RAINBOW – Part 1

Author: Wiga

Main Cast : SHINee

Choi Minho :

“ya..!! serang yang disana!!” teriak nya.

Tangan nya mengacungkan pemukul base ball ke arah lawan nya. Teman-teman nya sudah terjatuh tidak berdaya di belakangnya hanya dia yang masih berdiri, tak tanggung-tanggung, ia mengayunkan pemukul baseball ke 3 orang lawannya.

Brukkk.. akhirnya mereka terjatuh, 1 orang yang tersisa melarikan diri..

Minho ingin mengejarnya namun teman temannya menahan nya.

“sudah lah hyung.. kita sudah menang.. buat apa kau kejar..”

Minho diam, ia mengusap darah yang ada di sudut bibirnya.. ia tersenyum.

“ aku pulang duluan.. “ kata minho

Ia berjalan menuju motor balap 150 cc nya..

Tiba-tiba ia teringat surat yang tadi pagi dikasih appanya, ia segera membukanya.

Dengan tergesa ia membacanya. Ia terdiam dan menghela nafas..

“aisshh.. tua bangka itu..!!!”

Tergesa ia pulang, dan langsung menemui appa nya

“ yaa!! Mengapa kau lakukan ini !!! “ teriak nya pada appa nya.

“ Demi masa depan mu minho, semua yang kulakukan hanya demi masa depan kamu!!”

“ Tapi bukan ini yang ku mau, dan tolong berhenti bersikap seperti ayah ku, Kau bukan ayahku!!”

“Minho.. kau kira kau aku akan diam saja, melihatmu setiap hari hanya berkelahi, tolong bersikap dewasa, kau hanya membuat umma mu cemas jika kau bersikap seperti itu”

Minho diam.. ia tidak habis pikir appa nya melakukan itu, menyogok komite sekolah, hanya agar ia mendapat kan beasiswa.. ia kecewa dengan appa nya.

“minho.. tolong dengarkan aku sekali ini saja, ibumu sedang sakit, kau tau ia stress memikirkan mu..”

Minho tidak ingin mendengar kan penjelasan appa tirinya Ia segera berlari menuju kamarnya..

*************

Park Nada:

Nada keluar dari ruang komite dengan dada berdebar, dipegangnya sebuah surat  yang masih tersegel. Didalam surat itu ada seluruh masa depannya..

Dengan sangat perlahan ia membukanya, matanya menyapu kata demi kata yang ada didalam surat itu. Setelah selesai ia mengembangkan senyumnya dalam-dalam.

“aku berhasil oppa..”  batin nya..

Segera ia mengeluarkan HP nya dan mulai mengetik sms.

“ dear changmin oppa.. aku berhasil.. !!! terima kasih ya, semua berkat kamu.. sepuluh menit lagi aku tunggu di tempat biasa..  luv you my honey ^^…”

Dengan senyum terkembang ia menuju halte bis di depan sekolahnya wajah nya berseri-seri, ia ingin bercerita banyak kepada changmin, orang yang sangat ia sayangi..

Terlihat diseberang jalan changmin melambaikan tangan kanan nya, sedangkan tangan kirinya membawa seikat bunga, ia menunggu lampu merah untuk menyebrang jalan.

Nada merasa sangat bahagia, senyumnya terkembang.

Lampu sudah merah, nada melihat changmin menyebrang. Tiba tiba ada mobil sedan menerobos lampu merah, nada berdiri membeku, pandangan nya tiba-tiba gelap. Dunianya seketika hancur..

*************

Lee Jinki / Onew :

Tangan nya menggenggam surat yang segelnya telah terbuka..

Ia bermaksud untuk memberitahukan orang tua nya tapi sepertinya mereka pergi entah kemana.

Sudah hampir 5 jam ia menunggu di ruang tamu menunggu kedua orangtuanya pulang,

Sampai hampir tengah malam ia belum beranjak,

pikirannya tertuju pada masa lalu nya dimana ia sudah melakukan segalanya hanya untuk mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Murid teladan, juara olah raga, terampil bermain musik, ketua badan kesiswaan,,

Apalagi yang kurang.. hatinya bertanya-tanya.

“tuan dan nyonya tidak bisa pulang malam ini, mereka langsung menuju Singapore”

Lamunan onew terputus oleh kata-kata dari salah satu pelayan nya.

Ia berdiri dan langsung menuju kamarnya.

*****************

Shim Yui:

Tangan nya memerah, ia meringis. “Mengapa selalu berakhir seperti ini” gerutu nya.

Ini sudah ketujuh kalinya ia menampar semua pacarnya sebelum memutuskan nya.


wajahnya sangat cantik, dan badanya tinggi ideal, namun semua laki-laki yang mendekatinya hanya sekedar menginginkan itu saja, ia berpikir kembali tentang masa lalunya, terlahir sebagai gadis yang menurut nya buruk rupa, hampir tidak ada yang mau mendekatinya.

Sampai suatu saat ia nekat menyatakan cintanya kepada orang yang sangat disukainya seorang idola sekolah, namun yang diterima hanya cemooh.

beruntung orang tuanya kaya sehingga ia bisa operasi plastik. Ia berubah dari itik buruk rupa menjadi angsa yang cantik jelita.

Belum puas dengan operasi plastic, ia ingin badanya pun menjadi indah dipandang, ia melakukan diet yang sangat ketat, minum obat pelangsing, suntik putih, sampai akhirnya badannya menjadi langsing dan mempesona,

Jika dulu ia tidak pernah memakai rok, maka kini ia selalu memakai rok mini atau hot pants menjadi pilihan utamanya

Ia merenung, kapan ia bisa mendapatkan laki-laki yang bisa mencintainya apa adanya..

Ia mulai menyulut rokok yang sedari tadi dipegangnya.

Ia teringat surat yang diberikan oleh gurunya tadi pagi. Perlahan ia membukanya.

Senyumnya mengembang.

****************

Lee Taemin:

PLAAKK!!!

Tangan umma nya menamparnya dengan sangat keras.

Taemin terjatuh, ia menunduk dan menangis, sedangkan umma nya menghancurkan piala yang ia bawa, ia memukul-mukulkanya ke tembok. Dalam beberapa detik pialanya hancur.

Air matanya menetes.

“Yaa!! Bangun kamu !! mengapa kamu menangis!! Dasar banci !! apa kamu ingin seperti appamu Haa!! Bangun cepat!!” teriak  umma nya.

“ummaa…” taemin menangis.

“ kamu memang seperti appa kamu, tidak berguna.. Haaa!! Jangan menangis ku bilang, atau aku pukul kamu lagi!!! “

Dengan sekuat tenaga taemin menahan tangisnya, ia memandang appa nya , namun appa nya hanya menunduk tak berdaya,

“umma.. miaan..”

“ aku tidak perlu anak laki-laki seperti kamu taemin!!!  Harus nya kamu menjadi anak perempuan saja !! kerjamu hanya menari seperti perempuan.!! Bikin malu saja..haa!! “ umma nya berteriak seperti orang kesetanan lalu umma nya mulai menenggak alkohol lagi.

Temin tidak tahan, ia berlari masuk ke kamarnya dan mengunci kamarnya.

Ia menangis, betapa ia sangat membenci ummanya, bukan salahnya jika ia terlahir dengan watak dan wajah yang seperti perempuan. Dan piala itu, bukan hanya sekali umma nya menghancurkan piala nya..

Ia teringat surat yang belum dibukanya di dalam tas, dengan bibir bergetar menahan tangis ia mulai membaca suratnya.

Ia tersenyum, lalu tertawa keras-keras. Akhirnya ia bisa jauh dari umma nya..

*****************

Kim Kibum:

“ miann.. aku masih sayang kamu.. tapi maav, kita ga bisa sama-sama lagi..”

Kibum mengelus rambut wanita yang menangis di dadanya..

“miaan.. aku harus pergi..” kata kibum, lalu ia berjalan sambil memasang  raut muka yang paling sedih.

Kibum berpikir, bulan ini sudah yang kelima kali nya ia memutuskan pacar-pacar nya,

Huff.. masih ada empat lagi yang belum.. fighting!! Serunya dalam hati.

Kibum sangat tampan, mempunyai daya pikat tinggi terhadap wanita, namun hubungan nya tidak pernah bertahan lama, ia dikenal sebagai playboy disekolahnya hampir seluruh wanita disekolahnya pernah ia buat patah hati.

Namun entah kenapa, belum ada satu wanita pun yang bisa membuat dadanya berdebar, ia mudah sekali bosan,

Tiba-tiba ia teringat surat dari sekolah nya yang belum ia buka,

Perlahan ia tersenyum,,,

TBC

***************

Signature

This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
Advertisements

HAPPY BIRTHDAY !!!

HAPPY BIRTHDAY SHINee !!!

HAPPY BIRTHDAY SHINee !!!

HAPPY BIRTHDAY SHINING SHINee !!

HAPPY BIRTHDAY SHINee…..

SAENGIL CUKAE YOOOOOOO !!!!!!!!!


Karena salah satu reader kita (Alya) ngingetin kita soal ulang tahun SHINee, akhirnya aku bikin post ini. Hohohoho… gak terasa SHINee udah berumur 2 tahun. ye gak sih?

Let’s make a wish for SHINee.. in iharapan staff kita:

– Lana : Semoga SHINee mau ke Indonesia, terus naksir sama aku… ohohoho

– Karlie : Semoga SHINee makin bersinar!

– Zika : Semoga suatu saat nanti SMEW berhasil di bukuin atas izin SMent, terus nanti SMent berminat buat bikin dramanya dan yang main SHINee… ohohoho.. betapa bahagianya hidupku…

– Asyhta : Semoga SHINee dan SF3SI bisa semakin bersinar, dan Shawol Indo semakin banyak.

– Lani : I just hope i can meet SHINee and Suju in Korea… huff -_-‘

OK… itu beberapa wihses dari staff kita… kalian masing2 juga pasti punya wishes buat SHINee dan diri kalian masing-masing ^.^

semoga harapan kita semua bisa tercapai… AMINNN!!!

Mari berdoa sesuai agama masing-masing…

Oh ya.. kami semua mengucapkan selamat datang bagi new reader kita yang sudah dengan senang hati memberikan apresiasinya berupa comment ^.^

Please bagi reader baru yang lain, don’t be scared to write a comment, we love comment asalkan gak BASH dan SPAM.. Ok? So… keep our motto guys..

COMMENT LIKE OXYGEN

Happy Birthday for our SHINING STAR SHINee

I LOVE YOU

Author: Lana

Cast : Kim Jonghyun

Aku terus memandangi koran yang berada di tanganku, membaca headline berulang-ulang. Sudah satu minggu aku terus membaca headline surat kabar tersebut, dengan dipenuhi rasa bersalah yang luar biasa. Dia… laki-laki yang berada di headline surat kabar nasional ini telah menghancurkan hidupku dengan mempertahankan hidupku.

Hubungan yang kami jalin selama 1 tahun berakhir begitu saja. Pernikahan terindah kami batal begitu saja, hanya sehari sebelum kami akan menikah dia pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal. Kalaupun ia mengucapkan selamat tinggal aku tidak akan pernah mau melepaskannya. Laki-laki yang satu tahun lebih tua dariku, aku mencintainya luar dan dalam. Berteman 5 tahun, pacaran setahun dan setelah itu semestinya kami bisa menghabiskan sisa hidup kami bersama anak-anak kami.

Kim Jonghyun, laki-laki yang selalu melindungiku kapanpun di manapun. Seberapa sulit pun keadaannya, selama aku membutuhkannya ia akan datang. Tidak pernah aku berfikir bahwa ia akan meninggalkanku dengan cara seperti ini. menyakitkan… gadis mana yang tidak sakit jika kekasihnya pergi sehari sebelum hari pernikahan mereka. Aku benar-benar tidak bisa berhenti mengucapkan itu… pergi sehari sebelum hari pernikahan.

Sekarang yang bisa ku lakukan hanya menangis, menangis dan menangis. Menangisis kepergian kekasihku, laki-laki nomor satu dalam hatiku. Ingin rasanya aku bunuh diri, tapi aku masih terikat janji dengannya bahwa aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh itu.

~FLASHBACK~

-Yuna Pov-

“Yuna!!!” suara itu… sudah satu minggu aku tidak mendengar suara itu, aku benar-benar merindukannya. Mempersiapkan pesta pernikahan membuatku benar-benar sibuk, kami bahkan sampai tidak bisa bertemu.

“Ya Kim Jonghyun! Bukannya siap-siap! Besok kita kan menikah, apa yang kau lakukan di sini?!” aku memukul lengan Jonghyun. “Aww… sudah satu minggu tidak bertemu, kau tidak merindukanku?” ia merangkulku dengan genit. “Tidak akan! Untuk apa merindukanmu?!” aku menoyor kepalanya. “Sebentar lagi kau akan menjadi istriku, kau tidak bisa berbuat seenaknya lagi!”

“Kalau begitu kita batal.”

“Hey! Ya ampun.. kenapa calon istriku seperti ini sih?! Sepertinya aku salah pilih gadis.” Aku mengerucutkan bibirku dan mengerutkan alis. “Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan di sini?!”

“Oh iya.. bahkan aku jadi lupa apa yang sebenarnya ingin aku lakukan begitu melihat wajahmu. Kau tahu, wajahmu mengalihkan otakku… ahahahaha…”

“Stop gombal warming! Enekkkhhhh…!”

“Kalau begitu kembali ke tujuan awal. Kemarin aku jalan-jalan dan aku mendapatkan sebuah pondok kecil yang sangat bagus.. aku sudah bertanya-tanya dan kita bisa tinggal di sana. Tempatnya sangat asri, jadi sekarang aku ingin mengajakmu ke sana untuk melihat pondok tersebut.”

“Sincayo?” tanyaku dengan wajah sumringah, maklum.. kami sudah mencari kesana kemari tapi masih belum mendapatkan pondok kecil yang indah untuk kami tinggal nanti. “Ayo!” Jonghyun menarikku keluar toko. “Kenapa naik mobil? Itu hanya akan buang-buang waktu, lebih baik naik motor saja.”

“Baiklah, berarti ke rumahku dulu untuk mengambil motor.” Jujur sebenarnya alasanku memintanya naik motor adalah untuk mengenang masa kami bersahabat dulu. Kemana-mana ia selalu mengantar jemputku dengan motor sport nya yang besar itu. Terakhir kali kami naik motor saat kami sedang jalan-jalan ke taman, kami memarkir motor tidak di tempatnya karena sudah penuh. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang sepertinya tidak melihat kalau ada motor terparkir, dia parkir begitu saja. Alhasil motor Jonghyun jatuh dan helm ku rusak, Jonghyun menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk memperbaiki motornya.

Karena tidak sempat membeli helm baru untukku Jonghyun selalu melarangku untuk ikut dengannya naik motor, karena takut berbahaya. Tapi kali ini sepertinya kami berdua sama-sama merindukan masa-masa itu, dengan kecepatan tinggi melawan angin.

“Ya! Jonghyun-ni.. apa kita harus melalui jalan yang seperti ini untuk sampai ke pondok tersebut?” tanyaku setengah berteriak karena aku yakin sulit baginya mendengar suaraku. “Ne. karena itu aku suka pondok itu, kita akan merasa segar jika setiap hari melalui jalanan yang di penuhi pepohonan seperti ini.”

“Tapi menyeramkan, terlebih lagi ada jalaan menanjak yang cukup tinggi.. aku takut saat melalui turunannya.”

“Tidak… justru akan mengasyik kan! Seperti yang biasa kita lakukan dulu!” Jonghyun malah mempercepat laju motor, angin menerpa wajahku dengan kasar sehingga makin lama mataku terasa perih.

“Jonghyun! Pelankan laju motornya!!!” teriakku karena kini kami sudah menuruni jalanan. “Menyeramkan!!” teriakku lagi. “Tidak! Ini asik!”

“Jonghyun!! Pelan-pelan atau kau akan kubunuh!”

“Baiklah.. tapi katakana bahwa kau mencintaiku!”

“Agh!! Kau gila! Salanghaeyo!!! Sekarang pelankan laju motornya!”

“Panggil aku oppa! Seumur hidupku kau belum pernah memanggilku oppa!” aku memutar bola mataku. “Jonghyun-ni oppa! Salanghaeyo yeongwonhi! Pelankan laju motor atau kau benar-benar akan kubunuh!!!!”

“Dua lagi.. lepas helm ku dan pakai di kepalamu, lalu peluk aku se erat mungkin!”

“Untuk apa melepas helm mu?”

“Aku ingin merasakan angin sepertimu.. cepat lepas dan pakai saja!” Aku menurut, aku melepaskan helm Jonghyun, mengenakannya di kepalaku lalu memeluknya dengan erat. Sudah lama sekali aku tidak melakukan ini, aku merindukan saat-saat seperti ini. aku berharap nanti saat kami sudah menjadi suami istri kami bisa naik motor bertiga.

***

Aku berusaha membuka mataku, hanya mimpi? Menyedihkan sekali… tapi kenapa terasa begitu nyata? Aku ingin bisa naik motor dengan Jonghyun.. ah tidak.. Jonghyun-ni oppa. Aku akan memanggilnya begitu jika ia memintaku lagi.

Tunggu! Ini bukan kamar ku! Ini juga bukan kamar Jonghyun!

Infus? Aku di rumah sakit? Sejak kapan?! “UMMMAAAA!!!” jeritku memanggil umma. “Oh.. Yuna, kau sudah sadar. Untung lah kau baik-baik saja nak.”

“Waeire umma?! Sejak kapan aku masuk rumah sakit? Memang aku sakit apa?”

“Sejak kemarin.”

“Ya tuhan! Ini tanggal berapa?!”

“Tanggal 24.”

“Hari ini kan harusnya aku menikah umma?!!! Kenapa aku malah ada di sini?! Umma kenapa malah menangis?! Aku harus telepon Jonghyun sekarang.” Aku berusaha mencari ponselku, tapi aku tidak tahu harus mencari di mana. “Yuna tenang! Tenang dulu!” aku mengerutkan alis, ada apa dengan ibuku ini?

“Kau tdak akan menikah dengan Jonghyun.” MWO?! Yang benar saja! Sudah tidak jama bercanda seperti ini! “Umma ini kenapa sih?!”

“Dengarkan aku! JONGHYUN SUDAH MATI!! DAN DIA HAMPIR SAJA MEMBAWAMU MATI BERSAMANYA!” apa… apa-apaan ini? aku tidak bisa bergerak. “Baca ini!” aku meraih surat kabar dari tangan ibuku, dan terlihat jelas di headline terdapat foto motor Jonghyun yang berwarna merah hancur menabrak dinding tebing.

TEWASNYA ARTIS MUDA KIM JONGHYUN KARENA MELINDUNGI KEKASIHNYA KIM YUNA

Kakiku terasa sangat lemas.. bagaimana bisa? Bagaimana bisa itu terakhir kali bagi ku memeluk Jonghyun, mengatakan padanya bahwa aku mencintainya. Bagaimana bisa itu menjadi yang pertama dan terakhir kali bagiku memanggil Jonghyun dengan sebutan oppa?

“AAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!! JONGHYUN-NI OPPPAAA!!!!”

&&&

-Jonghyun Pov-

Aku tidak menyangka bahwa ternyata aku merindukan saat-saat seperti ini, mengendarai motor dengan memboncengi Yuna di belakangku. Aku tidak akan pernah melepaskannya sampai kapanpun, aku sudah berjanji pada diriku sendiri sejak pertama kali bertemu dengannya bahwa aku akan selalu menjaganya, melindunginya.

“Ya! Jonghyun-ni.. apa kita harus melalui jalan yang seperti ini untuk sampai ke pondok tersebut?” tanya-nya setengah berteriak karena aku yakin ia tahu bahwa sulit bagiku mendengar suaranya. “Ne. karena itu aku suka pondok itu, kita akan merasa segar jika setiap hari melalui jalanan yang di penuhi pepohonan seperti ini.”

“Tapi menyeramkan, terlebih lagi ada jalaan menanjak yang cukup tinggi.. aku takut saat melalui turunannya.”

“Tidak… justru akan mengasyik kan! Seperti yang biasa kita lakukan dulu!” Aku mempercepat laju motor menaiki jalanan yang menanjak. Pasti sangat mengasyikan saat melalui jalanan yang menurun.

“Jonghyun! Pelankan laju motornya!!!” teriak Yuna karena kini kami sudah menuruni jalanan. “Menyeramkan!!” teriaknya lagi. Ok, aku akan memperlambat laju motor. Aku menarik rem… hey! Apa-apaan ini?! Ya tuhan… aku menginjak rem kaki, tapi juga tidak berfungsi. Oh tuhan! Aku berusaha tetap santai, bahkan menikmati. “Tidak! Ini asik!”

“Jonghyun!! Pelan-pelan atau kau akan kubunuh!”

“Baiklah.. tapi katakan bahwa kau mencintaiku!”

“Agh!! Kau gila! Salanghaeyo!!! Sekarang pelankan laju motornya!”

“Panggil aku oppa! Seumur hidupku kau belum pernah memanggilku oppa!”

“Jonghyun-ni oppa! Salanghaeyo! Pelankan laju motor atau kau benar-benar akan kubunuh!!!!” kali ini air mataku mengalir begitu saja… apa yang harus aku lakukan? Kenapa ini harus jadi terakhir kalinya aku mendengar Yuna memanggilku oppa? Ini baru pertama kali aku mendengarnya. Apa aku harus memberitahunya kalau rem ini tidak berfungsi? Kalau motor ini menabrak maka Yuna yang akan tewas karena ia tidak mengenakan pengaman.

“Dua lagi.. lepas helm ku dan pakai di kepalamu, lalu peluk aku se erat mungkin!”

“Untuk apa melepas helm mu?”

“Aku ingin merasakan angin sepertimu.. cepat lepas dan pakai saja!” ia melepaskan hel yang ku kenakan, aku memastikan bahwa ia menggunakannya dengan benar dan kini dapat aku rasakan ia memelukku dengan erat. Tuhan… beri aku kekuatan untuk menghadapi ini, biarkan Yuna tetap hidup seperti gadis-gadis seumurannya. Biarkan ia melanjutkan karirnya sebagai seorang model. Biarkan gadis yang kucintai ini mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari ku.

Kini aku benar-benar tidak dapat mengendalikan motorku, berat sekali… tangan kananku menggenggam erat tangan Yuna, lalu aku memejamkan mata.

DUAR!

Agghh… menyakitkan… jelas sekali aku merasakan kepalaku membentur tembok kasar.

“Yuna! Yuna… kincanayo?” aku berusaha membangunkan Yuna, tapi sepertinya ia hanya pingsan. Aku harus mencari bantuan! Aku berusaha berjalan mencari rumah penduduk di sekitar sini, kepalaku terasa sangat pusing.

“Tuan.. tuan tunggu sebentar!” aku berusaha berlari. “Omo! Ada apa denganmu nak?” aku berusaha berdiri tegap. “Tolong panggilkan ambulans sekarang juga, kekasihku ada di sana… tolong aku.”

“Baiklah, aku akan berlari ke tempat telepon umum. Bertahanlah nak!” penduduk itu langsung berlari, sedangkan aku kembali ke tempat kami bertabrakan dengan tembok. “Yuna.. kau harus bertahan, untukku. Cintailah laki-laki yang lebih baik dariku!” aku berusaha mencari note kecil yang selalu Yuna bawa di dalam tasnya.

Hal terakhir yang bisa kulihat dan kudengar hanya suara ambulans dari kejauhan dan Yuna yang terbaring tidak sadarkan diri. “Meskipun kita tidak menjadi suami istri aku akan tetap memakaikanmu cincin ini.” percaya atau tidak tapi mataku sudah tidak bisa melihat apapun. Aku membaringkan tubuhku di sebelah Yuna dan menunggu sampai ajal benar-benar mencabut nyawaku.

“Yuna… I love you forever.”

&&&

~End Of Flashback~

Aku menggenggam erat secarik kertas di tanganku, kertas ini di temukan dalam genggaman tangan Jonghyun yang berlumuran darah. Apakah bisa aku mencintai orang yang lebih baik darimu? Karena bagiku tidak ada yang lebih baik darimu. Laki-laki penuh perhatian dan selalu melindungiku. Apakah bisa aku hidup sebagai gadis normal seperti dulu? Karena hanya kau yang bisa membuat hidupku terasa begitu normal. Apakah bisa aku kuat menghadapi hidup? Karena hanya kau yang bisa membuatku kuat.

Sampai sekarang aku masih belum bisa membuka kertas tersebut, ingin aku membaca isinya tapi aku tidak kuat. Tapi aku berusaha kuat dan membuka kertas tersebut perlahan, dan setets demi setetes air mataku mengalir. Aku tidak kuat membaca surat tersebut, jadi aku hanya membaca beberapa kata saja karena aku mengerti apa yang akan ia ucapkan.

Jika memang kau ingin aku bisa membuka lembaran hidup yang baru, Baiklah! Aku akan melupakanmu. Aku membuang kertas tersebut ke dalam tempat sampah dan berjalan keluar rumah, mencoba untuk memulai hidupku dari awal lagi.

***

Yuna,

Maafkan aku. Aku tidak menyangka bahwa pernikahan kita akan berakhir begitu saja. Bukan rencanaku mengendarai motor yang sudah rusak, aku juga sangat terkejut. Tapi aku berharap kau bisa menjalani hidupmu seperti dulu, dan mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dariku. Bukalah lembaran baru…

Tapi kumohon… jangan lupakan aku….

P.S: I Love You

~FIN~

Mian geje… kekekeke…