The Devil – Part 10

The Devil [10] : Oppa?

Title : The Devil

Author : Bibib Dubu & mybabyLiOnew

Main Cast : Park Eun Hee, Lee Chaeryn, Shinee Member

Support Cast : Jung Yunho,

Length : Sequel

Genre : Mistery, Fantasy, Angst

Rating : PG-15

Summary :

Eun Hee : “Tidak akan. Justru aku akan melaporkanmu sebagai pembunuh. Membunuh tetap membunuh, sama seperti pikiran semua orang—melacur adalah melacur, tak peduli kisah apa yang ada dibaliknya.”

Jinki : “Baiklah, laporkan aku. Ini pilihanmu, dan sampai disini aku bisa berbuat untuk hidupmu. Sekarang, jalani hidupmu sesuai keinginanmu.”

Key : “Lalu, apa Yoochun bukan Oppanya Eun Hee juga? Dia bahkan tega mempekerjakan adiknya. Minho-ya, hubungan darah tidak menjamin. Seorang ayah saja bisa memperkosa dan membunuh putrinya sendiri. Lagipula, bisa saja Jinki pun marah pada Yoochun , kan?”

Minho : “Kau benar, Jinki juga bisa jadi calon terdakwa.”

+++++

Ia sudah menerka, mayoritas isi otaknya mengatakan bahwa memang orang itulah pelakunya, pembunuh yang menghabisi Yoochun, yang membunuh Jonghyun kakaknya juga. Hanya saja ia tak punya bukti, apalagi saat ini dirinya pun menjadi terdakwa yang tengah diintrogasi.

Ruangan itu terbilang gelap, tidak luas, hanya berisi sebuah meja dan dua buah kursi yang berhadapan, serta beberapa kamera pengawas di sudut-sudutnya. Ia tengah berhadapan dengan seorang petugas yang cukup dikenalnya, sedikit jengah karena dirinya berada di sini akibat laporan dari Minho. Padahal mungkin di luar sana—sang pembunuh yang asli masih berkeliaran.

“Jadi kau tidak bisa memberikan bukti yang bisa melepaskanmu dari tuduhan ini?”

Hyung, mengapa kau sangat konyol? Bukan Yunho hyung yang biasanya kukenal. Kurasa kau terburu-buru ingin menyelesaikan kasus ini, kan? Sudah berapa lama kau berkecimpung di dunia ini?” Key mencibir kesal.

“Huh, jangan bermain kata denganku, aku sedang pusing. Sekarang aku hanya ingin kau memberi bukti yang bisa membuatku berpikir bahwa kau bukan sang pembunuh itu,” Yunho membalasnya dengan senyuman sinis.

“Itulah mengapa kubilang kau konyol. Bukankah ada banyak orang yang bisa membunuhnya? Kenapa aku yang dituduh?”

“Karena hanya kau yang punya motif. Kau yang mengira bahwa Park Eun Hee adalah salah satu pemicu kematian kakakmu, kemungkinan punya dendam. Kau sedikit banyak tertarik pada yeoja itu, akhirnya kau tidak sanggup membunuhnya dan memilih membunuh kakaknya. Semuanya menjadi masuk akal, dengan begitu bisa menyakiti Eun Hee—ya, balas dendam tidak langsung.”

Hyung, kalau kujabarkan, banyak lagi kemungkinan lainnya yang masuk akal, ambil contoh—bisa saja kan Yoochun hyung punya masalah dengan orang dan akhirnya orang tersebut membunuhnya. Kita bermain di dunia hukum, yang diperlukan tidak hanya kelogisan, melainkan bukti juga. Bukankah kau pun tidak punya bukti yang mengatakan bahwa akulah yang membunuh Yoochun hyung?”

“Memang tidak ada, tapi akan segera kudapatkan. Tapi, bukankah kesaksian Eun Hee sudah cukup?” Yunho menurunkan nada bicaranya, ada keraguan di dalamnya. Ya, sebenarnya ia juga merasa tuduhannya sangat dangkal, tapi baginya ini adalah sebuah kemajuan—karena selama setahun terakhir dirinya dipermainkan dengan kasus pembunuhan yang tak kunjung terkuak, bahkan kini dua sekaligus.

Key terpukul lemas, ya, malam itu sudut pandang Eun Hee membuatnya menjadi tertuduh, kejadian saat seorang ahjussi tewas ditabrak lari oleh sebuah mobil. Kesaksian itu bisa memberatkannya.

“Nah, sebelum kau dapatkan buktinya—artinya tuduhanmu tidak beralasan. Jadi bisakah kau lepaskan aku?” tanya Key dengan penuh harap, di dalam hatinya muncul kekhawatiran bahwa sang pembunuh aslinya akan melakukan aksi yang lebih tak terduga, apalagi—di pikirannya telah bercokol kuat sebuah nama.

Kini kecemasan makin mencengkram erat setiap sudut pikiran Key. Ia takut sang pembunuh asli memiliki kecerdasan yang luar biasa, yang nantinya mampu memanipulasi kondisi sehingga membuat segalanya tampak memojokkan dirinya.

Mianhae, Key… kalau kau kulepaskan, bisa saja kan kau menghilangkan bukti-bukti yang memberatkanmu—mengingat kau adalah seorang intel cerdas. Hal seperti itu mudah saja kan kau tuntaskan, benar?” Yunho menggeleng kuat, sesaat kemudian ia bangkit dari duduknya, “Cukup kali ini, aku akan datang lagi setelah ada perkembangan.”

Selepas kepergian Yunho, dua orang petugas menghampirinya. Kali ini menambahkan sebuah borgol lagi, alhasil kini dua borgol terpasang—di tangan dan kakinya.

Key mendengus kesal saat dirinya digiring ke sel tahanan khusus. Apalagi ketika petugas tersebut memperlakukannya dengan kasar—menghempaskan tubuhnya begitu saja hingga tersungkur.

Seperti inikah cara narapidana diperlakukan? Bukankah narapidana adalah manusia juga, yang berhak diperlakukan sama—toh hukuman atas kejahatannya pun akan tetap diterimanya setelah palu keputusan diketuk. Mengapa harus diwarnai pula dengan kekasaran petugas sipir?

Apalagi, Key merasa dirinya tidak melakukan kejahatan apapun, bagaimana bisa nasibnya sesial ini?

Key mengerang kesal….

Arrgggghhh…pembunuh sialan, harusnya kau yang berada di sini. Issshhh, semoga kau tidak melakukan hal yang lebih mengerikan lagi, Lee Jinki sshi

+++++

Berkali-kali ia berlalu-lalang di hadapan kamar Jaejoong. Berkali-kali pula ia meremas-remas rambutnya, merasa bingung dengan keputusannya.

Ini bukan pilihan yang mudah, mengingat Kai juga mengatakan bahwa cara ini hanya memiliki peluang—tapi tidak dijamin 100% berhasil. Kalau gagal? Yang dikorbankannya sangat berat—memang bukan melenyapkan Chaeryn, bukan juga melenyapkan saudara kandungnya., melainkan suatu hal yang juga membahayakan Chaeryn.

Pikirannya melayang pada dialognya dengan Kai, kali ini ia cermati dengan baik setiap katanya—sebagai pertimbangan untuk mengambil sebuah keputusan.

Flashback

“Hei, sabar. Siapa bilang saudara kandungnya itu harus kau bunuh?”

“Maksudmu?” kebingungan Taemin bertambah.

“Kau tentu tahu legenda bangsa kita, kan?”

“Legenda yang mana? Terlalu banyak legenda dalam dunia kita. Perjelaslah, Kai!” Taemin tidak sabar ingin mendengar kelanjutan penuturan Kai.

“Legenda yang mengatakan bahwa jumlah kita akan selalu tetap, berbeda dengan manusia. Ya, kita memang akan musnah suatu saat, tapi saat itu akan muncul penggantinya—sehingga pada akhirnya jumlah kita akan tetap.”

“Itu bukan legenda, tapi lebih sesuai jika kita sebut teorema—sesuatu yang kebenarannya sudah teruji. Baiklah, apa kaitannya dengan solusi yang kau tawarkan?”

“Kau pabo Hyung, tidak bisakah kau mengaitkan semua ini? Hah… baiklah… sejak dulu aku memang lebih pintar darimu, kujelaskan ya,” Kai meledek, membuat Taemin makin geram karena kesabarannya sudah kian menipis.

“Cari saudara kandungnya, kau tidak harus membunuhnya,” Kai menepuk-nepuk bahu Taemin, bentuk dukungannya untuk hyung-nya.

“Kau sudah mengatakan itu tadi, cepat katakan intinya!”

“Sebentar, aku tekankan. Jika ini gagal, bukan hanya kau yang akan musnah, tapi—orang itu akan terkena dampaknya. Bukankah menyakiti saudara kandungnya sama dengan menyakiti orang yang paling kau cintai juga?”

Ne, aku tahu. Tapi hidup adalah pilihan, tidak selamanya pilihan itu enak—akan selalu ada konsekuensi di atasnya. Aku memilih yang terbaik, bukan yang ternyaman.”

Ara, ara… kalau begitu, berikan jiwamu pada orang itu,” Kai terkekeh geli melihat ekspresi Taemin yang sudah Nampak kesal, “cobalah Hyung, hanya itu yang Dewa katakan. Aku sendiri tidak mengerti kondisi-kondisi seperti apa yang membuat cara ini gagal.”

“Lalu kalau aku gagal? Apa dampaknya untuk orang itu?”

“Kaitkan dengan legenda kita, Hyung!”

Flashback End

Mengaitkan dengan legenda, ketetapan jumlah. Taemin berpikir keras, kegiatannya siang itu di depan kamar Jaejoong tidak juga usai. Ia bertahan demi menunggu kedatangan hyung-nya yang sudah tidak terlihat sejak kemarin. Ia ingin berbagi keresahannya dengan Jaejoong—berharap hyungnya itu dapat memberikan masukan yang berharga dalam rangka mengambil keputusan.

Para ekonom, statistisi—bicara tentang peluang setiap harinya. Tapi, peluang bukan seperti bermain judi, setiap keputusan diambil setelah melakukan serangkaian analisis—sehingga hasil yang didapat tidak meleset jauh dari yang diharapkan.

Ya! Apa yang kau lakukan? Jangan membuang waktumu dengan cara seperti itu. Tahukah kau, waktu adalah hal paling berharga di dunia ini. Waktu bukan hanya menyangkut uang saja, melainkan memiliki korelasi kuat dengan nyawa.”

Hyung, kau tidak sakit kan?” Taemin meraba-raba kening Jaejoong dengan kilat, tanpa seizin pemiliknya.

Ya! Aku sehat, justru kau yang aneh. Sudah, ayo kita masuk ke kamarku, aku tahu kau ingin menceritakan hal penting, kan?”

“Wuah… gomawo Hyung, kau memang paling bisa menebak keinginan orang.” Taemin memeluk Jaejoong manja, membuat tubuhnya sukses disingkirkan oleh Jaejoong.

“Jangan peluk aku, aku masih normal! Kalau tidak percaya silakan lihat dinding kamarku.”

Taemin memberengut kesal karena didorong sampai terjatuh. Tapi sesaat kemudian bibirnya berubah bentuk, menjadi terbuka lebar—menyaksikan segala rupa yang tertempel di dinding kamar hyungnya.

“Wow… hyung… Mengapa aku baru tahu kau mengoleksi foto yeoja-yeoja seksi?” Taemin terkesiap di ambang pintu, tanpa sadar kakinya melangkah masuk ke ruangan yang baru pertama kalinya ia amati betul, biasanya hanya sekilas lewat saja.

Ya! Jangan sembarangan. Bukan yeoja-yeoja, itu hanya foto satu yeoja. Urusan seksi, memang kuakui dia sangat seksi, tapi bukan itu yang menarik hatiku.”

Taemin mengamati lebih seksama, senyum simpulnya terulas beberapa saat kemudian, “benar, hanya satu yeoja? Hyung, kau selalu mengatakan bahwa kaum kita tidak sebaiknya jatuh cinta pada manusia, tapi apa yang kau lakukan?”

Ne, memang tidak sebaiknya terjadi. Ah, sudahlah. Sekarang ceritakan apa yang membuatmu bertindak bodoh di depan kamarku?” Jaejoong sedikit bingung menjawabnya, ia memilih mengalihkan topik pembicaraan.

Taemin hanya terkekeh sembari terus mengamati wajah yang ada di foto-foto itu, “eh, mengapa baru kali ini aku menyadarinya ? Hyung, ini mirip Chaeryn, setidaknya gigi kelinci dan bentuk tulang pipi mereka mirip.”

“Serius? Ah, kan memang banyak manusia yang sekilas mirip,” Jaejoong menanggapi santai, kini ikut mengamati wajah yeoja yang memikat hatinya tersebut.

“Entahlah, mungkin hanya perasaanku… Ah iya. Hyung, apa kau sudah tahu tentang cara alternative agar kita bisa pulang?”

“Ah ne, berkaitan dengan saudara kandung itu kan?”

“Kau tahu juga ternyata. Lalu apa menurutmu?” mata Taemin berbinar, harapan bahwa Jaejoong akan membantunya—makin besar, “Hyung, apa yang harus kupilih?”

“Ikuti kata hatimu. Tae-ya, apa kau sudah diberitahu aturan lainnya? Devil yang telah mencoba cara itu, dilarang menceritakan pengalamannya pada rekannya,” Jaejoong tersenyum, bibir pink-nya menunjukkan hal yang bertentangan dengan apa yang sebenarnya tengah berkecamuk hebat di pikirannya.

“Maksudmu, kau sudah mencobanya? Pada siapa? Saudara kandung yeoja yang fotonya kau pajang itu?” Taemin melontarkan tiga pertanyaan sekaligus, pikirannya hanya dipenuhi oleh cara untuk kembali ke dunianya.

Sebuah dunia yang tidak sama dengan bumi. Tidak akan ada rumah yang terbuat dari batako, yang ada hanya gua-gua berwarna-warni yang terlihat sempit—padahal di dalamnya sangat luas. Warna gua tersebut tergantung dari tingkatan jasa pengabdian mereka terhadap bangsa. Semakin tinggi jasanya, maka warnanya semakin cerah dan kaya akan gradasi. Jika suatu saat penghuninya musnah, maka rumah tersebut akan berubah warna seketika menjadi hitam—sampai saatnya ada devil baru yang usianya telah matang, yang akan menempatinya.

Di sana juga banyak terdapat kawanan mamalia, yang terbanyak adalah rusa hitam dan yang paling sedikit adalah ular. Rusa hitam adalah santapan mereka, tidaklah heran jika jumlahnya banyak karena kontinu dikembangbiakan.

Pepohonannya sangat jarang ditemui, gersangkah? Tidak juga, karena ketiadaan pohon tergantikan dengan danau biru yang menghampar di banyak tempat.

Di sana tidak ada yang namanya profesi pekerjaan, yang ada hanyalah kegiatan berupa pengabdian-pengabdian untuk memelihara alam dan kegiatan ‘berternak rusa’ dan kegiatan lainnya yang berbau kesenangan. Kehidupan mereka tenteram. Itulah mengapa Taemin merasa tertekan ketika ia harus merasakan kehidupan manusia.

Ia menyesal karena pernah merasa jemu dengan dunianya dan justru iri dengan dunia manusia. Tapi, bukan berarti tidak ada gangguan. Ancaman yang mengintai mereka adalah—bisa musnah kapan pun ketika mereka dianggap tidak memiliki jasa apapun selama kurun waktu satu bulan—biasannya ini terjadi pada devil yang sangat terbuai dengan kesenangan hidup.

Ne, aku hanya berpesan agar kau berpikir. Tae-ya, waktuku di dunia manusia tidak akan lama lagi. Jadi, selanjutnya kau harus mandiri. Teruskan saja usaha cafeku ini untuk sumber nafkahmu.”

Hyung, maksudmu kau akan segera pulang ke dunia kita? Hyung, aku tidak sabar menyusulmu. Baiklah, aku akan mendatangi saudara kandungnya.” Taemin makin menggebu, rasa rindunya sudah memuncak.

+++++

Ia menerobos masuk tanpa izin pemilik rumah. Terlalu tidak sabar untuk menemui orang yang sudah sangat dirindukannya—ingin rasanya sang tamu tersebut mengakui sesuatu pada sang tuan rumah.

Sang pemilik rumah baru saja terbangun dari tidur siangnya yang tidak nyenyak—menampakkan ekspresi yang bingung setengah mati. Ingin marah karena sang tamu masuk tanpa izin, namun tenaganya sungguh telah habis karena menangis.

Sang tamu spontan memeluk yeoja tersebut, ia menangis sesenggukan—menumpahkan air mata multimaknanya di bahu seorang yeoja—sang tuan rumah. Memalukan memang. Tapi baginya, rasa malu itu tidak dapat mengalahkan hasratnya untuk kembali mendekap yeoja itu.

“Jinki-sshi, waegure?” yeoja itu bertambah bingung, mendadak dipeluk dan tiba-tiba orang yang memeluknya menangis dengan sebab tidak jelas.

“Eun Hee-ya, mulai saat ini panggil aku oppa.”

Mwo?” Eun Hee melepaskan pelukan Jinki, memandangi Jinki dengan tatapan tak mengerti.

“Kau adikku. Itulah mengapa aku tidak ingin menodaimu, bagaimana bisa aku menodai adikku sendiri. Eun Hee-ya, kembalikah ke keluarga Lee. Bukankah tidak ada lagi yang menahanmu? Bukankah sang penghalang itu telah mati?”

Eun Hee terdiam, mencerna baik-baik ucapan namja sipit di hadapannya. Mulai terajut hubungan dari peristiwa-peristiwa yang menekannya akhir-akhir ini. Ia menemukan satu makna dari ucapan Jinki. Setan dan malaikat kembali menyerbu ruang pikirannya, menyuarakan teriakan-teriakan khas masing-masing.

“Mati? Kau kira oppaku apa? Tidak bisakah kau menggunakan kata yang lebih sopan? Meninggal dunia, setidaknya itu kata yang pantas untuk manusia. Mati? Kau sama saja menganggap oppaku binatang.” Eun Hee melemparkan rasa tidak terimanya, sekaligus bermaksud memancing reaksi Jinki.

“Aku pantas menggunakan kata ‘mati’. Ya, kau tidak pantas menyebutnya oppa. Oppa? Memperalat adiknya sendiri untuk mengobral kelamin. Di mana hatinya? Orang seperti dia sudah selayaknya mati.”

Eun Hee tidak membalas panjang, ia hanya tertawa sinis, “tahu apa kau tentang oppaku?”

Jinki merasa mati kata, ia tidak menangkap sedikit pun ekspresi kemarahan dari Eun Hee begitu dirinya menyinggung kebusukan Yoochun.

“Eun Hee-ya… kau tidak marah diperalat?” Jinki memastikan sekali lagi, berharap Eun Hee hanya belum menangkap maksudnya.

Ne, aku tahu. Aku marah, tapi… setidaknya dia oppaku, dia yang mengiringi perjalananku sejak kecil. Dia berhak atas diriku,” Eun hee berkata dengan tatapan nanar, memandangi potret dirinya dan Yoochun semasa kecil, yang memang terpajang di beberapa titik pada dinding ruangan tempatnya berada.

Jinki terkesiap. Kali ini tidak mampu lagi berdalih, karena Eun Hee memang sudah tahu. Karena Eun Hee bahkan telah memiliki pemikiran sendiri mengenai Yoochun.

Lalu, apa gunanya semua darah yang telah membasahi tangannya? Apa gunanya ia menghabisi banyak orang yang telah mempergunakan Eun Hee? Apa gunanya ia melumuri dirinya dengan dosa?

“Dan kau? Apa yang kau lakukan selama ini? Selama hidupku? Pernahkah kau ada di saat aku terseok-seok dulu? Kemana kau di saat aku berjuang menahan rasa lapar? Apa kau pernah ada? Dan sekarang? Dengan tingkahmu yang sok melankolis, datang memelukku tanpa izin dan memintaku untuk memanggilmu oppa? Cih, konyol.”

Jinki terdiam. Merasa dirinya telah memilih tindakan yang salah. Kini, bukan hanya Chaeryn yang memberikan respon mengecewakan, tapi Eun Hee juga.

“Eun Hee-ya… apa kau tahu apa yang selama ini kulakukan? Aku mencarimu. Dan di saat aku menemukanmu, kau sudah terlanjur terjebak dalam dunia itu,” Jinki makin terisak.

Ne, terlanjur. Itu juga yang mendasari pemikiran Yoochun oppa. Dan ini konyol, apa kau tahu… Yoochun oppa melakukan ini demi menarik seorang Park yang lain dari keluarga Lee. Aku dikorbankan? Ya, demi seorang bocah yang disebut-sebut sebagai adik kami.”

Ne, aku tahu kau sakit. Kau selama ini menjerit, diperkerjakan sebagai wanita seperti itu memang memilukan, aku juga merasakannya. Sekarang kau bebas, tidak ada lagi yang memperalatmu, aku telah melenyapkannya. Aku rasa, inilah bentuk pengorbananku demi mendapat predikat oppa darimu.”

“Kau… membunuh oppaku? Jadi bukan Key pelakunya? Ya!! Kau sama saja brengseknya dengan ahjusshi-ahjussi hidung belang itu. Apa seorang pembunuh bisa dikatakan sebagai malaikat penyelamat?”

“Membunuh memang keji. Tapi, tanpa memandang keji atau tidaknya—aku melakukan ini demi melepaskanmu.”

“Pergi kau! Aku benci pembunuh! Aku tidak akan mengakuimu sebagai oppaku,” racau Eun Hee.

“Ya! Aku pembunuh, aku menghabisi puluhan pelangganmu. Aku membunuh namja yang katanya sangat mencintaimu tapi justru menggunakanmu juga. Aku membunuh Park Yoochun, yang katanya oppamu tapi justru memperalatmu. Hina aku sesukamu! Tapi, buka matamu! Untuk apa aku melakukan semua ini?” emosi Jinki makin tersulut, kali ini ia merengkuh leher Eun Hee, manariknya paksa ke pelukannya.

Eun Hee memberontak, tapi kekuatan Jinki tengah berada pada puncaknya. Namja itu tak membiarkan Eun Hee melepaskan diri.

“Panggil aku oppa, sekali saja,” Jinki memohon, setidaknya satu kata itu membuatnya merasa bahwa pengorbanannya tidak sia-sia.

Eun Hee memejamkan matanya, pikirannya makin tak menentu. Mendengar Jinki memohon dirinya menyebut satu kata, mendengar pengakuannya bahwa ia adalah pembunuh dua orang yang sangat berharga untuknya, Jonghyun dan Yoochun.

Ini sulit baginya. Di saat seperti inilah subjektivitas mendominasi. Ya… perasaan memang selalu bersifat subjektif. Eun Hee tahu, Jonghyun dan Yoochun memiliki sisi kelam. Tapi ia tetap merasa, Jinki bukanlah hakim yang berhak memvonis bahwa kedua orang itu layak dicap mutlak busuk. Jinki juga bukan Tuhan yang berhak merenggut nyawa keduanya.

“Tidak akan. Justru aku akan melaporkanmu sebagai pembunuh. Membunuh tetap membunuh, sama seperti pikiran semua orang—melacur adalah melacur, tak peduli kisah apa yang ada di baliknya.”

“Baiklah, laporkan aku. Ini pilihanmu, dan sampai di sini aku bisa berbuat untuk hidupmu. Sekarang, jalani hidupmu sesuai keinginanmu,” Jinki pasrah, tidak ada gunanya lagi memohon. Ia mengakui kebenaran ucapan Eun Hee. Ada hal-hal yang memang tidak bisa direlatifkan di dunia ini. Ada yang memang mutlak dianggap sebagai kejahatan, ada yang mutlak dianggap sebagai kebaikan, itulah norma.

+++++

“Jadi kau masih tidak mau mengaku, huh?”

“Jangan konyol, untuk apa aku mengakui kejahatan yang tidak kuperbuat?” Key mencibir santai, sebenarnya ia cukup tertekan dengan tuduhan ini.

“Masih adakah penjahat yang mengakui kejahatannya? Key, aku tahu—pada dasarnya manusia itu penuh dendam. Contoh sepele, mahasiswa senior selalu berpikir ‘kami juga dulu diperlakukan seperti itu’ pada adik tingkatnya yang sedang di ospek. Lalu, sangatlah mungkin bahwa kau juga berpikir ‘kakakku saja mati dibunuh, apa aku tidak boleh membunuh juga untuk melampiaskan dendamku, nyawa dibayar nyawa’, iya kan?.”

“Wah curhat rupanya. Itu pengalaman pribadimu, Choi Minho? Kau lupa, di dunia ini masih ada orang yang tidak mendasari tindakannya karena dendam. Jika semua orang di dunia ini diliputi dendam, mungkin kau pun pasti sudah membunuh Yoochun juga, karena memang dialah yang menjadi dalang di balik kisah hidup Eun Hee—yeoja yang juga kau cintai. Tapi kau tidak melakukannya, kan?”

“Hai Key, aku tidak mengatakan semua manusia, tapi manusia secara keseluruhan. Jangan mendramatisir, Key. Apa kau bisa memberiku bukti kuat yang dapat membebaskanmu?”

“Cih, pengulangan, aku benci menjawab pertanyaan yang sama. Tapi baiklah, kujawab. Pertanyaan balik lebih tepatnya, apa kau punya bukti menuduhku sebagai pembunuh Yoochun? Dan Jika betul aku pembunuh Yoochun, apa mungkin aku membunuh Jonghyun kakakku sendiri? Apa kau tidak mencurigai satu orang lagi—yang mungkin juga mengenal Yoochun lebih dalam, Lee Jinki misalnya?”

Ani, tidak mungkin,” Minho menyergah dengan yakin, “dia adalah oppa Eun Hee, meskipun bukan oppa kandung. Rasanya tidak mungkin dia membunuh yoochun—yang sangat Eun Hee sayangi. Bukankah membunuh Yoochun sama dengan membunuh Eun Hee perlahan?”

Key tersenyum menang, meskipun ia belum menang—tapi setidaknya, ia akan bisa meluruskan pemikiran Minho sesaat lagi. Di satu sisi, ia berusaha menyembunyikan rasa kagetnya akan fakta bahwa Jinki adalah oppa Eun Hee.

“Lalu, apa Yoochun bukan oppa Eun Hee juga? Dia bahkan tega mempekerjakan adiknya. Minho-ya, hubungan darah tidak menjamin. Seorang ayah saja bisa memperkosa dan membunuh putrinya sendiri. Lagipula, bisa saja Jinki pun marah pada Yoochun, kan?”

Minho terdiam, ia mulai ragu dengan prasangkanya tentang Key. Dari awal ia memang ragu dengan jalan berpikirnya. Ditambah lagi kini ucapan Key tengah mempengaruhinya.

Ya, hubungan manusia bisa menipu, palsu. Yang terlihat dekat, seringkali justru tersembunyi busuk di baliknya. Tidak bisa juga dijamin bahwa saudara kandung tidak akan menyerang saudara lainnya, apalagi yang bukan saudara kandung.

“Kau benar, Jinki juga bisa jadi calon terdakwa.” bisik Minho lirih, membayangkan apa yang terjadi pada Eun Hee jika mengetahui bahwa ‘oppanya yang satu—membunuh oppanya yang lain’.

+++++

Jinki berusaha membuka pintu rumahnya dengan tergesa. Sedikit mendesah karena anak kunci yang dimasukkannya ke dalam lubang kunci tidak juga membuahkan hasil.

“Arggghhh… pintu sialan!” umpat Jinki, alih-alih menyalahkan pintu padahal pikirannya saja yang tengah kacau hingga ia tidak dapat bersikap tenang.

Jinki memerosotkan tubuhnya tepat di depan pintu, rupanya bukan pikirannya saja yang terganggu, tubuhnya pun terasa tidak memiliki tenaga lagi. Ia menatap nanar petang yang sudah mulai menjuntai di langit sana, beberapa saat ia pandangi awan yang sudah berubah warna menjadi gelap.

Habis, semua impiannya untuk membawa Eun Hee pulang telah pupus. Bahkan Eun Hee tidak mengabulkan permohonannya untuk sekedar memanggilnya ‘oppa’. Ia tertunduk lemas memikirkan kenyataan tersebut.

Semua perjuangannya kini hanya terasa sebagai kejahatan semata, tidak ada lagi sisi bagus yang bisa ia pertimbangkan sebagai ‘aksi penyelamatan sang adik’. Membunuh tetap membunuh, pernyataan Eun Hee tadi seolah menjadi pernyataan mati bagi Jinki.

Sudah bukan hanya keringat yang membasahi wajah hingga bagian dada kemejanya, tapi air matanya pun telah menyumbangkan bulirnya selama perjalanan pulang ke rumah tadi.

Hyung, waegure?” sebuah suara membuatnya terpaksa mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk, ia hanya membalasnya dengan kedipan lemah.

“Taemin, bukakan pintu untukku…,” pinta Jinki sambil memaksa lengannya terangkat untuk menyerahkan kunci.

Taemin mengangguk tanpa banyak bertanya, karena ia memang terburu-buru ingin melaksanakan maksud kedatangannya. Ini waktu yang tepat karena dirinya telah memastikan bahwa malam ini Chaeryn sedang kabur ke rumah Hyeri—karena sedang marah pada Jinki, begitulah alasan yang Chaeryn bilang padanya.

Taemin membuka kuncinya dengan gesit, tidak butuh waktu lebih dari sepuluh detik untuk membuat pintu terbuka. Dipapahnya Jinki masuk ke dalam, direbahkannya tubuh Jinki di sofa ruang tamu.

Ckrekk, ckreek,

Pintu kembali dikunci oleh Taemin. Jinki mendelik dengan sorot mata penuh rasa heran, tapi ia terlalu kacau untuk bisa melontarkan pertanyaan yang terbesit di otaknya—mengapa Taemin mengunci kembali pintunya.

Taemin duduk di hadapan tubuh Jinki, tersenyum ramah pada Jinki. Ia mengarahkan telapak tangannya pada bagian perut Jinki, membuka lapisan kemeja yang membalut tubuh Jinki.

“Kuperiksa sebentar, hyung…,” bisik Taemin misterius.

Ini bukan ritual seperti biasanya, namun mata Taemin berubah warna—merah kini memenuhi bola matanya. Jinki terbelalak, ingin lari dari pemandangan mengerikan yang terhampar di atasnya—tapi tidak bisa, ada tekanan sangat kuat di perutnya.

Tidak lama, Jinki mulai mengerang karena rasa sakit yang menghujam kulit perutnya. Seperti tertembus sesuatu, tapi ia tidak mencium atau merasakan kehadiran darah. Namun rasanya seperti tertusuk—atau dari sudut pandang orang yang melihatnya kini, terkesan seperti akan dibunuh.

Erangan itu makin menjadi tatkala menyaksikan perubahan bentuk fisik wajah Taemin, sepasang taring berkilat telah muncul dari sela bibir Taemin. Kulit wajah makhluk di hadapannya pun berubah, bukan lagi Taemin yang mulus, melainkan dipenuhi tekstur-tekstur menyerupai urat kemerahan. Berbeda dengan manusia yang biasanya menampakkan urat keabuan tatkala menegang.

Taemin hanya menatap Jinki pilu. Tidak ada jalan lain, ini harus ia lakukan agar semua pertualangan penuh deritanya di bumi segera berakhir. Ia menyayat sedikit kulit dekat lehernya sendiri, keluarlah cairan hitam pekat nan kental. Ia meraih cairan tersebut dengan sapuan telunjuk kirinya. Kali ini Taemin mengarahkan wajahnya pada perut Jinki, bukan untuk merobek kulit tersebut dengan taringnya, melainkan untuk memperdekat jarak pandang ketika melakukan proses yang baru pertama kalinya ia lakukan—menanamkan cairan yang telah ia tahan di atas jari telunjuknya tadi untuk kemudian dipindahkan ke pusar Jinki.

Mianhae, Hyung… aku terpaksa, demi keegoisanku. Kau tidak akan merasa sakit lagi setelah cairan tadi menyatu dengan darahmu, hanya butuh waktu berproses hingga saatnya tiba—dan saat itu aku harus pergi dari dunia ini…,” ujar Taemin pelan, dengan perasaan yang tak menentu—antara berat hati sekaligus lega karena telah menjalankan cara yang dibilang Kai.

Gomawo, Hyung…,” lanjutnya seraya meninggalkan Jinki yang perlahan menutup matanya dengan peluh keringat  membanjiri seluruh tubuhnya.

TBC…

+++++

Otte? Part ini gimana? Author agak khawatir maksudku tidak tersampaikan. Yay! Satu part lagi…semoga endingnya ga butut ^^

Jangan lupa masukannya yah…buat pembelajaran berikutnya. Don’t be silent reader, OK?

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “The Devil – Part 10

  1. emg g ngeh sm part ni,trutma pas bgian devilnya.,.suatu cr yg d omongin kai-taemin,aturan dunia devil topik pmbicaraan taemin-jaejoong,trz ritual aneh antra taemin-jinki…smuany membingungkan…
    tp crta ttg jinki-eun hee bnr2 gmblang bgt,pmikiran eun hee ttg jinki dan kluarga lee d jlzkan detil bgt,bgitu pula sebalikny…
    klo awal2 aq ngrep bgt eun hee sm key,kykx skrg nggak d…cz kykx ff satu ni bkn memprioritaskan siapa dp siapa d ending cerita…
    well,i’ll be waiting for the last part…

  2. taemin salah kira, jinki kan bukan saudara kandungnya chaeryn, aigo apa yg akn trjadi ma taemin slnjutnya? musnah kah dia? trus jinki gmana? key udah tau plaku sbnrnya, eun hee jg udah tau kalo jinki oppa nya skalgus pmbunh yoochun & joonghyun apa yg bkaln trjadi slanjt nya? hwaaa~ penasaran tingkat dewa,
    ga sbr nunggu endingnya..

  3. Haa.. Kejadian antara taem-jinki bikin aq tegang.. Tpi kan jinki bukan sodara kandung chaeryn.. Trus jdinya gmna dong..
    Wah.. Key udah tw pembunuh jjong n yoochun itu jinki.. Eun hee jg.. Trus minho jg walaupun masih ragu..
    Next.. Next..
    Ga sabar nunggu last part..

  4. sedikit gag ngerti maksud omongan taemin dan kai .. hehehehe🙂
    ngapain tuch taemin ?? merubah jinki jadi mahluk kayak dia juga ????
    waacchh ,, makin jatuh cintrong nich ama karakter key di sini .. pinter banget maen kata2 , ampe mempengaruhi mindset orang laen …
    gimana nasib mereka selanjutnya ??? penasaran akut !!!

  5. Baik. . Aku ngerti aturannya. . Supaya devil-ny bisa balik keduanya. . Tp kn dlm syarat-ny hrs suadara kandung . . Kok Taemin malah milih Jinki?#garuk-garuk tembok…

    Ehm. Add typo satu. . Cuma stu tenang ajj Bib. Eonn..hehehe

    Tp aq masih belum nemu nih benang merah tebal yg menghubungkan kisah Eunhee-Devil Taemin. . Kayaknya keeratan hubungan kisah kedua itu sdkt krg…#tamparpipisaya…wkwkwkwkw

    Ahhh. . Jinki kasian. . . Pengorbanannya sia-sia belaka… Huwahhhh….

    Baiklah aq tunggu lanjutannya. . Eonni. . Bibib…

    Oh iya add satu yg ketinggalan. . Itu si Jeje (re :jaejong) ngapain pake acara ngefans sm Eunhee segala… Jgn bilang nanti add kaitannuya ya….hihihihihi

    pa pai. . Saya mau kabur dulu…………..

  6. keren thor
    pendapatku sma kyk komen” yg sebelumnya
    taemin-kai itu ngomongin apa sih msih belum jelas
    apa jgn” jinki bakalan jdi kyk taem hihihihi
    kasian bgt jinki pergobanannya sia”
    wah tinggal 1 part lgi
    ayo eon fighting🙂

  7. saya…. saya… speechless. gatau mau ngomong apa.. ceritanya knp bisa se comlplicated gini…. tapi sumpah ini keren. ide ceritanya… aduh ini kenapa banyak bgt saya pake tanda titik…………….

  8. naaah aku udah mulai nangkep nih mksudnya taemin-kai disini, itu kan disuruh nyari saudara kandung tp brhubung taemin gatau, mknya dia mnanamkan(?) drhnya di jinki. dia pikir jinki itu sodara kandung chaery.

    kalo menurut prediksi sotoyku taemin bkalan musnah deh, kan otomatis gagal soalnya dia salah ngerti. dan jinki? dia bkalan jd devil yg mnggantikan taemin kah? aku berpatokan sm legenda devil yg jmlhnys tetap itu sih u,u

    ah iya itu jaejoong kalo aku ga salah dia ngefans sm eun hee ya? nah loh, psti ada hbngannya ini. jgn2 dia jg udah ngelakuin ritual kyk taemin dan gagal? mknya mnrut crta diatas yg jaejoong itu lg bnyk pikiran krna dia udah hmpr musnah kah?

    oke part ini penuh dngan asumsi2 eonnideul! aku gasabar sm part slnjutnya, pngen ngebuktiin seakurat apa rmalan ke-sotoy-anku😀

  9. Mian aku engga bales satu-satu, sinyal internetku jelek banget soalnya

    @dya: iya emang engga ngutamain romance-ya…Dya, thx yah dh mampir…
    @taurusgirl: tungguin aja yah part berikutnya…thx yah udah mampir …
    @Kim Eun Ri:ne, dilanjut. Tunggu aja yah. hehe…thx ya fit udh mampir ^^
    @Hyora kim : Eonni, tungguin aja ya part end-nya …thx udh mau mampir…
    @Yoonee chan: Suka sama Key? Hoho, Key di sini emg keren. Tungguin aja yah part berikutnya…thx ya udh mampir…
    @Vikeykyulov: Masih ada typo? Inget engga typo-nya yang mana? Wah…tentang keeratan hubungan ya? Ntar mampir lagi aja ya di part end-nya…makasih udh mampir…
    @Im Seung Yoon : Emang belum jelas, hehe…ntar mampir lagi ke part berikutnya. Makasih ya udh mampir…
    @Alnadt: Banyak banget titik? Engga papa, hehe…makasih ya udah mampir…ntar maen lagi ke part end yah…
    @Mahdaa: Engga papa, boleh aja tebak2-an, siapa tau bener kan? Makasih ya udah mampir…ntar baca lagi part end-nya ya…

    Makasih buat smua yang udah mau baca n komen…mian aku lagi ga bisa bales satu2…Rahmi Eon juga sedang sibuk urus skripsinya kayakna…

  10. Yaaaaaaaah si Taemin salah sangka tuuuuh dikiranya si Jinki sodara kandung Chaerin-___- waduuuh gimana tuh? :O

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s