Between Two Hearts – Part 8

Between Two Hearts[8] : The Key Of This Secret

Title : Between Two Hearts

Author : Bibib Dubu

Main Cast  : Choi Minho, Kim Kibum, Lee Serra, Han Sunny

Support Cast : Lee Taemin, Key’s Secretary.

Length : Sequel

Genre : Family, Romance, Life

Rating : PG-15

Summary:

Key : “Memang sulit dipercaya, tapi yang barusan itu logis. Inilah yang membuat kita terjebak dalam kebuntuan, karena subjektivitas seringkali membuat pikiran kita terhalang dari jalan berpikir yang benar. Kita selalu beranggapan Sunny adalah manusia sempurna—tanpa keburukan berarti. Itu karena kita memang memiliki perhatian khusus untuknya. Tapi ada saatnya pintu pikiran kita harus terbuka.”

+++++

Author’s POV

“Kau tidak sedang berbohong kan, Serra-ssi, ani, Han Sunny?”

Serra melirik cepat, lagi—ia mendengar nama Sunny disebutkan lagi, membuatnya bertambah memikirkan seperti apa wujud Sunny yang sebenarnya, semirip itukah Sunny dengannya? Mengapa semua orang dekatnya membicarakan Sunny dan terlibat hubungan dengan yeoja itu? Ada sedikit kecemburuan. Minho terjerat Sunny, Key seolah cinta mati pada Sunny, lalu sekarang namja bernama Jonghyun ini pun mengungkit nama Sunny. Sepopuler itukah Sunny?

Aniyo, aku bukan Sunny, aku Lee Serra. Berhenti menyebut nama itu, dia yeoja keji yang nyaris menghancurkan rumah tanggaku. Apa kau tahu apa yang telah dilakukannya? Ah, sudahlah, yang terpenting nampyeon-ku telah kembali padaku, kuanggap tidak ada lagi dendamku untuk yeoja yang bahkan belum pernah aku jumpai itu. Permisi, aku sibuk.”

“Ya! Jangan sembarangan! Sunny-ku tidak akan berbuat seperti itu, dia yeoja baik-baik, jaga mulutmu! Aku tidak sungkan-sungkan menghajar orang yang menghina sahabatku, sekalipun orang itu yeoja.” Raut wajah Jonghyun mengeras, tangannya terkepal perlahan namun masih berusaha ia tempatkan di samping tubuhnya, bagaimanapun ia merasa tidak kuasa melayangkan tinjunya pada orang yang sangat mirip Sunny ini.

“Aku tidak bicara sembarangan, silakan tanya pada Sunny-mu itu. Carilah kejujuran di matanya, lihatlah siapa yang hitam dan siapa yang putih, tidak mungkin ada zona abu dalam masalah ini. Permisi Jonghyun ssi!”

Jonghyun membeku di tempat, merasa terpukul dengan ucapan Serra yang terkesan meyakinkan—bahwa Sunny tidak selurus yang dipikirkannya, bahwa benar Sunny adalah perusak rumah tangga orang, nyaris. “Kau pasti berbohong, Sunny tidak mungkin merebut suami orang…,” lirih Jonghyun.

Bagaimanapun, seorang sahabat adalah orang pertama yang senantiasa berada di barisan terdepan, melindungi, mempercayai dan memberikan kekuatan untuk sahabatnya. Tidaklah mudah bagi Jonghyun untuk mempercayai perkataan orang tentang keburukan sahabatnya, setidaknya sampai ia bertanya sendiri pada Sunny dan memastikan kebenarannya.

+++++

Serra’s POV

Berlari, melewati Minho begitu saja. Air mataku sudah melesat deras sejak tadi, entah kenapa aku benci dengan suasana ini. Ada perasaan marah pada Sunny, tapi ada pula suara-suara yang mengutuki diri sendiri karena aku marah pada Sunny. Apakah salah kalau aku membenci Sunny? Nyatanya aku ingin, tapi ada bisikan yang menahanku untuk tidak melakukannya. Kenapa? Aku tak kunjung menemukan jawabannya.

Kumasuki kamarku, menenggelamkan wajahku di atas sebuah bantal, membiarkan air mataku membasahi cover peach-nya itu.

Sayup-sayup kudengar suara langkah seseorang memasuki kamar, itu pasti Minho. Kumohon, jangan membuatku bertambah kalut, Minho-ya….

Tidak lama, ia merebahkan diri di sebelahku, mengelus kepalaku lembut dengan hembusan nafas beratnya yang terasa menusuk tengkukku—membuat tangisku kian menjadi karena muncul perasaan bersalah padanya—aku pasti telah membuatnya bingung dengan sikapku yang akhir-akhir ini tidak jelas.

“Serra-ya, jangan sembunyikan tangismu dariku, biarkan aku melihatnya—kita berbagi duka bersama. Aku sakit melihatmu menangis, melihatmu menghindariku—seolah kita ini bukan sepasang suami-istri karena kita tidak saling membuka diri.”

Aku menganggkat wajahku, memiringkan arah wajahku ke arahnya, lalu kembali menurunkan kembali ketinggian kepalaku dengan posisi saling bertemu muka dengannya. Kulihat matanya, basah, ada genangan air mata yang ditahannya.

“Minho-ya, pertemukan aku dengan Key, aku ingin tahu lebih banyak tentang Sunny,” pintaku langsung, tidak ingin lagi berbasa-basi, bukankah baru saja ia mengatakan bahwa suami-istri harus saling membuka diri.

“Biarkan aku berpikir dulu.” Minho menatapku lama, tapi aku tahu pikirannya sedang jauh dariku, menerawang jauh—terlihat dari kekosongan di dalam sorot matanya.

Wae? Kenapa harus berpikir dulu? Memangnya apa yang salah kalau aku bertemu dengan Key?” Aku mengernyitkan dahi, masih tidak menerima jawabannya. Kenapa seolah tidak diizinkan? Apakah ia masih menyembunyikan hal lain yang berkaitan dengan Sunny?

Minho’s POV

“Minho-ya, pertemukan aku dengan Key, aku ingin tahu lebih banyak tentang Serra.”

Aku tidak percaya Serra meminta hal seperti ini, biasanya dia adalah tipikal orang yang tidak ingin tahu banyak tentang orang hingga ke dasar-dasarnya. Sekarang?

Haruskah aku mempertemukannya dengan Key? Jangan, aku sedikit tidak rela.

“Biarkan aku berpikir dulu,” jawabku dengan setenang mungkin, padahal hatiku sedang tidak menentu.

Wae? Kenapa harus berpikir dulu? Memangnya apa yang salah kalau aku bertemu dengan Key?”

“Tidak ada yang salah, hanya saja…Serra-ya, aku takut kau menyukai Key.”

Ya, aku takut, bagaimanapun orang yang namanya pertama kali disebutkan Serra ketika siuman adalah Key. Bukan tidak mungkin, mengingat Key adalah namja yang cukup memesona, kehangatannya membuat orang nyaman—aku pernah mendengar cerita dari beberapa orang tentang Key.

“Kau tidak percaya padaku?” Serra tampak kecewa, ya, kurasa dia memang kecewa karena aku tidak mempercayainya.

“Bukan tidak mungkin, bisa saja dalam alam bawah sadarmu ketika kau koma, kau bermimpi bertemu Key. Ada bukan orang yang jatuh cinta di dalam mimpi, seperti yang sering ada di dalam kisah-kisah fiksi?”

“Aku tidak pernah bertemu dengannya, kau jangan bertingkah konyol. Bagaimana mungkin aku menyukainya, bahkan aku tidak tahu kenapa aku menyebut nama Key sewaktu aku sadar. Tapi satu yang tidak kusuka adalah ketidakdewasanmu. Tapi baiklah, kalau tetap tidak ingin mempertemukanku dengan Key. Itu hak-mu, Tuan Choi!” sentaknya kasar.

Mwo? Apa yang dikatakannya barusan? Sejak kapan ia berani berkata kasar padaku?

“Serra-ya, apa kau sadar mengenai apa yang baru saja kau ucapkan?” Aku berusaha mengendalikan diriku, walaupun sebenarnya aku tidak suka dengan ucapannya barusan.

Of course, aku sadar. Memangnya apa yang salah? Kau tidak terima karena dikatakan tidak dewasa? Terimalah kenyataannya.”

Oh Tuhan…sejak kapan nada bicara maupun perkataannya menjadi kasar dan ketus seperti ini? Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi?

Ani, kau boleh menilaiku seperti itu karena kuakui aku tidak dewasa, rasa cemburuku sangat besar saat ini. Tapi, bukan itu masalahnya. Serra-ya…apa kau menyadari bahwa gaya bicaramu sangat aneh? Silakan kau renungkan, aku tidak mau mengguruimu. Lebih baik sekarang kita menenangkan diri dulu, jangan bicara dengan emosi. Oke?”

Author’s POV

“Ani, kau boleh menilaiku seperti itu karena kuakui aku tidak dewasa, rasa cemburuku sangat besar saat ini. Tapi, bukan itu masalahnya. Serra-ya…apa kau menyadari bahwa gaya bicaramu sangat aneh? Silakan kau renungkan, aku tidak mau mengguruimu. Lebih baik sekarang kita menenangkan diri dulu, jangan bicara dengan emosi. Oke?”

Serra tertohok, ia hanya mampu membisu, memikirkan kebenaran ucapan Minho. Ia bertambah gila karena tidak mengerti dengan perubahan yang terjadi dalam dirinya. Ia memutuskan untuk diam karena saat ini tengah terjadi pertentangan di dalam batinnya. Separuh membenarkan ucapan Minho, separuhnya lagi masih terjebak dalam egosentrisme.

Give me time, Minho-ya. Let me think first,” Serra akhirnya berkata lirih, memandang jauh ke arah pintu kamarnya—seolah pikirannya mendorong tubuhnya untuk keluar dari ruangan ini kalau tidak ingin kebuntuan terus merongrongnya.

Ok, think it carefully, Honey. Please back to your original character, it’s not yours.” Minho menghela banyak oksigen di sekitarnya agak otaknya sedikit memiliki ruang untuk mempertahankan ketenangannya. Dielusnya pipi Serra dengan lembut, berharap yeoja itu dapat merasakan kasih sayangnya, karena ia menyadari, tidak seharusnya kekerasan hati dilawan dengan sikap serupa.s

Serra menyingkirkan tangan Minho, entah mengapa ia merasa enggan dielus Minho. “Mianhe, Minho-ya, lain kali,” bisik Serra pelan, kemudian berlalu meninggalkan Minho.

Minho mengepalkan telapaknya, bukan karena marah lantas ingin menghajar Serra, melainkan untuk menguatkan hatinya akan kenyataan pahit yang kini membentang di hadapannya, bahwa Serra baru saja menampik sentuhannya—seolah dunia sedang berputar seratus delapan puluh derajat kini.

Gweenchana….I’m oke,” balas Minho tak lama kemudian, dengan segenap kepedihan yang menguasai dirinya—membuatnya kini terduduk di lantai.

+++++

Author’s POV

Masih mencari sebuah titik terang yang belum tampak, dua kepala masih terpaku pada satu sudut, belum mampu bergerak untuk menemukan apa yang mereka cari. Semua keheningan ini terjadi karena Jonghyun yang datang beberapa menit yang lalu, yang kemudian menceritakan pertemuannya dengan seorang yeoja bernama Serra.

Berkali-kali Key menggigiti bibirnya, sementara lawan bicaranya masih menatapnya lekat, menunggu jawaban Key atas pertanyaannya.

“Key, bagaimana menurutmu? Apa kau percaya kalau dia memang bukan Sunny? Lalu apa kau juga percaya dengan ucapan Serra yang mengatakan bahwa uri Sunny adalah perusak rumah tangganya?” Jonghyun kembali mengulang pertanyaannya karena tak kunjung mendapatkan respon dari Key.

Hyung, sebenarnya aku sedikit percaya. Hyung, coba kau pikir baik-baik apa penyebab Sunny menghindariku. Tapi yang belum kumengerti adalah alasannya melakukan itu, apa betul Sunny mencintai Minho? Kalau betul, seharusnya ada yang aneh. Mari kita runtutkan faktanya.”

“Ya, seperti ceritamu, Minho seolah tidak tahu bahwa Serra punya saudara kandung. Itu menandakan kalau ia tidak sungguhan mengenal Sunny, lalu bagaimana bisa mereka terlibat sebuah hubungan yang dinilai Serra sebagai penyebab kerusakan rumah tangganya, sementara Minho tidak mengenal Sunny?”

Hyung, kita asumsikan Minho sama seperti kita—tidak tahu bahwa Sunny punya saudara kandung. Apa kau terpikirkan sebuah hal mengerikan?” Key melepaskan jemarinya yang sudah beberapa waktu mencengkram rambutnya kencang-kencang, mulai ada jalan keluar dari kebuntuan.

“Ya, satu-satunya alasan, karena wajah mereka mirip, jadi Minho tidak sadar bahwa Sunny adalah Serra, ani, kalau seperti itu ceritanya—berarti Sunny memang bermaksud jahat sejak awal. Aku tidak percaya ini….” Jonghyun terbelalak, matanya yang sejak tadi menyipit karena sibuk berpikir—kini terbuka lebar, begitu juga dengan mulutnya yang ternganga.

“Memang sulit dipercaya, tapi yang barusan itu logis. Inilah yang membuat kita terjebak dalam kebuntuan, karena subjektivitas seringkali membuat pikiran kita terhalang dari jalan berpikir yang benar. Kita selalu beranggapan Sunny adalah manusia sempurna—tanpa keburukan berarti. Itu karena kita memang memiliki perhatian khusus untuknya. Tapi ada saatnya pintu pikiran kita harus terbuka.” Key berusaha tenang, ia tahu bahwa berpikir rasional adalah hal yang harus diutamakannya kini.

“Sunny-ah….”Jonghyun kehabisan kata, seluruh isi otaknya kini menepi ke sisi Key, mengakui kebenaran mengerikan tersebut. Namun hatinya masih belum, masih menjerit penuh rasa penolakan, membuat air matanya menggenangi bola mata indahnya tanpa disadari.

“Lalu, andai itu benar. Mengapa Serra ingin merebut Minho? Apa betul dia mencintai Minho?”

Key’s POV

“Lalu, andai itu benar. Mengapa Serra ingin merebut Minho? Apa betul dia mencintai Minho?”

Ani, bukan itu, aku yakin hati Sunny sudah untukku.”

Ya, satu-satunya yang kuyakini dari rangkaian dialog ini adalah, Sunny masih mencintaiku. Bukannya aku terlalu percaya diri, melainkan aku bisa membacanya dari sorot mata Sunny. Bagaimanapun, hati kami telah tertaut lama dengan ikatan yang sangat erat, paling tidak aku bisa memahami isyarat anggota tubuhnya.

What? Anggota tubuh? Apa masih ada yang kulewatkan?

“Yah, as usual, You have big self confidence.” Jonghyun hyung tertawa, ada sedikit nada menyindir dalam ucapannya. Biarlah, aku tak peduli.

Hyung, bisakah kau tinggalkan aku sendiri, aku butuh menyepi untuk memikirkan lebih dalam misteri ini.”

Ne, aku juga. Baiklah, aku pulang saja. Kalau menemukan sesuatu, kita harus saling berkomunikasi lagi, oke?”

“N-ne, aku kabari nanti.” Sedikit tidak yakin, sebab kalau pikiranku selanjutnya benar—kurasa lebih baik aku tidak menceritakannya pada Jonghyun hyung.

Dia bangkit dari sofa tamu yang ada di ruangan kerjaku, aku pun mengantarnya sampai ke pintuku, mengantarkan kepergian tamuku dengan sopan. Lalu kututup pintu kembali, duduk di kursi kerjaku, kemudian meraih bingkai yang kupasang fotoku berdua dengan Sunny.

Kuraba pelan lapisan kaca yang melindungi lembaran potret tersebut dari zat berfasa cair maupun gel. Tidak kusangka, ada sisi yang sangat gelap dari yeoja yang sangat kucintai ini.

Pedih, bukan lagi seperti ditusuk belati, melainkan sebuah perasaan yang lebih menyakitkan. Sebuah prasangkanya yang masih belum tersimpulkan secara sempurna diotakku lah yang menjadi penyebabnya.

Isyarat anggota tubuh, itulah yang sedang mendekam di otakku. Isyarat tidak hanya dihantarkan lewat gerak maupun ekspresi, tapi melalui bentuk juga kan?

Bodohnya aku berpikir lambat. Kurasa aku memerlukan lebih banyak vitamin B-Kompleks agar kolin yang masuk ke dalam tubuhku dapat dikonversi menjadi asetikolin dengan lebih baik, dengan demikian asetikolin itu dapat segera menghantarkan rangsangan yang kuterima secara brilian. Atau, aku membutuhkan lebih banyak asupan lemak omega 3 agar memori dan kontrasiku lebih tajam. Atau bahkan, aku sangat perlu mengkonsumsi gandum yang konon berguna untuk meningkatkan aliran darah ke otak—dengan demikian dapat menunjang kualitas dan kuantitas fungsi otakku. Arrrgh, terlalu berpikir berlebihan!

Ah, mengapa pikiranku jadi kacau seperti ini? Argghh…isyarat bentuk itu mambuatku depresi. Sunny-ah, badanmu membesar bukan karena makanan, itu hanya tameng yang kau gunakan agar orang di sekitarmu tak menyadari kenyataannya, yang sebenarnya adalah—Sunny…aku tak sanggup melanjutkan ini. Tapi mau tidak mau harus kuakui dugaanku ini memiliki kemungkinan benar yang sangat besar. Kau hamil karena Minho, bukan begitu?

Tapi, kau sengaja memperdaya Minho dengan berpura-pura menjadi Serra. Bisa saja, kan?

Banyak hal yang masih tidak kupahami, dan yang membuatku tertekan adalah, mengapa kau menginginkan Minho sampai kau rela melepas keperawananmu di tangannya, sampai kau rela menipu semua orang, sampai kau tega menyakiti banyak orang? Inikah Sunny yang begitu kupuja dan kucintai?

Sunny-ah… membayangkan semua kemungkinan ini membuatku ingin mengakhiri hidup saja, aku bukan hanya tertipu, tetapi juga dipermainkan. Otakku dan juga perasaanku dipermainkan. Otakku, karena hingga detik ini aku belum menemukan jawaban sempurna atas semua ini. Perasaanku, karena aku sakit mengetahui kau melakukan perbuatan terlarang dengan seorang namja. Tidakkah kau memikirkan aku? Kalau kau memang masih mencintaiku, harusnya kau menungguku—memelihara kesetiaanmu tanpa kuminta, karena cinta itu kerelaan—tidak membutuhkan komando untuk menentukan sikap, itulah yang membuatku masih setia menyimpan cintaku yang sangat besar ini untukmu….

+++++

Author’s POV

Berjalan tergesa-gesa, menyeret tangan namja yang datang bersamanya. Hasratnya begitu menggebu, seakan tidak ada lagi waktu mendatang—mengingat bahwa umur manusia tidak bisa diterka oleh metode peramalan ilmiah apapun.

Nuna, bisakah kau tidak menarikku seperti ini? Aku malu dilihat oleh orang. Bukankah sangat memalukan kalau seorang namja terkesan diseret oleh yeoja? Seorang namja membutuhkan wibawa, berbagai cara dilakukan demi mempertahankannya,” namja tadi protes, membuat sang nuna menghentikan langkahnya dan melepaskan genggamannya dari namja itu.

“Ah, mianhae Taemin, aku sudah tidak sabar. Baiklah, kita jalan masing-masing, tapi harus cepat.”

Taemin hanya mengernyitkan alis, merasa heran karena nuna-nya ini sangat aneh. Sebelumnya Taemin tak pernah melihat nuna-nya itu sangat terburu-buru hingga terkesan memaksa.

Ya, ia bahkan tidak tahu apa nama tempat ini dan tujuan nuna-nya membawanya ke gedung perkantoran elit ini. Ia hanya mengiyakan saat nuna-nya bertanya apakah waktunya sedang senggang. Tapi belum sempat ia bertanya lebih lanjut, sang nuna yang tak lain adalah Serra itu, sudah menarik tangannya ke dalam mobil, memintanya mengemudikan mobil tersebut karena Serra memang tidak bisa menyetir.

Kumohon kali ini jangan bertanya mengapa, aku membutuhkanmu karena Jinki sedang berhalangan. Ini sangat penting, itulah yang dikatakan Serra sebelum Taemin memprotes.

Namja imut itu tak pernah kuasa memolak permintaan nuna kesayangannya itu, akhirnya ia patuh begitu saja. Tapi tetap, Taemin tidak suka perlakuan Serra barusan—yang mungkin tampak dimata orang lain yang melihat, dirinya sedang diseret seorang yeoja, walaupun mereka memang baru sampai di pelataran gedungnya saja. Serra melangkahkan kakinya  mendekati pintu utama gedung, kali ini ia membebaskan Taemin untuk berjalan di belakangnya.

Nuna, aku tidak ada keperluan, bolehkah aku menunggu di mobil saja? Aku sangat mengantuk dan rasanya ingin tidur sejenak.” Taemin berhenti sesaat sebelum mereka benar-benar masuk ke dalam gedung.

Ne, kalau kau memang ingin seperti itu. Tapi jangan tinggalkan aku ya.” Serra sedikit cemas, ia tidak begitu yakin bahwa perasaannya akan tetap stabil setelah keluar dari gedung ini.

Taemin mengangguk dan kemudian berbalik arah menuju basement yang notabene adalah tempat parkiran mobil. Sementara Serra masuk ke dalam gedung dan bagian yang pertama kali ia datangi adalah resepsionis.

“Permisi, maaf…bisakah aku bertemu dengan Direktur Kim Kibum?” tanya Serra dengan sedikit ragu, bagaimanapun bertemu dengan seorang direktur bukanlah hal yang mudah.

“Apa Agassi sudah membuat janji dengan direktur kami?” si petugas membalas dengan ramah.

“Belum, tapi aku punya hal penting yang harus segera dibicarakan dengannya, sampaikan padanya aku ingin menemuinya, aku yakin dia pasti mau.”

“Maaf, tapi kami punya prosedur untuk urusan ini. Lagipula Tuan Kibum tidak berpesan untuk mengizinkan seseorang menemuinya hari ini. Lain kali saja Agassi, atau temui beliau seusai jam kantor.” Sang petugas tadi tetap bertahan pada aturan, sekalipun Serra tampak meyakinkan di matanya.

“Ya! Apakah sesulit itu untuk bertemu orang besar? Sombong benar Direktur Kim itu.” Serra menjadi gerah mendengarnya, ia memang sedikit muak jika sudah berurusan dengan birokrasi para petinggi di instansi apapun, walapun keluarganya sendiri memang para pemangku jabatan penting di berbagai tempat.

“Berikan dia izin, karena memang aku sudah ada di sini.” Sebuah suara bergabung, ada sepotong perasaan tidak menentu yang tercermin dari raut wajahnya. “Senang bertemu denganmu lagi, Serra ssi. Mari kita berbincang di ruangan yang lebih privat,” lanjut Key seraya tersenyum ramah, kemudian melangkah mendekati sebuah lift yang belum sampai lima menit lalu—membawanya ke lantai pertama ini.

+++++

Jonghyun’s POV

Kuputuskan untuk duduk di sebuah taman kota, ingin melihat pemandangan segar untuk meredakan ketegangan yang menjalari setiap jengkal tubuhku. Kurebahkan tubuhku di atas rerumputan yang terhampar luas, tidak peduli orang menilaiku aneh karena menantang sinar matahari yang tengah berada di posisi puncaknya. Aku tidak peduli lagi sengatan sinar penuh keajaibaban itu, sebuah karunia dari Tuhan yang tak terhingga. Karena tanpa matahari, semua kehidupan di dunia ini tak akan berjalan semestinya. Namun terkadang, sinar tersebut dapat menjadi petaka.

Terpaaan sinarnya yang menyilaukan membuatku memejamkan mata, merasakan ketegangan  pikiranku sedikit berkurang. Karena memang, memejamkan mata dapat memberikan ketenangan dan kedamaian.

Teringat kenangan percakapan yang masih membuatku bingung,

“Jjong…kau pernah iri pada saudaramu tidak?”

“Misalnya saudaramu mendapat perlakuan lebih istimewa, lebih beruntung darimu, padahal seharusnya kau pun mendapatkan hal yang sama. Pernah?”

Sunny-ah, apa mungkin…kau ingin merebut Minho bukan karena sungguhan menginginkan Minho, melainkan ingin merebut yang Serra punya, karena kau—iri? Seperti itukah maksud pertanyaanmu saat itu?

Iri karena apa? Hei, jangan bilang kalau kau ingin menjadi Lee Serra dan mengimpikan hartanya?

Sunny-ah, bukankah di dunia ini uang bukanlah sumber utama kebahagiaan? Kalau kau mengejar uang, maka apa bedanya kau dengan para pejabat tamak itu, dengan para pelaku perdagangan monopoli, dengan penjajah yang ingin merebut milik negara lain?

Sunny-ah, dalam hidup yang diperlukan adalah kebijaksanaan dalam memilih, aku sudah tahu itu. Ya, kau pun mungkin tahu, itulah sebabnya kau menuliskan ungkapan penyesalan pada suratmu itu.

Sunny-ah, tidak ada yang terlambat untuk membersihkan diri—memohon ampunan dan kembali ke jalan yang seharusnya—mencari kebahagian tidak dengan cara terlarang. Sunny-ah, di mana kau sekarang? Muncullah dan mari kita mulai lagi kisah ini dari awal, aku dan Key masih di sisimu. Entahlah, aku tidak tahu dengan Key setelah mengetahui semua hal mengerikan ini, tapi aku sebagai sahabatmu—akan setia mengiringi kisah hidupmu, termasuk ketika kau berjalan ke arah yang salah, aku akan membawamu kembali.

+++++

Author’s POV

Key membawa Serra ke sebuah ruangan yang disebutnya ruangan khusus untuk rapat. Ya, memang terlihat meja lonjong besar yang biasa digunakan rapat, proyektor untuk menampilkan slide presentasi, dan beberapa peralatan lainnya seperti microphone wireless yang terpasang permanen di setiap meja, serta penunjang ruangan yang dibilang Key sebagai lapisan kedap suara. Ya, inilah alasannya membawa sang tamu kemari, jaminan privasi.

“Aman…ceritakanlah maksud kedatanganmu,” ujar Key sembari isyarat tangannya mempersilakan Serra duduk di kursi, memberi bonus di akhir kalimatnya.

Serra membalas senyuman Key, seketika pikiran buruknya tentang Key lenyap. Ia merasa bahwa Key bukanlah orang yang menyebalkan, kehangatan dari senyuman Key langsung menjalar kilat layaknya arus listrik yang bergerak cepat ketika saklarnya dinyalakan.

“Key, mengapa aku merasa tidak asing denganmu. Rasanya berbeda jauh dengan kesanku pada pertemuan kita sebelumnya. Apa kita memang pernah bertemu?” Serra mendekati Key, mengamati setiap lekuk wajah Key—menelisik siapa tahu memang dirinya pernah bertemu Key sebelumnya.

Ani, kau belum pernah bertemu denganku, tapi aku sering melihat sosokmu yang lain. Kenapa kau merasa tidak asing? Entahlah, hanya kau yang tahu jawabannya. Tapi aku pun merasa demikian sebenarnya, tapi bisa jadi karena kau mirip Sunny.”

“Key-ah, ceritakan lebih banyak tentang Sunny….” Serra mulai teringat tujuan kedatangannya ke kantor Key setelah memperoleh alamatnya dari Jinki.

“Berdiri!” Key memberi komando, membuat Serra tersentak karena merasa diperintah tidak sopan—semacam perintah yang berniat mengusirnya.

“Maaf aku mengganggumu, kalau kau tidak suka aku akan pulang.” Serra kecewa, ia membalikkan badan dan hendak berjalan keluar ruangan.

Greppp,

Terulang, Kejadian yang sama—Key memeluk pinggang Serra dari belakang, menghembuskan nafasnya namun kali ini lebih lembut, lalu menaruh kepalanya di bahu Serra.

“Kumohon jangan bergerak, biarkan aku seperti ini sejenak, aku sangat merindukanmu—nyatanya aku masih berharap kau memang Sunny-ku yang sedang bersandiwara.”

+++++

Taemin’s POV

 

Drrtt….ddrtttt…drtttrd

Mataku sangat berat, issh…Jinki hyung mengganggu saja, meneleponku saat mataku nyaris terpejam.

Yeoboseo, Hyung, aku nyaris tidur kalau saja kau tidak menggangguku,” aku mendengus kesal. Aku memang paling tidak suka ada orang yang mengusik tidurku.

Mianhae, tapi ini penting. Kau sedang di mana sekarang? Aku sepertinya telah melakukan kebodohan. Jadi, aku memberinya sebuah alamat gedung perkantoran, Serra sangat penasaran ingin bertemu dengan sepupu ipar kita—Kim Kibum. Bodohnya aku memberikannya di saat aku sedang di kantor, aku yakin dia pasti terburu-buru ingin menemuinya. Bisakah kau mendampinginya?”

Mwo? Kim Kibum? Gedung perkantoran? Apa gedung ini yang dimaksud Jinki hyung?

“Aku memang sedang bersamanya di gedung yang kau maksud, tapi aku tidak ikut masuk dan hanya menunggu di dalam mobil.”

“Ya! Lekas susul dia! Kau tahu apa maksud kedatangannya kesana? Dia ingin mencari tahu tentang Han Sunny, yeoja yang mericuhkan rumah tangga Serra. Palli, aku khawatir terjadi sesuatu kal—au….”

Blip,

Aku memutuskan sambungannya sebelum Jinki hyung selesai bicara. Ini mengkhawatirkan! Aku harus memastikan keadaannya baik-baik saja.

I’m the Key. Yes, because I know the relationship of this confused problem. Ya Tuhan…semoga tidak terjadi hal buruk.

Aku berlari sekencang yang kubisa, tidak lagi kupedulikan prosedur untuk masuk ke dalam walaupun petugas keamanan gedung sudah meneriaki aku dan kini mengejarku. Aku harus segera sampai di waktu yang tepat. Beruntung aku masih sangat muda, lariku jauh lebih cepat daripada para petugas yang usianya sudah tidak muda lagi. Lain kali akan kuberi mereka multivitamin agar stamina mereka lebih kuat sehingga bisa mengejar pengacau sejenisku—yang nekad menembus masuk dengan hanya bermodalkan melihat denah sejenak di dekat pintu masuk. Lantai tiga, ruangan Direktur Kim. Mungkin Serra ada di sana.

+++++

Serra’s POV

“Kumohon jangan bergerak, biarkan aku seperti ini sejenak, aku sangat merindukanmu—nyatanya aku masih berharap kau memang Sunny-ku yang sedang bersandiwara.”

Aku tidak protes seperti waktu itu, sekarang aku bahkan ikut merasakan kedamaian ini, rasanya sangat damai berada di dalam pelukannya, namja ini sangat hangat. Hei, bagaimana dengan Minho?!

Aku segera tersadar dan melepaskan tangannya dari pinggangku, “Aku pun memohon agar kau menghargai statusku yang sudah bersuami.”

“Sunny…ya, sekeras apapun kau mengelak, sejelas apapun aku mengetahui kalau kau memang Lee Serra, ada bisikan cukup keras di hatiku, yang mengatakan bahwa kau adalah Sunny-ku….”

“Cukup! Ceritakan padaku tentang Sunny, Key.” Aku bahkan tidak canggung memanggilnya secara informal. Sebenarnya saat bertemu Jonghyun pun aku merasa dekat, sehingga aku spontan memanggilnya ‘Jjong’.

“Baiklah. Dia adalah kekasihku sejak kami masih di bangku sekolah, dia seorang pekerja keras dan juga sangat keras kepala. Itu hal paling utamanya. Sebelum kau bertanya lanjut, aku ingin bertanya—apakah betul Minho menghamili Sunny?

Ne, dia menipu Minho dengan berpura-pura menjadi aku.”

“Dugaanku tepat,”desis Key.

“Dugaan apa?” tukasku kilat.

“Itu urusanku, terlalu panjang menceritakannya. Sekarang apalagi pertanyaanmu?” Ia tetap tersenyum, walaupun aku tahu ada luka besar di balik keindahan bola matanya.

“Kenapa aku merasa dekat denganmu, dengan Jonghyun, dan bahkan menurut Minho—nama yang pertama kali kusebutkan—ketika aku sadar  dari koma—adalah namamu, Key. Jujur aku tidak mengerti kenapa ini semua terjadi. Mengapa Sunny menginginkan Minho, mengapa tiba-tiba pula dia menghilang sendiri pasca kegugurannya—tidak berusaha lagi mendesak Minho.”

“Tunggu, dia keguguran? Kau pernah koma dan menyebutkan namaku sebelum kita pernah bertemu?”

Key’s POV

“Tunggu, dia keguguran? Kau pernah koma dan menyebutkan namaku sebelum kita pernah bertemu?”

Kutegarkan diriku, satu lagi berita menyesakkan, Sunny keguguran. Aku pernah baca, keguguran dapat menimbulkan depresi bagi wanita yang bersangkutan. Aku tidak tega membayangkan Sunny—yang saat ini entah ada dimana—sedang menjalani masa-masa depresinya seorang diri. Andai aku berada di sampingnya….

Bip,bip,

Suara handphoneku berbunyi, suara yang aku atur khusus untuk panggilan dari sekretarisku.

“Hyorin ssi, wegure?” tanyaku heran, karena ia tidak mungkin menghubungiku jika tidak ada hal darurat—karena aku telah berpesan agar tidak seorang pun mengusikku.

“Tuan, ada tamu nekat saat ini di depan ruanganmu berada, ia mendesak masuk setelah menembus pasukan keamanan. Dia bilang ingin bicara dengan anda dan yeoja yang menjadi tamu anda barusan. Nama tamu nekat itu adalah Lee Taemin.”

“Lee Taemin? Aku tidak mengenalnya. Suruh satpam mengusirnya kare…”

“Dia sepupuku, izinkan dia masuk karena aku yang mengajaknya datang ke gedung ini,”ucapanku terpotong oleh suara Serra.

Ya, baiklah, akan kukabulkan, biarlah aku mengalah. “Ralat, berikan dia izin,” titahku kemudian pada sekretaris handalku.

Kenapa dia mendesak masuk? Aku bahkan tidak mengenalnya—bagaimana bisa ada hal penting yang ingin dibicarakannya denganku, kalau dengan Serra masih mungkin.

TBC…

+++++

Ocee, satu part terakhir, semoga ga butut ya…ditunggu masukannya ^^

Gomawo buat para readers, apalagi yang ga jadi silent reader, thx u so much ><

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

19 thoughts on “Between Two Hearts – Part 8

  1. Hmm*sigh semakin memuncak ceritanya, jadi ikut emosi sendiri udah gemes pengen semuanya cepet clear dah… Bener banget satu2nya kunci adlh Taemin…
    Oh, ya tadi ada salah penyebutan nama Sunny jadi Serra, thor tapi gag masalah.. hehe…
    penasaran gimana nanti endignya, semoga happy ending… next partnya ditunggu, thor…

  2. uwa…uwa…uwa…
    sbntar lg kelar…
    aduh,g sbr nunggu ending…
    beneran bkin deg2an…
    kuncix emg cm taemin seorang nih…eh,tp key pnter jg lho bs nebak smpe sjauh itu…
    lalalalalalalalalalala…
    entah knp mkin ksini aq kq lbh sreg klo serra sm key y…

    akankah bibib mw mengabulkan prmohonan nistaQ ni…??? #tebar wink k bibib

    lanjutanx jgn2 lama2 bib…
    HWAITING…!!!

  3. asik2… ceritanya seruuuu banget..
    walaupun rada’ nyesek.. heheheh
    lanjut part selanjutnya ya thooorrr….

  4. konfliknya makin seru. Satu2nya yg tau cuma taemin. Jd ga sabar endingnya kaya gimana. Moga happy ending deh..

  5. taem ayo jelaskan semuanya..
    kasian nuna kamu itu jadi bingung sama sifat dia yg berubah.
    pengenya tetep serra sama minho, kan minho udah berubah.
    lanjut thor, cepet ya publishnya, uda ga sabar😀

  6. aigooooo ,,,,, seruuuu !!!!!!!
    key dan jjong hampir bisa memecahkan misteri’nya sunny nich ..
    kasi 4 jempol dhe buat mereka ..
    waaacchh ,,,,, gag sabar niey nunggu kelanjutannya !!
    bakal dibawa kemana ini cerita ??????

  7. “Aku tidak peduli lagi sengatan sinar penuh keajaibaban itu, sebuah karunia dari Tuhan yang tak terhingga. Karena tanpa matahari, semua kehidupan di dunia ini tak akan berjalan semestinya. Namun, sinar tersebut dapat menjadi petaka—seperti yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan, badai matahari.” ini kenapa jadi ngomongin matahari ya…hahaha matahari lagi diskon kayaknya… /makin gak nyambung
    kl kalimat terakhirnya gak ada juga udah cukup kayaknya..
    eh ada typo ternyata… keajaibannya..

    ini mau sampe brp part ya?

  8. Sebelumnya aku minta maaf krn lagi ga bisa bales satu-satu, badanku rasanya mau remuk, laptopku kena virus, dan sinyal internet lagi butut.

    @fafalee55:iya sip, udah ketemu yg salah sebut nama itu. Makasih banyak ya😀 Endingnya ditunggu aja…
    @hyora eon: Iyap, next part ditunggu aja
    @dya eon: Aku pribadi…jelas lebih suka Serra-Key😀 Endingnya sama…ditunggu aja ya?
    @taemindy : iyaph, dilanjut kok, tunggu aja ya…
    @Park Min Gi: Hepi ending ya ga itu? Hmmm, ntar mampir lagi ya di last part
    @deedea: Yoi, ga lama lagi kok kayakna
    @YOOnee : Cerita ini…bakal di bawa ke Key nan tampat tidak tertahankan, ehehe…ntar deh ya mampir lagi eon
    @ahjeong : Matahari lagi diserang sale manis eon, bahan dasarnya pisang #apadehgajeniaku iya kalimat terakhirnya agak aneh ya, di delete deh. Typony
    juga udah ketemu, makasih ya udah ngasih tau😀 ini sampe part 9 eon, tinggal 1 part terakhir

    Makasih buat semuanya ya, makasih udah nyempetin baca plus yang bersedia komen😀
    Aku ngerasa ga enak krn ga bls satu2, tp emang kondisinya lagi kacau

  9. aaaa~~ kenapa to be continue ditengah jalan?*lho? jujur sih ya, aku mesti baca ff ini berkali kali dulu baru ngerti sama bahasa konotatif yang ada di ff ini, tapi setelah aku ngerti sama arti kalimatnya, aku jadi ngebayang2 sendiri kalo misalkan aku jadi serra, pasti berat–“. hehehe ayo bibib dubu eonni. lanjut lanjut.

  10. ketingalan ketinggalan *nyalain sirine(?)*
    udahlah key,,lu uring2ngan dri kemaren(?),,pan msih ada daku.
    si serra lagi nih,,macam mana pula itu..zzzzzz

    jinki coba,,maen ngasih alamat ajj.Suasana lgi mendung lah dia msih bisa2nya ceroboh..*bawa jinki ke pskiater*

    Minho kau galau spangjang hari sepanjang malam,,kaaaaasiaaan.

    err,,kunci dri akar prmsalahan ini cuma ada di taemin ya?
    hayoooo >.<

    1. Aku juga telattt balesnya nihhh

      Ealaaah, Jinki masih waras, authornya berarti yang ga waras

      Ga apa deh, sekali-kali minho galau. Abisnya di ff2 si mino ini jalannya mulus gitu, sering terlalu perfect

      Makasih ya Fit udah mampirrr :DD

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s