[WFT B] Pyromonia [2.2]

Pyromania

Author             : Tofudubu

Main cast         : Lee Taemin, Lee Hyesoo

Support cast    : Lee Jinki, Kirana, Choi Minho

Lenght             : Twoshot

Genre              : Life

Rating                         : General/ PG-13

Summary             : “Ibu dan ayah sudah meninggalkan kita, mereka yang menginginkannya. Mereka yang membiarkan kita menderita dan menelantarkan kita. Tapi ingat Taemin ssi mereka tetap orang tua kita, aku yakin dibalik semua itu pasti ada alasan.”

A.N                  : Sebelumnya karena lagi bulan Ramadhan author mengucapkan Mohon Maaf Lahir Dan Batin J . Ini fanfic, fanfic pertama saya. Idenya udah lama, sebulan yang lalu juga udah mikir-mikir. Karena kesibukan mau daftar kuliah, ditambah lagi persiapan testnya. Author bener-bener ngebuat 4 hari sebelum tanggal 10.  Fanfic ini Author buat dengan sepenuh hati, serta penghayatan jiwa. Maafkan author kalau ada typo, Semoga semuanya suka J. COMMENT LIKE OXYGEN !!!! jadii kalau ada pertanyaan jangan segan-segan bertanya yaahh J .

cats

———————————————————————————————————————————————————————

 Kulihat lagi sekeliling , memang benar-benar  tidak ada orang sebaiknya aku bergegas pergi

Haaahhh!!! Hmmpph hmmphh , apa-apan ini, siapa orang ini?? Kenapa dia membekapku??

Author pov

“Heh?? Dimana ini??” Taemin terbangun sekujur tubuhnya terasa sangat sakit dan pegal.

“Hei ternyata kau sudah bangun??” Laki- laki berjas serta tinggi besar tampan sekali.

“Siapa kau, aku dimana?? Aku mau pulang!!” Dengan segera ia bangkit

“Hoho jangan terburu-buru, kau itu hanya pingsan dan diculik?? Hahahaha” katanya sambil tertawa

“Ha?? Sudah berapa lama aku pingsan??”

“Dua hari” jawabnya

Dua hari?? Bagaimana dengan hyesoo pasti dia sangat khawatir. batinnya

“Tolonglah sebenarnya kau itu siapa?? Apa maumu??”

Tanpa bicara ia berbisik dengan seseorang yang dari tadi hanya diam saja disebelahnya, “kau tunggu sebentar lagi bosku akan datang”

Segerombolan orang datang dari arah kirinya. Dilihatnya seorang anak kecil digendong diatas bahu seorang bodyguard, “siapa anak kecil itu??” Tanya Taemin

“Dia bos kami”

“Ha!! Hahaahahahah” tawanya terbahak bahak. “Bos kalian anak kecil tak masuk akal” mana mungkin orang-orang gagah ini bosnya sekecil itu (bayangin Daus Mini yaakk)

Ditempelengnya kepala Taemin, “Jangan ngomong sembarangan atau kau akan dibunuhnya”

“Glek!! Ok mulutku ini memang sangat beruntung!!” batin Taemin

“Kau Taemin??”

Aku mengangguk

“Sudah lama tidak bertemu, kau masih ingat aku??”

Aku menggeleng

“Tentu saja kau sudah tak ingat kejadian itu sudah lama sekali.  Sekarang kau sudah besar ya, tampan juga tapi takkan mengalahkan ketampananku ya kan??” Katanya sambil tertawa terbahak bahak suaranya yang cempreng penuh mengisi ruangan ini. Anehnya semua bodyguardnya tak menanggapi lawakannya yang garing -.-

“Langsung saja ya kita, aku punya sebuah misi untukmu. Misi ini hanya sekali jalan dan harus berhasil kau mau??”

“Apa maksudmu?? Aku tak mau, aku tak bisa, aku tak ahli, aku bukan seorang agen”

“Bawa betenang Taemin ssi, kau akan kuberi imbalan bagaimana??”

“Aku tak butuh imbalanmu!! Aku mau pulaaanngg aaarrgghh lepaskan lepaskan!!”

“Berisik sekali tembak kakinya!! “

Ckleekk duuarr!!! Suara itu mengisi penuh ruangan ini.

“Aaaggghhh !!”  Taemin mengerang darah langsung bercucuran dilantai sepertinya peluru ini hampir menyentuh tulangnya pasti sakit sekali.

“Bagaimana jika kau berkumpul kembali dengan orang tuamu?? Bagaimana??”

“Sialan kau orang tuaku sudah mati bangsat!!”

“Apa benar?? Bukankah kau dan adik kesayanganmu itu dibuang oleh orang tuamu?? Buka tirainya”

Ternyata kain gorden putih besar dihadapanku merupakan  pemisah antara dua ruangan. Kulihat dua orang lelaki dan perempuan terbaring dengan segala macam peralatan medis dan selang selang menempel sedemikian rupa. Mengerikan sekali, aku merasa mereka seperti manusia sintetis.

“Demi menyelamatkan kalian mereka rela mati huh!! Miris sekali”

Keringatnya semakin bercucuran, sekelebat bayangan bayangan saat orang tuanya meninggalkannya  dan Hyesoo semakin cepat.

Taemin pov

“Aarrrgghhh!! Kepalaku tiba tiba sakit sekali, kakiku juga berdenyut malah nyaris tak terasa, aku semakin memberontak berusaha melepaskan ikatan dikaki dan tanganku ini

Kutatap matanya tajam. “Katakan apa misimu”

“Hei hei tenang anak muda jangan terburu-buru. Kau mau melihat orang tuamu lebih dekat??”

Aku mengangguk

“Silahkan” katanya dengan suara cemprengnya itu.

Ikatanku dilepas, aku dipapah oleh bodyguarnya untuk sampai kesana. Ternyata ruangan ini pun dipisah dengan kaca bening yang sangat besar. Mereka terlihat sangat kurus sekali, kulit mereka juga tak bersih bercak hitam dimana-mana, mereka juga tak punya rambut, mereka botak kulit kepalanya terkelupas  hingga nampak kemerahan, seperti habis terbakar. Selang-selang itu benar-benar memapah hidup mereka. Kenapa orang tuaku menjadi seperti ini?? sakit apa mereka??

“Sudah?? Nostalgianya anak muda? “

Kulirik dia.” Katakan saja apa misimu??”

“Hei kau Choi Minho kemari cepat, jelaskan kepada anak ini apa yang harus dia lakukan. Sekarang ayo semuanya keluar aku muak disini, ruangan ini panas. Dan kalian berdua selamat menikmati waktu bersama byee~”  katanya sambil melemparkan senyuman menjijikkan weekksss

Aku hanya diam mukamu masam, menunjukkan raut muka tak senang.

“Perkenalkan namaku Choi Minho.”

“Aku tak perlu namamu, aku mau bertanya padamu. Bisakah kau jelaskan kenapa orang tuaku ada padanya.”

“Maksudmu??”

“Maksudku kenapa orang tuaku menjadi sakit dan bos kecil anehmu itu merawat mereka.”

“Apakah kau benar benar tak tau?”

Aku menggeleng

“Dia itu sebenarnya pamanmu”

“Mana mungkin aku punya keluarga cacat begitu??”

“Tapi memang begitu kenyataannya. Aku beri tau ya. Sebenarnya orang tumu itu tak membuang kalian. Sebenarnya mereka hanya menyembunyikan kalian sementara waktu. Paman kalian yang gila harta itu mengancam akan membunuh kalian. Karena mendengar rencana kakek kalian akan memberikan separuh harta warisan ke kau dan adikmu.”

“Apa benar?? Apa keluargaku sekaya itu?? Sampai harus berebutan segala”

“Iya benar, aku tak berbohong. Saat dia tau bahwa kalian disembunyikan oleh orang tua kalian, pamanmu itu menyuruh bodyguardnya untuk membunuh ayah ibumu, dengan cara membakar rumah kalian saat jam tidur. Dia menyaksikannya bahkan dengan tangannya sendiri dia melemparkan korek api ke siraman bensin.  Rencana itupun tak berhasil ayah ibumu dilarikan kerumah sakit oleh tetangga setempat. Yang berakhir mereka koma. Jadinya mereka diangkut pamanmu krumahnya dan mengatakan bahwa keberadaan mereka didunia ini pasti akan berguna.”

“Apa sebenarnya dia sakit jiwa?? Saat dia berbicara denganku dia seperti orang yang tidak waras”

“Bisa dibilang begitu, karena fisiknya pun tak normal kan?? Ditambah lagi setelah lamarannya ditolak seseorang yang sangat dia suka.”

“Ya iyalah mana ada perempuan yang mau menikah sama dia.”

“Hei jangan salah, dia sudah punya banyak istri 12?? 13?? Ah entahlah aku tak ingat, semua perempuan itu diimingi uang, saat bosku bosan dia tinggal membuang perempuan perempuan itu dengan sekoper uang.”

“Jadi apa misiku ini menbujuk perempuan itu agar mau menikah dengannya??”

”Hahaha itu ide bagus juga. Maukah kau membujuknya?? Tapi sayang bukan itu misinya. Kau disuruh membunuhnya karena dia sudah terlanjur benci dengan perempuan itu”

”Hhaaa!! Aku disuruh membunuh?? Yang benar saja. Kalau hanya seorang perempuan kenapa tidak kalian saja. Kenapa harus aku?? “

“Kalau tau mudah, kami sudah menghabisinya dari dulu. Tapi dimanapun, kapankun dia selalu didampingi seorang bodyguardnya. Ini mudah kok, yang kau bunuh itu teman sebangkumu kapanpun kau bisa membunuhnya”

“Hei membunuh itu tidak mudah??tunggu teman sebangkuku?? Apa itu kirana??”

“Iya kirana ssi, dan pengawalnya  itu Jinki”

“Hei kau ini bodoh atau apa, Jinki itu pacarnya bukan pengawalnya.”

“Kau yang bodoh, apa kau pernah lihat berpengangan tangan?? Atau melihat mereka berciuman??”

“Hheekk!! Hal seperti itu mana aku tau??”

“Coba kau lihat mereka tak terlihat seperti sepasang kekasih tetapi kacung dan tuan putri.”

Kupikir benar juga  kata orang ini, mereka memang tak pernah berpegang tangan, Jinki selalu membawa tas Kirana. Kalau diingat baik-baik. Jinki memang seperti kacungnya.

“Jadi gimana aku harus membunuhnya??”

 “Kau hanya menaruh bisa ular ini ini dimakanan atau diminumannya. Bisa ini, jka tertelan maka orang itu akan sesak napas dan seluruh syarafnya akan lumpuh tak sampai 2 menit orang itu akan mati. Gimana mudah kan??”

“Cuman seperti itu?? Mudah sekali” kataku meremehkan sambil  melipatkan kedua tanganku.

“Tapi ingat!! Bodyguardnya itu selalu bersamanya. Apapun yang dia makan maka bodyguardnya itu harus merasakannya terlebih dahulu. Kau harus berhasil, jika kau gagal maka orang tuamu akan pergi kesurga. Dan terakhir kau hanya diberi waktu 3 hari”

“Tenang saja aku pasti berhasil!!.”

Kirana pov

Ini hari kedua dia tak masuk sekolah, sebenarnya kemana anak itu?? Memang dia itu anak yang aneh. Untuk apa aku memikirkan dia?? Tak pernah aku sepenasaran ini terhadap orang lain, karena memang aku tak perlu memperhatikan orang lain. Didunia ini disekolah ini cukup Jinki saja orang yang aku kenal. Dengan adanya dia didunia ini sudah cukup  bagiku.

“Hei Jung  Sonsaengnim datang,” teriak anak yang lain.

Semua anak duduk dengan tertib. Hanya suara irama sepatu jung sonsaengnim yang terdengar. Setelah sampai di mejanya dia mulai mengabsen semua anak menyahut saat dipanggil. Saat tiba giliran nama taemin

“Lee taemin, Lee taemin.”  Tak ada yang menyahut. “Dia tidak hadir sonsaengnim” jawabku

“Kamu tau dia kemana Kirana?? “

“Mana saya tau sonsaengnim, dia bukan saudara saya sonsaengnim”

“Kalau begitu Hye soo kamu tau Taemin dimana??”

Semua mata murid menatap Hyesoo. Mana mungkin Hye soo tau, dia kan bukan siapa-siapa Taemin.

“Dia sakit” sonsaengnim

Heh!! Tau darimana dia?? Aku saja teman sebangkunya tidak tau apa dia mengarang?? Dikelas ini bertambah lagi orang aneh.

“Kalian sudah membuat tugas yang kemarin saya kasih??”

“Sudah sonsaengnim” semua anak menjawab

“Aduh bagaimana ini,aku lupa gara-gara semalam keenakan nonton high school musical nih!”

Kulihat jinki untuk meminta pertolongan. Dia melambaikan sebuah buku padaku lalu mengopernya untuk sampai padaku. Haaahh selamat hidupku kali ini. Setelah buku sampai dengan selamat dimejaku, langsung kukirim sebuah surat untuknya.

“Terima kasih jinki yaa nanti aku beri hadiah deh :* ”

Hahahaha berlebihan, biar saja yang penting aku selamat.

Jinki pov

Sebuah surat sampai kepadaku apa ini??

“terima kasih jinki yaa nanti aku beri hadiah deh :*”

Hissh menggelikan sekali emoticonnya.

“Hayoo dikirimin surat cinta dari pacarnya,cie cie” Tiba-tiba suara hye soo mengejutkanku

“Apa apaan sih, tak sopan ya melihat privasi orang lain.” Jawabku ketus

“Iya iya maaf deh”

“Sudahlah ayo cepat kumpul tugasnya, kau buat tugas tidak??”

“Ya buatlah, walaupun begini aku masih rajin membuat peer”

“Terserahlah” jawabku malas

+++

Jinki pov

                Melepas penat sambil berjalan di sekitar seoul boleh juga. Mumpung sedang tidak bersama kirana aku bisa makan dimanapun aku suka, aku selalu mengalah jika bersama dia, cerewet sekali masalah restoran selalu memilih restoran yang mahal. Bukannya pelit tooh dia membayar makanannya bahkan membayar makananku. Tapi masakannya itu sungguh tak cocok dilidahku selalu saja mengikuti gaya orang Amerika. Kuputar mobilku memasuki kawasan Insa- dong. Hari sudah sangat larut, semua toko rata-rata tutup tapi aku tau toko yang buka 24 jam disini. Selain makanannya cukup murah, rasanya tak usah diragukan seperti di restoran hotel bintang lima.

“Ahjumma annyong haseyo”

“Aaiiigggoo jinki sudah lama kau tidak kemari kemana saja??”

“Tidak kemana mana ahjumma hanya sedang sibuk saja”

“Hoo iya iya, katanya sambil mengangguk  “kenapa hanya sendirian kenapa tidak bersama pacarmu?? “

“Ha! Hmm” jawabku sambil menggaruk kepala.” Tidak ahjumma ini sudah sangat larut orang tuanya pasti tidak mengizinkan”

“Begitu yaa, ya sudah kau mau pesan apa??”

“Seperti biasa ahjumma”

                Kulihat sekeliling,  masih sama furniturenya bahwa aroma restorannya tak berubah. Sudah hampir  setengah tahun aku tidak kemari dikarenakan aku harus mengikuti Kirana ke paris. Hanya saja ada sedikit yang berubah dari restoran in yaitu para pelayan dihiasi dengan wajah baru.

“Tuan ini pesanan anda”

“Ah ya letakkan saja, kataku tak menoleh,” tunggu sebentar”  kataku bermaksud memberi uang tip

“Haa!! Jinki ssi”

 “Hahh! Hyesoo ssi, apa yang kau lakukan disini??”

“Yang aku lakukan disini?? Ya bekerjalah, kau tak lihat aku memakai seragam waittress. Dan kau, apa yang kau lakukan disini? “

“Aku? Makan, ini restoran langgananku”

“Chogiyo nona kami mau memesan”

“Iya tunggu sebentar. Jinki ssi aku pergi dulu nanti kita sambung lagi”

Aku hanya mengangguk

Hye soo pov

Sedang apa jinki disini, kan masih ada restoran  yang lebih mewah dan lebih enak makanannya kenapa musti disini. Dia bisa ngebongkar identitas aku nih. Kulihat tempat duduk yang tadi. Ya ampun dia sedang mengobrol dengan bosku. Ya Tuhan mudah-mudahan dia tidak berbicara yang aneh aneh. Sebentar lagi jam 2 tepat. Aku harus berkemas agar cepat pulang.

“Ahjumma saya pamit pulang dulu” kataku scepat mungkin tak berani menatap wajah Jinki

“Aahh iya, semua piring sudah bersih??”

“Sudah ahjumma semua meja juga sudah bersih”

“Bagus, ya sudah pulanglah hati-hati Hyesoo”

“Baik ahjumma” kataku sambil menbungkuk

“Kalau begitu saya pulang juga ahjumma,” kudengar Jinki pamit,kulirik di sudah berdiri.

“Oohh iya hati hati dijalan jinki ssi, kapan kapan datang lagi ya”

“Ssiipp ahjumma annyeonghi gaseyo”

“Nee hati hati dijalan” katanya sekali lagi

Kubuka pintu restoran perlahan, sengaja kulakukan aku harus berbicara dengannya malam ini juga. Kulihat dia sudah membuka pintu restoran, dengan segara aku bangkit

“Hyesoo kenapa kau berdiri disini”

“Aku mau membicarakan sesuatu denganmu boleh tidak??”

“Tentu saja ada apa”

“Kita berbicara tempat lain saja”

“Kenapa tidak disini saja”

“Tidak bisa ini rahasia, ini menyangkut hidup matiku”

 “Yang benar saja?? Ya sudah, dimana kita bicara??”

“Ayo ikut aku” perintahku sambil menggandeng tangannya

Disinilah kami duduk berdua di halte bus. Ini sudah hampir subuh tentu saja sepi karena tidak akan ada bus lagi yang melintas.

“Kau mau bicara apa??”

“Begini Jinki ssi kau sepertinya sangat mengenal bosku itu, kau bicara apa saja dengannya tadi??”

“Jadi kau mengajakku kesini hanya untuk menanyakan itu??”

“Tidak tidak, jangan emosi dulu. To the point saja, jangan ceritakan apapun tentangku kepada bosku tolong ya~” kataku sambil memasang muka memelas

“Memangnya ada apa??”

“Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini, aku tak ingin dipecat”

“Memangnya kau berbohong apa?? “

“Hmm aku mengatakan bahwa aku sudah kuliah, bukan anak SMA lagi. Aku hanya bisa bekerja disini karena tidak mengganggu jam sekolah. Tolong ya pleasee aku memohon.” Kali ini aku benar benar memasang muka memelas

“Gimana ya?? Tapi okelah. Tapi kapan-kapan kalau aku minta tolong kau harus mau ya!”

“Ha!! Serius?? AAAAAA!!!! Gomawoyo, thank you Jinki ssi , kau emang imut deh hahahahaha” kataku sambil  meloncat riang dan tertawa terbahak bahak, tak kusangka akan semudah ini. ”Kalau begitu aku pulang dulu ya sampai bertemu disekolah bye~” kataku sambil berlari menjauh

“Kau tak mau kuantar.” Samar-samar suara Jinki masih terdengar

“Tak perlu, rumahku dekat kok” jawabku sambil berteriak

Terakhir yang kulihat hanya senyumnya yang mengembang.

+++

Hyesoo pov

Kemana taemin?? Kenapa sudah dua hari ini dia tak pulang. Sebenarnya dia sudah biasa seperti ini, tanpa kabar dia pergi. Tapi perasaanku tak tentu arah aku merasa ada sesuatu yang salah. Entahlah mungkin aku saja yang berlebihan

Kulihat pintu kamarnya terbuka,” Taemin ssi Taemin ssi” panggilku tak ada sahutan bergegas saja aku langsung kekamar badanku sudah berteriak minta diistirahatkan.

Baru saja kubuka pintu kamar kudengar suara ketukan pintu dari arah depan.

“Tok tok tok”

“Hye soo, Hye soo” suara serak serak terdengar. Hiiiyyy siapa subuh subuh begini bertamu batinku.

Kuberanikan diri mengintip dari balik tirai, karena lampu remang-remang aku tak dapat melihat sosok itu dengan jelas. Kupicingkan mataku.

“Hah! Taemin ssi,” kubuka pintu rumah

“Taemin kenapa kau pulang jam segini?? Kau dari mana saja”

“Sudahlah Hye soo aku mau tidur”. Taemin masuk kedalam rumahnya jalannya pun terpincang pincang

“Kau! Kenapa kakimu”

Taemin duduk disofa sambil mengerang lau menyingkap celananya. “Hye soo tolong, ini sakit sekali.”

“Ya ampun, kenapa dengan kakimu.” Kulihat kaki Taemin berlubang  sebagian besar sudah kering, tetapi masih ada darah yang basah di dalam lubang tersebut hiiyyy seperti daging busuk.

Author pov

Hyesoo  terburu megambil peralatan obat. Tapi tak ada satupun yang berguna semuanya hanya obat-obatan ringan seperti untuk demam dan sakit kepala. Dicarinya sekali lagi berharap menemukan kasa dan alkohol. Segera dia berlari menuju ruang tamu.

“Nah ini dia aku menemukannya”

“Hyesoo didalam sana ada peluru tolong ambilkan”

“aku bersihkan dulu lukamu”sambil berhati hati. Dalam hati Hyesoo bertanya , bagaimana caranya mengeluarkan peluru ini. Mau ke klinik tapi mana ada yang buka. Kalau tak ditangani sekarang Hyesoo yesooHHHHHHHHHHH takut kaki Taemin semakin parah nantinya.

Hye soo  berdiri dan menuju kekamarnya, diambilnya pisau lipat kecil yang tersimpan rapi dilaci mungilnya

“Hye soo cepatlah” teriak Taemin

“Iyaaa tunggulah sebentar”

Diikatnya kaki Taemin, pisau lipat itu di bersihkan dengan alkohol, kaki Taemin pun dia siram dengan alkohol

“Aarrrggghhh” erang Taemin tangannya mencengkeram bahu Hyesoo

“Sabarlah Taemin”

Disayatnya betis mulusTaemin agar memudahkan Hyesoo mencongkel  peluru tersebut.

“Aaarrrgghhh” erangan Taemin semakin kuat, kini Taemin benar-benar merasa akan pingsan. Darah menetes-netes ke karpet. “ Perih, cepatlah Hyesoo” keluh Taemin

“Iya tunggu ini juga pelan-pelan, aku tak mau kau infeksi”

Akhirnya Hyesoo berhasil mengeluarkan peluru itu.

“huuhh~ sudah!! sekarang tinggal kuperban kakimu. Sebenarnya kau ini kenapa?? Kau merampok atau mencuri?? Kenapa kau ditembak”

“aku lelah besok saja aku ceritakan”

Dirangkulnya Taemin menuju kamarnya. Didudukkan  Taemin di depan meja belajarnya.” Aku mau membersihkan karpet kau langsung saja tidur”. Kata Hyesso sambil menutup pintu, Taemin tak menyahut hanya diam.

“Hye soo tunggu dulu”

“Hmm ada apa??”

“Bisakah kau berhenti memanggilku Taemin ssi?? Aku ini oppamu berhentilah memanggilku seperti itu!!”

Hye soo pov

Aku terdiam terkejut kenapa tiba tiba dia menyinggung hal aneh?? dia menginginkan aku memanggilnya oppa??

“Aku~ kau yang memintaku memanggil dengan panggilan formal ingat??” Kataku lembut “Kau pasti lapar sampai ngomong ngawur gitu, aku ambilkan makanan dan tidurlah setelah itu”

“Tidak!! Aku tak lapar!!” Kemarilah panggilnya

Aku mendatanginya,

“Hye soo bisakah kau pegang kedua pipiku?? Wajahmu sangat mirip dengan ibu. Tapi sekalipun kau tak pernah menyentuhku” pintanya

 “Huuuffttt hahahahaha !!! Taemin ssi kau itu oppaku tapi kenapa kau kekanakan sekali”  tanyaku sambil tertawa. ”Kasihan sekali kau oppa, baiklah” kataku aku pun mendekatinya dan kesentuh kedua pipinya dari belakang. Dia memang dingin dan cuek tetapi aku sangat tau hatinya sangaaatt rapuh.

Kurasa air matanya menetes awalnya saatu, tapi tak lama semakin deras bahkan badannya ikut bergetar. Seketika itu pula tubuhkupun menegang   tak terasa air matakupun ikut mengalir.

Taemin POV

Tubuhku menegang dan bergetar, air mataku menetes  ”kau tahu?? tanganmu hangat sekali seperti tangan ibu,” air mataku semakin  deras. Kepegang tangan adikku agar ia tak melepaskannya kudengar dia benar-benar terisak. Kuputar kursiku, kulihat ia benar benar menangis.

 “mengapa kau menangis??” Tanyanya

“Aku sangat rindu ibu, sangaaaat rindu” jawabku sambil kuusap air matanya.

Kupeluk dia, kulingkarkan tanganku dipinggangnya, diapun mengusap kepalaku persis ibu.

“Apapun yang terjadi aku takkan meninggalkan kamu, kamu itu oppaku jangan menangis, shhuuttt jangan menangis” seraya menepuk punggungku.

“Ibu dan ayah sudah meninggalkan kita, mereka yang menginginkannya. Mereka yang membiarkan kita menderita dan menelantarkan kita. Tapi ingat Taemin ssi mereka tetap orang tua kita, aku yakin dibalik semua itu pasti ada alasan.”

Aku hanya diam mencerna perkataanya. Semua yang dia katakan benar, ayah dan ibu meninggalkan kita dengan sebuah alasan.

“Sekarang berbaringlah, kau ingin susu coklat panas??” Tanyanya.

“Iyaa aku mau susu coklat panas” jawabku  sambil mengusap sisa air mataku.

++++++

Hye soo pov

Oppaku, tak pernah  kulihat ia menangis sederas itu, terakhir kali kulihat ia menangis saat kakiku patah karena terperosok ke jurang.  Dirumah sakit dia memarahiku sambil menangis terisak-isak hahahaha lucu sekali. Kubuatkan suu coklat panas sambil kucampurkan obat tidur didalamnya.

Kubuka pintu kamarnya kulihat ia menerawang kosong ke langi-langit.

“Oppa ini susunya minumlah” tawarku, sambil duduk ditepi tempat tidurnya

“Heehh panas, tapi gomawo hehe” cengirnya

“Minumlah pelan-pelan, sudah ya aku mau tidur sudah malam byee” kataku

“Hheehh chakkaman, kamu tidur sama aku ya malam ini, sudah lama kita tidak berbincang sambil mau tidur mau ya mau ya”

“Gleekk apa!! Heii kau ini benar benar kekanakan sekali??” Omelku sambil menekankan setiap perkataanku. “ Hmm tapii baiklah, cukup malam ini saja.”

Kami pun berbaring berdampingan lalu berhadapan. Wajah kami hanya berjarak sejengkal saja. Kutarik selimut sampai kebahunya. Kamipun tersenyum sambi mengucapkan “Selamat Tidur.” kutepuk punggungya seperti menidurkan seorang bayi. Suaranya napasku terdengar teratur. Setelah   itu semuanya gelap. Dan akupun sudah masuk kelam mimpi.

Taemin pov

Hyye soo sudah tidur, kasihan sekali adikku ini. Bekerja hingga larut malam. Untuk apa sebenarnya kami mempertahankan hidup didunia. Ibu dan ayah juga pasti meninggalkan kami. Membunuh orang lain aku tak sanggup. Memikirkannya saja aku tak mampu, lebih baik kami meninggalkan dunia ini saja.

Kuturun dan melangkah kedapur, ku buka penutup gas, agar gas nya keluar. Lalu kuambil sebotol bensin yang biasa digunakan untuk mengisi genset. Hye soo selalu membelinya untuk persediaan. Kubawa kedua barang itu sampai kekamar. Gas kuletakkan didepan pintu kamar, kukunci seluruh jendela dikamar dan tak lupa pula pintunya.

“Maafkan aku Hyesoo,  ini demi kebaikan kita. Tak perlu hidup lebih lama lagi, cukup sampai disini saja ya penderitaan kita.”  Kukatakan itu sambil meyiramkann bensin itu di sekeliling kamar dan kusiram sampai tempat tidur.

Korek api yang sedari tadiku persiapkan, kuhidupkan lalu kelemparkan keatas tempat tidur. Api langsung membakar kain tempat tidur sampai mengenai pakaian adikku.

“Taemin !! Taemin!! Apii apii, aaaahhhh aku terbakar Taemin tolooong tolooong” suaranya mengisyaratkan sakit yang luar biasa.

Aku menjauh hanya berdiri sambil memandanginya yang berusaha meminta pertolongan. Hati keciku  berteriak mengatakan “cepat selamatkan dia” tapi seluruh tubuhku kaku. Hanya pandangan kosong saja yang kuberikan kepadanya.

“Oppa oppa tolonglah” kulihat raut wajahnya memohon, air matanya namapk jelas dibalik bayangan api. Diapun memenuhi keinginanku agar memanggilku ‘oppa’. Dia berguling-guling disekeliling kamar hingga api mengenai siraman bensin yang aku tebarkan.

Tak lama berselang, kamar ini sudah penuh dengan api. Asap sudah dimana-mana membuatku sesak napas. Tapi begini lebih baik pikiranku tenang dan rileks. Biarkan semuanya habis menjadi abu. Selamat tinggal semuanya.

DDUUUUAARRRRR !!!!!!

FINISH

P.S.      :Pyromania adalah sejenis mania di mana muncul dorongan kuat untuk sengaja menyulut api untuk meredakan ketegangan dan biasanya menimbulkan perasaan lega atau puas setelah melakukannya. Penderita pyromania (atau biasa disebut pyromaniak) berbeda dengan para pembakar gedung (arson), pyromaniak juga berbeda dengan mereka yang menyulut api akibat psikosis, demi kepentingan pribadi, moneter, maupun politik, atau sebagai tindakan balas dendam. Pyromaniak menyulut api demi merangsang euforia, dan sering kali tertarik pada hal-hal yang berkaitan dengan pengendalian api, seperti pemadam kebakaran.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

6 thoughts on “[WFT B] Pyromonia [2.2]

  1. Yg pyromania Taem ya?

    Endingnya ga ketebak, ceritanya emang keren…

    Btw menuruku alurnya kecepetan juga tanda bac kurang diperhatikan. Penggunaan huruf kapital maih ada yg salah, sedikit. Juga banyak typo…

    Keep writing yaa😉

  2. poor Taem… hiks.. sedih… kirain dia bakal bakar pamannya, ga taunya malah bunuh diri bgitu.. hihihi.. khan masih punya banyak harta taem, mending pamanmu ajah yang dibunuh *eh?? heheheheh…

  3. Ending yang sangat tidak terduga, artinya secara tidak langsung TaeMin itu Pyromania.
    Kasihan sekali nasib mereka, orang tua yang disiksa oleh paman sendiri. TaeMin yang ternyata Pyromania.
    Tidak ada yang tersisa, kasihan pengorbanan yang telah dilakukan kedua orang tuanya.
    (˘̩̩̩⌣˘̩̩̩)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s