I’m Not Him – Part 7 (END)

imnothim

Title : I’m Not Him Part 7-end

Author : AltRiseSilver

Cast : Kim Kibum Shinee, Ahn Min Hye, Shinee’s member

Genre : Romance, Sad

Rating : PG17

“Bagaimana kabar soal Jonghyun dan yang lainnya?” itu pertanyaan pertama yang aku lontarkan pada Taemin, Minho dan Jinki saat mereka datang menjengukku hari ini. Sudah hampir seminggu aku terkurung didalam kamar inap ini dan disuguhi makanan yang tak pernah kusuka.

Min Hye sebenarnya sering membawakan makanan dari luar rumah sakit namun aku tetap ingin cepat-cepat keluar dari rumah sakit ini.

“Seperti yang terdengar, polisi berhasil menangkap mereka dan kembali memasukkan  mereka kedalam penjara dengan tuduhan penculikan, membuat onar dan hampir menghilangkan nyawa manusia,” sahut Minho.

“Berapa lama masa tahanannya?” timpal Jinki tiba-tiba.

Minho mengangkat bahunya, “Tidak tahu pasti, sidang belum berjalan. Mereka menunggu keadaan Kibum pulih,” jawabnya sambil memandangku.

Aku mendesis, “Aku benci pengadilan,” sahutku gamang lalu beranjak dari tempat tidur menuju jendela. Sebentar lagi akan memasuki musim dingin, aku tak ingin melewati hujan salju hari pertama di dalam kamar ini ataupun di pengadilan.

“Bagaimana Min Hye?” pertanyaan dari Jinki membuatku menoleh.

“Entahlah, kenyataan soal Key tak mungkin aku sembunyikan selamanya,” sahutku.

“Tapi kau mencintai Min Hye kan?” tebak Minho yang diikuti anggukan kepala Taemin dan Jinki. Aku diam, tak berani menjawab pertanyaan Minho. Kembali kupandangi suasana di luar jendela kamarku dan menebak-nebak sendiri isi hatiku pada Min Hye.

**

Aku masih memandang wajah Min Hye dengan intens. Luka-luka halus yang sempat sedikit merusak wajah halusnya perlahan mulai menghilang dan memudar. Matanya menunjukkan keguncangan di batinnya yang sempat terjadi karena kelalaianku.

Ada sebuah rasa bersalah dalam diriku ketika melihatnya pertama kali saat bangun dari komaku. Dia begitu lelah, kesehatannya belum stabil tapi ia setia menemaniku seperti saat ini. “Kau lelah?” tanyaku memecahkan keheningan diantara kami.

Min Hye mengangkat wajahnya lalu tersenyum, “Tidak Oppa,” jawabnya lembut lalu kembali mengupas apel.

“Benarkah? Sedikitpun tidak merasa lelah?” tanyaku mencoba mencari keyakinan. Min Hye kembali mengangkat wajahnya lalu mengangguk.

“Kau juga seharusnya beristirahat dirumah,” tanganku meraih sebuah apel yang sudah ia kupas dan potong masuk kedalam mulutku.

Min Hye melatakkan pisau dan beberapa potong apel diatas piring lalu memandangiku. “Apa istirahatku akan tenang jika kau masih terbaring sakit disini?”

Aku terdiam, tatapannya begitu tulus. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada mata itu saat aku mengatakan semua rahasia tentang keberadaan Key. Kugenggam tangan Min Hye yang berpangku diatas kakinya.

“Minnie-ya, jika seandainya malam itu aku meninggalkanmu. Apa yang akan terjadi padamu?” tanyaku tiba-tiba membuat gadis itu tersentak. Aku tahu ini berat bagiku untuk mengetahui perasaan Min Hye yang sebenarnya tapi ini juga untuk kebaikanku agar aku siap jika aku harus melepaskannya saat ia tidak menerimaku.

Kulihat Min Hye menundukkan kepalanya dan terdiam sementara aku masih menunggu jawaban keluar dari bibirnya. “Min Hye katakanlah,” jawabku tak sabar.

Gadis itu mengangkat kepalanya perlahan. “Aku yakin kau tak akan pernah meninggalkanku Oppa. Kau sudah berjanji dan aku tahu kau tak akan pernah mengingkarinya,” jawaban Min Hye membuatku terdiam. Key pasti pernah berjanji seperti itu pada Min Hye.

“Kalau aku mengingkarinya?”

Min Hye tersenyum jahil lalu menjawil hidungku. “Tak akan kubiarkan kau selamat dalam hidupmu,” ujarnya sambil terkekeh dan mau tak mau aku ikut menyunggingkan senyum melihat keceriaannya.

Tanpa kusadari aku menariknya kedalam pelukanku dan membelai rambutnya. “Oppa,” terdengar suaranya manja di pelukanku. “Apapun yang terjadi. Jangan meninggalkanku, jangan sekalipun,” pintaku padanya.

Sejenak Min Hye terdiam kemudian menganggukkan kepalanya.

**

3 bulan berlalu begitu cepat tanpa kusadari. Sidang demi sidang kulalui bersama Min Hye, gadis itu rela pulang pergi Mokpo – Seoul demi mengikuti sidang. Aku sudah melarangnya namun gadis itu bersikeras untuk datang dengan alasan dia ingin melihat Jonghyun dipenjara dengan kesaksiannya sendiri.

“Kau lelah?” tanyaku padanya saat menemaninya menuju terminal bis untuk kembali ke Seoul. Ada raut wajah lelah di matanya namun ia tetap memaksakan untuk tersenyum.

Aniyo Oppa, aku justru senang Jonghyun sekarang sudah menerima hukumannya,” ucapnya sambil memeluk kencang tubuhku. Mau tak mau kusunggingkan senyumanku mendapatkan perlakuan manjanya.

Pada awalnya aku tak pernah menyukai sifat manja Min Hye namun sejak kejadian di rumah sakit waktu itu aku benar-benar menyukai sifatnya yang lembut.

Kuhentikan laju motorku saat sampai di terminal. “Aku tidak mau pulang,” rengeknya di bahuku.

Aku tersenyum simpul lalu mengusap kepalanya lembut. “Pulanglah, kau harus beristirahat,” aku melirik kearahnya dan menempelkan keningku pada puncak kepalanya. “Pulang,” bisikku lagi di telinganya membuatnya tertawa geli.

“Iya aku pulang,” ujarnya akhirnya sebelum turun dari motorku. “Tidak usah menunggu, aku sudah hapal dimana busnya,” ucapnya lagi saat aku bersiap untuk memarkir motorku. “Kau yakin?” tanyaku.

Min Hye mengangguk meyakinkan. “Oppa pulanglah, akan aku hubungi setelah aku sampai dirumah,” ucapnya lagi.

Aku mengusap kepalanya lagi lalu mengangguk. “Hati-hati,” sahutku lalu membiarkan dia berlalu dihadapanku dan menghilang didalam bus yang akan membawanya kembali.

Merasa keadaan Min Hye sudah aman, aku kembali menyalakan motorku dan kembali kerumah. Aku lelah, hari ini sidang terakhir yang kujalani. Setelah ini Jonghyun akan mengalami masa hukuman terberatnya. 13 tahun penjara, bagiku itu sudah cukup tapi menurut Min Hye dia belum puas dengan masa hukuman Jonghyun.

Aku menghela nafasku panjang, bukan karena lelah atau masalah Jonghyun tapi masalah Key. Hingga detik ini aku tak berani menyampaikan apapun pada Min Hye. Aku terlalu takut. Aku takut melihatnya menangis, aku takut dia marah dan terlebih lagi aku takut dia meninggalkanku.

Pikiranku terus melayang entah kemana sepanjang perjalanan pulang dan baru sampai saat menyadari aku tengah berada didepan rumah halmeoni. Kubawa masuk motorku lalu melepas helm diatas meja dan berjalan gontai menuju kamarku.

Langkahku untuk menuju tempat tidurku dan menghempaskannya disana terhenti diambang pintu ketika melihat sosok ayah duduk disana sambil memandang semua medali yang aku miliki. Mendengar suara pintu terbuka ia menoleh dan tersenyum padaku.

Appa,” gumamku seraya berjalan masuk kedalam kamar, mendekatinya dan duduk disampingnya. Aku melihat raut bahagia dari wajahnya yang tersenyum ketika memandangku tadi, berbanding terbalik denganku terkejut dan tak menyangka kehadirannya didalam kamarku.

“Kibum anakku,” ucapnya memulai. Aku tersentak, mendengarnya memanggil namaku membuat lidahku tercekat tak tahu harus menjawab apa. Selanjutnya tangan ayah menepuk pundakku lalu mengelus kepalaku.

“Aku menyesal bersikap kasar padamu selama ini,” ucapannya berlanjut diikuti helaan nafas berat. “Apa kau masih marah karena sikapku?” tanyanya sambil memandang wajahku. Aku tak sanggup menjawabnya, sama sekali tak ada suara yang aku keluarkan.

Kulihat ia lagi-lagi tersenyum dan menatapku. “Aku tahu, maafkan aku Kibum. Aku membuangmu, tidak pernah merawatmu lalu tiba-tiba membawamu kembali untuk menggantikan posisi Key. Aku harusnya meminta maaf sejak awal dan membawamu kembali sejak dulu namun aku tak mampu melakukannya. Aku terlalu gengsi,” kalimatnya terhenti. Sejenak ia mengambil nafas sebelum melanjutkan.

“Aku terlalu mempertahankan rasa maluku padamu hingga aku baru memberanikan diri mengucapkannya sekarang. Saat kejadian di Jeju tempo hari, aku takut kehilanganmu, aku bahkan tidak masuk kekantor untuk menjagamu dan ibumu disana. Cukup Key yang meninggalkan kami, aku tidak mau kau menyusulnya,” kalimatnya berhenti.

Benar-benar berhenti tanpa melanjutkannya. Kepalanya tertunduk, setitik air terlihat jatuh dari kedua bola matanya. Aku memberanikan diri memegang tangannya yang mulai mengeriput. “Aku minta maaf Kibum. Aku minta maaf,” lirihnya mulai terisak.

“Jangan berkata seperti itu lagi. Aku juga sudah memaafkanmu,” timpalku.

Kulihat kepala ayah terangkat menatapku. “Benarkah kau sudah memaafkanku?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Yah lagipula sikapku juga tidak baik selama ini padamu,” akuku sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal sambil mencoba tersenyum padanya. Terlihat senyum ayah kembali terkembang diwajahnya lalu ditariknya tubuhku kedalam pelukannya.

“Kau anakku yang paling hebat Kibum,” gumamnya ditelingaku membuatku tersenyum dan membalas pelukannya yang semakin erat. Bisa kurasakan rasa kebahagiaan mengalir dari pelukannya. Perlahan semua masalahku rontok satu persatu membuatku bisa bergerak bebas seperti dulu.

Namun hal tentang Key dan Min Hye kembali menggangguku. Kulonggarkan pelukan ayah dan memandangnya. “Aku mungkin harus mengatakan yang terjadi tentang Key pada Min Hye. Aku tidak mungkin terus-terusan memakai nama Key,” ucapku.

Kepala ayah terangguk menyetujui perkataanku. “Apa kau mencintainya?” pertanyaan ayah membuatku kaget. Astaga apa begitu terlihat di wajahku?

“T-Tidak,” jawabku gugup.

Tawa renyah ayah pecah, sambil menepuk pundakku dan beranjak ia berkata, “Lakukanlah yang terbaik untuk kehidupan cintamu sendiri, anakku.”

Ucapan ayah sebelum beranjak dari kamarku membuatku bingung. Ah! Menyebalkan sekali, sebenarnya apa yang harus aku lakukan pada Min Hye!

**

Pagi yang cerah saat aku kembali dari Mokpo berubah drastis ketika Min Hye menangis ditengah pemakaman dihadapan makam Key. Aku terdiam, mengepalkan kedua tanganku di kedua sisi tubuhku melihat tubuh Min Hye bergetar tanpa bisa kutenangkan.

Setengah jam yang lalu, kujemput Min Hye dari rumahnya dan memberitahunya bahwa aku akan membawanya ke tempat yang menurutnya tenang tapi entah kenapa, laju mobilku membawanya ke pemakaman Key.

Min Hye menatapku bingung saat melihat nama yang tertera di batu nisan dihadapannya. Aku terdiam sesaat melihatnya menatapku dengan tatapan bingung.

“Aku bukan Key,” ucapku memulai.

“Namaku Kim Kibum, saudara kembar Kim Keybum” lanjutku dengan suara bergetar saat melihat ekspresinya yang berubah.

“Kau mencoba mengerjaiku?” tanyanya dengan nada getir namun berusaha mempertahankan senyuman di wajahnya. Kepalaku menggeleng lemah.

“Key meninggal tepat sehari sebelum kedatanganmu. Tepat setelah ia mengambil hadiahnya untukmu,” ceritaku sambil mengambil kalung yang akan Key berikan pada Min Hye ketika itu dan menyerahkan padanya.

Min Hye meraih kalung tersebut dengan bibir gemetar. “Maaf aku tidak menceritakan semuanya padamu sejak awal. Kedua orangtuaku—“

“Cukup,” Min Hye menghentikan kalimatku. Terlihat ia begitu terpukul menerima kenyataan yang terjadi. Ditatapnya nisan Key dan langsung terjatuh berlutut disamping pusara. Airmatanya mulai mengalir tak henti-hentinya.

Ia menggenggam erat kalung pemberian Key ditangannya. Aku hendak menyentuh pundaknya dan menenangkannya namun ia keburu berdiri dan memintaku mengantarkannya pulang.

“Sekarang?” tanyaku seakan aku tak mau berpisah dengannya.

Min Hye mengangguk dan dengan terpaksa aku kembali mengantarkannya pulang. Sepanjang perjalanan Min Hye terdiam, beberapa kali ia mempertahankan suaranya agar tidak terdengar terisak olehku.

Aku mencoba menggenggam tangannya. “Ulljima,” gumamku padanya namun gadis itu tetap terisak tanpa memperdulikanku.

“Kenapa?” akhirnya dia bersuara namun bukan kalimat itu yang ingin aku dengar sekarang ini. “Kenapa kau menyembunyikannya dariku?!” suaranya terdengar berteriak. Kuhentikan mobilku di pinggir dan menoleh kearahnya.

“Bukan aku yang menginginkan ini semua tapi kedua orangtuaku,” jawabku.

“Orangtua Key Oppa,” gumam Min Hye seakan meralat ucapanku. Emosiku tersulut mendengar ucapannya. “Mereka juga orangtuaku!” bentakku kemudian.

Min Hye beringsut memandangiku, wajahnya basah oleh airmatanya sendiri. Tatapannya menusuk hatiku, menyorotkan perasaan tidak suka yang merajai hatinya. Aku mencoba merubah air mukaku namun terlambat, ia segera keluar dari mobil dan berjalan semakin jauh.

Aku yang tidak ingin kehilangannya ikut keluar dari mobil dan mengejarnya. “Lepaskan aku!” pekiknya saat tanganku meraih tangannya. Min Hye menghentakkan tangannya hingga peganganku terlepas.

“Dengarkan aku dulu!” pekikku tak kalah keras.

“Tidak ada yang perlu kau katakan!” sanggah Min Hye kemudian ia kembali membalikkan badannya meninggalkan diriku. Aku kembali mengejarnya. “Apa yang membuatmu marah padaku?”

Min Hye terdiam, kedua bahunya turun naik mengisyaratkan nafasnya memburu. “Kau pembohong, kau membohongiku! Kau membuatku percaya Key Oppa tidak akan pernah meninggalkanku. Aku benci padamu! Aku membencimu!” cecarnya sambil berurai airmata.

Aku tak menyanggah atau menjawab ucapannya. Aku akui yang kulakukan ini salah, aku tak akan menyalahkan kedua orangtuaku lagi. Ini murni kesalahanku, jika seandainya aku bersikeras menolak permintaan mereka Min Hye tidak akan mengalami luka yang seperti ini.

Aku masih menatap lekat bola mata Min Hye yang menatapku tajam dan penuh amarah. “Jangan pernah temui aku lagi,” gumamnya. Sedetik kemudian aku tak lagi melihat sosoknya di hadapanku. Dia pergi. Dia benar-benar pergi dan aku, kehilangan dia.

**

Author Point of View

Satu tahun kemudian.

Kibum berulang kali menguap dan mondar-mandir dapur – ruang tamu setiap satu jam. Matanya terkadang ingin menutup namun segera terbuka lagi saat ingat kalau ia sedang mengerjakan tugas akhir kuliahnya. Sudah hampir setahun setelah kejadian Kibum membongkar semua kejadian Key pada Min Hye.

Benar-benar tak ada kabar dari gadis itu membuat Kibum menyibukkan dirinya dengan kuliahnya hingga ia dengan cepat menyelesaikan semester terakhirnya. Persahabatannya dengan Jinki, Taemin dan Minho semakin erat. Terkadang mereka menghabiskan waktu bersama untuk bersenang-senang.

Hubungannya dengan kedua orangtuanya pun lebih baik dibandingkan sebelumnya hingga ia memutuskan untuk tinggal bersama mereka setelah neneknya meninggalkan dirinya beberapa bulan yang lalu. Kibum sedih, ia begitu kehilangan sosok neneknya yang begitu menyayanginya namun ia tahu keberadaan orangtuanya membuat kesedihannya tak berlarut-larut. Ia tahu semua yang hidup pasti akan mati suatu saat nanti.

“Belum selesai sayang?” tanya ibunya saat melihat Kibum kembali membuat kopi di dapur. Kibum mengangguk lemah lalu kembali menuju ruang tamu tempat dimana semalaman ia membuat tugasnya.

“Tidurlah sejenak,” suara sang ayah yang muncul dari dalam kamar membuat kepala Kibum menggeleng.

“Aku akan tidur setelah semuanya selesai,” ucap Kibum tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya. Kedua orangtuanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Kibum.

“Kalian akan pergi?” tanya Kibum memecahkan keheningan saat menyadari kedua orangtuanya berpakaian rapi. “Ne, kami akan menghadiri pesta pernikahan teman ayahmu. Kau tidak apa-apa jika kami tinggalkan?” tanya ibunya sambil menghampiri Kibum.

Nan Gwenchana Eomma, pergilah. Aku lebih baik jika sendirian dirumah,” ucap Kibum setengah bercanda mengundang tawa renyah kedua orangtuanya.

“Baiklah, jaga rumah baik-baik,” ucap ayahnya sambil mengacak rambut Kibum dan keluar dari rumah sambil menggandeng ibunya.

“Hati-hati dijalan!” teriak Kibum saat melihat mobil ayahnya meninggalkan rumahnya. Kibum kembali masuk kedalam rumah dan menutup pintu rumahnya. Ia kembali berkutat dengan laptopnya namun tak lama ia duduk, pintu rumahnya di ketuk seseorang.

Kibum bangkit, ia yakin ibunya meninggalkan sesuatu hingga mereka harus kembali kerumah. “Ne Eom—“ suara Kibum terhenti saat melihat sosok dibalik pintu bukan sosok ibunya.

“Min Hye-a,” gumamnya tak percaya sambil terus memandang Min Hye yang tengah tersenyum canggung pada Kibum.

“Boleh aku masuk?” tanya Min Hye memecahkan lamunan ketidakpercayaan Kibum sekaligus menyindirnya. Kibum yang gugup kemudian mempersilahkan Min Hye masuk dan duduk diruang tamu.

“Ehm, kau mau minum?” tawar Kibum basa-basi.

“Air putih saja,” jawab Min Hye. Kibum mengangguk sekilas lalu melesat masuk kedalam dapur dan kembali dengan air putih di genggamannya. “Orangtuaku sedang keluar,” ucap Kibum lagi sambil duduk disamping Min Hye dan kembali memfokuskan dirinya pada laptop walau sebenarnya sekarang jantungnya berdegup kencang tak menentu.

“Kau mengusirku secara halus?” pertanyaan Min Hye membuat Kibum semakin kikuk. Ia menghentikan aktifitasnya dan menoleh kearah Min Hye. “A-Aniya, aku hanya mengatakannya karena aku tahu kau pasti kesini untuk menemui mereka,” sanggahku lalu kembali bertatapan dengan laptopku.

“Aku kesini bukan untuk menemui mereka. Aku memang ingin menemuimu.” Kibum menoleh cepat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Min Hye tadi. Dirasakannya Min Hye menghela nafas sekilas sebelum kembali melanjutkan ucapannya.

“Aku minta maaf untuk sikapku saat terakhir kali kita bertemu. Aku menyesal telah membentakmu saat itu.” Kibum membiarkannya yang terdiam beberapa saat. “Kau mau memaafkan aku kan?” tanyanya sedikit berhati-hati karena melihat Kibum terdiam di tempatnya.

Kibum menghela nafas ringan, tiba-tiba sifat jahilnya lewat begitu saja didalam otaknya. Dia menoleh sekilas pada Min Hye. “Aku akan memaafkanmu kalau kau melakukan sesuatu untukku,” ucapnya.

Min Hye menatap Kibum. “Apa?” tanya gadis itu penuh ketakutan.

“Bantu aku kerjakan tugas akhirku. Aku lelah, sudah dua hari tidak tidur dengan tenang. Kumohon bantulah aku,” rengek Kibum pada Min Hye membuat gadis itu sedikit mengulum senyumnya. Kalau bukan menjaga ­image-nya yang sedang meminta maaf mungkin sekarang ia tengah tertawa melihat tingkah Kibum yang persis seperti Key.

“Hm baiklah. Kau tidur saja, aku akan mengerjakannya,” Min Hye mendorong tubuh Kibum menyingkir dari depan laptop dan mengambil alih pekerjaan pria itu. Setelah memberitahu apa yang harus Min Hye kerjakan, Kibum mengambil bantal dan selimut dari dalam kamarnya dan bersiap tidur di sofa.

“Kau tidak tidur dikamar?” tanya Min Hye melihat Kibum yang kembali ke tempatnya.

“Aku tahu kau tidak suka ditinggal sendirian, biarkan aku disini,” ucap Kibum sambil menarik selimut dan memejamkan matanya seakan ia tak sadar mengucapkan kalimat tersebut. Dan dalam sekejap, Kibum sudah pergi kedalam alam mimpinya meninggalkan Min Hye yang kini disibukkan dengan tugas akhir Kibum.

**

Min Hye mengemasi beberapa kertas dan buku yang berserakan disampingnya. Dilihatnya Kibum masih tertidur lelap hingga membuatnya lebih berhati-hati mengemasi semua barang-barang Kibum. Tugasnya yang dimintai Kibum sudah selesai. Dia kemudian berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih dan segera kembali ke ruang tamu.

Min Hye memandangi wajah teduh Kibum yang tertidur dengan lelap tanpa memperdulikan sekitarnya. Bawah matanya terlihat menghitam memberi penjelasan bahwa dia benar-benar tidak tidur selama dua hari.

Selama setahun Min Hye menahan dirinya untuk bertemu dengan Kibum. Ia sedikit kecewa saat terakhir pertemuan mereka, Kibum benar-benar membiarkan Min Hye pergi. Entah kenapa, saat itu ia menginginkan Kibum mengejarnya dan mencegahnya untuk meninggalkan pria tersebut namun semakin langkahnya menjauh Kibum sama sekali tidak mengejarnya.

Min Hye tahu, setahun adalah waktu yang lama untuk memperbaiki hubungannya dengan Kibum namun setahun adalah waktu yang singkat untuk melupakan cinta Key dan mulai mencintai Kibum. Tunggu cinta? Min Hye termenung dengan pikirannya sendiri.

Ia tahu selama ini ia begitu nyaman dengan keberadaan Kibum –yang waktu itu masih diketahuinya sebagai Key yang menjaganya. Dia ingat betul bagaimana cara Kibum melindunginya walau sedikit kasar dan membentak. Mereka memang berbeda.

Mereka punya cara sendiri bagaimana menjaga gadis yang mereka cintai. Pikiran Min Hye kembali berhenti. Apa Kibum mencintaiku? Hatinya membatin mengira-ngira bagaimana perasaan Kibum padanya hingga tidak menyadari kalau Kibum sudah terbangun dan memandangi wajahnya yang berjarak hanya beberapa jengkal dari wajah Min Hye.

“Memikirkan apa?” suara Kibum yang terdengar begitu dekat dari wajahnya menarik kesadaran Min Hye. Gadis itu menoleh, menatap bola mata Kibum dengan lekat. ‘Sejak kapan aku berada sedekat ini dengannya’ lagi-lagi Min Hye membatin di hatinya.

Keduanya masih saling melempar tatapan tanpa menyadari kini jarak wajah keduanya terlalu dekat untuk hanya saling berpandangan. “Ki—“

Suara Min Hye berhenti diudara saat merasakan bibirnya menyentuh sesuatu yang lembab. Tak ada penolakan dan tak ada penerimaan saat Min Hye menyadari Kibum tengah menciumnya namun lama kelamaan mata gadis itu terpejam dan mulai menautkan bibirnya pada bibir Kibum.

Merasa mendapat lampu hijau tangan Kibum berpindah ke tengkuk Min Hye menahan gadis itu agar tidak melepaskannya secara tiba-tiba. Ada gejolak besar didalam hatinya sejak melihat wajah Min Hye dihadapannya tadi. Kibum ingin menahannya namun hatinya terlalu mendesaknya untuk melakukannya.

Hingga terjadilah saat seperti ini. Mereka saling berpangutan satu sama lain. Perlahan Kibum mendesak Min Hye untuk membuka mulutnya sedikit dengan lidahnya. Tak perlu waktu lama, Min Hye segera membukanya membuat lidah Kibum mencari-cari lidah Min Hye. Setelah didapatnya ditautkan lidahnya bersama, mereka bertukar saliva. Tak ada nafsu yang dirasakan Min Hye saat Kibum melakukan ciuman itu.

Perlahan Kibum memperlambat alur ciuman mereka lalu kemudian melepaskan ciuman tersebut. Mata Min Hye terbuka, dilihatnya mata Kibum yang memancarkan perasaan begitu dalam padanya. ‘Benarkah tatapan itu untukku? Benarkah itu cinta?’ batin Min Hye sibuk mencari tahu arti tatapan itu.

Mianhe,” hanya itu ucapan yang keluar dari bibir Kibum. Pria itu kemudian beranjak meninggalkan Min Hye sejenak disofa dan tak lama kembali duduk disamping Min Hye –lebih tepatnya didepan laptopnya yang mati.

Kibum menyalakan laptopnya dan melihat pekerjaan Min Hye disana. “Gomawo,” gumam Kibum saat puas membaca tugasnya yang dikerjakan Min Hye.

Gadis yang masih memunggungi Kibum itu menoleh dan berpindah mendekati Kibum. “Kibum-ssi, kau mau menemaniku ke makam Key Oppa besok?” tanya Min Hye.

Kibum yang sejak tadi merasa kikuk atas sikapnya sendiri perlahan menoleh kemudian menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan gadis dihadapannya itu.

**

Kim Kibum Point of View

Min Hye tengah menutup matanya dan berdoa didepan makam Key. Aku ingin berdoa, sudah beberapa bulan aku tak kesini. Trio sangtae itu benar-benar membuatku lupa waktu dan melupakan kegiatan tiap bulanku untuk datang ke makam Key. Namun sayangnya pesona Min Hye disampingku membuatku lupa semua doaku untuk Key.

Terlebih lagi saat angin berhembus dan membuat rambutnya yang mulai panjang menyapu wajahnya. Membuat getaran di hatiku semakin berdebar kencang tak beraturan. “Kibum-ssi,” panggilannya menarikku dari dunia khayalku.

Ne?’ gumamku.

“Aku sudah selesai sejak 15 menit lalu,” sahut Min Hye. Aku mengangguk kikuk lalu mulai berjalan menyusulnya yang terlebih dahulu berjalan menuju parkiran mobil.

“Aku tidak mau pulang,” rengek Min Hye saat menutup pintu mobilku. “Lalu kau mau kemana?” tawarku.

Min Hye tampak berpikir sejenak, “Mall!” pekiknya.

Aku membelalak kaget mendengarnya. “Tidak mau!” refleks aku menolak permintaannya. “Tidak boleh menolak karena aku sudah meminta ijin pada Eomma dan Appa untuk meminjammu selama seharian penuh,” sahut Min Hye penuh kemenangan.

Aku semakin terkejut mendengarnya. “Mwoya? Kau pikir aku barang pinjaman!”

Min Hye mengerucutkan bibirnya lalu menghentakkan punggungnya ke jok mobil dan melipat kedua tangannya didepan dadanya. Ngambek.

Aku mendengus kesal. “Baiklah baiklah,” aku mengalah kemudian menjalankan mobil menuju tempat yang diinginkan Min Hye.

**

Min Hye sibuk berjalan kesana – kemari tanpa mengerti aku sudah mulai kelelahan. Dia memang tidak belanja banyak seperti gadis yang kebanyakkan kulihat tapi langkahnya yang cepat menuju stan-stan pakaian sepanjang department store itu membuatku lelah.

“Kita duduk dulu,” ucapku saat menemukan bangku ditengah stan pakaian yang didatangi Min Hye. Kulihat gadis itu tidak menggubris ucapanku, dia masih saja sibuk melihat berbagai macam pakaian.

“Aku tidak pernah mengerti darimana datangnya semangat berbelanja seorang gadis,” gumamku.

Kajja,” Min Hye menghampiriku lalu menarik lenganku. “Aku baru saja duduk, istirahatlah sebentar,” rengekku sambil menepis tangannya.

Min Hye berdecak pelan lalu kembali menarik tanganku. “Kita istirahat tapi tidak disini,” ucapnya.

Lagi-lagi aku mengalah dan mengikutinya yang mulai keluar dari department store. Min Hye masih memegang lenganku saat kami memasuki sebuah toko ice cream.

“Kau mau apa?” tanya Min Hye menawarkan kepadaku setelah ia memesan keinginannya. “Cokelat,” ujarku pura-pura acuh dan mengedarkan pandanganku mencari tempat duduk. Toko ice cream ini sedikit ramai hingga aku harus mencari tempat yang nyaman.

“Duduk disana saja,” ujarku sambil menarik Min Hye yang sudah selesai memesan ke sebuah meja dekat dengan jendela yang menghadap kejalan raya. Aku menyibukkan diri melihat pemandangan di luar jendela daripada harus menatap Min Hye yang membuat degup jantungku berdetak kencang.

Tak lama, ice cream pesanan kami datang. Kulihat Min Hye begitu antusias memakan ice cream dihadapannya hingga membuat beberapa ice cream tertinggal di bibirnya. Aku mengambil tissue disamping piring lalu menyerahkan kepadanya.

Ice cream di mulutmu,” ujarku saat Min Hye menatapku heran namun tatapan itu tiba-tiba berubah menjadi tatapan yang tak ku mengerti. “Mwo?” tanyaku.

“Aku kan tidak tahu dibagian mana yang ada ice cream-nya, tolong bersihkan,” ujarnya yang mulai mendekatkan wajahnya sedikit didepanku. “Tolong bantu aku membersihkannya,” ujarnya lagi.

Aku akhirnya mengarahkan tissue itu kebibirnya dan membersihkan sisa ice cream di bibirnya. “Dasar tidak romantis,” cibir Min Hye lalu kembali melanjutkan makannya.

Aku mendesis ringan lalu menundukkan mataku dan memakan semua ice cream hingga habis dengan sedikit rasa kesal. Baiklah aku memang tidak romantis tapi dia tidak perlu mengatakan hal seperti itu padaku.

“Kibum­-ssi,” panggilnya. Aku mendongak dan.

Min Hye tertawa saat berhasil membuat menempelkan sendoknya didekat bibirku hingga membuat keadaanku sama sepertinya tadi. Aku hendak mengambil tissue namun jari Min Hye menyentuh bibirku dan membersihkan ice cream dibibirku setelah itu dia menjilat sendiri jarinya.

“Astaga, apa semua wanita di luar negeri melakukan hal yang sama seperti ini?” sindirku yang menutupi degupan jantungku sendiri.

Min Hye tertawa kecil. “Itulah namanya romantisme,” cibir Min Hye lagi. Tak lama gadis itu bangkit dari duduknya dan mengajakku keluar dari café ice cream tersebut.

Gadis itu kembali berjalan riang meninggalkanku sendirian dibelakangnya. Tak lama gadis itu berhenti lalu menoleh kebelakang. “Ish, lambat,” sindirnya sambil melangkah menghampiriku dan memegang kedua tanganku membuatku terkejut.

“Laki-laki tidak boleh berjalan dibelakang seorang gadis,” ucapnya saat tahu aku akan menolak pegangan tangannya. “Kita mau kemana lagi?” tanyaku yang tanpa tersadari menggenggam erat tangan Min Hye.

Photobox,” ucapnya sambil terus berjalan menuju photobox yang berada didekat café ice cream tadi.

Tanpa ba-bi-bu lagi, Min Hye segera menarikku masuk kesana kemudian mengutak-atik layarnya. “Pose,” pinta Min Hye seraya menggamit tanganku dan tersenyum menatap kamera. Aku menatap kamera kaku, aku tak pernah bisa berfoto dengan tersenyum ceria seperti foto-foto Key.

“Tersenyum,” pinta Min Hye untuk terakhir kalinya sambil menyikut pinggangku. Tepat sebelum bunyi kamera, aku akhirnya berhasil mengeluarkan senyumku yang terlihat err seperti smirk dibanding sebuah senyuman. Min Hye menatap hasil foto yang baru saja keluar lalu melirikku sinis.

“Jangan salahkan aku jika senyumku begitu,” ucapku membela diri. Min Hye mendesis perlahan lalu segera menarik tanganku lagi.

**

Malam sudah semakin larut, wajah Min Hye terlihat begitu lelah. Sejak pulang dari Mall dia menyandarkan kepalanya ke jendela mobil dan berulang kali menguap.

Kuhentikan laju mobilku saat sampai didepan rumahnya. “Sudah sampai,” ucapku. Min Hye yang sedang bersandar mengangkat kepalanya lalu menguap lebar. “Masuklah, kau perlu istirahat,” ucapku lagi.

Min Hye masih mengucek matanya lalu menoleh menatapku. “Wae?” tanyaku.

Aniya, hanya saja,” Min Hye menggantungkan kalimatnya membuatku penasaran.

“Hanya saja apa?” aku melontarkan pertanyaan.

Kali ini giliran Min Hye yang bersikap kikuk. “Ehm soal kemarin..ehm,” Min Hye bergumam membuatku semakin tak mengerti.

“Kemarin saat dirumahmu..” Min Hye masih terus menggumam namun kali ini aku mengerti arah pembicaraannya. Dia berusaha bertanya soal ciumanku kemarin. “Soal ciuman itu aku minta maaf Min Hye. Aku tidak sengaja,” ucapku memotong pembicaraannya.

Min Hye menggigit bibirnya dan masih menatapku. “Aku tahu aku tidak sopan padamu. Aku benar-benar meminta maaf,” kataku lagi.

“Kibum-ssi, apa kau mempunyai perasaan khusus padaku?”

Jantungku berdegup kencang saat mendengar pertanyaan Min Hye. Dia mengucapkannya penuh dengan kehati-hatian namun berhasil membuatku berkeringat dingin dan bingung untuk menjawab apa. Gadis itu masih memandangiku menanti jawaban.

“Itu…itu tidak mungkin Min Hye-ya, kau adalah pacar Key. Aku tidak mungkin merebutmu darinya,” jawabku kemudian memalingkan wajahku keluar mobil.

Kudengar Min Hye menghela nafasnya ringan. “Begitukah? Padahal di dalam mimpiku Key sudah melepaskanku untukmu,” gumaman Min Hye membuatku semakin tenggelam dalam keterkejutanku.

Namun aku tak sanggup menoleh kearahnya. “Dia berkata kalau kau bisa menjagaku lebih baik darinya. Itulah sebabnya mengapa aku memberanikan diri datang lagi padamu,” Min Hye kembali bergumam.

Aku memejamkan mataku sejenak, kurasakan tubuhku bergetar menahan perasaanku sendiri. Aku ingin mengungkapkannya, memeluknya dan merasakan cintanya namun aku takut dia hanya menganggapku sebagai Key-nya.

“Menurutmu mungkin aku terlihat mendatangimu hanya karena Key datang ke mimpiku. Sebenarnya tidak Kibum-ssi, selama setahun ini aku lebih sering memikirkanmu dibanding Key. Aku tahu fisik kalian begitu mirip, sangat mirip hingga dulu aku tidak mampu membedakan kalian berdua. Tapi aku tahu, kalian berdua menawarkan cinta yang berbeda untukku.” Min Hye menarik nafas sejenak, “Mungkin jika Key masih hidup aku tidak tahu siapa diantara kalian yang harus kupilih. Sampai kemarin saat kau mencuri ciuman pertamaku, aku sedikit yakin kalau kau memiliki perasaan yang sama namun sekarang aku rasa aku sedikit percaya diri,” ucap Min Hye sambil sedikit tertawa miris.

“Maaf telah mengganggumu hari ini Kibum. Aku akan pergi,” Min Hye mengakhiri kalimatnya lalu mulai membuka pintu mobil dan dengan segenap keberanianku.

Kutahan lengan gadis itu. Min Hye menoleh dan mengerutkan keningnya. “Jangan pergi. Jangan pergi dariku lagi,” cegahku.

“Aku cukup menderita satu tahun kemarin. Jangan biarkan aku menderita lagi Min Hye,” ucapku lagi. “Aku..mencintaimu.”

Min Hye tersenyum kemudian memeluk tubuhku yang masih terkejut karena berhasil mengungkapkan perasaanku sendiri pada gadis ini. Aku mulai menenangkan diriku, menyunggingkan senyuman dan membalas pelukannya.

Jadi seperti ini bahagianya mendapatkan cinta? Key, aku sangat berhutang banyak padamu.

**

Epilog

“Aku berani bertaruh Min Hye akan memilihku,” ucap Key penuh percaya diri saat kami bertemu. Aku berdecak pelan lalu menggeleng.

“Dia pasti memilihku. Kau tidak dengar dia mengucapkan apa tadi? Dia lebih banyak memikirkanku dibanding memikirkanmu,” bantahku tak kalah percaya diri.

“Ah, itu kan hanya kebetulan,” Key menyangkal.

Lalu kami berdua terdiam dan saling pandang. Tak lama tawa kami menggema, geli dengan pertengkaran yang tak akan berujung ini. “Hyung, jaga Min Hye baik-baik,” ucap Key setelah tawanya mereda. Aku mengangguk.

“Aku bosan mendengar permintaanmu itu Key-a,” candaku sambil sedikit tertawa namun Key tidak merespon candaanku. Dia memandangku dengan wajah serius. “Ne, aku akan menjaganya,” sahutku kemudian.

Key menyunggingkan senyumnya lalu menepuk pundakku.

“Kalau begitu aku pergi sekarang Hyung. Aku sudah benar-benar tenang sekarang.” Key mulai bangkit dari duduknya membuatku ikut melakukan hal yang sama. “Apa kita benar-benar tidak akan bertemu lagi suatu hari nanti?” tanyaku sedih.

Key mengangguk sekilas. “Nanti setelah kau mengalami kematian sepertiku,” jawabnya dengan candaan. Aku tertawa mendengar ucapannya.

“Aku pergi Hyung,” pamit Key lagi. Aku hanya bisa mengangguk dan merelakan kepergian adik kesayanganku berjalan menghampiri sebuah cahaya dan membuatnya hilang.

Cahaya tersebut kemudian menghalangi kedua mataku membuatku mengerjapkan mataku beberapa kali lalu akhirnya dapat terbuka sepenuhnya dan bisa kulihat langit-langit kamarku sendiri. Aku menghela nafas ringan. Tak akan ada lagi mimpi tentang Key. Tak akan ada lagi yang akan membimbingku dan menasehatiku setelah ini.

Aku mengangkat tubuhku duduk dikasur dan menatap langit yang membiru cerah diluar sana. “Terimakasih Key.”

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

19 thoughts on “I’m Not Him – Part 7 (END)”

  1. hwaaaa… kok rsanya cpet bnget ya slesai. just 7 part doang? ehm.. kuraaaang
    tadi ada kesalahan penulisan juga sih, harusnya sudut pandang orang ketiga, terus keselip jadi sudut pandang orang pertama dalam satu paragraf..
    tapi gpp. skrang penasaranku tuntas deh… gomaweo yang udah capek-capek nulis…

  2. Kerenn… Kerennn….
    Annyonggg~ sbnr ny ak ud sering mampir ksini cm jrg comment..
    Soalny kbykn baca d sequel complete yg ud agak lama abis ny hehehehe

  3. Yaaahh selesai deh..
    Aku kira ini bakalan panjang ceritanya..
    Ternyata endingnya di part 7..hehe
    Keren thor..
    Suka deh ama kibum.. Agak2 bad boy gitu..haha #diplototin Key
    Keep writing ya thor..
    Especially for Key.. 😀

  4. wah… ga nyangka ternyata part-nya dah selesai…
    cerita endingnya bagus..
    n Q juga suka karakter Key disini, agak2 nakal gitu.. ya walaupun yg nakal itu kibum, hehehehe…..
    wat author keep writing ya..

  5. Sedikit kaget thor karena cover ff nya ada yang beda… yaa.. aku suka 2 cover nya lah.. oh ya, ff nya daebak thor! pas pertama kali baca, aku mikir ‘ini key nya kok gak muncul-muncul sih?’ eh, taunya key udah… Meninggal… :’l
    sekali lagi ff nya Daeabak! ‘o’d

  6. Ceritanya seru thor. Bagusnya lagi happy ending wkwk.
    Commentnya aku rangkum di sequel terakhir ya hehe.
    Keep wrting ne thor^^

  7. halo
    Apakah Anda membutuhkan bantuan keuangan? atau apakah Anda membutuhkan pinjaman apapun? jika ya, di sini datang help.livingstoneloans@hotmail.com
    kita diberikan pada pinjaman kepada individu dan perusahaan dengan harga yang terjangkau
    Tingkat 3% yang menarik pemohon pinjaman bunga menyarankan untuk mengisi formulir permohonan pinjaman di bawah ini.
    nama:
    usia:
    negara:
    seks:
    nomor telepon:
    Anda dapat berbicara bahasa Inggris?:
    jumlah yang dibutuhkan sebagai pinjaman:
    waktu pinjaman:
    status perkawinan:
    negara:
    alamat:
    kode pos:
    Tujuan pinjaman:
    pendapatan bulanan:
    ==========================================
    Salam,
    MR Harry blunt.

  8. Hari baik Sir/Madam:
    Mencari perusahaan pinjaman asli,
    yang menawarkan pinjaman terjangkau tingkat bunga potong 3-6 hari kerja. Anda ditolak menjaga bank Anda dan lainnya keuangan lembaga? Dengar: Mendapatkan kredit sah adalah selalu menjadi masalah bagi orang-orang yang membutuhkan bantuan keuangan. Masalah dari pinjaman dan pinjaman menjamin adalah sesuatu klien
    bout khawatir ketika mengajukan permohonan untuk pinjaman dari pemberi pinjaman yang sah. Tetapi The Union pinjaman layanan di bidang pinjaman lain industri. Kami mengatur pinjaman dari kisaran $ 2.000 untuk 500.000.000
    dolar, dan juga di euro, pound, dan
    Banyak lagi. Layanan kami meliputi:
    * hutang konsolidasi
    * Hipotek kedua
    * Business loans
    * personal loans
    * Internasional pinjaman
    * Tidak ada jaminan sosial dan
    * tidak ada pemeriksaan kredit,
    100% jaminan. Hanya hal apa yang perlu Anda lakukan adalah membiarkan kami tahu apa yang sebenarnya Anda inginkan dan kami pasti akan membuat Anda layanan pinjaman Union. mengatakan ya, ketika orang lain. Bank mengatakan mereka tidak. Akhirnya, kami pinjaman adalah untuk membiayai skala kecil bisnis Broker, lembaga keuangan ritel, untuk kami memiliki Unlimited modal. Untuk informasi lebih lanjut tentang bagaimana untuk pergi tentang pengadaan pinjaman, hubungi kami, mohon segera
    untuk menanggapi email ini: unionloanservice9@gmail.com

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s