More Than 100 Days – Part 7

More Than 100 Days – [7]

Title                 : More Than 100 Days

Author             : adinary

Main Cast        : Han Jinie – Lee Taemin

Support Cast    : Key

Length             : Sequel

Genre              : Fantasy – Romance – Family

Rating              : General

Summary         : Hari demi hari dilalui Jinie dengan usahanya memenuhi tanggungjawabnya. Tugasnya memakan waktu lebih dari 100 hari. Tapi hari-hari ini begitu berarti bagi Jinie terutama Taemin. Akhirnya tugas Jinie selesai dan hasilnya begitu memuaskan. Kesedihan itu datang saat menyadari bahwa tak lama lagi, Jinie akan kembali ke negerinya. Jinie tiba-tiba merindukan Key. Kemana Key yang biasa membantunya?

A.N                  : Annyeong readers~~~ Ini detik-detik part terakhir XD plong banget ngetik part-part akhir karena udah bagi raport *curhat* gimana nih hasil raport readers? Kekeke. Seperti biasa, author minta maaf kalau ada typo dan ceritanya gaje 😛 semoga dapet feelnya ya, kalau bisa sambil dengerin lagu aja 😀 kkk~ Enjoy! Jangan lupa komentar, kritik, dan saran! 😀

(part sebelumnya~)

Taemin pov

Kami beristirahat di bangku taman sambil meneguk air mineral dalam botol. Suasana hening sebentar sampai aku membuka mulutku, “Berapa tahun kita tidak pergi jogging bersama seperti ini?”

Aku tersenyum sambil meminum air mineralku dan menatap lurus ke depan. Tak ada suara dari eomma dan appa.

Aku menoleh ke eomma dan appa sambil tertawa kecil, “Waeyo?”

Eomma tersenyum, “Ani. Ah, sudah jam 7 pagi. Ayo kita pulang. Eomma akan memasakkan sarapan untuk kau dan appa.”

Aku pun tersenyum, “Ne~ Kajja!”

***

Jinie pov

Days 111…

Aku menoleh ke arah Taemin yang baru saja masuk kamar dengan wajah berseri, “Waaa kau terlihat senang sekali.”

Taemin tersenyum dan menyimpan jaketnya di sofa, “Kau tahu tidak apa yang terjadi hari ini?”

“Apa? Sulli eonni memberimu sesuatu?”

Taemin menghempaskan tubuhnya di sofa lalu aku duduk di sebelahnya, “Jangan senyum terus. Ceritakan padaku!”

Taemin hanya tersenyum dan menunjuk pipi kirinya sambil menhadap ke arahku. Aku diam karena bingung, “Wae? Kau di tampar Sulli eonni?”

Senyum Taemin hilang, “Ani! Mana mungkin dia menamparku.”

“Lalu apa?”

“Aku mendapat satu ciuman darinya.”

Mwo? Cium? Kenapa bukan di tampar saja?-_-

Aku harus terlihat senang, “Jeongmalyo???? Bagaimana bisa?”

“Hari ini kan dia ulang tahun. Jadi aku memberi kejutan special untuknya. Mungkin saking speechlessnya dia jadi mencium pipiku. Ahhhh~ Entah kenapa aku senang sekali.”

Aku menatap Taemin dengan tatapan sedikit menyedihkan tapi tetap tersenyum, “Kau memberi kejutan untuk ulang tahunnya? Kejutan seperti apa?”

Apa dia memberi Sulli eonni kandang hamster juga? Seperti yang ia lakukan padaku? T_T

“Aku mengajak Sulli dan adiknya bermain seharian. Setelah itu, adiknya aku antar pulang lalu aku dan Sulli makan malam berdua di sebuah taman.”

Aku memiringkan kepalaku, “Lalu?”

“Setelah makan, aku berdiri di dekat air mancur dan berteriak bahwa aku mencintai Sulli. Sedetik kemudian, semua lampu yang ada di taman yang sudah aku hias itu menyala otomatis. Tepat disebuah pohon, lampunya bertuliskan Happy Birthday Sulli dan I Love You. Romantis, bukan?”

Taemin terus tersenyum bahagia dan aku hanya tersenyum sebisaku. Bukankah ini sedikit menyakitkan? Jalan-jalan, dinner berdua dan kejutan lampu di taman vs kandang hamster. Bukankah itu hina?-_-

Aish! Abaikan abaikan. Aku harus fokus pada tugasku lagi.

“Taemin-ah, aku ingin melihat mobil sedan hijau kesayanganmu dan appamu itu. Bolehkah?” ucapku tiba-tiba.

Taemin menoleh ke arahku, “Mwo?”

“Wae? Aku hanya ingin melihatnya.”

“Mmm..ne..tapi ini kan sudah malam. Bagaimana kalau besok?”

“Apa tidak bisa sekarang? Kau tidak lelah kan?” aku sedikit memaksa.

Taemin terlihat berpikir tapi akhirnya ia mengangguk setuju, “Kajja.”

@ Garasi

Taemin membuka bungkus(?) mobil tersebut. Benar kata Taemin, mobil ini seperti terlupakan. Terparkir di pojok garasi. Di deretan paling belakang dari semua mobil mewah milik keluarga Lee.

“Ini mobilnya.” Ucap Taemin.

Aku menelusuri mobil tersebut dengan mataku, “Benar-benar mobil jaman dulu, ya. Tapi ini terlihat antic.”

Taemin tersenyum getir sambil ikut memandang mobil tersebut dan menyentuhnya, “Ne, ini memang antik. Ini mobil yang terkenal dulunya. Aku baru melihat dan menyentuhnya lagi sekarang.”

Aku juga menyentuhnya, mengusap dengan jari telunjukku, “Berdebu. Apa ini tidak pernah dicuci?”

Taemin menggeleng, “Sekarang kau sudah lihat kan? Memangnya apa yang akan kau lakukan  dengan mobil ini?”

Aku tersenyum, “Aku punya satu rencana. Tapi kau tidak boleh tahu.”

“Pelit sekali.”

Aku mengabaikan perkataannya, “Sekarang keluarkan ponselmu dan ambil selca dengan mobil ini.” perintahku.

“Untuk apa?” tanyanya sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.

“Lakukan saja apa yang aku perintahkan.”

“Ne..”

Jepret *aduh nggak banget efek suaranya-_-*

Taemin menunjukkan selcanya padaku, “Lalu bagaimana lagi?”

“Bungkus lagi mobilnya dan kita kembali ke kamarmu. Kita cetak foto itu, kajja!”

~~~

“Ini sudah jadi. Sebenarnya apa yang akan kau lakukan dengan selcaku?”

Aku mengambil hasil foto itu dari Taemin sambil tersenyum, “Kau kepo sekali. Sudah kubilang kau tidak boleh tahu. Tunggu saja hasil rencanaku nanti.”

“Awas kalau kau berbuat macam-macam!”

“Ne Tuan Lee Taemin. Lebih baik kau tidur saja sekarang, bukannya kau besok harus latihan basket? Tidurlah! Cepat! cepat!”

“Ne, ne. Aku tidur.”

Taemin pun naik ke kasurnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.

Author pov

Days 115…

Hari ini, Jinie tidak ikut bersama Taemin dengan alasan sakit perut lagi. Ia sedang merencanakan sesuatu dengan sunbaenya, Key. Mereka berdua duduk di sofa kamar Taemin.

“Jadi kau harus menyamar jadi seorang ahjussi, oke?” ucap Jinie di akhir penjelasannya.

Tapi Key menolak, “Shireo!”

“Ya! Waeyo?! Kau bilang akan membantuku?”

“Tapi tidak untuk menjadi seorang ahjussi!”

“Ayolaaah, sunbae. Kau mau yayaya?” mohon Jinie dengan wajah aegyonya.

Key membuang muka untuk mengabaikan Jinie, “Shireo!”

Jinie memegang lengan Key dan menggoyang-goyangkan Key sekuat yang ia bisa, “Ayolaaah ayolaaah sunbae ayolaaah kau kan mahir dalam menyamar, merubah wujud. Kalau aku yang menyamar, aku takut tiba-tiba aku berubah jadi hewan.”

Key berusaha menahan goyangan dari Jinie, “Shiiiireoooo!!!”

“YA!!!”

Dukk

Jinie mendorong Key sampai kepala Key membentur tembok, “Kau lupa kalau aku anak siapa??? Aku adalah anak dari salah satu orang paling di hormati di negeri peri! Jadi penuhi permintaanku!”

Key mengusap-usap kepalanya yang terbentur lalu menoyor pelan kepala  Jinie dengan tangannya yang satu lagi, “Kau bisa membuatku amnesia, pabo!! Berani sekali kau pada sunbaemu!”

“Aku kan sudah sering membantumu. Jadi wajar kalau sesekali aku menolak membantumu.” Gerutu Key.

“Jebaaal. Aku mohon, yayaya? Ayolah sunbae.”

Key hanya diam sambil mengelus kepalanya.

“Sunbae!”

“Wae?”

“Bagaimana kalau aku memberimu 1 permintaan apa saja yang kau mau setelah tugasku disini selesai. Akan kuturuti apapun maumu.”

“Hanya 1?”

“Baiklah, 3 permintaan. Asal kau mau membantuku terus.”

“Baiklah. Boleh juga.”

“Jeongmal? AH! Kau memang sunbae yang tampan!!” senang Jinie sambil menepuk pundak Key. Lalu Jinie cengengesan, “Sunbae, apa kepalamu sakit?”

Wajah Key berubah manja begitupun suara dan tingkahnya. Ia menyodorkan kepalanya pada Jinie dan menunjuk kepalanya yang sakit, “Ini.. bagian ini yang sakit. Sakit sekali.”

Jinie mengusap pelan kepala Key yang terbentur, “Mianhe, sunbae.”

~~~

Misi dimulai. Key sudah merubah dirinya menjadi ahjussi dengan sedikit kumis dan rambut yang sedikit beruban dan membawa tongkat  agar terlihat tua. Key ahjussi siap beraksi! Sedangkan Jinie diam di saku jas Key dengan wujud perinya.

Key membuntuti Tn. Lee hingga Tn. Lee pergi makan siang di sebuah restoran mewah. Acting Key dimulai dari restoran ini.

“Selamat siang.” Sapa Key pada Tn.Lee.

Tn.Lee mendongak. Key tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapi, “Boleh saya duduk disini?”

“Silakan,” Tn.Lee mempersilakan, “kalau boleh tahu, tuan ini siapa dan ada perlu apa?”

Key tertawa ala ahjussi(?), “Maaf kalau saya menganggu waktu makan siang anda. Saya Kim Key Beom, kolektor mobil antik dari Daegu.”

“Saya Lee Ji Sun.”

“Ne, saya tahu nama anda. Karena anda adalah pengusaha terkenal.”

Tn. Lee tersenyum, “Lalu, ada yang bisa saya bantu?”

“Apa anda punya mobil antik? Saya akan membelinya berapa pun itu.”

Tn. Lee berpikir sejenak, “Sepertinya saya punya.”

“Boleh saya membelinya?”

“Boleh. Anda bisa datang ke rumah saya untuk melihat mobilnya.”

Lalu Tn. Lee menulis sesuatu di secarik kertas, “Ini alamat rumah saya.”

Key menerimanya sambil tersenyum, “Baiklah. Hari minggu siang nanti saya akan datang. Kalau begitu saya permisi dulu.”

Key pun pergi dengan senyum penuh kemenangan, sedangkan Tn. Lee terhenyak seolah baru sadar dari sesuatu.

~~~

Key kembali merubah dirinya menjadi namja muda di sebuah gang kecil. Begitu juga dengan Jinie yang merubah wujudnya menjadi manusia. Key tersenyum puas sambil keluar dari gang kecil tersebut.

Jinie berjalan di sebelah dengan Key dengan wajah yang terlihat senang, “Sunbae, sepertinya kau lebih senang dariku. Kenapa? Tapi tadi kau hebat! Bagaimana bisa semudah itu membuat Tn. Lee mengizinkanmu ke rumahnya dan memberi alamatnya padamu? Tn. Lee kan bukan orang sembarangan.”

Key menoleh ke arah Jinie, “Aku sedikit menguasai pikirannya saat itu. Kau tahu? Sebenarnya ini pertama kalinya aku mempraktekan hal itu.”

“Jeongmalyo? Dan kau berhasil? Karena itukah kau begitu senang?”

“Ne. Bukankah aku hebat? Hahahaha..”

“Ne, kau hebat, sunbae.” Jinie menepuk pundak Key.

~~~

Days 120…

Hari Minggu pagi Taemin sudah pamit untuk latihan basket dan lagi-lagi Jinie tidak ikut dengan alasan sakit perut. Jinie mengendap-ngendap menuju garasi sambil membawa foto selca Taemin yang tempo lalu sudahh dicetak.

Jinie terbang dengan begitu hati-hati sampai akhirnya ia ada di garasi, “Ah~ selamat.”

Jinie merubah wujudnya menjadi manusia dan membuka bungkus mobil sedan hijau kesayangan Taemin dan appanya dengan sedikit hati-hati. Lalu ia menyelipkan selca Taemin tersebut di wiper mobil.

“Dengan begini, Tn. Lee akan ingat pada kenangan di mobil ini.”

2 PM…

Siang ini Key akan beraksi lagi menjadi seorang ahjussi kolektor mobil antik.

“Aku sudah membuat janji dengan Tn. Lee..” ucap Key pada satpam rumah Tn. Lee.

Key pun masuk dengan mobil antik –yang entah darimana- ke dalam area rumah Tn. Lee sedangkan seorang pelayan masuk ke dalam rumah untuk memanggil Tn. Lee.

“Ah, Tn. Kim. Ayo kita masuk dan minum teh dulu.” Sambut Tn. Lee begitu melihat Key keluar dari mobil antiknya.

Key tersenyum ala ahjussi(?), “Tidak perlu repot-repot Tn. Lee, saya juga tidak punya waktu lebih karena saya masih ada janji. Bagaimana kalau kita langsung melihat mobil antik anda?”

“Oh baiklah. Kalau begitu saya akan suruh supir untuk mengeluarkannya.”

Seorang supir pun masuk ke dalam garasi dan mengeluarkan beberapa mobil mewah agar mobil sedan hijau tersebut bisa keluar dari garasi.

“Berapa lama anda tidak menggunakannya?” tanya Key saat mobil itu sudah di luar. Key mengusap mobil tersebut dengan jari telunjuknya dan banyak debu menempel di jarinya.

Tn. Lee sedikit tertegun dengan pertanyaan itu. Key menoleh ke arah Tn. Lee.

“Bagus. Dia terpancing..” ucap Key dalam hati.

“Mm, sekitar..mungkin sekitar 8 tahun,” jawab Tn. Lee, “saya tidak begitu ingat.”

“Sudah lumayan lama juga ya.” Key berpura-pura menelusuri mobil tersebut seolah-olah memeriksa kondisi mobil itu. Padahal itu hanya modus belaka.

“Kondisi mobil ini bagus. Tinggal di bersihkan saja dan mesinnya mungkin ada beberapa yang harus diganti. Saya suka dengan modelnya, ini mobil terkenal di jamannya.” Ucap Key meyakinkan bahwa dia adalah kolektor.

“Ya.. begitulah.” Respon Tn. Lee.

Akhirnya Key berpura-pura menemukan sesuatu, “Oh? Ada foto di wiper mobil ini,” Key melihatnya, “apa ini foto anak anda? Saya dengar anda punya anak tunggal laki-laki, bukan?”

Tn. Lee menatap Key dan meminta foto tersebut, “Boleh saya lihat?”

Lagi-lagi Tn. Lee tertegun melihat foto itu.

“Sepertinya foto itu baru-baru di ambil.” Ucap Key.

“Kena kau..” ucap Key dalam hati.

Tn. Lee terdiam sambil memandang foto tersebut lalu ia menatap Key, “Maaf Tn. Kim kalau saya berlaku tidak sopan atau bagaimana. Tapi bolehkah saya membatalkan jual beli mobil ini?”

“Oh? Kenapa?” tanya Key berpura-pura.

“Sepertinya aku tidak bisa menjual mobil ini.” ucap Tn. Lee.

“Ah baiklah, kalau begitu saya pamit.”

“Sekali lagi saya minta maaf. Tolong jangan kecewa, saya minta maaf.”

“Tidak apa-apa Tn. Lee. Saya pamit dulu.”

Key pun kembali masuk ke dalam mobilnya dengan senyum keberhasilan dan berlalu pergi dari rumah Taemin.

Tn. Lee pov

Aku terduduk di pinggir kasur kamarku sambil terus memandang foto selca anakku ini. Sepertinya foto ini baru beberapa hari yang lalu diambil. Apakah?

“Apa kau merindukan mobil ini, nak?” lirihku sambil mengelus foto itu.

Tiba-tiba aku teringat semua kenanganku dengan Taemin begitu juga dengan mobil sedan hijau ini.

“Berapa lama anda tidak menggunakannya?”

Pertanyaan Tn. Kim tadi terngiang lagi di telingaku, “8 tahun. 8 tahun aku tidak menggunakan mobil ini lagi.”

Air mataku tiba-tiba menetes di foto tersebut, “8 tahun aku tidak mencuci mobil ini dengamu, Taeminie. Apa kau merindukan moment itu?”

“8 tahun aku tidak mengajakmu berjalan-jalan dengan mobil ini dan juga bersama eommamu. Jalan-jalan ke wahana bermain, taman kota dan tempat-tempat lainnya.”

Air mataku mengalir lagi, “Maafkan appa, Taeminie. Appa melupakan kebersamaan kita.”

Aku menahan isakan kecil yang mulai keluar dari mulutku, “Appa juga merindukan moment itu. Setiap minggu kita selalu mencuci mobil ini bersama.”

“Maaf karena appa melupakannya.”

Hatiku sakit. Aku merasa sangat bersalah. Kemana saja aku selama ini? Tegakah aku nyaris menjual mobil sedan hijau itu? Mobil kenanganku dengan Taemin. Anak tunggalku yang paling aku sayangi.

Sekarang aku sadar, waktu 24 jamku hanya untuk bisnis dan bisnis. Obsesiku untuk menjadi pengusaha besar membuatku melupakan keluargaku sendiri.

“Apa kau sangat kehilangan appa dan juga eomma?”

Isakanku membuat hatiku sakit, sakit sekali. Selcanya dengan sedan hijau ini benar-benar memukulku. Aku begitu merasa bersalah. Aku ingat semua moment kebersamaan kami yang mungkin sudah 8 tahun ini terlupakan.

Aku dan istriku jarang ada di rumah, bahkan memberi kado ulang tahunnyapun telat. Appa macam apa aku ini. Aku tidak bisa melindunginya sampai ia masuk rumah sakit karena dipukuli orang.

Aku pun membuka laci dan mengambil sebuah bingkai foto. Di bingkai itu terdapat foto aku, istriku dan Taemin saat Taemin berumur 10 tahun. Ini saat Taemin mendapat ranking 1 di kelasnya dan aku mengajaknya jalan-jalan. Di anak yang pintar, dia selalu menjadi 3 besar di kelasnya.

8 tahun yang lalu aku dan istriku selalu memantau nilai-nilai Taemin, sekarang? Bahkan aku tidak pernah bertanya bagaimana sekolahnya.

Mungkin hanya satu alasan konyolku, gila bisnis. Selain obsesiku, aku juga ingin Taemin hidup serba berkecukupan. Menabung sebanyak yang aku bisa untuk masa depan cerah Taemin. Agar Taemin tak harus kerja banting tulang di masa depan. Aku hanya ingin Taemin hidup enak.

Kelak, aku ingin Taemin menjadi seorang yang sukses. Aku ingin dia tahu bagaimana susahnya hidup tapi tanpa harus merasakan susahnya. Aku tak ingin dia menderita.

Tapi sekarang aku sadar, alasanku itu dilandasi cara yang salah. Taemin memang berkecukupan dalam segala hal, tapi tidak berkecukupan dalam hal kehangatan keluarga.

Ia pasti merasa kesepian. Apakah ia juga iri dengan teman-temannya?

“Mianhae..”

Author pov

“Daebak!” ucap Jinie bersemangat begitu Key masuk lewat jendela kamar Taemin dengan wujud perinya, “penyamaranmu bagus sekali, sunbae.”

Key merubah wujudnya menjadi manusia, “Tentu saja. Aku pulang ya.”

“Cepat sekali, baiklah.” Ucap Jinie.

Setelah itu Jinie tersenyum penuh harap, “Aku harap ini akan berhasil.”

~~~

Days 127…

Minggu pagi ini Taemin dan kedua orangtuanya sarapan bersama. Akhir-akhir ini orangtua Taemin banyak meluangkan waktunya untuk Taemin. Orangtua Taemin memang tak punya waktu lebih untuk mendengarkan semua cerita Taemin tapi mereka berusaha meluangkan waktu untuk makan malam bersama anak tunggalnya itu.

“Appa dan eomma akan ke Jepang setelah sarapan.”

“Mm.” Hanya itu respon dari Taemin saat menanggapi perkataan appanya.

“Mm, baiklah ini sudah jam setengah 8. Kami harus ke airport sekarang.” Ucap Tn. Lee sedikit kagok.

Ny. Lee tersenyum, “Taeminie, jangan lupa minum susumu dan jaga diri baik-baik. Besok pagi kami sudah kembali.”

Taemin menatap kedua orangtuanya dan tersenyum kecil, “Mm. Berhati-hatilah.”

Orangtua Taemin pun melangkah meninggalkan anak tunggalnya itu. Taemin kembali menunduk, “Bahkan kami belum selesai sarapan.” Ucap Taemin sambil melihat ke arah piring orangtuanya.

“Sudahlah,” Jinie keluar dari persembunyiannya dan berdiri di samping gelas susu Taemin, “Hargai usaha mereka untuk meluangkan waktunya untukmu. Bukankah aku sudah bilang kau juga harus mengerti profesi orangtuamu?” lalu Jinie tersenyum.

Jinie mendorong pelan gelas susu Taemin, “Ini, minum susumu.”

“Tn. Taemin..ge..gelas susu anda..be..bergerak sendiri?”

Seketika suasana menjadi hening, dengan cepat Jinie bersembunyi di balik gelas susu tersebut. Itu suara bibi Jung yang hendak mengisi kembali gelas minum Taemin yang kosong.

Taemin melirik gelas susunya dan sedikit menahan tawa. Lalu wajahnya berubah sok serius, “Bibi Jung. Jangan bilang pada appa dan eomma kalau aku sedang berlajar sulap.”

“Ooh, waah sejak kapan anda hobi sulap.”

“Sejak tadi, kekeke.” Ucap Taemin sambil menyodorkan gelas minumnya untuk diisi oleh bibi Jung.

~~~

Days 130…

Taemin merebahkan tubuhnya di kasur, “Ah senang sekali rasanya menang pertandingan.”

“Mm, kau hebat sekali tadi.” Ucap Jinie sambil asik memakan ayam gorengnya sambil duduk santai di sofa. Malam ini Jinie pesta ayam goreng karena Taemin menang pertandingan.

“Kau paling banyak memasukkan bola ke dalam ring basket! Daebak!”

Taemin nyengir *kata selain nyengir apa ya-_-*, “Aku terlihat keren kan saat memasukkan bola?”

“Karena kau telah membelikanku banyak ayam goreng, jadi aku jawab, ya.”

“Dasar maniak ayam. Oh ya, akhir-akhir ini kau sering sakit perut? Apa kau memakan sesuatu yang aneh di dapur?”

“Oh? Tidak. Mungkin…mm…ya mungkin perutku sedang tidak beres.”

“Ah! Aku ingat sesuatu. Tempo lalu kau menyuruhku mengambil selca dengan mobil sedan hijau kesayanganku dan mencetaknya. Itu untuk apa? Kau akan membawa foto itu sebagai kenang-kenangan?”

Jinie tersenyum, “Ani. Itu bagian dari rencanaku. Jadi tunggu saja hasilnya nanti.”

“Aish, siapa yang membuatmu sok misterius seperti ini? Apakah sunbaemu itu? Sudahlah, aku ngantuk. Jangan lupa bersihkan mejanya kalau sudah selesai makan.”

“Ne, Tuan Lee Taemin.”

Taemin pov

Days 134…

Minggu pagi ini aku sarapan bersama orangtuaku sambil membicarakan hal-hal ringan dan sesekali tertawa.

“Sarapannya sudah selesai kan?” tanya appa.

“Ne.”

Tiba-tiba appa beranjak dari duduknya, “Kajja! Bantu appa mencuci mobil.”

Mencuci mobil? Aku sedikit bingung, “Kenapa appa tidak menyuruh pelayan saja?”

Appa tersenyum penuh arti dan melangkah pergi meninggalkan meja makan, “Ini mobil special.”

Karena penasaran, mau tak mau aku mengikuti appa.

Aku terdiam di gawang pintu rumah saat melihat appa berdiri di samping mobil sedan hijau kesayanganku dulu. Appa tersenyum lebar sambil memegang selang air.

“Tunggu apa lagi? Ayo bantu appa.”

Appa menyuruhkan bergabung dengannya? Ada apa ini? Ini…

Entahlah, kakiku agak sulit bergerak. Bagaimana bisa appa mengulang kegiatan ini lagi setelah nyaris 8 tahun tak melakukannya lagi?

Aku tertawa kecil karena sedikkit tak percaya, “Apa kepala appa terbentur sesuatu?” lirihku.

Kalian tahu kan? Bahkan appa menyimpan mobil tua ini di garasi paling pojok. Bahkan mobil ini tak pernah appa sentuh sama sekali. Saat aku melihatnya bersama Jinie tempo lalu, mobil ini berdebu.

Lalu sekarang appa mengajakku mencuci mobil ini?

“Ya~ Taeminie, apa yang kau pikirkan? Ayo kita mencuci mobil bersama.”

Aku tersenyum saat mengingat Jinie. Aku pun tersenyum pada appa dan menghampirinya. Mengambil ember kecil dan juga sabun mobil berikut penggosoknya.

Appa membasahi seluruh badan mobil itu dengan senyuman yang tak pernah pudar. Membuatku ikut tersenyum. Aku mulai menyabuni mobil itu dan menggosoknya.

Kami mulai bercanda bersama sambil saling memercikan air.

“Taeminie, bagian belakangnya belum bersih.”

“Ne, appa.”

Aku bergegas menggosok bagian belakang mobil ini. Hey! Ini menyenangkan! Entah kenapa dari dulu kegiatan ini adalah kegiatan yang paling menyenangkan di minggu pagi.

“Waaah, lihat! Baju appa basah.”

“Bajuku juga basah. Ayo kita mandi disini saja, hahaha.”

“Ani, eomma bisa menghukum kita kalau kita mandi disini bersama mobil.”

“Ah ne, aku takut seperti dulu. Appa ingat kan saat eomma menjewer telingaku hingga merah karena aku mandi bersama mobil?”

“Dan appa hanya tertawa saat itu.”

“Padahal kan appa yang menyiramku dengan air dari selang. Seharusnya appa juga di jewer.”

“Yang minta di siram kan kamu.”

“Ah…ne hahaha.”

Kami tertawa bersama dan aku lebih keras menggosok bagian kotor dari mobil itu.

Ini menyenangkan.

Jinie pov

Days 140…

Aku mengintip Taemin dan appanya yang sedang mencuci mobil dari balik jendela kamar Taemin beberapa hari yang lalu. Ah jinjja, entah kenapa aku ingin meneteskan air mata saat itu.

Baiklah, Jinie. Tugasmu nyaris selesai.

Sekarang pikirkan cara bagaimana agar orangtua Taemin ada waktu untuk mengambil raport Taemin. Setelah itu tugasmu selesai dan kau akan kembali ke negerimu.

Ya, aku akan kembali ke negeriku sebentar lagi. Aku akan berpisah dengan Taemin dan meninggalkan Taemin.

Aku tersenyum getir, “Dan aku masih menyukai Taemin. Aaahhhhh eottokhae???”

Sekarang aku sedang duduk di ayunan taman. Mataku terus mengawasi Taemin dan Sulli yang sedang membeli sesuatu di taman ini. Mereka semakin hari semakin dekat.

Aku sempat berpikir akan menyatakan perasaanku di hari terakhirku bersama Taemin nanti, tapi aku ragu. Aku butuh Key sunbae! Aku merindukannya. Eh? Mwo? Aku merindukan namja narsis itu?!-_- Tapi, ngomong-ngomong kemana ya dia? Beberapa hari ini ia tak pernah datang menemuiku lagi. Biasanya dia tiba-tiba muncul di hadapanku.

~~~

Days 158…

Ini keajaiban untukku. Hari ini adalah hari pembagian raport Taemin dan kedua orangtuanya datang untuk mengambil raport.

Otakku nyaris buntu memikirkan cara agar mereka datang untuk mengambil raport Taemin *otak author yang buntu._.*. Akhirnya aku hanya menyelinap ke dalam kamar Tuan dan Nyonya Lee untuk menyimpan surat undangan pengambilan raport. Andai ada Key sunbae, dia pasti bisa membantuku.

Aku mengintip semua prosesi pengambilan raport ini dari saku seragam Taemin. Aku melihat wajah Taemin begitu senang duduk diantara kedua orangtuanya. Aku jadi tersenyum melihatnya.

“Selamat ya, Taemin mengalami peningkatan yang sangat pesat. Sekarang ia naik kelas 3 SMA dan mendapat peringkat 2. Sekali lagi selamat.” Ucap guru kelas Taemin.

Aku sendiri terkejut mendengar peringkat yang Taemin dapat. Usahaku dan Taemin tidak sia-sia. Aku melihat wajah Taemin yang terlihat kaget dan tersenyum senang. Begitu juga dengan orangtuanya. Ini mengharukan untukku.

Entah kenapa perasaanku sangat lega. Hasil kerja kerasku dan Taemin membuahkan hasil. Terutama kerja keras Taemin. Taemin lebih banyak berusaha di banding aku, aku hanya membantunya.

Kami kembali pulang dengan perasaan yang amat senang. Untuk merayakannya, Taemin dan kedua orangtuanya pergi ke sebuah restoran untuk makan malam. Mereka juga sempat berfoto-foto. Aku hanya bisa menikmati kebahagian mereka dengan mengintip dari saku celana Taemin. Aku turut bahagia dengan ini.

Akhirnya kami semua kembali ke rumah. Aku segera keluar dari saku celana Taemin begitu aku dan Taemin sampai di kamar. Aku segera merubah wujudku menjadi manusia.

Belum sempat aku membuka mulut untuk bicara, Taemin tiba-tiba memelukku erat.

“Jinie-yaaaaaa~ gomawo gomawo gomawo~ jeongmal kamsahamnidaaaaa~” Taemin memelukku sambil menggoyang-goyangkan tubuhku.

Aku tersenyum dan membalas pelukannya, “Ne..cheonmaneyo, Taemin-ah. Aku senang melihatmu senang.”

Taemin melepas pelukannya dan mencubit-cubit pipiku gemas, “Hiyaaaa kau memang peri penyelamatku. Peri paling baik hati sedunia. Kau benar-benar membantuku merubah nasibku yang sempat buruk. Gomawoooooo~~~”

“Kkkk, neee.. ini kan sudah tugasku. Sekarang tugasku sudah selesai.”

Taemin tetap tersenyum tapi tiba-tiba ia terdiam dan kembali memelukku, “Tugasmu selesai?”

Suara Taemin terdengar kecewa, aku pun mengusap punggungnya, “Ne. Tugasku sekarang sudah selesai. Aku sudah melihatmu bahagia sekarang. Ku harap kebahagian ini bertahan selamanya.”

Taemin kembali melepas pelukannya dan menatapku sedih, “Kapan kau kembali ke negerimu?”

“Di hari ke 160.” Jawabku mencoba tersenyum padahal aku juga merasa sedih.

“Hari ini hari keberapa?”

“Emm, 158.”

“Kalau begitu aku akan membuat moment perpisahan yang bisa kau ingat sampai nanti.”

“Tapi jangan di hari ke 160.”

“Wae? Padahal aku berencana membuat perpisahan itu selama 2 hari.”

“Kekeke, di hari ke 160 aku akan menampakkan diriku di hadapan orangtuamu,  Sulli eonni, bahkan bibi Jung dan juga Seungho.”

“Mwo?”

“Ne!”

“Untuk apa?”

“Aku akan mengucapkan banyak terima kasih pada mereka. Selama aku bersamamu, aku juga kan mengenal mereka. Bahkan mengetahui Seungho. Kau tahu tidak?”

“Apa?”

Aku mengajak Taemin duduk di sofa, “Aku dengar temanku sudah turun untuk membantu Seungho mengubah nasibnya.”

“Jinjja????”

“Ne! hahaha, dengan begitu aku tidak akan canggung bertemu Seungho karena ada temanku disana.”

“Waaah. Ini kelihatannya menarik, kekeke.”

“Aku juga penasaran. Lebih parah mana kehidupanmu dan Seungho.”

“YA!!!”

“Kkkkk, tapi aku benar-benar penasaran.”

“YA! Jangan bahas orang itu!”

“Kkkk, mianhae.”

“Aish! Awas kau!”

Aku tertawa keras melihat reaksi Taemin. Ternyata benar, ia memang akan kesal kalau mengungkit masa lalunya, lalu di bandingkan dengan orang yang ia tidak suka.

~~~TBC~~~

5 thoughts on “More Than 100 Days – Part 7”

  1. jadi bingung mikirinnya… kalau jinie sama taemin nanti sulli sama siapa? key kah? eonni kayaknya hobi bikin orang penasaran deh!

  2. Penasaran nih sama acara perpisahan jinnie dgn taemin, trus apa ntar akhirnya jinnie harus ngerelain perasaannya?._.

    Kalo bisa part 8 nya lebih cepet ya? ^^

  3. @hyora kim: coba kira2 nasib jinie selanjutnya gmn? 😀 kekeke makasih ya
    @hana k:kekeke aku di pgl eonni XD *geli sendiri xD* iya aku doyan bikin penasaran 😛 makasih ya
    @illa misrawati: sekitar jumat depan yah ^^ makasih ya
    @sung hye: liat aja di part trahir jumat depan 😀 makasih ya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s