The Devil – Part 8

The Devil [8] : Tear and Happiness

Title : The Devil

Author : Bibib Dubu & mybabyLiOnew

Main Cast : Park Eun Hee, Lee Chaeryn, Shinee Member kecuali Jonghyun

Support Cast : Kim Jaejoong, Park Yoochun

Length : Sequel

Genre : Mistery, Angst , Family, Romance, Fantasy

Rating : PG-15

Summary :

Minho : “Aniyo, dia benar Eun Hee-ya. Key tidak mungkin pembunuh sadis itu, setidaknya Key tidak akan membunuh Jonghyun.”

Key : “Aku tidak akan membunuh Jonghyun…itu pasti, karena aku tidak mungkin membunuh saudara kandungku yang sangat kusayangi.”

Jinki : “Sial, dia mendekati kedua adikku, Chaeryn dalam bahaya juga.”

Eun Hee : “Yoochun Oppa…andwae…tidak mungkin….”

+++++

Kenapa sebagian orang menyukai kegelapan? Karena dalam kegelapan semuanya menjadi kabur, tak akan terlihat jelas seperti apa sebenarnya diri kita dengan segala luapan emosinya.

Ini bukan malam hari di saat mentari telah bersembunyi. Sang penghuni langit tersebut masih tersenyum cerah di atas sana sembari menghangatkan tubuh penghuni bumi. Namun tidak dengan situasi yang tengah ia singgahi. Penerangan dari sumber cahaya apapun ditiadakannya, jendela tak ia biarkan terbuka, dan aliran listrik pun tak diizinkan mengalir untuk menghidupkan lampu.

Tempat itu gelap. Sebuah kamar di sebuah coffee shop, seorang namja meringkuk sambil menarik kencang rambutnya agar rasa tegang di kepalanya berkurang. Ia berulang kali berusaha menghilangkan pikiran buruknya, karena selama pikiran-pikiran sejenis itu menghantui, seluruh organ tubuhnya mulai meronta—puncaknya adalah jika cairan kehitaman mengaliri tubuhnya.

Ckrekk,

Seseorang membuka pintu setelah terlebih dulu melepaskan kuncinya. Tak ingin orang lain masuk, ia menguncinya kembali. Lalu ia mendekati makhluk yang sedang meringkuk tadi. Ditariknya pelan rambut orang itu agar wajah sang pemiliknya terlihat.

Omo, Taemin, apa yang terjadi padamu?”

Orang yang baru datang tadi terperanjat. Bagaimana tidak, sorot mata berwarna merah itu sudah berpendar, begitu pula dengan sepasang taringnya yang sudah muncul dari sela bibir.

Taemin tidak membalas, hanya dengusan napasnya yang memburu yang terus bersahutan tanpa jeda. Di pikirannya kini sedang berkelebat kenangan-kenangan masa lalunya, Kim Sora—kembali muncul dalam pikirannya.

Flashback

“Selesai, sekarang lihatlah dirimu di cermin, Taemin-ah.”

Seorang yeoja meletakkan gunting yang sedari tadi dipegangnya, tersenyum puas memandangi takjub hasil karyanya. “Kau tampan,pujinya kemudian.

Namja itu tersenyum sebelum matanya terbuka sempurna, itu karena pujian dari seorang nuna yang dicintainya. Lalu, beberapa saat kemudian mulutnya membentuk huruf O saat mendapati dirinya dengan style rambut yang baru.

“Aku baru sadar kalau aku tampan, Kau orang pertama yang mengatakannya, Nuna. Selama ini orang menilaiku cantik.” Taemin makin berseri.

Sang nuna terkekeh, dalam hatinya ia memang mengakui kalau namjachingunya yang berusia tiga tahun lebih muda darinya ini memanglah seorang yang berwajah cantik. Bahkan ia pun baru kali ini melihat sisi ketampanan namjanya itu.

“Jangan pedulikan orang, cukup pedulikan penilaianku, iya kan?” Sang nuna berusaha menghibur, ia tidak ingin melihat senyum manis namjanya tergantikan oleh raut kekecewaan.

“Gomawo, Soora nuna. Kau memberiku kekuatan.”

Taemin mengelus-elus tangan yeojanya itu dengan lembut. Tidak ada lagi rambut jamur yang membuat Taemin terlihat sangat cantik, semuanya telah berganti dengan potongan pendek yang membuat sisi maskulinnya terpancar.

“Bagiku, kaulah namjaku. Tidak penting kau cantik atau tampan. Hilangkan pikiran bodohmu itu.”

Flashback End

Senyumnya mengembang, perlahan sinar merah dan sepasang taring itu terkalahkan dan mulai menghilang.

Hyung, terkadang cinta sangat indah ya…,” gumam Taemin sambil meraba-raba rambutnya yang kini telah menyerupai rambut jamur kembali.

“Tae-ya, menurutku, makhluk seperti kita tidak sebaiknya jatuh cinta. Kau tahu apa yang terjadi ketika hati kita tersakiti. Nyatanya manusia yang setia itu sangat langka, pengkhianatanlah yang lebih sering terjadi di dunia ini, berbeda dengan dunia kita.”

“Kau benar, Hyung. Soora nuna pun akhirnya mengkhianatiku. Ia benar-benar membuatku hancur karena perselingkuhannya dengan namja bernama Changmin itu.”

Raut wajah Taemin mengeras, giginya beradu menimbulkan bunyi yang cukup keras. Ia kembali merasakan kemarahan atas kisah kelamnya.

“Sekarang pun aku mengkhawatirkanmu. Taemin-ah, kau mencintai Lee Chaeryn bukan?”

“Chaeryn? Ya ampun Hyung, aku lupa hari ini aku janji mau mengantar Chaeryn belanja, sepertinya aku terlambat.”

Taemin segera bangkit, mengambil jaketnya yang tersampir di punggung kursi yang ada di ruangan tersebut. “Bye, Hyung. Gomawo telah peduli padaku, tapi Lee Chaeryn tak bisa kulenyapkan dari hidupku.”

Taemin menghilang setelah melemparkan senyuman untuk membuat hyung-nya itu lega, Kim Jaejoong, pemilik coffee shop tersebut, sekaligus majikan Taemin di dunia manusia ini— adalah devil lainnya yang senasib dengan Taemin, terlempar ke dalam kehidupan manusia.

+++++

Langkah Jinki menggebu, dibantingnya pintu kamarnya dengan kasar hingga daun pintu tersebut berdebam keras. Tidak peduli dirinya baru terpejam dua jam hari ini, ada hal lain yang harus segera diselesaikannya, Park Yoochun.

Oppa, kau sudah bangun? Makanlah, aku masak special untukmu,” pinta Chaeryn bersemangat ketika melihat oppanya turun menapaki anak tangga.

“Lain kali ya Ryn, Oppa sedang buru-buru. Gomawo atas masakannya.”

Jinki hanya berhenti sejenak untuk membalas ucapan dongsaengnya. Setelah itu ia kembali berlalu, kali ini sambil mengibas kaosnya agar tidak terlalu terlihat kusut setelah dipakai tidur tadi.

Oppa, aku benci kau yang sekarang. Kau bukan oppaku lagi!” Chaeryn bersungut kesal sembari berlalu meninggalkan Jinki yang kini terpaku mendengar pernyataan Chaeryn.

Mianhae, Ryn…aku harus menyelesaikan masalah Eun Hee dahulu…Oppa sayang kau dan juga Eun Hee. Tidak lama lagi Ryn, bersabarlah…,Jinki menatap lirih punggung Eun Hee.

Jinki melanjutkan pergerakan kakinya, kali ini ia bersiap memasuki mobilnya. Kalau saja sebuah panggilan tidak mengusiknya.

Hyung, annyeong haseyo…Chaeryn ada?”

Jinki menoleh, “Ah, kau Taemin rupanya. Ne, Chaeryn ada di dalam. Oya, hari ini aku minta tolong padamu untuk menemaninya ya, buat ia tersenyum.”

Jinki menepuk pundak Taemin, sekali—dengan mantap. Taemin menjadi grogi karenanya, permintaan sederhana namun seolah menyiratkan rasa percaya Jinki yang amat besar padanya, menemani Chaeryn.

Ne, tentu saja, kami akan belanja hari ini,” jawab Taemin gugup.

Jinki tersenyum tenang, setidaknya hari ini ada pengisi hari dongsaengnya. Setelah itu, Jinki memberi sinyal pada Taemin untuk masuk ke rumah, sementara ia sendiri masuk ke dalam mobilnya.

Taemin masuk dengan hati-hati, baginya sedikit mendebarkan masuk ke rumah orang yang hanya sedang dihuni oleh satu yeoja.

“Ryn, Chaeryn…odiseyo?” panggil Taemin dengan semangat.

Tidak ada jawaban, akhirnya Taemin menaiki anak tangga untuk mendekati kamar Chaeryn.

“Ryn, ini aku, Taemin,” sekali lagi ia memanggil.

Masih tidak ada jawaban, tapi Taemin mendengar isak tangis dari dalam kamar Chaeryn. Ia sedikit ragu untuk masuk, tapi akhirnya ia membuka pintunya perlahan.

Mian, aku lancang. Ryn, kau menangis? Apa yang terjadi padamu?”

Menyadari kehadiran Taemin, Chaeryn buru-buru menghapus air matanya—walaupun ia sadar bahwa Taemin tak bisa dibohongi, setidaknya air matanya tidak tampak di hadapan siapa pun.

“Ryn, aku tahu kenapa kau sedih, tapi kau harus dengar ceritaku. Tadi aku bertemu Jinki hyung di depan, kau tahu apa yang dikatakannya?” kali ini Taemin mendekat, duduk di tepi ranjang Chaeryn.

Chaeryn menggeleng, ia hanya menatap Taemin kosong.

“Hmm, ‘Hari ini aku minta tolong padamu untuk menemaninya ya, buat ia tersenyum’ itu yang hyung ucapkan,” ujar Taemin menirukan persis apa yang Jinki katakan. “Ia tidak lupa padamu dan kurasa selamanya prasangka burukmu itu tidak akan terjadi, ia sangat menyayangimu. Hanya saja ia sedang punya masalah rumit, bisa saja kan?”

Chaeryn kembali berbunga, dalam hatinya ia membenarkan pernyataan Taemin—bahwa Jinki oppa akan selalu menyayanginya.

Gomawo Taeminnie. Kajja, temani aku belanja dan jangan lupa pesan Jinki oppa, kau harus membuatku tersenyum hari ini.”

Chaeryn mulai bersemangat, ditariknya baju Taemin agar namja tersebut segera berdiri juga.

Ne, kita bersenang-senang hari ini,” Taemin membalasnya dengan senyuman manis.

+++++

Hanya ada satu cara menemui Eun Hee di malam hari, singgah ke dalam hingar bingar dunia malamnya. Cara itulah yang akhirnya dilakoni Minho. Setelah berhasil mendapatkan waktu Eun Hee dengan membayar sejumlah uang pada majikannya—Minho masuk ke dalam ruangan khusus tempat Eun Hee berada. Yeoja itu sendiri kaget melihat kedatangan sahabatnya, ini pertama kalinya ia melihat sahabatnya tersebut mengunjunginya di tempat seperti ini.

“Minho-ya, waegure? Kau tidak berpikiran sama dengan para pria hidung belang itu, kan?” Eun Hee mulai menatap Minho curiga.

Setelah kejadian beberapa hari lalu, saat ia melihat mobil Key menabrak seorang ahjussi dengan sengaja, yeoja itu makin tidak percaya dengan makhluk bergelar namja. Nyatanya ia merasa, bahwa jati diri seseorang bisa saja berbeda jauh dengan apa yang tampak. Sekalipun Minho adalah sahabatnya, tapi siapa yang tahu hati manusia kapan berubah dan semengerikan apa perubahannya.

Ya! Bagaimana bisa kau berpikir buruk pada sahabatmu sendiri. Aku tidak sama dengan mereka, sekali pun aku memang mencintaimu. Aku datang ke sini karena ingin membawamu pergi, lebih tepatnya memintamu menghentikan pekerjaanmu ini. Aku tidak tahan melihatmu seperti ini.”

“Kalau aku bisa, sudah kulakukan dari dulu. Jangan bicara bodoh, kau tahu kan kondisinya?” Eun Hee mencibir kesal, “satu lagi, buang jauh-jauh cintamu. Berikan saja pada yeoja lain yang masih suci….”

“Bagaimana kalau aku bisa mengatasi masalah Yoochun hyung? Dengar, sekali pun aku berhasil menyelesaikan masalamu, aku tak akan memintamu untuk membalas cinta, aku tulus.”

Mwo? Kau tahu di mana oppaku berada? Minho-ya, pertemukan aku dengannya. Aku sudah merindukannya.”

Mata Eun Hee berkilat, statement Minho tentang cintanya pun seolah angin lalu, hanya oppanya yang ia pikirkan. Ada nada menggebu tertangkap dari perkataannya. Bagaimana tidak, baginya Yoochun adalah hartanya yang tersisa, setelah mutiaranya tak lagi berkilau.

“Waktunya akan tiba, aku akan menyelesaikan masalahmu ini. Bersabarlah Eun Hee….”

Ne, aku akan menunggu.”

Suasana menjadi hening, tidak ada yang berbicara untuk sesaat, keduanya hanya saling memandang.

“Minho-ya…aku sudah tahu siapa pembunuh Jonghyun.”

Helaan napas Eun Hee mulai terdengar berat, ia berpikir bahwa orang yang sangat dicintainya justru dibunuh oleh orang yang baru saja berhasil meyakinkan hatinya bahwa tidak semua namja itu busuk, dia—Key.

Minho terkesiap, menunggu jawaban Eun Hee selanjutnya. “Nuguseyo?” tak sabar menunggu lanjutannya, Minho pun segera bertanya.

“Dia…K—Key.” Kata-kata Eun Hee sempat tertahan saat nama Key disebutkannya, rasanya ia ingin mengingkari semua ini.

“Key?” Minho bingung harus menampakkan ekspresi jenis apa. Di dalam pikirannya ia jelas tahu bukan Key yang membunuh Jonghyun, “kenapa kau menyimpulkan seperti itu?”

“Key… hiks… kukira dia namja baik-baik, berbeda dengan namja lainnya… tapi kemarin… hiks… aku melihatnya menyerempet seorang ahjusshi yang ingin menjamahku dari belakang…,” Eun Hee mulai terisak.

Minho diam seribu bahasa, tubuhnya pun seakan membatu mendengar pernyataan Eun Hee, padahal otaknya sudah memberi perintah untuk meredam isakan Eun Hee.

Pasti ada yang salah, batin Minho.

+++++

Sedikit ragu untuk kembali melakukan pengamatan, ada perasaan tidak ingin menjadi tertuduh lagi seperti kemarin. Namun rasa penasarannya lebih mendominasi, akhirnya malam itu Key kembali memarkirkan mobilnya di dekat klub malam tempat Eun Hee bekerja, tapi kali ini ia berhati-hati dengan menggunakan mobil yang berbeda tentunya.

Sembari mendengarkan alunan music klasik dari earphone-nya, dari dalam mobil—ia mengamati sekeliling, berharap ada mobil-mobil yang bisa ia curigai.

Merasa bosan tak menemukan apapun, ia mengingat kembali detail kejadian kemarin. Tak lama terlintas sesuatu di otaknya.

“Nomor plat mobilnya… ishhh… bodohnya aku tidak sempat melihatnya…,” ia meremas rambutnya karena kesal akan kebodohannya.

Ia melirik jam tangannya, seharusnya ini sudah waktunya Eun Hee pulang. Ia mulai siaga, siapa tahu kejadian kemarin terulang. Dilepasnya earphone yang menyumpal kupingnya, tidak ingin pendengarannya tersumbat karena bisa jadi ada suara-suara sekitar yang dilewatkannya.

Tak lama sosok yang dinanti muncul. Eun Hee melangkah dengan elegannya, mini dress silver dengan bagian punggung terbuka melekat di tubuh moleknya.

Setelah merasa yakin bahwa tidak ada sang penabrak misterius itu, Key memutuskan untuk keluar dari mobil untuk menyelesaikan kesalahpahamannya dengan Eun Hee kemarin.
“Eun Hee-ssi,” panggil Key sesaat setelah ia menutup pintu mobilnya, ia segera menghampiri yeoja itu.

Cih, kau,” desis Eun Hee pelan, ia segera memalingkan wajahnya dari Key.

“Kau salah paham… ada mobil lain di depanku saat itu, mobil itu yang menewaskan ahjusshi kemarin… Lagipula kau lihat aku sekarang, polisi saja sudah menyatakan aku tidak bersalah, karena memang tidak ada bukti yang bisa didapat setelah pemeriksaan terhadap mobilku dilakukan.”

Eun Hee masih tak percaya, “Kau pasti mempermainkan hukum? Berapa banyak uang sogokanmu?’ sindirnya tak berselang lama.

Aniyo, dia benar Eun Hee-ya. Key tidak mungkin pembunuh sadis itu, setidaknya Key tidak akan membunuh Jonghyun.”

Minho muncul dari dalam gedung penuh kegemerlapan malam tersebut, membuat Key seketika khawatir akan lanjutan perkataan Minho.

“Minho? Kau tidak salah membela namja ini?” Eun Hee menatap heran sahabatnya.

“Dia benar…Eun Hee…baiklah…aku akan mengaku…,” Key menghela oksigen di sekelilingnya dengan berat, ia menundukkan kepalanya sejenak namun tak lama justru menengadahkan kepalanya ke langit malam nan gelap.

“Aku tidak akan membunuh Jonghyun… Itu pasti, karena aku tidak mungkin membunuh saudara kandungku yang sangat kusayangi.”

Tubuh Eun Hee bergetar, tidak percaya akan pengakuan Key. “Andwae, kau pasti bohong…,” kali ini suaranya pun terdengar parau, seolah tertahan di tenggorokan, dipaksa keluar sehingga terdengar sedikit mengenaskan dan bergetar.

“Aku tidak berbohong,” Key menegaskan, “awalnya aku ing….”

“Cukup Hyung, tinggalkan tempat ini segera,” Minho segera menyambar, ia sudah bisa menerka lanjutan pengakuan Key, ia tidak ingin Eun Hee tahu bahwa Key mendekatinya karena ingin balas dendam. Minho menyadari bahwa yeoja yang sangat dicintainya itu, mencintai Key.

“Aku harus menjelaskan,” Key tak menyerah, ia meraih pergelangan tangan Eun Hee, bermaksud menarik Eun Hee agar bicara empat mata dengannya, tanpa Minho.

“Setidaknya bukan saat ini. Hyung, kau akan menyakiti Eun Hee lebih banyak.”

Minho melepaskan tangan Eun Hee dari Key, lalu matanya memberi isyarat pada Key berupa gerakan mata ke kiri bawah dua kali—pertanda agar Key tidak melakukannya.

Tidak tahan dengan situasinya, Eun Hee berlari meninggalkan Minho dan Key yang masih bertahan dengan raut wajah penuh ketegangan.

“Jangan keras kepala,” Minho menekankan sebelum akhirnya ia berlari kencang agar bisa menyusul Eun Hee.

“Arggghhh…,” Key mengerang kesal, ia belum menuntaskan seluruh pengakuannya pada Eun Hee karena tertahan oleh Minho. “Minho sialan!” rutuknya kesal.

+++++

Pintu rumahnnya sudah di depan mata, Eun Hee turun dari motor Minho dan berjalan begitu saja tanpa berucap sepatah kata pun pada namja yang memaksanya untuk mengantarkan pulang itu.

“Eun Hee-yaJwisonghamnida…,” ucap Minho sesaat setelah ia melepas helmnya, gaya bahasanya mendadak sedikit kaku melihat rauh wajah Eun Hee yang tidak bersahabat.

Eun Hee mendelik kilat, melayangkan sorot mata penuh kekecewaan pada Minho. “Kau ingin minta maaf karena menyembunyikan beberapa hal dariku? Tentang Key adalah adik kandung Jonghyun? Begitukah?” tanya Eun Hee sinis.

Ne, aku memang harus minta maaf untuk itu. Tapi, sebelum itu… bisakah kau kembalikan helm-ku?” dengan ragu Minho berkata seraya menunjuk helmnya yang masih dipegang Eun Hee.

Mwo? Ah, mian, aku lupa,” Eun Hee tersipu malu. Ia yakin saat ini wajahnya tampak kikuk di mata Minho, ia segera menjulurkan helm yang dimaksud ke arah Minho

Minho tersenyum sembari menerima helm-nya, “Nah, kau sudah tidak marah?”

“Siapa bilang? Aku masih marah,” gengsi Eun Hee terlalu tinggi rupanya.

“Hmmm… aku mengenalmu Park Eun Hee… kau bukan marah padaku, tapi pada Key, benar kan?” sekali lagi Minho mengeluarkan senyum manisnya, berharap agar yeoja di hadapannya tak lagi memasang wajah cemberut.

“Oke, aku marah pada Key. Dan aku memang bukan marah padamu, tapi kecewa. Kenapa kau harus menyembunyikannya dariku? Bukankah kita sahabat? Sejak kapan kau mengenal Key dan sejak kapan pula kau tahu hubungan Key dan Jonghyun?” Eun Hee menatap Minho lurus, menodongkan pertanyaannya sembari melipat tangannya di dada, menandakan kalau ia punya hak besar untuk mendengar jawaban sahabatnya itu.

“Aku mengenalnya karena ia memberitahuku tentang keberadaan Yoochun hyung. Dan mengenai hubungan Key dan Jonghyun, aku baru mengetahuinya selama beberapa hari ini dari sebuah Koran.”

“Yoochun oppa? Dia mengetahui oppaku? Kenapa bisa?” Eun Hee mencecar Minho dengan pertanyaan dasarnya.

“Sebelum kujawab, aku ingin bertanya, apa benar malam itu, malam di mana Jonghyun tewas, kau telah bertemu dengannya?”

Ne, dan dia menjadi tamuku malam itu, dia…,” mata Eun Hee berair, hatinya perih mengingat perlakuan Jonghyun padanya malam itu, betapa tidak—Jonghyun yang menjadi penghuni penting di hatinya, tega menghabisinya juga malam itu.

“Sudah, tidak usah dilanjutkan… aku tahu apa yang ingin kau ucapkan. Baiklah… besok malam, jangan pergi kerja, aku yang akan berurusan dengan bos-mu. Kita pergi ke tempat oppamu…”

+++++

Pagi yang cerah. Apa kau tahu seberapa besar semangat yang dimunculkan oleh pagi? Coba kau rasakan, ketika pagi datang—seringkali kita berubah mood menjadi lebih baik karena dalam otak kita ada sebuah pernyataan, hari telah berganti dan semoga hari ini lebih baik dari kemarin.

Begitu pula dengan Chaeryn, setelah kemarin mood-nya diperbaiki oleh Taemin, pagi ini ia mencoba mendekati Jinki, berharap oppanya sudah tidak terlalu sibuk. Ia mengendap-endap memasuki kamar Jinki yang memang jarang terkunci.

Ada gundukan panjang di balik selimut, siapa lagi kalau bukan Jinki. Namja bermata sipit itu masih meringkuk dalam kehangatan selimutnya sampai-sampai tak menyadari kalau di samping ranjangnya kini ada Chaeryn yang masih ragu-ragu untuk menarik selimutnya.

Opppaaaa…ireona…! Sejak kapan kau jadi pemalas, huh.”

Akhirnya suara teriakan Chaeryn yang menggelegar itu membuat Jinki menggerakkan kelopak matanya.

“Ah…masih gelap…aku ngantuk…,” ucapnya setengah sadar, ia merasa dunia sekelilingnya masih gelap karena memang matanya belum terbuka sempurna dan ia melihatnya dari balik selimut.

Oppa, ini sudah jam delapan…ayo antar aku ke kampus…aku tidak mau terlambat, kau tahu kan dosenku galak?” Chaeryn merengek, kali ini ia memutuskan untuk menarik paksa selimut Jinki dengan sekuat tenaga hingga terlihatlah sosok Jinki yang terbalut kaos oblong dan celana boxer.

“Ryn, Oppa lelah…kau minta dijemput chingumu saja ya?” Jinki menanggapi dengan kelopak mata yang masih terkatup, rupanya setan-setan begitu senang menggelayuti matanya.

“Ya! Oppa.., k-kau…,” ucapannya tertahan karena ia merasakan saku celananya bergetar, sumbernya adalah ponsel yang ia taruh di sana.

Key Oppa

Calling…

Matanya membulat, penuh kilatan kegirangan melihat nama sang pemanggil.

“Ryn, cepat keluar, aku menjemputmu…,” suara Key langsung terdengar begitu ia mengangkatnya.

Ne…aku keluar Oppa~” sahutnya girang. “Kau beruntung Jinki Oppa, pangeran Key-ku menjemput… kita bikin perhitungan lain kali…,” Chaeryn berceloteh sembari berlari penuh semangat keluar dari kamar Jinki.

Nugu? Key?” Jinki langsung terlonjak begitu menyadari nama yang disebut dongsaengnya. Ia buru-buru bangun dari ranjang dan mengenakan celana jeans-nya yang tergantung asal di balik pintu.

Sementara itu, Chaeryn telah mendapati prince-nya. Ia tersenyum manis mendapati Key yang sudah duduk di kursi yang terdapat di teras depannya.

Morning Oppa… Bagaimana kau tahu alamat rumahku?” Chaeryn duduk di kursi yang ada di sebelah Key.

Morning Saengie… Tentu saja dari Hyeri. Kalau bukan dia, dari siapa lagi. Eh Ryn, itu mobil siapa?” Key membalas sapaan Chaeryn, namun pikiran Key sebenarnya tertuju pada sebuah mobil yang terparkir di depan rumah Chaeryn, ia merasa mobil itu tidak asing baginya.

“Ah…itu mobil Jinki oppawaeyo? Key Oppa, kau bilang mau menjemputku kan? Bisakah kita berangkat? Aku kuliah pagi.”

Chaeryn melirik jam tangannya, wajahnya mulai diliputi rasa gusar mengingat sekitar 40 menit lagi kelas pertamanya dimulai, ia tidak pernah terlambat sekalipun selama hidupnya.

Key menuruti permintaan Chaeryn dengan berat hati. Di pikirannya masih menari-nari nama Jinki, menerka-nerka apakah Jinki yang dikenalnya sama dengan Jinki oppanya Chaeryn dan mengingat-ingat apakah mobil yang ia tanyakan tadi—adalah mobil yang sama dengan mobil yang membuatnya mendapat cap ‘pembunuh’ dari Eun Hee.

Di ruang ramu, Jinki mengamati Key dan Chaeryn yang kini akan memasuki mobil Key.

“Sial, dia mendekati kedua adikku. Chaeryn dalam bahaya juga.”

Jinki menggedukkan kakinya sekali ke lantai, ia merasa dihantui oleh kehadiran Key di sekitar orang-orang yang disayanginya, Eun Hee dan Chaeryn….

+++++

Tatkala kita muda, dunia harusnya terasa indah. Kisah perjuangan, percintaan, dan persahabatan memberikan warna tersendiri dalam hidup. Sebagian pemuda menyadari bahwa masa muda harus kaya akan warna namun harus tetap mengarah pada langkah menuju kesuksesan masa selanjutnya. Tapi, sebagian lagi lupa—terbuai oleh keindahan dunia yang hanya sesaat.

Ada yang hanya terpaku pada masalah cinta, seolah terjebak dalam pernyataan ‘cinta adalah segalanya dan cinta adalah bagian yang paling mempengaruhi dalam hidup’.

Seperti dia, Lee Taemin, Ia terjebak dalam rasa cintanya pada Chaeryn, sehingga seringkali api cemburu menguasainya.

Siang ini ia dan Chaeryn berencana menjelajahi beberapa tempat kuliner. Alhasil dengan semangat yang menggebu, ia menarik tangan Chaeryn yang saat ini masih sibuk membereskan buku-bukunya.

“Tae-ya…sabarlah…aku belum selesai,” Chaeryn mengomel dengan tawa kecil yang menghiasi wajahnya, ia sedikit geli melihat semangat Taemin.

“Ah, mianhae… Aku tunggu di depan ya… Aku ingin menghirup udara segar di luar ruangan.”

Ne, kau keluar saja dulu. Lagipula Hyeri bilang ada yang diingin dibicarakan empat mata denganku. Benar kan, Hyeri-ya?” Chaeryn melirik ke arah Hyeri yang masih menopangkan dagunya dengan raut wajah yang nampak berpikir keras.

“Ah, ne, sebentar saja Ryn,” jawab Hyeri setelah tersadar dari lamunannya.

“Baiklah…,” Taemin melambaikan tangan sesaat, ia berjalan keluar kelas.

Kini tinggal Chaeryn yang berhadapan dengan Hyeri. Chaeryn merasa kalau hal yang dibicarakan Hyeri akan berbau serius—hal itu terpancar dari mimik wajah Hyeri sekarang.

“Oke, Ryn… sebenarnya ini pertanyaan yang sudah kutahu jawabannya, hanya memastikan. Apa betul kau mencintai Key oppa?”

Nde? Ah… kenapa kau menanyakannya?” Chaeryn tersipu malu, wajahnya bersemu merah.

“Kau hanya perlu menjawab iya atau tidak,” Hyeri membalas tegas, ini membuat Chaeryn menegang.

Ne, aku menyukainya, ada yang salah?” Chaeryn membalas dengan mantap, walau ia menangkap ekspresi tidak suka dari wajah sahabatnya itu.

“Sekalipun nantinya dia tak memiliki perasaan apapun?” Hyeri lanjut bertanya.

“Cinta tak butuh balasan, menurutku begitu.”

“Sekalipun suatu saat kau ada dalam bahaya karenanya?” kali ini Hyeri bertanya lirih, jauh di dasar hatinya ia sangat takut akan kehilangan Chaeryn.

“Cinta itu pengorbanan, aku yakin itu,” Chaeryn menjawab yakin setelah berpikir beberapa saat.

“Bailah Ryn…,” Hyeri menatap Chaeryn tajam, “aku menyayangimu… kau sahabatku… selamanya… Aku tak ingin kehilanganmu…,” sesaat kemudian nada bicara Hyeri membuat Chaeryn bergidik karena sahabatnya ini mendadak berubah suasana hatinya.

Nado…,” balas Chaeryn sambil meraih Hyeri ke pelukannya, meskipun ia tidak mengerti maksud perkataan Hyeri yang terakhir.

Dialog itu bagai petaka bagi Taemin, sang devil yang berkuping tajam—yang menangkap percakapan itu dari luar kelas. Tangannya mengepal keras, ingin rasanya meninju tembok tapi buru-buru diurungkannya. Ia segera berlari mencari tempat sepi, khawatir sosok aslinya muncul di hadapan banyak orang. Devil is coming again….

+++++

Malam yang melelahkan bagi Minho setelah seharian ini ia mulai menjejakkan kakinya kembali di perusahaan appanya, dilanjutkan dengan kuliahnya sampai jam sembilan malam. Dan kini ia tengah membonceng Eun Hee untuk menemui oppanya.

Bagi Minho, rasa lelahnya bukanlah hal yang besar jika dibandingkan dengan kebahagiaan Eun Hee untuk melihat oppanya, hanya melihat. Minho menekankan pada Eun Hee, tujuan mereka kali ini hanya melihat. Minho beralasan bahwa posisi Yoochun tidak sebebas yang terlihat, ia diawasi sehingga tidak bisa bertemu Eun Hee—apalagi kabur.

Eun Hee menerima alasan tersebut, karena selama ini pun ia rela bekerja sebagai wanita penghibur karena adanya ancaman akan keselamatan oppanya.

Motor Minho menyalip lincah, melaju kencang di jalanan yang kondisinya cukup dipenuhi kendaraan malam itu. Eun Hee yang malam itu mengenakan hoodie ungu pun merasa ketar-ketir merasakan kecepatan yang digunakan Minho.

Aksi Minho tidak sia-sia. Keduanya sampai di tempat tujuan dalam durasi yang tidak sampai satu jam, terbilang sebentar mengingat jaraknya yang lumayan jauh.

“Minho-ya… ada apa di tempat ini?” Eun Hee yang lebih dulu turun dan melepas helm-nya, merasakan hatinya bergetar hebat saat melihat sebuah kedai yang masih terbuka lebar pintunya.

Bukanlah hal aneh jika suatu kedai buka sampai tengah malam. Tapi ini berbeda dengan biasanya… Eun Hee menyaksikan pemandangan menyerupai rumah duka terbentang di hadapannya.

“Siapa yang meninggal?” bisiknya lirih.

Kepala Minho bergerak menuju arah yang sama dengan arah pandang Eun Hee, pintu rumah yang ada di dekatnya. Dan seketika sebuah prasangka bermunculan di kepalanya, tapi ia berusaha menepisnya kuat-kuat.

Eun Hee mempercepat langkahnya, tidak sabar untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Tak lama ia terduduk lemas di pintu sebuah ruangan paling awal yang ia jumpai. Sebuah altar disaksikannya dan di sana pula ia mendapati sebuah bingkai yang memajang potret diri orang yang dicintainya.

“Yoochun Oppaandwae …tidak mungkin…,” lirihnya setelah agak lama terduduk lemas. Akhirnya ia berusaha menguatkan diri berjalan menuju altar yang memajang potret oppanya.

Matanya langsung dibanjiri cairan bening, ia tidak mampu membendung isak tangisnya menyaksikan sebuah kenyataan terpahit sepanjang hidupnya, kematian Yoochun oppa.

Minho hanya bisa terhenyak mendapati kenyataan pahit itu, tidak bersedih karena sebenarnya ia tahu bahwa Yoochun memperalat Eun Hee selama ini. Ada semacam perasaan lega, namun hanya setitik. Selebihnya didominasi pada kemarahan akan takdir, mengapa Yoochun harus tiada di saat jalan menuju kebahagiaan Eun Hee dapat tercapai sebentar lagi. Perasaan Eun Hee lah yang menjadi pikiran Minho saat ini. Ia tahu Eun Hee merasa sangat terpukul dan kehilangan.

Sebelum masuk ke ruangan berduka, Minho menghampiri seorang ahjumma yang kebetulan baru keluar dari ruangan yang dimaksud.

Jwisonghamnida… Bibi, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanyanya sesopan mungkin dengan volume suara yang tidak mengganggu orang lain.

Ahjumma tersebut menahan langkahnya sebentar, ia mengangguk tanda mengizinkan. Tampak betul ia pun merasakan kesedihan atas kematian Yoochun. Bagaimana tidak—Yoochun adalah kekasih anaknya, yeoja yang berteriak saat menyaksikan perkelahian Minho-Key tempo hari.

“Apa penyebab kematian Yoochun hyung?” Minho berusaha agar nada bicaranya terdengar datar, tidak boleh ada warna emosi di dalamnya.

“Dia dibunuh oleh orang yang sangat keji. Menurut polisi, sebelum dibunuh tubuhnya sudah dipenuhi luka tusuk. Namun yang menjadi penyebab kematian utamanya adalah peluru yang menembus keningnya,” Sang Ahjumma menceritakan sembari menghapus air matanya yang bertumpahan.

Mianhamnida, Bibi, aku membuatmu menangis…,” Minho merasa bersalah membuat ahjumma di hadapannya berlinang air mata. Ia segera mengambil sapu tangan dari tas ranselnya untuk kemudian diberikan pada ahjumma itu.

“Dan, di keningnya tertempel tulisan… ‘I’m a Devil because I Eat My Sister’. Apa kau tahu maksudnya?”

Minho tercengang, otaknya seketika memunculkan dua nama, Key atau Jinki?

TBC…

+++++

Yaudah deh readers…gomawo yah yang udah mau baca tulisan gagal ini *terharu*…jangan lupa komennya…Don’t be silent reader, Ok?

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

23 thoughts on “The Devil – Part 8

  1. Waaa.. Yoochun meninggal?? Dan tulisan di keningnya……. Aigoo.. Masalahnya masih banyak..
    Uh,,, kadang gemes sama jinki yg suka maen ambil keputusan seenaknya..
    Taem imutnya nempel terus.. Kecuali kalo aura devilnya dah keluar.. Hiii sereeemm…
    Lanjutkan…
    Ditunggu^^

    1. innalillahi :O

      huum. smkin k sini makin pelik ya.. huhuhu

      iya tuh .. jinki g mau kerja sama..

      gomawo udh bc n komen
      tunggu aj ya

  2. uwwooo…akhrx eun hee tau jg klo si kunci trsayangq bkn pmbunuh….tp knp aq ngrasa key dlm bhya y…
    i2 yg ngbunuh yoochun psti jinki…
    weleh..weleh…uri minho mw gntiin posi2 key jd dtektif nih…
    kykx udh msk part2 akhir y…
    pnasaran sm next chapt…lanjut…

    1. key dlm bhya???
      ayo kita amankan key…

      hahaha minho brbkt juga ya jd detektif…

      iya nih..
      makin mndkti akhir..
      thanks ya
      tunggu aj

  3. Akhirnya.. Jinki mulai gx percaya sama Key… Klo dilihat-lihat bakalan jadi konflik seru nihhh… Ngerasa dua adeknya terancam sihhh….

    Hmm,,, ini tho yg di Bilang bibib klo sering bikin yoochun sengsara selain Key…. Si ochun mati…. Ngenes banget lagi itu… Yakin dah, Jinki lagi pelakunya…. I’am devil, i’am eat donsaeng… Huwahhh,,, ini mah si Jinki yg pantes dpt sebutan devil,,, hih,, malah lebih sadis dr devil aslinya…..

    Bibib sama Rahmi Eon sukses deh… Aku sama sekali gx bisa ngeraba buat lanjurannya,, dipikir kayak apapun, sama sekali gx ada bayangan yg pas…hahaha

    baiklah ditunggu selanjutnya… Semangat itu berdua!!!

    1. Jiahaha, senengnya eonni engga bisa ngeraba…

      Iya kan, Uchun aja kubuat sengsara. Aku ini fans aneh, seneng menyengsarakan bias, ehehe…

      Yoyo eonni, berkunjunglah lagi ke part 9 ^^
      Gomawo udh baca n ninggalin Jejak🙂

  4. hwaaa~
    daebak thor keren bgt,
    yoochun mati, aiish it pasti ulahnya jinki deh, aq sm sX ga bsa ngebayangin lanjutan nya aplg akhirnya,
    authornya daebakk bgt deehh..
    penasarn bgt dgn next part nya, ditunggu ya thor jgn lama”😀

  5. iiicch ,, gemesss ….
    koq jinki berbuat seenak engkongnya sech ..
    setiap part selalu bikin deg deg’an dan penasaran !!
    gag sabar baca lanjutannya !!!!!!!! >_<

  6. posisinya jinki oppa udah ga aman nih, key udah mulai curiga sm dia. minho juga, apalg pas baca tulisan di kening yoochun! aku ga bisa komen bnyk sprti part2 sblmnya eonnideul, pnsaran bnget ini sm part slnjutanya😀

  7. Thoooor thoooor sumpah aku gak ngerti pas yang ini
    “Ahjumma tersebut menahan langkahnya sebentar, ia mengangguk tanda mengizinkan. Tampak betul ia pun merasakan kesedihan atas kematian Yoochun. Bagaimana tidak—Yoochun adalah kekasih anaknya, yeoja yang berteriak saat menyaksikan perkelahian Minho-Key tempo hari.”
    Bukannya yang teriak waktu Minho-Key berantem itu si Eun Hee?? Terus kok dibilangnya kekasih anaknya? Bingung akuuuu -____-

    Terus itu Yoochun dibunuh sapaaaaa?:O

    1. bingung ya? jd gini, waktu di part2 sebelumnya, pernah kan Minho-Key ke tempatnya Yoochun. Saat itu key-Minho pura2 berantem buat mancing yoochun muncul. Nah, ga lama ada yeoja kan yg teriak? trus ga lama lagi ada yoochun keluar.
      Aku minta maaf banget karena ga inget kejadian itu ada di part berapa

      jd si ahjumma itu ibu dari yeoja itu…masih bingung ga? Maaf ya kalo penjelasanku ga membantu…
      makasih banyak udah mau baca ^^

      makasih juga buat yang lain yang udah baca…maaf banget aku ga bales satu2

  8. Ya ampun itu sapa yg bunuh yoochun??
    jgn2 jinki ya..
    kayaknya chaeryn dlm bahaya deh
    kalo terus2an dia sm key bisa aja dia tar yg d bunuh taemin
    jdi tu mksudnya jadiin chaeryn sbg umpan
    lanjut baca lagi…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s