengambil inisiatif untuk memperkenalkan mereka. Onew melangkah maju mendekati Younji sambil memberi isyarat pada Jungmi untuk mengikutinya. Suara lalu-lalang pejalan kaki yang juga ikut menikmati semilir angin di sore hari bagaikan musik yang menjadi latar belakang.

“Younji-ya, ini Jungmi, temanku,” ujar Onew memulai perkenalan. Ia beralih menatap Jungmi, sekilas terlihat ragu–dan hal itu tak luput dari penglihatan Younji.

“Dan Jungmi, ini Younji—“ Seolah ada gumpalan besar yang mengganjal di kerongkongan Onew kala ia harus menyebutkan status Younji. Bukan karena pria itu berniat menyembunyikannya. Namun Jungmi adalah teman yang sangat baik baginya, seseorang yang mampu membuat ia merasa nyaman dimana selama ini ia tak pernah bisa mendapatkannya kecuali dari segelintir orang yang telah ia kenal cukup lama. Namun apa daya, iya juga tak bisa dan tak ingin berbohong. “—istriku.”

Ada aliran keterkejutan yang menggoncang kesadaran Jungmi. Ia tak pernah menduga jika pria yang tadi mendengarkan ceritanya telah memiliki keluarga. Belajar dari pengalaman masa lalu, Jungmi tak ingin berurusan dengan pria yang berdekatan dengan kata ‘menikah’. Dan jika ia tahu Onew telah berstatus ‘Suami’, ia pasti akan menjaga jarak sejauh mungkin.

Dan masih ada alasan kedua mengapa rasa kaget melanda Jungmi. Karena wanita yang baru saja Onew perkenalkan padanya, yah, karena Younji. Tak pernah terlintas di benaknya jika hari semacam ini akan datang. Hari di mana ia bertatapan langsung dengan wanita yang batal menikah dengan pria yang membuatnya jatuh hati.

Di sisi lain, Younji mencoba tersenyum seramah mungkin. Ia bahkan sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai sopan santun meski dari ekor matanya ia tidak bisa berhenti melirik Onew untuk melihat ekspresi wajah pria itu. Ia ingin tahu siapa yang Onew tatap saat ini, seolah ada kompetisi yang sedang berlangsung dan pemenangnya ditentukan berdasarkan tatapan Onew. Konyol.

“Ah…” Jungmi kehilangan kata-kata selama sesaat. Berbagai macam perasaannya berkecamuk. Langit yang semakin gelap justru menambah kerisauannya sementara desiran angin menerbangkan semua kosakata yang ia ketahui. “Senang bertemu denganmu Younji-ssi, tapi aku harus pergi sekarang.”

Kedua alis Onew saling bertautan. Tidak biasanya Jungmi berkata cepat-cepat, bahkan ia terlihat panik. Apakah sesuatu telah terjadi? Sebagai orang yang sejak tadi menemaninya, juga orang yang telah meringankan sedikit kegundahan hatinya, Onew merasa ia wajib membalas perlakuan Jungmi dengan setimpal. Kakinya melangkah secara otomatis setelah Jungmi berjalan melewatinya. Ia tidak bisa membiarkan wanita itu sendirian di saat suasana hatinya—terlihat jelas—sangat tidak menentu.

Cahaya bulan mulai tampak, menyinari sosok Onew di sampingnya. Tapi bukan ia yang disinari oleh tatapan Onew, melainkan Jungmi. Onew tak pernah seperti ini sebelumnya, ia tak pernah membuat Younji merasa terabaikan seperti sekarang. Ia melihat pergerakan Onew yang hendak mengikuti kepergian Jungmi. Lalu akal sehat Younji berteriak, memintanya untuk menahan laju tersebut.

Ujung lengan jaket Onew tertarik. Si pemilik jaket menoleh ke belakang untuk melihat pelakunya, dan sudah bisa ditebak kalau yang melakukannya adalah Younji. Seperti tersihir saat Onew balas menatap tepat dikedua manik mata Younji, wanita itu mematung kehilangan kata-kata yang tepat.

Kajima

Kalimat itu telah berada di ujung lidah Younji, namun urung diucapkan karena ketidakyakinan yang ia rasakan. Sebagai hasilnya, wanita mungil itu hanya bisa menatap Onew dalam keheningan sementara matahari telah kembali ke peraduannya tanpa pemberitahuan.

Setelah menunggu dan menunggu apa gerangan yang mungkin akan Younji ucapkan, kekecewaan menampar harapannya sempat ia lambungkan. Tidak, Younji tidak merasakan apa pun saat melihat dirinya bersama wanita lain. Tapi yang membuatnya tidak mengerti adalah mengapa Younji menarik tangannya sekarang? Dan tidak mengatakan apa pun?

Dengan perasaan enggan, Onew melepaskan pegangan Younji lalu mengusahakan sebuah senyum manis tertera di wajahnya. Ia meletakkan kembali tangan Younji pada posisi semula—di samping tubuh gadis itu—sembari menumpukan kedua tangannya di pundak Younji.

“Pulanglah dulu, aku juga akan segera pulang. Tapi sebelum itu—“ Onew sengaja menggantungkan kalimatnya saat ia menoleh ke arah sosok Jungmi menghilang tadi sebelum akhirnya kembali menatap Younji dan lagi-lagi memamerkan senyum. “—aku harus memastikan Jungmi baik-baik saja, dia terlihat agak aneh.”

Onew tak lantas memutar tumitnya dan beranjak. Ia menunggu balasan Younji. Ada sedikit harapan yang timbul, berharap Younji akan mencegahnya–meski Onew tetap akan mencari Jungmi karena merasa khawatir pada keadaan teman-tanpa-janji-nya. Tapi setidaknya, jika Younji mencegah Onew untuk pergi, akan ada sedikit kebahagiaan yang merasuki Onew karena tahu dirinya diperhatikan.

Alih-alih mengabulkan harapan tak terucap Onew, Younji justru mengangguk mengiyakan. Khas dirinya, batin Onew sebelum beranjak pergi.

Younji terus menatap sosok Onew yang perlahan semakin menjauh dan akhirnya tak terlihat. Ratusan pertanyaan berkelabat di benaknya meski telah ia usir jutaan kali. Siapa wanita itu? Mengapa wanita itu terlihat tak asing di mata Younji? Dan mengapa pula Onew harus mengkhawatirkannya?

Setelah menunggu—Onew tiba-tiba kembali—selama beberapa menit, Younji memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan solonya yang sempat terganggu. Ia belum ingin kembali ke apartemen. Percuma saja kembali sekarang, toh Onew setidaknya butuh waktu beberapa saat sebelum ia bisa kembali. Maka dari itu, Younji memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar dan mengosongkan pikirannya dari pikiran-pikiran yang mengganggu.

Tak bisa ia pungkiri. Bayangan Onew dan Jungmi mengusik ketenangan yang memang sudah sejak lama terganggu. Ada semacam perasaan yang ia coba tepis melalui logikanya. Bukankah seharusnya perasaan semacam ini tidak dirasakan pada seorang teman baik?

Namun semakin besar usahanya untuk menepis apa yang menurutnya ia rasakan saat ini, maka sebesar itu pulalah ia menyadari perasaan itu nyata. Ia… cemburu? Ia sendiri tak terlalu yakin. Bukankah cemburu hanya dimiliki orang yang jatuh cinta? Ataukah Younji hanya sekadar berubah menjadi orang egois yang menginginkan seluruh perhatian Onew tercurah padanya karena unsur kebiasaan?

Hari ini, sepertinya kaki Younji memiliki kendali yang besar. Buktinya, sekali lagi kaki itu menuntunnya ke tempat yang tak ia sangka, ke sebuah rumah. Bukan rumah yang mengingatkannya pada kesakitan, tapi justru membuat ia teringat pada pelukan hangat Ibunya yang sudah lama tak ia rasakan. Ia tiba-tiba saja merindukan pelukan itu. Ia membutuhkan pelukan itu untuk menguatkannya. Ya, ia merasa lemah sekarang. Lemah karena ketidaktahuannya terhadap perasaannya sendiri.

“Apa yang kau lakukan di sini, anak tidak tahu diri?” tanya sebuah suara yang membuat rambut-rambut halus di sekitar tengkuk Younji berdiri tegak.

***

“Jungmi-ya,” panggil Onew setelah ia berhasil mengejar sosok Jungmi.

Wanita yang ia panggil bertindak seolah-olah ia tak mendengar apa pun dan terus melangkah. Ada setitik rasa marah dalam diri Jungmi saat ini. Dia tidak bisa berpikir dengan benar karena emosinya berkecamuk. Dan jika ia menanggapi kata-kata Onew detik ini juga, ia pasti akan meledak.

“Jungmi-ya,” panggil Onew sekali lagi seraya berlari kecil dan berhasil menyejajarkan langkah mereka.

That’s it! Jungmi berhenti melangkah dengan tiba-tiba, lalu memutar tubuh ke samping. Emosi terlihat jelas dari nyala api yang tersorot dari tatapannya yang tajam.

“Apakah ini lucu?” tanya Jungmi setengah berteriak. “Apakah membuatku terlihat seperti orang bodoh adalah hal yang lucu?”

Onew mengernyit, tak menyangka akan kemarahan Jungmi yang meluap. Onew menyuarakan permintaan maaf, namun diabaikan oleh Jungmi yang langsung memotong pembicaraannya.

“Aku tidak mengerti. Apa sebenarnya salahku?” Suara tawa sinis terdengar. “Mengapa orang-orang yang kukenal harus berputar di sekitar kehidupannya—Younji? Dan mengapa aku selalu merasa diriku berada diposisi yang tidak menguntungkan?” desis Jungmi tertahan.

“Apa maksudmu?”

Kerutan di kening Onew semakin bertambah saat ucapan demi ucapan Jungmi tak mampu ia mengerti.

Jungmi menundukkan kepala seraya mengusap tengkuk dengan kasar. Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan ini semua kepada Onew. Akan terlalu panjang, mungkin bisa menjadi berjilid-jilid buku jika Jungmi bersikeras menceritakannya secara detil. Jadi ia memilih diam. Melampiaskan amarahnya pada Onew—meski ia tahu kejadian ini bukanlah kesalahan pria itu—sudah lebih dari cukup.

“Jelaskan padaku,” tuntut Onew tidak tinggal diam begitu saja. “Apa yang sebenarnya terjadi padamu Hwang Jungmi?”

Ada penekanan yang kentara saat Onew menyebutkan nama lengkap wanita yang ada di hadapannya. Dan itu merupakan sesuatu yang belum pernah Jungmi rasakan sebelumnya di mana setiap penekanan itu membuat ia tak mampu melawan.

Meski terlihat ragu, Jungmi memutuskan untuk menceritakan sesingkat mungkin bagaimana ia dan Minho bisa berkenalan, lalu mereka berdua menjadi dekat dan tiba-tiba, BOOM! Seperti sebuah ledakan yang tak sempat diantisipasi, persahabatan mereka berubah menjadi sebilah anak panah yang justru bergerak tajam, dingin dan melukai.

“—dan tidak kusangka kalau kau adalah suami Younji,” tutur Jungmi mengakhiri dongeng pahitnya.

Onew tak lantas merespon begitu Jungmi menutup buku ceritanya. Pria itu terhanyut dalam pikirannya, mencoba mengaitkan kabel-kabel yang belum terpasang tepat di tempat seharusnya. Dan sepertinya, Onew mulai mendapatkan titik terang ke mana seharusnya kabel-kabel tersebut dipasangkan, meski ia tak terlalu yakin.

Dengan menggelengkan kepala, Onew memutuskan untuk menyingkirkan sementara waktu apa yang menjadi masalah pribadinya dan mencoba fokus pada Jungmi, pada apa yang nyata di hadapannya kini.

Jungmi mendongak dengan kedua mata memerah saat pundaknya diberikan tekanan ringan. Kedua tangan Onew mendarat di sana, memberikan semacam bentuk penghiburan yang dirasa tak terlalu berlebihan atau pun memaksa.

“Maaf.” Onew memulai. “Kalau saja aku tahu lebih awal tentang masalahmu ini, aku pasti akan mencegah semuanya menjadi seperti sekarang.”

Ada kekosongan dalam tatapan Jungmi sebelum tergantikan oleh amarah lalu berubah menjadi kebingungan dalam hitungan sepersekian detik. Ia sendiri tak tahu apa yang harus ia rasakan. Mencegah, kata Onew? Siapa dia? Untuk apa dia mencegah apa yang akan terjadi dalam hidupnya?

Ya, benar. Hidupnya. Ini adalah hidup seorang Hwang Jungmi di mana lingkaran nasib akan terus menggelutinya. Lantas mengapa ia mencoba mencari kambing hitam atas nasib sial yang ia alami?

Kesadaran perlahan mengetuk pintu hati Jungmi. Tidak ada orang yang patut dipersalahkan atas apa yang menimpa dirinya mau pun orang lain. Hidup itu memang tidak adil bukan? Dan ketidakadilan tersebut bisa menghancurkan atau menguatkan, tergantung bagaimana cara kita melihat dan menyikapinya.

Dan jelas, Jungmi tidak ingin hal-hal seperti itu justru menginjak-injak dirinya. Ia adalah wanita yang tegar dan kuat. Begitulah berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri ketika masalah menimpanya. Kali ini pun, ia tidak ingin dihancurkan begitu saja.

Jungmi tertawa pelan. Suaranya terdengar kering dan lemah.

“Kau membuatku terlihat buruk, Onew,” mulai Jungmi. Tumitnya berputar 90 derajat. Ia memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam seraya tersenyum kecil. “Kau membuatku seolah-olah sedang menyalahkanmu.”

“Aku—“

“Maaf,” potong Jungmi bahkan sebelum Onew sempat memberikan pembenaran atas niatnya. Jungmi menoleh pada Onew, membuka matanya dan kali ini kedua sudut bibirnya terangkat lebih naik. “Bukankah ketika sedang kalut, manusia cenderung mencari pelampiasan? Dan karena hanya ada kau di sini, maka jadilah kau tempat pelampiasanku. Kau sama sekali tidak salah. Younji-ssi pun begitu. Ini hanyalah permainan takdir, bukan begitu?”

Onew mengangguk setuju. Ada sesuatu dalam diri wanita yang berdiri di hadapannya saat ini yang berbeda dengan wanita-wanita lainnya, bahkan Younji sekali pun. Tapi, mungkin itulah mengapa dikatakan setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Kesunyian yang diam-diam kembali menyelinap diantara mereka terpecahkan oleh dering ponsel Onew. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana, menatap nama yang tertera pada layar. Ia agak kaget karena mendapati Nyonya Lee menghubunginya.

Tidak biasa, batin Onew.

Pria itu menoleh pada Jungmi, menatapnya dengan cepat sebelum mengangkat telpon seolah ingin memberitahukan wanita itu bahwa ia harus mengangkat panggilan masuk.

“Eunri-ssi, waeyo?” tanya Onew tanpa basa-basi.

Tak ada sebersit pun firasat atau rasa curiga ketika ia menyambut panggilan Nyonya Lee. Namun wajahnya berubah pucat setelah Nyonya Lee menyampaikan informasi beserta isakan yang bercampur menjadi satu membuat suaranya tak terlalu terdengar jelas dari seberang saluran. Tapi semuanya sangat jelas, Onew mendengarnya lebih dari jelas untuk mengetahui secara singkat apa yang terjadi.

Onew memutuskan saluran telepon, menjadi linglung sesaat dan tak menyadari pertanyaan yang dilontarkan Jungmi tentang keadaan pria itu yang tiba-tiba saja berubah aneh.

“Aku harus pergi…” gumam Onew padahal kakinya masih terpaku di tempat karena terlalu lemas.

“Aku harus pergi sekarang,” ulang Onew setelah ia mulai menyadarkan dirinya sendiri dan melangkah pergi sesuai ucapannya.

***

Onew berlari sangat kencang, nyaris saja ia melewatkan kamar inap Younji. Mendengarkan berita yang disampaikan oleh Nyonye Lee lewat telepon dengan suara isakan yang kentara benar-benar memberikan pukulan yang cukup besar bagi Onew hingga ia nyaris tidak bisa berpikir jernih.

Onew berjalan mundur beberapa langkah saat dirasanya ia melihat nomor kamar yang disebut Nyonya Lee tadi. Dan memang benar, ia hampir saja melewatkan kamar itu. Nafasnya terengah-engah. Jelas saja, ia berlarian di tangga darurat secepat yang ia mampu.

Suasana kamar itu sangat hening, terdengar jelas ketika Onew berdiri di depan pintu untuk menarik nafas dalam-dalam—entah apa yang sedang ia persiapkan. Lalu dengan mantap dibukanya pintu kamar. Nyonya Lee yang berdiri di samping ranjang Younji langsung menoleh. Ia mendapati sedikit kelegaan saat melihat anaknya datang.

“Bagaimana….”

Bahkan kalimat sederhana semacam itu tak mampu Onew selesaikan kala raut wajah Nyonya Lee menjawab pertanyaannya dalam keheningan. Saat itulah Onew tersadar bahwa ia terlambat. Pria macam apa dia? Seorang pria yang telah berjanji akan melindungi Younji, tapi sesosok nyawa kecil saja tak mampu ia berikan perlindungan.

Younji setengah berbaring di atas tempat tidur. Tatapannya kosong, sama sekali tak mencerminkan apa yang ia rasakan saat ini. Dan hal itu semakin membuat Onew gelisah.

Apa yang sedang Younji pikirkan? Apa yang Younji rasakan? Ingin sekali Onew mengetahui semua jawaban dari pertanyaannya itu. Namun ia tahu, ia tak bisa menanyakan hal semacam itu pada istrinya, tidak di saat ia yakin Younji pasti merasa begitu hancur.

Onew berjalan mendekat dengan sangat perlahan nyaris tanpa menimbulkan bebunyian saat sol sepatunya menyentuh keramik kamar inap. Nyonya Lee hanya mampu menatap Onew, lalu memalingkan wajahnya dari Younji untuk menghapus setetes airmata yang lagi-lagi melesat turun.

Tidak ada airmata. Tidak ada teriakan histeris. Younji hanya diam dengan pandangan kosong sejak ia mengetahui kenyataan pahit yang harus ia telan mentah-mentah padahal Nyonya tak bisa menghentikan derai airmatanya.

Ia telah kehilangan sebuah nyawa yang sudah ia cintai bahkan sebelum ia sungguh-sungguh bisa merasakan kehadiran nyawa itu. Ya, ia keguguran. Rasanya seperti berada di dalam mimpi buruk setelah terbangun dari mimpi buruk yang lain. Baru saja beberapa jam lalu ia merasa begitu gundah ketika melihat Onew bersama wanita lain, tapi ternyata pukulan itu tak seberapa jika dibandingkan dengan yang ia rasakan saat ini.

Ia tak—akan—pernah menyangka bahwa kembali ke rumahnya adalah pilihan yang salah. Jika saja ia tahu hal itu akan menuntunnya pada kondisinya saat ini, maka ia tak akan membiarkan kakinya melangkah masuk. Ya, andai saja ia tahu bahwa Tuan Han benar-benar makhluk biadab yang tega melakukan hal ini padanya.

Sementara pikiran Younji membawanya pergi ke alam lain, Onew hanya bisa menatap wanita berwajah pucat itu tanpa berkedip. Ia tengah bersiap-siap untuk kondisi terburuk, melihat airmata Younji tumpah. Meski Onew sama sekali tak suka melihat Younji menangis, apalagi karena kejadian waktu itu, tapi ia siap untuk menyeka airmata itu dari wajahnya. Dia akan ada saat Younji membutuhkan pelukan untuk menguatkan dirinya. Tapi tidak ada airmata. Tidak ada teriakan. Tidak ada penyangkalan. Onew bahkan ragu kalau Younji benar-benar telah mendengarkan berita buruk tersebut.

Nyonya Lee yang sudah tak bisa menahan perasaannya memilih untuk berlari keluar ruangan dan menangis sepuasnya. Ia tengah berduka karena kehilangan cucu pertamanya–meski ia tidak tahu bahwa anak yang dikandung Younji bukanlah milik Onew.

Onew hanya bisa menatap miris pada sosok Nyonya Lee yang menghilang dibalik pintu. Bukankah seharusnya Younji menangis seperti Ibunya juga? Tidakkah itu seharusnya menjadi reaksi normal bagi wanita yang kehilangan janinnya?

Suara derap langkah terdengar memenuhi koridor rumah sakit yang tak terlalu ramai, lalu suara langkah yang tergesa-gesa itu menyeruak masuk ke dalam ruang inap. Sesosok pria dengan nafas tersengal-sengal dan keringat yang mengucur deras di sekitar wajahnya muncul dan terdiam di depan pintu.

Onew membalikkan badannya dan menatap sosok yang menghambur masuk. Ia mengenali sosok itu, Choi Minho. Dan tatapan si tamu tak diundang itu hanya terfokus pada Younji, seolah Onew adalah makhluk transparan yang tak bisa dilihat secara kasat mata.

Suasana kamar yang sejak semula hening semakin terasa mencekam bagi Onew tatkala Minho melangkah mendekati Younji. Dan tanpa aba-aba, pria itu memeluk Younji.

“Mianhae… Mianhae…” bisik Minho tidak terlalu pelan dengan suara serak.

Detik itu juga tangis Younji pecah. Ia balas memeluk tubuh Minho, mencengkramnya seerat mungkin seolah takut ia akan terjatuh. Dengan cepat raungannya memenuhi seisi ruangan.

“Mengapa?” tanya Younji lirih disela-sela tangisnya. “Mengapa Tuhan selalu mempermainkanku? Mengapa aku harus kehilangan bayiku?? Mengapa?” teriak Younji sekuat tenaga.

“Sssh, tenanglah, Younji-ya, tenanglah,” bisik Minho ditelinga Younji. Tangan Minho bergerak naik turun di punggung Younji untuk menenangkannya, sementara tangan lain mengusap rambut Younji dengan pelan. Ia pun tak bisa menjawab pertanyaan Younji, ia pun berharap semuanya tidak menjadi seperti sekarang.

“Mengapa kau lakukan ini padaku, mengapa Choi Minho!?” teriak Younji lagi. Ini tak seperti Younji yang bisa dengan bebas meluapkan amarahnya. Tapi ia benar-benar lelah karena merasa Tuhan selalu mempermainkan hidupnya.

Rasanya sangat pilu bagi Onew saat mendengar Younji meraung seperti itu, dalam pelukan pria lain pula. Namun jika memang hanya Minho yang bisa menenangkannya, maka Onew akan memberikan ruang bagi Minho untuk menyembuhkan luka Younji sekecil-kecilnya.

Dengan tanpa suara, Onew keluar dari kamar inap. Dan tak satu pun dari Minho atau Younji menyadari keabsenannya yang justru memilih untuk duduk di tangga darurat. Ia menundukkan kepalanya dan airmatanya langsung menampakan diri. Emosinya campur aduk antara tangisan Younji, pemandangan yang ditunjukkan oleh matanya dan juga perasannya sendiri.

Ia pernah bersumpah tidak akan jatuh cinta lagi–pada siapa pun. Ia juga pernah meyakini dirinya untuk bertindak rasional tanpa melibatkan perasaan selama menjalani kehidupan bersama Younji. Tapi siapa yang bisa ia bohongi? Perasannya pada Younji justru semakin membesar tanpa ia kehendaki.

Tak mungkin bagi Onew untuk memberitahukan pada Younji mengenai perasaannya. Mengapa? Tidakkah pemandangan di dalam kamar inap tadi telah terlihat sangat jelas? Younji menyukai Minho, hanya pria itu. Lalu muncul pertanyaan lain, siapa—atau apa—Onew bagi Younji?

Apa yang bisa Onew lakukan sekarang? Bersikap biasa? Jelas ia tak bisa. Ia telah mencoba untuk bersikap biasa sejak awal, namun sulit. Apalagi setelah hari ini, Onew tak memiliki kepercayaan diri kalau ia bisa bersikap biasa tanpa merasakan apa pun.

Lalu, haruskah ia menghindar? Ya, mungkin itu jawabannya. Lagi-lagi hanya itu yang bisa ia lakukan, menghindar dari perasaannya sendiri dan membunuhnya secara perlahan. Onew pasti bisa, pasti. Ia pernah melakukannya sekali, dan ia akan berhasil untuk kedua kalinya.

***

Rumah itu masih terlihat sedemikian sama ketika Onew pertama kali menginjakkan kakinya di halaman sempit itu dulu dan sekarang. Namun ada yang berbeda, perasaannya.

Ketika itu, rumah ini hanyalah sebuah rumah kumuh biasa. Namun sekarang, rumah ini terlihat begitu mengerikan. Seperti ini jugakah Younji melihat rumahnya selama ini?

Onew telah berdiri beberapa menit di depan pintu, tak ada tanda-tanda akan ada orang yang membukanya padahal ia telah mengetuk cukup keras. Mungkin Tuan Han sedang tidak ada di rumah, tapi mungkin juga Tuan Han masih tak sadarkan diri. Mungkin juga Tuan Han sudah melarikan diri karena rasa bersalah. Tak ada yang tahu, dan tak ada salahnya untuk menunggu sedikit lebih lama.

Suara langkah kaki yang tak beraturan samar-samar terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka. Bau alkohol yang menyengat menyeruak saat sosok Tuan Han muncul. Ia terlihat begitu lusuh, tak terawat dan benar-benar menyedihkan.

“Siapa?” tanya Tuan Han sambil menggaruk-garuk bagian perutnya.

“Maaf. Tapi, apa boleh saya masuk sebentar? Ada hal penting yang tak bisa saya jelaskan sambil berdiri,” balas Onew mencoba agar tak terdengar angkuh.

Tuan Han memicingkan matanya. Terik matahari yang menyilaukan pandangannya terasa menusuk sat ia membuka kelopak matanya yang berat. Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, Tuan Han melangkah masuk, membiarkan pintu tetap terbuka sebagai isyarat bagi Onew untuk mengikutinya.

Jika bau alkohol yang dicium Onew ketika berada di pintu depan sudah mampu membuat isi perutnya jungkir balik, itu belum seberapa dibandingkan dengan aroma alkohol yang jauh lebih keras saat Onew menginjakkan kakinya ke dalam ruangan sempit yang dijadikan sebagai ruang tamu sekaligus ruang nonton.

“Siapa kau?” tanya Tuan Han lagi. Ia berbaring santai, menonton tayangan ulang pertandingan baseball semalam tanpa menoleh pada tamunya.

Jika bukan demi Younji, Onew tak akan datang ke tempat ini. Jika bukan demi Younji, sudah ia lampiaskan kekesalannya pada pria tak bertanggung jawab ini. Dan jika bukan demi Younji, sudah ia maki pria brengsek ini.

“Saya Onew, suami Younji,” tutur Onew akhirnya.

Perhatian Tuan Kim kini terarah penuh pada Onew. Ia buru-buru memperbaiki posisinya yang tak layak dan menatap Onew dengan mata terbelalak. Ia tahu bahwa Younji telah menikah meski ia tak diundang. Dan baru kali ini ia melihat langsung sosok pria yang telah membawa puterinya pergi dari rumah.

“Ada perlu apa?” tanya Tuan Han ketus.

“Hanya itu yang ingin anda tanyakan?”

Gigi Onew bergemeratak. Ia menahan amarahnya. Setelah kecelakaan semalam yang terjadi karena ia sebabkan, sekarang Tuan Han hanya bertanya ada perlu apa pada Onew? Luar biasa, bijak sekali pertanyaannya.

Saat melihat Tuan Han yang terlihat tak berniat menjawab pertanyaannya, Onew mengeluarkan sesuatu dari dalam saku blazer. Beberapa carik kertas cek diletakkan Onew di atas meja lalu disodorkan pada Tuan Han.

Ekspresi wajah pria tua itu berubah. Wajahnya yang mulai keriput semakin kentara saat ia mengernyit melihat nominal cek yang tak sedikit. Tangannya meraih cek itu, mengangkatnya hingga sejajar dengan garis mata dan menatapnya lekat-lekat.

“Apa maksudmu? Kau memberikan cek ini untukku karena kau menikahi Younji?”

“Tidak,” sergah Onew tanpa menunggu lebih lama. Jelas bukan itu alasannya. Mengapa ia harus memberikan cek pada Tuan Han karena ia menikahi Younji? Sebagai ucapan terima kasih karena telah membesarkan Younji? Tidak, demi apa pun alasan semacam itu tak akan pernah terpikirkan oleh Onew.

Ada alasan lain yang lebih rasional. Mengapa tidak ia katakan saja bahwa alasannya memberikan cek itu agar Tuan Han menghilang dari kehidupan Younji? Apakah alasan itu sering kalian temukan di dalam drama-drama yang kalian tonton? Jawabannya, pasti. Namun kasus ini berbeda. Bukan orangtua otoriter yang mengeluarkan cek dan mengusir pergi pemeran utama.

“Lalu untuk apa cek ini?” tanya Tuan Han sambil menggoyang-goyangkan cek di tangannya.

Sekali lagi, Onew mengeluarkan sesuatu dari dalam saku blazernya. Masih berupa lembaran kertas, bukan cek melainkan sebuah tiket penerbangan yang tertera nama lengkap Tuan Han.

“Maaf jika pernyataan saya terdengar tidak sopan. Tapi saya sungguh berharap anda bisa pergi dari Seoul—pergi dari kehidupan Younji.”

Ketegasan dan keyakinan terpancar jelas dari sorot mata Onew saat ia mengucapkan kata-kata itu. Ia berpikir semalaman dan merelakan waktu tidurnya yang memang tak bisa ia gunakan dengan baik. Mungkin ini yang terbaik. Younji juga tak membutuhkan Tuan Han, bukan? Lantas mengapa Onew tak membawa Tuan Han pergi dari kehidupan Younji untuk memulai kehidupan baru?

Baik Younji maupun Tuan Han bisa memulai dari awal. Jika memang Tuan Han bisa berubah, tentu hal itu akan menjadi berita yang menyenangkan. Namun Tuan Han tetap seperti sekarang ini, setidaknya ia berada jauh dari Younji dan tak bisa menyakitinya secara sengaja mau pun tidak.

“Lancang!” amuk Tuan Han seraya berdiri dan membanting tiket serta kertas cek bersamaan ke lantai yang kotor. “Apa kau pikir kau bisa mengusirku? Begitu saja? Asal kau tahu, aku adalah Ayah—“

“Tidak, anda bukan Ayahnya,” potong Onew. Ia menatap lurus ke dalam mata Tuan Han tanpa rasa takut sambil menenangkan dirinya sendiri. Sudah lama ia tak semarah ini dalam hidupnya kepada orang lain selain Tuan Kim.

Onew ikut berdiri. Ia tak perlu mendongak untuk menatap Tuan Han yang tingginya kurang lebih menyamainya. Ia masih terus memerhatikan mata merah pria itu, efek dari alkohol yang ia konsumsi semalam, duga Onew.

“Anda tak berhak mengakui diri anda sebagai seorang Ayah jika yang bisa anda lakukan hanyalah menyakiti Younji.” Onew terdiam sebentar, ia berharap ada sedikit penyesalan dari mata yang ia tatap. Namun ia tak bisa membaca apa pun dari tatapan yang angkuh dan menantang itu. “Apakah anda sadar akan akibat yang anda timbulkan dari perbuatan anda semalam?”

Tuan Han bergeming. Sorot matanya kini mulai berubah. Jika saja terkaan Onew benar, atau jika saja Onew tak berkhayal terlalu banyak, ia melihat sedikit penyesalan di sana.

“Apa yang terjadi padanya?” Terdengar getaran pelan pada kalimat awal yang dilontarkan Tuan Han.

“Dia kehilangan bayinya.”

Begitu selesai melontarkan kalimatnya, hati Onew kembali terasa perih. Tidak hanya mengasihani nyawa kecil tak berdosa yang kehilangan kesempatan untuk melihat dunia, tapi juga mengasihani perasaan yang harus ia kubur tanpa diketahui oleh siapa pun.

“Dia… dia hamil?”

Onew mengangguk lemah sebagai jawaban. Ia terus memerhatikan gerak-gerik Tuan Han, seolah sedang mencoba untuk membaca tanggapan beliau.

Tidak ada apa pun dalam tatapan Tuan Han selang beberapa menit berlalu. Onew nyaris yakin kalau roh Tuan Han telah meninggalkan raganya kalau saja ia tak menangkap sedikit pergerakan yang dilakukan oleh Tuan Han. Daripada disebut pergerakan, akan lebih tepat jika disebut getaran. Yah, tubuh Tuan Han bergetar.

Tuan Han membungkuk, mengambil kembali tiket beserta cek yang tadi ia campakkan dengan gagah berani. Kini Onew semakin yakin bahwa Tuan Han bergetar saat melihat ujung tiket yang bergoyang pelan di udara.

TO BE CONTINUE . . .

©2011 SF3SI, Yuyu.

Officially written by Yuyu, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

133 thoughts on “Married By Accident – Part 7

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s